<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994</id><updated>2012-01-16T21:31:38.328-08:00</updated><category term='sketsa'/><category term='Pengalaman jadul'/><category term='Song from my Heart'/><category term='Curhat'/><title type='text'>Dengarlah Nuranimu ...</title><subtitle type='html'>Sketsaku yang sederhana 
tentang hidupku yang sederhana ............</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>45</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-5859038651712456493</id><published>2012-01-09T06:46:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T19:18:52.259-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Nenek Engkom Tersesat di Harom</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8fcbZV2jx8M/Twur5FIAKdI/AAAAAAAAAdI/dK3HZgiltNg/s1600/46.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-8fcbZV2jx8M/Twur5FIAKdI/AAAAAAAAAdI/dK3HZgiltNg/s320/46.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-xt_M4RPkMrE/TwuqkGq8uKI/AAAAAAAAAdA/JYItdOuqrxw/s1600/46.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0pBc1Co-DRs/Twr7kFbLErI/AAAAAAAAAbY/KL66m0_93BY/s1600/43.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-0pBc1Co-DRs/Twr7kFbLErI/AAAAAAAAAbY/KL66m0_93BY/s320/43.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum wr wb &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakabar teman-teman ? Sehat dan bahagiakan semuanya ? :)) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sepekan sudah saya dan suami berada di kota suci Mekkah.  Selama seminggu kemarin, kami melewatkan waktu dengan memperbanyak  ibadah di masjidil Harom (atau penduduk Mekkah biasa menyebutnya dengan  kata "Harom" saja ) yang letaknya kurang lebih 2,5 km dari makhtab  (hotel) tempat kami menginap. Jarak sejauh itu lebih sering kami tempuh  dengan berjalan kaki selama kurang lebih 40 menit, atau 15 menit dengan  taksi atau bis umum.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini jadwal kami adalah tour berziarah ke tempat-tempat  bersejarah yg bertebaran di seputaran kota Mekkah, mulai dari  mengunjungi rumah masa kecil Rasulullah, Masjid Jin, Makam Siti Khadijah  (istri Rasulullah), hingga ke bukit Tsur, gua Hira, dan tugu romantis  di jabal Rahmah. Dan seusai tour, jadwal kegiatan kami adalah  beristirahat di Makhtab. Nah jadi ceritanya, mumpung waktunya agak  senggang, saya ingin menceritakan sedikit pengalaman saya di kota suci  ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**** &lt;br /&gt;Tadi malam , sekitar pukul 01.30 waktu Saudi , tiba-tiba pintu kamar  kami yang dihuni oleh 5 orang ibu-ibu diketuk dengan keras oleh salah  seorang anggota TPHI (Tim Pembimbing Haji Indonesia). Dengan nada letih  beliau memohon kepada kami agar mengizinkan seorang ibu tua yang dia  temukan untuk menginap di kamar kami hingga pagi tiba, karena ibu itu  tersesat di Harom. Ya tentu saja kami mengizinkan,karena merasa iba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian keheningan di pagi buta itupun sontak terusik oleh  kehadiran Nenek yang bertubuh kecil ringkih, bungkuk ,dengan sekujur  tubuh menggigil karena kedinginan, kelaparan dan kelelahan akibat sehari  semalam tersesat di masjid dengan luas berhektar-hektar itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang rekan sekamar saya lalu menanyai nenek yg kira-kira  berusia 80 an itu, mulai dari nama, asal daerah, nama rombongan, dan  nomor kloternya. Alangkah terkejutnya kami, karena ternyata Nenek ini   tidak dapat menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengaku bernama Engkom, padahal ketika saya periksa kartu  identitasnya, jelas-jelas nama yang tertera adalah Epon. Saya jadi  bingung, apa mungkin nenek itu bernama Engkom Epon ? Tapi rasanya saya  belum pernah mendengar ada orang Sunda punya nama seperti itu. Yang saya  tahu, kalau Engkom ya engkom saja, Epon ya Epon saja. Tapi ibu itu  bersikukuh kalau namanya Engkom, bukan Epon seperti yang tertulis di  kartu nya. Tak hanya itu, ibu itu mengaku berasal dari Cidahu, padahal  dalam kartu  identitasnya, beliau dinyatakan berasal dari kampung Bojong  Galing Sukabumi. Jadi bingung lagi deh. Akhirnya saya bertanya dalam  bahasa Sunda, " Mak, punten ari kartu ieu teh kagungan Emak, sanes ? "  (Mak, maaf kartu ini milik Emak atau bukan ?) Dan dia bilang iya. Yang  lebih bikin tambah bingung lagi si Emak ini tidak tau nama rombongan dan  nomor kloternya !  Waduh ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya berinisiatif mengambilkan sepiring nasi dan abon  untuk nenek yang pasti sangat lapar itu. Sambil makan, Mak Engkom Epon   bercerita bagaimana dia bisa tersesat selama itu. Singkat cerita,  pegangan tangan Emak kepada teman satu kelompoknya terlepas saat jamaah  Afrika menyerobot dan memotong begitu saja  untaian barisan rombongan si  Emak. Kehilangan pegangan selama 2 menit di tempat yang penuh sesak  berjejalan seperti di Masjidil Harom, sangat  fatal akibatnya. Dapat  ditebak kelanjutan ceritanya, si Emak yang malang itupun tenggelam dalam  gelombang puluhan ribu jamaah tanpa tahu lagi ke mana arah yang harus  dituju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malangnya nasib jamaah haji seperti Emak Engkom Epon ini. Sudah  uzur, lemah, dari dusun di kaki gunung, buta huruf,tersesat di tempat  yang begini kolosal, dinegeri asing pula. Dan si Emak ini, jangankan  mampu berbahasa Arab atau Inggris, berbahasa Indonesia pun dia tak bisa.  Mau bertanya kepada siapa, dia tak tahu caranya atau mungkin malu dan  takut. Bahkan bertanya kepada sesama jamaah Indonesiapun, tak semua  orang mengerti bahasa Sunda, kasihan sekali ! &lt;br /&gt;Untung saja Emak itu menyebut kata "Sukabumi", yang akhirnya membawanya terdampar ke kamar kami.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbagi tugas, tak sampai setengah jam kamipun dapat  menemukan rombongan si Emak. Lucunya, ternyata Emak itu resminya bernama  Siti Rohimah !  Lho, jadi Engkom Epon itu siapa yaa ??  Ooohh.. Nama  panggilan kesayangan kali yee .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah si Emak akhirnya berhasil kembali ke kamarnya. Namun dari  peristiwa itu ada satu hal yang mengganjal di hati dan pikiran saya.  Dalam kejadian seperti ini, yang menurut saya adalah musibah, ada saja  orang yang dengan ringan mulut menyeletuk, " Nah itulah balasan dari  dosa yang sudah Emak perbuat di kampung halaman ! Akhirnya tersesat  sampai semalaman ! Harusnya si Emak segera bertobat ! ". Astaghfirullah  ya Allah ...!  Saya benar-benar tak habis pikir, kok tega-teganya  mengutuk orang yang kena musibah. Memangnya siapa yang mau tersesat ?  Dan siapa pula orangnya yang dapat melawan keperkasaan kebanyakan jamaah  Afrika yang terkenal sering menggunakan kekuatan fisiknya untuk  memotong antrian itu ? Jangankan Emak Engkom Epon yang sudah renta, anak  muda saja pasti keder jika sudah berhadapan dengan rombongan jamaah  Afrika yang berbadan tinggi besar hitam kuat kekar seperti itu. Soal  dosa, mana ada sih orang yang bersih dari dosa ? Kan kita pergi berhaji  untuk bertobat dari dosa bukan ? Jika sampai ada orang yang terkena  kemalangan, sangat tidak bijaksana mengait-ngaitkan dengan dosanya,  karena itu adalah hak mutlak Allah, sama sekali bukan kewenangan kita  untuk menghakimi orang atas dosa-dosanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir cerita, mari kita berhaji selagi muda. Karena masyaallah ! Ini  benar-benar ritual ibadah yang menguras energi, baik fisik maupun  mental. Berhaji selagi muda memberikan banyak keuntungan, setidaknya  jika tersesat, kita lebih berani untuk berspekulasi atau bertanya kepada  petugas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menunaikan ibadah haji, semoga mendapatkan haji yang mabrur dan mabrurah, aamin ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamualaikum, &lt;br /&gt;Bakhutmah, akhir Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AE8gxPsVw7M/Twr73z_zh7I/AAAAAAAAAbg/JkylBd9k9IU/s1600/2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-AE8gxPsVw7M/Twr73z_zh7I/AAAAAAAAAbg/JkylBd9k9IU/s320/2.JPG" width="297" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-BCA6GACjxxs/Twr8E6LtQKI/AAAAAAAAAbo/QK5XcaTrJBE/s1600/30.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-BCA6GACjxxs/Twr8E6LtQKI/AAAAAAAAAbo/QK5XcaTrJBE/s320/30.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-667pAEwyPW0/Twr8azKl81I/AAAAAAAAAbw/9QHbtYJFqsE/s1600/35.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-667pAEwyPW0/Twr8azKl81I/AAAAAAAAAbw/9QHbtYJFqsE/s320/35.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Sab7kQA3QtQ/Twr9dpFggOI/AAAAAAAAAb4/h0bIWT6OmZg/s1600/PB260457.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-Sab7kQA3QtQ/Twr9dpFggOI/AAAAAAAAAb4/h0bIWT6OmZg/s320/PB260457.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-2Bnx_GIiOLk/TwsAkIHIkwI/AAAAAAAAAcY/APCWjPwwSu4/s1600/PA250096+-+Copy.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-2Bnx_GIiOLk/TwsAkIHIkwI/AAAAAAAAAcY/APCWjPwwSu4/s320/PA250096+-+Copy.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-hBE3ZeT2njo/TwsBEczDObI/AAAAAAAAAcg/vArl4jkCe_Y/s1600/PB040219.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-hBE3ZeT2njo/TwsBEczDObI/AAAAAAAAAcg/vArl4jkCe_Y/s320/PB040219.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ZrgseMnBm2M/TwsBkNckGGI/AAAAAAAAAco/nZ2ObdyfqvA/s1600/PC030690.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-ZrgseMnBm2M/TwsBkNckGGI/AAAAAAAAAco/nZ2ObdyfqvA/s320/PC030690.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-6YobFLUEXt0/TwsCGmtHiYI/AAAAAAAAAcw/lBUctJndOxA/s1600/PC030691.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-6YobFLUEXt0/TwsCGmtHiYI/AAAAAAAAAcw/lBUctJndOxA/s320/PC030691.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-F1f6CZdJtig/Twr9nlSGgCI/AAAAAAAAAcA/AxXBlTY_Vj8/s1600/42.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-F1f6CZdJtig/Twr9nlSGgCI/AAAAAAAAAcA/AxXBlTY_Vj8/s320/42.JPG" width="277" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-5859038651712456493?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/5859038651712456493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2012/01/nenek-engkom-tersesat-di-harom.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5859038651712456493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5859038651712456493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2012/01/nenek-engkom-tersesat-di-harom.html' title='Nenek Engkom Tersesat di Harom'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-8fcbZV2jx8M/Twur5FIAKdI/AAAAAAAAAdI/dK3HZgiltNg/s72-c/46.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-5899240461870370460</id><published>2011-07-17T21:13:00.000-07:00</published><updated>2011-07-17T21:20:55.061-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Aku Melihat Nini Anteh di Bulan ...</title><content type='html'>Kapankah terakhir kali engkau melihat bulan purnama ? melihat dalam arti   yang sesungguhnya. Tidak hanya sekedar memandang sekilas lalu   memalingkan wajah karena terlalu banyak hal yang lebih penting yang   harus diurusi, dari hanya sekedar memandang bulan purnama ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XSMa3UybUBY/TiOx80k0BbI/AAAAAAAAAbU/q6vTt1pVwac/s1600/purnama.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-XSMa3UybUBY/TiOx80k0BbI/AAAAAAAAAbU/q6vTt1pVwac/s400/purnama.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bukalah jendela malam ini, dan tengoklah langit di atasmu. Disana  bulan  purnama sedang membulat dengan semburat sinar keperakan meronai  wajahnya  yang  sempurna, dan akan menggenapi kesempurnaannya di esok  hari.  Jika  tempat tinggalmu bukan di apartemen atau di condominium  atau di real  estate mewah yang dihujani dengan sinar lampu nan  artifisial, maka  engkau akan melihat rembulan  dengan segenap  keindahannya yang romantis  dan berkesan mistis. Sinar rembulan akan  sempurna engkau tangkap,  manakala langit diatasmu jernih berlatar  hitam, tanpa gangguan gemerlap  cahaya lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ketika   purnama tiba, aku akan meringkukkan tubuh kecilku di  pelukan Nenek.  Kata Nenek, di bulan ada seorang perempuan yang setia  menenun kain  hingga akhir zaman. Seorang diri hanya ditemani kucing  kesayangannya.  Perempuan itu bernama Nyai Anteh. Namun karena usia Nyai  Anteh tentu  sudah sangat tua, maka tak sopan jika kita tak memanggilnya  dengan   Nini Anteh. Dan kucing kesayangannya itu bernama Candramawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Nini Anteh tersesat begitu jauh hingga ke Bulan ? apa yang telah terjadi dengannya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai  Anteh bukan siapa-siapa, kecuali seorang gadis dayang di kerajaan   Sunda yang setia menjaga kehormatan diri dan kesuciannya. Makanakala   seorang pria tampan dari trah bangsawan yang bernama Raden Antakusumah   jatuh hati padanya,  Nini Anteh lebih memilih pergi ke bulan, dari pada   menyerah pada hawa nafsunya, sebab sejatinya ia pun memendam cinta di  sudut  hatinya kepada sang jejaka rupawan.  Nyai Anteh tak sudi   mengkhianati  tunangan sang Pangeran, yang tak lain dari Gusti Putri  Endahwarni,  majikan yang sangat disayanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  gairah cinta terlarang diantara dua pasang manusia itu sudah  begitu  menggelora dan mengancam kesucian diri, Nyai Anteh pun memilih  terbang  ke bulan, mengendarai selendang saktinya. Tak lupa alat tenun  dan  Candramawat kucing kesayangannya pun dibawa serta. Di sanalah hingga   akhir zaman nanti, Nyai Anteh menenun kain sambil sesekali menampakkan paras jelitanya kepada para   pecinta purnama yang bersedia meluangkan sejenak waktu untuk   memandanginya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;img alt="" class="photo_img img" height="356" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/283050_2261708866748_1369245979_32531379_6223668_n.jpg" width="400" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Nenek tercinta, kini aku sudah menjelma menjadi perempuan dewasa.  Dirimu  pun sudah dipanggil ke haribaan Nya. Namun kisah indahmu tentang  Nini  Anteh akan tetap terkenang hingga akhir hayatku. Aku mahfum apa  yang   sesungguhnya Nenek ingin  sampaikan kepadaku. Jadilah perempuan  yang  tahu menjaga&lt;br /&gt;kehormatan dan kesucian diri. Jadilah   perempuan yang berani mengatakan TIDAK pada godaan hawa nafsu. Jadilah   perempuan yang memiliki empati, setia kawan dan tenggang rasa yang   tinggi. Jadilah perempuan yang mengharamkan sesuatu yang bukan milikmu,   meski engkau sangat menginginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek tercinta,   Nini Anteh tidak nyata. Namun semua nasihatmu begitu  nyata bagiku.  Sampai kapanku, akan selalu kuingat, bahwa anak-anak yang  baik, hanya  dilahirkan dari rahim perempuan yang baik, yang pandai  menjaga  martabatnya. Bukan dari perempuan yang kotor hati dan suka  merebut  milik orang lain. Aku ingin menjadi istri dan ibu yang setia,  yang  tidak akan pernah merebut suami orang lain. Aku  akan setia pada  suami  dan anak-anakku. insyaallah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar jendelaku, bulan kian meninggi dan semburat peraknya kini tersaput jingga ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menenun, menenun, menenunlah Nini Anteh, hingga Sang Pemilik Purnama dan Pemilik dirimu, mengakhiri kehidupan ini …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;anni - Sukabumi 150711&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-5899240461870370460?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/5899240461870370460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/07/aku-melihat-nini-anteh-di-bulan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5899240461870370460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5899240461870370460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/07/aku-melihat-nini-anteh-di-bulan.html' title='Aku Melihat Nini Anteh di Bulan ...'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-XSMa3UybUBY/TiOx80k0BbI/AAAAAAAAAbU/q6vTt1pVwac/s72-c/purnama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-193505928421892051</id><published>2011-07-17T20:54:00.000-07:00</published><updated>2011-07-17T22:44:42.384-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>ha .. ha .. Nama Kampungku Lucu Banget ..</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-eNn_xzwcVJ8/TiOsUQQtp6I/AAAAAAAAAbI/ngIGEX26l-s/s1600/1432146_dsc00485.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="301" src="http://2.bp.blogspot.com/-eNn_xzwcVJ8/TiOsUQQtp6I/AAAAAAAAAbI/ngIGEX26l-s/s400/1432146_dsc00485.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Jalan-jalan deh sesekali ke luar kota. Maksudnya ke  luar kota di Indonesia, bukan kota di luar negeri. Lalu susuri  jalan-jalan alternatif yang berliku-liku keluar masuk kampung. Kita akan  melihat pemandangan yang menyejukkan dan betul-betul bisa melepaskan  penat serta stress akibat kehidupan sehari-hari yang serba sumpek di  tempat kerja di kota besar. Tidak hanya hamparan sawah, kebun, dan hutan  yang membuat adem mata, namun juga pemandangan sekitar kampung yang  terkadang lucu, berkesan lugu khas pedesaan yang kadang mengundang  senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sudah lama sebetulnya saya berfikir tentang  nama-nama kampung di daerah Jawa Barat tempat saya tinggal. Sejauh yang  saya tahu, masyarakat Jawa Barat atau masyarakat Sunda sangat mencintai  lembur (kampung halaman) nya. Di kampung – kampung yang terpencil di  kaki gunung, di pinggiran kota, atau di pesisir pantai inilah, pusat  kehidupan orang Sunda bermuasal. Dari sinilah karakter khas orang Sunda  semisal  ramah tamah, cerdik, berpenampilan gaya, pandai mengatur uang,  kreatif, nyeni, suka bersantai-santai, terbuka, senang bekerja, senang  mengolah makanan, susah mengucapkan huruf&amp;nbsp; F , dll, bermula&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-1Mfm3s2BMDU/TiOsv0M94kI/AAAAAAAAAbM/KqD98mGwN54/s1600/image001.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="328" src="http://3.bp.blogspot.com/-1Mfm3s2BMDU/TiOsv0M94kI/AAAAAAAAAbM/KqD98mGwN54/s400/image001.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Masyarakat Suku Sunda memiliki falsafah hidup yang  tak terlampau rumit jika dibandingkan dengan falsafah yang dimiliki  suku-suku lain di Nusantara. Didukung oleh kekayaan alam Jawa Barat yang  terkenal melimpah, falsafah hidup yang simple itu membuat masyarakat  Sunda termasuk masyarakat yang cepat memperoleh kemajuan di negeri kita  ini. Salah satu falsafah hidup yang sangat dipegang adalah konsep  “  Silih asih, silih asah, silih asuh “ ( Saling menyayangi, saling  mencerdaskan, saling menjaga ). Konsep ini tercermin dalam budaya Sunda  yang mewujud dalam peri kehidupan mereka sehari – hari.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Orang Sunda itu lucu, suka membanyol. Guyonan yang  dilontarkan lucu banget. Yang mendengarkan tertawa terpingkal-pingkal  sampai mules perut kita dibuatnya, namun yang melontarkan banyolan adem  ayem saja, masang tampang cool ,he he .. Kebiasaan membanyol itu terbawa  juga sampai ke pemberian nama tempat atau nama daerah yang terdengar  kocak. Coba deh jalan ke daerah Sukabumi. Di sana akan ditemui nama  kampung &lt;b style="color: yellow;"&gt;Ciburayut, Nyangkewok, Pasir Jeding, Kebon Bra&lt;/b&gt;.  Saya bukan orang Sunda, tapi mendengar namanya saja saya sudah  tersenyum, apalagi jika tahu artinya, he he …&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Masih banyak nama-nama aneh dan lucu yang bertebaran di seantero Jawa  Barat. Di dekat Tasikmalaya, ada kampung bernama&lt;span style="color: blue;"&gt; &lt;b style="color: yellow;"&gt;Nengtet, Nangewer&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;. Di daerah lain ada nama kampung &lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;Ciburahol, Legok Hangseur, Cigeol, Ciubrut, Ciromed, Pasir Demplu, Legok Ewor&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;, dll nama yang terdengar unik dan lucu.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8MKFjzmc5ko/TiOtGb1bXfI/AAAAAAAAAbQ/4P1CAa7zVeQ/s1600/cepot.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-8MKFjzmc5ko/TiOtGb1bXfI/AAAAAAAAAbQ/4P1CAa7zVeQ/s320/cepot.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kadang penduduk kampung tsb, terutama yang sudah  lebih berpendidikan dan sudah mengecap kehidupan modern, merasa risih  atau malu dengan nama kampung nya itu. Pernah ada beberapa upaya yang  dilakukan baik oleh kepala daerah atau tokoh masyarakat setempat untuk  mengubah nama kampung atau daerah dengan nama yang lebih moderen dan  berkonotasi positif. Ada yang berhasil, banyak juga yang gagal karena  penduduk setempat masih lebih suka dengan nama asli kampung mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Nama kampung, desa atau daerah, sangat berkaitan  erat dengan sejarah dan budaya masyarakat di tempat itu. Nama-nama lucu  yang saya sebutkan dalam tulisan ini, hanya segelintir contoh tradisi   lisan masyarakat Sunda yang komunal dan agraris. Beginilah antara lain  cara nenek moyang suku Sunda mewariskan tradisi dan nilai-nilai kepada  generasi penerusnya. Dengan cara yang sederhana, mudah diingat, dan  dibumbui humor, dengan harapan anak-anak muda pewaris zamannya mudah  mengingatnya sampai kapanpun. Jangan dikira dibalik nama-nama yang lugu  dan lucu itu tak terkandung nilai-nilai kehidupan yang luhur. Jika kita  mau menggalinya, tentulah akan ditemui banyak sekali pelajaran kehidupan  yang sangat berharga yang dapat kita teladani hingga hari ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jadi teman-teman, mumpung anak-anak masih libur  sekolah, yuk ajak keluarga jalan-jalan menyusuri perkampungan dan  pematang sawah di luar kota besar yang ramai dan temukan berbagai  keunikan di sana. Selamat mencintai tanah air Indonesia !&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://1.gvt0.com/vi/HkTgAYUjQHE/0.jpg" height="266" width="320"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/HkTgAYUjQHE&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/HkTgAYUjQHE&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=HkTgAYUjQHE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black;"&gt;Salam sayang, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;anni - Sukabumi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-193505928421892051?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/193505928421892051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/07/ha-ha-nama-kampungku-lucu-banget.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/193505928421892051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/193505928421892051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/07/ha-ha-nama-kampungku-lucu-banget.html' title='ha .. ha .. Nama Kampungku Lucu Banget ..'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-eNn_xzwcVJ8/TiOsUQQtp6I/AAAAAAAAAbI/ngIGEX26l-s/s72-c/1432146_dsc00485.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-7026992952293738229</id><published>2011-07-17T20:37:00.000-07:00</published><updated>2011-07-17T20:37:51.783-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>ups ...! ada BH NEMPLOK DI HELM !</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-lz-7-uGWCiE/TiOoOp5onEI/AAAAAAAAAas/_flo9zvO6Ds/s1600/diambil-dari-lokasi-kejadian.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="241" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-lz-7-uGWCiE/TiOoOp5onEI/AAAAAAAAAas/_flo9zvO6Ds/s320/diambil-dari-lokasi-kejadian.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah punya pengalaman unik yang cukup menggelikan, ketika beberapa tahun yang lalu berkesempatan menjadi anggota rombongan pengantin yang mengantar mempelai pria ke tempat mempelai perempuan. Kebetulan akad nikah dan resepsi pernikahan itu dilaksanakan di rumah mempelai perempuan yang terletak di sebuah gang yang lumayan sempit dan berliku. Ketika itu kami harus membawa berbagai barang bawaan untuk dipersembahkan kepada mempelai perempuan. Semua barang bawaan itu dikemas seperti kado atau dibentuk semacam itulah, agar penampilannya cantik dan terkesan mahal. Ada yang bertugas membawa barang pecah belah, ada yang diminta membawa selimut tebal yang dibentuk seperti angsa. Ada yang disuruh membawa sepatu dan tas, seperangkat alat kosmetik, bahkan ada juga yang bertugas membawa kompor gas (bayangkan !). Saya waktu itu kebetulan diminta membawa kue tart yang warna dan aromanya bikin lapar, maklum dari pagi belum sempat sarapan. Rombongan pengantin laki-laki kurang lebih berjumlah 50 an orang, berbaris rapi memanjang. Di sepanjang jalan kami ramai mengobrol sambil diam-diam tak henti-henti cekikikan mentertawakan salah satu keponakan laki-laki yang sudah bujangan tapi ketiban sial disuruh membawa bingkisan berupa celana dalam dan bra ! sampai salah tingkah dia dibuatnya  ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di gang dekat rumah pengantin perempuan, kamipun harus berhenti, menanti serangkaian ritual adat yang asyik juga buat ditonton, meski terkesan lebay. Ada pidato dalam bahasa Sunda yang menurut saya tentulah berisi ucapan selamat datang, ada rentak tetabuhan gamelan Sunda yang diikuti tarian selamat datang oleh serombongan mojang Bandung tetangga si Eneng pengantin yang heudeuh cantik-cantik banget ! ada juga acara pengalungan rangkaian bunga kepada mempelai laki-laki, dan seterusnya, yang saya piker cukup ribet mengingat lokasi pernikahannya terletak di gang sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, selama upacara adat penyambutan tamu berlangsung, kami anggota rombongan belum dipersilahkan duduk di kursi undangan, melainkan harus berbaris menunggu di gang depan rumah pengantin. Sembari menunggu itulah, sebuah kejadian lucu berlangsung. Di sepanjang dinding yang memagari gang itu, kami melihat deretan jemuran pakaian, bergelantungan tak beraturan. Segala macam pakaian ada di tali jemuran yang merentang sepanjang gang senggol itu. Dari selimut flannel bayi, popok, daster, handuk, jaket, jeans, kemeja, seragam sekolah, sampai aneka celana dalam pria dan wanita anak-anak dan dewasa, bergantung dengan bebasnya hanya beberapa jengkal di atas kepala kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-E1ZRm0DnRvQ/TiOoby_7TQI/AAAAAAAAAa0/ZGWDL_ruvgY/s1600/jemuran%2BCD%2523.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-E1ZRm0DnRvQ/TiOoby_7TQI/AAAAAAAAAa0/ZGWDL_ruvgY/s320/jemuran%2BCD%2523.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan ikut dalam rombongan kami, segambreng keponakan laki-laki ABG yang bandel-bandel dan norak-norak. Nah mereka inilah yang membuat ulah selama kami diharuskan menunggu itu. Dengan iseng dan jailnya, mereka membaca satu persatu merek-merek baju dalaman yang ada di atas kepala mereka. Dari barisan belakang terdengar “MONALISA ! “ , lalu disahut oleh seseorang di depannya “ SWAN !”, lalu .. “Crocodile ! “, “SONY !”, “ CEMPAKA …!”,  “GT-Man”, “Poison Lady ..!”, “HINGS…!”,  begitu seterusnya nama-nama merek celana dalam dan bra di baca keras-keras diiringi cekikikan anak-anak bandel itu. Kami yang dewasa, tak kuasa menegurnya, karena percuma saja,teguran kami hanya dianggap angin lalu. Akhirnya kamipun terbawa cekikikan berjamaah menyaksikan aksi kocak anak-anak abege itu. Untung saja kekisruhan itu tidak sampai mengganggu jalannya upacara adat, he he ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi teman-teman yang tinggal di apartemen atau condominium atau hunian mewah sejenisnya, mungkin tak akan pernah menyaksikan berseliwerannya tali jemuran yang kadang direntang sangat rendah dekat dengan kepala para pejalan kaki. Berbeda dengan kami yang tinggal di kompleks perumahan BTN yang biasa saja, atau yang tinggal di gang-gang di kota-kota besar yang padat penduduknya. Setiap hari kami terpaksa harus menyaksikan barisan jemuran yang merentang dari Sabang sampai Merauke sambung menyambung seolah tak ada putusnya. Sangat mengganggu pemandangan dan pengendara motor ! Saya pernah menyaksikan seorang bapak pengendara motor, harus menghentikan motornya, gara-gara ada bra yang nyangkut di bagian depan helm nya. Kebayang kan betapa risih dan jengahnya si Bapak yang malang itu, harus berkutat dengan bra entah milik perempuan mana, dan masih harus menggantungnya kembali ke tali jemuran ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan yang sempit di kota-kota besar, memang membuat para ibu harus berfikir keras mencari akal bagaimana caranya agar cuciannya dapat kering terjemur. Karena tak punya lahan untuk menjemur, ya apa boleh buat, dinding sepanjang gang lah yang menjadi sasaran area penjemuran, atau kalau tidak ya mengambil space gang untuk menaruh rak jemurannya, yang tentu saja dapat mengganggu para pengguna gang. Juga menjadi pemandangan yang sangat biasa, pagar-pagar rumah di sepanjang gang bahkan rumah-rumah yang berlokasi di pinggir jalan besar, dihiasi dengan sederet jemuran yang sangat mengganggu pemandangan, tak peduli rumahnya jelek atau bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-3G6LcjQvUsU/TiOotulK0uI/AAAAAAAAAa8/OaI5zGJ3XYw/s1600/z.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="315" src="http://2.bp.blogspot.com/-3G6LcjQvUsU/TiOotulK0uI/AAAAAAAAAa8/OaI5zGJ3XYw/s320/z.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Menjemur pakaian, tentu saja adalah hak asasi manusia. Baju basah habis dicuci kalau nggak dijemur,trus gimana dong ya nggak ? masalahnya, pantas atau tidak cara menjemurnya. Etis atau tidak jika baju dalaman yang merupakan benda pribadi, direntang diekspos sedemikian rupa di ruang publik. Kalau dalaman itu masih baru, masih bagus, mungkin agak mendinglah. Tapi ini, kadang-kadang bentuknya sudah nggak keruan, sudah bolong disana sini, dan sudah keriting juga, sampai geli ngeliatnya!  Nggak semua orang yang melihat dalaman perempuan itu, bersih dan sehat lho jiwanya ! ada juga orang berpenyakit jiwa yang mendapat kepuasan seksual hanya dengan memandang  celana dalam wanita, bukan ? bagaimana, mau celana dalam anda menjadi media pemuas nafsu syahwat laki-laki yang kurang waras gara-gara anda sembarangan dan sembrono menjemurnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-msMP29vrRPY/TiOo5AflewI/AAAAAAAAAbE/-Hem8sQNoQ0/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="239" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-msMP29vrRPY/TiOo5AflewI/AAAAAAAAAbE/-Hem8sQNoQ0/s320/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa menyarankan, jika terpaksa menjemur pakaian di luar rumah, atau lebih parah lagi di ruang publik, maka jemurlah pakaian dalam anda di deretan terdalam dekat dengan dinding, terlindung oleh pakaian di rentang tali jajaran kedua, atau di sela-sela pakaian yang besar, agar tidak menarik perhatian para pengguna jalan. Begitu juga dengan menjemur di pagar rumah, sebaiknya pakaian dalam tidak dipampang bebas di tiang pagar, karena nggak enak dilihat orang. Sementara saran saya buat pemerintah, terus terang tidak ada karena percuma saja.   Jangankan soal remeh temeh seumpama jemuran, soal yang besar-besar saja tidak selesai kok ! nambah-nambah masalah saja. Jadi mari kita urus saja jemuran kita sendiri-sendiri, agar tidak malu dilihat orang, dan tidak pula menjadi sasaran kejahatan si panjang tangan alias maling jemuran !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencuci dan menjemur dengan tertib !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anni - Sukabumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-7026992952293738229?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/7026992952293738229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/07/ups-ada-bh-nemplok-di-helm.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/7026992952293738229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/7026992952293738229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/07/ups-ada-bh-nemplok-di-helm.html' title='ups ...! ada BH NEMPLOK DI HELM !'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-lz-7-uGWCiE/TiOoOp5onEI/AAAAAAAAAas/_flo9zvO6Ds/s72-c/diambil-dari-lokasi-kejadian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-5409037607865467425</id><published>2011-07-17T20:23:00.000-07:00</published><updated>2011-07-17T20:23:23.722-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Tante Tan dikata-katain Cina ...!</title><content type='html'>Pagi baru saja beranjak siang di Sabtu yang cerah. Aku mendapati diriku berdiri  dalam antrian di toko kue Tante Tan. Kue buatan tante Tan memang istimewa. Lezat,lembut, enak dipandang, dan ini yang penting : murah meriah ! &lt;br /&gt;Setiap pagi toko ini tak pernah sepi pembeli.Kesiangan sedikit, pasti tak akan kebagian kue-kue yang masih hangat, harum, dan segar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-RPS1FaZmwDM/TiOmTAWIJVI/AAAAAAAAAac/qXhgMooNXfk/s1600/karuweh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="284" src="http://2.bp.blogspot.com/-RPS1FaZmwDM/TiOmTAWIJVI/AAAAAAAAAac/qXhgMooNXfk/s320/karuweh.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sedang asyik-asyik mengantri begitu, tiba-tiba kudengar decit sura rem mobil yang berhenti mendadak di trotoar depan toko kue. Dari dalam mobil, turun seorang nyonya yang sekilas kulihat dari penampilannya saja pasti orang kaya. Mewah, glamor, wangi, mobilnya saja termasuk mobil mewah. Semua orang yang ada di toko menengok ke arah nyonya yang kurasa sudah berumur sekitar 50 tahunan itu. Lalu .. woow, tiba-tiba saja dia menyeruak antrian, dan menyerobot maju sampai berdiri di depan etalase. Oh Ow .. another uneducated rich people, aku berpikir begitu.&lt;br /&gt;Ada beberapa pengantri yang menegur dan menyatakan penolakannya, namun aku diam saja memilih bersabar (hitung-hitung melatih kesabaran kalau nanti harus ngantri di toilet maktab pada saat pergi haji, he he ..). Tapi nyonya mewah itu bergeming ! dia pasang muka tembok, alias cuek bebek budeg alay !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sodara-sodara, mari kita lihat gayanya !  dia memerintah tante Tan dan pelayan lainnya untuk segera membungkus kue-kue pesanannya. Dia pesan kue banyak sekali, setiap macam ada kali 30 biji, entahlah mungkin buat nyuguhin arisan ibu-ibu Spa Lover !. Dan selalu di setiap pesanannya, tak lupa dia  membubuhkan kalimat " Cepetan, Nggak pake lama !! " , jiaaahh si Boss gaya banget ! seolah dunia milik mbah kakungnya ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan adegan itu, para pengantri yang kini berubah posisi menjadi para penonton alias pemirsa, ada yang geleng kepala, ada yang bermimik masam, ada juga yang tertawa ditahan (nah yang ini termasuk saya ).&lt;br /&gt;Pemandangan itu termasuk pemandangan lucu ku kira, karena serasa mendapat tontonan gratis akting nyonya jutek di sinetron-sinetron televisi. Tapi, ketika saya disuguhi adegan berikut ini, saya sudah tidak dapat berdiam diri lagi .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadiannya seperti ini : ketika si nyonya itu terus menerus menyebutkan pesanannya dengan suara keras agak membentak dan harus dilayani secepat kilat, Tante Tan berkata, " iya bu, sabar sebentar yaa .. " . Kukira wajar bukan, Tante Tan ngomong kaya gitu ? karena kalau saya jadi Tante Tan, saya juga pasti bakal berkata  seperti itu. Dan reaksinya sungguh di luar dugaan ! Nyonya sombong itu sontak mengacungkan telunjuknya yang runcing berkuku tajam ke hidung Tante Tan, sambil menghardik , " Heh ! dasar CINA kamu ! kamu kan cuma numpang di Indonesia ! negara ini milik orang Indonesia, bukan CINA macam kamu !! "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-T-C90QPjUCI/TiOmmLfYHkI/AAAAAAAAAak/BZeAB6jBlRY/s1600/cartoon-clip-art-scolding-old-woman.gif" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="288" src="http://2.bp.blogspot.com/-T-C90QPjUCI/TiOmmLfYHkI/AAAAAAAAAak/BZeAB6jBlRY/s320/cartoon-clip-art-scolding-old-woman.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah ! benar-benar keterlaluan ! kulihat wajah Tante Tan yang malang itu mendadak pucat pasi, dan bibirnya bergetar tak sanggup berbicara sepatah katapun. Dia cuma bisa berbisik lirih, "  iya maaf bu ! "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bukan Puji Nurani yang terkenal jutek (biarpun juteknya dulu waktu masih kecil, hehehh ..) kalau tidak bertindak. Tanpa berpikir panjang, aku langsung maju, dan mendekati nyonya itu,sambil berucap tegas, " Bu ! saya tidak peduli siapa ibu!  tapi kelakuan ibu sangat tidak sopan ! seenaknya saja nyerobot antrian, berteriak-teriak, terus menghina lagi ! memangnya saya takut sama ibu ??!! . Sekarang cepat bayar kue itu, dan selesaikan urusan ibu, bukan cuma ibu yang mau beli kue !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar hardikanku, si ibu itu terbelalak namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.  Buru-buru dia membayar pesanannya  lalu  kabur dari toko itu diiringi teriakan mengejek dari  ibu-ibu yang mengantri. Sesaat kemudian toko kue itu ramai oleh gumaman ibu-ibu pengantri tentang kelakuan menyebalkan si nyonya kaya, dan sebagian lagi menghibur Tante Tan yang tertunduk lesu.  Kasihan banget Tante Tan, nggak ada hujan nggak ada angin, tau-tau dikata-katain cina ! Padahal beliau sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali ada di Indonesia, tepatnya di Sukabumi. karena sejak jaman nenek moyangnya sudah tinggal di sini, dan dia sudah merasa jadi  orang Sunda.Sambil meneteskan air mata dan melayani pesanan pembeli, dia mengatakan bahwa dia tidak pernah merasa sebagai orang keturunan Cina, kalau saja namanya bukan Tan, dan kulitnya tidak berwarna kuning dan matanya tidak sipit. Dia merasa asli orang Sukabumi !  saya percaya saja, karena Tante Tan ini kalau berbicara dalam bahasa Sunda, bahasanya sungguh halus, melebihi  teman-temanku yang asli Sunda !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini baru pertama kali ini saya alami, dan cukup membekas di hati saya. Entahlah, apa yang mendorong saya tiba-tiba bertindak seperti itu. Serasa ada ketidak adlilan di depan mata saya, yang saya harus melawannya. Bukan semata-mata karena Tante Tan yang baik hati itu adalah tukang kue langgananku, tapi lebih dari itu, ada peristiwa rasisme yang sangat kubenci, berlangsung di depan mataku, dan kurasa sungguh terlalu jika dibirkan saja. Selama ini memang sering kudengar berita-berita tentang rasialisme, atau perlakuan diskriminatif terhadap golongan tertentu, namun itu sebatas kulihat di TV, membaca di koran, dsb, jadi belum pernah kulihat secara langsung seperti ini. Coba deh, kalau teman-teman yang mengalami kejadian ini, saya berani bertaruh, teman-teman juga pasti bakal marah. Buktinya, semua ibu-ibu yang ada di toko itu, marah sama nyonya rasialis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa, bukan salah Tante Tan kalau dia dilahirkan dari keluarga keturunan Cina, dia kan nggak bisa milih ingin dilahirkan di keluarga mana, sebagaimana halnya saya yang tak memilih ketika di lahirkan di keluarga Jawa, anda di keluarga Sunda, Batak, Minang, dari keluarga Muslim, Nasrani, Hindu, dan sebagainya. Allah yang menentukan  semua itu  bagi kita. Lalu, apa hak kita untuk menghina latar belakang keluarga seseorang, hanya karena dia berbeda dari kita ? Berasal dari keluarga apapun, menurut saya itu bukan persoalan kita. Yang jadi persoalan justru adalah, mengapa di jaman yang serba moderen begini, di era yang serba demokratis dan egaliter begini, masih saja ada orang yang punya alam pikiran rasist, seperti penghuni abad pertengahan saja ?  Namun saya pikir, saya tahu jawabannya : pasti karena dia  nggak ngerti agama, dan nggak makan sekolahan ! cape dee .. !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Say NO to RACISM  !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anni, Sukabumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-5409037607865467425?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/5409037607865467425/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/07/tante-tan-dikata-katain-cina.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5409037607865467425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5409037607865467425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/07/tante-tan-dikata-katain-cina.html' title='Tante Tan dikata-katain Cina ...!'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-RPS1FaZmwDM/TiOmTAWIJVI/AAAAAAAAAac/qXhgMooNXfk/s72-c/karuweh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-6536641199235212096</id><published>2011-06-06T19:37:00.000-07:00</published><updated>2011-06-06T19:40:12.274-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>I SEE YOUR TRUE COLORS SHINING THROUGH</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;strong&gt;" Catatan tentang Perempuan dan Kecantikannya "&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-xTFcrjJZwM0/Te2MltodfQI/AAAAAAAAAaQ/Yp5yCFlJ3Rk/s1600/cartoon-pic-black-girl2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-xTFcrjJZwM0/Te2MltodfQI/AAAAAAAAAaQ/Yp5yCFlJ3Rk/s320/cartoon-pic-black-girl2.jpg" width="273" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Teman-teman, simak deh satu bait lagu ini : …. “And I'll see your  true colors shining through , I see your true colors and that's why I  love you ,so don't be afraid to let them show Your true colors, true  colors are beautiful, like a rainbow …. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang masih  &amp;nbsp;ingat lagu itu ? ya, tentu saja itu adalah lagu yang berjudul “ True  Colors “, yang popular di era 80-an. Entah berapa kali sudah lagu yang  ditulis oleh Billy Steinberg dan Tom Kelly ini dirilis ulang dan  dibawakan dengan versi yang berbeda-beda, namun versi yang menarik  menurut saya tetap versi aslinya yang dibawakan oleh penyanyi senior  Cindy Lauper, meski versi Phil Collins juga sangat memikat. Ada yang  menarik menurut saya, mengenai lagu ini. Tidak sekedar diciptakan dengan  nada-nada yang impresif, berkesan klasik karena cocok dinyanyikan  hingga jaman sekarang, lagu ini&amp;nbsp; juga disajikan dengan lirik yang  sederhana dan sarat makna. Menurut penulisnya, lagu True Colors ini  berkisah tentang Mama nya yang entah mengapa tidak berbahagia dalam  kehidupan rumah tangganya, dan selalu berupaya menutupi kesedihannya itu  dengan make up yang tebal. Mama nya ini merasa tertekan dengan  lingkungan pergaulan yang berat, serba hedonis yang kurang menghargai  keunikan individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini tercatat pernah menjadi&amp;nbsp; theme  song dalam beberapa event bertema kemanusiaan dalam skala  internasional. Sebut saja yang terbesar adalah event kampanye Hak Asasi  Manusia oleh PBB tahun 2007. Liriknya memang bersemangat anti  diskriminasi : diskriminasi gender, ras, budaya, bahkan diskriminasi  orientasi seksual. Tak mengherankan jika lagu ini pada akhirnya dapat  menjadi multitafsir, diinterpretasikan dengan sudut pandang yang  beragam, tergantung komunitas atau kaum apa yang ingin memaknainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  saya membuka-buka situs Youtube, saya sangat tertarik dengan sebuah  iklan sabun kecantikan yang cukup terkenal, menggunakan lagu ini sebagai  theme song atau jingle iklannya. Visualisasi iklan yang berdurasi tak  lebih dari dua menit itupun sangat menyentuh hati. Menggambarkan  beberapa gadis dari beragam ras dan warna kulit, yang selalu merasa  resah, gelisah dan tak berbahagia dengan penampilannya. Anak-anak gadis  ini seolah terobsesi dengan penampilan gadis-gadis impian yang mereka  lihat saban hari berseliweran di televisi : Kurus, tinggi, putih, rambut  lurus, pirang atau hitam mengkilat, mata biru, langkah melayang , dan  senyum yang menggoda. Betapa lekatnya gambaran itu di benak jutaan gadis  muda di seluruh dunia. Jika penampilan mereka tak seperti itu, atau  kurang satu saja dari syarat &amp;nbsp;&amp;nbsp; “ gadis cantik dan sempurna ” seperti  yang selalu dicitrakan oleh produk iklan kecantikan, maka mereka merasa  langit di atas kepala mereka akan runtuh dan hidup akan segera berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://0.gvt0.com/vi/gUsKIApTewQ/0.jpg"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/gUsKIApTewQ&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266" src="http://www.youtube.com/v/gUsKIApTewQ&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Seolah  tak ada tempat di dunia ini bagi gadis yang bertubuh tak terlampau  tinggi, berbodi montok, berambut ikal keriting, berkulit hitam atau  cokelat, atau berotot, dan bergigi gingsul. Seolah tak bakal ada pemuda  yang melirik mereka yang berwajah bulat alih alih oval, berhidung datar  alih-alih bangir, bermata sipit tak secemerlang sepasang mata milik  &amp;nbsp;Kajol Devgan, berdahi sempit nggak nonong &amp;nbsp;seksi seperti jidatnya  Angelina Jolie, atau tak berwajah sejelita&amp;nbsp; Emma Watson sang pemeran&amp;nbsp;  Hermione Granger. Sungguh&amp;nbsp; sayang sekali ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis-gadis  muda di seluruh dunia dengan mudah mempercayai begitu saja segala  standar kecantikan yang dijejal paksakan oleh berbagai merek kosmetik,  mulai dari produk-produk perawatan kulit, sabun, shampoo, aneka make up  wajah, bahkan produk pelangsing, penurun selera makan, parfum,dan masih  banyak lagi. Semua iklan itu menampilkan gadis-gadis muda dengan  penampilan nyaris seragam, kurus tinggi langsing berwajah molek elok bak  boneka Barbie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dalam kenyataannya, berapa banyak  gadis yang bernampilan serba cling seperti itu ? sebut nama daerah atau  nama negara apapun yang ada di dunia ini, lebih banyak perempuan yang  diciptakan dengan tubuh, rambut dan wajah yang biasa-biasa saja, yang  kecantikannya sedang-sedang saja, bahkan lebih banyak lagi yang  dikaruniai bentuk fisik unik (untuk tidak menyebut buruk rupa), belum  lagi jika harus menyebut berapa juta di dunia ini perempuan yang  dikarunia keterbatasan fisik, yang membuat mereka harus terus berada di  kursi roda, dan semacamnya ? apakah dengan segala keadaan ini lantas  perempuan-perempuan itu tidak berhak menyandang gelar “cantik”,  “menarik”, atau “menawan” ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sudah artikel yang  ditulis oleh para pakar kecantikan , yang menyebutkan bahwa standar  kecantikan di dunia ini sesungguhnya tidak ada yang baku, betapa  kecantikan yang sejati justru tak nampak dari &amp;nbsp;luar, dari kulit yang  putih mulus, rambut lurus yang berkibar, atau bodi yang seperti manekin  yang dipajang di mall-mall.