Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, August 1, 2013

Kemana Mama - Papa Vanny Rossyane ?

 

Di lingkungan sekolah, atau di lingkungan masyarakat yang lebih luas lagi, jika ada seorang anak yang memiliki perilaku ”menonjol”, baik dalam hal kecemerlangan prestasinya maupun dalam hal kebandelan kelakuannya, biasanya orang akan bertanya- tanya, “ini anak siapa? siapa orang tuanya? bagaimana mereka mendidik anak-anaknya?” Ya, tak salah lagi. Orang tualah yang akan pertama kali ditanyakan keberadaan dan peranannya, ketika seorang anak menorehkan prestasi yang membanggakan, atau sebaliknya, melakukan suatu perbuatan yang melanggar norma yang meresahkan dan membuat marah masyarakat.

Ini juga yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya, ketika mengikuti kasus Vanny Rossyane, gadis cantik muda belia yang belakangan hari ini menggegerkan dunia persilatan hukum di tanah air, sehubungan dengan pengakuannya yang menghebohkan yang dia umbar di berbagai media. Pengakuannya tentang kekasihnya Freddy Budiman sang gembong narkoba yang memperoleh keistimewaan di lapas Cipinang , jelas bukan sebuah kehebohan, karena berita tentang itu sudah bukan barang baru lagi di Indonesia. Sudah bukan rahasia lagi beberapa Rutan dan Lapas secara ilegal menyediakan fasilitas atau perlakuan istimewa kepada beberapa napi yang sanggup membayar sejumlah uang kepada okunum petugas rutan dan lapas. Namun pengakuannya tentang bagaimana dia sudah mencandu narkoba sejak duduk di bangku SMP, hingga pengakuannya secara gamblang tentang bagaimana dia berpesta Sabu dan melakukan hubungan seksual dengan kekasihnya itu di salah satu ruangan di lapas Cipinang, jelas mengejutkan.

Tapi jujur sebetulnya tidak terlalu mengejutkan juga, sih …

Vanny itu lahir tahun 1991, berarti di tahun 2013 ini usianya baru 22 tahun. Ini juga berarti bahwa dia seumuran dengan para alumni mantan murid - murid saya. Sangat muda, sangat belia, dan seharusnya sedang dalam puncak prestasi masa muda yang berbahagia dan penuh semangat dalam memulai masa depan yang cemerlang. Saya membayangkan, anak-anak muda yang berumur 22 tahun itu seharusnya sedang super sibuk melakukan penelitian ilmiah, sedang kalang kabut karena skripsinya sudah deadline, sedang deg-degan menanti sidang komprehensif, sedang menjalani koas di rumah sakit bagi mereka yang kuliah di Fakultas Kedokteran, atau, sudah lulus dan di wisuda lalu ribet melayangkan lamaran kerja ke sana - kemari dengan perasaan harap-harap cemas. Sementara itu, anak-anak seusia ini sedang sibuk juga melakukan pendekatan kepada lawan jenisnya siapa tahu berjodoh, karena pihak keluarga sudah mulai bertanya-tanya kapan akan melangsungkan pernikahan. Usia 22 tahun benar-benar sebuah usia keemasan bagi anak muda. Penuh dengan warna, energik, dinamis, ambisi, keberhasilan, kegagalan, bangkit, berjuang. Itulah yang saya rasakan dan bayangkan tentang anak- anak muda diusia tersebut.

Tapi Vanny tidak begitu. Dia sudah merusak dirinya secara sistematis diusianya yang baru 14 atau 15 tahun, dengan meracuni tubuhnya dengan narkoba, zat adiktif yang daya rusaknya sangat dahsyat, baik terhadap tubuh maupun mental penggunanya. Anak-anak yang sudah terbiasa mengkonsumsi narkoba diusia yang masih sangat remaja seperti ini, lazimnya terindikasi mengalami disorientasi nilai yang merupakan salah satu gejala degradasi mental (cmiiw). Dia tidak memiliki kesanggupan untuk mengerti, memahami, apalagi mengimplementasikan nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat dalam kehidupan pribadinya. Sebagai contoh sederhana adalah kemampuan mentaati norma kesopanan dan norma kesusilaan. Norma ini membuat seorang individu yang telah berbuat suatu kesalahan, seharusnya mempunya rasa malu untuk mengakui perbuatan buruk yang sudah dilakukan, dan sedapat mungkin menutupi perbuatannya itu agar tidak diketahui oleh orang lain.

