
1975,1977,1978. Wah, sudah lama sekali deretan tahun-tahun itu berlalu dari kehidupan kita ya ? Dimana anda di tahun-tahun itu ? Kelas berapa ? Sudah kuliah ? SMA, SMP, SD ? Atau malah justru ada yg belum hadir ke dunia ? Aku sudah dilahirkan ke dunia ketika itu, malah sudah bersekolah di SD. Aku masih ingat betul, dulu setiap kali tiba hari Kartini, Ibu guru selalu meminta kami anak-anak perempuan agar datang ke sekolah dengan mengenakan kain dan kebaya serta rambut di sanggul, menyerupai dandanan ibu Kartini. Hal ini sudah menjadi tradisi saban tahun. Namun tak setiap tahun aku mematuhinya. Aku lebih sering mengenakan seragam sekolah biasa, dan hanya 3 kali itu saja aku mengenakan busana tradisional Jawa tersebut.
Lalu ingatanku melayang ke masa-masa 30 tahun lebih itu. Pagi -pagi buta ibu ribut membangunkanku, dan menyuruhku agar segera bersiap-siap berpenampilan ala Kartini cilik. Dan tak lama kemudian, ibu sudah sibuk mendandani gadis ciliknya, sambil mulutnya tak henti-hentinya mengomeli aku, karena aku tak bisa duduk diam, sehingga riasanku jadi cemong tak keruan. Sewaktu kecil aku cukup berkelakuan seperti anak laki-laki. Lebih sering mengenakan kaos dan celana pendek. Berlari-lari dengan sandal jepit, memanjat pohon ceremai, main layang-layang atau sesekali main ketapel. Pernah juga aku mencoba menembak burung dengan senapan angin milik Bapak. Dan seingatku pernah juga sekali-kalinya aku terlibat perkelahian dengan anak laki-laki bengal yang sering mengganggu aku dan teman-temanku anak-anak kompleks PJKA jalan Garuda Bandung (aku tendang keras-keras kaki bandit cilik itu. Lalu ketika dia berteriak dan menangis menjerit-jerit, akupun balas menangis keras-keras karena takut dimarahi ). Kelakuanku yang agak macho dan galak itu mungkin karena pengaruh kakak-kakak dan adik-adikku yang semuanya laki-laki. Sebetulnya aku punya satu kakak perempuan, tapi anehnya dia feminin banget. Kok bisa ya, dia nggak terpengaruh lingkungan ?
Kembali ke kerepotan ibu mendandaniku.Sumpah aku sebel banget kalau didandani seperti itu. Lha wong pakai rok saja males, apalagi pakai kain kebaya, ribet banget dah ! Namun bagian yang paling membuatku sebal adalah ketika ibu menyasak rambutku, menarik-narik dan menyambung rambutku dengan rambut palsu bodoh yg disebut cemara. Lalu rambutku dipuntir, dibentuk sanggul ceplok yang menurutku jelek banget (seperti orang kena tumor di kepala bagian belakang !). Setelah menyemprotkan cairan hairspray yang bau wanginya bikin puyeng, selesailah sudah riasan sanggul ku yg tegak, keras, dan membuatku sulit menggerakkan leher saking kakunya. Tapi rupanya penyiksaan ini belum akan berakhir. Kan wajahku belum dirias. Biasanya di bagian inilah, ibu sering sewot, karena wajahku sering menoleh-noleh tak bisa diam. Whew ! apa enaknya muka dipoles dengan bermacam-macam krim kental, dan dicat warna-warni seperti penari merak yang sering aku lihat di panggung 17 Agustusan.
Agak lama juga ibu mendandaniku. Terakhir ibu memasangkan selendang yang warnanya senada dengan kebaya, yang dilipat serta diseterika sempit memanjang. Begini caranya memakaikannya : pasang selendang melingkar dari pinggang kiri, menyusur punggung dengan arah serong kanan, mampir di bahu kanan, memotong dada dengan garis diagonal, lalu berakhir lagi di pinggang kiri. Setelah itu simpulkan kedua ujung selendang itu. Gampang kan ? Jangan lupa menyematkan bros berbentuk bunga di dada. Dan … taraaa …!! selesai sudah ibu mendandaniku. Dari anak perempuan item tengil pecicilan, berubah menjadi putri Solo. Aku tersenyum-senyum sendiri, merasa aneh, kikuk, tapi bangga juga, karena ibu, bapak dan kakak laki-lakiku yang badung-bandung bilang aku cantik. Tapi itu kan sebelum aku diperbolehkan bercermin ! dan selalu, kejadian yang sama akan terulang begitu aku melihat diriku di depan kaca. Aku akan langsung melotot saking syok nya, ngambek, nangis, dan nggak mau pergi kesekolah ! Bayangkan ! Betapa malunya aku kalau harus pergi ke sekolah dengan penampilan seperti Titik Puspa begitu ! Nggak mau ! Pokoknya aku nggak mau sekolaaahhh ..!! Sampai bingung ibuku dibuatnya. Antara kasihan dan jengkel karena maha karyanya sama sekali tidak dihargai. Tapi cukup mudah rupanya membuatku berhenti menangis. Cukup dengan menyuapku dengan uang jajan yang lebih besar dari biasanya, dan pergi pulang diantar oleh kakakku dengan motor Lambretta nya, beres perkara !