&lt;br /&gt;Semua pendapat para ahli itu memang  banyak benarnya. Tak dapat dipungkiri, kecantikan yang mudah terlihat  adalah kecantikan lahiriyah, dan perempuan yang dikarunia keindahan  ragawi ini sangat patut bersyukur.&lt;br /&gt;Namun sama sekali tak beralasan  jika seorang perempuan yang berpenampilan biasa-biasa saja lantas  merasa berkecil hati, karena merasa kehilangan kesempatan untuk tampil  menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus menyebut beberapa nama sebagai  ilustrasi, bahwa sangat banyak perempuan yang sanggup menarik perhatian  dunia, dikagumi banyak pria, bahkan diidolakan pula oleh kaum wanita,  bukan karena kecantikan fisiknya, namun karena kekuatan kecantikan yang  memancar dari dalam pribadinya. Sebagai contoh adalah Michelle Obama.  Tentu semua orang sepakat bahwa kecantikan luar biasa dari first Lady  Amerika Serikat ini bukan terletak pada kecantikan wajah atau keindahan  rambutnya, namun pada kecerdasan otaknya, pada kesantunan sikapnya,  keanggunan tingkah lakunya, pada senyumannya yang tulus, ketegasan gaya  bicaranya, bahkan pada peranannya sebagai ibu dan istri yang sukses.  Melihat sosok Michelle Obama, orang langsung terpikat, tertegun, bahkan  menteri Tifatul Sembiring pun tak dapat menahan diri untuk tidak  berjabat tangan langsung dengannya. Semua orang seolah melupakan  wajahnya yang jujur tidak bisa dibilang cantik, rambut yang kaku, dan  badan yang tinggi besar. Semua kekurangan jasmaniah itu hilang tertelan  pesona inner beauty yang memancar, bersinar begitu mengagumkan, dan  membuat semua kekurangan fisik menjadi tak ada artinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu  baru Michelle seorang, masih banyak lagi perempuan atau gadis seperti  ini yang menawan hati dunia, justru karena pesona kecantikan yang  memancar dari dalam, sebutlah misalnya &amp;nbsp;Hillary Clinton, Aung San Syu  Kyi, mendiang Mother Theresa, Oprah Winfrey, mendiang Benazir Bhutto,  Corry Aquino, Margaret Tatcher, atau Sri Mulyani Indrawati yang kini  menjabat sebgai direktur World Bank, dan masih banyak nama lainnya. Tapi  kelihatannya saya harus meminta maaf, jika anda tidak sependapat dengan  saya tentang nama-nama itu, karena penilaian orang memang berbeda-beda.&lt;br /&gt;Namun  satu hal yang saya rasa semua orang sepakat, bahwa seseorang bisa  tampil dengan kepribadian yang begitu mempesona, mengatasi pesona  fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ysWDY5Uns34/Te2MyuESwjI/AAAAAAAAAaU/q98Rio3oWpU/s1600/ladies.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-ysWDY5Uns34/Te2MyuESwjI/AAAAAAAAAaU/q98Rio3oWpU/s1600/ladies.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Betapa pentingnya orang tua dan para pendidik menanamkan pengertian  kepada anak-anak gadisnya, bahwa keindahan fisik bukanlah harga mati  bagi sebuah keberhasilan dan kebahagiaan. Yang terpenting adalah  bagaimana seseorang menerima dirinya sebagaimana apa adanya, berdamai  dengan kekurangan-kekurangan &amp;nbsp;itu, lalu menutup kekurangan fisik itu  dengan akhlak yang mulia, budi pekerti yang baik, dengan senyum yang  ramah, dan dengan tegur sapa yang santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan  perempuan sungguh tak layak distandarisasikan, apa lagi ditentukan oleh  para pengiklan produk kosmetik yang jelas-jelas hanya menginginkan  keuntungan dari impian perempuan. Standar kecantikan sangat bergantung  pada selera manusia, pada nilai-nilai yang dianut oleh suatu bangsa,  pada pemahaman suatu bangsa terhadap kecantikan itu sendiri, pada  kearifan lokal suatu masyarakat, dan sebagainya. Percayalah, gadis-gadis  yang ramping menawan yang berlenggok memperagakan produk Givenchy, tak  akan mendapat tempat di hati pria bangsa Maori yang memandang bahwa  kecantikan perempuan terletak pada kegendutan tubuhnya. Bibir tipis  menggoda milik para bintang film, tak kan cukup memenuhi selera  laki-laki Nigeria yang mensyaratkan bibir tebal menyonyor sedikit maju  bagi kecantikan perempuan. Dan pria –pria di seantero Amerika Serikat  dan Eropa, justru tergila-gila pada perempuan yang berwarna kulit coklat  mengilap, alih-alih putih pucat seperti lobak ! Jadi, mengapa mesti tak  percaya diri ? Allah tak pernah salah dalam menciptakan perempuan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;anni - Sukabumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-6536641199235212096?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/6536641199235212096/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/06/i-see-your-true-colors-shining-through.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6536641199235212096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6536641199235212096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/06/i-see-your-true-colors-shining-through.html' title='I SEE YOUR TRUE COLORS SHINING THROUGH'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-xTFcrjJZwM0/Te2MltodfQI/AAAAAAAAAaQ/Yp5yCFlJ3Rk/s72-c/cartoon-pic-black-girl2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-7906984196553173145</id><published>2011-06-06T19:20:00.000-07:00</published><updated>2011-06-06T19:20:59.992-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>PAMAN TAK LAGI TINGGAL DI DESA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-SRsek88SvMA/Te2KJktwb1I/AAAAAAAAAaE/0hv6NT0EJBA/s1600/p.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="241" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-SRsek88SvMA/Te2KJktwb1I/AAAAAAAAAaE/0hv6NT0EJBA/s320/p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;" Kemarin Paman datang. Pamanku dari desa. Dibawakannya rambutan pisang dan sayur mayur segala rupa. Bercerita Paman tentang ternaknya, berkembang biak semua... ". Itulah sebait  lagu "Paman Datang" ciptaan Pak AT Mahmud, sebuah lagu humanis yang masih kuingat hingga kini. Lagu yang diajarkan ibuku dulu sekali ketika aku masih kecil. Lagu yang bercerita tentang kegembiraan karena datangnya sanak keluarga dari desa, seorang petani yang sangat rajin dan sayang pada keponakannya di kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku bisa saja mengajarkan lagu itu kepada anak-anakku, namun aku harus siap menjawab segala pertanyaan anakku, karena isi lagu itu tak sesuai dengan fakta dan realita yang mereka lihat.Paman tak lagi tinggal di desa. Jika datang berkunjung, bukan buah-buahan atau hasil kebun yang dibawa, bukan ternak yang berkembang biak yang diceritakannya, namun beberapa keping CD game, beberapa komik Jepang, dan kisah tentang aktifitasnya sebagai pengurus BEM di kampusnya nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa dekade lalu penduduk desa berduyun-duyun pindah ke kota. Kota seperti magnet yang menarik mereka sangat kuat, hingga sawah di kampung halaman tak lagi digarap, irigasi tak lagi asyik untuk menggembala itik, kebun tak lagi ditanami buah, sayur, dan bunga. Desa kian sunyi ditinggalkan anak-anak mudanya. Mereka yang tadinya diharapkan membangun dan memajukan desa, malah silau oleh gemerlap lampu kota. Alih-alih memajukan perekonomian desa, mereka malah menyesaki kota,  berjejalan di mana-mana. Hanya sedikit dari mereka yang dapat meraih mimpi hidup serba enak. Namun sebagian besar menjadi penduduk kota yang miskin dan terpinggirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak semua anak muda desa pergi ke kota tentu. Ada banyak sebab yang membuat mereka masih bertahan tinggal di desa. Namun demikian, mereka hidup serba gelisah dan gamang. Pengaruh kisah sukses teman-teman di kota, menempel kuat di benak mereka, masuk ke alam bawah sadar, dan mempengaruhi pola pikir dan perilaku mereka.  Tak usah heran jika kita melihat anak-anak gadis tanggung di desa terpencil di kaki gunung, berpenampilan bak gadis dari Bandung. Bercelana jins ketat model pensil, T Shirt  yang dibuat menempel di bagian dada, rambut di rebonding dengan cat warna – warni. Dan tak lupa menggenggam ponsel kemanapun mereka pergi. Lalu para pemudanya ?  ya tentu saja mereka berpenampilan setali tiga uang, berdandan bak penyanyi Andika dari Kangen band yang sangat digemari di desa. Anak-anak muda ini hidup serba malas, konsumtif, dan banyak gengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat-sangat sulit mengharapkan anak-anak muda dengan gaya dan pola pikir seperti itu, sudi menanam padi di sawah, menggembala kerbau, menanam wortel dan sawi di kebun. Gengsi dong, penampilan begini keren kok harus belepotan lumpur ? apa kata duniaaa …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Membajak sawah, menanam ketela, memberi makan ternak, biarlah emak dan bapak saja yang mengerjakannya. Mana sempat aku mengerjakannya, menjawab komen di pesbuk saja sudah seharian, belum menjawab es em es dari teman-teman! Jadi yah sori sori sori Jek, kerjaan di sawah mah gak lepel ”, begitu mungkin mereka akan menjawab, jika ditanya mengapa tidak turut bekerja di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kebetulan aku  bepergian ke luar kota , maka pemandangan yang paling sering membuatku nelangsa dan hanya bisa diam seribu bahasa adalah pemandangan hamparan sawah yang kian waktu kian terdesak oleh jajaran pabrik dan perumaha penduduk, yang tak segan-segan didirikan di tengah-tengah areal pesawahan. Sejatinya ini adalah hamparan tanaman padi yang menghasilkan bulir beras wangi yang pulen. Beras Cianjur yang kelezatannya sudah termasyhur hingga ke manca negara. Dengan kian sempitnya lahan pesawahan, jangan lagi mengharapkan harga beras Pandan Wangi atau beras Cianjur dapat murah dan terjangkau. Tak hanya itu buah-buahan lokal pun semakin sulit ditemui di pasar-pasar tradisional, apalagi di swalayan. Jika pun ada, harganya dua kali lipat harga buah impor, begitupula halnya dengan sayuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang aku bukan dilahirkan dari keluarga petani yang memiliki lahan sendiri untuk diolah. Akupun sama sekali tak memiliki pengetahuan yang memadai tentang pertanian. Kalaupun aku punya hobi menanam, paling banter aku menanam kembang di dalam pot, atau menanam tomat, cabai, yang aku rawat sekedarnya. Namun tanpa harus menjadi insinyur pertanianpun, kurasa kekurangan tenaga dan kekurangan sumber daya manusia adalah salah satu faktor penyebab pertanian kita tak semaju Negara tetangga. Aku pernah menyaksikan, betapa ibu penyuluh pertanian sampai serak memberikan penjelasan kepada para petani, tentang teknik menanam sayuran tertentu di lahan yang tak begitu luas. Namun aku hanya melihat tatapan kosong para petani. Mungkin yang ada di benak mereka adalah, dari mana harus mendapat uang untuk memperoleh pupuk yang harganya kian melangit ? dari mana harus mendapat pinjaman untuk membayar hutang sisa pembelian bibit padi di musim tanam yang lalu, dsb. Mengolah lahan pertanian sudah bukan pekerjaan yang murah meriah lagi sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal di lingkungan yang bersebelahan dengan desa. Namun tak ada suasana desa yang aku temui. Sungguh aku rindu suasana desa seperti yang diceritakan ibuku, semasa kecil dulu. Cerita tentang Paman yang mengirim ketela dan jagung hasil bumi, cerita tentang anak-anak berenang di parit irigasi, kisah tentang menggiring kerbau di senja hari, kisah tentang berburu udang di balik batu kali. ah .. semua itu tak kulihat lagi kini. Bagaimana dapat melihat para petani memanen padi, sawah sepetakpun tak nampak lagi. Para petani beralih profesi menjadi supir angkot dan pengojek motor. Para pemudi pun tak mau kalah, berbondong-bondong pergi ke TKW di negeri Saudi.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ha1GgYp_vL8/Te2KdnNV1JI/AAAAAAAAAaM/iWjWI5m1JzQ/s1600/r.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="215" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-ha1GgYp_vL8/Te2KdnNV1JI/AAAAAAAAAaM/iWjWI5m1JzQ/s320/r.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Semoga tak tinggal menghitung hari, desa-desa di Indonesia hanya tinggal kenangan yang terlukis di buku –buku  dongeng anak-anak. Negara yang maju, Negara yang kuat, adalah negara yang tak hanya berkonsentrasi pada pembangunan di kota-kota besar, sementara tempat-tempat yang terpencil dibiarkan tetap terbelakang dan terbengkalai. Di Negara-negara maju, jalan-jalan ke pedesaan merupakan salah satu objek wisata yang sangat menarik. Namun di negeri kita, jalan-jalan ke desa hanya akan membawa oleh-oleh hati yang masygul, benak yang dipenuhi pertanyaan dan penyesalan, akankah desaku hilang ditelan waktu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang, anni - Sukabumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-UYjqJHWW3Kw/Te2J7PyTayI/AAAAAAAAAZ8/nAB5rTB1FI4/s1600/227466_2043208844384_1369245979_32308762_7949399_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="161" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-UYjqJHWW3Kw/Te2J7PyTayI/AAAAAAAAAZ8/nAB5rTB1FI4/s320/227466_2043208844384_1369245979_32308762_7949399_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-7906984196553173145?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/7906984196553173145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/06/paman-tak-lagi-tinggal-di-desa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/7906984196553173145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/7906984196553173145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/06/paman-tak-lagi-tinggal-di-desa.html' title='PAMAN TAK LAGI TINGGAL DI DESA'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-SRsek88SvMA/Te2KJktwb1I/AAAAAAAAAaE/0hv6NT0EJBA/s72-c/p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-6469672289115206539</id><published>2011-04-21T04:11:00.000-07:00</published><updated>2011-04-21T04:16:16.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengalaman jadul'/><title type='text'>Dulu Aku Kartini Cilik yang Perkasa ( Meski Menderita )</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-sjb49E6OsgY/TbARefzd7fI/AAAAAAAAAZw/yORD9vPHUGI/s1600/kartini.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 263px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-sjb49E6OsgY/TbARefzd7fI/AAAAAAAAAZw/yORD9vPHUGI/s320/kartini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597993552452644338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1975,1977,1978. Wah, sudah lama sekali deretan tahun-tahun itu berlalu dari kehidupan kita ya ? Dimana anda di tahun-tahun itu ? Kelas berapa ? Sudah kuliah ? SMA, SMP, SD ? Atau malah justru ada yg belum hadir ke dunia ? Aku sudah dilahirkan ke dunia ketika itu, malah sudah bersekolah di SD. Aku masih ingat betul, dulu setiap kali tiba hari Kartini, Ibu guru selalu meminta kami anak-anak perempuan agar datang ke sekolah dengan mengenakan kain dan kebaya serta rambut di sanggul, menyerupai dandanan ibu Kartini. Hal ini sudah menjadi tradisi saban tahun. Namun tak setiap tahun aku mematuhinya. Aku lebih sering mengenakan seragam sekolah biasa, dan hanya 3 kali itu saja aku mengenakan busana tradisional Jawa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ingatanku melayang ke masa-masa 30 tahun lebih itu. Pagi -pagi buta ibu ribut membangunkanku, dan menyuruhku agar segera bersiap-siap berpenampilan ala Kartini cilik. Dan tak lama kemudian, ibu sudah sibuk mendandani gadis ciliknya, sambil mulutnya tak henti-hentinya mengomeli aku, karena aku tak bisa duduk diam, sehingga riasanku jadi cemong tak keruan. Sewaktu kecil aku cukup berkelakuan seperti anak laki-laki. Lebih sering mengenakan kaos dan celana pendek. Berlari-lari dengan sandal jepit, memanjat pohon ceremai, main layang-layang atau sesekali main ketapel. Pernah juga aku mencoba menembak burung dengan senapan angin milik Bapak. Dan seingatku pernah juga sekali-kalinya aku terlibat perkelahian dengan anak laki-laki bengal yang sering mengganggu aku dan teman-temanku anak-anak kompleks PJKA jalan Garuda Bandung (aku tendang keras-keras kaki bandit cilik itu. Lalu ketika dia berteriak dan menangis menjerit-jerit, akupun balas menangis keras-keras karena takut dimarahi ). Kelakuanku yang agak macho dan galak itu mungkin karena pengaruh kakak-kakak dan adik-adikku yang semuanya laki-laki. Sebetulnya aku punya satu kakak perempuan, tapi anehnya dia feminin banget. Kok bisa ya, dia nggak terpengaruh lingkungan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kerepotan ibu mendandaniku.Sumpah aku sebel banget kalau didandani seperti itu. Lha wong pakai rok saja males, apalagi pakai kain kebaya, ribet banget dah ! Namun bagian yang paling membuatku sebal adalah ketika ibu menyasak rambutku, menarik-narik dan menyambung rambutku dengan rambut palsu bodoh yg disebut cemara. Lalu rambutku dipuntir, dibentuk sanggul ceplok yang menurutku jelek banget (seperti orang kena tumor di kepala bagian belakang !). Setelah menyemprotkan cairan hairspray yang bau wanginya bikin puyeng, selesailah sudah riasan sanggul ku yg tegak, keras, dan membuatku sulit menggerakkan leher saking kakunya. Tapi rupanya penyiksaan ini belum akan berakhir. Kan wajahku belum dirias. Biasanya di bagian inilah, ibu sering sewot, karena wajahku sering menoleh-noleh tak bisa diam. Whew ! apa enaknya muka dipoles dengan bermacam-macam krim kental, dan dicat warna-warni seperti penari merak yang sering aku lihat di panggung 17 Agustusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak lama juga ibu mendandaniku. Terakhir ibu memasangkan selendang yang warnanya senada dengan kebaya, yang dilipat serta diseterika sempit memanjang. Begini caranya memakaikannya : pasang selendang melingkar dari pinggang kiri, menyusur punggung dengan arah serong kanan, mampir di bahu kanan, memotong dada dengan garis diagonal, lalu berakhir lagi di pinggang kiri. Setelah itu simpulkan kedua ujung selendang itu. Gampang kan ? Jangan lupa menyematkan bros berbentuk bunga di dada. Dan … taraaa …!! selesai sudah ibu mendandaniku. Dari anak perempuan item tengil pecicilan, berubah menjadi putri Solo. Aku tersenyum-senyum sendiri, merasa aneh, kikuk, tapi bangga juga, karena ibu, bapak dan kakak laki-lakiku yang badung-bandung bilang aku cantik. Tapi itu kan sebelum aku diperbolehkan bercermin ! dan selalu, kejadian yang sama akan terulang begitu aku melihat diriku di depan kaca. Aku akan langsung melotot saking syok nya, ngambek, nangis, dan nggak mau pergi kesekolah ! Bayangkan ! Betapa malunya aku kalau harus pergi ke sekolah dengan penampilan seperti Titik Puspa begitu ! Nggak mau ! Pokoknya aku nggak mau sekolaaahhh ..!! Sampai bingung ibuku dibuatnya. Antara kasihan dan jengkel karena maha karyanya sama sekali tidak dihargai. Tapi cukup mudah rupanya membuatku berhenti menangis. Cukup dengan menyuapku dengan uang jajan yang lebih besar dari biasanya, dan pergi pulang diantar oleh kakakku dengan motor Lambretta nya, beres perkara !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Bapak pensiun dan kami harus pindah ke gang Holis, perjuangan Kartini cilik untuk pergi ke sekolah ini jauh lebih berat. Sepanjang gang yang kulalui, tak jarang aku harus melawan seorang diri gangguang anak-anak badung yang tak henti-henti menggodaku yang memang berpenampilan lain dari biasanya. Masih berkain kebaya lengkap dengan sanggul nemplok di kepala, sering aku harus menjulurkan panjang-panjang lidahku untuk membalas ledekan anak-anak nakal itu, atau kalau perlu sesekali menangkis dan memukul keras-keras anak laki-laki yang iseng ingin menyentuh sanggulku. Tak jarang terpaksa aku harus menyingsingkan kainku tinggi-tinggi demi mengejar dan menonjok anak bandel yang berani bilang Ay lap yu padaku. Haahh ! Sebel banget !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ? Benar-benar Kartini cilik yang perkasa bukan ? Kalau dipikir sekarang, heran juga ya kok ketika itu ibu tidak mengantarku pergi ke sekolah, padahal jelas-jelas aku dalam keadaan berdandan ajaib seperti ini, dan sangat rentan gangguan. Mungkin karena anak ibuku segambreng ya, jadi beliau tidak sempat mengantarku, melainkan sibuk menyusui adik bayiku. Bisa dibayangkan, seperti apa rupa ibu Kartini cilik itu, sesampainya di sekolah. Keringetan, amburadul, wajah belepotan makeup. Yang segera terlintas di kepalaku saat itu tentu saja adalah jajan es ! Hemmh ..! Es lilin kelapa muda yang manis dingin, sangat segar membasuh leherku yang kerontang sehabis pertempuran di sepanjang gang Holis. Waduh, makin cemong deh wajahku. Lipstik yang merah menyala kini belepotan kemana-mana, bedak tebal di pipi sudah raib sejak tadi, blush on meleleh terbawa leleran keringat yang tak henti-henti mengalir di pipi dan dahi. Dengan penampilan yang seperti itu, belum pernah sekalipun aku memenangkan kontes kebaya Kartini. Di mataku, para pemenang kontes itu adalah para bidadari dari keluarga kaya raya, yang bebas dari sentuhan debu dan tiupan angin. Lama-lama kapok juga aku memakai kebaya beserta segala aksesorisnya itu. Cukup 3 kali itu saja, itupun tidak pernah sepenuhnya ikhlas, ditambah 2 kali lagi : satu kali saat wisuda, dan satu kali lagi saat menikah. Setelah itu, selesai, tidak ada lagi kebaya ! no way !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenanganku akan ribet dan perasaan tertekan ketika mengenakan kain kebaya begitu kuat hingga kini. Namun alhamdulillah, aku perhatikan busana kebaya sekarang semakin berdesain cantik dan lebih simple cara memakainya. Tak ada lagi lilitan stagen yang menyesakkan nafas, tidak ada lagi belitan kain batik panjang yang membuat langkah kaki jadi srimpet (Sunda : gejed). Kini masa itu sudah lama sekali berlalu dan aku sudah menjadi ibu dengan dua anak gadis sekarang. Kelakuan tomboy ku pun sudah menguap entah kemana semenjak aku menikah. Ketika dalam sebuah kesempatan tiba giliranku mendandani gadis remajaku dengan busana kebaya, alangkah berbedanya suasana yang aku rasakan. Aku melakukannya dengan senang hati, tanpa harus menarik urat leher, dan anak gadisku pun merelakan dirinya didandani dengan hati riang dan selalu tersenyum ceria. Antusias sekali Ufi - begitu nama gadisku ini - dalam mengenakan kebaya. Rupanya pengalaman baru selalu membuat anak yang baru berumur 15 tahun itu merasa bersemangat. Ketika kebayanya kupadukan dengan jilbab, pantas dan manis juga penampilannya :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ojQxGW-IgSg/TbARTk-MEnI/AAAAAAAAAZo/3SgDgX7GZxU/s1600/2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 157px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ojQxGW-IgSg/TbARTk-MEnI/AAAAAAAAAZo/3SgDgX7GZxU/s320/2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597993364861227634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku senang melihat perempuan berkebaya. Mereka terlihat begitu anggun dan ayu, sangat Indonesia. Tak pelak lagi, busana Kebaya memang indah dan mempesona. Ini adalah busana warisan leluhur yang khas berasal dari khasanah asli budaya bangsa kita, yang harus dilestarikan. Sangat disayangkan, kulihat sekolah-sekolah dari SD sampai SMA sudah sangat jarang meminta siswinya mengenakan busana kebaya di hari Kartini, sebagaimana jarangnya sekolah pada masa kini memperkenalkan budaya kita dalam bentuk apapun kepada siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan hari Kartini memang identik dengan kain kebaya, meskipun jujur sedikit sekali korelasinya. Meskipun begitu, katakanlah kita sudah tak kenal dan tak pandai lagi menghargai jasa ibu Kartini, karena Kartini jaman sekarang merasa jauh lebih hebat dari Ibu Kartini jadul, institusi pendidikan tetap wajib memperkenalkan busana kebaya dan pakaian adat daerah lain yang tak kalah indahnya kpd para siswanya. Untuk maksud itu, moment Kartinian kurasa masih cukup tepat. Menanamkan kecintaan terhadap hasil karya budaya bangsa harus dilakukan sejak dini, dengan cara dan moment yang tepat. Gadis-gadis generasi muda harus lebih sering diperkenalkan dengan busana kebaya dan busana tradisional lainnya. Kaum wanita Indonesia sendirilah yang terutama harus memelihara dan menjaganya. Sementara pemerintah wajib melindungi kepemilikan bangsa Indonesia atas kebaya dan busana tradisional dari daerah lain, semisal baju kurung, baju bodo, dll. Sebab jika tidak, negara jiran yang akan melakukannya. So, keep on wearing kebaya, Indonesian Ladies ! Selamat memperingati hari Kartini :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang, anni - Sukabumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-6469672289115206539?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/6469672289115206539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/04/dulu-aku-kartini-cilik-yang-perkasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6469672289115206539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6469672289115206539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/04/dulu-aku-kartini-cilik-yang-perkasa.html' title='Dulu Aku Kartini Cilik yang Perkasa ( Meski Menderita )'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-sjb49E6OsgY/TbARefzd7fI/AAAAAAAAAZw/yORD9vPHUGI/s72-c/kartini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-1015057364392371293</id><published>2011-04-21T04:05:00.000-07:00</published><updated>2011-04-21T04:15:33.126-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>ORANG  aL4yY dan MOBIL  MEWAHNYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-GhwU6no2XI0/TbAQXzi7PRI/AAAAAAAAAZg/zM8BTdxZ2QY/s1600/mobil.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-GhwU6no2XI0/TbAQXzi7PRI/AAAAAAAAAZg/zM8BTdxZ2QY/s320/mobil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597992337981259026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang negeri kita sedang terpuruk ? siapa bilang ekonomi kita sedang merosot ? mana datanya, mana buktinya. Bagi orang awam seperti aku ini, segala analisis ekonomi dari para pakar yang dilengkapi dengan data, grafik, diagram atau apapun namanya, sedikit sekali memiliki makna. Berapa gelintir sih pembaca surat kabar yang mau dengan tekun dan sabar meneliti semua angka-angka dan interpretasinya yang jlimet itu ? selain nggak paham, juga nggak ada waktu untuk meneliti semua akurasi data itu. Bagiku fakta di lapangan lebih penting, hal-hal yang gamblang tampak di depan mataku, jelas lebih dapat dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa sebenarnya yang ingin aku bicarakan ? itu lho, soal makin membludaknya jumlah mobil di jalan raya. Sejak pindah dari Bandung ke Sukabumi 10 tahun yang lalu, perasaan jaringan jalan raya dan jalan kabupaten yang ada di Sukabumi segitu-gitu aja deh. Nggak makin lebar, makin panjang atau makin banyak. Hanya sesekali kulihat ada perbaikan, penambalan badan jalan di sana-sini. Tapi soal jumlah mobil, kulihat peningkatannya tajam sekali. Meskipun aku belum pernah menghitung sendiri berapa persen peningkatannya, tapi kan dari kemacetan yang kian hari kian menjadi-jadi, itu sudah menjadi bukti bahwa jumlah mobil semakin meningkat, sementara jaringan jalan tidak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan kesangsianku tentang merosotnya perekonomian di Indonesia ? ya itu tadi, mana mungkin perekonomian mundur, jika semakin banyak orang sanggup membeli mobil pribadi? Itu artinya semakin banyak saja orang makmur di negeri ini, bukan ? Pernyataanku ini mungkin saja debatable, namun aku kan sudah menyatakan bahwa aku orang awam, jadi ya analisis nya pun simple dan pragmatis saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke lah kalau begitu. Terus kenapa kalau semakin banyak saja orang memiliki mobil pribadi di negeri kita? Nah justru disinilah letak permasalahannya. Kelihatannya peningkatan daya beli masyarakat terhadap barang mewah dalam hal ini mobil, kurang diiringi dengan peningkatan etika atau adab, atau akhlak atau apalah namanya dari orang yang bersangkutan, khususnya etika dalam menggunakan kendaraan roda empat tersebut di jalan raya. Banyak para pemilik mobil yang semau-maunya sendiri dalam mengendarai mobilnya, atau bertingkah tak tahu aturan dalam mempergunakan jalan raya yang notabene adalah fasilitas umum. Untuk membuktikannya, saya ingin menceritakan pengalaman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat ketika saya dan suami tengah mengantri dalam jebakan kemacetan di suatu perempatan di daerah Cisaat Sukabumi, tiba – tiba kulihat penumpang mobil yang berada pas di depan mobil kami, membuka kaca jendela mobilnya yang mewah (menurut ukuran saya mobil Toyota Alphard itu mewah, lho !). Dari kaca jendela yang menggeser terbuka itu, kulihat sebentuk tangan yang gemuk, putih mulus penuh dengan perhiasan gemerlap, dan dengan jemari runcing bercat kuku merah, terjulur keluar. Hmm .. . tangan yang cantik dan indah, yang yakin dimiliki oleh nyonya-nyonya kaya dan pesolek. Namun alangkah kagetnya aku, ketika tiba-tiba … wiiiingng … !!! dari tangan yang indah itu terlontar sekeresek sampah ke tengah jalan raya, melayang bebas di hadapan mata pengemudi mobil, motor, dan pejalan kaki yang terbelalak melihat kejadian itu. Betul-betul pemandangan yang tak kusangka harus aku saksikan. Kami sampai terkejut sekali, hah ! betul – betul tak tahu malu, norak, kampungan !! sampai speechless kami dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan , beraneka sampah yang menjijikkan berhamburan dari plastik kresek itu, berserakan dan mengotori jalan raya. Sehabis melakukan perbuatan bodoh itu, kaca jendela tertutup lagi, dan entah bagaimana reaksi nyonya kaya norak itu terhadap sumpah serapah dari orang-orang di jalan yang menyaksikan kejadian tersebut. Tapi kelihatannya dia cuek bebek aja tuh, Buktinya tak lama kemudian, masih di tengah kemacetan yang menggila, kaca jendela mobil mewah itu kembali terbuka, dan kini setiap detik kulihat tangan cantik itu terus menerus membuang kulit kacang ke jalanan. Ya Allah, ni orang bener-bener TOL** !! gak tau adat sama sekali. Kata suamiku, ya gitu deh kalau orang sekolahnya di bawah pohon ! ( nggak tau apa maksudnya ?! ). Dan yang lebih membuatku ngenes adalah, ternyata banyak juga mobil- mobil bagus yang penumpang atau pengemudinya melakukan hal yang sama : membuang sampah di jalan atau meludah menyembur dari balik jendela ke jalanan, tidak peduli ludahnya itu mengenai orang lain atau tidak. Ngeselin banget kan ??!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-S3S65lXfIic/TbAQLRit9eI/AAAAAAAAAZY/cEcxHzRigDY/s1600/nyampah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-S3S65lXfIic/TbAQLRit9eI/AAAAAAAAAZY/cEcxHzRigDY/s320/nyampah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597992122695153122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kejadiannya. Lantas aku jadi berfikir dan mencoba-coba mendefinisikan, apa sebenarnya arti KAMPUNGAN itu. Dan sekarang aku tahu, kampungan alias norak itu, sama sekali tak ada hubungannya dengan orang-orang yang tinggal di kampung, tidak berhubungan dengan tingkat ekonomi, bahkan kadang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tingkat pendidikan. Orang kampungan adalah orang yang tidak berpendidikan. Dia mungkin sekolah, tapi tidak terdidik ! Akibatnya ya seperti itulah, kaya raya tapi miskin sopan santun. Kelakuannya, kata anak sekarang aL4Y !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mari kita nilai diri sendiri. Apakah kita termasuk makhluk aL4y atau bukan ? kalau masih buang sampah di jalan, ya mohon maaf masuklah ke dalam golongan orang Alay yang harus dibasmi dan disingkirkan jauh-jauh dari lingkungan orang beradab, tidak peduli seseorang itu pemilik Ferrari California atau Lamborghini sekalipun!  Tahu kenapa ? karena manusia jenis itulah yang berpotensi sangat cepat merusak peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-1015057364392371293?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/1015057364392371293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/04/orang-al4yy-dan-mobil-mewahnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1015057364392371293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1015057364392371293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/04/orang-al4yy-dan-mobil-mewahnya.html' title='ORANG  aL4yY dan MOBIL  MEWAHNYA'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-GhwU6no2XI0/TbAQXzi7PRI/AAAAAAAAAZg/zM8BTdxZ2QY/s72-c/mobil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-534765839740172077</id><published>2011-03-06T18:18:00.000-08:00</published><updated>2011-03-06T18:31:10.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>ANOTHER SIDE OF CHICKEN ^_^</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-0uSYhQdgOfw/TXRB2l92a-I/AAAAAAAAAZA/6664SDSXskc/s1600/a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-0uSYhQdgOfw/TXRB2l92a-I/AAAAAAAAAZA/6664SDSXskc/s320/a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581158244379159522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau pas hari Minggu dan kebetulan tidak bepergian, aku punya kebiasaan memasak menu istimewa, yang lain dari yang biasa  kumasak sehari-hari. Istimewa disini bukan berarti mewah, semisal ala Eropa, serba berlemak, atau yang sejenisnya, tapi memasak menu kesukaan keluarga, dan itu bisa berarti membuat hidangan yang sangat sederhana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini tentang anak-anak ku. Aneh juga selera makan dua gadis remaja ku ini. Berbeda dengan orang lain yang jika makan daging ayam lebih memilih bagian dada, paha, atau sayap. Gadis-gadis ku ini lebih memilih ceker (kaki), kepala, ampela dan usus ayam !&lt;br /&gt;Setiap kali aku mengolah masakan berbahan ayam, maka bagian yang paling tidak mereka sentuh adalah bagian-bagian yang berdaging tebal, ya seperti dada dan paha itu. Berulangkali aku meminta mereka untuk memakan bagian daging yang lebih sehat, tapi sebanyak itu pula mereka menolak dengan alasan nggak doyan, nggak suka. Berbeda jika kebetulan aku menyajikan menu sop sayuran dengan ceker ayam, atau kepala ayam goreng bumbu kuning, tumis pedas usus ayam dengan daun kemangi, atau balado ati ampela, wah .. makannya lahap banget, bisa nambah sampai dua kali !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-G8fqRNJCI0w/TXRBmyDu2vI/AAAAAAAAAY4/o3kuXkc6EU0/s1600/b.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-G8fqRNJCI0w/TXRBmyDu2vI/AAAAAAAAAY4/o3kuXkc6EU0/s320/b.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581157972747148018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Secara ekonomis seharusnya aku merasa senang, karena anak-anak lebih memilih bagian yang harganya jauh lebih murah. Tapi sungguh, aku tak segembira itu. Ini bukan soal uang, tapi soal layak atau tidaknya makanan yang masuk ke dalam  perut mereka. Coba bayangkan, ceker ayam, kepala ayam, usus ayam, dan ampela. Itu kan bagian-bagian yang di negara maju dianggap sebagai limbah ayam potong ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai sumber yang aku baca, di Amerika Serikat limbah ayam ini digunakan sebagai bahan pakan ternak, jadi tidak dikonsumsi oleh manusia. Beberapa waktu yang lalu di negeri Paman Sam itu ada sebuah kejadian yang sempat menjadi bahan pembicaraan atau lebih tepatnya menjadi bahan olok-olok publik untuk beberapa waktu lamanya. Kejadian yang melibatkan seorang ibu dengan dua anaknya yang sedang makan di sebuah restoran Burger paling ternama di sana. Sang ibu memesan paket Happy Meal untuk anak-anaknya dan sebuah burger untuk dirinya. Tanpa dinyana, di dalam paket makanan itu terselip sebuah kepala ayam goreng yang tersalut tepung, lengkap dengan jengger / kipal di atas kepalanya, paruh yang tajam, dan ekspresi yang merana. Penampilan kepala ayam goreng itu renyah, berminyak, crunchy namun sekaligus menakutkan. Kejadian selanjutnya adalah, sang ibu menuntut restoran burger  terkenal itu dengan uang ganti rugi yang tidak  tanggung-tanggung, 100 ribu US dollar ! &lt;br /&gt;Mengapa sampai sebesar itu ? ya tentu saja karena sang ibu merasa terkejut dan terhina sebab dia disodori makanan yang hanya biasa dikonsumsi oleh si Doggy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda keadaannya dengan di negara kita. Di sini berlaku prinsip ” all you can eat ”, alias apa aja bisa dimakan ( asal doyan). Tapi kurasa bukan cuma anakku deh yang doyan menyantap menu ceker ayam, kepala ,dan jeroan ayam. Orang lain juga banyak kok yang doyan. Buktinya kalau aku agak kesiangan sedikit saja belanja ke warung, atau ke pasar, atau ke swalayan, pasti bahan makanan yang bernama ceker ayam, kepala ayam, dan jeroan ayam, sudah berpindah tangan ke pembeli yang datang lebih awal. Itu artinya menu berbahan dasar ceker dan kawan-kawan  itu memang menjadi  favorit banyak rumah tangga, bukan ?&lt;br /&gt;Selain faktor selera, faktor harga yang jauh lebih murah menjadi pertimbangan utama para ibu dalam menghemat pengeluaran uang belanja. &lt;br /&gt;Namun demikian aku tetap bersyukur, anakku masih mau menuruti nasihatku untuk tidak mengkonsumsi bagian kulit dan tunggir ayam, bagian yang paling berlemak dan sarat kolesterol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat  Ibu dan Bude ku. Waktu aku kecil, aku dan kakak perempuanku dilarang keras makan bagian ceker, bagian ujung sayap ( Jawa : Suwiwi ) , bagian kepala, dan bagian tunggir ( Jawa : Brutu ). Namun dasar namanya juga anak bandel, aku dan mbak Nuri kakak ku, selalu berkomplot untuk sembunyi-sembunyi makan bagian yang rasanya ternyata sangat sedap itu.&lt;br /&gt;Kenapa sih nggak boleh makan bagian-bagian itu ? kata ibu dan bude ku, ora elok, palami, kuwalat, tabu !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ZPIqrUOmbNg/TXRBJg8XL0I/AAAAAAAAAYw/_2ZXaGOENo0/s1600/c.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ZPIqrUOmbNg/TXRBJg8XL0I/AAAAAAAAAYw/_2ZXaGOENo0/s320/c.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581157469936627522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau makan ceker ayam, nanti tulisan tanganku jelek (kaya tulisan dokter, he he .. )  Kalau makan sayap ayam, nanti aku akan tinggal jauh dari orang tua. Kalau makan kepala ayam, nanti aku bakal jadi orang yang jutek dan belagu, sementara kalau makan tunggir, nanti aku akan diselingkuhi oleh suami. Hmm .. serem juga ya ancamannya. By the way alias ngomong-ngomong, tidak semua pamali itu terbukti lho. Walau waktu kecil sembari ngumpet-ngumpet aku suka makan ceker ayam, toh tulisan tanganku rapi dan bagus (maka nya bisa jadi ibu guru  ^_^ ) . Aku juga suka makan kepala ayam, tapi buktinya aku nggak jutek, kan ? bahkan sebaliknya aku punya sifat ramah dan murah senyum  . Aku juga suka makan sayap ayam, dan rumahku nggak gitu jauh dari rumah ibu ku ( Sukabumi – Bandung mah deket laah .. ). Tapi soal makan tunggir aku agak ngeri juga. Bukan soal kutukannya, tapi soal rasa dan bentuknya !  juga mengingat dari bagian itu selalu keluar apa coba ? hiiy ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu kesimpulannya, apakah mengkonsumsi ” Limbah ayam ” ini berbahaya ? beneran nggak ada gizinya sama sekali ?&lt;br /&gt;Sekali lagi ini menurut berbagai sumber, makanan-makanan itu tetap banyak gizinya. Bahkan yang namanya ceker ayam, banyak mengandung kolagen, dan zat fosfor yang sangat baik untuk pertumbuhan tulang serta berkhasiat mencegah penyakit Osteoporosis. Kaki/ ceker ayam sangat baik dikonsumsi oleh anak-anak dalam masa usia pertumbuhan. Dicampurkan ke dalam bubur beras, sebagai campuran sup, dsb. Selain menambah cita rasa, struktur tulang anak-anak kita akan terbentuk dengan sehat dan kuat, yang membuat gerak mereka menjadi lincah dan cepat. Hmm .. pantesan anak-anakku kerjanya pecicilan melulu nggak bisa diam, mungkin karena sering makan ceker ayam, ya ?&lt;br /&gt;Bagian kepala, tetap mengandung gizi sama banyaknya dengan bagian-bagian lain, kecuali bagian leher yang lebih berlemak. Sementara bagian jeroan ( usus, hati, ampela, jantung, dll) disepakati oleh para ahli gizi, berbahaya jika terlalu banyak dikonsumsi karena banyak mengandung kolesterol, lemak ”jahat”, dan kadang mengandung toksin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bicara masalah pantas atau tidak pantas untuk dikonsumsi, karena ini sudah masuk ke dalam wilayah selera, kebiasaan, dan budaya makan, yang sangat debatable, yang sangat berbeda-beda diantara satu bangsa dengan bangsa lainnya.  Makanan yang tidak pantas di konsumsi di suatu negara, belum tentu ditolak di negara lain, begitu pula sebaliknya. Yang penting jangan mengkonsumsi apapun terlampau banyak, karena pasti tidak akan baik bagi kesehatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi teman-temanku, di musim hujan yang berhawa dingin tiada henti ini, mari bahagiakan keluarga  dengan menghidangkan sup ceker ayam yang hangat, lezat, empuk-empuk gurih. Selamat mencoba ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-0ACRAKj7www/TXRA5nTtolI/AAAAAAAAAYo/06UpF9bR75c/s1600/d.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-0ACRAKj7www/TXRA5nTtolI/AAAAAAAAAYo/06UpF9bR75c/s320/d.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581157196767273554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;Anni, Sukabumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-534765839740172077?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/534765839740172077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/03/another-side-of-chicken.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/534765839740172077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/534765839740172077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/03/another-side-of-chicken.html' title='ANOTHER SIDE OF CHICKEN ^_^'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-0uSYhQdgOfw/TXRB2l92a-I/AAAAAAAAAZA/6664SDSXskc/s72-c/a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-3362518939803340505</id><published>2011-02-20T06:22:00.000-08:00</published><updated>2011-03-06T18:40:06.472-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>TAS ANAK-ANAK  ??  BERAT  BANGEETT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-zgkhnjLLbKE/TXRFbQpxfmI/AAAAAAAAAZQ/WU6DYBXmClo/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-zgkhnjLLbKE/TXRFbQpxfmI/AAAAAAAAAZQ/WU6DYBXmClo/s320/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581162172847849058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi hari menjelang berangkat sekolah, iseng-iseng saya mencoba mengangkat tas sekolah anak-anakku yang duduk di bangku SMA dan SMP. Masyaallah, berat banget !&lt;br /&gt;Lalu saya buka tasnya. Beberapa buku tebal terlihat berderet rapi, buku tulis, kotak alat tulis, mukena, baju olah raga, kamus, kalkulator, dompet, netbook, belum lagi ditambah barang-barang yang dibawa dengan tas jinjing : segepok LKS, tugas-tugas sekolah, paper, buku gambar, dll ...&lt;br /&gt;aduh, kaya orang mau pergi umroh saja ! .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan murid sekolah lainnya ? Coba saja perhatikan bagaimana penampilan anak-anak atau adik-adik anda saat berangkat sekolah : Berpakaian seragam, bersepatu kets yang besar, menggendong tas ransel yang padat menggembung di punggung, menjinjing tas tambahan yang juga sampai susah ditutup saking saratnya buku yang dijejalkan ke dalamnya, belum lagi anak-anak SD yang membawa bekal makanan dan minuman, dan anak-anak yang lebih besar membawa segala macam netbook, ponsel, alfalink, pianica, kadang Al Quran mini ...ampun deh !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya tanyakan pada anak-anak, apakah semua barang-barang itu betul- betul dipakai ? apakah semua buku-buku tebal itu habis dipelajari ? mereka menjawab, ada buku yang sama sekali tidak pernah dibuka, namun guru mewajibkan para siswa membawanya setiap kali ada pelajaran tersebut  !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa seragam olah raga, Mukena, Al Quran, tidak disimpan saja di locker sekolah ? jawabannya selalu : nggak ada kuncinya, takut hilang !  :(&lt;br /&gt;Lalu mengapa kamu harus pakai mukena segala, padahal seragam kamu itu sudah syar’i, sudah sangat memenuhi syarat untuk dapat melaksanakan shalat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jawaban mereka ? nggak boleh sama guru agama, harus pakai mukena !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Ya sudah, pakai mukena yang ada di masjid saja !”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”nggak mau ah, mukenanya kotor !” ( cape dee ... !)