Vanny luput dari kemampuan itu. Hal ini terlihat dari profesi yang dipilihnya, yakni sebagai model majalah dewasa, yang mengharuskan dia berpose seksi setengah telanjang kalau perlu telanjang sama sekali. Saya tidak mengatakan bahwa para gadis yang memilih profesi sebagai model panas, adalah para pecandu narkoba yang mengalami disorientasi nilai, bukan begitu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa seorang gadis baik- baik, yang memiliki mental kuat, dan dibesarkan di lingkungan keluarga penuh kasih sayang dan perhatian, yang mendidik akhlaknya sesuai dengan ajaran agama yang dianut, akan berpikir seribu kali untuk memilih profesi seronok seperti itu. Gadis cerdas dan baik-baik itu cirinya adalah penuh harga diri, dan pandai menjaga kehormatan dirinya dari segala pikiran kotor laki-laki cemen.

Yang lebih parah lagi, Vanny sama sekali tidak merasa bersalah saat dia dengan bebas dan terbuka mengatakan bahwa sejak remaja dia sudah memakai narkoba, meledek dengan lirikan genit kepada Polisi yang hadir di acara ILC agar tidak menangkapnya, juga mengatakan terus terang dan tanpa beban di berbagai kesempatan bahwa dia sudah berulang kali melakukan hubungan badan dengan Bandar narkoba itu di lapas Cipinang, yang untuk upah keringatnya tersebut, dia sudah mendapatkan mobil mewah dan ratusan juta dari bandit kelas kakap itu. Ini apa artinya, kalau bukan karena Vanny sudah mengalami disorientasi nilai yang memprihatinkan, yang biasa dialami oleh para pecandu narkoba. Vanny tidak merasa malu mengungkapkan aib dirinya, karena menurut Vanny tidak ada yang salah dengan semua yang sudah dia lakukan itu.

“Kita nggak usah munafiklah …. ”

Itu kata yang dilontarkan Vanny kepada penonton, kepada kita yang menyaksikan berbagai tayangan tempat Vanny mengumbar perilaku buruknya. ” Kita nggak usah munafik ya .. “, begitu dia bilang, mengomentari dirinya sendiri yang dengan senang hati menerima puluhan juta setiap habis mengnjungi dan berasyik masyuk dengan si Freddy terpidana mati itu.

KITA ? Kita siapa yang Vanny maksudkan ? apakah saya termasuk di dalamnya ? apakah anda juga termasuk di dalamnya ? yang akan dengan senang hati menerima sejumlah uang setelah tidur dengan laki-laki yang baru berstatus sebagai pacar ? oh, maaf saja, saya dan saya yakin teman-teman disini sependapat dengan saya, bahwa kita tidak termasuk dalam KITA nya Vanny. Siapa yang sudi menerima uang haram seperti itu, yang akan meracuni dan mencelakakan hidup kita dan keluarga kita sampai di akhirat nanti !. Kita masih percaya dan takut pada Allah yang akan murka jika kita melanggar larangan Nya. Dan kita masih sangat percaya bahwa Allah akan sangat bermurah hati memberi kita rezeki dengan jalan halal yang bermartabat, yang diridhoi Nya, yang berkah, dan membuat kita berbahagia.

Lalu Munafik. Dari mana dia belajar kata-kata itu ? apakah dia tahu dan mengerti arti kata munafik?
Sudahlah, saya tidak akan membahas kata munafik dari sudut pandang agama. Saya hanya ingin mengomentari kata munafik yang enteng dilontarkan oleh mulut manis Vanny di layar kaca. Saya menyimpulkan, bahwa wajar menurut Vanny seseorang merasa senang jika menerima sejumlah besar uang seraya memperoleh kenikmatan ragawi pula. Hanya sampai disitu menurut saya pemahaman Vanny tentang arti kata munafik yang dikaitkan dengan bagaimana cara memperoleh uang. Vanny kelihatannya gagal paham bahwa memperoleh uang itu ada caranya, dan caranya itu harus halal dan tidak boleh melanggar hukum. Bukan sekedar memperoleh entah dengan cara apa lalu merasa senang saja. Tentu saja kita semua senang jika memperoleh dan memiliki sejumlah besar uang. Siapa orangnya yang tidak senang dengan uang ?. Tapi ada catatan yang ditebalkan dan tak boleh dilupakan, yakni uang itu harus diperoleh dengan cara yang halal, baru kita akan merasa senang. Jika tidak begitu, tentu kita akan menolak mentah-mentah sebesar apapun uang yang disodorkan pada kita. Bukan karena kita munafik, tapi karena kita tahu adat, tahu nilai, mengerti apa arti melanggar hukum dan melanggar aturan agama !