Ketika Bapak pensiun dan kami harus pindah ke gang Holis, perjuangan Kartini cilik untuk pergi ke sekolah ini jauh lebih berat. Sepanjang gang yang kulalui, tak jarang aku harus melawan seorang diri gangguang anak-anak badung yang tak henti-henti menggodaku yang memang berpenampilan lain dari biasanya. Masih berkain kebaya lengkap dengan sanggul nemplok di kepala, sering aku harus menjulurkan panjang-panjang lidahku untuk membalas ledekan anak-anak nakal itu, atau kalau perlu sesekali menangkis dan memukul keras-keras anak laki-laki yang iseng ingin menyentuh sanggulku. Tak jarang terpaksa aku harus menyingsingkan kainku tinggi-tinggi demi mengejar dan menonjok anak bandel yang berani bilang Ay lap yu padaku. Haahh ! Sebel banget !!
Bagaimana ? Benar-benar Kartini cilik yang perkasa bukan ? Kalau dipikir sekarang, heran juga ya kok ketika itu ibu tidak mengantarku pergi ke sekolah, padahal jelas-jelas aku dalam keadaan berdandan ajaib seperti ini, dan sangat rentan gangguan. Mungkin karena anak ibuku segambreng ya, jadi beliau tidak sempat mengantarku, melainkan sibuk menyusui adik bayiku. Bisa dibayangkan, seperti apa rupa ibu Kartini cilik itu, sesampainya di sekolah. Keringetan, amburadul, wajah belepotan makeup. Yang segera terlintas di kepalaku saat itu tentu saja adalah jajan es ! Hemmh ..! Es lilin kelapa muda yang manis dingin, sangat segar membasuh leherku yang kerontang sehabis pertempuran di sepanjang gang Holis. Waduh, makin cemong deh wajahku. Lipstik yang merah menyala kini belepotan kemana-mana, bedak tebal di pipi sudah raib sejak tadi, blush on meleleh terbawa leleran keringat yang tak henti-henti mengalir di pipi dan dahi. Dengan penampilan yang seperti itu, belum pernah sekalipun aku memenangkan kontes kebaya Kartini. Di mataku, para pemenang kontes itu adalah para bidadari dari keluarga kaya raya, yang bebas dari sentuhan debu dan tiupan angin. Lama-lama kapok juga aku memakai kebaya beserta segala aksesorisnya itu. Cukup 3 kali itu saja, itupun tidak pernah sepenuhnya ikhlas, ditambah 2 kali lagi : satu kali saat wisuda, dan satu kali lagi saat menikah. Setelah itu, selesai, tidak ada lagi kebaya ! no way !
Kenanganku akan ribet dan perasaan tertekan ketika mengenakan kain kebaya begitu kuat hingga kini. Namun alhamdulillah, aku perhatikan busana kebaya sekarang semakin berdesain cantik dan lebih simple cara memakainya. Tak ada lagi lilitan stagen yang menyesakkan nafas, tidak ada lagi belitan kain batik panjang yang membuat langkah kaki jadi srimpet (Sunda : gejed). Kini masa itu sudah lama sekali berlalu dan aku sudah menjadi ibu dengan dua anak gadis sekarang. Kelakuan tomboy ku pun sudah menguap entah kemana semenjak aku menikah. Ketika dalam sebuah kesempatan tiba giliranku mendandani gadis remajaku dengan busana kebaya, alangkah berbedanya suasana yang aku rasakan. Aku melakukannya dengan senang hati, tanpa harus menarik urat leher, dan anak gadisku pun merelakan dirinya didandani dengan hati riang dan selalu tersenyum ceria. Antusias sekali Ufi - begitu nama gadisku ini - dalam mengenakan kebaya. Rupanya pengalaman baru selalu membuat anak yang baru berumur 15 tahun itu merasa bersemangat. Ketika kebayanya kupadukan dengan jilbab, pantas dan manis juga penampilannya :)
Sekarang aku senang melihat perempuan berkebaya. Mereka terlihat begitu anggun dan ayu, sangat Indonesia. Tak pelak lagi, busana Kebaya memang indah dan mempesona. Ini adalah busana warisan leluhur yang khas berasal dari khasanah asli budaya bangsa kita, yang harus dilestarikan. Sangat disayangkan, kulihat sekolah-sekolah dari SD sampai SMA sudah sangat jarang meminta siswinya mengenakan busana kebaya di hari Kartini, sebagaimana jarangnya sekolah pada masa kini memperkenalkan budaya kita dalam bentuk apapun kepada siswanya.
Peringatan hari Kartini memang identik dengan kain kebaya, meskipun jujur sedikit sekali korelasinya. Meskipun begitu, katakanlah kita sudah tak kenal dan tak pandai lagi menghargai jasa ibu Kartini, karena Kartini jaman sekarang merasa jauh lebih hebat dari Ibu Kartini jadul, institusi pendidikan tetap wajib memperkenalkan busana kebaya dan pakaian adat daerah lain yang tak kalah indahnya kpd para siswanya. Untuk maksud itu, moment Kartinian kurasa masih cukup tepat. Menanamkan kecintaan terhadap hasil karya budaya bangsa harus dilakukan sejak dini, dengan cara dan moment yang tepat. Gadis-gadis generasi muda harus lebih sering diperkenalkan dengan busana kebaya dan busana tradisional lainnya. Kaum wanita Indonesia sendirilah yang terutama harus memelihara dan menjaganya. Sementara pemerintah wajib melindungi kepemilikan bangsa Indonesia atas kebaya dan busana tradisional dari daerah lain, semisal baju kurung, baju bodo, dll. Sebab jika tidak, negara jiran yang akan melakukannya. So, keep on wearing kebaya, Indonesian Ladies ! Selamat memperingati hari Kartini :)
Salam sayang, anni - Sukabumi

0 comments:
Post a Comment