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya keluhan saya soal beratnya beban bawaan anak-anak sekolah ini sudah sejak lama saya rasakan, sejak mereka duduk di bangku SD, sejak mereka harus diantar pergi ke sekolah. Saya ingat  betul, betapa saya sengaja membawa tas-tas mereka yang super berat  itu, agar bocah-bocah cilik itu  dapat bebas berjalan dan berlari. Namun lihatlah bagaimana teman-temannya yang kebetulan berangkat ke sekolah seorang diri. Mereka berpenampilan sama : berjalan terbungkuk, atau miring ke kiri/ kanan karena beratnya beban yang harus dibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang hanya mengerti sedikit tentang anatomi tubuh manusia saja rasanya paham, apa dampaknya jika anak-anak yang masih dalam usia pertumbuhan diharuskan membawa, menggendong, menyeret, atau menjinjing beban yang terlalu berat. Tak terlalu sulit untuk menjawabnya : pertumbuhan tulang dan struktur tubuh mereka akan terganggu, bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang saya tidak dapat lebih jauh berkomentar tentang hal ini karena keterbatasan pengetahuan saya. Saya hanya ingin berkomentar tentang manfaat dan efektifitas dari segala macam barang yang berjejalan di dalam tas sekolah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama tentang buku pelajaran yang tebal-tebal, mirip buku-buku referensi para mahasiswa S3, bahkan lebih. Buku para siswa di Indonesia dari tingkat SD sampai SMA (terutama yang dikeluarkan oleh penerbit yang sudah establish) banyak yang  memiliki ketebalan sampai 5 cm, lebar 25 cm dan panjang 30 cm.&lt;br /&gt;Isinya asli dahsyat banget. Sebagai contoh kalau saya tidak salah ingat, anak kelas 4 SD harus belajar berbagai peraturan tentang otonomi daerah, trias politika dari Montesquieu, konstitusi, alih-alih belajar tentang bagaimana berbicara dan bersikap sopan kepada guru, kepada teman, agar tak meniru-niru sikap buruk  yang dicontohkan beberapa sinetron     ( saya sangat kesal dengan penggambaran dan ekspolitasi  kekonyolan guru dan sikap buruk siswa di berbagai sinetron Indonesia ). Lalu pelajaran IPA : anak-anak SD belajar tentang anatomi telinga, hidung, pernafasan, pencernaan, dengan materi sama dan sebangun dengan materi yang diajarkan kepada kakak-kakak mereka yang sudah duduk di bangku SMA jurusan IPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Matematika ? waduh, ini yang bikin pusing para orang tua yang harus mengajari sendiri anak-anaknya di rumah ( kita tidak bisa mengandalkan guru SD mengajari murid - murid  satu persatu sampai bisa. Mana sempat, muridnya membludak gitu ). Materi pelajaran Matematika SD jaman sekarang tinggi banget, bukannya orang tua tidak bisa mengajarkan kepada anak-anak, tapi masalahnya lebih di bagaimana cara mengajarkannya agar dapat dengan mudah dipahami anak-anak SD yang nalarnya masih terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan segala macam pianika yang harus dibawa dan dimainkan di kelas seni itu? saya sebenarnya setuju-setuju saja, tapi rasanya sekarang ini anak-anak semakin buta tentang lagu anak-anak yang benar, yang baik, dan cocok dengan umur mereka. Menurut saya, sekolah itu berfungsi antara lain mendidik keberanian dan kemandirian siswa . Akan lebih bermanfaat jika guru SD kembali lebih sering meminta anak untuk menyanyikan sebuah lagu di depan kelas seperti dulu lagi. Tak perlu menekankan penilaian pada kualitas suara anak, merdu atau sumbang, namun tekankan penilaian pada keberanian, kreatifitas, kesungguhan, kemandirian. Hal-hal tersebut masih tetap berguna sampai kapanpun, bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang lain : saya perhatikan - tidak semua sekolah tentu - akhirnya banyak guru-guru yang lebih memilih menggunakan LKS ketimbang membahas buku paket yang jelas lebih lengkap ( namun sayangnya sering  ditulis dengan bahasa yang berat dan njlimet, tak sesuai dengan usia anak ).Mengapa guru harus menggunakan LKS yang sudah jadi ? mengapa guru tidak membuat soal sendiri saja, agar lebih nyambung dengan materi yang diajarkan di kelas ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya tentu banyak dan beragam. Dari mulai kemampuan guru yang terbatas, kesepakatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), sampai motif ekonomi. Nah untuk urusan yang terakhir ini, saya paling malas membahasnya, sebab nanti urusannya bisa memanjang dan melebar kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam satu hari ada  4 sampai 5 macam pelajaran, dan di dalamnya ada juga  pelajaran seni, olah raga, dan ekskul yang biasanya mewajibkan para siswa membawa perlengkapannya sendiri, masih ditambah kotak makanan dan minumannya, maka silahkan menghitung sendiri beratnya beban bawaan anak-anak kita. Tak perlu bicara tentang beratnya kurikulum yang membuat anak sampai overloaded, nggak bisa mikir lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya berharap sederhana saja, jika memang buku paket tidak dipakai, tak perlulah mewajibkan murid –murid membawanya.&lt;br /&gt;Yang kedua tentang fasilitas sekolah. Saya mengerti betul, tak mungkin  berharap terlalu banyak pada sekolah mengenai fasilitas ini, selama anak – anak saya masih bersekolah di sekolah-sekolah negeri. Namun setidaknya, peliharalah fasilitas yang sudah ada. Jika kunci locker rusak umpamanya, segeralah perbaiki. Jika tidak ada mukena di mushola, mintalah partisipasi orang tua untuk menyumbang mukena, saya yakin orang tua pasti akan bersedia. Sementara untuk kebersihan mukena, libatkan seluruh siswi secara bergiliran untuk mencucinya di rumah. Saya rasa tidak terlalu sulit. Kalaupun sedikit sulit, pikirkan manfaatnya. Barang-barang seperti seragam olah raga, seragam karate, Al Quran, pianika, kamus, mukena, jaket, jas lab, dll, dapat disimpan dengan aman, tak perlu setiap saat dibawa berjejalan di dalam tas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-YeEPdOm1B3w/TXRFGu5jN3I/AAAAAAAAAZI/a99BPE90a-4/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 231px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-YeEPdOm1B3w/TXRFGu5jN3I/AAAAAAAAAZI/a99BPE90a-4/s320/2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581161820189833074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menutup tulisan ini, saya ingin memberi ilustrasi berdasarkan pengalaman saya. Saya berprofesi sebagai pendidik di sebuah SMA Islam Berasrama di Sukabumi. Saya mengajar Sejarah dan Kewarganegaraan dari kelas X sampai kelas XII ( sebagai catatatan, barang bawaan murid-murid di sekolahku, berbeda dengan di sekolah lain. Jauh lebih ringan karena mereka membawa buku hanya sebatas yang diperlukan sampai istirahat. Pada saat istirahat, mereka kembali ke asrama untuk mengosongkan isi tasnya, dan menggantinya dengan buku pelajaran lain yang dibutuhkan pada jam-jam berikutnya ). Khusus untuk kelas X, sebelum membuka pelajaran di awal smester, saya selalu melakukan tes wawasan pengetahuan umum tentang hal-hal yang sederhana di seputar Indonesia, semisal sebutkan ibu kota provinsi Jawa Timur, apa nama kabinet yang sekarang, apa nama parlemen kita, apa nama konstitusi kita, sebutkan sila ke lima Pancasila, dan sejenisnya, yang asli adalah pertanyaan tingkat SD. Jangan meremehkan dulu. Lihatlah hasilnya : mayoritas tidak dapat menjawab ! padahal mereka berasal dari SMP yang top, unggulan se jabodetabek, Bandung dan kota-kota besar lainnya. Bingung deh.&lt;br /&gt;Saya yakin, bukannya guru-guru di SD dan SMP tidak mengajarkan,  anak-anak hanya sudah overloaded saja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anni, Sukabumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-3362518939803340505?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/3362518939803340505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/02/tas-anak-anak-berat-bangeett.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/3362518939803340505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/3362518939803340505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2011/02/tas-anak-anak-berat-bangeett.html' title='TAS ANAK-ANAK  ??  BERAT  BANGEETT'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-zgkhnjLLbKE/TXRFbQpxfmI/AAAAAAAAAZQ/WU6DYBXmClo/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-1089256451506050451</id><published>2010-08-30T07:41:00.000-07:00</published><updated>2010-08-30T07:53:36.711-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>ANAK - ANAK BINTANG KEHIDUPAN ...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/THvFhDijXkI/AAAAAAAAAWI/wXKHwx5qsmo/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 295px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/THvFhDijXkI/AAAAAAAAAWI/wXKHwx5qsmo/s320/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511215740694519362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum teman- teman tersayang. Di sela- sela waktu senggangku menunggu bel pergantian pelajaran berbunyi, saya ingin sharing sesuatu kepada teman- teman semua.  Tentang sesuatu yang sudah banyak diketahui, namun saya perhatikan ( sebagai seorang pendidik ) masih banyak belum dipahami dengan baik oleh sebagian orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini teman - teman, kehidupan sudah berubah, nilai- nilai sudah berganti, dan ilmu pengetahuan sudah semakin maju. Namun saya masih merasa prihatin akan satu hal : masih ada org tua / masyarakat yang bertanya kepada anak-anak tentang rankingnya di kelas. Setiap pembagian rapor usai, pertanyaan yang kerap meluncur spontan dari kalangan orang tua adalah : kamu ranking berapa ? Atau, jumlah nilai rapor kamu berapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm ... di zaman sekarang ini, pertanyaan seperti itu sudah usang, karena sudah bukan begitu lagi cara menilai kecerdasan seorang anak. Tidak dapat lagi seorang anak diukur kecerdasannya hanya dari nilai cognitifnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak seorang anak itu terbatas, artinya, tidak mungkin seorang anak dapat menguasai SEMUA bidang pelajaran dengan kadar sama baiknya. Mengingat karakter setiap pelajaran yang berbeda, maka wajar jika tidak seluruh pelajaran dapat diserap oleh dengan baik oleh seorang anak.&lt;br /&gt;Dari 20 an mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, seorang anak hanya mampu menyerap maksimal 50 persennya saja, selebihnya hanya tahu, namun tak paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian anak sangat menguasai pelajaran eksak : Math dan IPA. Sebagian anak lagi lebih menguasai pelajaran IPS : History, Geography, etc namun sebagian lagi lebih lihai di pelajaran yang bersifat psikomotorik : seni, keterampilan, olah raga. Nah dapatkah kita menentukan, anak mana yang lebih pandai ?? Tidak bisa bukan ? Mengapa ? Karena sifat pelajaran yang mereka kuasai pun berbeda - beda. Sebagai analogi, bisakah kita menjawab pertanyaan, mana yg lebih enak : ayam goreng atau buah anggur ? Tak bisa bukan ? Mengapa ? Karena sifat keduanya yang berbeda. Nah begitu pula hal nya dengan anak- anak kita. Sungguh tak adil jika kita membandingkan kecerdasan anak kita dengan anak lainnya, dengan parameter yang berbeda. Jika anak anda jago matematika, maka dia anak yang pandai. Jika anak lain jago dalam pelajaran Sejarah, dia anak yang pandai, dan jika anak yang lainnya lagi sangat piawai menarikan tari pendet yang sulit atau dapat bernyanyi dengan merdu tanpa nada fals sedikitpun, dia juga tetap anak yang pandai. Atau ada juga kasus seperti ini : seorang anak tidak mampu menguasai pelajaran apapun di sekolahnya, nilai rapornya hanya berkisar nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) saja. Namun dia memiliki senyum yang manis kepada setiap orang, tutur kata yang santun, sikap yang sopan, suka menolong, pandai bergaul, tidak mudah berputus asa, rajin beribadah, nah bagaimana penilaian anda terhadap anak dengan karakter seperti ini ? Apakah dia anak yang bodoh ? Tidak bukan ? dia tetap anak yang PANDAI.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/THvFV7rFrxI/AAAAAAAAAWA/0wUPGXkX6do/s1600/4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 274px; height: 184px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/THvFV7rFrxI/AAAAAAAAAWA/0wUPGXkX6do/s320/4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511215549604278034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman, bukankah kecerdasan manusia itu tidak hanya terletak pada tingkat intelektualitasnya saja ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kecerdasan lain yang wajib diperhatikan perkembangannya oleh setiap orang tua, yakni kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional, yang sering berjalan beriringan. Belum bisa dikatakan pandai, jika seorang anak hanya mampu menguasai pelajaran di sekolah, namun tak memiliki kebaikan hati,ketaatan kepada orang tuanya apalagi ketaatan kepada Allah, Tuhan yang telah menciptakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan intelektual yang berkaitan dengan kemampuan cognitif, dapat diraih dengan latihan berulang - ulang. Hanya saja latihan ini ada batasnya, dan kita tidak dapat memaksakannya, karena itu tadi, kapasitas otak manusia yang terbatas. Berbeda halnya dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Selain harus terus dilatih berulang - ulang, juga harus dilakukan terus menerus seumur hidup, karena inilah inti dari kecerdasan manusia yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Bahkan seorang ibu atau ayah berhak memaksakan dua kecerdasan ini kepada anak-anak nya, karena kemampuan taat kepada Allah umpamanya, adalah sesuatu yang wajib ditanamkan secara intensif sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/THvFI0_CCkI/AAAAAAAAAV4/3RkNLhFC5e4/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/THvFI0_CCkI/AAAAAAAAAV4/3RkNLhFC5e4/s320/2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511215324470577730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah tempat saya mengajar, berlaku prinsip : yang penting anak itu soleh dulu, taat dulu kepada Allah. Jika kemudian dia mampu berprestasi dalam berbagai pelajaran, maka itulah bonus dari kesolehannya. Insyaallah, Allah akan membukakan pikirannya, daya nalarnya, dan memudahkannya menyerap pelajaran apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman, setiap anak adalah pribadi yang unik. Jadi marilah kita menghargai sekecil apapun kemampuan yang mereka tunjukkan. Penghargaan yang tinggi, kasih sayang, pengertian, penerimaan orang tua dan masyarakat kepada anak-anak, sungguh sangat penting. Dengan itu semua, seorang anak akan tumbuh dengan kepribadian yang baik, mandiri, dan dewasa. Hal ini lambat laun akan berdampak pada kemampuan cognitifnya, kecerdasan inteletualitasnya. Percayalah, seorang anak yang dibesarkan dan dididik di lingkungan yang baik, akan dapat menyerap pelajaran di sekolah dengan baik pula.Mana yang lebih anada pilih : punya anak pandai atau punya anak soleh ? jawabannya punya anak yang soleh, bukan ? karena memiliki anak yang soleh akan sangat membuka peluang untuk mendapatkan anak yang sekaligus pintar secara intektual!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebab nya teman-teman, pemerintah sekarang ini tidak lagi mencantumkan kolom ranking atau peringkat di dalam buku rapor, dan menggantinya dengan kolom Afektif dan Psikomotorik. Dari kolom ini, orang tua dapat lebih memantau perkembangan anaknya dengan lebih intensif.Selain itu, masih ada lagi kolom deskripsi di samping kolom nilai cognitif setiap mata pelajaran. Guru yang bertanggung jawab dan peduli pada pendidikan anak, tentu akan mendeskripsikan dengan lengkap data perkembangan anak di kolom deskripsi tersebut, alih-alih hanya menulis : TUNTAS atau TIDAK TUNTAS tanpa mendeskripsikan alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berhentilah bertanya tentang ranking, dan mulailah fokus pada kecerdasan seorang anak dalam berbagai segi, agar anak-anak kita bertumbuh menjadi pribadi yang berguna kelak. Agar tak hanya bertumbuh sekedar menjadi bintang pelajar, namun lebih jauh lagi, menjadi bintang kita, bintang bagi nusa dan bangsa tercinta, amiiin ....&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/THvEzTps_SI/AAAAAAAAAVw/ZnkMYRwQt9g/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 183px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/THvEzTps_SI/AAAAAAAAAVw/ZnkMYRwQt9g/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511214954745494818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mendidik anak-anak dengan penuh cinta, semoga bermanfaat :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Semua foto diambil dari Google )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang, anni - Sukabumi :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-1089256451506050451?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/1089256451506050451/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/08/anak-anak-bintang-kehidupan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1089256451506050451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1089256451506050451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/08/anak-anak-bintang-kehidupan.html' title='ANAK - ANAK BINTANG KEHIDUPAN ...'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/THvFhDijXkI/AAAAAAAAAWI/wXKHwx5qsmo/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-9216039043705331888</id><published>2010-04-27T05:42:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T08:47:18.609-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>ALLAH  YANG  MELULUSKAN  KAMI ...</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S9bdR-yTahI/AAAAAAAAAVY/OcQqOd_KgTY/s1600/8.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 87px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S9bdR-yTahI/AAAAAAAAAVY/OcQqOd_KgTY/s320/8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464798498842176018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hanif, sebut saja namanya seperti itu. Tidak seperti kebanyakan anak-anak dari golongan kaya yang cenderung individualistik, fashionable dan terkadang egois, remaja berusia belum genap 17 tahun ini sangat bersahaja. Bersahaja dalam penampilan, bersahaja dalam sikap, bersahaja dalam bertutur kata. Hanif memang anak yang sangat bersahaja, sangat sederhana. Padahal ayahnya seorang pengusaha kaya raya dan ibunya berprofesi sebagai pengajar di perguruan tinggi ternama di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengajar Hanif sejak dia duduk di kelas X hingga kelas XII, bahkan pada saat dia duduk di kelas XI aku sempat menjadi walikelasnya. Wajah anak ini tampan sekali. Warna kulitnya cerah bersih, kalau tertawa, pipinya bersemu merah. Matanya bulat cemerlang, senyumnya sungguh menawan dihiasi sederet gigi putih yang rapi dan bersih. Rambutnya selalu dicukur nyaris botak, perawakannya sedang namun tegap. Kalau berlari kencang sekali, cocok untuk anak yang punya hobi bermain futsal. Senang sekali melihat Hanif, dia anak yang sehat dan ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas tidak ada yang salah dengan anak ini. Dia disukai oleh teman-temannya, dan guru-gurupun sayang kepadanya. Namun dibalik itu, Hanif memiliki kekurangan yang cukup fatal sebagai seorang pelajar : daya tangkapnya terhadap pelajaran rendah sekali.&lt;br /&gt;Dibanding teman-teman sekelasnya, Hanif membutuhkan waktu 3 kali lebih lama untuk mencerna pelajaran yang diterangkan guru, dan berkali lipat lebih lama lagi untuk mata pelajaran eksak.&lt;br /&gt;Setiap kali guru mengadakan ulangan, nama Hanif selalu tertera dalam daftar anak-anak yang harus menjalani remedial test. Dan ini terjadi di setiap mata pelajaran. Hanya dalam pelajaran olah raga saja mungkin Hanif lolos dari remedial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari teman-teman sekelasnya – dan ini yang membuatku salut padanya – yang jika menghadapi situasi seperti itu mungkin akan ngambek, putus asa atau kecewa, Hanif tetap sabar dan tetap rajin masuk ke kelas remedial yang bagi sebagian anak sangat membosankan itu. Lucunya ( atau tragisnya ), seringkali Hanif harus mengikuti remedial sampai berkali – kali, karena dia tetap tidak lulus meski telah mengikuti berkali-kali remedial teaching dan remedial test. &lt;br /&gt;Kalau aku tanya, apakah dia tidak bosan ? maka jawabannya selalu : Kalau belum bisa kan harus terus belajar, Bu !&lt;br /&gt;subhanallah Hanif ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hari pembagian rapor tiba, Hanif selalu menerima rapornya dengan tertawa, karena angka – angka di rapornya semuanya tuntas. Ya tuntas, dan hampir seluruh nilai mata pelajarannya sama persis dengan nilai passing grade yang disyaratkan oleh masing-masing mata pelajaran. Dari mata pelajaran A sampai mata pelajaran Z, nilainya sama : 75 ! &lt;br /&gt;Itu bisa berarti dua hal : dia memang lulus dengan nilai pas-pasan di ulangan kesempatan pertama, atau dia lulus setelah menjalani berkali – kali remedial. Dengan nilai seperti itu dia dinyatakan lulus di setiap semester. Wah, dia senang sekali dengan hasil yang diperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah sekalipun aku mendengar keluh kesahnya. Betapapun sulitnya pelajaran yang dia hadapi, dia terus dan terus belajar, padahal tak sedikitpun materi yang diterangkan guru di depan kelas menempel di otaknya. Kadang dia minta bantuan teman- temannya untuk menerangkan suatu materi tertentu. Susah payah temannya yang paling pintar di kelas menerangkan pada Hanif, namun tak sedikitpun Hanif mengerti. Dia hanya tersenyum, dan mengucapkan terimakasih saja pada temannya yang baik hati itu. Jika temannya itu bertanya, dah ngerti belum ?? selalu dijawab : belum, tapi nanti pasti saya mengerti. Sampai putus asa teman-temannya mengajari Hanif, namun usaha mereka seperti menuang air di daun talas, tak berbekas sama sekali ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu saat aku berkesempatan memanggilnya dan mengajaknya bicara dari hati ke hati, karena aku sangat prihatin dengan perolehan nilai-nilai nya di semester 3. Aku bertanya padanya, mengapa kamu begitu ngotot belajar eksak, pelajaran yang sulit dicerna ? sebetulnya apa harapanmu ? kamu ingin jadi apa ?&lt;br /&gt;Dan inilah jawabannya : Saya ingin jadi dokter, bu !&lt;br /&gt;( Ya Allah … Hanif ! ah tak tega jika aku harus memupus begitu saja cita-citanya yang mulia, dengan kata – kata : Mana mungkin kamu bisa kuliah di fakultas kedokteran dengan kemampuan berfikirmu yang seperti itu ?? ). Maka mendengar jawabannya, aku hanya bisa terdiam, tersenyum, dan kemudian berkata, “ Kalau begitu Hanif, kamu harus belajar lebih keras lagi ! “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah kami adalah Boarding School. Para siswa tinggal di asrama dengan bimbingan dan pengawasan penuh dari para guru dan dengan disiplin yang tinggi. Di sini tugas anak-anak hanya belajar. Para siswa yang mayoritas datang dari keluarga menengah ke atas, dididik untuk bisa bersikap mandiri, dan bisa mengurus dirinya sendiri. Di sini mereka belajar mengatur waktu, mengurus pakaiannya termasuk mencuci baju meski dengan mesin cuci, membereskan kamarnya, bertanggungjawab terhadap barang-barang milik pribadi, dan ini yang penting : menyantap setiap menu yang disediakan tanpa banyak cingcong ( tak heran dalam waktu beberapa bulan saja anak-anak itu bertumbuh dengan pesat, tinggi – tinggi, besar dan sehat .. ).&lt;br /&gt;Di sekolah kami, semua jadwal diatur dengan teliti dan dievaluasi setiap hari, terutama jadwal belajar dan jadwal ubudiyah ( ibadah ). Untuk semua urusan ini, Hanif tak banyak menghadapi masalah yang berarti. Daya adaptasinya relatif cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, sudah kah aku menceritakan kepadamu tentang ketaatan Hanif dalam beribadah ? tentang kekhusyukannya dalam berdoa ? kalau belum baiklah aku akan ceritakan kepadamu.&lt;br /&gt;Hanif ini … tak pernah sekalipun terlambat masuk ke Masjid. Dia kerap mengumandangkan adzan, meski suaranya tak terlampau merdu. Sholat selalu berdiri di shaf terdepan. Sholat sunnah tak pernah tertinggal. Sehabis sholat, zikir dan doanya sangat panjang dan khusyu, masih juga disambung dengan membaca Al Quran berlembar – lembar. Sebelum fajar tiba, dia dirikan sholat Tahajud. Shaum sunnah tak pernah terlewat kecuali jika kebetulan jatuh sakit. Hanif ini betul – betul anak yang rajin dan sholeh. Mau saja aku punya anak 12 orang jika akhlaknya seperti itu semua ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya Hanif tak serajin itu dalam beribadah. Ibadahnya biasa – biasa saja seperti teman – temannya yang lain. Lalu pada suatu ketika salah seorang rekanku guru fisika menasihatinya, ketika Hanif merasa kebingungan karena tak juga lulus pelajaran ini padahal sudah 4 kali mengikuti remedial. Rekanku itu menasehati Hanif begini, “ Nif, kalau kamu nggak ngerti – ngerti pelajaran fisika, minta saja sama Allah agar kamu bisa dikasih ngerti pelajaran fisika. Kan yang punya ilmu fisika itu Allah. Lalu kamu harus rajin beribadah, agar Allah menolong kamu di setiap pelajaran “.&lt;br /&gt;Hanif yang lembut hati itu menuruti nasihat gurunya. Semenjak itu Hanif sangat rajin beribadah dan belajar tak kenal lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu hari yang dinantipun tibalah ....&lt;br /&gt;UN yang membuat gentar hati siswa yang paling pandai sekali itu pun datang tanpa bisa dielakkan lagi. Bagi kami para guru, tak ada lagi waktu untuk mencaci kebijakan UN. Like or Dislike, UN harus dihadapi. Dan kami memilih menghadapinya dengan kerja keras dan jujur. Tak terbayangkan kerja keras yang dilakukan Hanif sejak jauh – jauh hari sebelum tibanya UN. Berbulan – bulan dia menekuni buku – buku latihan soal, tak seharipun absen mengikuti pelajaran tambahan. Sampai larut malam, baru dia jatuh tertidur karena kelelahan. Namun begitu, tetap saja esok subuhnya aku mendengar kumandang adzannya dari menara masjid. Sempat khawatir juga aku pada kesehatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadahnya semakin rajin dan doanya semakin khusyu dia panjatkan seusai sholat. Tak jarang aku melihatnya berurai air mata dalam doanya, dan terisak – isak dalam sujudnya. Sudah dapat kubayangkan, tentu Hanif meminta pertolongan Allah agar diberi kemudahan dalam menjawab soal UN nanti …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika UN tiba, kami para guru sangat cemas memikirkan nasib Hanif. Kami sangat mengerti, jika dia tidak lulus UN, maka pemerintah tak akan meluluskan dia sebagai siswa SMA, tak peduli betapa solehnya dia, betapa baiknya budi pekertinya, betapa tingginya hafalan surat-suratnya, atau setidaknya betapa piawainya dia dalam permainan futsal. Bukankah kelulusan dari pemerintah itu hanya diukur berdasarkan kemampuan cognitif siswa saja ?&lt;br /&gt;Menurut rekan – rekan guru yang kebetulan tidak mengawas UN di sekolah lain, setiap habis satu pelajaran diujikan, wajah Hanif selalu muram. Setiap kali ditanya bisa atau tidak, dia selalu menjawab dengan pesimis, atau tidak yakin.&lt;br /&gt;Mendengar jawaban seperti itu, para guru hanya bisa menghela nafas panjang dan mengusap dada, memohon kemurah hati Allah agar menolong anak yang sudah membanting tulang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan kami bertambah, ketika selesai ujian matematika, tanpa bisa ditahan lagi, dia menghambur lari keluar kelas dan menangis tersedu sedan di pelukan Pak Zul, guru matematikanya. “ Maafin saya kalau nggak lulus ya Pak, saya tadi cuma bisa setengahnya, itu juga nggak yakin … “, begitu dia mengadu pada gurunya. Pak Zul temanku itu, hanya bisa menepuk – nepuk bahu Hanif dan menghiburnya agar tetap tawakal kepada Allah. Kesedihan sangat tampak di wajah Pak Zul. Apa mau dikata, Hanif memang siswa terlemah di kelas Matematika. Hingga UN berlalu, kami para guru dan Hanif selalu diliputi perasaan was-was …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin 26 April 2010 pukul 13.00 bada dhuhur di Masjid Al Bayan. Ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi Hanif dan bagi kami semua. &lt;br /&gt;Tengah hari itu kami melakukan sholat Dhuhur berjamaah dan setelah itu pengumuman hasil UN akan dibacakan Kepala Sekolah. Sejak tadi kulihat Hanif berurai air mata saja, rupanya dia sudah merasa hopeless, sudah pasrah jika harus menerima nasib tidak lulus. Kawan – kawannya dengan setia menemani dan menghiburnya. Namun demikian wajah kawan – kawannya itu, tak berbeda jauh dengan Hanif, cemas dan takut. Mencemaskan Hanif dan mencemaskan nasib mereka sendiri.&lt;br /&gt;Ketika pengumuman dibacakan, Hanif sudah tak sanggup lagi mengangkat wajahnya. Dia hanya bisa duduk lunglai di atas sajadahnya, dengan wajah pucat pasi.&lt;br /&gt;Dan ketika Kepala Sekolah sampai pada kalimat “ Alhamdulillah siswa Al Bayan lulus 100 persen ! Takbir ... !!&lt;br /&gt;Serentak takbirpun keras menggema memenuhi masjid, membelah udara siang dan menggetarkan relung – relung hati kami yang terdalam .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah ... Inilah janji Allah yang nyata, janji yang tak pernah meleset sedikitpun, janji Nya yang benar, bahwa Dia akan menolong hamba Nya yang bersungguh –sungguh dalam berusaha, beristiqomah, taat pada perintah Nya, dan berserah diri ... &lt;br /&gt;Sujud syukur kami hamba Mu yang lemah tak berdaya ini hanya kepada Mu ya Allah nan Maha pengasih, Maha penyayang. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, Ya Rahman Yaa Rahiim. Tanpa pertolongan Mu, tak mungkin kami merasakan kebahagiaan sebesar ini. Kebahagiaan yang kami raih dengan jerih payah dan urai air mata. Kebahagian yang kami raih dengan segenap kejujuran yang coba kami genggam dengan erat ... terimakasih Ya Rabb ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh lihatlah itu ! Hanif dikerubuti teman – temannya ! mereka saling berpelukan, berjabat tangan sambil tertawa dan berurai air mata ....&lt;br /&gt;Hanif lulus ! Hanif lulus ... !! &lt;br /&gt;Nilai Matematikanya 5,00 nilai Fisika 5,00 dan nilai pelajaran lain antara 6 dan 7 .... Subhanallah ...&lt;br /&gt;Menyaksikan itu, aku hanya bisa bersyukur sambil tertawa geli,namun mataku sudah sembab oleh linang air mata yang sudah turun sejak kemarin malam.&lt;br /&gt;Alhamdulillah ... sungguh indah melihat murid – muridku lulus dengan jujur. Insyaallah mereka melalui UN dengan bersih tanpa mencontek. Sejak masuk ke sekolah ini, mereka sudah mengharamkan perilaku mencontek, karena mereka sangat takut pada Sang Maha Melihat dan Maha Mengetahui ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hanif !! selamat anak - anak !!&lt;br /&gt;Selamat juga kepada ratusan ribu anak - anak yang lulus dengan jujur ... !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;anni, Sukabumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Empatiku terdalam aku persembahkan untuk ribuan anak-anak jujur yang terpaksa tidak lulus karena kesalahan penyelenggaraan UN : soal ujian yang tertukar, jenis kertas Lembar Jawaban Komputer yang salah hingga tidak dapat di scan, hingga pensil 2B palsu ... tabahkan hatimu ! Allah tahu yang terbaik bagimu ... )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-9216039043705331888?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/9216039043705331888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/04/allah-yang-meluluskan-kami.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/9216039043705331888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/9216039043705331888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/04/allah-yang-meluluskan-kami.html' title='ALLAH  YANG  MELULUSKAN  KAMI ...'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S9bdR-yTahI/AAAAAAAAAVY/OcQqOd_KgTY/s72-c/8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-5925537583659745397</id><published>2010-04-13T08:52:00.000-07:00</published><updated>2010-04-13T08:59:33.940-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Song from my Heart'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-faf69c480e4cc731" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v4.nonxt5.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dfaf69c480e4cc731%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D7CA4AEEF43F36D48599768349FC9B2D456B7665.1019E239CC5BAA0AA449A4FB3829E4A6788B8FCF%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dfaf69c480e4cc731%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DRyfSHtZ6EKn7OkVSDaJ0i72g-to&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v4.nonxt5.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dfaf69c480e4cc731%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D7CA4AEEF43F36D48599768349FC9B2D456B7665.1019E239CC5BAA0AA449A4FB3829E4A6788B8FCF%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dfaf69c480e4cc731%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DRyfSHtZ6EKn7OkVSDaJ0i72g-to&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-5925537583659745397?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=faf69c480e4cc731&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/5925537583659745397/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/04/blog-post_6714.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5925537583659745397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5925537583659745397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/04/blog-post_6714.html' title=''/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-1742610775816593731</id><published>2010-04-13T08:41:00.000-07:00</published><updated>2010-04-13T08:47:38.500-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Song from my Heart'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-c2a27f12c7f92024" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v20.nonxt6.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dc2a27f12c7f92024%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D679CC56B464FB97D510A317D8A07A547DF6787F0.1E102C8E0EEBFEA9100C1878E510B15B8A18FDBD%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dc2a27f12c7f92024%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D4_OBfrPY-8YqOLY3DCvtE4dhwnQ&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v20.nonxt6.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dc2a27f12c7f92024%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D679CC56B464FB97D510A317D8A07A547DF6787F0.1E102C8E0EEBFEA9100C1878E510B15B8A18FDBD%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dc2a27f12c7f92024%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D4_OBfrPY-8YqOLY3DCvtE4dhwnQ&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-1742610775816593731?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=c2a27f12c7f92024&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/1742610775816593731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/04/blog-post_13.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1742610775816593731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1742610775816593731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/04/blog-post_13.html' title=''/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-3519121271453942527</id><published>2010-04-13T08:24:00.000-07:00</published><updated>2010-04-13T08:41:13.771-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Song from my Heart'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-81fe7cae1496d2b4" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v11.nonxt4.googlevideo.com/videoplayback?id%3D81fe7cae1496d2b4%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D1723AF2D1FDD825791FD9981393C413401708889.651E48101DA291EADE4010649E162A7919A3EA00%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D81fe7cae1496d2b4%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DKhPk6iXi0k5hXLflp0DPcMqoKJE&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v11.nonxt4.googlevideo.com/videoplayback?id%3D81fe7cae1496d2b4%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D1723AF2D1FDD825791FD9981393C413401708889.651E48101DA291EADE4010649E162A7919A3EA00%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D81fe7cae1496d2b4%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DKhPk6iXi0k5hXLflp0DPcMqoKJE&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-3519121271453942527?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=81fe7cae1496d2b4&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/3519121271453942527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/04/blog-post.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/3519121271453942527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/3519121271453942527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/04/blog-post.html' title=''/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-238089667968322411</id><published>2010-03-28T07:58:00.000-07:00</published><updated>2010-03-28T08:09:53.773-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>DENGARLAH NURANIMU</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S69woRs-dgI/AAAAAAAAAVI/UXfO9ulzRLQ/s1600/5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 255px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S69woRs-dgI/AAAAAAAAAVI/UXfO9ulzRLQ/s320/5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453701511018083842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Temanku di Facebook Rifki Feriandi, menulis sebuah notes bersub judul&lt;br /&gt;" ujian nurani " yang membuatku jadi terprovokasi untuk menulis komentar panjang. Namun kolom komentar yang disediakan FB sungguh terbatas, sehingga aku harus menulisnya dalam bentuk notes. Maka jadilah notes dadakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat membaca notes saya ini dengan terang, tentu teman-teman harus lebih dahulu membaca notes Rifki Feriandi yang berjudul " Buaya vs Buaya da UAN : ujian nurani". Karena jika tidak, maka notes ini seolah tanpa subjek dan predikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah sungguh bukan kebiasaanku menulis notes dadakan seperti ini, tapi aku harus bagaimana ? Hatiku sudah geregetan begini, geregetan dengan semua fenomena yg Rifki tuangkan di notesnya ...&lt;br /&gt;Sungguh bukan karena nama saya nurani, sehingga saya ingin menulis notes ini. Hmmm.... nurani, ya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama : tentang buka-bukaan di kalangan buaya, yg membuat masyarakat menjuluki peristiwa itu dengan sebutan "maling teriak maling " dan "Star Wars".&lt;br /&gt;Mencermati berita itu di media massa, segera saja kita orang awam mengetahui, bahwa bukan hati nurani yg sedang angkat bicara, namun nafsu angkara dan dendam kesumat. Boleh jadi yg dikatakan itu benar adanya. Namun masyarakat akan segera mengaitkan segala pernyataan itu dengan kejadian sebelumnya, yakni ketika sang Bintang digusur dari kursi empuk jabatannya dengan cara yg menyakitkan. Salahkah jika kemudian masyarakat menilai bahwa sang bintang kini sedang membuka kebobrokan lawannya lantaran sakit hati ? &lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S69wcGkthGI/AAAAAAAAAVA/bD-ygP7Zd5Q/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 224px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S69wcGkthGI/AAAAAAAAAVA/bD-ygP7Zd5Q/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453701301872198754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun marilah kita ambil sisi positif dari kejadian ini : statement yg dilandasi dendam kesumat itu toh membuat kasus yg rasanya mustahil terungkap karena menyangkut para bintang, kini terpapar dengan jelas, dengan pelaku yg setiap hari wara-wiri di muka televisi. Tentu saja orang yang kena tuding seperti kebakaran jenggot, dengan membuat statement tandingan yg tak kalah jujurnya. Kalau sudah begini, masyarakat tak bisa berharap terlalu tinggi. " paling banter " nanti penyelesaiannya ya seperti kasus- kasus besar sebelumnya semisal kasus Bank Century dan mega kasus BLBI yg tak jelas juntrungannya. Tanda-tanda ke arah sana sudah mulai terlihat dengan kaburnya sang tokoh antagonis anggota komplotan markus pajak ke Singapura, dengan memboyong anak istrinya. Semoga dia tidak menjadi seperti penjahat kakap Eddy Tanzil jilid ke dua, yg hingga kini tak kunjung tertangkap. Harapan masyarakat atas kasus star wars ini sudah jelas : usut tuntas kasus ini, tangkap pelakunya, dan hukum siapapun yang bersalah dengan hukuman yg setimpal, tanpa memandang apakan dia seorang bintang atau bukan. Hanya itu. Dan itu, hanya dapat dilakukan jika lembaga penegak hukum menggunakan LAGI hati nuraninya. Jangan dikira hukum itu bisu. Hukum itu sangat jelas dan sangat mementingkan keadilan. Jika hukum tidak dapat berbicara, maka masyarakat yg akan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : tentang PSSI. Nah inilah lembaga teraneh di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Pucuk pimpinannya terpilih sesaat setelah dia keluar dari bui. Saya sungguh tak mengerti, apa yang ada di benak para pemilih, ketika proses pemilihan ketua umum PSSI berlangsung. Apakah kepemilikan uang dlm jumlah besar jauh lebih utama sehingga dapat dg mudah menafikkan track record seorang tokoh yg coreng moreng penuh lumpur kecurangan ? kembali masyarakat dipaksa menyaksikan sebuah pertunjukkan yang sama sekali tidak lucu, betapa hati nurani dibuta tuli bisukan dalam proses pemilihan seorang pemimpin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana kinerjanya ? Ya lihat saja sendiri. Di laga pra piala dunia saja, kesebelasan kita bertekuk lutut di hadapan kesebelasan Laos, negara kemarin sore, yang pernah jauh lebih miskin dari negeri kita. Bosan ah, ngomongin, masa sih diantara 300 jutaan rakyat Indonesia, PSSI nggak bisa menemukan pemain yang bisa benar2 berkelas dunia? Oke, oke, boleh jadi para pemain sepak bola kita memang benar-benar berbakat. Lantas mengapa mereka tidak bisa berbicara di tingkat dunia ? pasti ada yang salah. Apa yang salah ? Kita semua sudah tahu, karena terlalu sering media massa mengulasnya. Tentang kurangnya pembinaan, kurang dibukanya kesempatan, kurang dana, dll. Apa ?? Kurang dana ?? Nggak salah tuh ? Bukannya negara menyisihkan anggaran yang sangat besar untuk PSSI ?&lt;br /&gt;Ah sudahlah, kalo ngomongin sepak bola, nanti aku harus bikin sub notes nih. Yang jelas,&lt;br /&gt;jika ada pembicaraan tentang sepak bola, maka yang terlintas di benakku adalah perilaku Bonek yang anarkis dan permainan cantik PERSIB, halah ...&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S69wNshKCyI/AAAAAAAAAU4/haIQaRABdRY/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 272px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S69wNshKCyI/AAAAAAAAAU4/haIQaRABdRY/s320/2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453701054359800610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke persoalan mendengarkan hati nurani di tubuh PSSI. Sebaiknya organisasi sepak bola itu berhenti berbicara, dan mulai serius bekerja. Bekerja dengan hati. Marilah berkaca pada Senegal, Gibbon, atau Kamerun. Negara-negara miskin di Afrika itu dapat melahirkan pemain-pemain kelas dunia, karena keseriusan mereka membina dan berlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : soal UN. Oh tidak, aku sudah menulis notes yang cukup panjang tentang UN. Namun, jika ada seratus orang yang berbicara soal UN, maka akan sebanyak itu pula aku akan angkat bicara. Bagaimana tidak, ini menyangkut nasib manusia yang bernama anak-anak, makhluk yang sangat menjadi fokus perhatianku di sepanjang hidupku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemerintah mengharuskan pelaksanaan UN, anak-anak Indonesia menjalaninya dengan patuh. Sebagian besar dari mereka melaluinya dengan perjuangan yang berat dan jujur. Sebagian lagi dengan curang : karena tak kuat menanggung rasa takut akan ancaman tidak lulus. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S69v_6CNemI/AAAAAAAAAUw/qpt0nK3j63c/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S69v_6CNemI/AAAAAAAAAUw/qpt0nK3j63c/s320/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453700817469930082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang terjadi ? UN sudah berlalu dan hasilnya belum diumumkan. Namun masyarakat sudah tahu bagaimana hasilnya, siapa gerangan yang patut menyandang gelar GAGAL alias tidak lulus : Pemerintah sendiri ! Dalam hal ini pihak penyelenggara UN tidak lulus alias gagal dalam melaksanakan tugasnya. Dari mulai Soal UN yang tertukar, soal yang rusak, kesalahan jenis kertas, tidak diantisipasinya pemalsuan pensil 2B, belum turunnya dana UN, dll ... mana bisa pemerintah dikatakan lulus dengan penyelengaraan yang carut marut seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah seorang yang berprofesi sebagai pendidik. Dan saya sangat mengerti apa arti standar evaluasi bagi proses pendidikan. Ujian, tes, atau apapun namanya, kesemuanya sangat akrab dengan dunia pendidikan. Anak-anak sudah terbiasa dan anak-anak tidak takut. Anak-anak hanya takut usaha keras mereka dipecundangi oleh orang-orang yang tak berhati nurani, yang berbicara seenaknya saja, mengancam-ngancam tidak lulus, padahal kesalahan bukan ada di pihak anak-anak.&lt;br /&gt;Anak-anak sudah bekerja sangat keras, hingga kadang stress menerpa tanpa ampun lagi. Jangan lagi mereka dilecehkan oleh perilaku tak bertanggung jawab dari pihak-pihak yang seharusnya mengayomi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan membahas siapa pelaku pemalsuan pensil itu. Yang jelas mereka adalah kaum penjahat. Saya hanya akan menunggu dengan cemas, bagaimana nasib ribuan lembar Jawaban UN anak-anak yang tidak dapat discan itu. Jika penyelenggara UN masih punya hati, tentu mereka akan memeriksa secara manual, demi keselamatan anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, dalam bidang apapun, masyarakat akan dengan mudah melihat. Mana orang yang bekerja dan berbicara dengan hati nurani, dan mana yang bekerja dengan hati yang culas. Masyarakat mungkin awam, mungkin miskin, atau lemah. Tapi masyarakat tidak bodoh. Karena hati nurani terakhir di dunia ini, tersimpan di hati masyarakat. Dan dengan hati nurani ini, masyarakat sangat waskita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anni, Sukabumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks to Rifki Feriandi yang telak "memaksa" saya menulis notes ini. ( Sekarang aku tahu, adik angkatanku di SMAN4 Bandung ini, setelah berkurang kejahilannya kepadaku, kini berganti posisi menjadi provokator. Ya setidaknya provokator ide ... )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-238089667968322411?