Kemana Mama - Papa Vanny ?

Nah, kembali ke judul tulisan ini. Kemana gerangan Mama dan Papa Vanny ketika anak gadisnya yang cantik telah begitu jauh terperosok dalam perbuatan yang negatif ? kemana Ayah - Bundanya, ketika Vanny mengkonsumsi dan mencandu narkoba saat dia masih duduk di bangku SMP ? apakah Ayah - Ibunya mengetahui ? saya rasa tidak, karena kalau tahu, pasti sudah sejak dulu mereka akan membawa Vanny ke rumah sakit atau ke panti rehabilitasi bagi pecandu narkoba. Lalu jika mereka tidak tahu, mengapa sampai tidak tahu ? bukankah masa remaja adalah masa puncak-puncaknya seorang anak membutuhkan pendampingan dari kedua orang tuanya, mengingat labilnya kondisi fisik dan mental yang tengah dialami ? Mengapa orang tuanya sampai tidak memperhatikan perubahan air muka putrinya yang kusut masai ? yang tidak sehat dan cerah ? mengapa tidak bertanya dan mengajak bicara dari hati ke hati sebelum segalanya begitu terlambat ?

Dan ketika Vanny memilih menjadi model majalah dewasa, apakah Mama - Papanya mengetahuinya? saya rasa juga tidak, karena kalau tahu, pasti sejak dulu mereka akan melarang anak gadisnya yang cantik berpose demi uang dan mengumbar auratnya untuk memancing syahwat laki-laki yang hobinya mesum . Lalu seandainya mereka mengetahui profesi anaknya, bagaimana perasaan sang Papa ketika melihat foto syur dari anak gadisnya ? apakah hatinya akan hancur seperti para Papa yang lain, ataukah justru merasa bangga ?

Juga ketika Vanny berulang kali mengumbar aibnya di media massa. Kemana Mama - Papanya ? apakah mereka mengetahui berita ini dan menyaksikan atau membaca semua pernyataan anak gadisnya ? saya rasa mereka tidak tahu, karena kalau mereka tahu, tentu sudah sejak awal mereka akan mencegah anaknya terlalu banyak mulut di depan publik, karena semua pernyataannya itu hanya berarti mencoreng nama baik keluarga. Ataukah justru mereka tahu dan merasa bangga anak gadisnya kini telah menjadi selebriti kagetan ? Saya hanya dapat membayangkan, seandainya kedua orang tua Vanny adalah orang- orang yang baik dan saleh, betapa hancurnya hati mereka menyaksikan ulah anaknya yang boleh jadi telah mereka besarkan dan didik dengan penuh kasih sayang semasa kecil.

Vanny itu baru berumur 22 tahun, baru 4 tahun lepas dari status kanak-kanaknya. Tapi lihatlah penampilan dan wajahnya. Sangat jauh dari gambaran anak muda seusianya. Mohon maaf, Vanny lebih mirip perempuan matang yang tengah memasuki usia 35 tahunan. Begitu pula gerak -geriknya, sangat tidak muda, sangat mirip dengan perempuan yang sudah berpengalaman.

Melihat tahun kelahirannya yakni 1991, ini adalah masa mulai boomingnya siaran televisi swasta yang marak dengan sinetron, infotainment, dan acara-acara yang mengekspos kemewahan, kemudahan, dan kesenangan hidup. Ini adalah masa masyarakat Indonesia mulai berkenalan dengan ponsel, dengan situs -situs pornografi di internet, dengan sosmed dengan segala hiruk - pikuknya, yang membuat penggunanya dapat berinteraksi dengan cara yang mudah, canggih dan modern. Namun sekaligus membuat mereka mengidap penyakit mental narsis, terlalu memuja dan mencintai diri sendiri.