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/238089667968322411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/03/dengarlah-nuranimu.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/238089667968322411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/238089667968322411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/03/dengarlah-nuranimu.html' title='DENGARLAH NURANIMU'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S69woRs-dgI/AAAAAAAAAVI/UXfO9ulzRLQ/s72-c/5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-4164618228735973913</id><published>2010-03-20T05:20:00.000-07:00</published><updated>2010-03-20T05:29:10.454-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Like or Dislike : Ujian Nasional - UN - Harus Dihadapi ...</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S_fYm_E2I/AAAAAAAAAUo/awTYTlGMOsg/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 285px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S_fYm_E2I/AAAAAAAAAUo/awTYTlGMOsg/s320/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450691994927960930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sedikit hari lagi seluruh siswa kelas XII ( kelas 3 ) SMA di seluruh Indonesia akan menghadapi Ujian Nasional yang dilaksanakan secara serentak. &lt;br /&gt;Tak perlulah aku membahas tentang absah tidaknya hajatan nasional bagi anak- anak sekolah ini, hanya karena Mahkamah Agung sudah melarangnya, namun tetap dilaksanakan sebab Pemerintah bergeming terhadap keputusan lembaga peradilan tertinggi di Indonesia itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang juga sudah tahu, apa alasan MA melarang Pemerintah untuk melaksanakan UN. Namun bila ada teman-teman yang agak lupa, mari saya ingatkan kembali alasannya : MA berpendapat bahwa pelaksanaan UN dinyatakan melanggar HAM, terutama Hak Anak, karena UN terbukti meningkatkan kasus stress pada anak, dari kasus yang ringan semisal rasa cemas yang sangat, hingga kasus yang gawat hingga ke tingkat bunuh diri. MA memberikan syarat yang harus dipenuhi, jika pemerintah bermaksud tetap melaksanakan UN : tingkatkan fasilitas dan kualitas Sekolah beserta seluruh stake holdernya. Jika tidak, maka UN dilarang dilaksanakan. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S_GY-RSEI/AAAAAAAAAUY/-iAfXYylvBU/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S_GY-RSEI/AAAAAAAAAUY/-iAfXYylvBU/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450691565528893506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masalah HAM adalah issue yang sungguh serius. Pemerintah manapun dapat diseret ke Mahkamah Internasional di Denhaag, jika melakukan pelanggaran HAM terhadap warganya sendiri. Namun bagi penguasa pendidikan di negeri ini, itu sama sekali bukan masalah yang harus ditakutkan. Tak akan ada WNI yang bakal lancang menuntut Pemerintahnya sendiri sampai seluruh masyarakat dunia tahu. Lagi pula siapa sih di Indonesia ini yang akrab dengan penyelesaian masalah HAM ? Apalagi jika harus mengadukan pelanggaran HAM hingga ke tingkat Mahkamah Internasional , sungguh jauh panggang dari api. Lagi pula pemerintah punya sederet peraturan untuk menjustifikasi pelaksanaan UN, jadi mengapa pemerintah harus gentar ? Siswa stress mah EGP aja ...&lt;br /&gt;Pemerintah memang membutuhkan data kuantitatif mengenai peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Dan UN adalah salah satu cara pengambilan data yang paling mudah dilakukan. Masalah validitas, itu sudah beda bahasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ah sudahlah, aku tak mau lagi berbicara tentang mengapa pemerintah tetap menjalankan kebijakan ini, tentang reaksi keberatan masyarakat terhadap UN. Itu bukan bidang kajianku. Biarlah para pakar pendidikan saja yang membahasnya, lagi pula membicarakan sikap pemerintah terhadap UN hanya akan membuatku emosi saja.&lt;br /&gt;Jadi okelah kalau begitu. Kami rakyat kecil akan menerima tantangan itu ! Dengan jujur atau curang. &lt;br /&gt;( Namun kami memilih JUJUR ). Aku hanya akan menceritakan apa-apa yang aku tahu dan aku lihat di lingkungan tempatku mengajar saja, yang boleh jadi memiliki kemiripan situasi dengan di sekolah-sekolah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal semester genap ini, suasana di sekolah tempatku mengajar sudah berbeda bagi anak-anak kelas XII. Review semua pelajaran sejak kelas X, sudah dimulai sejak hari pertama mereka memasuki awal semester genap.&lt;br /&gt;Bukan perkara mudah bagi kami para guru dan para siswa untuk menjalani kelas Review.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah dimaklumi bersama, kurikulum yang berlaku sekarang memiliki perbedaan filosofi yang sangat signifikan dengan kurikulum jaman kita sekolah dulu. Secara sederhana gambarannya seperti ini : jaman kita sekolah dulu, pelajaran itu nyambung terus dari awal semester sampai akhir semester. Jadi seorang siswa tidak boleh melupakan pelajaran- pelajaran yang sudah lewat, meskipun pada ulangan harian dia sudah dinyatakan lulus. Kewajiban menguasai pelajaran dari awal sampai akhir ini akan diujikan di akhir semester, dengan sebuah tes komprehensif yang bernama : THB, TPB, Ulangan Umum, dll, yang soal-soal nya terdiri atas semua bab dari awal sampai akhir semester berjalan. Nah, kalau sistem yang baru nggak gitu. Sekarang ini jika seorang siswa sudah lulus dalam ulangan harian yang mengujikan sebuah Kompetensi Dasar ( dulu namanya satu pokok bahasan ), ya sudah, selesai perkara. Dia tidak harus mengingat- ingat pelajaran yang sudah dinyatakan lulus itu. Kewajiban dia selanjutnya adalah masuk ke bahasan berikutnya. Tidak ada kewajiban sekolah untuk melaksanakan Ulangan Umum yang merangkum semua bahasan dalam satu semester. Ini adalah jawaban terhadap pertanyaan, mengapa pengetahuan sebagian besar siswa sekarang sering melompat-lompat, tidak integral, tidak utuh, dan gamang. Begitulah kira-kira penjelasan ringkasnya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S-4SBGCOI/AAAAAAAAAUQ/_a9Kf0vIo10/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 188px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S-4SBGCOI/AAAAAAAAAUQ/_a9Kf0vIo10/s320/4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450691323143522530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan kurikulum seperti ini, siswa akan dihadang masalah besar di akhir masa sekolah oleh sebuah tes yang bernama Ujian Nasional - UN - (dulu namanya EBTANAS ). Mengapa para orang tua, guru dan siswa merasa berkecil hati dengan UN ? Mau tahu ? Ini jawabannya : soal-soal UN itu komprehensif, dari semester 1 sampai semester 6 ! Bayangkan ! bukankah selama ini anak-anak tidak menjalani sistem kurikulum yang komprehensif seperti itu, melainkan parsial, terpenggal-penggal per Kompetensi Dasar ? Bagaimana ini ? Alangkah tidak sinkronnya kebijaklan UN dengan proses pendidikan di sekolah. Tuh kan jadi ngomongin pemerintah lagi ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keadaan seperti ini, pihak sekolah tentu tidak mau menjadikan para siswa sebagai tumbal bagi sistem yang nggak jelas seperti itu. Akhirnya jalan tengah yang diambil adalah, sekolah melaksanakan test komprehensif di setiap akhir semester yang bernama Ujian Akhir Semeter - UAS. Bahkan beberapa sekolah ada juga yang melaksanakan ujian mid semester, tentu di tengah semester. Ini terpaksa dilakukan, untuk menjembatani gap antara pelaksanaan kurikulum , dengan kebutuhan siswa akan penguasaan soal-soal komprehensif. Dalam UAS tersebut, soal-soal yang diujikan meliputi semua materi dari awal nyambung sampai akhir, hingga diharapkan siswa dpt menguasai seluruh materi pelajaran secara integral. Tentu saja sebagai konsekuensinya, kami para guru, harus memberikan pelajaran secara berkesinambungan, utuh tidak terpenggal-penggal, agar siswa tidak melupakan pelajaran yang terdahulu. Gimana ? Nggak sinkron sama sistem kurikulum sekarang bukan ? Jadi kaya model sekolah jadul aja, kan ? Tapi ya apa boleh buat, dari pada anak- anak kita nanti pada pingsan menghadapi soal-soal UN ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah kami, sejak awal semester 6, anak-anak sudah belajar dengan cara yang berbeda. Mereka hanya belajar pelajaran yang diujikan di UN saja. Pelajaran yang lain minggir (karena sudah diselesaikan di semester 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para siswa dibimbing secara intensif dengan sistem pengajaran kombinasi antara pengajaran di sekolah dengan pengajaran di bimbel. Di sekolah kami terbiasa mengajarkan konsep, sementara bimbel lebih fokus pada trik mengerjakan soal dengan cepat. Pemantapan dilakukan setiap hari, dilanjutkan malam hari melalui pendampingan belajar mandiri (kami adalah sekolah boarding, jadi murid-murid tinggal di asrama, dan guru mendampingi sampai malam hari ). Untuk menguji kemampuan anak, kami melaksanakan Try Out UN sebanyak 5 kali, sehingga kami dapat memetakan kemampuan siswa dengan lebih objektif. Dengan hasil TO itu pula, kami para guru dapat lebih fokus membimbing siswa yang masih lemah di mata pelajaran tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak itu, dengan seribu kelelahan yang tergambar jelas di matanya, tetap datang ke kelas dengan tabah. Mengikuti pelajaran dengan patuh, mengikuti setiap program bimbingan dengan sabar, karena mereka tahu, hanya dengan cara itu mereka dapat menaklukkan UN, karena mereka tahu, UN harus dihadapi dengan jujur, harus mereka kerjakan dengan tangan mereka sendiri, karena kami telah bersepakat untuk memilih jalan kejujuran, meski nilai yang kami raih hanya pas-pasan saja. Kami tanamkan pengertian ke dalam dada anak-anak muda ini, bahwa kejujuran adalah di atas segalanya. &lt;br /&gt;Kian dekat ke UN, bimbingan semakin ditingkatkan intensitasnya. Setiap kelas dibimbing oleh 3 guru sekaligus., agar setiap anak dapat terlayani dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S_S2rnkmI/AAAAAAAAAUg/dxg5bXc33rM/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S_S2rnkmI/AAAAAAAAAUg/dxg5bXc33rM/s320/2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450691779662156386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sampai sebulan terakhir, aku perhatikan anak-anak sudah makin sulit tertawa saja. Ekspresi mereka serius, tegang, khawatir. Kami para guru telah berupaya dengan segala cara mengurangi tingkat stress anak-anak dengan mengajak mereka main futsal pada sore hari, jogging, main basket bareng, nyanyi -nyanyi dan main musik di ruang musik, nonton film ... Mereka sangat senang dengan semua selingan itu. Namun semua kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Wajah mereka dengan cepat kembali tersaput awan manakala mereka harus kembali belajar. Mereka tetap merasa cemas, karena hantu yang nyata, belum mereka taklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya bimbingan belajar yang kami berikan, bimbingan ubudiyahpun terus kami lakukan dengan penuh rasa ikhlas dan empati yang mendalam terhadap anak-anak ini. Tak semalam pun mereka lewati tanpa mendirikan sholat Lail. Munajat diiringi isak tangis dan linangan air mata, kerap aku saksikan seusai sholat-sholat fardu mereka. Intensitas ibadah terus ditingkatkan. Setiap hari tadarus Al Quran tak pernah terlewatkan, sholat sunah ditegakkan, shaum sunah, bahkan ada diantara mereka yang melaksanakan shaum Daud. Anak-anak ini, tak seperti anak-anak seusianya yang sehabis sholat langsung berdiri lantas berlari, duduk berlama-lama berdoa mengangkat tangannya, memohon pertolongan dari Allah. Karena mereka sadar betul, takdir mereka di UN benar-benar ada di tangan Allah. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S-oUhFa1I/AAAAAAAAAUI/1KSxM4MDLAM/s1600-h/5.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 226px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S-oUhFa1I/AAAAAAAAAUI/1KSxM4MDLAM/s320/5.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450691048936663890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dan puncaknya, kemarin kami meliburkan siswa kelas X dan XI. Pada malam hari menjelang kepulangan anak- anak ke rumahnya masing_masing, kami menggelar doa bersama di Masjid sekolah. Suasana malam yang syahdu ditambah gerimis yang turun sejak sore, menambah kekhusyukan doa kami malam itu. Ayat-ayat suci dilantunkan, nasihat-nasihat disampaikan, doa-doa dipanjatkan. Tak seorangpun di antara kami, seluruh murid dan guru, juga orang tua yang hadir, yang tak menitikkan air mata haru. Betapa kami telah memasrahkan segalanya hanya kepada kehendak Allah semata. Para guru telah ikhlas bekerja keras siang dan malam, dan anak-anak telah belajar dengan sekuat tenaga mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk menguasai pelajaran. Kami telah berusaha dengan seluruh kesabaran kami, kami telah bertawakal, dan hanya Allah lah yang maha memutuskan. Dan kami berharap, segala jerih payah kami akan berbuah keberhasilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai berdoa, siswa kelas XII menyalami guru satu persatu dan memohon doa restu agar berhasil dalam UN. Sungguh tak kuasa aku menahan jatuhnya air mata, ketika satu persatu anak-anak yang telah kubimbing selama 3 tahun ini menyalamiku, memohon maaf, dan memohon doa restu. Oh, tentu saja, tanpa dimintapun, aku sudah memaafkan mereka dan akan selalu mendoakan yang terbaik bagi mereka. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S-eq_W2TI/AAAAAAAAAUA/7gu7_LupZTw/s1600-h/6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 207px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S-eq_W2TI/AAAAAAAAAUA/7gu7_LupZTw/s320/6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450690883170523442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selamat berjuang anak-anakku ! Hadapi UN dengan berani dan jujur ! Semoga Allah SWT akan mengabulkan semua doa-doa yang telah dipanjatkan, memberikan kemudahan , dan membalas segala kesabaran dan keikhlasanmu, dengan kebaikan yang berlimpah, amiin ...&lt;br /&gt;(Meremang bulu kudukku, mengenang anak-anak di sekolah-sekolah di pedalaman terpencil yang serba minim fasilitas. Mungkinkah mereka mendapatkan pembinaan seintensif itu ? Tabahkan hatimu, anak-anak Indonesia !)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anni, Sukabumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-4164618228735973913?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/4164618228735973913/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/03/like-or-dislike-ujian-nasional-un-harus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/4164618228735973913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/4164618228735973913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/03/like-or-dislike-ujian-nasional-un-harus.html' title='Like or Dislike : Ujian Nasional - UN - Harus Dihadapi ...'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S_fYm_E2I/AAAAAAAAAUo/awTYTlGMOsg/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-6378410081379117766</id><published>2010-03-20T05:13:00.000-07:00</published><updated>2010-03-20T05:19:59.699-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>NGERUJAK YUUUK .... !</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S9V_eIJbI/AAAAAAAAAT4/CkbLvIMfTDc/s1600-h/a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S9V_eIJbI/AAAAAAAAAT4/CkbLvIMfTDc/s320/a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450689634537842098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku ditanya, " Makanan apa yang paling aku sukai, namun harus paling aku jauhi ? " maka jawabannya hanya satu : RUJAK !&lt;br /&gt;Rugi betul. Padahal Rujak adalah makan yaang rasanya sangat enak, menyegarkan, dan bikin ketagihan. Sayang, aku memiliki perut yang sangat sensitif. Kena asam atau pedas sedikit saja, dokter urusannya. Maklumlah faktor usia. Dulu waktu aku masih lebih muda, apalagi sewaktu masih kanak- kanak dan remaja, aku paling doyan makan rujak yang rasanya super pedas, bahkan dalam keadaan perut kosong sekalipun. Tapi nggak ngaruh tuh. Sehat walafiat saja, sama sekali nggak lantas jadi mules-mules ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri kita yang beriklim tropis sungguh kaya dengan hasil buah-buahan. Tengoklah jenis buah-buahan tradisional, khas Indonesia yang dijajakan di setiap sudut jalan, di pasar atau sesekali di supermarket. Sangat beragam. Buah-buahan asli Indonesia sungguh tiada duanya : Mangga , Jambu Biji, Jambu Air, Belimbing, Duku, Salak, Nangka , Durian, Jeruk, Rambutan, Manggis, Pisang, Nenas, Pepaya, Sawo, begitu melimpah ruah. Dan masih ingatkah anda akan buah-buahan yang kini semakin langka dijumpai di pasaran, semisal buah &lt;br /&gt;Wuni ( huni ), Gowok, Delima, Langsat, , Ceremai, Sawo Belanda yang menguningkan gigi, Jamblang yang membirukan lidah, Kecapi, buah nona, Lobi-lobi yang asamnya ajib, atau Kesemek si buah berbedak ? Semua buah-buahan itu, sangat mempesona para turis asing asal negara yang beriklim beku, dan mereka menyebut buah-buahan itu sebagai buah-buahan yang eksotis ! Beberapa jenis buah - buahan itu sangat pas dan sedap untuk diolah menjadi Rujak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir di setiap sudut jalan kita dapat menemui penjual rujak dengan gerobak berkacanya. Biasanya untuk penjual rujak keliling ini, bumbu rujaknya telah mereka olah terlebih dahulu, dan mereka simpan di dalam toples kaca sehingga tidak perlusetiap saat mengulek lagi. Supaya buah-buahannya tetap segar dan dingin, mereka meletakkan gumpalan es batu diantara buah-buahan itu. Jaman dulu, orang makan rujak dengan alas/ bungkus daun pisang, dan sepotong lidi sebagai pengganti sendok. Sekarang abang penjual rujak menyediakan kertas pembungkus berwarna coklat, atau bisa juga dengan plastik bening, masih dengan lidi atau rautan bambu yang dipotong agak panjang, sebagai pengganti sendok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat bumbu rujak sangat mudah. Hanya terdiri atas campuran cabe merah, cabe rawit, gula merah, terasi, asam jawa, garam. Kalau rasanya ingin lebih enak, bisa ditambahkan kacang tanah goreng dan beberapa iris pisang kelutuk yang masih mentah. Ukuran pedas atau tidaknya, tergantung dari berapa banyak cabe rawit yang ditambahkan ke dalamnya. Kemudian semua bumbu itu diulek dalam cobek batu. Nah, masalahnya, jaman sekarang ini tidak semua ibu-ibu bisa ngulek dengan baik. Biasa pakai blender sih. Padahal bumbu rujak akan berasa aneh kalau dihaluskan dengan blender. Harus diulek, baru sip ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya buah-buahan apapun bisa saja diolah menjadi rujak. Namun biasanya para pedagang rujak hanya memilih buah-buahan jenis tertentu saja untuk rujak buatannya. Mereka hanya memilih Mentimun, Bengkuang, Ubi merah mentah, Kedongdong, Nenas, Jambu air dan Mangga Mengkal. Semua buah-buahan itu diiris tipis-tipis, tapi mengrisnya nggak boleh pakai talenan, harus langsung diiris di tangan. Kemudian dicampur dengan semua bumbu yang sudah dihaluskan. Nah, jadi deh seporsi rujak buah-buahan segar yang berwarna coklat kemerahan, berasa manis, pedas, asam .... hmmmm enaaakkk ... &lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S9K4KMTZI/AAAAAAAAATw/_G21N-FwOqE/s1600-h/b.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S9K4KMTZI/AAAAAAAAATw/_G21N-FwOqE/s320/b.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450689443596619154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selain rujak ulek, masih ada beberapa jenis rujak yang kita kenal, semisal Rujak Serut, Rujak Malaysia, Rujak Cuka, Rujak Cingur, Semuanya berasa sedap dan menyegarkan. Namun ada satu rujak yang tak kan kulupakan, karena cara membuatnya yang jorok, dijajakan oleh pedagang yang juga terlihat jorok, tapi rasanya .... hmmmm ... mak nyuuss deh ... Harganya juga super murah. &lt;br /&gt;Ya. Apalagi kalau bukan Rujak Bebeg. Coba deh lihat pedagangnya. Jorok banget. Pikulannya dekil, alat-alatnya kotor, lumpang (alat penumbuk) nya terlihat seperti yang nggak pernah dicuci, pisaunya kotor, buah-buahannya kotor, tangan si Abangnya kotor juga. Abis gitu, pas bikinnya semua buah-buahan dan bumbunya kan ditumbuk bersama-sama dalam lumpang kayu itu. Eh itu si Abang, bukannya numbuk sambil duduk manis, ini malah sambil jongkok. Trus kan buah-buahan yang ditumbuk itu muncrat kemana-mana, termasuk ke celana dan baju si Abangnya. Pas sudah selesai, si Abangnya berdiri dan mengibas - ngibaskan cipratan itu dari celana dan bajunya. Masuk nggak percikan-percikan kotor itu ke dalam lumpang ? Ya iya lah, masak ya iya dong. Kemudian semua ramuan hancur remuk yang berwarna merah hijau kuning coklat nggak jelas itu, dimasukkan dengan sendok lebar yang kotornya aduhai, ke dalam pincuk daun pisang. Dan si pembeli mendapat bonus lipatan kecil daun pisang sebagai pengganti sendok. Gimana ? jorok banget kan ? tapi rasanya ? enak bangeeettt ... !! pokoknya, makin jorok, makin enak deh .. hehe ... dasar jorok ya ...&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S9BJs2SOI/AAAAAAAAATo/FmyQ4HXdNWY/s1600-h/c.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S9BJs2SOI/AAAAAAAAATo/FmyQ4HXdNWY/s320/c.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450689276506687714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu jaman SMA, kadang kalau sedang belajar kelompok, tuan rumah menyediakan secobek rujak sebagai teman mengerjakan soal -soal Fisika yang jlimet. Nah kalau sudah begini, makan rujak sambil becanda jadi nomor satu, belajarnya sih belakangan, itu juga kalau nggak kesorean ...&lt;br /&gt;Konon penggemar utama rujak adalah kaum perempuan. Entah benar atau tidak. &lt;br /&gt;Kaum perempuan yang sedang hamil muda, biasanya sangat gemar makan rujak. Keinginan makan rujak ini sering timbul dengan tiba-tiba dan tak kenal waktu. Paling repot kalau ngidam rujaknya pas malam hari. Nah suaminya pasti kerepotan mencari rujak ke sana - kemari. Mana ada orang berjualan rujak di malam hari, bukan ? Padahal menurut kepercayaan, keinginan ini harus dituruti karena jika tidak akan berakibat buruk pada jabang bayi yang dikandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya sedikit cerita nih. Dulu, jaman Batavia masih diperintah oleh JP Coen, sang Meneer itu punya dokter pribadi yang bernama Jacob de Bondt alias Bontius yang resminya bekerja untuk VOC. Dokter ini sering menuding rujak sebagai biang keladi jatuh sakitnya para pelaut VOC yang tiba di Batavia. Para petualang yang telah berbulan-bulan berada di tengah laut dan kekurangan makanan segar ini, kerap menjadi kalap manakala tiba di Batavia dan melihat limpahan buah-buahan yang baru pertama kali mereka lihat seumur hidupnya. Dan selanjutnya mudah diterka. Mereka menyantap buah-buahan itu dengan berlebihan alias rakus. Padahal tidak semua buah-buahan itu cocok dengan perut orang Eropa. Apalagi jika buah-buahan itu telah diolah menjadi rujak yang berasa asam pedas. Ya jelas saja, jatuh sakitlah mereka. Dari mulai sakit mules - mules biasa, sampai diare, disentri, tifus, bahkan kolera. Tak sedikit diantara mereka yang menemui ajalnya gara-gara kerakusan mereka sendiri. Hemh ... Rujak kok dilawan ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman boleh mengglobal, selera boleh menginternasional. Tapi Rujak tetap tak tergeserkan dari daftar makanan favorit orang Indonesia. Sekarang ini cuaca sudah semakin tidak jelas saja. Dibilang musim kemarau, masih sering turun hujan. Dibilang musim hujan, kadang berhari - hari kering kerontang. Nah kalau cuaca sedang panas, anda merasa gerah, migren, suntuk dan sebal dengan kungkungan pekerjaan yang itu-itu saja, keluarlah sejenak, atau minta tolong OB untuk membeli sepiring rujak untuk anda santap bersama teman. Nggak asyik kalau makan rujak sendirian. Dijamin deh, semua perasaan nggak enak dan kesal itu akan jauh berkurang ...&lt;br /&gt;Jadi ? Ngerujak yuuuk ... ssshhhaaah ... pedaaasss ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;anni, Sukabumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-6378410081379117766?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/6378410081379117766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/03/ngerujak-yuuuk.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6378410081379117766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6378410081379117766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/03/ngerujak-yuuuk.html' title='NGERUJAK YUUUK .... !'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S6S9V_eIJbI/AAAAAAAAAT4/CkbLvIMfTDc/s72-c/a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-5817733923310644263</id><published>2010-01-17T07:33:00.000-08:00</published><updated>2011-06-07T19:20:07.989-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Prof. DR. Sukirno, PHd : Guruku yang sederhana itu sudah pergi ...</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S1MxwQv_HxI/AAAAAAAAATQ/yGEZrl3z2rE/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 286px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S1MxwQv_HxI/AAAAAAAAATQ/yGEZrl3z2rE/s320/2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427736681111297810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat 8 Januari 2010, adalah malam yang tak kan pernah aku lupakan seumur hidupku. Malam yang membuatku shock, termenung dan tak putus berdoa sambil berurai air mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 19.30 Wib, tengah aku bersantai sambil membaca buku, tiba2 ponselku bergetar. Panggilan dari Ning Hardiawan, teman sekelasku semasa di SMA. Kuangkat dan kubalas salamnya dengan penuh ceria dan kerinduan. Namun suara yang kudengar bukan suara Ning yang biasanya penuh canda. Nadanya gugup, gagap dan terdengar seperti orang bingung. Dan sesaat kemudian, dg suara tersendat, dia mengabarkan berita yang sangat mengejutkanku, yang membuat kepalaku mendadak pening. Berita yang paling tak kuduga, dan paling tak ingin kudengar : Pak kirno, guru fisika kami semasa sekolah di SMA4 Bdg, telah tiada, meninggal dunia karena terkena serangan jantung ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalillahi wa innailaihi roji'un ... Aku sampai blank, tak tahu mesti berkata apa. Dan pembicaraan terputus begitu saja, karena aku dan Ning sama - sama ada dalam keadaan galau, tak percaya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Pak Kirno guru biasa, mungkin aku tak akan sampai terpukul seperti ini. Tapi Pak Kirno beda. Beliau guru yang luar biasa. Guru yang nyaris sempurna di mataku sebagai mantan siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah mengenal Pak Kirno sejak aku berusia 12 tahun, dan duduk di kelas 6 SD. Beliau adalah teman kuliah kakakku, di departemen Fisika ITB. Seingatku, dulu beliau pernah beberapa kali main ke rumahku untuk belajar bersama kakakku itu, dan itulah saat Pak Kirno melihatku untuk pertama kalinya. Melihatku sebagai anak kecil yang gampang disuruh-suruh bikin kopi, beli somay ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, aku kembali bertemu dengan beliau ketika aku sudah duduk di bangku SMA. Kali ini Pak kirno (yang dulu kupanggil Mas kirno) berdiri di depanku sebagai guru fisika yang berwibawa. Yang tampil berbeda dengan yang kutemui dulu. Pak Kirno yang ini tampil lebih formal, serius, dan tak banyak bicara. Kurang lebih dua tahun Pak kirno mengajar di kelasku. Dua tahun yang sangat berkesan ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak kirno yang kulihat di bangku SMA, berbeda dg Mas Kirno yang kulihat ketika aku masih kecil dulu. Rasanya dulu Pak kirno nggak berkumis seperti itu. Namun tetap tinggi, kurus dan berpakaian berantakan. Pak Kirno memang tidak pernah tampil rapi. Kemeja apapun yang dikenakannya, pasti keluar - keluar dari pinggang celana panjangnya, tak pernah rapi seperti guru-guru lainnya. Namun Pak kirno memang dikaruniai wajah ganteng, sehingga seberantakan apapun penampilannya, tetap saja ganteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak perempuan di kelasku dan di kelas-kelas yang beliau ajar, sering cekikikan sambil bisik-bisik membicarakan beliau. Membicarakan apa lagi kalau bukan kegantengan dan wajahnya yang baby face. Sesekali ada saja temanku yang bandel dan berani menggodanya, meski tidak terang-terangan. Tapi lucunya, Pak kirno tetap cool, dingin tanpa ekspresi, tak menanggapi sedikitpun godaan dari cewek-cewek centil itu. Namun demikian, samar - samar aku tetap bisa menangkap kegugupan di wajahnya, yang beliau sembunyikan dengan cepat-cepat menulis soal di papan tulis. Soal yang sulit, yang membuat si bandel penggoda langsung schaak maat ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak perempuan yang normal, tentu mataku bisa membedakan, mana cowok ganteng dan mana cowok yang berwajah remedial. Dan Pak Kirno, meski guru kami, dia termasuk cowok ganteng. Kan masih kuliah, di ITB, masih bujangan lagi. Namun jangan pernah mengira aku berani menggoda beliau. Menatap matanya saja aku tak berani. Aku nyaris tak pernah berbicara dengan beliau, kalau tidak ditanya, atau kalau kebetulan aku ketiban sial disuruh maju ke depan untuk mengerjakan soal-soal fisika. Dalam hal Pak Kirno, aku harus jaim abis. Masalahnya, Pak kirno kan teman kakakku. Jadi kalau aku macam-macam, pasti kakakku yang galak itu akan tahu. Lagi pula, kakakku sudah mewanti-wanti aku untuk tidak membuatnya malu dengan nilai-nilai fisikaku yang jelek. Ya sudah, lengkaplah penderitaanku ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati-matian aku belajar fisika, agar nilaiku tak sampai kurang dari 6. Alhamdulillah, meski tidak pernah meraih nilai top seperti yang diraih Ning, nilaiku tidak pernah membuat malu kakakku (kakakku ini memang jail banget, dia suka mengecek nilaiku sehabis ulangan fisika,huh ! ). Namun sungguh, bukan karena ancaman kakakku, aku jadi melek fisika, namun karena faktor cara mengajar Pak Kirno yg sangat menarik : sederhana, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, terstruktur, dan menggunakan soal-soal yang berjenjang sesuai dengan kemampuan siswa.Kadang dengan ilustrasi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagiku, Fisika yang tadinya menyeramkan, menjadi pelajaran yang lumayan jinak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya sebentar beliau mengajar di SMAN4 bandung, namun dalam waktu singkat beliau berhasil meraih simpati ratusan murid - murid dan rekan guru. Pak kirno terkenal sebagai guru yang sangat pandai ( sejak sekolah di SMA ini pun - beliau adalah alumni SMA4 juga, angkatan 1979- beliau dikenal sebagai salah seorang murid yang berotak cemerlang ), berpenampilan sederhana dan apa adanya. Beliau memiliki hati yang sangat tulus dalam membantu siswa-siswanya, tak hanya di bidang akademik, namun sampai pada masalah pribadi. Tak sedikit masalah pribadi teman-temanku, dari yang ringan sampai yang pelik, selesai berkat tangan dingin beliau. Beliau sangat dekat dengan murid - muridnya. Laki-laki dan perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas lulus SMA pada tahun 1985, aku tak pernah lagi mendengar kabar beliau. Kudengar beliau melanjutkan studinya ke London untuk meraih gelar Master dan PHd.&lt;br /&gt;Hingga 24 tahun berlalu tanpa kabar berita, dan kehidupan kami sudah banyak berubah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009, tanpa sengaja aku menemukan kontak beliau di salah satu website ITB. Mulanya aku ragu, apakah ini benar Pak Kirno guruku ataukah bukan. Lalu kucoba-coba mengirim email kepadanya, sekedar menyapa dan menanyakan kabar beliau dan tak lupa aku memperkenalkan diriku, sebagai mantan siswanya di kelas 3B8. Semoga beliau tidak lupa padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu berlalu, dan aku sudah lupa tentang email itu. Hingga pada suatu sore, ketika aku membuka inbox ku, terselip diantara beberapa email yang masuk, nama SUKIRNO. Haaa ...!! Ini dia surat yang kutunggu. Cepat ku klik email itu, dan tak sabar kubaca. Singkat saja bunyinya : " waalaikumsalam wr wb, kabar baik Anni (hei ! Dia masih ingat nama panggilanku !). Kamu sekarang dimana ? ( Laaah ?? Aku dibilang kamu ? Aku kan sudah ibu-ibu, dia pikir aku masih anak SMA kali ya ?? ), nikah dengan siapa ? Anaknya berapa ? Terimakasih atas emailnya. Salam, Sukirno ". Sudah, hanya sesingkat itu. Dengan antusias, aku balas emailnya dengan mengetik sepanjang 2 halaman. Dia nggak tau aja, kalau sudah nulis aku nggak bisa berhenti. Aku bercerita tentang segala macam, dari nostalgia masa SMA, sampai kehidupanku sekarang. Dan besoknya beliau langsung membalas emailku dengan sebaris kalimat "alhamdulillah anni, semoga anni tetap bahagia dengan keluarga, dan ada dalam lindungan Nya, amin. Salam, Sukirno ". Hemh .. dua halaman dibalas satu kalimat ...sabaarr ..&lt;br /&gt;tapi hari itu aku senang sekali, karena di email balasannya,beliau menyertakan foto beliau, lengkap dengan toga dan baju kebesaran yang keren ( aku rasa baju kebesaran anggota Majelis Wali Amanat ITB ). Wah, pangling sekali aku melihat foto beliau, sudah lebih tua dan lebih gemuk dengan uban di sana - sini. Aku merasa kangen sekali pada guruku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu, kami jadi sering kontak, baik melalui SMS maupun lewat pembicaraan telfon. Bahkan beliaupun akhirnya bergabung dengan mailing list alumni SMA4 Bandung. Kian beragam saja kontak yang terjadi di antara kami. Jika dalam SMS dan pembicaraan di telfon aku sangat berhati-hati dalam bicara dan cenderung formal, maka di milis kami bisa lebih cair, bisa bercanda. Kadang aku lebih dulu memulai canda, dan beliau balas, dan direspon beramai-ramai oleh anggota milis yang lain. Lucu sekali. Akrab, penuh rasa kekeluargaan, mengesankan, dan semua pembicaraan berlangsung dalam koridor sopan santun orang dewasa yang bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari milis inilah baru kuketahui sepak terjang Pak Kirno selama ini, semua prestasinya, semua kepeduliannya terhadap almamater, semua simpatinya terhadap siswa yatim, semua perhatiannya kepada mantan guru2 nya, semuanya aku ketahui melalui diskusi-diskusi di milis itu, dan kesemuanya itu menambah kekagumanku dan rasa hormatku kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa banyak hartanya yang sudah beliau dermakan kepada sekolah kami, dan demi kelangsungan pendidikan siswa-siswa yatim dan dhuafa. Entah berapa juga yang sudah beliau infaqkan kepada para guru sepuh pensiunan yang membutuhkan biaya pengobatan karena berbagai penyakit. Secara pribadi beliau pernah mengatakan kepadaku, bahwa anak-anak dhuafa itu mengingatkannya pada masa mudanya yang penuh dengan keprihatinan sebagai anak yatim yang berasal dari keluarga dhuafa. Saking miskinnya, sampai-sampai beliau tidak berani menaksir teman perempuannya, dan tak berani menerima jika ada teman perempuan yang menaruh hati pada beliau. Kata beliau," Untung Allah memberi saya otak yang mudah menerima pelajaran, sehingga berkurang rasa minder saya ". padahal aku yakin, anak perempuan mana yang tidak akan jatuh cinta pada Ketua OSIS yang ganteng dan berotak briliyant itu. Masih menurut Pak kirno, untuk dapat menyelesaikan studinya, beliau mendapat beasiswa dari SMA4, dan untuk itu beliau merasa sangat berhutang budi ( yang hutang budinya beliau bayar hingga akhir hayatnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang peranannya di masyarakat, beliau dipercaya sebagai Ketua Ikatan Alumni SMA 4 Bandung, Ketua Komite SMAN 3 Bandung, Ketua Komite SMAN2 bandung, Sekretaris Majelis Wali Amanat ITB, dan kudengar bocoran, bahwa seusai pemilihan Rektor ITB kemarin yang beliau terlibat di dalamnya, pihak Institut bermaksud mendudukkannya sebagai Wakil Rektor. Belum lagi berbagai jabatan yang beliau pegang baik di lingkup nasional maupun di dunia internasional. Ini menunjukkan bahwa Pak Kirno adalah orang yang sangat berprestasi dan sangat terpercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadiannya yang hangat dan suka bercanda, memang membuat banyak orang menaruh rasa suka padanya, bahkan orang yang baru pertama kali bertemu. Beliau tidak pernah membeda-bedakan dengan siapa beliau berbicara. Semua dihadapi dengan penuh perhatian dan santun, sehingga setiap orang yang diajak berbicara merasa terhargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan-pandangan beliau sangat menjangkau jauh ke depan. Beliau adalah pekerja keras yang sangat bertanggung jawab, Ayah dan Suami yang penyayang ( beliau sering menceritakan kisah cintanya dengan istri tercinta - teh Yetty Sukirno yang berparas sangat cantik - dan betapa bangganya beliau kepada putra-putrinya). Pak Kirno meskipun sukses, tapi orangnya nggak sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, sungguh beruntung dipenghujung usianya, aku sempat mengenal Pak kirno lebih dekat. Beliau benar-benar seorang yang sangat sederhana dengan jiwa yang besar, hati yang bersih, polos, lurus, dada yang lapang. Beliau juga orang yang sangat sholeh, sangat taat beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sosok yang sangat kusayangi seperti kakakku sendiri dan kuhormati itu telah tiada. Allah yang menciptakannya, telah memanggilnya kembali pulang keharibaanNya. Allah sangat sayang kepada Pak Kirno melebihi rasa sayang keluarganya dan orang- orang di sekelilingnya. Allah ingin menjaga Pak Kirno agar tetap baik dan sholeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Pak Kirno, selamat jalan guruku tercinta, kakak kebanggaanku, sahabat kami tersayang ... Semua nasihat - nasihatmu, semua ilmu yang bermanfaat, semua kesederhanaanmu, tak kan pernah kami lupakan sampai ajalpun menjelang kami. Semua kehidupanmu yang indah akan menjadi suri tauladan bagi kami dalam menghadapi kehidupan yang terkadang terjal dan berliku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kirno, dari lubuk hati yang terdalam, kami ucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Hanya doa yang dapat kami panjatkan untuk membalas semua jasa yang telah kau berikan kepada kami. Selebihnya, hanya Allah yang akan membalasnya. Jazakallah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goodbye,Sir !&lt;br /&gt;Kami hanya belum dipanggil, kami hanya sedang mengantri, dan engkau telah mendahului kami. Kami akan sangat merindukanmu, kangen yang tak kan terjawab, kecuali dengan menghadirkan kembali sosokmu di hati dan kenangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa dan airmata kami mengiringi kepergianmu untuk selamanya, kepergian yang abadi, tak kan kembali. Hanya kesholehan dan amal ibadahmu yang akan abadi pula menyertaimu. Semoga Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, mengampuni semua kekhilafanmu, dan menempatkanmu di tempat yang terbaik di sisi Nya. Amin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S1MvlFYkVJI/AAAAAAAAATI/1ZfRyMumpos/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S1MvlFYkVJI/AAAAAAAAATI/1ZfRyMumpos/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427734290058466450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-5817733923310644263?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/5817733923310644263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/01/profesor-sukirno-saad-guruku-yang.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5817733923310644263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5817733923310644263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/01/profesor-sukirno-saad-guruku-yang.html' title='Prof. DR. Sukirno, PHd : Guruku yang sederhana itu sudah pergi ...'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S1MxwQv_HxI/AAAAAAAAATQ/yGEZrl3z2rE/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-525758485121486735</id><published>2010-01-07T07:48:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T08:09:55.387-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-1f990d9fa2886124" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v21.nonxt3.googlevideo.com/videoplayback?id%3D1f990d9fa2886124%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3DDDC10389B6B0EE79C3CFA914454A831B6996A7B.4241E65A39E7CDC86AB62672A64380D56902F0F2%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D1f990d9fa2886124%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DtumbDEpf_yXXHZcbTdsosdyac3E&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v21.nonxt3.googlevideo.com/videoplayback?id%3D1f990d9fa2886124%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3DDDC10389B6B0EE79C3CFA914454A831B6996A7B.4241E65A39E7CDC86AB62672A64380D56902F0F2%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D1f990d9fa2886124%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DtumbDEpf_yXXHZcbTdsosdyac3E&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-525758485121486735?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=1f990d9fa2886124&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/525758485121486735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/01/blog-post_07.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/525758485121486735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/525758485121486735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/01/blog-post_07.html' title=''/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-2167433386060549467</id><published>2010-01-07T07:28:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T07:45:51.684-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Song from my Heart'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-802805cd58e3f1b3" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v18.nonxt7.googlevideo.com/videoplayback?id%3D802805cd58e3f1b3%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D43DC508002775E81CCC377FF9CBC330D8303E47D.DF8F88D7A3E397C2EF16FDBABC53B6843EFEB89%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D802805cd58e3f1b3%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3Ddox3yGffsj4lFOzo2yY7-7Jh2jI&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v18.nonxt7.googlevideo.com/videoplayback?id%3D802805cd58e3f1b3%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D43DC508002775E81CCC377FF9CBC330D8303E47D.DF8F88D7A3E397C2EF16FDBABC53B6843EFEB89%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D802805cd58e3f1b3%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3Ddox3yGffsj4lFOzo2yY7-7Jh2jI&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-2167433386060549467?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=802805cd58e3f1b3&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/2167433386060549467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/01/blog-post.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/2167433386060549467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/2167433386060549467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/01/blog-post.html' title=''/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-8253811886682306037</id><published>2010-01-04T06:57:00.000-08:00</published><updated>2010-01-04T15:22:38.226-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>EKSTASI  ITU  BERNAMA  :  NEW  YEAR'S  EVE</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IEYatq6cI/AAAAAAAAAS4/J7nyL8hhYrs/s1600-h/8.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 228px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IEYatq6cI/AAAAAAAAAS4/J7nyL8hhYrs/s320/8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422901718841747906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Malam pergantian tahun sudah beberapa hari berlalu. Tak ada yang istimewa yg terjadi di daerah tempat aku tinggal.&lt;br /&gt;Hanya sekelumit kisah tertinggal, yang ingin kuceritakan padamu, wahai sahabatku ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal di sebuah kota kecamatan di pedalaman Jawa Barat di pelosok Sukabumi. Dikota kecil ini, malam pergantian tahun yang seharusnya meriah, tak ada bedanya dengan malam - malam sebelumnya : sunyi, sepi, lamban, lesu,dan beku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan yang terjadi di luar sana di seluruh bagian bumi ini : semua orang terlihat lebih sering menengok ke arah jam, dibanding hari - hari sebelumnya. Menghitung setiap detik, setiap pergeseran jarum jam, dengan harap-harap cemas. Kian malam, kian kuat debaran di dalam dada mereka. Galibnya menanti sebuah moment yang sangat spesial, berjuta orang ini mendawamkan satu hal yang sama : ingin segera datang hari, dimana kepahitan di tahun lalu tak kan terulang , dan hanya kebaikan dan kebahagiaan yang akan menjelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, aku menyaksikan dari layar kaca, betapa penduduk di seluruh negeri tengah bergairah, melebur dalam satu aktifitas yang berbeda dengan kesibukan hari2 biasa. Aktifitas yang penuh dengan euphoria pergantian tahun, yang marak dengan aroma selebrasi, sarat dengan warna hiburan, hingar bingar dentam musik dari berbagai jenis aliran, kilatan cahaya dari lighting panggung dan kembang api yang menyilaukan, aksi pentas para artis yang bekerja keras mempertontonkan performa terbaiknya. Semua, dimana-mana, nyaris sama dan sebangun, dalam syahwat dan gairah akan malam terakhir dan fajar pertama yang sangat dinanti. Hanya nasib dan kelas saja yang membedakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan kaya melewati malam istimewa itu di hotel berbintang, resto, kafe, bungalow, Villa, kapal pesiar nan mewah, megah dan harum. Semua makanan dan minuman terhidang melimpah ruah. Segala hiburan, disajikan dengan cita rasa kelas atas . Semua acara di tempat yang eksklusif itu terkemas dalam bahasa asing yang sulit diucapkan oleh lidah orang biasa. Semua gaun, semua aksesoris, semua wewangian, menyandang label perancang kelas dunia dari Milan hinggga Tokyo. Ah, mereka yang di negeri ini jumlahnya hanya selapis tipis kulit ari , benar - benar bukan orang biasa, mereka berkuasa, tinggi, tak terjangkau ...&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IEJ3cVccI/AAAAAAAAASw/M3eWHCZW9rs/s1600-h/7.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IEJ3cVccI/AAAAAAAAASw/M3eWHCZW9rs/s320/7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422901468855628226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Golongan menengah mendatangi pusat - pusat keramaian setelah berjibaku setengah marah di tengah pusaran kemacetan arus lalu lintas yang tak berujung dan tak berpangkal, untuk mendatangi pantai - pantai festival yang menggelar musik pop, rock dan musik pop Melayu yang mendayu-dayu tak berjati diri . Atau pergi ke resto Amerika yang menyajikan junkfood nan bergengsi. Bisa juga pergi ke diskotik atau pusat karaoke , bersama rekan - rekan sekantor, melepas kepenatan akibat rutinitas yg tak ada habisnya. Dan ini yang sedang menjadi fenomena di kalangan golongan menengah : kumpul- kumpul bersama rekan jadul dalam satu acara reuni kangen-kangenan. Melepas kerinduan, berbagi cerita, sesekali pamer kesuksesan, kepada kawan sekelas yang sudah puluhan tahun tak bersua. Siapa tahu juga, bisa mendapat selirik tatap dan sesungging senyum kagum sarat makna dari sang pujaan hati di masa lalu. Oh Tuhan, mengapa cinta lama selalu menerbitkan rindu mencekam yang sulit ditepiskan ?? Begitu kira-kira lantun dendang asmara di dada orang - orang yang tengah bersuka ria ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan tak berpunya pergi menembus dinginnya udara malam yang basah dengan menumpang angkot atau sekedar berjalan kaki beramai - ramai, menonton orang yang sedang merayakan malam pergantian tahun. Golongan tak berpunya adalah mereka yang berdiri di lingkaran terluar dan terpinggir, dari gegap gempitanya perayaan tahun baru di jagad ini. Namun mereka adalah mayoritas. Jumlah mereka adalah yang terbanyak, puluhan kali lipat lebih banyak dari jumlah lapis kedua, manatah lagi lapis pertama. Sudah cukup bagi mereka, merayakan tahun baru dengan beberapa puluh ribu di dompet, dan terompet di tangan yang akan mereka tiup keras - keras - sebagai pengganti teriakan keputusasaan akibat himpitan ekonomi yang kian memiskinkan. Camilan mereka pun jauh dari kemewahan : semangkuk bakso, atau aneka gorengan dan kue serabi, atau sate dan soto bang Kumis yang mangkal di tikungan jalan. Toh sama saja lezatnya. Murah pula. Yang penting hepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di luar itu, aku melihat pemandangan yang sangat menarik : ribuan sepeda motor berkonvoi, kadang searah, kadang berlawanan arah. Para Pengendaranya berteriak - teriak tidak jelas, mengibar- ngibarkan bendera dengan simbol entah apa, menggerung-gerungkan knalpot motornya dengan suara memecahkan gendang telinga. Mereka mengenakan kostum dan atribut yang mempertegas identitas mereka sebagai kelas proletar : sangar, kumal, tabrak corak, tampak unik dan atraktif. Rambut gimbal, sesekali ada pula yang berambut Mohawk dengan cat mencolok. Tatto di sekujur badan, tindik di berbagai titik tubuh, seolah menujukkan semangat mereka yang anti kemapanan dan sentimen terhadap golongan kaya dan berkuasa. Orang-orang yang berkonvoi inilah yang sesungguhnya menjadi raja di malam itu. Polisi tidak boleh mangatur dan melarang - larang mereka, Polisi hanya boleh memerintahkan semua mobil menepi, agar tersibak arus kemacetan bagi kelancaran konvoi para raja jalanan ini. Golongan menengah hanya bisa terdiam menahan kesal di balik kemudi mobil kelas menengahnya, tanpa bisa berbuat apa-apa. Memakipun tak ada gunanya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0ID6Y4BN9I/AAAAAAAAASo/iLTWupLRAmU/s1600-h/6.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0ID6Y4BN9I/AAAAAAAAASo/iLTWupLRAmU/s320/6.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422901202952206290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya hanya waktu yang bisa mempersatukan kelas - kelas masyarakat yang bak minyak dengan air ini. Waktu yang ditunggu telah tiba. Hitungan mundur telah dimulai ... 5 .. 4 ..3 .. 2 ..1 .... Dalam sekejap langit kota seperti terbelah oleh sorak sorai dan teriakan manusia yang menyesaki tempat- tempat hiburan dan mereka yang tumpah di jalanan. Petasan diledakkan, terompet ditiup sekuat tenaga, kembang api diluncurkan dari tempat- tempat yang tinggi. Semburatnya mewarnai langit dengan kemilau cahaya warna - warni yang memukau. Terus dan terus menyala , seolah tak mau berhenti. Teriakan Happy New Year !! terdengar di mana-mana,&lt;br /&gt;dari kapal pesiar hingga kedai - kedai jagung bakar. Lagu wajib tahun baru " Auld Lang Syne " yang konon sebagian syairnya diambil dari folklore bangsa Irlandia, dikumandangkan oleh kalangan yang lebih educated. &lt;br /&gt;"Should auld aquitance be forget, and never brought to mine ..." mengalun syahdu, merambat pelan ke langit malam .&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IDryy1qvI/AAAAAAAAASg/rP38ZJW2gqg/s1600-h/5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IDryy1qvI/AAAAAAAAASg/rP38ZJW2gqg/s320/5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422900952211761906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di depan layar kaca, aku menyaksikan sebuah fenomena yang sangat janggal : pecahnya klimaks sebuah spirit yang bernama kesadaran manusia akan dimensi waktu. Klimaks ini membuat jutaan manusia terhanyut dalam sebuah ekstasi massal yang sungguh melenakan. Mereka melebur, berfusi, meluluhkan jiwa dan raga tanpa batas, dalam jabat tangan, dekapan, dan ciuman hangat, tanpa harus dilakukan dengan kekasih atau pasangan sah. Semua orang dalam waktu yang sama, merasa egaliter, merasa equal ... &lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IDX_ozfMI/AAAAAAAAASY/A0t4Hbf4huw/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IDX_ozfMI/AAAAAAAAASY/A0t4Hbf4huw/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422900612061953218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari layar kaca di rumahku yang sunyi, kunikmati setiap geliat nafas pergantian tahun itu dengan berbagai perasaan berbaur di hatiku. Perasaan senang, bahagia, bersyukur, karena aku telah berhasil melewati tahun lama dengan sehat dan selamat. Ada pula segumpal harapan memenuhi dadaku. Harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Namun di balik itu, hatikupun diliputi perasaan sedih, perasaan terasing yang menyesakkan dada. Malam itu ku ingin menangis keras-keras saja rasanya. Ada semacam perasaan kosong yang tiba-tiba menerpa jiwaku. Perasaan kosong yang aneh, seperti perasaan ditinggalkan, dilupakan, diabaikan, yang sungguh menyakitkanku. Entah bagaimana aku menggambarkannya. Berjuta pertanyaan berkecamuk di hatiku. Pertanyaan yang ingin kulontarkan kepada kerumunan orang yang tengah berekstasi massal di layar kaca itu. Pertanyaan yang mengalir dari hatiku yang tiba-tiba terluka oleh perasaan tidak rela, manakala kusadari, betapa Kekasihku, Kekasih umat manusia, seolah dilupakan, dinihilkan, ditiadakan, dan tidak dilibatkan oleh jutaan manusia itu, dalam waktu yang bersamaan. Padahal Sang Kekasih adalah Pencipta segala ekstasi di alam semesta ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin kuteriakkan pertanyaan kepada orang-orang itu ...&lt;br /&gt;" Masihkah engkau mengingat Tuhanmu, Allah yang telah membuatmu selamat melewati tahun yang lama ?? "&lt;br /&gt;" Adakah sedikit ruang kau sisakan di hatimu, untuk menyebut nama Nya yang sangat mengasihimu ?? "&lt;br /&gt;" Tidak takutkan engkau akan murka Allah, atas semua kesia - siaan dan kemubaziran ini ?? "&lt;br /&gt;Namun semua pertanyaan itu hanya berhenti bergaung di relung kalbuku, menyisakan perasaan hampa yang tak terperi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah tanpa sadar, kulangkahkan kakiku ke kamar mandi. Aku berwudhu, dan kudirikan sholat sunnah.&lt;br /&gt;Belum lagi benar kulantunkan ayat pertama doa iftitah, air mata sudah membasahi pipiku. Kucoba menahannya, namun air mataku kian membasahi dada dan sajadahku. Lalu tanpa dapat kubendung lagi, tangisanku pun pecah di dalam hatiku. Air mata yang mengalir bersama tangisanku ini, sungguh memerihkan jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisanku adalah tangisan seorang hamba yang mengiba ampunan atas segala dosa yang telah diperbuat. Tangisanku adalah tangisan seorang hamba yang berjanji tidak akan meninggalkan Nya dalam setiap waktu dan dalam setiap situasi. Tangisanku adalah tangisan ketakutan esok akan mati tanpa membawa amal kebajikan sedikitpun. Jiwa dan ragaku melarut dalam tangisan panjang dalam sujud di atas sajadahku. Bibirku tak sanggup lagi memanjatkan doa taubatan nasuha. Jadi kubiarkan hati dan sukmaku melantunkan doa dalam bahasa sunyi, yang hanya dapat dimengerti oleh Sang Pencipta kesunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah, Kau lipur hatiku dengan mengalirkan perasaan hangat ke dalam sukmaku. Perasaan hangat akan kehadiran Mu di sisiku, menemaniku dalam kesunyian, serasa Engkau ada dekat sekali, lebih dekat dari urat vena ku. Perasaan hangat serasa Engkau tersenyum mendengar doaku. Perasaan hangat yang sungguh membahagiakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lama sudah aku jatuh tertidur, berbaring diatas sajadah. Kumandang takbir menyambut datangnya gerhana bulan cincin, yang sayup terdengar dari masjid di sebelah rumahku, membangunkanku. Perlahan aku duduk. Kurapikan sajadahku, kuhapus air mataku. Kuangkat tanganku dan berdoa :&lt;br /&gt;" Wahai Allah, kini aku tak takut lagi. Meski berjuta orang mengabaikan Mu, kemuliaan Mu tak sedikitpun berkurang. Meski semua manusia melupakan Mu, kasih sayang Mu tak jua menghilang. Aku hanya takut Engkau akan berpaling dariku karena dosa-dosaku. Oleh karena itu, bimbinglah aku menuju keridhoan Mu, Yaa Sang Maha Pemberi Petunjuk, aamiin .."&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IDBdrZxtI/AAAAAAAAASQ/57iO3nYrgsM/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IDBdrZxtI/AAAAAAAAASQ/57iO3nYrgsM/s320/4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422900224988923602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lalu perasaan lega dan tenteram perlahan namun pasti menyelusupi relung kalbuku. Menghilangkan segala gundah dan cemas yang seharian ini menyelimutiku. Kudengar ketukan perlahan di pintu depan. Jam 02.00 wib, 1 Januari 2010. Itu dia, suamiku sudah pulang dari Masjid, seusai menjadi imam sholat gerhana. Kubukakan pintu dan kusunggingkan senyum untuknya. Suamiku melangkah ke dalam, dan tanpa sepatah katapun, kami tenggelam dalam ekstasi pelukan yang panjang. Pelukan penuh kasih yang bermuara pada cinta kami hanya kepada Nya, Ar Rahman, Ar Rahiim ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;anni, Sukabumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Demi waktu, sesungguhnya manusia ada dalam kerugian, kecuali mereka yang beramal sholeh, dan saling menasihati dan kebenaran dan kesabaran "&lt;br /&gt;( QS Al Ashr : 1- 3 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf jika ada sahabat yang kurang berkenan ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-8253811886682306037?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/8253811886682306037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/01/malam-pergantian-tahun-sudah-beberapa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/8253811886682306037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/8253811886682306037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2010/01/malam-pergantian-tahun-sudah-beberapa.html' title='EKSTASI  ITU  BERNAMA  :  NEW  YEAR&apos;S  EVE'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/S0IEYatq6cI/AAAAAAAAAS4/J7nyL8hhYrs/s72-c/8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-7730652390662398686</id><published>2009-12-24T17:54:00.000-08:00</published><updated>2009-12-24T18:06:05.005-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>3 HARI BERTEMU CINTAKU ....</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzQdR62wCGI/AAAAAAAAAPY/goDhbilb-t0/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzQdR62wCGI/AAAAAAAAAPY/goDhbilb-t0/s320/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418988445327427682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di jalan TB Simatupang Jakarta Selatan, ada sebuah menara yang menjulang setengah jadi. Di salah satu ruangan di menara itu kami berkumpul. Ruangannya indah dengan AC yang disetel sangat dingin. Interior nan megah, dengan tiga layar raksasa membentang di hadapan kami. Ini adalah sebuah ruangan yang berpenampilan bagai ball room di sebuah hotel berbintang. Suasana ruangan itu sangat hening dan nyaman. Hamparan karpet tebal menambah kenyamanan 400 orang yang berkumpul di dalamnya.Lampu – lampu dipadamkan, dan suasana dibuat temaram dengan kerlip ratusan lampu 10 watt dilatar belakang dinding dan tirai serba hitam yang didekorasi seperti taburan berjuta bintang di langit malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa terselip di antara 400 orang itu. Hanya ada satu orang yang aku kenal, yaitu teman satu pekerjaan yang sama – sama ditugaskan kantor untuk mengikuti program ini. Program yang konon akan membuat semua pesertanya serasa dilahirkan kembali menjadi manusia yang peka dan lembut hati. Sungguh sebuah kualitas diri yang sangat sulit dibangun di hari – hari kehidupan yang keras belakangan ini.&lt;br /&gt;Disana kami berkumpul selama 3 hari. 3 hari yang kemudian membawa kesan mendalam bagi kehidupan yang akan kujalani nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya agak malas aku mengikuti program yang bernama pelatihan ESQ ini, apalagi aku harus menjalaninya di saat teman – temanku yang lain menikmati libur panjang akhir pekan. Lagi pula, apa alasannya sehingga aku harus terpilih mengikuti program ini ? apakah aku orang yang dianggap keras hati? judes - jutek - galak - ceriwis ? Apa pimpinan kami tidak salah pilih orang ? bukankah selama ini aku cukup dikenal sebagai pendidik dengan reputasi yang baik ? pekerja keras, jujur, berdedikasi, baik hati dan tidak sombong ? bagaimana ? masih kurang ? manis, dan ramah tamah ? &lt;br /&gt;kenapa harus aku ? apa salahku ?? ( oohh ... mungkin karena aku narsis kali yaaa ... )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun meski dengan setengah hati, akhirnya aku berangkat juga, karena pada dasarnya aku sangat suka merasakan sebuah pengalaman baru, apalagi jika pengalaman itu berkaitan dengan hati.&lt;br /&gt;Bukan dengan modal nol aku pergi ke pelatihan itu. Selama beberapa malam, aku terus menatap layar PC mencermati video – video dan tayangan – tayangan yang berkaitan dengan program ini melalui situs Youtube. Buku – bukunya pun, aku pelajari terlebih dahulu. Tak hanya itu, akupun berdiskusi dengan suamiku, dan teman –temanku yang telah menjadi alumni program ini, kadang dengan sedikit ngeyel. Dan aku berkesimpulan, ah ... tidak ada apa-apanya, biasa – biasa saja. Ini adalah program pelatihan SDM biasa, sebagaimana pelatihan – pelatihan serupa yang pernah aku ikuti. Hanya bedanya, pelatihan ini lebih mengusung nilai – nilai kerohanian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika aku sudah benar – benar berada di sana, di ruangan pelatihan itu, dan aku terselip di antara ratusan orang itu, di sebuah ruangan yang besar, asing dan dingin itu, aku jadi merasa bodoh. Semua sesi yang disajikan membuatku terpana, tertegun, dan termangu. Seperti orang yang tak tahu apa – apa. Entah kemana terbangnya semua persiapan mental dan pengetahuan yang sudah aku jejalkan ke dalam benakku selama ini. Dan tiba – tiba saja, hatiku terasa sejuk sekali, terasa sensitif, mudah tersentuh oleh hal – hal kecil yang dalam keseharian sering tak kupedulikan. Semisal kata maaf dari teman, atau doa sederhana semisal ” insyaallah ”. Di ruangan ini semua kata, semua laku, sangat berarti bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus mengakui kejeniusan penggagas program ini. Sebuah program yang sebetulnya sederhana saja : perpaduan antara keterampilan manajemen, kemampuan bersosialisasi, leadership, dan peningkatan kualitas diri melalui pemantapan keimanan, hanya itu. Namun masyaallah, anak muda penggagas program ini sungguh memiliki otak yang briliyan. Dia mengemas semua pelatihan itu dengan penampilan yang sungguh berbeda, dan aku sangat suka dengan caranya merengkuh hatiku, hati kami semua. Di sepanjang program itu, pikiran, emosi, dan perasaan kami, habis digedor oleh stimulus - stimulus penyadaran yang sangat efektif dan menghujam hingga ke dalam jiwa kami . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keseharianku, aku orang yang berkarakter gembira, banyak tertawa, dan ceria, makanya body ku gendut begini ( eh, ada hubungannya nggak ya ?? ).&lt;br /&gt;Aku memang mudah terharu, mudah tersentuh, namun aku bukan tipe perempuan yang mudah sedih dan menangis. Itulah sebabnya, kadang aku berpikir, aku memiliki hormon jantan yang cukup banyak di dalam tubuhku, karena dalam beberapa hal, aku berkelakuan lebih mirip laki-laki, semisal berani, tidak pemalu, tegas, lugas, cepat dalam mengambil keputusan, agresif, ups ...&lt;br /&gt;Namun ketika aku mengikuti pelatihan itu, nyerah deh ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 3 hari pelatihan, aku terus menangis. Bukan hanya meneteskan air mata haru, tapi asli menangis tersedu –sedu sesenggukan, seperti dulu ketika ayahku meninggal dunia. Betapa selama 3 hari itu, aku ditohok oleh penyadaran – penyadaran tentang posisiku sebagai makhluk yang lemah namun sangat lalai dan sombong dihadapan Sang Khalik Yang Maha Kuasa dan Perkasa. Fakta – fakta ilmiah yang disajikan sangat mengena hatiku dan sangat masuk akalku, hingga mengubah persepsiku terhadap kehidupanku dan keyakinanku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulupun, aku sudah sangat yakin dengan kebenaran firman – firman Allah yang tertulis dalam kitab suci Al Qur’an. Tak sedikitpun aku menyangsikannya. Sejak dulupun aku sudah mengidolakan Rasulullah sebagai satu – satunya panutan yang aku cintai. Namun di 3 hari pelatihan itu, semua keyakinanku terhadap kebesaran Allah, terhadap kebenaran Al Quran semakin menebal. Dan segenap kecintaanku kepada Rasulullah selama ini, serasa tak ada apa – apanya dibandingkan dengan kasih sayang yang sangat besar yang mendadak tumbuh di hatiku, tanpa dapat kutahan lagi. Aku begitu mencintainya, begitu merindukannya, begitu ingin berjumpa dengannya. Tak kuasa kubendung airmataku, ketika trainer membacakan narasi kisah hidup Rasulullah yang sangat agung dan mulia.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzQdEYI9HVI/AAAAAAAAAPQ/yf0k0Dn1mZE/s1600-h/5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 219px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzQdEYI9HVI/AAAAAAAAAPQ/yf0k0Dn1mZE/s320/5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418988212670242130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Diantara sekian banyak manfaat yang kuperoleh dari pelatihan ini, yang cukup mengesankanku adalah perkenalanku dengan sesama peserta. Aku mendapatkan kesan, bahwa mayoritas para peserta adalah masyarakat dari kelompok ekonomi mapan, berpendidikan tinggi, memiliki karir yang sedang menanjak – bahkan banyak diantara mereka adalah para pejabat publik dari kalangan sipil dan militer, dan ini yang terpenting : kebanyakan mereka sedang ada dalam gairah untuk kembali ke nilai – nilai agama.&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri, agama adalah satu – satunya oasis bagi manusia, dalam mengarungi kehidupan yang serba materialistis, keras dan penuh persaingan yang tanpa belas kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam hitungan 3 hari, aku menambah banyak sekali teman dari berbagai kota di Indonesia, dari berbagai usia, dan dari berbagai profesi. Semuanya bersikap sangat baik padaku, kami sangat akrab satu sama lain, seperti saudara saja, padahal baru sebentar itu kami berkenalan. Cinta telah menyatukan kami. Cinta kepada sesama, kepada keluarga, kepada orang tua, cinta kepada Rasulullah, yang semua bermuara pada cinta kepada Sang Maha Pemberi Cinta : Allah ar Rahman, ar Rahiim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak materi yang kudapatkan dalam program pelatihan ini, dan semuanya sangat bermakna dan bermanfaat bagiku. Semua sesi disajikan dengan efektif, efisien, tidak bertele – tele dan semuanya tepat waktu. Para trainer menjalankan pekerjaannya dengan sangat profesional. Mereka sangat cerdas dan piawai dalam memainkan emosi para audience. Habis kami dibuatnya tertawa terpingkal – pingkal, dibuat terpana, dibuat kaget, dibuat menangis haru. Semua materi ditampilkan dengan memikat, ditunjang teknologi sound system yang canggih, permainan cahaya, dan tayangan gambar yang disunting dengan apik. Sangat sayang rasanya jika harus melewati satu saja dari sesi –sesi itu. Namun sungguh, bukan gelegar sound system, bukan kilatan cahaya yang meluluhkan hatiku dan meruntuhkan air mataku. Lantunan kebenaran firman – fiman Nya lah yang membuat seluruh jiwa dan ragaku bersujud bertekuk lutut tanpa aku bisa berfikir apa-apa lagi selain berpasrah diri hanya kepada Nya&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzQcpIvmnhI/AAAAAAAAAPI/HPjc7YAkL0c/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 232px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzQcpIvmnhI/AAAAAAAAAPI/HPjc7YAkL0c/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418987744680910354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti tersadarkan, bahwa CINTA ... itulah yang selama ini aku cari dalam hidupku. Bukan sekedar cinta dari suami, dari anak-anakku, dari keluarga besarku, dari orang tuaku, dari sahabat-sahabatku. Aku menginginkan cinta yang lebih besar, yang lebih mutlak, yang lebih memuaskanku, yaitu Cinta dari Allah dan kepada Allah semata.&lt;br /&gt;Cinta. Ya memang itulah inti dari pembahasan kami selama pelatihan itu. Bukan cinta sesaat, bukan cinta yang maya, namun cinta yang benar dan absolut. Dan aku telah berhasil menemukan cintaku yang sejati, yang akan membawa keselamatan bagiku di dunia dan di akhirat ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya cinta akhirnya yang dapat melembutkan hatiku, mengharu biru jiwaku. Alhamdulillah. Seusai mengikuti program itu, aku merasa sangat lega dan bahagia. Betul kata orang selama ini, selepas mengikuti program ini, kita akan merasa dilahirkan kembali menjadi manusia baru dengan ghiroh keagamaan yang baru. Juga merasa lega, karena air mata yang tertumpah, ternyata sangat efektif dalam mengkatarsis luka hati yang disadari atau tidak tertimbun selama bertahun – tahun dalam kehidupan kita. Luka hati akibat persoalan hidup yang tak putus mendera kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaanku bertambah besar, ketika kulangkahkan kakiku menuju pulang, di ambang pintu telah berjejer orang – orang tercinta menyambutku dengan penuh kerinduan. Maklum selama 3 hari aku meninggalkan mereka. Suami dan dua gadis cantikku menyerbu memeluk dan menciumi pipiku dengan penuh cinta dan kerinduan, yang aku balas dengan cinta dan luapan kerinduan yang lebih besar ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;Anni, Sukabumi&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzQcYsz3o_I/AAAAAAAAAPA/0rE32-RgabI/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzQcYsz3o_I/AAAAAAAAAPA/0rE32-RgabI/s320/4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418987462304703474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;” Demi matahari dan sinarnya di pagi hari,&lt;br /&gt;Demi bulan apabila ia mengiringi ...&lt;br /&gt;Demi siang hari bila menampakkan dirinya&lt;br /&gt;Demi malam apabila ia menutupi ... &lt;br /&gt;Demi langit beserta seluruh binaannya&lt;br /&gt;Demi bumi serta yang ada di hamparannya&lt;br /&gt;Demi jiwa dan seluruh penyempurnaannya ... “ ( QS : Asy syam 1 - 7 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh besar cinta Allah kepada kita umat Nya. Tak peduli kita membalas dengan pantas atau abai terhadap kasih sayang Nya itu. Sang Maha Pengasih dan Penyayang akan tetap mencintai kita, selamanya ...&lt;br /&gt;Allah mengilhamkan kepada sukma, kefasikan dan ketaqwaan&lt;br /&gt;Beruntung bagi yang mensucikannya&lt;br /&gt;Merugi bagi yang mengotorinya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-7730652390662398686?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/7730652390662398686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/12/jalan-tb-simatupang-jakarta-selatan-ada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/7730652390662398686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/7730652390662398686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/12/jalan-tb-simatupang-jakarta-selatan-ada.html' title='3 HARI BERTEMU CINTAKU ....'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzQdR62wCGI/AAAAAAAAAPY/goDhbilb-t0/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-6151856013778686489</id><published>2009-12-22T03:39:00.000-08:00</published><updated>2009-12-22T03:42:18.914-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>ADA POLIGAMI DI KELASKU</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCwiXHbMVI/AAAAAAAAAOo/imMG0YvPnKg/s1600-h/B.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCwiXHbMVI/AAAAAAAAAOo/imMG0YvPnKg/s320/B.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418024456093905234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jam pelajaran terakhir. Waktu menunjukkan pukul 14.20 WIB, dan aku harus masuk ke kelas X.3 yang didominasi oleh anak – anak yang tak bisa diam .&lt;br /&gt;Hujan yang turun sedari siang tadi rasanya semakin deras saja di petang hari itu. Udara yang sudah dingin jadi terasa semakin dingin. Suasana seperti itu hanya mengingatkanku pada suasana rumah. Aku ingin segera pulang, menemui dua anak gadisku yang tentu sudah kembali dari sekolah dan sekarang sedang menungguku. Namun keenggananku untuk masuk ke kelas dan memulai pelajaran, sirna seketika, ketika murid – murid di kelas itu menyambut salamku dengan suara keras dan dengan ekspresi gembira. Tiba – tiba aku merasa darah seakan mengaliri seluruh urat nadiku lagi, setelah beberapa saat sebelumnya serasa kelu. Penghuni kelas ini memang paling pandai membuat guru bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kegiatan belajarpun dimulailah. Sore itu aku harus menjelaskan masalah yang cukup berat dan menjadi issu masyarakat global, yakni tentang penegakkan Hak Asasi Manusia. Kali ini, penegakan HAM di Indonesia dengan dasar hukum sila – sila Pancasila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tak pernah tuntas aku menjelaskan materi pelajaran di kelas ini. Murid – murid ku di kelas ini sangat – sangat aktif. Sama sekali tak bisa duduk diam meski sebentar saja. Aku sudah terbiasa mengajar di kelas tersebut dengan anak yang menyimak sambil berdiri, atau dengan kursi – kursi di geser lebih mendekat ke mejaku, atau melonjak – lonjak jika ingin bertanya ....&lt;br /&gt;Kalaupun akhirnya mereka harus duduk , mulut mereka tak bisa berhenti berbicara. Mereka selalu bertanya, berkomentar, berpendapat .... subhanallah .... anak – anak ini memang pintar sekali. Mereka hanya duduk diam jika sedang ulangan atau sedang berdoa. Selebihnya, heboh , penuh semangat, namun tetap dalam koridor sopan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku tiba pada masalah kesetaraan gender, tiba – tiba seorang anak mengangkat tangannya tinggi – tinggi sambil berdiri. Dia ingin bertanya, dan aku mempersilahkannya. Ingin tahu apa pertanyaannya ? Ini dia :&lt;br /&gt;“ Bu, kalau POLIGAMI itu, melanggar Hak Asasi perempuan,atau enggak ?” &lt;br /&gt;Sejenak aku terdiam dan tersenyum menanggapi pertanyaan itu. Kelas riuh rendah. Semua anak menjawab sendiri – sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan baru sekali itu saja aku mendengar pertanyaan serupa. Kelas – kelas sebelumnya pun sering menanyakan hal itu. Namun persoalannya menjadi sedikit berbeda, manakala pertanyaan sensitif ini dilontarkan oleh anak – anak kelas X.3 yang cerdas, sensitif dan berani. Aku harus memperjelas posisiku ketika menjawab. Apakah aku berkapasitas sebagai guru ? sebagai perempuan? atau sebagai seorang istri ? posisi ini harus jelas mengingat semua muridku adalah laki – laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mau mendominasi kelas. Sudah bukan jamannya lagi guru menjadi pusat kegiatan belajar mengajar seperti jaman ketika kita sekolah dulu. Kini, siswa lah yang menjadi subjek dalam pembelajaran. Disamping itu, aku harus bersikap fair. Apapun pendapat yang aku lontarkan tentang poligami, suka atau tidak suka, mereka akan melihatku tidak semata – mata sebagai guru mereka, tetapi juga sebagai seorang ibu – ibu. Dan aku tidak ingin itu terjadi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuputuskan, agar suasana kelas lebih kondusif dan jawaban atas pertanyaan itu dapat dipahami oleh semua siswa, dan lebih jauh lagi agar jawaban yang diperoleh nanti dapat bernilai sebagai penambah wawasan dan sebagai pembangun karakter generasi muda, maka aku membuka forum debat.&lt;br /&gt;Kelas kubagi dua menjadi pihak Pro Poligami, dan pihak yang anti Poligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selanjutnya drama yang sungguh menawan hatiku pun dimulailah di depan mataku. Anak – anak itu, yang paling muda berumur 14 tahun dan tertua berumur belum genap 16 tahun, saling mencurahkan pikiran dan isi hatinya, saling kukuh beradu argumentasi. Kadang dengan gaya polos khas remaja, kadang dengan gaya retorika orang dewasa yang boleh jadi sering mereka lihat di layar televisi. Mengharukan , menakjubkan, membanggakan, sekaligus menggelikan melihat anak – anak ini berdebat tentang sesuatu hal yang besar, pelik, dan tak terpecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simaklah satu pernyataan anak laki – laki a be ge itu : &lt;br /&gt;”Sebelum anda memutuskan untuk berpoligami atau tidak, sebaiknya anda bertanya pada diri sendiri, ikhlas nggak kalau ibu anda dipoligami oleh ayah anda ?? kalau anda nggak ikhlas, ya kalau anda sudah jadi bapak – bapak, jangan poligami dong, nanti dikutuk sama anak – anak anda !! "&lt;br /&gt;( anak yang berbicara ini, menangkis argumen bahwa laki – laki berhak melakukan poligami karena agama memperbolehkannya, dan dasar hukumnya pun jelas )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu simak lagi : &lt;br /&gt;“ Eh coba elu bayangin ( nah, debat mulai memanas, dan keluar deh bahasa asli mereka : elu – gue ), istri lu sakit kanker umpamanya, sampai sekarat dan nggak bisa ngelayanin elu. Trus, elu bukannya ngrawat istri lu yang udah ampir mati gitu, elu malah kawin lagi ?! laki – laki apaan lu ?!&lt;br /&gt;( Dari belakang, anggota team kontra berteriak : laki – laki sampah !! )&lt;br /&gt;( anak yang berbicara tadi menangkis pernyataan bahwa poligami diperbolehkan jika seorang istri sakit keras dan sudah tidak dapat lagi melayani suaminya, dan sang istri menyatakan keikhlasannya ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini yang menarik : &lt;br /&gt;" Elu bukan laki – laki , malu – maluin lu jadi laki – laki, kalo Elu punya istri mandul, trus elu nyakitin istri elu yang segitu setianya sama elu. yang ngelayanin elu siapa ? yang sayang sama elu siapa ? Nah trus sekarang dia sedih karena gak bisa punya anak, eh elu malah kawin lagi ?! apaan ?! cemen lu !! Belum tentu juga istri muda Lu kagak mandul !! "&lt;br /&gt;(astaghfirullah ... nah aku harus mulai turun tangan nih ...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ada lagi : &lt;br /&gt;" Nggak dosa tau, kalau cewek nggak nemuin jodohnya dan dia memilih nggak nikah, dari pada nikah tapi ngerebut suami orang. Ngapain nikah tapi seumur hidup nyakitin istri orang, dia hidup juga gak bakalan berkah, tau ! "&lt;br /&gt;( ini adalah jawaban terhadap pernyataan bahwa, jumlah perempuan lebih banyak dari laki – laki, nanti banyak yang nggak kebagian jodoh dong ?? )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin mendengar statement mereka yang lebih keras lagi ? simak ini :&lt;br /&gt;” Jangan berpoligami karena takut berbuat zinah. Kalau itu alasannya, maka elu adalah laki – laki yang lemah, yang nggak bisa menahan hawa nafsu. Apa bedanya dengan binatang. Kalo elu orangnya horny an ( masyaallah !), lu olah raga kek, kerja kek, ngapain kek, penting banget sih lu !! ( ampuunnn .... anak-anak!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yach begitulah..., namanya juga anak – anak, begitu polos dan originalnya nya pemikiran mereka. Sangat mengejutkan, emosional dan tidak terduga. Aku tidak ingin mempersoalkan apakah pernyataan murid – muridku itu dapat dibenarkan atau tidak dari segi agama. Sungguh aku tidak berkompeten, dan banyak yang lebih paham. Sebagai orang tua dengan pemahaman agama yang sedang – sedang saja, aku hanya merasa dibuat tersentak saja dengan pernyataan keras mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seterusnya ... &lt;br /&gt;Bagaimana ? cerdas sekali bukan anak – anak ini ?&lt;br /&gt;Bagiku yang terpenting bukan apa yang mereka ungkapkan atau cara mereka mengungkapkannya, namun esensi dari isi pikiran mereka, dan keberanian mereka mengatakannya. Sekali lagi aku ingin menjelaskan, bahwa anak – anak ini baru duduk di kelas satu SMA, dan usia mereka baru 14 – 16 tahun. Jadi mereka masih anak – anak. Jadi pendapat mereka tentang poligami, adalah murni keluar dari pemikiran kanak – kanak yang sangat original, lugu, dan bebas dari nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah murid – muridku tidak kenal hukum poligami sebagaimana yang diatur oleh agama yang kami yakini ? dalam hal ini aku berani menjamin, anak – anak yang sebagian sudah menghafal 2 sampai 3 juz Al Quran itu, sedikit banyak sudah mengetahui hukum Poligami. Buktinya, sempat juga beberapa diantara mereka mengutip Al Quran surat An Nisaa ayat 3 ( dasar hukum poligami ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debat terpaksa harus aku hentikan karena bel sudah berbunyi, dan kami harus menarik kesimpulan, setidaknya menarik pelajaran dari proses perdebatan tadi. Selepas itu, aku meminta mereka saling bersalaman dan anak – anak lucu itu tertawa – tawa lagi seolah tidak terjadi apa – apa, seolah mereka sama sekali tidak menyadari bahwa baru saja mereka membicarakan suatu hal yang sangat – sangat krusial dan kerap menimbulkan polemik berkepanjangan di tengah masyarakat, polemik yang tak kunjung ada kata putusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well ? bagaimana ? kebayang kan, keonaran yang terjadi di kelasku ? &lt;br /&gt;Memang begitulah suasana kelas jaman kiwari. Sekolah disesaki oleh anak – anak yang berpikiran dan bersikap lebih merdeka dan terbuka dibandingkan generasi sebelumnya yang hanya bisa duduk manis di kelas mendengar pelajaran yang diterangkan guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak – anak sekarang tidak bisa seperti itu. Mereka adalah generasi yang dengan mudah mengakses berbagai informasi, bahkan mungkin lebih cepat dan lebih banyak di banding gurunya sendiri. Sikap otoriter seorang guru semisal mengatur pendapat mereka ,hanya akan berbuah kesia – siaan, dan akan kontra produktif dengan misi pendidikan kita sekarang. Di masa kini, seorang guru harus dapat memposisikan dirinya dalam berbagai peran sekaligus : sebagai guru, fasilitator, orang tua, teman berdiskusi, tempat curhat ... &lt;br /&gt;Itu jika kita ingin anak – anak yang menjadi tanggung jawab kita ini sukses dalam menempuh pendidikan mereka. Biarkan mereka bebas mengembangkan kecerdasannya, yang penting sekali lagi : masih dalam koridor kesopanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai itu aku agak termenung lama di kantor. Aku harus mengakui bahwa sebagai seorang istri, Poligami memang merupakan hantu yang sangat menakutkan dan sangat tak mungkin aku hadapi. Sebagai seorang muslimah, tak sedikitpun aku menyangsikan kebenaran firman – firman Allah, dan aku memilih taat pada kaidah hukum agama yang aku yakini, bahwa Poligami itu dihalalkan. Namun jika itu terjadi padaku, aku hanya tahu, hatiku akan sangat hancur, karena harus menanggung rasa terhina seumur hidupku, dan aku sangat mengetahui kadar ketabahan hatiku. Aku tidak siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tak ada habisnya rasa syukurku, karena Allah memberiku suami yang setia, yang berjanji tidak akan menduakanku, yang mengatakan padaku bahwa hanya akulah perempuan yang dia cintai di dunia ini selain Mamanya dan anak-anak kami. Suamiku yang baik hati itu selalu mengatakan bahwa, dia sudah mendapatkan segalanya yang berlimpah dari aku, dan menikah lagi hanya akan merusak kebahagiaannya, karena poligami biasanya selalu menimbulkan problematika baru yang sangat berat untuk diatasi. Jadi kami bersepakat untuk fokus saja pada pembinaan rumah tangga yang ada, ketimbang memikirkan sesuatu yang belum pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu seorang tokoh nasional yang sangat terkenal melakukan poligami, dan menimbulkan kegegeran nasional. Sebagai reaksinya, masyarakat seakan terbelah menjadi dua kelompok, kelompok yang pro dan anti poligami. Masing – masing pihak bersikukuh dengan pendiriannya. Suasana sempat memanas, sehingga ibu menteri Meutia Hatta dan ibu Shinta Abdurrahman Wahid harus angkat bicara untuk meredam suasana. Sejak saat itu, artikel mengenai poligami sering bermunculan di media massa cetak dan berseliweran di berbagai situs di internet, dan masyarakat mengkonsumsinya dengan antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun aku baru sadar, bahwa dari semua artikel yang aku baca, sangat sedikit jika tidak ingin dibilang nyaris tak ada, artikel yang mengangkat pendapat anak – anak yang menjadi ”korban” poligami.&lt;br /&gt;Padahal anak – anak adalah pihak yang paling lemah dan seringkali menanggung akibat terparah dari konflik yang terjadi diatara kedua orang tuanya. Meski begitu, jarang sekali orang tua dan media massa bersedia mendengarkan dan merilis pendapat mereka. Anak – anak masih ditempatkan sebagai pelengkap penderita dalam setiap konflik rumah tangga. Orang tua sering tidak menyadari, bahwa egoisme mereka kerap menyebabkan anak mengalami stress bahkan depresi berkepanjangan. Anak – anak yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan ini, harus menanggung rasa sedih yang luar biasa, rasa malu karena diejek oleh teman – temannya, rasa terbuang, terabaikan dari kasih sayang yang utuh, belum lagi harus mengalami perubahan suasana rumah dan mungkin penurunan tingkat ekonomi akibat perceraian atau poligami, dan sederet nasib mengenaskan lainnya yang timbul akibat retaknya fondasi rumah tangga orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis debat yang baru saja berlalu di kelas X.3, kian menyadarkanku, bahwa anak -anak, bahkan anak kita sendiri, adalah seorang manusia yang berbeda bahkan dengan kita orang tuanya.. Mereka memiliki hati, pikiran, dan perasaannya sendiri. Mereka harus kita dengar, mereka harus diperbolehkan berbicara menyuarakan isi hatinya. Kita tidak bisa memaksakan pendapat kita pada mereka, atau memaksa mereka menerima keadaan buruk yang tercipta akibat tak becusnya kita mengurus emosi kita sebagai orang tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi ke persoalan poligami, sebelum terlambat, aku ingin minta maaf kepada rekan – rekan yang mungkin tersinggung dengan tulisanku ini. Sungguh bukan ingin memancing polemik apalagi perdebatan berkepanjangan dengan aku mengangkat tema ini. Aku hanya ingin sharing saja tentang suasana di kelasku yang kebetulan berdebat dengan topik yang seru dan kontroversial. &lt;br /&gt;Persoalan poligami adalah persoalan yang sangat pribadi, dan semua orang memiliki pendapatnya sendiri – sendiri. Dan bukankah untuk masalah yang satu ini, masyarakat kita sudah bersepakat untuk tidak sepakat ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerap sekali aku mendengar pernyataan bahwa laki – laki itu bersifat poligamis.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu, bagaimana respons kaum laki – laki terhadap pernyataan ini. Apakah tersanjung ? ataukah justru merasa terlecehkan ? . Namun dalam kehidupan sehari – hari, lebih banyak kutemukan laki – laki yang tidak seperti itu. Betapa ribuan laki – laki memilih untuk tetap setia pada pasangannya seumur hidupnya. Bukan karena kurang kaya , atau nggak punya nyali, tapi karena takut menyakiti hati istri dan anak – anak yang sangat mencintai dan dicintainya.&lt;br /&gt;Aku yakin, tentu bukan tanpa alasan, atau bukan karena faktor ketidak taatan pada agama, sehingga para Bapak ini memilih tidak berpoligami. Menurutku, mungkin para bapak ini sangat khawatir tidak dapat berlaku adil ( yang dapat mendatangkan dosa besar) jika melakukan poligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pendidik dan penyayang anak, aku hanya dapat berharap, tolong dengarkan dan hargailah pendapat anak – anak dalam setiap keputusan besar yang kita ambil sebagai orang tua, demi kelangsungan dan kebahagiaan masa depan mereka, para penerus kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita sebagai orang tua wajib senantiasa menjaga martabat kita di depan Allah dan di depan manusia, dengan setia pada keluarga, mencintai dan melindunginya seumur hidupnya ? Wallahua’lam bisawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih dan mohon maaf sebesar – besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang,&lt;br /&gt;Anni, Sukabumi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-6151856013778686489?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/6151856013778686489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/12/ada-poligami-di-kelasku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6151856013778686489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6151856013778686489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/12/ada-poligami-di-kelasku.html' title='ADA POLIGAMI DI KELASKU'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCwiXHbMVI/AAAAAAAAAOo/imMG0YvPnKg/s72-c/B.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-6710674539586797461</id><published>2009-12-22T03:36:00.000-08:00</published><updated>2009-12-22T03:39:08.665-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>KALO NANYA YANG BENER ....</title><content type='html'>Pernah merasa kesal gara – gara nonton TV nggak ? bukan kesal karena materi acaranya yang tidak menarik, tapi karena gaya Presenter nya yang ngeselin ? aku pernah, sering malah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini seluruh TV menayangkan program yang hampir sama dan sebangun, yakni program menelanjangi aib orang – orang penting yang sama sekali ( kemungkinan besar ) tidak kita kenal dalam kehidupan kita sehari – hari. Namun meski kita tidak kenal secara pribadi, bagiku mereka tetap orang penting di negeri kita. Bukankah –meski secuil – aku juga turut andil dalam mendudukkan mereka di meja birokrasi, misalnya dengan memberikan suaraku di hajatan PEMILU, yang menyebabkan tangan kekuasaan menempatkan mereka menjadi tokoh penting di Republik ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali nama – nama berseliweran yang terkenal dan tidak terkenal, yang terpaksa kita simak sepak terjangnya itu dalam rekaman percakapan memalukan via telfon, yang ditayangkan oleh Mahkamah Konstitusi sebagai hasil sadapan tangan – tangan canggih nan iseng, entah legal atau illegal..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas sontak, seluruh negeri menggunjingkan skandal tak bermoral itu, yang difasilitasi oleh beragam media massa, terutama oleh media layar kaca yang bernama televisi. Beberapa televisi swasta berlomba menayangkan issu itu sebagai program andalannya, yang ditayangkan di primetime, dengan harapan apalagi jika bukan mendongkrak rating pemirsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya kalau kita mengkaji dari sisi jurnalistik, hal tersebut boleh – boleh saja dilakukan, karena bagaimanapun salah satu fungsi media massa adalah mendapatkan, mengolah dan menyajikan informasi yang dapat mengobati dahaga masyarakat tentang perkembangan terkini. Seandainya saja semua berita memuakkan itu disajikan dengan cara yang proporsional dan santun, dengan mengedepankan etika jurnalistik, aku rasa tentu takkan ada penonton yang dibuat kesal dan menggerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak terkuaknya skandal itu, hampir setiap hari aku mendengar gerutuan dan komentar marah dari teman – teman ku, seusai menonton TV. Menanggapi kekesalan mereka, aku cuma tertawa saja, dan menjawab santai, ya sudah … jangan ditonton, gitu aja kok repot ! lha wong aku sendiri juga kesal, kok….