Saya jadi berpikir, apakah Vanny merupakan contoh nyata anak bangsa yang termakan oleh gaya hidup hedonis yang “diajarkan” oleh media massa ? Ini adalah sebuah gaya hidup yang mengerikan, karena membuat penganutnya menuhankan materi, dan menjadikan kesenangan sebagai tujuan hidup tak peduli cara yang harus ditempuh. Ini adalah sebuah gaya hidup yang menumpulkan nilai kemanusiaan, menggerus rasa cinta dan kasih sayang lalu menggantinya dengan nafsu, serta menghilangkan rasa malu. Kalau memang demikian adanya, maka Vanny dan ribuan anak muda lain di Indonesia adalah korban dari modernisasi yang salah kaprah, korban kelalaian orang tua, korban ketidak pedulian para gurunya di sekolah, dan korban ketiadaan teladan dari para pemimpin di negeri ini !

Jangan ada lagi Vanny yang lain

Fenomena Vanny, Anggita, Vitalia, Darin, atau siapapun itu, sungguh memuakkan, memprihatinkan dan menyesakkan dada. Hujatan dan sumpah serapah masyarakatpunberhamburan dialamatkan kepada gadis- gadis cantik itu, namun tanpa solusi sama sekali. Dan parahnya lagi, semua itu hanya terjadi sesaat saja, setelah itu hilang, raib tanpa bekas seperti debu yang diterbangkan angin. Pantas saja jika teristiwa seperti ini terus berulang, karena mereka berpikir, toh kalau ketahuan masyarakat akan segera memaafkan dan melupakan. Maklum konon katanya, masyarakat Indonesia itu pemaaf dan mengidap amnesia akut.

Mendidik masyarakat agar berperilaku dan berpikir cerdas memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab ini sangat berkaitan dengan pola asuh dan pola didik dalam keluarga-keluarga di Indonesia. Perilaku yang ditunjukkan masyarakat, termasuk perilaku amnesia, mudah menghujat, dan abai terhadap perilaku anak-anak, sangat mencerminkan suasana keluarga- keluarga di Indonesia pada umumnya, dan lebih jauh lagi mencerminkan budaya yang dianut bangsa kita. Masyarakat termasuk para anggotanya seperti Vanny dkk, adalah produk keluarga dan budaya Indonesia. Jika terlihat ada indikasi penyimpangan perilaku, maka asumsinya telah terjadi kerusakan yang sistemik dalam lembaga-lembaga keluarga dan masyarakat di Indonesia, juga ada nilai budaya yang harus ditinggalkan. Vanny dan ribuan anak muda lain harus ditolong, dikeluarkan dari jalan gelap yang tanpa disadari telah ditempuhnya. Orang tua dan keluarga adalah pihak yang pertama diharapkan uluran tangannya. Lalu aparat penegak hukum, para professional seumpama Psikolog, Psikiater, dll. Pihak media massa juga tak seharusnya terus-menerus mem blow up kasus negatif seperti ini hanya demi meningkatkan rating dan tiras penjualannya. Karena tidak tertutup kemungkinan, informasi seperti ini justru menginspirasi anak - anak muda lain yang berhati lemah, yang tak cakap menggunakan akalnya.

Ini adalah pekerjaan rumah sangat besar yang harus kita hadapi. Lalu kita harus memulai darimana ? saya tidak akan bosan mengatakan, mulailah dari keluarga kita. Mari kita didik putra-putri kita dengan sebaik-baiknya, sungguh-sungguh, dan penuh kasih sayang. Untuk itu dibutuhkan keteladanan dari kita sebagai orang tua, karena anak- anak akan memperhatikan dan mencontoh semua perilaku orang yang mendidiknya. Jika perilaku dan moral kita sudah baik, ibaratnya kita sudah setengah berhasil mendidik anak-anak kita tentang nilai kebaikan. Jangan ada lagi Vanny yang dilahirkan dari keluarga kita, kasihan anak-anak kita. Nah, semoga bermanfaat, selamat mendidik putra-putri tercinta ya teman-teman,


Salam sayang,

anni