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dibalik itu aku tahu penyebab kekesalan mereka. Bukan skandal itu benar yang memarahkan mereka, namun lebih pada provokasi yang dilakukan para Presenter yang membawakan acara tersebut. Coba perhatikan gaya kebanyakan Presenter televisi kita. Ada presenter wanita yang kerjanya nanya melulu tanpa mendengarkan jawaban sang nara sumber. Belum selesai nara sumber menjawab, sang presenter yang berdandan menor bak artis sinetron itu sudah memotong jawaban yang dia pikir tidak penting, dan langsung memberondong dengan pertanyaan lain. Ketika sang nara sumber baru menjawab satu kalimat, eh itu presenter malah menyambung kalimat jawaban si nara sumber, dengan kalimatnya sendiri. Belum puas dia bertanya dan menjawab sendiri, dia muntahkan lagi peluru pertanyaan yang terkadang dilontarkan dengan nada tidak sopan. Begitu dan begitu terus sepanjang acara, siapa yang nggak kesal coba, menonton wawancara seperti itu ?&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCvpTIFs9I/AAAAAAAAAOg/vPiH4BI7Mnk/s1600-h/A.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCvpTIFs9I/AAAAAAAAAOg/vPiH4BI7Mnk/s320/A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418023475770405842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku dibuat bingung, sebetulnya acara wawancara itu didesain seperti apa sih ? mengapa justru malah si Presenter yang mendominasi acaranya ? kita kan nggak butuh statement dari presenter yang nggak ada urusannya dengan kasus ini. Yang kita tunggu kan pernyataan, keterangan atau sanggahan dari nara sumber yang sebagian besar adalah orang – orang yang terlibat langsung dalam kasus yang sedang hangat tersebut. Akhirnya, kita seperti sedang menonton penghakiman Nara Sumber oleh presenter yang ingin menunjukkan tingkat intelektualitasnya, kecanggihannya dalam berkomunikasi, dan penguasaannya dalam public speaking. Namun alih - alih memukau, penampilan Presenter yang seperti ini malah jadi terkesan songong dan sok tahu, tanpa kita mendapatkan kata – kata kunci yang sangat kita tunggu dari nara sumber. &lt;br /&gt;Sebagai pengecualian, akan berbeda kasusnya jika memang justru Presenternya diambil dari kalangan Pakar, yang karena kompetensinya, dia sangat pantas memberi warna dominan pada acara yang dibawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu, apakah ini memang trend televisi kita sekarang ? yang penting ratingnya tinggi, namun kurang mengindahkan dampak psikologis bagi para pemirsanya dalam acara – acara yang ditayangkan. Apakah pihak perusahaan memang merestui gaya para presenter yang arogan, merasa pinter sendiri, bebas memprovokasi nara sumber dengan pertanyaan – pertanyaan yang tidak tuntas dijawab lantas dia simpulkan sendiri semaunya ? sikap mereka para presenter ini kadang sangat dingin dan tak berperasaan terhadap para nara sumber, terlepas dari status para nara sumber itu, apakah dia adalah seorang pakar, pengamat, korban atau si pendosa. Padahal para nara sumber itu adalah pihak yang mereka undang ke studio dan harus diperlakukan sebagai tamu yang terhormat, bukan ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang masalahnya terletak di durasi waktu yang sangat terbatas, semestinya dilakukan pembatasan dalam jumlah pertanyaan. Hanya yang esensial saja yang diajukan, hal – hal yang di luar itu seharusnya tidak perlu ditanyakan. Gak penting .&lt;br /&gt;Itu kalau kita hanya fokus pada acara buka – bukaan rekaman itu. Di acara – acara lainnya pun aku sering merasa kesal karena ulah para presenter atau reporternya. Dari mulai yang ngomongnya belepotan nggak jelas artikulasinya, intonasinya yang monoton atau sangat gaul dan terkesan manja, terlalu banyak jeda karena kurang tangkas berfikir, dll.Tapi itu masih bisa dimaklumi, terutama bagi para reporter pemula. Namun biar pemula aku yakin mereka tentu sudah mendapatkan pelatihan jurnalistik atau mungkin justru mereka adalah lulusan FIKOM jurusan Jurnalistik. Jadi seharusnya mereka ini sudah tahu teknik wawancara dong ? bagaimana menggali jawaban dari orang yang kita wawancarai, trik menggiring ke jawaban yang esensial, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering aku jadi sebal sendiri karena ”kebodohan” sang wartawan dalam melontarkan pertanyaan. Supaya jelas, aku kasih ilustrasi ya. Dalam suatu kesempatan, seorang reporter bertanya kepada seorang ibu yang seluruh keluarganya tewas dan seluruh hartanya amblas dalam musibah gempa di Padang, dengan pertanyaan begini, ” Bagaimana perasaan ibu ? ”.&lt;br /&gt;Coba bayangkan, seorang ibu yang berfikir lebih baik mati saja, ditanya soal perasaan. Ya jelas saja si ibu itu menangis menggerung –gerung di depan kamera, tanpa ada jawaban sepatahpun. Nah, reporter yang kurang cerdas, bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi reporter yang sampai speechless gara – gara kurang lihay menggali jawaban dari serombongan anak-anak TK yang sedang mengikuti acara gerakan cuci tangan. Semua pertanyaan yang dilontarkan, dijawab oleh bocah – bocah cilik itu dengan ”YA” dan ”TIDAK”. Bukan karena anak-anak Indonesia tak pandai mengekspresikan pikirannya, anak-anak sekarang pintar – pintar lho. Yang salah reporternya, yang melontarkan pertanyaan yang memang cukup dijawab dengan YA dan TIDAK. &lt;br /&gt;Coba, kalau anda adalah anak yang mengikuti acara cuci tangan itu, dan ditanya sama seorang reporter dengan pertanyaan ” adik sedang cuci tangan ya ? ”&lt;br /&gt;” Adik sama bu guru ya, ke sini nya ? ” , &lt;br /&gt;” cuci tangan itu sehat ya, Dik ? ”&lt;br /&gt;Nah, untuk pertanyaan yang seperti itu maka apa jawaban anda ? YA atau TIDAK, kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau di kali lain, seorang reporter laki – laki yang masih muda , melontarkan pertanyaan super bodoh kepada seorang penduduk yang gardu listrik di kampungnya meledak sehingga menimbulkan kebakaran hebat. Tebak, bagaimana bunyi pertanyaannya ? &lt;br /&gt;begini : ” Pak, bagaimana bunyi ledakkannya ? ” &lt;br /&gt;Ooohh ...ampun Tuhan, jawaban apa yang diharapkan sang reporter dari si bapak yang pucat pasi itu ? dhuaarrr ?! bledaaagg ?! bledhuugg ?! mak klompraangng ?! atau apa ? pertanyaan macam apa itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses komunikasi, bertanya dan menjawab sama pentingnya, agar tidak terjadi miss komunikasi. Banyak kesalah pahaman timbul gara – gara salah bertanya atau salah menjawab. Namun, menjawab pertanyaan adalah pilihan dan hak sepenuhnya pihak yang ditanya, apakah dia akan menjawab atau tidak menjawab. Justru yang penting adalah pihak yang bertanya. Karena bagaimanapun, komunikasi bermula dari sebuah pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita nggak berantem sama anak a be ge kita, kalau kita bertanya pada mereka dengan cara lugas dan menuduh, semisal ” kamu pacaran, ya ?! ” atau ” kamu merokok, ya ?! ”&lt;br /&gt;Ya terang saja, anak – anak remaja memilih kabur dari rumah ketimbang menghadapi pertanyaan ortu yang nggak cerdas seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke tayangan televisi yang bikin emosi gara – gara presenternya yang serasa ngetop sendiri. Aku punya saran, lebih baik pindahkan saluran, dan cari acara lain yang lebih menyegarkan pikiran, lalu kita browsing saja di internet, atau baca koran, jika ingin mengikuti perkembangan beritanya lebih jauh lagi. Lebih tenang dan privat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan marah sahabatku ....&lt;br /&gt;Sudah terlalu banyak kemarahan di negeri ini ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sayang,&lt;br /&gt;@nni, Sukabumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-6710674539586797461?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/6710674539586797461/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/12/kalo-nanya-yang-bener.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6710674539586797461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6710674539586797461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/12/kalo-nanya-yang-bener.html' title='KALO NANYA YANG BENER ....'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCvpTIFs9I/AAAAAAAAAOg/vPiH4BI7Mnk/s72-c/A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-1846614039744673640</id><published>2009-12-22T03:26:00.000-08:00</published><updated>2009-12-22T03:34:35.903-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>WASPADAI  CELANAMU ..... !!</title><content type='html'>Sesekali asyik juga lho, naik ojek ke tempat – tempat yang kita inginkan. Pergi ke pasar, jemput anak ke sekolah, belanja ke minimarket, ambil uang di ATM ….&lt;br /&gt;Buat orang yang nggak sabaran kaya aku ini, naik ojek motor banyak nilai plusnya. Tidak merasa gerah karena full angin, anti macet karena bodi motor yang slim membuat gerakannya lincah menyelip ke sana kemari, dan ini yang paling asyik : tidak ada penumpang lain seperti di angkot yang kadang terus memandangiku lekat – lekat, sampai keder aku dibuatnya ( dia tuh ngeliatin melulu karena aku ini enak dilihat atau sebab dia itu pencopet yang sedang menungguku lengah ya ?? hhee .. )&lt;br /&gt;Sambil naik ojek, ( yang si abangnya sudah aku wanti – wanti dengan setengah melotot agar tidak ugal – ugalan ) aku bisa bebas melihat – lihat dan menerka – nerka pemandangan yang berseliweran di mukaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada saja pemandangan yang menarik hatiku di sepanjang jalan yang kulalui . Namun yang sangat menarik hatiku tentu adalah pemandangan serombongan buruh perempuan yang beramai – ramai berjalan kaki, pulang dari tempat kerja mereka di pabrik kaos, pabrik pakaian, dan entah pabrik apa, yang kian hari kian menjamur saja di daerah tempat tinggalku. Pabrik – pabrik milik negara Korea itu, mempekerjakan ribuan buruh perempuan muda, yang bekerja dari pagi hingga sore kadang malam hari, dengan gaji pas – pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan sedang membicarakan nasib buruh migran yang hidup berdesakan di kos-kosan yang sumpek itu, aku ingin membicarakan tentang penampilan mereka, cara berpakaian mereka yang sangat khas.&lt;br /&gt;Rombongan perempuan muda yang aku taksir tertua baru berumur 25 tahun itu, sangat atraktif di mataku. Yang berpakaian muslimah lengkap dengan jilbabnya, tidak termasuk dalam kategori menarik hatiku. Paling – paling kaos lengan panjang dan celana jeans ketat saja yang tampak kontras dengan jilbab di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat tertarik memperhatikan penampilan gadis – gadis yang mengenakan celana panjang jeans model pensil yang sangat ketat di sepanjang tungkai dan sangat melorot hingga ke pinggul, alias berpotongan hipster. Lihatlah cara mereka berjalan, sangat tertatih – tatih, lambat dan sama sekali tidak bebas. Aku rasa celana panjang super ketat itulah penyebabnya, ditambah sepatu atau sandal hak tinggi yang sama sekali tidak nyaman dipakai berjalan kaki di atas aspal jalanan yang keras, panas dan berbatu.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCtZsATBTI/AAAAAAAAAOI/QlDgDcQz32s/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCtZsATBTI/AAAAAAAAAOI/QlDgDcQz32s/s320/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418021008547448114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Melihat betapa lamban dan tidak stabilnya cara mereka berjalan, kok aku jadi ngerasa pegel sendiri. Bayangkan saja, di Sukabumi, matahari jam 4 sore itu masih terik lho, dan mereka harus berjalan kaki ratusan meter di bawah panas matahari, karena mungkin mereka tidak punya ongkos untuk naik ojek sebab minimnya gaji mereka. Sambil berjalan kaki lambat – lambat, tak henti – hentinya mereka menyeka peluh yang berleleran di wajahnya. Rambut mereka yang setipis rambut sejadah, terlihat kusam, kering dan dan kadang bercat warna – warni, menempel rapat di tengkuk dan dahi karena basah oleh keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar anak – anak gadis buruh pabrik ini memakai kaos atau blus yang sangat ketat di pinggang, dada dan ketiak. Pengennya sih tampil sexy atau modis kali ya, tapi sumpah, pakaian seperti ini, hanya membuat mereka sesak nafas dan sulit menggerakkan tangan semisal mengangkat tangan untuk menyetop angkot atau sekedar untuk mengambil sesuatu. Beneran deh, kasihan banget aku melihat anak – anak manis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang tampaknya paling menyiksa, ya si celana hipster itu tadi. Sudah berbahan jeans yang keras dan kaku, ketatnya minta ampun, nempel di kaki, tingginya cuma sebatas pinggul lagi.Dengan celana model ini, anak – anak gadis itu dilarang kebelet pipis. Bagaimana tidak, celana seperti ini super sulit dipakai dan dilepas. Itu kalau kebetulan kepengen pipis. Di lain kesempatan pun, ketika mereka harus duduk di angkot atau naik ojek umpamanya, si empunya celana, tak henti – henti menaikkan bagian atas celananya, agar tidak semakin melorot ketika duduk. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCtph4wHgI/AAAAAAAAAOQ/ULAgnwxRvRQ/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 244px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCtph4wHgI/AAAAAAAAAOQ/ULAgnwxRvRQ/s320/2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418021280709352962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sangat sering aku melihat, anak – anak yang mengenakan celana model ini, harus terpaksa merelakan&lt;br /&gt;( maaf ) celana dalamnya atau pakaian dalamnya merdeka berkibar – kibar alias bebas terbuka untuk dikonsumsi mata publik. Sikap mereka terhadap terbukanya barang – barangnya yang harusnya privat itu pun beragam. Ada yang berlagak masa bodoh ( atau mungkin memang bodoh beneran ), ada yang malu – malu dan terus saja sibuk menurunkan pakaian atasnya untuk menutupi CD yang tanpa ampun terlihat ke mana – mana, kasihan banget ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kasus ini, aku merasa iba pada anak-anak yang masih punya rasa malu, yang membuat mereka berupaya sedemian rupa menutupi pinggang dan pinggulnya yang turut terbuka akibat melorotnya celana hipster yang dikenakan. Jika kuperhatikan gerak – gerik mereka, 100 persen usaha mereka tak pernah berhasil. Tapi untuk anak-anak gadis yang nggak punya rasa malu, aku punya sedikit saran ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang berniat memakai hipster super ketat dan super melorot seperti itu, tolong pakailah pakaian dalam yang bersih, kalau bisa yang baru.Pilihlah celana dalam yang warnanya senada dengan warna celana hipster, dan jangan memilih yang berhiaskan renda atau payet, atau bordiran. Plis deh.&lt;br /&gt;Celana dalam warna – warni yang berhias meriah seperti ini, mungkin memang enak dipakai. Namun jika dia nongol pada tempat dan waktu yang salah, bisa bikin repot orang lain. Ibu – ibu jadi nyengir nggak jelas dan para bapak memalingkan wajah serba rikuh, karena pemandangan tak sedap yang ada di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa enaknya melihat celana dalam merah berenda hitam yang nongol di atas hipster ? mending kalau CD nya bagus. Laah ini ? sudah lusuh, agak keriting, dan ada sobekan di bagian jahitannya karena benang yang lepas alias dedel, dengan benangnya melambai ke sana ke mari. Atau celana dalam berwarna oren mencolok, yang dedel di pinggir dan coba dijahit sekenanya dengan benang berwarna hitam ... ampuuun Tuhan ... plis deh anak – anak ... kasihanilah mata para penumpang dan pejalan kaki yang lain, kami berhak melihat pemandangan yang pantas. Jangan bikin malu korps perempuang dong ...&lt;br /&gt;Mbok ya, kalau mau pamer cd, pakailah cd terbaru, yang bersih, jadi yang melihat kan nggak akan terlalu sebel dan menggerutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan pengamat apalagi penggila fashion. Tapi sekali pandang saja, aku yang awam ini sudah tahu kok, bahwa anak – anak gadis itu harus menderita karena menjadi korban mode. Di beberapa artikel yang mengulas gaya hidup, aku sering membaca pendapat para ahli kecantikan dan pakar kesehatan, bahwa celana model hipster sangat merugikan kesehatan pemakainya. Celana hipster menyulitkan gerak, menghambat peredaran darah dan dapat menimbulkan peradangan di rongga pinggul, yang nyerinya bisa berlanjut hingga usia tua. Bahkan lebih jauh lagi, memakai celana hipster yang menjepit pinggul secara terus menerus dapat membahayakan kesehatan organ reproduksi. Contoh yang paling menarik tentu kasus yang dialami penyanyi pop dunia Britney Spears yang pernah masuk rumah sakit dan mendapat perawatan medis beberapa waktu lamanya, gara – gara menderita trauma di pinggul sebab sepanjang hari terus mengenakan hipster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri kita yang beriklim tropis seperti ini, jenis bahan dan model pakaian tentu sangat penting demi kenyamanan pemakainya. Aku belum pernah mengenakan hipster jeans ketat bahkan di masa remajaku. Tapi melihat dari luarnya saja, aku sudah dapat merasakan, betapa tidak nyamannya memakai celana seperti ini. Sempit, gerah, sakit, susah pipis, susah jalan, susah lari, susah duduk, membungkuk sedikit saja celana dalam nongol kemana – mana ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapatku, orang tua harus memiliki kewibawaan dalam mengontrol cara berpakaian anak – anaknya. Orang tua seharusnya menjadi pihak yang sangat didengar pendapatnya oleh anak, ketika anak- anak ini berniat memilih jenis pakaian yang akan dikenakannya, sedewasa apapun anaknya. Jangan sampai terjadi, hanya karena tuntutan mode terkini, kesehatan anak menjadi terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang tua, berilah saran kepada anak – anak kita, agar mereka terbiasa berpakaian dengan layak. Layak dipakai di iklim tropis yang panas dan lembab, layak harganya, layak dipandang, dan layak dari segi kesehatan. Soal layak secara syar’i yakni menutup aurat, itu sudah lain lagi kajiannya. Namun tanpa membawa – bawa agamapun, siapa saja wajib mengindahkan kepatutan dan norma – norma sosial yang berlaku di lingkungannya dalam berpenampilan. Di Indonesia kita ini, aku rasa menampakkan pakaian dalam masih dianggap perilaku yang tidak sopan, bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh bukan bermaksud usil aku menulis seperti ini. Aku hanya merasa peduli pada kesehatan ribuan anak – anak gadis di Indonesia, , yang terancam kesehatannya karena menjadi korban mode. Sekali lagi menurut pendapatku, para desainer dan para produsen pakaian jadi, tidak sepatutnya hanya berorientasi pasar dalam menghasilkan karya – karyanya. Faktor – faktor keindahan, kesopanan, kesehatan dan keselamatan pemakainya sangat penting untuk diperhatikan, karena bagaimanapun kesehatan generasi muda harus menjadi fokus perhatian semua pihak, termasuk para pelaku mode.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCuBAOdtDI/AAAAAAAAAOY/Sw-RRVuiTrY/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 239px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCuBAOdtDI/AAAAAAAAAOY/Sw-RRVuiTrY/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418021683990475826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf, barangkali ada yang tersinggung ... damai ... ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sayang :)&lt;br /&gt;@nni&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-1846614039744673640?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/1846614039744673640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/12/waspadai-celanamu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1846614039744673640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1846614039744673640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/12/waspadai-celanamu.html' title='WASPADAI  CELANAMU ..... !!'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SzCtZsATBTI/AAAAAAAAAOI/QlDgDcQz32s/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-3487098553048581346</id><published>2009-09-16T09:54:00.000-07:00</published><updated>2009-09-16T10:05:03.830-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>KUE  "  PANDANG TAK JEMU  "</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEaNSBsR-I/AAAAAAAAAOA/A2lT0nZKjcY/s1600-h/5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEaNSBsR-I/AAAAAAAAAOA/A2lT0nZKjcY/s320/5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382111845164009442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEaGleeG7I/AAAAAAAAAN4/hU9IStkdXxM/s1600-h/6.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 317px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEaGleeG7I/AAAAAAAAAN4/hU9IStkdXxM/s320/6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382111730125904818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEZ-oLlyTI/AAAAAAAAANw/JauKcx4vOFs/s1600-h/7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEZ-oLlyTI/AAAAAAAAANw/JauKcx4vOFs/s320/7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382111593413069106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEZ35BwHnI/AAAAAAAAANo/s5YtJ-GFAUk/s1600-h/8.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 237px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEZ35BwHnI/AAAAAAAAANo/s5YtJ-GFAUk/s320/8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382111477676121714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEZyQqUtmI/AAAAAAAAANg/xwThoi0ixKk/s1600-h/9.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 212px; height: 159px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEZyQqUtmI/AAAAAAAAANg/xwThoi0ixKk/s320/9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382111380941092450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEZrpNILVI/AAAAAAAAANY/BGnPsAPxJvk/s1600-h/10.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEZrpNILVI/AAAAAAAAANY/BGnPsAPxJvk/s320/10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382111267270438226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana menyambut Lebaran sungguh sudah terasa di lingkungan tempatku tinggal. Ketika sore hari aku menyapu daun yang beserakan di halaman depan rumah, harum kue kering yang sedang di panggang di dalam oven berkali – kali menggoda penciumanku, membuat perutku yang sedang berpuasa jadi terasa semakin lapar. Tentu ibu tetangga sebelah rumah sedang sibuk membuat kue – kue kering untuk keluarga besarnya, wah … tetanggaku itu memang rajin sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat lain, jika aku kebetulan melalui jalan- jalan kecil atau gang-gang sempit di sekitar kampung itu, aroma kue – kue yang sedang dipanggang menyeruak di hampir setiap rumah, sampai kadang bingung, rumah mana kira- kira yang nyonya rumahnya sedang memanggang kue nan harum itu, saking meratanya aroma kue ke seantero gang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana tak berbeda juga aku jumpai ketika beberapa hari lalu aku menyempatkan diri menengok ibu dan ibu mertuaku di Bandung. Dimana-mana aku mencium aroma kue kering yang harumnya sanggup membuat anak kecil yang baru belajar puasa merengek – rengek minta buka. Aroma kue kering itu tak hanya sekedar menggoda selera, namun juga begitu nikmat dibayangkan. Bahkan aroma yang serba manis itu sanggup melambungkan anganku pada suasana khas Lebaran yang membuatku rindu dan tak sabar untuk segara menuju hari Lebaran yang sangat ditunggu –tunggu itu. Aku sungguh kangen pada suasana yang penuh haru bercampur bahagia, suasana meriah dan hiruk pikuk segudang sepupu dan keponakan, suasana mengobrol tak ada habisnya, suasana yang hanya ditemui di saat Lebaran tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Lebaran tahun ini aku dan 7 orang saudaraku telah melarang Ibu kami untuk membuat kue dan memasak hidangan Lebaran, mengingat sepuhnya usia beliau, 74 tahun ! &lt;br /&gt;Alhamdulillah, kali ini Ibu menurut, biasanya mana mau ibu disuruh berpangku tangan saja menyambut hari Raya. Mungkin tahun ini ibuku sudah sadar, bahwa dirinya sudah tua, sehingga harus lebih menghemat tenaga. Biasanya kan beliau ini susah banget dikasih tahu, nggak sadar kalau beliau ini sudah tua, merasa masih 40 tahun aja, kali … &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gantinya, kami membawakan kue – kue kering untuk ibu. Jika seorang membawa minimal 3 toples, bayangkan berapa banyak kue kering yang terkumpul ? semeja makan penuh ! &lt;br /&gt;Mungkin karena banyaknya kue kering yang terkumpul, ibuku tidak banyak membantah ketika dilarang bikin kue. Lucunya, kue – kue itu banyak yang seragam, meski berbeda penampilan. Sama-sama kue Nastar, tapi rasa dan penampilannya berbeda. Maklum tangan yang membuatnya pun berbeda. Dan percakapan yang selanjutnya sangat mudah ditebak : bagaimana perbandingan tepung, gula, telur, dan menteganya. Bahan apa yang ditambahkan, selai nanasnya bikin sendiri atau beli jadi, dll. Sungguh asyik dan bikin kangen menyimak percakapan saudara- saudaraku yang seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan aku ? hmmm ... dari pada banyak ditanya macam – macam dan aku nggak bisa menjawab, lebih baik aku mengirim kue – kue kaleng saja dan beberapa botol sirup untuk ibu. Dengan demikian, aku akan terbebas dari pertanyaan tentang cara membuatnya. Nah, aman kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara – saudaraku sudah tahu betul, kalau aku tidak begitu suka membuat kue yang sungguh menyita waktu itu. Sebetulnya aku bisa membuat kue kering. Suatu saat pernah kucoba, dan membuat kakak- kakak serta iparku heran, kok bisa ya aku membuat kue seenak itu ? ( yaa ..eya laah ..syapa dulu geto loch ... !! ). Namun aku tidak pernah lagi membuat kue, karena waktunya selalu bentrok dengan tidur siang .. hehee ... enggak deng, karena kesibukan kerja yang nggak ada habis – habisnya aja, beneran deh .. !&lt;br /&gt;Lagian buat apa bikin kue ? siapa yang mau makan ? nggak bikin aja, kiriman kue dari orang tua siswa sudah cukup banyak, belum lagi pemberian dari kenalan, saudara, dan relasi, sungguh bejibun ! alhamdulillah. Jadi kenapa harus bikin lagi ? kalau nggak kemakan, kan mubazir ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi suasana di rumah ibu Mertua di Sarijadi Bandung.&lt;br /&gt;Ketika aku tiba di sana, suasana dapur seperti ada dalam keadaan darurat perang, layaknya habis diacak-acak demonstran, atau seperti suasana pasar bubar kali ya ... wah, betul – betul seru dan sibuk !&lt;br /&gt;Mama dan beberapa adik ipar perempuanku, sedang berkutat dengan adonan kue yang menggunung. Seorang bergulat menguleni, seorang mencetak, seorang membakar, beberapa keponakan yang sebesar – besar Unyil nggak berhenti ngrecokin ... kulit telur berserakan, tepung berhamburan, meja dapur licin oleh ceceran mentega. Baskom , cetakan kue, loyang, spatula, sendok, gelas, bergelimpangan di setiap penjuru dapur, aroma kue yang sedap menyeruak dari dalam oven .... &lt;br /&gt;ahh ... benar – benar suasana yang dahsyat yang hanya aku temui setahun sekali !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak cakap, aku langsung mengambil bagian dalam kehebohan itu. Aku mengambil inisiatif untuk segera menyusun kue – kue itu ke dalam toples – toples kaca jaman kuno ( yang menurut Mama, sudah beliau miliki sejak 45 tahun! ck ck ck ... ). &lt;br /&gt;Eh, jangan menganggap sepele pekerjaan memasukkan kue ke dalam toples, lho !&lt;br /&gt;Ini pekerjaan yang rumit, lama, dan memerlukan ketekunan serta kesabaran, lho ! Bayangkan saja, kue- kue itu harus disusun dalam keadaan seragam. Semuanya harus berdiri dalam posisi sama, menghadap ke arah yang sama, miring ke arah yang sama, semua sudut toples harus terisi, harus penuh tapi nggak boleh padat ... bagaimana ? ribet kan ? nggak sembarang orang bisa mengerjakannya. Harus dikerjakan oleh orang yang teliti, punya kemampuan orientasi ruang yang baik, dan sabar seperti aku ini contohnya, baru bisa ... ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukan membuat kue kering itu, baru babak pertama dari babak lain yang nantinya akan lebih seru lagi. Masih ada beberapa ritual yang sudah menunggu untuk digarap oleh tangan – tangan perempuan yang terkenal terampil di rumah ibu mertuaku ini.&lt;br /&gt;Ritual sehari menjelang Lebaran, apalagi kalau bukan membuat hidangan makan siang Lebaran. Membuat ketupat, dengan lauk opor ayam, sambal goreng kentang dengan petai, sambal goreng hati, semur daging sapi, tumis cabai hijau, acar mentimun wortel dengan bawang merah dan cabe rawit mentah, lengkap dengan emping atau kerupuk udang, kadang ada juga tambahannya yaitu pepes ikan mas yang ukurannya super besar ... hmmm ...yummiiiii ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang bagaimana luar biasanya kesibukan yang akan terjadi di dapur ibu mertuaku yang tak begitu luas itu. Sebetulnya makanan sebanyak itu tak akan memakan waktu terlalu lama dalam proses pembuatannya, karena banyak tangan yang akan mengolahnya. Namun dalam hal masak – memasak, ibu mertuaku sungguh memiliki prinsip yang berbeda, yang tak boleh dilanggar. Prinsip yang sangat beliau yakini kebenarannya dan akan membuatnya tersinggung jika kami mencoba menggugatnya.&lt;br /&gt;Padahal menurutku dan menurut adik – adik iparku, prinsip beliau itu sebetulnya tak begitu penting dan malah bikin ribet. Tapi daripada nanti panjang persoalannya, kami yang muda- muda ini memilih mengalah saja ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip apa sih ? ini soal memasak opor ayam yang tersohor itu. Mama nggak mau masak opor kalau ayamnya bukan ayam kampung. Harus ayam kampung dan ayam hidup. Nah, kebayang kan betapa suamiku dan seluruh adik ipar laki-laki yang sehari –hari biasa berkutat dengan laptop, kali ini harus berkutat di halaman belakang dengan 8 ekor ayam kampung hidup yang selalu memberontak, menyembelihnya, merendam dalam air panas, mencabuti bulu-bulunya, membersihkan ususnya, dan memotong-motongnya dengan ukuran yang tidak boleh melenceng dari yang sudah Mama tentukan. Kadang kasihan bercampur geli aku melihat bapak-bapak ganteng ini, belepotan darah, dengan seluruh badan dan rambut penuh dengan bulu ayam, berkali-kali menggaruk tangan dan kaki karena lalat tak henti merubung. Bau mereka sungguh sudah mirip dengan bau ayam yang mereka kerjai, hehe ... lucu melihat tampang mereka yang cemberut ... &lt;br /&gt;Tapi, biar mereka punya jabatan boss di kantor, mana berani mereka membantah titah ibu mertua yang sakti itu ? &lt;br /&gt;Ah melihat itu, aku jadi ingin cepat – cepat jadi mertua ... ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip lain dari beliau yaitu tantang SANTAN. Ya santan, air pati putih kental dari perasan buah kelapa yang berasa manis gurih itu. Untuk memasak segala sesuatu yang membutuhkan santan, ibu mertuaku hanya percaya pada kelezatan santan yang didapat dengan cara kuno yakni dengan memarut buah kelapa dan kemudian memerasnya. Tidak boleh dengan cara lain. Mama tidak sudi memakai kelapa yang dibeli di pasar dalam keadaan sudah diparut, apalagi memakai santan instan kemasan yang banyak dijual di toko-toko dan supermarket. No Way !&lt;br /&gt;Menurut beliau, santan yang didapat dari kelapa yang diparut dengan mesin akan berasa hambar, sementara santan kemasan berasa aneh, seperti rasa obat, katanya. Jadi, kami harus kerja sama memarut 20 an butir kelapa, karena harus begitu caranya ... halaaaah ... capee dee ...&lt;br /&gt;Kalau aku sih, mendingan disuruh ngepel dari pada disuruh marut ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ibu mertuaku yang nggak kalah saktinya adalah tentang cara menghaluskan bumbu. Menurut beliau, bumbu harus dihaluskan dengan cara diulek ! ya, betul diulek, dihaluskan dengan cara manual, semua bumbu diletakkan diatas cobek lalu dihaluskan dengan alat yang bernama mutu, munthu, ulekan, atau apalah namanya, sebuah peralatan rumah tangga yang aku rasa sudah dipakai ibu – ibu di Indonesia sejak jaman Homo Habilis dulu ...&lt;br /&gt;Jangan harap ada bunyi desing blender di dapur Mama. Semuanya harus serba diulek, karena rasa yang dihasilkan akan jauh lebih nikmat, sedap, sedep, lezat, dan mak nyuuus ...&lt;br /&gt;Blender hanya boleh dipakai untuk membuat jus buah.&lt;br /&gt;Hmmpff ... lagi – lagi aku akan mengambil pekerjaan lain semisal menyetrika, daripada harus ngulek bumbu yang segambreng itu, ogah ahh .. mana pegel, mana harus bercucuran air mata karena pedihnya gas bawang merah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku ceritakan tadi itu belum seberapa, lho..&lt;br /&gt;Masih ada beberapa prinsip lain dari ibu mertuaku yang pantang dibantah, seperti keharusan menyangrai terlebih dahulu rempah-rempah yang berbau menyengat, menggarang diatas api beberapa jenis rempah tanah, semisal jahe, kunyit, dan sejenisnya, memetiki ekor toge satu persatu, padahal togenya ada segunung .... wah ... parah banget deh ... kalau kita lakukan pekerjaan ini, bisa mulai dari sahur, dan selesai pas beduk maghrib. Sungguh acara ngabuburit yang menyenangkan, bukan ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang semua prinsip itu terdengar sangat kaku, kuno dan merepotkan. Namun setelah kami merasakan hasil masakannya, kami hanya bisa diam seribu bahasa, tak sanggup membantah, karena memang masakan ibu mertuaku sungguh nikmat tiada tara. Bikin ketagihan, padahal nggak pakai penyedap rasa, nggak pakai bahan – bahan penembah selera lain, asli hanya bahan kampung biasa, tapi rasanya .... bukan main !! Ibu Mertuaku, biar jadul tapi Te o pe ... TOP !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hari lebaran telah tiba, yang diserbu ya itu tadi, ketupat dan kawan – kawannya itu. Makan sampai kenyang dan biasanya berakhir dengan perasaan enek, mblenger ...&lt;br /&gt;Kalau sudah begini, tak seorangpun mau menyentuh sederet kue kering yang pada saat shaum sungguh menggoda selera. Tak segigitpun kami mencoba kue nastar yang enak itu, kue kaastengels yang renyah dan gurih, kue kacang, kue putri salju, kue semprit coklat, kue sagu keju, kue kelapa, kue semprit dengan selai strawberry, kue coklat chips, kacang bawang, cheestick, kue bolu marmer, dll ... padahal semua kue itu memiliki rasa yang sangat lezat. Yang kami lakukan hanya duduk – duduk mengobrol menanti sanak saudara yang terus berdatangan, sambil mata kami tak lepas menatap deretan toples kue warna – warni di atas meja tamu di depan kami. Semua kue itu sangat indah dipandang mata, namun tak sedikitpun hati kami tergerak untuk mengambil sepotong dan memakannya. Ini lah mungkin yang disebut ” Kue Pandang Tak Jemu ” itu ya... ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin, pengalamanku ini tak akan jauh berbeda dengan pengalaman teman – teman semua. Suasana Lebaran di negeri kita sungguh khas dan menerbitkan kebahagiaan dan rindu bagi siapapun yang merayakannya. Semua senyuman ramah, semua binar mata, semua baju baru, semua harum bunga sedap malam di vas meja tamu, semua kue kering dan ketupat opor, nyaris aku temui di setiap rumah yang aku kunjungi. Sungguh suasana langka penuh rasa persaudaraan yang semakin jarang aku temui akhir – akhir ini. Alhamdulillah, semua makanan di keluarga besarku, di rumah ibuku dan ibu mertuaku, selalu habis tak bersisa. Orang tua kami sangat mewanti – wanti kami agar tidak pernah memubazirkan makanan, rezeki dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami selalu membagikan semua makanan itu kepada sanak saudara dan tetangga yang tidak mampu, agar semua dapat merayakan kebahagiaan di hari raya ini. Dan akupun membiasakan tradisi itu di rumahku. Aku bagikan semua kue – kue dan makanan kepada tetangga – tetangga yang tak berpunya di kampung kami. Menurutku, hari Raya Idul Fitri harus dirayakan dengan benar. Benar secara syariat dan benar secara adat. Bukankah kita harus mencari keridhoan Allah dan juga keridhoan manusia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama pribadi dan keluarga, saya mengucapkan kepada teman - teman tersayang, &lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H&lt;br /&gt;" Taqobalallahu minna wa minkum "&lt;br /&gt;Mohon Maaf Lahir dan Batin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Persahabatan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji Nurani ( anni ), Heriyanto, Ufi, dan Selma&lt;br /&gt;Sukabumi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-3487098553048581346?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/3487098553048581346/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/09/kue-pandang-tak-jemu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/3487098553048581346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/3487098553048581346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/09/kue-pandang-tak-jemu.html' title='KUE  &quot;  PANDANG TAK JEMU  &quot;'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SrEaNSBsR-I/AAAAAAAAAOA/A2lT0nZKjcY/s72-c/5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-235867871376247319</id><published>2009-08-15T15:38:00.000-07:00</published><updated>2011-07-17T21:15:07.024-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Kasus Marshanda : Anak - Anak Kita Bukan Mesin Pencetak Uang !!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Soc6CoZkZ0I/AAAAAAAAAME/mOgJEnYy6lo/s1600-h/mar2.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="383" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370324897541416770" src="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Soc6CoZkZ0I/AAAAAAAAAME/mOgJEnYy6lo/s400/mar2.jpg" style="display: block; height: 227px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 237px;" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Soc58mgxA_I/AAAAAAAAAL8/COr5Cskqu6w/s1600-h/mar1.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="400" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370324793955517426" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Soc58mgxA_I/AAAAAAAAAL8/COr5Cskqu6w/s400/mar1.jpg" style="display: block; height: 100px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 100px;" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Andriani Marshanda. Demikian nama gadis cantik berusia 20 tahun itu.&lt;br /&gt;Siapa yang tidak kenal dengannya. Nama itu begitu berkibar dan kerap menghiasi acara - acara sinetron di semua stasiun TV di Indonesia. Entah berapa sinetron yang sudah dia bintangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya Marshanda adalah anak Indonesia yang cerdas, aktif, berprestasi dan potensial. Beginilah seharusnya anak-anak Indonesia, mampu menggali semua bakat yang mereka miliki untuk kemajuan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan penggemar Marshanda,, dan Aku juga tidak menyukai sinetron yang ditayangkan di negeri ini. Aku hanya menyaksikan satu sinetron "Si Doel, Anak Sekolahan ". Namun aku ingat betul, aku pernah sering menyaksikan akting gadis manis ini, ketika semasa kecil dia membintangi sinetron kesayangan anakku, BIDADARI. Selepas itu, yang aku dengar hanya sekilas - sekilas gosip nya saja di acara infotainment yang sering ditonton oleh pembantuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku tahu tentang Marshanda hanyalah, dia anak Indonesia yang terlalu belia untuk mencari uang, sebagaimana ratusan anak-anak muda lainnya di dunia hiburan, yang harus bekerja ekstra keras, melampaui kemampuan tenaga yang tersimpan di tubuh anak-anak mereka. Aku sering mendengar, anak-anak ini, yang seharusnya belajar dengan asyik di bangku sekolah, aktif di OSIS, menjadi anggota Paskibra, tertawa bercanda bersama teman-temannya, belajar bergaul dan bersosialisasi agar menjadi warga Negara yang baik, harus kehilangan semua kesempatan itu, karena kaki dan tangan mereka terikat dengan erat oleh sesuatu keharusan yang bernama KONTRAK. Demi bergepok uang, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak yang baru berusia 3 tahun, 7 tahun, belasan tahun, harus dari pagi buta hingga larut malam berada di lokasi syuting untuk menyelesaikan sebuah acara, entah sinetron atau acara hiburan lain. Bayangkan betapa tidak kondusifnya suasana di tempat syuting itu. Makan tidak teratur, kurang istirahat, kurang bermain, kurang belajar. Belum lagi dengan pemandangan kurang sehat yang tentu harus menjadi konsumsi mereka sehari – hari. Entah adegan nyata atau sekedar acting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka harus berkumpul dengan orang dewasa yang banyak diantara mereka adalah perokok berat, berkumpul dalam suasan serba permisif, dalam hubungan yang serba longgar. Anak-anak yang masih sangat muda itu, tentu belum dapat membedakan, mana ciuman yang sungguhan, dan mana ciuman yang hanya sekedar acting. Namun mereka toh harus menyaksikannya sebagai sebuah keniscayaan yang tak bisa dielakkan lagi. Aku hanya khawatir, mereka akan tumbuh dengan kesadaran bahwa orang dewasa boleh berciuman dengan siapa saja yang dia inginkan, dan dimana saja tanpa harus merasa malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih memprihatinkan lagi, banyak diantara anak-anak itu yang kemudian harus meninggalkan bangku sekolahnya, sebab mengundurkan diri karena tak sanggup mengatur jadwal yang super ketat di tempat kerja, atau memang dikeluarkan oleh pihak sekolah, karena sekolah bersikap tegas terhadap siswanya yang terlalu sering meninggalkan jam pelajaran. Lalu mereka beralih memasuki Home Schooling, dengan alasan pendidikan model ini lebih fleksibel dalam mengatur jadwal belajar. Apa mereka pikir Home Schooling adalah lembaga yang bisa mereka atur seenaknya sendiri hanya karena mereka populer ? perlu diketahui, Home Schooling adalah sebuah institusi pendidikan yang memerlukan komitmen yang sangat kuat dari para guru dan siswa untuk belajar melebihi cara belajar di sekolah-sekolah konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini aku mendengar kabar mengejutkan tentang sakitnya Marshanda. Bukan sembarang sakit. Dia mengalami ganguan jiwa, akibat depressi berat. Belum lagi sederet pernyakit yang harus dia tanggungkan di tubuhnya yang cantik itu. Inilah deretan penyakitnya : Tyfus, penyakit lambung, castritis kronis, maag kronis, serta penyempitan tulang leher yang kian menjepit syarafnya !&lt;br /&gt;Menurut manajer nya, dokter yang merawat, dan orang tuanya, gadis itu menderita sakit karena tidak tahan terhadap beratnya tekanan pekerjaan. Selain itu dia merasa stress karena kini dia tak sepopuler dulu, ditambah tekanan dari banyak pihak yang menghendaki kesempurnaan penampilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyaallah, Marshanda cuma anak Indonesia biasa, seperti anak-anak kita juga ... !&lt;br /&gt;Sungguh tidak seharusnya orang – orang dewasa memperlakukan seorang anak sekeras itu. Usianya baru 20 tahun, seharusnya dia sedang asyik mendengarkan kuliah dari dosennya di kampus, belajar berorganisasi, dan bukannya menghabiskan empat per lima waktunya di tempat syuting dan seperlima waktu lainnya di tempat dugem karena alasan sosialisasi tuntutan pekerjaan !&lt;br /&gt;Ya terang saja dia jatuh sakit. Memangnya ada, anak sebelia ini sanggup menanggung beban seberat itu ?&lt;br /&gt;Mohon maaf, aku sangat kecewa dengan orang tua Marshanda dan ribuan orang tua lain, yang menjadikan anaknya bak mesin pencetak uang, hingga abai terhadap kesehatan mental dan fisiknya putra- putrinya, yang seharusnya mereka lindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat yakin, Marshanda hanyalah fenomena gunung es, yang jika kita dapat menyibak fakta yang sesungguhnya, niscaya kita akan dibuat terperangah karena miris dan ngeri. Betapa gemerlap dunia hiburan yang menjanjikan limpahan materi, kepopuleran dan keistimewaan, di satu sisi menjadi mesin pembunuh yang sangat efektif bagi jiwa ribuan anak-anak Indonesia yang seharusnya dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derasnya kocek yang bakal menyesaki kantong, serbuan fans yang histeris, kini menjadi iming-iming yang sangat mujarab bagi sejumlah rumah produksi untuk membuat acara – acara reality show yang dapat membuat pesertanya menjadi mendadak terkenal. Dan aku sangat kecewa, banyak diantara acara itu, yang ditujukan untuk anak-anak...&lt;br /&gt;Lihat saja, ribuan anak diantar oleh orang tuanya yang sangat ambisius, memenuhi ruangan audisi, demi sekeping harapan : meraih popularitas yang dapat mengangkat mereka ke jenjang kehidupan yang lebih mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang seseorang itu menjadi orang tua karena kebetulan saja dia memiliki anak. Namun banyak sekali orang tua di negeri ini yang sama sekali tidak memiliki kapasitas sebagai orang tua dalam arti yang sesungguhnya. Alih – alih mendidik dan mengayomi, mereka justru melihat anak-anak yang dilahirkannya itu sebagai aset yang sangat berharga untuk menambah kocek mereka, karena mereka sendiri tak mampu untuk melakukannya. Aku banyak melihat, bagaimana seorang ibu yang karena tak berhasil menjadi artis di masa mudanya , lantas mendadani anak kecilnya semenor mungkin, agak segera menjadi artis sebagai pengganti impiannya yang tidak tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegenitan para orang tua ini terasa mendapat saluran yang pas, dengan semakin maraknya acara – acara televisi yang dapat mengekspresikan ambisi mereka. Semakin banyak saja acara TV yang tidak bermutu akhir - akhir ini. Aku malas membahasnya. Aku lebih suka meninggalkannya saja, dan mengajak anak-anakku membaca buku, sebagai ganti menonton acara sinetron yang hanya membusukkan jiwa. Percuma saja meneriakkan anti pati terhadap acara murahan di televisi, karena pihak-pihak yang berwenang atas kualitas penyiaran, rasanya sudah kian buta dan tuli saja akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marshanda, dan jutaan anak Indonesia lain, yang bekerja demi segudang uang atau hanya demi dua ribu rupiah sehari dilampu – lampu merah, harus dilindungi. Mereka adalah penerus kita di masa depan, manakala usia kita sudah semakin uzur dan tenaga kita kian melemah. Apa yang dapat kita harapkan dari anak-anak yang sedari usia dini sudah tidak utuh lagi jiwanya. ? berlubang di sana – sini karena tercerabut dari akar masa kecilnya ? sangat sulit mengharapkan anak- anak Indonesia akan memiliki rasa empati terhadap sesama, berjiwa social tinggi, gemar menolong, mudah iba, santun dalam bersikap, jika sedari kecil ditempa dengan kekerasan hidup yang tak terperi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan anak – anak Indonesia, anak-anak kita hidup dalam dunianya. Biarkan mereka bebas belajar, bermain, menimba ilmu kehidupan, hingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri, bukannya pribadi yang kecil - kecil sudah pacaran bak orang dewasa yang besok mau menikah saja, sombong, egois, selalu ingin diistimewakan dan bebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan dengan gratis Allah mengamanahkan anak kepada kita. Kehadiran mereka melalui rahim kita atau istri kita, adalah berarti sederet kewajiban dan keharusan yang harus kita laksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab. Bukan hanya sekedar segumpal hak yang bisa diperlakukan sekehendak hati kita. Mari selamatkan anak- anak Indonesia dari orang tua dan penguasa uang yang sangat serakah tanpa belas kasih di negeri kita tercinta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-235867871376247319?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/235867871376247319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/08/kasus-marshanda-anak-anak-kita-bukan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/235867871376247319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/235867871376247319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/08/kasus-marshanda-anak-anak-kita-bukan.html' title='Kasus Marshanda : Anak - Anak Kita Bukan Mesin Pencetak Uang !!'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Soc6CoZkZ0I/AAAAAAAAAME/mOgJEnYy6lo/s72-c/mar2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-6765462757528313617</id><published>2009-08-15T15:28:00.000-07:00</published><updated>2009-08-15T15:32:50.788-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>BIAR MISKIN YANG PENTING SOMBONG ... !</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Soc3ayWn-gI/AAAAAAAAALk/dJ6lKjDPayQ/s1600-h/mouse.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 278px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Soc3ayWn-gI/AAAAAAAAALk/dJ6lKjDPayQ/s320/mouse.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370322013995399682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari menjelang siang di suatu hari yang cerah. Pukul 10.00 wib aku minta izin atasan untuk meninggalkan pekerjaanku, karena aku harus menemani anakku pergi ke SD untuk mengurus ijazah dan segala macam dokumen lengkap dengan cap tiga jarinya. Setibanya di sekolah, aku melihat banyak ibu – ibu yang sudah berkumpul untuk maksud yang sama denganku. Aku langsung menyapa ibu – ibu yang sudah lama kukenal itu, dan mereka balas menyapaku dengan riang. Beberapa lagi berpikir sejenak dan kemudian menyapaku, atau sebaliknya, aku harus berpikir dulu beberapa detik untuk kemudian balas menyapa mereka dengan gembira dan tertawa –tawa penuh kerinduan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa tahun aku tidak bertemu dan berbincang – bincang dengan teman-teman ibu – ibu ini. Beberapa tahun yang lalu, ketika anakku masih duduk di kelas satu, cukup sering aku mengantar atau menjemput anakku. Namun ketika anakku sudah duduk di pertengahan semester satu sampai duduk di kelas enam, sudah sangat jarang aku mengunjungi SD tempat anakku bersekolah itu, kecuali untuk keperluan mengambil rapor. Nah, di sela-sela waktu menunggu anak-anak ini , kami berbincang – bincang tentang apa saja, dan karena kerap bertemu akhirnya kamipun menjadi akrab satu sama lain.&lt;br /&gt;Karena pergaulan itu pula, sedikit banyak aku bisa mengetahui latar belakang kehidupan mereka. Keadaan keluarga, kondisi sosial dan ekonomi mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal di sebuah kota kecil yang dihuni oleh masyarakat yang mayoritas tingkat ekonominya memprihatinkan. Memang begitulah keadaannya. Teman-teman ibu – ibu ku ini, rata-rata memiliki tingkat kemampuan ekonomi yang sangat rendah. Seratus persen ibu-ibu ini tidak memiliki penghasilan sendiri, sementara suami mereka bekerja serabutan dengan penghasilan yang sangat jauh dari mencukupi. Ada yang bersuamikan tukang ojek, tukang gali pasir di sungai, pemecah batu, pedagang rokok dan minuman di bis antar kota, pedagang gorengan, kuli angkut di pasar, tukang parkir, membuka warung kecil, pedagang sayuran di pasar, dan berbagai pekerjaan sejenisnya, yang hanya menghasilkan uang sangat sedikit untuk waktu kerja dari subuh sampai malam hari. Bagaimana dengan tingkat pendidikan mereka ? mayoritas hanya lulusan SD, selebihnya SMP, dan lebih sedikit lagi yang pernah mencicipi bangku SMA. Jadi kebayang kan ya, harus dengan bahasa apa, dan cara berfikir bagaimana aku bergaul dengan mereka, agar pembicaraan kami bisa nyambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya belagu, lingkungan pergaulanku di SD anakku ini memang berbeda seperti bumi dan langit dengan lingkungan tempatku bekerja. Di tempatku bekerja, aku dapat dengan bebas berbincang, berdiskusi tentang apa saja, dengan sudut pandang mana saja, tanpa merasa khawatir pembicaraan kami nggak nyambung, karena kami berasal dari latar belakang pendidikan, sosial, dan ekonomi yang relatif sama. Berbeda halnya ketika aku bergaul dengan teman-teman ibu-ibu di SD. Aku harus benar – benar ”switching channel”, menanggalkan semua atribut profesi, dan berusaha keras belajar berbicara dalam bahasa yang sama dengan mereka. Untuk amannya, bahan pembicaraan yang mudah nyambung adalah tentang hal – hal yang netral, yang general, yang semua kalangan bisa masuk. Misalnya tentang cara membuat pepes ikan mas biar nggak berbau amis, tentang ngurus bayi yang masuk angin, tentang kelucuan anak-anak di rumah, tentang gosip artis, pokoknya tentang apa aja yang kaya gitu deh, yang semua orang nggak peduli apa pendidikannya, bisa ikutan ngobrol. Jangan pernah berfikir untuk berbincang tentang masalah yang berat, semisal suhu politik terkini, debat Capres, atau hanya sekedar mendiskusikan topik yang dibawakan Pak Mario Teguh ... wah, bisa ribet nanti urusannya. Ntar aku malah jadi kaya makhluk aneh yang ngomong sendiri, ditonton sama ibu – ibu yang melongo nggak jelas. Males ah, emangnya aku topeng monyet apa ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak, banyak sekali pelajaran yang dapat kupetik dari pergaulanku dengan ibu-ibu penunggu anak di SD ini. Bersama mereka, aku belajar bagaimana menahan lidah untuk tidak terlampau mengumbar pembicaraan, aku juga belajar berempati, berfikir dengan kaca mata orang lain, merasakan kesulitan hidup mereka yang kian hari kian mendera, menyelami aneka pernik problematika rumah tangga masyarakat kalangan bawah, yang ternyata kurang lebih sama dengan masalah rumah tangga golongan kaya, dan masih banyak lagi pelajaran berharga lain yang aku rasakan, baik pada saat itu, maupun setelah cukup lama aku merenungkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada satu hal yang hingga kini masih saja membuatku terheran – heran, dan membuatku sulit untuk mengerti, bahkan hanya untuk sekedar memakluminya saja. Begini maksudku. Aku menyaksikan dengan mataku sendiri, banyak sekali diantara ibu-ibu temanku itu, yang notabene berasal dari kalangan tidak mampu itu, memiliki apa ya ... harga diri, gengsi, pride, atau apalah namanya, yang telampau tinggi dan kadang nggak masuk akal. Mereka itu, jelas - jelas miskin tapi berusaha untuk tampil tidak miskin. Gimana ? bingung nggak ? kalau bingung, ya sudah, mari aku gambarkan supaya lebih jelas ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama dari segi penampilan. Aku bener-bener dibuat takjub dengan rentengan gelang yang meliliti kedua lengan mereka, dengan cincin emas yang bertengger di lebih dari dua jari, kadang cincin itu bertumpukan di satu jari, dengan kalung panjang bertumpuk yang melingkar di leher ... wah, cemerlang banget ! Silau ...maann ... !! ... perkara itu perhiasan emas betulan atau palsu, ya meneketehe ... aku sih nggak mau ambil pusing. Yang jelas, cara mereka memakai perhiasan itu, sudah cukup mengundang minat para pencopet dan pencoleng yang berkeliaran di jalan untuk melirik ibu- ibu ini dan menjadikan mereka sebagai mangsa kejahatannya. Aku jadi heran, katanya penghasilan suaminya cuma cukup setengah hari, hlo ... tapi kok perhiasannya sampai kaya toko emas berjalan gitu, ya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua dari cara berpakaiannya. Perasaan, setiap hari aku bertemu dengan mereka, seminggu 6 hari, maka sebanyak jumlah hari sekolah itulah mereka berganti-ganti pakaian. Lah, katanya gak bisa makan ... makan pagi, siang seketemunya dan malam hari puasa ... tapi kok bisa-bisanya ganti baju ya ? apa nggak aneh ? kenapa harus belanja baju, kalau di rumah makan cuma sekali sehari dengan lauk kerupuk doang ? au ah gelap ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuatku lebih takjub adalah cara mereka berbicara di antara mereka sendiri ( kalau denganku, nggak berani, hehehee ... ). Waaaa ...tinggi banget omongannya ! dari mulai beli kartu perdana , ganti kesing hape, transfer pulsa SMS, belanja baju di toko anu, beli sandal di toko ini, nyeritain habis ditraktir entah oleh siapa, di restoran ayam chicken .. halah ... sumpah, beneran lho, di kampung tempat tinggalku, kalau kita mau nyebut nama makanan ayam goreng tepung yang digoreng crispy kaya KFC atau CFC gitu, ya namanya ayam chicken ...hihiii ... &lt;br /&gt;Wah, dahsyat bener ya obrolan mereka ... ? aku bukan tukang nguping, tapi gimana nggak kedengeran, kalau mereka berbicara dengan suara yang super keras, kaya suara gledeknya Mpok Nori ? ya pasti kedengeran lah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bener-bener nggak paham, mengapa ibu-ibu ini sangat bergaya hidup konsumtif, sementara jelas-jelas penghasilan suami mereka sangan minim ?&lt;br /&gt;Aku heran deh, beneran. Bagaimana tidak, sedangkan membayar SPP saja&lt;br /&gt;( dulu, jaman SD masih bayar SPP ) mereka sering menunggak sampai 6 bulan lebih. Sedangkan membeli beras saja diecer setiap hari satu kilo. Sedangkan anak sakit diare saja diobatin dengan cara disembur entah pakai ramuan apa, karena tak ada uang untuk sekedar pergi ke Puskesmas. Kebutuhan – kebutuhan yang sangat utama itulah yang justru mereka abaikan.Ibu – ibu ini, entah karena memang berkarakter boros, atau memang tidak mengerti persoalan skala prioritas, terus saja menjerumuskan diri mereka pada lembah kemiskinan yang kian dalam. Ini diperparah dengan perilaku mereka yang gemar berhutang kepada rentenir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah yang paling membuatku tak berdaya dan hanya bisa mengusap dada. Ibu – ibu ini, yang berasal dari keluarga dhuafa ini, sangat sulit untuk dinasihati. Sangat keras kepala dan tersinggungan. Aku pernah melihat, ada salah seorang guru di SD itu yang memberi teguran halus kepada salah satu ibu-ibu itu, agar mendahulukan membayar SPP yang sudah berbulan – bulan tidak dibayar. Entah karena cara negurnya salah, atau gimana, astagfirullah ... habis deh ibu guru yang malang itu disemprot sama ibu-ibu orang tua siswa yang nggak terima dibilang, ” Kenapa beli gelang bisa, kok bayar SPP nggak bisa ? ”. Ya Allah, dari kasus ibu guru yang apes itu, aku tak pernah mencoba menasihati mereka, kecuali diminta. Memang, kadang – kadang ada ibu-ibu temanku itu yang datang padaku untuk meminta nasihat cara mengatur keuangan keluarga. Tapi tak banyak yang bisa aku lakukan untuk menolong mereka, kecuali membuka dompetku dan memberi uang sekedarnya, karena memang sejujurnya itulah yang mereka harapkan dariku, dan bukan nasihatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritaku belum selesai sampai disini. Berikut ini adalah yang paling top, yang paling membuatku takjub terhadap fenomena kemiskinan, yang membuatku ogah jadi orang miskin ...&lt;br /&gt;Ibu- ibu itu, yang berasal dari kalangan keluarga miskin itu, kebanyakan nggak ngerti tata krama, nggak ngerti sopan santun. Sungguh, masalah akhlak bukanlah masalah tingkat pendidikan, namun lebih pada masalah karakter dan kebiasaan hidup seseorang di lingkungannya. Perasaan, aku tu termasuk orang yang lumayan jutek, lho. Jarang bicara dan tersenyum pada orang yang belum aku kenal, atau tidak begitu akrab denganku. Namun, di antara ibu-ibu rumpi di SD itu, kayak nya aku tuh yang paling ramah banget. Setiap berjumpa, pasti aku duluan yang menegur, tersenyum dan mengajak berbincang-bincang. Sangat jarang mereka melakukannya lebih dahulu. Sekilas mereka tampak seperti orang yang sombong. Belum lagi sikap yang mereka tampakkan jika kebetulan sekolah mengadakan acara –acara amal. Mereka sangat merasa gengsi jika anaknya diumumkan terpilih untuk menerima bantuan beasiswa untuk keluarga pra sejahtera, misalnya. Mereka juga bisa sangat tersinggung jika sekolah melakukan pendataan siswa, dan mereka dikategorikan sebagai keluarga miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sikap yang sangat kontras akan mereka tunjukkan secara demonstratif, manakala tiba saatnya pembagian zakat atau BLT, misalnya. Wah, untuk itu mereka rela berjibaku, ngantri dari subuh sampai asar hanya untuk sekedar mendapatkan beberapa puluh ribu sampai 3 ratus ribu rupiah. Tau nggak uang yang mereka dapatkan itu digunakan untuk apa ? bukan untuk membayar SPP, atau untuk modal membuka usaha kecil-kecilan, atau untuk berobat, tapi untuk ganti hape second, beli DVD player, beli pulsa, belanja aneka jajanan di supermarket ..... aduuu .. .cape deee ...&lt;br /&gt;Semuanya demi apa ? demi harga diri yang tinggi, demi tidak dipandang sebagai orang miskin ! ... halah ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku mengerti, mengapa pemerintah kita dari generasi ke generasi, sangat sulit melakukan upaya pengentasan kemiskinan. Selain faktor-faktor kemunduran ekonomi secara nasional dan global, faktor internal yang melekat pada diri si miskin itu sendirilah yang justru memegang peranan yang sangat vital untuk melestarikan kemiskinan di negeri ini. Bagaimana bisa dientaskan, jika mereka – kalangan miskin ini - memiliki mentalitas malas, konsumtif, keras kepala, dan sok. Memangnya apa yang bisa dilakukan untuk menolong orang yang enggan diperbaiki, dan berkarakter tak mau menerima masukan dari orang lain ? Memang benar, tidak semua orang miskin berkelakuan seperti itu, dan akupun tidak bermaksud menggeneralisasi semua orang miskin bertabiat buruk.&lt;br /&gt;Aku hanya bermaksud menggambarkan secara sambil lalu, bahwa ada sebagian saudara – saudara kita, yang bermotto hidup ” BIAR MISKIN YANG PENTING SOMBONG ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didedikasikan untuk mbah Surip (alm)&lt;br /&gt;Seseorang yang tak kenal kata menyerah untuk melawan kemiskinan yang mendera di sepanjang perjalanan usianya. Usia renta tak menjadi halangan untuk mencapai kesuksesan. Selamat jalan Mbah ...semoga Malaikat menggendhong arwahmu dengan penuh cinta dan kelembutan, karena Mbah sudah menghibur hati berjuta orang, amiin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-6765462757528313617?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/6765462757528313617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/08/biar-miskin-yang-penting-sombong.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6765462757528313617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6765462757528313617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/08/biar-miskin-yang-penting-sombong.html' title='BIAR MISKIN YANG PENTING SOMBONG ... !'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Soc3ayWn-gI/AAAAAAAAALk/dJ6lKjDPayQ/s72-c/mouse.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-7110082546181365177</id><published>2009-07-04T10:24:00.000-07:00</published><updated>2009-07-04T10:30:57.615-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Aku Menyaksikan Perceraian</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Sk-Rn_ZnXBI/AAAAAAAAALc/j71RXlPNf4U/s1600-h/bm_divorce1%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 232px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Sk-Rn_ZnXBI/AAAAAAAAALc/j71RXlPNf4U/s320/bm_divorce1%5B1%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354658598186605586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;16 Tahun yang lalu, aku menghadir perhelatan pernikahan salah seorang kerabat dekatku. &lt;br /&gt;Pernikahan itu berlangsung sederhana, namun cukup meriah. Ketika itu aku masih tinggal di Bandung bersama orang tuaku, dan belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak semester 5 di bangku perguruan tinggi hingga beberapa tahun berikutnya, aku belum berprofesi sebagai Pendidik seperti sekarang ini. Profesiku kala itu adalah sebagai seorang reporter, jurnalis, yang bekerja untuk LPS PRSSNI - KBN ANTARA. Jadi dulu aku anak buahnya mbak Tutut.&lt;br /&gt;Sebagai seorang reporter, aku sudah terbiasa meneliti dari sudut pandang yang berbeda terhadap segala hal yang terjadi di lingkunganku, termasuk terhadap perhelatan pernikahan yang kuhadiri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, di tengah-tengah kemeriahan suasana, kekaraban yang terjalin di antara para tamu undangan dan tuan rumah, aku merasakan aura yang kurang nyaman , melihat sesuatu yang janggal dalam pesta ini, namun entah apa. Lalu kuputuskan untuk mencari tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tempat dudukku di sudut, kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan dan ke semua tamu undangan yang hadir. Setiap detail aku perhatikan dengan seksama, aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pernikahan ini. Hmm ...apa ya ...?! &lt;br /&gt;Beberapa saat lamanya aku tetap bertahan dengan kondisi layaknya seorang Spy seperti itu, dan mendadak aku tersentak dari keasyikanku, ketika tiba-tiba mas Herry tunanganku, mencolek daguku dan menjejeri dudukku. " Dari tadi kok bengong melulu ....", begitu tanyanya. Lantas aku ceritakan apa yang sedang aku pikirkan dan aku lakukan kepada tunanganku yang baru kukenal 2 bulan ini.&lt;br /&gt;Dan seperti yang sudah kuduga, dia menjawab dengan santai setengah bercanda, " Ahh ...itu hanya perasaan anni aja ... ". &lt;br /&gt;Ya sudahlah ... kalo nggak percaya ya udah, tapi aku tetap dengan pendirianku, ada sesuatu yang aneh dengan pesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahh ...itu dia !! aku tahu sekarang !! &lt;br /&gt;Lihat itu .... sejak tadi, keluarga mempelai laki-laki yang hadir, tak satupun yang menyunggingkan senyum, tak seulaspun ! semenjak tadi wajah mereka muram saja, layaknya wajah orang-orang yang menghadiri acara pemakaman, alih-alih hajatan pengantenan.&lt;br /&gt;Dan itu juga ... perhatikan baik-baik ...!! semenjak tadi aku lihat mempelai wanita - yang merupakan kerabatku - tak menunjukkan wajah bahagia sedikitpun ! Pucat pasi kayak orang mau pingsan ...&lt;br /&gt;Nah, aneh bukan ... ? mengapa di tengah-tengah kebahagiaan itu, ada orang-orang yang menunjukkan ekspressi muram ? padahal ini adalah hajatan milik mereka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat pulang tiba, aku tak menemukan jawaban atas kepenasaranku itu, karena kemudian aku tak melanjutkan berusaha mencari tahu. Kupikir ini sudah wilayah pribadi jadi aku tak mau bersikap usil, karena aku bukan wartawan koran gosip, dan aku bukan tukang gosip, dan karena aku benci gosip ...halah ...&lt;br /&gt;Namun, tanpa dapat kutahan lagi, aku mengungkapkan kepenasaranku pada tunanganku yang sejak tadi nempel terus kaya lem super .. ;)&lt;br /&gt;Lagi-lagi jawabannya sama seperti tadi, bahwa itu cuma perasaanku saja, dan kalaupun memang ada sesuatu, semoga tidak terjadi ...&lt;br /&gt;Hhhhh ...cape dee ... dia nggak tau aja, bahwa feeling seorang jurnalis itu bisa sangat tajam ...setajam ... SILET ...!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 tahun telah berlalu ....&lt;br /&gt;Kemarin, aku berkumpul dengan keluarga besar di Bandung. Dan aku sungguh terhenyak, kaget luar biasa, melihat kenyataan yang terjadi di depan mataku. Sungguh aku terkejut bukan kepalang, rasanya seperti ditampar dengan telak dan mendadak di wajah ketika kita sedang asyik nonton film Sponge Bob, misalnya. Sampai sakit perutku ( lho, yang ditampar wajah kok yang mules perut yaaa... ? ).&lt;br /&gt;Tragedi yang terjadi di depan mataku, sungguh menyakitkan hatiku. &lt;br /&gt;Di tengah keterkejutanku, aku seperti tersadarkan, bahwa inilah jawaban atas firasat buruk yang menghinggapiku 16 tahun lau, kala aku menghadiri pesta pernikahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang itu, di rumah keluarga besar, telpon berdering dan suamiku mengangkatnya.&lt;br /&gt;Ternyata ini adalah berita dari kantor suami kerabat perempuanku yang 16 tahun lalu menjadi pengantin itu. Biar nggak ribet, katakanlah kerAbat perempuanku itu namanya si A.&lt;br /&gt;Agak lama suamiku berbicara di telepon, namun kami tidak memperhatikannya.&lt;br /&gt;Seusai menelepon, suamiku memanggilku, dan mengajakku masuk ke salah satu ruangan, menyingkir dari keramaian keluarga. Setelah duduk berdua, suamiku menyampaikan berita itu ...berita buruk itu yang sampai sekarang aku masih belum bisa menerimanya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wajah pucat, dan suara serak, suamiku menyampaikan berita, bahwa suami si A yang sudah 3 tahun ditugaskan di kalimantan, menggelapkan uang perusahaan dan telah menikah lagi dengan perempuan desa setempat, dan kini nyawanya dalam keadaan terancam.&lt;br /&gt;Yang lebih membuatku tertohok adalah, dia memutuskan meninggalkan si A istrinya, dan ketiga anaknya yang masih di bawah umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astagfirullah ... aku sungguh tidak bisa mempercayai apa yang kudengar. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ? sejauh yang aku kenal, suami si A adalah seorang laki-laki soleh, baik, lembut, lucu, rajin, dan sangat menyayangi keluarganya. Bagaimana bisa seseorang tiba-tiba berubah menjadi laki-laki yang jahat dan tidak tahu adat seperti itu? apa kesalahan A yang sangat kusayangi itu ? A sudah aku anggap adik sendiri, karena aku tidak memiliki adik perempuan.&lt;br /&gt;A perempuan yang manis, sederhana, ibu dan istri yang baik. Pintar masak, pintar bikin kue, mengatur rumah tangga, gesit, penurut ... apa yang kurang dari dia ? Sungguh laki-laki yang tidak tau diuntung yang berani menyakiti istri baik seperti A !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah baru kemudian timbul. Suamiku meminta dukunganku untuk menyampaikan kabar buruk ini kepada A. Sungguh bukan perkara yang gampang. Ini seperti menyampaikan berita kematian mendadak anggota keluarga tercinta, yang dampaknya sudah terbayangkan.&lt;br /&gt;Dan benar saja, yang kami takutkan pun terjadilah. &lt;br /&gt;Meskipun telah disampaikan dengan penuh kehati-hatian, dengan kalimat yang cermat dan terpilih, tetap saja, berita ini menggemparkan seisi rumah. A langsung tidak kuat dan jatuh pingsan. Setelah sadar dia tak sanggup berkata-kata, hanya menangis dan menangis saja ... &lt;br /&gt;melihat itu akupun tak sanggup menahan air mataku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kesedihanku yang paling dalam kurasakan adalah ketika aku harus menyksikan hancurnya hati ketiga buah hati A. Anak-anak yang dalam kesehariannya itu selalu ceria dan riang gembira, kini semua berurai air mata, menderita tekanan batin yang sungguh di luar kesanggupan mereka. Mendadak terhapus semua kebahagiaan di mata mereka, kebahagiaan berkumpul dengan keluarga besar, kebahagiaan menunggu kedatangan ayah tercinta, kebahagiaan menerima rapor dengan angka yang bagus-bagus .... kini semuanya seperti hilang tak berbekas lagi ....&lt;br /&gt;Ya Allah, sungguh suami dan bapak yang tidak berakhlak yang tega melakukan itu semua kepada keluarga yang sangat mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh anggota keluarga bersedih dan terpukul, merasa terhina dan dicampakkan begitu saja.&lt;br /&gt;Malam itu semua orang berbicara dengan nada tinggi dan emosional. Semua perempuan di rumah itu menangis, semua laki-laki berwajah merah padam dan mengatupkan gerahamnya dengan geram.&lt;br /&gt;Namun suamiku bisa tampil lebih tenang dan rasional. Dia mengumpulkan seluruh anggota keluarga dan kamipun mengadakan rapat kilat mengenai langkah yang harus kami ambil. Dalam rapat keluarga itu, A memutuskan akan bercerai saja dari suaminya, dan seluruh keluarga mendukungnya. Well, memangnya apalagi yang bisa diharapkan dari laki-laki culas seperti itu, bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami harus beristirahat, semalaman aku tak dapat memejamkan mataku. Aku menangis dan terus menangis mengingat kepedihan hati anak-anak mereka yang usianya sama dengan anak-anakku.&lt;br /&gt;Suamiku terus menghiburku dan menenangkanku. Entah pukul berapa aku jatuh tertidur. Esok subuhnya, aku terbangun dengan mata sembab karena menangis dan hati yang terluka parah.&lt;br /&gt;Sepanjang pagi dan siang itu, suasana rumah sudah tidak pernah sama lagi. A dan anak-anaknya bergantian menangis di pelukanku. Percuma saja semua kata-kata nasihat yang aku lontarkan, karena itu justru hanya menambah kepedihan hati mereka dan hatiku saja. Dalam keadaan seperti itu, apa lagi yang bisa kami lakukan selain bersabar dan bersabar ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku harus menyaksikan perceraian yang sangat traumatik yang terjadi di lingkungan terdekatku. Namun kali ini sangat berbeda keadaannya. Rumah tangga A sungguh aku ikuti perkembangannya. Kepadakulah A pertamakali memperkenalkan calon suaminya. Selanjutnya aku menghadiri acara pertunangan mereka, pernikahan, syukuran melahirkan, pindah rumah, dst ...karena dekatnya hubunganku dengan A. Kini aku juga terpaksa menyaksikan akhir dari rumah tangga itu. Sungguh jauh dari bayanganku. Rumah tangga yang bahagia harus berakhir dengan kepedihan yang tak terperi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, aku tetap tidak bisa mengerti, apa yang terjadi dengan hati suami A. Mengapa dia tega melakukan itu semua. Namun aku yakin, semua jawaban yang nanti akan didapat, mengerucut pada lemahnya hati dan ketidak mampuan manusia memegang komitmen pernikahan. Audzubillah ...&lt;br /&gt;Ya Allah, hindarkanlah saya dari tragedi seperti ini, amiiin ....&lt;br /&gt;Aku yakin, dibalik kesulitan ini, ada hikmah sangat besar yang bisa kami ambil sebagai pelajaran yang sungguh berharga bagi hidup kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-7110082546181365177?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/7110082546181365177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/07/aku-menyaksikan-perceraian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/7110082546181365177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/7110082546181365177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/07/aku-menyaksikan-perceraian.html' title='Aku Menyaksikan Perceraian'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/Sk-Rn_ZnXBI/AAAAAAAAALc/j71RXlPNf4U/s72-c/bm_divorce1%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-1072099784270321670</id><published>2009-06-23T04:08:00.000-07:00</published><updated>2010-04-13T07:52:30.734-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-1072099784270321670?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/1072099784270321670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/lembutkan-rindunya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1072099784270321670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1072099784270321670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/lembutkan-rindunya.html' title=''/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-205387357108769132</id><published>2009-06-17T01:57:00.000-07:00</published><updated>2009-06-17T17:35:01.706-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>SAHABAT  VIRTUALKU</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjmLnj2-YLI/AAAAAAAAAKk/-OCBRlIsjJw/s1600-h/friendship_graphics_10%5B1%5D.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjmLnj2-YLI/AAAAAAAAAKk/-OCBRlIsjJw/s320/friendship_graphics_10%5B1%5D.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348459544236155058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjmLB2wpxhI/AAAAAAAAAKc/1LfuAEwDuEY/s1600-h/bestfriend.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjmLB2wpxhI/AAAAAAAAAKc/1LfuAEwDuEY/s320/bestfriend.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348458896474883602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, di sela – sela waktu rehat, atau seusai kerja, di rumah atau di kantor, aku selalu menyempatkan diri membuka situs yang akhir-akhir ini menghisap perhatianku ( dan jutaan orang lagi di seluruh dunia ), Face Book.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sihir FB kurasakan sangat kuat. Namun aku berupaya tidak terpedaya olehnya. Aku tidak ingin produktifitasku di tempat kerja menurun, waktu bersama keluargaku terganggu, waktu ibadahku terabaikan, atau waktu bersosialisasi ku terbengkalai, hanya gara-gara tarikan yang kuat dari sesuatu yang datangnya dari dunia maya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika aku belum mengakrabi FB, situs-situs yang menarik perhatianku adalah situs-situs pengetahuan popular yang kurasakan sangat memperkaya khasanah pemikiranku. Ini sangat penting dalam menjalankan tugasku di tempat kerja. Tak sedikitpun aku tertarik pada situs-situs pertemanan seperti Friendster atau sejenisnya. Aku tidak berminat, karena aku menilai situs-situs itu sangat instant dan kekanak-kanakan. Boleh jadi penilaian ku ini keliru, karena yang aku amati adalah halaman friendster milik anakku yang masih a be ge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika situs FB melanda Indonesia, entah kenapa, tiba-tiba saja aku mendapatkan diriku sudah Log in ke dalamnya. Sungguh semuanya bermula dari iseng belaka, atau mungkin didorong oleh rasa penasaranku saja. Aku dengar pembicaraan santer dari teman-teman kerjaku, bahwa melalui FB ini, mereka dapat menemukan kembali teman-teman masa kecilnya yang telah lama hilang, bertemu lagi dengan mantan teman2 sekolah yang selama puluhan tahun sudah hilang kontak, dan bersambung kembali dengan bekas tetangga yang puluhan tahun lalu pindah rumah, dll. Mungkin hal inilah yang membuatku tertarik untuk masuk ke dalamnya. Alangkah indahnya, kupikir, jika aku dapat menemukan kembali sahabat masa kecilku, atau bisa saling bertukar kabar lagi dengan mantan teman-teman sekolah, atau bercakap lagi dengan orang-orang lain yang aku kenal di masa lalu, meski hanya sebatas bertukar pesan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benar saja dugaanku. Dalam waktu singkat, di situs FB ku kutemukan lagi banyak sekali teman-teman yang sudah sejak lama sangat aku rindukan. Perasaanku sungguh tak menentu karena dilanda gelora kebahagiaan, semangat dan gairah baru……serasa dilahirkan kembali, setelah sekian lama mereka menganggap aku seperti hilang ditelan bumi. Kebahagiaanku bertambah besar, ketika ternyata melalui FB ini, tak hanya sahabat lama yang aku temukan kembali, namun juga teman-teman baru yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Teman-teman baruku ini, belum pernah aku kenal sebelumnya, apalagi bertemu muka.. Mereka menjadi temanku karena terhubung oleh teman-teman ku yang lain, saling mengait , dan akhirnya terbentuklah rantai pertemanan yang kadang sampai tak aku sadari dari mana asal muasalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan teman-teman lamaku, aku bisa bebas melepas kerinduan tanpa harus repot- repot menjaga image, karena mereka sudah tahu siapa diriku, toh kami sudah berteman sejak remaja, atau bahkan sejak masih kecil dulu. Perasaanku pada merekapun tetap seperti dulu, ketika pertama kali aku mengenal mereka. Sulit rasanya menampilkan diriku yang sekarang, dengan status istri dan ibu seperti yang kini aku sandang , di hadapan teman – teman lamaku ini. Kalau tidak memajang foto, boleh jadi kami masih saling menganggap bahwa waktu telah berhenti berputar di usia kami dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal yang berbeda aku rasakan ketika aku berinteraksi dengan teman-teman baruku yang sebelumnya tak aku kenal sama sekali. Dengan mereka, aku dapat menampilkan statusku yang sebenarnya. Seorang perempuan berusia 40 an, dengan suami, dan 2 anak gadis yang beranjak dewasa. Namun justru dengan statusku yang nyata ini, banyak sekali aku temukan sahabat-sahabat baru, yang dengannya aku bisa berbagi cerita dengan bebas tanpa beban, bisa tertawa, bercanda, bisa saling menasihati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu menganggap teman-teman yang aku dapatkan di FB, tak lebih hanyalah teman-teman virtual saja, yang dengan mereka aku tidak pernah bertemu muka, atau bercakap-cakap baik secara langsung ataupun melalui telfon. Namun Aku lebih suka mempertahankan status virtual ini, karena bagiku berteman dengan mereka sangat ekonomis :)  Ya, tentu saja ekonomis dari segi biaya dan waktu, juga energi, karena aku tidak harus bepergian untuk bisa bertemu, aku bisa bisa berpakaian apa saja sesuka hatiku, berjilbab atau tanpa jilbab ( jika sedang di rumah tentu saja ) jika ingin sekedar chatting, aku tidak harus memikirkan apakah sudah mandi atau belum, berdandan atau tidak, dan seterusnya …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa kupungkiri, perasaanku terhadap temah-teman yang aku jumpai di FB, teman lama atau teman baru, lebih dalam dari pada teman-teman di kehidupan sehari-hariku. Aku sangat menyayangi semua teman-teman FB ku ini, melebihi rasa sayangku pada teman-teman di dunia nyataku. Dengan teman-teman yang terakhir, aku tidak bisa bersikap sebebas dengan teman-teman virtualku. Setiap interaksi dengan teman-teman di dunia nyata, harus aku jaga dengan penuh kehati-hatian. Jika aku bisa menanggapi dengan fun, dengan tertawa lepas sapaan “ sayang … “ dari teman-teman virtualku, maka tidak demikian halnya sikapku terhadap teman-temanku di kehidupanku yang sesungguhnya. Aku bisa sewot dan cemberut seharian, jika ada teman kerja umpamanya, yang lancang mengucapkan kata mesra seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akui, kemajuan kuantitas pertemananku tidak sepesat teman-teman yang lain, yang dalam waktu singkat berhasil meraih angka di atas ribuan. Aku tidak terlalu bernafsu untuk hal yang satu itu, santai-santai saja. Dengan jumlah teman yang dua ratusan saja, aku tidak sempat berinteraksi secara merata, apatah lagi jika temanku sampai ribuan ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama – nama baru kini bertaburan di benak ku : Andri Nur, Juhaeri, Erwin Harahap, Rifki Feriandi, Tenny Sumawijaya, Donny Indra, Muhammad Sholeh, Anna Sofiana, Mbak Mining, teh Ratna, Nur Jehan, Merry Megarianti, Ferry Wardhana, Budhi Hamdani, Dr Satriyo , dll, yang tidak mungkin aku sebutkan satu persatu disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh melebihi sahabat mereka semua bagiku. Kusayangi dengan tulus, kadang terucap doa kepada mereka seusai sholat. Padahal sungguh, siapakah gerangan mereka ? bertemupun aku belum pernah sama sekali. Namun jalinan pertemanan kami sungguh hangat, akrab, seru. Sungguh tak ternilai persahabatan ini bagiku. Mereka, sahabat-sahabat virtual ku ini, adalah harta yang sangat berharga dalam hidupku. Dengan teman perempuan aku bebas berbicara tanpa merasa malu, dan dengan teman laki-laki aku bebas berteman tanpa khawatir melanggar hijab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termasuk perempuan beruntung yang setiap hari dilimpahi cinta kasih yang sangat besar dari suami dan anak-anak ku. Namun limpahan perhatian, rasa sayang yang aku dapatkan dari sahabat – sahabat virtualku ini sama sekali tidak menggeser besarnya kasih sayang dari keluarga terdekatku. Kasih sayang sahabat – sahabat baruku ini, justru manambah kaya jiwaku yang sudah melimpah oleh cinta, memperindah hidupku yang sudah indah, dan membuat hidupku yang sudah penuh warna menjadi lebih berpelangi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, ini adalah sebuah fenomena baru, atau bahkan mungkin sebuah revolusi dalam sejarah perkembangan interaksi social diantara manusia. Sebuah fenomena yang mendobrak teori-teori klasik dalam ilmu Sosiologi. Aku tak mau ambil pusing dengan semua fenomena kehidupan itu. Yang jelas, melalui layar virtual, aku mendapatkan, aku merasan suatu perasaan yang sama sekali baru, yang beberapa tahun yang lalu tak pernah terbayangkan bakal aku alami .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih sahabat virtualku tercinta, segala kebaikan budimu, segala nasihat mu, segala dukunganmu, sungguh nyata bagiku. Hanya Allah yang akan membalas semua keindahan itu. Tetaplah menjadi teman, sahabat, saudara, hingga pada suatu saat nanti, mungkin di akhirat, Allah benar-benar akan mempertemukan kita dalam kebaikan, amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-205387357108769132?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/205387357108769132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/sahabat-virtualku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/205387357108769132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/205387357108769132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/sahabat-virtualku.html' title='SAHABAT  VIRTUALKU'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjmLnj2-YLI/AAAAAAAAAKk/-OCBRlIsjJw/s72-c/friendship_graphics_10%5B1%5D.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-6988633457959291573</id><published>2009-06-14T01:09:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T03:36:30.912-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>iiiiiiiiihhhhh .... NARSIS .... !!!</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjSxmGELPuI/AAAAAAAAAIs/osVQgQtQPfI/s1600-h/narcissus%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 319px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjSxmGELPuI/AAAAAAAAAIs/osVQgQtQPfI/s320/narcissus%5B1%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347093925616893666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah sekitar dua tahunan terakhir ini sering sekali aku mendengar murid-murid dan anak-anakku mengucapkan kata “ NARSIS “ dalam percakapan sehari-hari mereka. Tadinya aku tak begitu ambil pusing. Paling – paling istilah gaul yang baru, yang nggak lama lagi juga hilang dari peredaran, begitu pikirku. Namun ternyata kali ini dugaanku meleset. Sampai hari ini, alih-alih menghilang, kata itu justru semakin marak dilontarkan,  tidak hanya oleh kalangan remaja, namun merambah sampai ke kalangan dewasa dari berbagai profesi . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bener lho, dari berbagai profesi. Secara acak aku pernah membuka-buka halaman FB orang lain, baik yang aku kenal maupun tidak. Hampir di setiap halaman, aku menemukan kata NARSIS ini terucap baik oleh si empunya halaman, atau oleh orang lain yang mengomentari rekannya. Itu di FB, yang menurut dugaan sumir, hanya diakrabi oleh orang-orang yang berpendidikan, ingin tetap bersosialisasi namun memiliki keterbatasan waktu dan tenaga. Nah, bagaimana dengan kalangan di luar itu, katakanlah kalangan bawah umpamanya ?  Begini lho … aku kan tinggal di kompleks perumahan yang letaknya di kampuuuuuu …ng ng banget, yang aku rasa daerah tempat tingalku nggak bakalan tercantum di atlas bumi. Jadi aku cukup mengenal para tukang ojek yang sesekali mengantarku ke pasar tradisional, para buruh pabrik konveksi, atau  para pedagang pasar yang tinggal di sisi luar di sekitar kompleks ku. Nah, di kalangan ini, akupun kerap mendengar kata “ NARSIS “ terlontar dalam percakapan mereka …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm … aku jadi mikir … dahsyat sekali dampak teknologi komunikasi yang kini sudah menyelusup jauh sampai ke dusun-dusun di kaki gunung. Sudah sulit sekarang membedakan, mana gaya bicara orang kota, mana gaya ngomong orang kampung … semuanya sama aja …&lt;br /&gt;Aku pernah lho, sekilas mendengar percakapan di antara abang ojeg di gang rumahku. Mereka yang penampilannya sangar abis, tatto murahan berseliweran di sekujur tubuh  ( atau jangan-jangan bukan tatto yaa … panu kali ahh .. ), rambut dicat biru sama merah, telinga bertindik yang dijejali aksesoris berupa sekrup ban motor, gelang metal, kostum jins belel berantakan .. hiiiyy … tatuuut ….      &lt;br /&gt;( sebenernya nggak usah  dijelek-jelekin gitu juga, mereka udah serem lho … aslinya memang gitu kok …. Beneran, lihat aja sendiri kalo nggak percaya … ). Eh, terlontar juga istilah “ NARSIS “ di kalangan mereka …  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari sugan teh penyakit NARSIS hanya menghinggapi kalang gaul, anak-anak, remaja dan dewasa . Eh ternyata ibu – ibu temanku di pengajian, ibu-ibu tetanggaku para akhwat yang notabene berpenampilan sholihah,  tidak terhindar juga dari wabah ngalem diri sendiri ini. Pernah pada suatu ketika aku menengok tetanggaku yang baru melahirkan, dan aku memuji wajah bayinya yang cantik. Eh, tau nggak, eta si Ibu bukannya ngucap alhamdulillah, malah bilang gini , &lt;br /&gt;“ Sumuhun atuh ibu, geulis si dede mah … atuh da saha heula Mamah na … “  &lt;br /&gt;Gubrraakk !! … hampir aku pingsan dengernya …. Hah ? nggak salah nih telingaku ?  dih narsis banget …&lt;br /&gt;Sebagai reaksinya, aku cuma senyam – senyum gak jelas &lt;br /&gt;( untung aku nggak membalas berkata “ iiihhh …siapa dulu yang nengok booo … !!! ). Habis gimana lagi, aku kan harus selalu bersikap kalem ...ehm …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah membaca sejarah Narcissus, seorang pemuda malang dari dunia mitologi Yunani yang dikutuk oleh dewa Zeus gara-gara tidak menuruti perintah sang Raja Dewa itu. Kutukannya membuat nasib sang Pemuda menjadi buruk  bukan kepalang : Narcissus hanya akan jatuh cinta pada dirinya/ bayangannya sendiri, alih-alih kepada orang lain, seumur hidupnya …&lt;br /&gt;Nah, dari sanalah bermula istilah “ NARSIS “ yang tersohor itu …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara popular, istilah NARSIS yang terucap dalam pergaulan sehari-hari memiliki konotasi gemar memuji diri sendiri, ngalem diri sendiri, atau memancing-mancing orang lain agar memuji dirinya, kurang lebih seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi,  hubungan antar personal di zaman serba sibuk dan serba instant seperti sekarang ini, sudah tidak sehangat dulu lagi. Makin banyak saja orang mengeluhkan  betapa keringnya dirinya dari pujian orang lain, dari komentar  teman yang menyejukkan, dari nasihat yang tulus dari sahabat, atau dari ungkapan cinta yang hangat dari kekasih.  Di saat seperti ini, alam bawah sadar manusia seringkali  tampil  tanpa dapat dielakkan lagi, meluap ke permukaan tanpa terasa lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-foto yang dipajang di situs-situs pertemanan semacam FB, Friendster atau yang sejenisnya, banyak sekali yang menggambarkan sifat NARSIS si empunya halaman. Tak hanya itu, sering juga saya melihat blog-blog milik rekan-rekan saya, yang sebagian besar menggambarkan betapa kronisnya penyakit NARSIS mereka. Semuanya itu secara gamblang tersirat dari pajangan foto-foto dan sajian artikel-artikelnya.  Namun  yang terakhir ini masih bisa dimaklumi, karena pada umumnya, Blog lebih banyak berfungsi sebagai catatan pribadi seseorang. Jadi sebagaimana umumnya segala sesuatu yang bersifat  pribadi, tentu pemiliknya bebas  berbuat apa  saja sesuka hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapatku, jika sikap narsis ini hanya terlontar dalam koridor  bercanda, guyon ... ya nggak jadi masalah sih, toh hanya bermaksud  menyegarkan suasana saja. Yang berbahaya adalah jika seseorang MEMANG mengidap penyakit NARSIS. Seorang Narsis, akan merasa tidak bahagia jika sehari saja dia tidak ngalem dirinya sendiri  atau dialem oleh orang lain. Menurutku, Narsis adalah awal dari datangnya watak  sok,  angkuh, besar kepala, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penyakit Narsis lambat laun menyebabkan seseorang menjadi terlalu bangga pada diri sendiri manakala dia  mendapatkan pujian dari orang lain, karena dia berfikir, wajar orang lain memuji dirinya karena memang dirinya patut dipuji.   Dari sinilah awal berseminya sifat-sifat sombong.  Di lain pihak, seorang narsis yang tidak kunjung mendapatkan pujian dari orang lain sebagaimana yang selama ini selalu diidam-idamkannya, lambat laun akan berkecil hati, putus asa, rendah diri, merasa diri tidak memiliki kelebihan apa-apa, dan yang paling gawat tentu jika ia kemudian mengidap penyakit dengki. Dari kasus ini saya rasa kita sepakat, bahwa sifat sombong, dengki dan rendah diri adalah penyakit kejiwaan yang sama buruknya, bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh tau nggak … ? penyakit narsis itu nular lhoo …&lt;br /&gt;Hampir semua teman-temanku, yang se SD,se SMP, se SMA, teman kuliah, teman kerja, teman masa kecil, yang aku temukan kembali di FB …. Sekarang ramai – ramai mengidap penyakit NARSIS !  iiiihhhh ......&lt;br /&gt;Mungkin, ini mungkin yaa … karena mereka sudah mapan secara ekonomi, memiliki keluarga ( pasangan atau anak-anak yang rupawan dan membanggakan ), karier yang oke, penampilan yang lebih elok dibanding waktu jaman miskin dulu, mengenyam pendidikan di luar negeri atau luarnya lagi, sudah jadi orang yang diperhitungkan, dll, sehingga mereka jadi ke pe de an, dan rasanya pegel kalau sehari nggak muji diri sendiri atau dipuji orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang suka geli sendiri, kalau aku iseng mengamati tingkah mereka ini. Wuih … Narsis benerrr …. ( Laaah … padahal mah ... biasa we atuh nya .... ? ) &lt;br /&gt;Anni aja yang cantik, imut, yahud … nggak gitu – gitu amat ! biasa – biasa aja kok, nggak suka narsis. Padahal kan kalau  dipikir-pikir, wajar aja kan, kalau orang seperti  aku yang baik hati, manis, ramah tamah, suka tersenyum…  dialem sama orang lain ?  sok atuh dipikirkan baik- baik …. :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-6988633457959291573?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/6988633457959291573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/dua-tahunan-terakhir-ini-sering-sekali.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6988633457959291573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6988633457959291573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/dua-tahunan-terakhir-ini-sering-sekali.html' title='iiiiiiiiihhhhh .... NARSIS .... !!!'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjSxmGELPuI/AAAAAAAAAIs/osVQgQtQPfI/s72-c/narcissus%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-5277538370156418709</id><published>2009-06-08T08:41:00.000-07:00</published><updated>2009-12-28T16:50:23.355-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Kecil- Kecil Jatuh Cinta</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjTcSYt_9aI/AAAAAAAAAI0/YEK_zukGvO8/s1600-h/dede.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjTcSYt_9aI/AAAAAAAAAI0/YEK_zukGvO8/s320/dede.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347140866026763682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“ Bu, Ade suka sama Ray. Ade inget terus sama dia "&lt;br /&gt;Deg ! jantungku serasa berhenti mendadak ! Sesaat aku tercenung mendengar kalimat polos dan spontan yang keluar dari mulut anak bungsu ku yang masih duduk di kelas 6 SD itu.&lt;br /&gt;Sesaat  itu juga, aku tak tahu harus berkomentar apa untuk menjawab pernyataan lugas gadis cilikku ini. Serasa hilang semua kemampuan berfikir ku. Terbang semua kemahiranku dalam memilih kata – kata. Kemahiran yang selama ini sangat aku andalkan untuk meredam gejolak perasaan murid – murid SMA di tempatku mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah mudahnya menasihati murid – muridku yang semuanya laki-laki dan berusia belasan tahun itu, manakala mereka datang padaku dan mengadukan isi hatinya. Sesungguhnya bukan nasihat muluk-muluk yang aku ucapkan pada mereka. Hanya sesungging senyuman dan serangkaian kata-kata ekspresif, semisal : Oh ya ?  Hmm ...   Trus, menurut kamu gimana  ? Wah ... menarik tuh ! Atau : Masyaallah .. gimana kejadiannya ? &lt;br /&gt;atau : deuh ... senangnya yang lagi jatuh cinta ...&lt;br /&gt;Cuma kata – kata seperti itulah  yang aku ucapkan pada mereka. Sama sekali bukan kata-kata yang memerlukan tingkat penalaran yang tinggi untuk memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya murid-muridku   sangat senang curhat kepada ibu gurunya.  Bagitupun aku. Aku sangat senang jika dapat membantu  anak-anak muda ini. Yang  aku lakukan bagi mereka hanyalah menyediakan telinga untuk mendengar, melapangkan dada, dan menyodorkan beberapa alternatif  solusi bagi masalah  mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah anak gadis kecilku yang ketimpa cinta monyet ….&lt;br /&gt;Ya Allah, aku sampai tak sanggup berkata-kata. Menasihati ratusan murid  sudah menjadi bagian pekerjaanku sehari-hari yang cukup mudah aku lakukan. Tapi menasihati anak sendiri yang lagi kasmaran ?  sungguh bukan pekerjaan yang gampang. Kuraih tangannya, dan kududukkan di sampingku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil ngobrol kupandangi wajah nya. Sejenak kilasan – kilasan masa lalu bertemperasan di dalam fikiranku. Masih segar di ingatanku saat – saat aku hampir meregang nyawa ketika melahirkannya.  Bayi yang lucu, montok dan sehat. Berkulit kuning bersih, rambut tebal hitam legam dan bermata bintang kejora. Terbayang saat dia belajar berjalan, belajar berbicara, belajar bernyanyi … Waktu serasa berhenti di sekelilingku&lt;br /&gt;Dan kini, hampir tak dapat kupercayai pendengaranku, dia datang padaku dan mengaku jatuh cinta …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, aku lebih banyak diam termangu dan mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu segala isi hatinya dan segala kekagumannya kepada teman sekelasnya yang bernama Ray itu. &lt;br /&gt;Ooh .. jadi si Ray ya orangnya, yang berhasil mencuri hati gadis kecilku ini ?     ( dalam hati aku penasaran juga ... ganteng nggak ya ? pinter nggak ya ? badung nggak ya ? anak siapa ya ... ?  dll, wah jauh banget deh pikiranku .)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia bercerita, aku malah asyik dengan pikiranku sendiri. Hmmm ... waktu aku seumuran dia, aku sudah jatuh cinta belum ya ? Ah , rasanya belum deh. Waktu kelas 6 SD, aku tu lugu banget, nggak punya rasa sama sekali kepada  teman-teman cowok sekelasku, atau kepada cowok-cowok tetanggaku. Kupikir males banget berurusan sama mereka. Ih ... mana badung, kasar, bau ...&lt;br /&gt;Aku ingat di masa yang lalu, kalau ada anak laki-laki  menggodaku, aku suka melotot dan cemberut, dan besoknya aku nggak mau lewat tempat itu lagi … hehee …   &lt;br /&gt;Namun anak sekarang beda, lebih cepat menjadi dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun selang beberapa hari kemudian, gadis cilikku yang beberapa hari belakangan ini terlihat banyak menghabiskan waktunya di depan cermin, nyanyi – nyanyi sambil joget-joget nggak jelas, melamun, senyum sendiri, tiba-tiba berubah normal kembali. Sekarang dia pergi bermain di luar lagi dengan anak tetangga, pergi ngaji lagi, asyik di depan komputer, baca buku lagi, banyak makan lagi, nggak suka ngaca lagi ... pokoknya normal lagi deh &lt;br /&gt;Kurasa aku tahu penyebabnya. Tentu karena perasaan blue yang selama ini mengganggu hati dan pikirannya sudah hilang . Dan ternyata benar saja dugaanku itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sudah tidak cinta lagi sama si Ray. Dan tahu nggak apa alasannya sehingga cintanya cuma berumur 3 hari saja ?  &lt;br /&gt;Dia bilang, " ih apaan si Ray ... imut gitu ! Item MUTlak ! udah  alay, sotoy lagi ... "&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hah ?!! apa ?! coba ulangi lagi ... !! Item MUTlak,  alay, sotoy ...&lt;br /&gt; Waaa …!!  gantian aku yang melongo … apaan tuh ?!&lt;br /&gt;" Lho, De … sama teman kok ngomong gitu ? ",  tanyaku.&lt;br /&gt;" Habis, dia bilang aku lebay ... ya udah aku bilang aja kalo dia itu imut, alay, sotoy ... ", begitu jawabnya.&lt;br /&gt;" Yaah  Ade… diejek satu kata kok ngebalasnya 3 kata ? ", ujarku lagi.&lt;br /&gt;Dan si Ade ini diam saja, tidak menjawab, hanya cemberut ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh ampuunn, ah tapi sudahlah, apapun artinya kata-kata ajaib itu, pasti konotasinya negatif, sehingga kesemuanya itu sudah cukup menjadi alasan bagi gadisku untuk melupakan Arjuna seumur jagung nya. Alhamdulillah, leganya hatiku karena anakku terhindar dari pacaran dini. Kemudian ketika kutanya lagi, jadi sekarang Ade suka sama siapa ?  dia bilang, suka sama Daniel Radcliff … eta si Harry Potter !  ampuuunn … dasar budak ! ( aku tidak berkomentar apa- apa lagi. Biarin ajalah pacaran virtual ini … nggak mungkin kontak fisik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm Ade, Ade ... Aku jadi ingat syair lagu jadulnya Bimbo yang berjudul     " Cinta Kilat ". Salah satu baris syairnya, berbunyi " Cinta kilat cinta seminggu, putus satu tumbuh seribu. Patah tumbuh hilang berganti. Patah hati carilah ganti ... ". &lt;br /&gt;( Bagus De .. ! jangan pernah menangis kalau kamu putus sama pacar ... lebih baik cepat cari gantinya. Kalau bisa, sebelum putus cari gantinya dulu .. &lt;br /&gt;hehee .. gak deng ...becanda ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kurang lebih seperti itulah pengalamanku sehari - hari dalam membesarkan anak-anakku. Ada – ada saja kejadian yang datang padaku, disaat anak-anak beranjak remaja. Kadang tidak mudah menjadi ibu yang  pengertian dan cukup sabar bagi mereka. Ketika aku belum benar-benar siap menerima perubahan, tiba-tiba saja bayi-bayiku sudah beranjak remaja. Menghadapi mereka, aku punya cara yang mudah. Ketika mereka mengungkapkan perasaannya umpamanya, aku mencoba berpikir  dengan cara mereka berfikir ( toh kita pernah seusia dengan mereka ), tidak mencela, atau memotong pembicaraan, tidak menghakimi kalau mereka salah, dan tidak terlalu banyak mengatakan : harus, harus, harus …&lt;br /&gt;Insyaallah, anak-anak itu akan mengerti dan mudah diarahkan. Atau minimal mereka memiliki kemampuan menimbang, mana yang baik dan tidak baik buat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf kepada para senior yang sudah memiliki rumah tangga dengan anak-anak yang jauh lebih dewasa, bukan bermaksud menggurui. Maklum namanya juga ibu guru, biasa dee ... kalau sudah bercerita, nggak klop rasanya kalo nggak panjang dan lebar .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-5277538370156418709?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/5277538370156418709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/kecil-kecil-jatuh-cinta_08.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5277538370156418709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5277538370156418709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/kecil-kecil-jatuh-cinta_08.html' title='Kecil- Kecil Jatuh Cinta'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjTcSYt_9aI/AAAAAAAAAI0/YEK_zukGvO8/s72-c/dede.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-7899821922564619889</id><published>2009-06-08T08:32:00.000-07:00</published><updated>2009-12-28T16:59:36.544-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Dikira Bu Engkos</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjTczljABBI/AAAAAAAAAI8/Xxc1MP_zaf0/s1600-h/ufisulung.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjTczljABBI/AAAAAAAAAI8/Xxc1MP_zaf0/s320/ufisulung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347141436405974034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak masih di SD, anak sulungku berlangganan ojek untuk pergi dan pulang sekolah. Sampai sekarang dia sudah duduk di kelas 8, tukang ojek itu masih saja setia mengantar jemput anakku. Kalau dihitung-hitung, sudah 5 tahunan Ufi ( begitu nama anakku) berlangganan ojek itu. Kami biasa memanggil tukang ojek itu dengan “ Mang Engkos “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Engkos ini, tidak tamat SD. Dia tu orangnya rajin, jarang banget terlambat mengantar jemput Ufi, dan ini yang positif dari dia : dia tu mau disuruh apa aja, bersihin kebun, benerin genting, nangkep ular yang nyelonong ke rumah, beliin gas,  ... pokoknya apaa aja dia mau, asal bayarannya bener. Meski begitu, kadang aku suka kesel juga  sama orang ini. Dia tu orangnya polos, tapi suka sok tau banget ... wajahnya agak mirip Budi Anduk, pelawak tea …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya pengalaman yang ngeselin tapi sekaligus lucu, yang berkaitan dengan mang Engkos ini. Begini ceritanya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya selama 5 tahun dia mengantar jemput Ufi ke sekolah, banyak orang di sepanjang rute jalan yang dilaluinya, bertanya  sama mang Engkos ini, tentang anak perempuan kecil yang setiap hari selalu diboncengnya. Pertanyaannya  itu - itu aja, sampai mang Engkos bosan menjawabnya. Dan seterusnya, entah apa yang dia katakan kepada orang - orang itu, akhirnya mereka berhenti bertanya - tanya lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah, kemarin nih, pas hari Minggu kemarin, sore - sore aku ditemani Ufi keluar rumah untuk nonton Voli. Di lapang dekat kompleks,  banyak ibu-ibu dari kampung sebelah yang ikut nonton. Trus, pas lagi asyik - asyik nonton gitu, tiba-tiba ada ibu-ibu yang nggak aku kenal, menghampiriku, tersenyum ramah dan mengajakku salaman. Eta si ibu, dengan pe de nya bilang gini, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;" Oh ieu teh bu Engkos nyaa? nepangkeun, abdi nembe ngalih minggon kamari... "&lt;br /&gt;Haa ?! ... bu Engkos ?  aku jadi heran ujug-ujug dipanggil bu Engkos , mana suaranya kenceng banget lagi... !&lt;br /&gt;"  Sanes bu, abdi bu Herry... ", begitu jawabku .&lt;br /&gt;Eh, dia malah melongo. Trus, dia nunjuk si Ufi yang berdiri disampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Apanan Eneng ieu teh putra na mang Engkos sanes ? " &lt;br /&gt;"  Sanes bu, ieu mah putra abdi, putrana pak Herry... ", begitu kataku. &lt;br /&gt;Mendengar itu, nggak cuma si ibu itu yang heran, tapi ibu-ibu yang lain juga, yang mendengar percakapan kami,  ikutan heran.&lt;br /&gt;"  Haaaaarrr .. ari sugan teh neng Upi putrana mang Engkos ... ! "&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku Cuma bisa tersenyum kecut aja ...&lt;br /&gt;Dan si Ufi, langsung ngajak pulang ! Di jalan dia ngamuk-ngamuk sendiri ...!&lt;br /&gt;" Ih, sebel banget!  masa ufi dibilang anaknya mang engkos... "&lt;br /&gt;Aku jadi geli sendiri. Ya udah aku ketawa - ketawa aja ... heheheee ...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, aku panggil mang Engkos yang rumahnya cuma beda gang denganku. Trus aku tanya, kenapa orang-orang di kampung mengira, kalau Ufi tu anaknya mang Engkos ?&lt;br /&gt;Nah ini dia jawabannya :&lt;br /&gt;" Atuh da bu, ampir unggal dinten ditaros, ari Eneng ieu teh putra saha ? ah atos we, dari pada seueur carios, abdi teh nyebatkeun putra abdi .  Tos kitu mah geuningan tara nararos deui. "&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Trus dia ngomong lagi ,&lt;br /&gt; " Tapi da bu, seueur oge anu teu percanteneun, bet aya nu nyarios, alus budak teh Kos, teu siga maneh ... "&lt;br /&gt;(dih polos banget !  ya iya laah! beda banget si Ufi sama Budi Anduk, mana bisa mirip ?? mbok ya kira - kira kalau mau ngaku anak orang tu ... )&lt;br /&gt;Aku jadi keki sendiri.  Dan mang Engkos pasang muka cool, kaya yang nggak punya dosa sama sekali ...&lt;br /&gt;Bahkan saat dia aku suruh pulang, dia tetap cengar - cengir seperti kebiasaannya selama ini, kaya yang bener aja ...&lt;br /&gt;au ahh ...aku jadi kesel bener sama dia ...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ampuun mang Engkos, bukankah jika ia mengaku - ngaku Ufi adalah anaknya, berarti dia juga mengakui kalau aku tuh istrinya ?!  pantas saja orang - orang kampung menganggapku bu Engkos  ...&lt;br /&gt;Aku tambah keki waktu suamiku bukannya ngebelain, eh malah ketawa - ketawa ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Engkos...?!   aaaaaaaa ....tidaaakk .............!!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-7899821922564619889?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/7899821922564619889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/dikira-bu-engkos.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/7899821922564619889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/7899821922564619889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/dikira-bu-engkos.html' title='Dikira Bu Engkos'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/SjTczljABBI/AAAAAAAAAI8/Xxc1MP_zaf0/s72-c/ufisulung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-5009985504787883981</id><published>2009-06-08T07:44:00.000-07:00</published><updated>2009-12-28T17:00:54.924-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Anak Sekolah di Indonesia Tidak Maju ?</title><content type='html'>Dalam sebuah milis saya membaca sebuah posting dari seorang rekan. Ketika membacanya timbul perasaan tidak nyaman di hati saya. Namun dari nada tulisannya, saya yakin dia hanya bermaksud bercanda, tidak serius alias main-main, dan tentu tidak didorong oleh itikad buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi saya yang sehari-hari berkutat di bidang pendidikan, isi email yang bernada menyudutkan dunia pendidikan, khususnya mendeskreditkan anak-anak Indonesia, tentu bukan masalah sepele bagi saya. Dunia pendidikan adalah dunia saya, bagian dari hidup yang sangat saya cintai. Dunia pendidikan, dunia sekolah adalah tempat saya mengabdi, bekerja, dan tempat saya merasa bermanfaat bagi anak-anak Indonesia. Dan saya sangat mencintai murid-murid saya. Mereka sudah saya anggap seperti anak saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi posting itu sungguh bernada gurau, yakni tentang efek lagu anak-anak terhadap perkembangan intelektualitas anak-anak Indonesia di kemudian hari. Pengirim email tersebut mengutip bagian-bagian syair lagu klasik anak-anak yang sangat indah itu, sebagai penyebab kemunduran bangsa ini. Orang lain boleh jadi tertawa geli membaca email tersebut. Namun mohon maaf, saya sama sekali tidak bisa mengendurkan urat syaraf apalagi sampai tertawa membaca email berjudul  " Kenapa ANAK 2 SEKOLAH DI INDONESIA tidak bisa MAJU? " tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain berprofesi sebagai guru, saya juga seorang ibu, seorang pemerhati anak, dan seorang pecinta karya bangsa Indonesia dan pecinta negeri Indonesia. &lt;br /&gt;Saya sama sekali tidak melihat ada sesuatu yang salah dengan lagu anak-anak yang ditertawakan itu. Semua olok-olok itu hanya ingin mencoba menghina dan menunjukkan kelihayan membolak-balikkan logika untuk menunjukkan betapa tingginya tingkat intelektualitas mereka ( para penghina ini ), dengan tujuan, mungkin, menciptakan "humor berkelas" yang sangat disukai kalangan berpendidikan namun - mohon maaf - kurang memiliki budi pekerti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibu Sud, Pak Kasur, Bu Kasur, AT Mahmud, dll, para pencipta lagu anak-anak itu ... siapa yang tidak kenal dengan dedikasi mereka terhadap dunia anak-anak Indonesia ? dengan keluhuran nilai moral yang mereka tuangkan dalam karya mereka ? dengan besarnya kontribusi terhadap pendidikan anak bangsa Indonesia ?  sungguh tidak pantas kita merendahkan mereka sedemikian rupa, padahal mereka adalah orang-orang yang sangat besar jasanya. Sementara sedikitpun kita belum memberikan penghargaan yang layak bagi mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukan karena diajari lagu anak-anak itu, anak-anak Indonesia sulit maju hingga kini ( itupun jika memang benar, anak-anak Indonesia adalah anak yang bodoh ). Namun lebih kepada faktor lingkungan yang mereka alami sejak dalam kandungan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya termasuk orang yang sangat bangga dengan anak-anak Indonesia. Sebagai contoh, mari kita kerucutkan sudut pandang kita hanya pada dunia pendidikan. Saya yakin, kita semua sudah tahu, negara mana di dunia ini yang kualitas pendidikannya paling maju ? ya, mana lagi kalau bukan Finland, Swedia, AS, Jepang, Korsel, dan Singapura. Tapi mari kita bertanya, pernahkah para siswa dari negara-negara itu, sekali saja mengalahkan anak-anak Indonesia di ajang olimpiade sains tingkat dunia ? Tidak Pernah !&lt;br /&gt;Saingan kita justru datang dari para siswa yang berasal dari  negara berkembang, semisal Iran, India, Israel, Hungaria, dan sesekali  dari negara maju yaitu Russia.  Atau kalau kita perhatikan ajang kejuaraan Choir Mahasiswa tingkat dunia. Mahasiswa Indonesia sangat dikenal sebagai langganan juara, paling sial dapat medali perunggu ...  kelompok paduan suara para mahasiswa dari negara-negara maju, dilibas saja oleh anak-anak pintar ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Contoh yang lain , yang seharusnya membuat kita bangga dan berhenti mengolok - olok anak-anak Indonesia sebagai anak yang terbelakang, tentu sangat banyak. Tidak mungkin saya menuliskannya satu persatu di sini, nanti malah dikira narsis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inti dari tulisan saya ini adalah, marilah kita berhenti memperolok bangsa sendiri, menghina karya saudara sendiri, merendahkan kemampuan anak-anak kita sendiri, menjelek-jelekkan negara sendiri, dan berhenti menularkan semua perilaku itu kepada anak-anak kita. Saya yakin, maksud rekan saya memposting tulisan itu hanya sekedar bergurau, alih-alih mengejek bangsa sendiri. Namun sebagai sesama saudara, sesama keluarga besar sealmamater, tentu tidak ada salahnya jika saya mencoba mengingatkan, agar seyogyanya kita lebih mengedepankan sikap bijak dan hati-hati dalam setiap tulisan kita, meskipun tulisan itu hanya sekedar forward. Tulisan yang dirilis di milis ini, otomatis beredar dengan bebas di internet, dan bagi sebagian kalangan, tulisan seperti ini sangat memiliki sensitifitas yang tinggi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekali lagi, mohon maaf jika saya terpaksa menulis seperti ini. Tidak bermaksud menggurui, apalagi menyinggung perasaan siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam sayang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-5009985504787883981?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/5009985504787883981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/anak-sekolah-di-indonesia-tidak-maju.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5009985504787883981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5009985504787883981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/anak-sekolah-di-indonesia-tidak-maju.html' title='Anak Sekolah di Indonesia Tidak Maju ?'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-6692661557126336037</id><published>2009-06-04T06:10:00.000-07:00</published><updated>2009-12-28T17:05:29.109-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Nostalgia SMA di Bandung</title><content type='html'>Kemarin saat liburan mid smester , aku sekeluarga pulang ke Bandung. Meski waktunya tidak terlampau lama, tapi rasanya liburan yangkemarin itu terasa cukup efektif.Banyak acara yang kami lakukan, dan semua acara itu tidak kami rencanakan sebelumnya   ( saya pikir, Laaah di Bandung ini ... pengen kemana- mana sih tinggal berangkat aja, toh dulu Bandung kan tempatku bermain... )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun aku perhatikan tampaknya semua acara itu, cukup menghibur anak-anak , meski semua acara itu sangat sederhana dan jauh dari kesan mewah sebuah acara liburan keluarga yang biasanya menghamburkan cukup banyak dana .&lt;br /&gt;Salah satu acara yang kami lakukan, yang sama sekali tidak kami rencanakan, dan sama sekali jauh dari angan-anganku, adalah acara berkunjung ke SMAN 4 !&lt;br /&gt;Meski cuma singkat saja kami main ke SMA 4 , namun saat yang sebentar itu sungguh sangat membekas di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya bermula pada jam Jam 7 pagi, saat kami berangkat dari Sarijadi( rumah ortu suami ) menuju pulang ke Sukabumi. Di mobil, suami bertanya, " Sebelum pulang, pengen ke mana dulu ? " Saya diem aja, karena memang ngggak punya rencana. Tiba-tiba si sulung nyeletuk,&lt;br /&gt;" Yah, aku pengen lihat sekolah ayah sama ibu yang dulu ... " . Adiknya mengangguk tanda setuju. Wah, aku jadi agak surprise juga. Kenapa ya anak-anak punya ide seperti itu ? apa mungkin karena teh anni dan suami sering bercerita pada mereka tentang kecintaan pada sekolah kami dulu ? sehingga mereka merasa penasaran ? Hmmm ...&lt;br /&gt;Dan tour ke Gardujatipun dimulailah ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan, aku melihat gerbang besi SMAN 4 yang berpenampilan sangat khas itu &lt;br /&gt;( aku tidak mau mengata-ngatai gerbang sekolahku mirip penjara, karena bagiku SMA 4 sama sekali bukan dan tidak mirip penjara. Ini adalah tempat favoritku. Saya selalu marah kalau ada anak SMA 4 yang mengata-ngatai sekolah ini seperti penjara. Kenapa sekolah di situ kalau tidak suka ?! ). Lalu tanpa dapat kubendung  lagi, kenangan masa lalu pun menyergap seluruh relung hati dan segenap memori di benak ku, ketika perlahan-lahan langkahku memasuki gerbang sekolah. Jantungku berdebar kencang ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, inikah sekolahku yang dulu sangat sederhana itu ? sekarang begitu berubah dan tampak sentuhan kemewahan di sana-sini.&lt;br /&gt;Tapi, Lihat itu ! deretan kelas yang bersejarah itu masih ada, tiang bendera yang berwibawa itu... tempat dahulu kami melakukan upacara dibawahnya - masih berdiri di sana.&lt;br /&gt;Tapi loncengku ..., kemana gerangan perginya lonceng kesayanganku itu ya ? aku melihat berkeliling, namun lonceng besi itu sudah tak terlihat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak tergesa-gesa dan tak sabar rasanya, aku menyusuri setiap liku sekolahku ini. Beberapa tempat masih utuh persis seperti ketika dulu aku masih bersekolah di sini. Perpustakaan yang teduh, sejuk dan nyaman, yang dulu sangat membuat aku betah berlama-lama di dalamnya, sudah beralih fungsi menjadi kantor guru. Aula nya masih ada dan sedang diperbaiki. Ketika aku menengok ke dalamnya, aku melihat dengan jelas bayangan diri ku dan teman-teman sekelas - dengan seragam olah raga kuning biru - sedang berlari-lari kecil mengelilingi aula dan melakukan senam dengan sikap lilin dibawahinstruksi bu Willy Djundjunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi haru kian meninggi ketika aku memasuki laboratorium Biologi tempatku dulu membedah burung merpati, melewati koridor kelas 1 ipa8 yang sekarang bernama kelas X. Dengan tatapan nanar, kutelusuri setiap sudut yang sangat ku kenali itu. Aku coba mengintip ke dalam kelas melalui jendela yang terkunci. Dan tanpa dapat kutahan lagi, wajah guru-guru yang sangat kusayangi pun muncul dalam sekejap, menerangkan pelajaran di depan kelas dengan gayanya masing-masing. Aku melihat dengan jelas wajah bu Otje, Pak Kirno, Pak Sarichin, bu Pur....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana aku memutar memasuki koridor di depan ruang kepala sekolah, tempat bu Suwarni sering memanggil- manggil namaku. Kumasuki ruang piket tempat aku pernah dihukum karena terlambat masuk sekolah, ruang pramuka, ruang keterampilan menjahit, yang entah sekarang menjadi ruang apa, ruang elektronika ... terus dan terus ...&lt;br /&gt;ya Allah..., dulu, dulu sekali, aku pernah sangat akrab dengan tempat ini....&lt;br /&gt;Tanpa terasa air mata mengaliri pipiku, dan cepat-cepat kuhapus.&lt;br /&gt;Tak satu kalimatpun sempat kulontarkan. Leherku begitu tercekat oleh rasa haru yang mencekam. Aku begitu terharu dan bahagia karena dapat kembali menyentuh masa laluku ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak- anak setengah berlari membuntuti langkahku yang melayang seperti angin. Suamiku menunggu dengan sabar. Dan tour masa lalu ini berhenti, memori yang meluap buyar dalam sekejap, ketika seseorang menghampiriku. Ternyata dia adalah salah seorang guru di sini yang kebetulan sedang bertugas piket. Sayang aku tidak dapat berjumpa dengan guru-guru yang lain, karena saat itu masih liburan mid semester. Setelah itu, serombongan siswa menghampiri dan menyalamiku . Ketika aku memperkenalkan diri, mereka memandangku dengan takjub dan menanyaiku ini dan itu dengan penuh rasa ingin tahu ( mungkin mereka berfikir, kok anak SMA 4 bisa tua gini yaa... ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, SMAN 4 ku masih berdiri dengan kokoh dengan penampilan yang semakin indah dan moderen. Ketika aku ke sana, suasananya memang agak berantakan karena sedang ada pembangunan kantin dan perpustakaan. Sementara kamar mandinya sudah rampung direnovasi. Penampilannya nggak kalah sama toilet mall. Suasana koridornya &lt;br /&gt;(yang dulu suka dipakai parkir motor ) sangat nyaman dilengkapi beberapa stel sofa dan hiasan bunga disana-sini.&lt;br /&gt;Sekali lagi alhamdulillah. Semoga kualitas pendidikannya pun semakin hari semakin meningkat, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas itu, kami berpamitan dan menuju SMAN 2 di Cihampelas tempat suamiku dulu bersekolah.Aku sangat yakin, dia mengalami emosi yang sama dengan yang baru saja aku alami. Sepanjang berada di dalam kampus almamaternya, suamiku lebih banyak tercenung dan sesekali menjawab pertanyaanku dan anak-anak, selebihnya lebih banyak diam seribu bahasa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu sudut teras yang arsitekturnya bergaya Art Nouvo ... dia memelukku ... menatap mataku dan tersenyum penuh arti ...&lt;br /&gt;Entah apa yang sedang dia pikirkan ( Ufi, anakku yang sulung, dengan tangkas menangkap adegan langka ini dengan kamera yang selalu dia bawa-bawa ... )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm SMAN 2 Bandung yaa ... ? biarlah dia asyik dengan ceritanya sendiri ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-6692661557126336037?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/6692661557126336037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/nostalgia-sma-di-bandung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6692661557126336037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6692661557126336037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/06/nostalgia-sma-di-bandung.html' title='Nostalgia SMA di Bandung'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-5832098440241519517</id><published>2009-05-14T05:50:00.000-07:00</published><updated>2009-05-14T06:04:33.423-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Song from my Heart'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-5dbbe07b280f40ea" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v3.nonxt8.googlevideo.com/videoplayback?id%3D5dbbe07b280f40ea%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D18156426F9A4BA2D75F1BBF68081F478446BCE97.4A5ACFA186492CCEE5CC4B190371C7BDC4BF2C77%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D5dbbe07b280f40ea%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D_YdsuSECogDTfpxlk2KHIt3zgFs&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v3.nonxt8.googlevideo.com/videoplayback?id%3D5dbbe07b280f40ea%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1329944862%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D18156426F9A4BA2D75F1BBF68081F478446BCE97.4A5ACFA186492CCEE5CC4B190371C7BDC4BF2C77%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D5dbbe07b280f40ea%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D_YdsuSECogDTfpxlk2KHIt3zgFs&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-5832098440241519517?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=5dbbe07b280f40ea&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/5832098440241519517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/blog-post.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5832098440241519517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5832098440241519517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/blog-post.html' title=''/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-1005079416874785846</id><published>2009-05-14T05:45:00.000-07:00</published><updated>2009-12-28T17:06:43.309-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengalaman jadul'/><title type='text'>3 Tahun yang Indah di SMAN 4 Bandung</title><content type='html'>Membaca pengalaman seorang rekan sealmamater tentang betapa dia harus jatuh bangun dalam menghadapi ulangan Fisika, dan betapa kuatnya kepribadian yang ditampilkan oleh Pak Ginting sang guru fisika ketika di SMA dulu, saya sungguh terkesan. Hanya kenangan – kenangan spesial seperti itulah yang akan terus kita bawa hingga kita tua nanti, bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu masih sekolah di Gardujati, saya ingat betul, saya dan teman-teman – meski rada bengal – memang sangat serius dalam menuntut ilmu, gak ada kesan main-main. Kehadiran di kelas sangat tinggi. Super jarang ada siswa yang bolos di kelas kami. Anak yang nggak masuk sekolah tu memang benar-benar sedang sakit – itu bisa dibuktikan karena kami dulu punya kebiasaan beramai-ramai menengok teman yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tugas, PR, dikerjakan dengan baik. Semua ulangan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, semua praktikum dilakukan dengan tekun. Kalu ada tugas membawa ini dan itu, semisal tugas membawa alat hambatan, solder, atau timah untuk pelajaran elektronika, membawa cat minyak untuk pelajaran menggambarnya pak Sarichin, membawa sampur ( selendang panjang ) untuk pelajaran menarinya almarhumah bu Utje, dll, kita selalu berusaha memenuhinya meski untuk itu, dulu kami  harus berjalan kaki ke Pasar Baru atau ke gang Tamim sepulang sekolah, mana panas mana lapar...    &lt;br /&gt;Tapi semua itu kami lakukan dengan senang hati, sambil jalan kaki bareng-bareng kita juga becanda dan ketawa – ketiwi melulu kok ...nggak ada beban, apalagi sampai mencerca guru sebagai makhluk yang bisanya cuma ngerjain murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa ini bukan hanya pemandangan di kelas kami saja atau kelas jurusan IPA pada umumnya. Saya punya beberapa teman di jurusan IPS, dan saya perhatikan, merekapun cukup serius dalam belajar. Meskipun teman - teman di kelas IPS terlihat lebih gaul dan nyeleneh, tapi tetap saja kesan keseriusan dalam belajar itu tampak dengan jelas, bahkan teman-teman di kelas IPS ini kelihatan lebih lucu dan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana pertemanan juga enak. Ceria, bebas, gembira, polos. Kalau ada perselisihan nggak pernah lama, kalau jatuh cinta juga nggak sampai bermasalah. Memang selalu ada yang namanya kelompok-kelompok pertemanan. Tapi memangnya ada orang di duni ini yang tidak berkelompok ? namun kelompok – kelompok ini tidak lantas membentuk geng yang gimana gitu, apalagi kaya geng Nero, amit-amit. Kalau misalkan kami harus kemping atau piknik  ke suatu tempat, ya kita baur lagi, kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, teman-teman tentu punya kesan yang serupa. Kesan senang pergi ke sekolah, kesan senang sama pelajaran, kesan sayang sama guru, kompak sama teman, bangga sama kelas, cinta sama sekolah. Wajar kalau di masa –masa itu SMA 4 banyak meraih prestasi karena sekolah ini berisi siswa dan guru yang loyal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat betul, waktu remaja dulu salah satu hobi saya ya sekolah. Setiap hari ingin cepat saja rasanya berangkat ke sekolah lagi. Bertemu dengan teman-teman yang „  gila“ ,  bertemu dengan guru favorit : pak Mamad yang lucu tapi kalo nerangin matematika jelas banget, bertemu dengan pak Kirno guru fisika yang ganteng, yang karena kegantengannya itu anak-anak ( cewek terutama ) jadi mati-matian belajar fisika, karena tengsin dong sama guru cakep kalo sampai dapat nilai jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh kangen dengan coretan tegas bu Suwarni di karangan bebas saya, jika saya melakukan sedikit saja kesalahan. Bu Suwarni ini, tak segan-segan memberi saya nilai seratus kalau menurut beliau karangan saya bagus. ( masa mengarang dapat nilai seratus sih ?  sekarang saya baru faham, bahwa bukan nilai seratus itu yang penting, tapi efek gairah yang muncul  di hati saya setelah mendapat penghargaan setinggi itu. Gairah untuk terus memacu diri dan kembali dialem sama guru ). Bu Suwarni, sungguh guru yang bijak dan tahu bagaimana memanusiakan muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun selalu merindukan kehadiran bu Otje yang penyayang di pelajaran bahasa Jerman, Pak Abidin yang selalu berpenampilan apik, ganteng khas sunda dengan kumis dan kacamatanya, mengajar bahasa Inggris dengan gaya yang menawan, sehingga dalam istilahnya Erwin, saya rada loading di pelajaran yang satu ini. Begitulah, rata-rata guru yang mengajar saya dulu adalah guru-guru yang terbaik yang pernah dimiliki SMA 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh  berharap suasana hangat penuh persaudaraan seperti itu akan tetap berlangsung di almamater kita tercinta ini, sehingga adik-adik kita pun dapat merasakan suasana menuntut ilmu yang menyenangkan dan tak terlupakan. Jangan sampai kita mendengar ada guru SMA 4 menampar murid, atau sampai ngajak berantem siswa yang memang badung dan layak ditampar, siswi yang hamil di luar nikah, seks bebas, mencandu narkoba, kedapatan membawa barang-barang pornografi, berbicara kasar pada teman seperti yang dicontohkan di sinetron, melecehkan guru, penyiksaan teman oleh geng kampungan, perilaku mencontek yang kronis dan dibiarkan guru, merokok di kantin, membolos dan jalan-jalan ke mall pada jam pelajaran tanpa rasa malu, dan perilaku buruk lainnya  yang mencerminkan rendahnya akhlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai alumnus, sebagai seorang pendidik, dan sebagai seorang ibu, sangat besar harapan saya, SMA 4 tercinta tetap dapat menjadi institusi yang berkualitas  dalam mendidik anak – anak Indonesia. Tetap dapat mempertahankan citra baiknya, tetap dapat menanamkan kesederhanaan kepada murid-muridnya, bukan karena mayoritas siswanya memang berasal dari latar belakang ekonomi bersahaja, namun lebih karena alasan pilihan gaya hidup. Saya percaya, guru-guru SMA 4 yang sekarang, tentu sangat berkompeten dan dapat tetap menjunjung nilai-nilai kemuliaan dalam mendidik murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam sayang,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-1005079416874785846?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/1005079416874785846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/3-tahun-yang-indah-di-sman-4-bandung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1005079416874785846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/1005079416874785846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/3-tahun-yang-indah-di-sman-4-bandung.html' title='3 Tahun yang Indah di SMAN 4 Bandung'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-277445189287113193</id><published>2009-05-14T05:28:00.000-07:00</published><updated>2009-12-28T17:09:18.094-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengalaman jadul'/><title type='text'>Lagu daerah</title><content type='html'>Saya masih ingat, waktu saya masih kecil sampai SMA, satu-satunya stasiun televisi yang ada pada masa itu hanyalah TVRI. Akibatnya suka atau tidak suka para pemirsa layar kaca di Indonesia hanya terpaku pada satu-satunya stasiun TV pemerintah itu, apa pun acara yang disajikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga masih ingat, selain lagu-lagu yang lagi ngetop semisal lagu-lagunya teh Nia Daniati , mbak Iis Sugianto, dkk, TVRI juga kerap menyajikan lagu-lagu daerah dari seluruh nusantara. Ketika itu saya ( dan saya yakin betul, begitu pula dengan jutaan anak-anak Indonesia yang sejaman dengan saya ) sampai hafal lagu-lagu dari daerah se Indonesia. Umpamanya dari Sumatera: sinanggar tulo, sik-sik batu manikam, Inang, butet, ari o turang (?), sigule pong, kampuang nan jauah dimato, bareh solok, ayam den lapeh, lancang kuning, bungong jeumpa, dll. Atau dari daerah Sulawesi : anging mamiri, sarinande, dll, dari Kalimantan : paris berantai, saputangan bapucuk ampat, dari Maluku apalagi buanyaak yang sampe sekarang masih hafal : waktu hujan sore-sore, dll, dari Papua ( harita mah Irian Jaya ) : Yamko Rambe, dll, dari Timor, dari Bali, Madura, Jawa Tengah dan Timur, komo lagu Sunda mah ....&lt;br /&gt;Di sekolah, anak-anak juga suka disuruh ke depan sama guru, menyanyikan lagu daerah tertentu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan anak-anak sekolah jaman sekarang ? lagu yang paling top dari daerah nya sendiri aja, banyak yang gak tau sama sekali ...&lt;br /&gt;Gak di kampung, apa lagi di kota, anak-anak sekarang menganggap lagu-lagu daerah itu nggak pernah ada, karena gak pernah tau, gak pernah diajarin, dan gak pernah diperkenalkan ...&lt;br /&gt;Hal ini diperparah dengan acara TV yang nol persen menyajikan lagu-lagu daerah &lt;br /&gt;(kecuali TVRI ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya pengalaman yang cukup aneh. Begini . Saya selalu mengajarkan lagu-lagu yang indah itu kepada anak-anak gadis saya semenjak mereka kecil. Nah pas di sekolah, kalau ada pelajaran musik ( biasanya mereka diminta memainkan alat musik pianica ), anak-anak saya suka membawakan lagu-lagu daerah itu ( yang pada malam-malam sebelumnya mereka hafalkan notasinya terlebih dahulu sampai hafal diluar kepala ). Dan eh... ternyata walhasil, mereka dinasihati oleh gurunya agar hanya memainkan lagu yang terkenal saja !! padahal si bungsu teh memainkan lagu " Gambang Suling " , lagu daerah Jateng yang terkenal ituhh .. ! ammmppuuunnn .... ( atau jangan-jangan ... memang sudah nggak ada lagi orang yang masih ingat sama lagu itu ... )&lt;br /&gt;Saya gak bisa marah, dan akhirnya saya meminta anak saya hanya memainkan lagu " Cing Cangkeling " saja seperti yang diminta gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat bisa memaklumi, mengapa guru keseniannya bersikap seperti itu. Guru-guru SD ini masih sangat muda-muda, mungkin baru berusia 24 an, artinya mereka dibesarkan pada masa TV swasta sudah marak di Indonesia, dan TVRI sudah tidak laku lagi ( maaf ). Jadi ya wajar, kalau mereka nggak kenal sama lagu - lagu daerah. Sepanjang hidupnya, mana pernah mereka menonton siaran kesenian daerah dari TV swasta yang cenderung kurang tidak peduli pada kesenian daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kalau dipikir-pikir dan dirasa-rasa, dan didengar-dengar, dan dihayati-hayati ...&lt;br /&gt;Lagu daerah tu ... wah... indah sekali .... elok, merdu, bermakna, santun, ...&lt;br /&gt;Namun jika sampai kreasi seni bernilai tinggi itu sampai tidak dikenal oleh anak-anak kita, gara-gara para orang tua dan gurunya tidak pernah mengajarkannya, ya jangan sewot dong, jika negara jiran kita lantas mengklaimnya sebagai lagu nenek moyang mereka ..... trus kalo udah gini, gimana dong ? mau perang ? ya sana ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-277445189287113193?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/277445189287113193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/lagu-daerah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/277445189287113193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/277445189287113193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/lagu-daerah.html' title='Lagu daerah'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-8706873333699054300</id><published>2009-05-14T05:19:00.000-07:00</published><updated>2009-12-28T17:11:55.863-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa'/><title type='text'>Tahun Baruan di Pakidulan ( biarpun sudah sangat terlambat, gak apa-apa yaa .. )</title><content type='html'>Aduuuh ... pusing banget deh ah .... dari ashar tadi, ratusan sepeda motor berbaris - berderet - kadang berdempetan .... memenuhi sepanjang jalan dari Cisaat menuju Pelabuhan Ratu . Ya udah deh, jalan di depan kompleks tempat tinggalku yang memang sehari-harinya sudah macet, jadi semakin parah macetnya.&lt;br /&gt;Sorry ya, kalau seterusnya aku berbicara dalam bahasa campuran Indonesia dan Sunda. Biar ekspresiku lebih pas. Kalo nggak ngerti, masuk ke google translate ajaahh ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan pengendara sepeda motor itu - kebanyakan para pemuda - menggunakan atribut yang mencolok mata, perpaduan antara kostum superhero, hologan, sama satria bergitar ... ( pokona mah teu puguh we ... tapi resep jeung rada hayang seuri ningalina teh ... )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, mereka adalah pemuda yang dipersatukan oleh deru knalpot dan jalan raya sebagai wilayah kekuasaan bersama. Para pelajar, mahasiswa, tukang ojeg, buruh pabrik, pengangguran, bapak-bapak kurang kerjaan, sejenak melepaskan atribut keseharian mereka untuk melebur dalam sebuah oasis sosial yang sangat menggairahkan yang bernama konvoi tahun baru ke Pelabuhan Ratu ... deuh ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan lagak mereka : ada yang mengemudi sambil berdiri, ada yang stang motornya meni jangkuuuung teh da, ari motorna dibikin pendek pisan ... asa pegel ningalina oge. Kacipta lamu heg hujan, pan air hujan teh langsung mengalir ke ketek meureun ... hihihi ... ah tapi da ceuk maneh na mah asa gaya we...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cewek - mungkin dari kampung Cidaun yang belum ada listrik mun teu salah mah - yang berbusana dengan gaya (maunya) grunge. Make Jaket kulit nu kulitna teh tos bareulah geuningan, make iket kepala, make kacamata hideung, calana jins ketat model hipster anu handapna siga pensil tea. Make sapatu bot jangkung ari awak rada busekel, mun leumpang pasti rada cingked tah. Rambut dicet beureum, tapi leungeun na teh katingalina asa rada keusrak... sigana mah sapopoe manehna teh osok dibuat di sawah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eta teh teu sabaraha kang, aya oge anu dedeganana mah siga preman tapi make topi haji ! jeung sebelna teh disorban, deuih ... mana rambut meni gondrong kitu siga nu tara dikuramas pisan, make geulang akar bahar, ngaroko jarum 76 hahaha ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah teh anni mah jadi bingung ... ieu teh rombongan naon atuh nya ? teu warawuh oge silih "tos" di jalan ... asa ka dulur sorangan. Antay-antayan, ngantri di jalan, rela terjebak macet berjam-jam demi menyaksikan sang mentari 2008 terbenam untuk terakhir kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tumpah di luar rumah. Semua dengan suasan hati dan semangatnya sendiri-sendiri. Kampung yang sepi, dusun yang terisolir, mendadak hangat oleh denyut kegairahan semesta, yang bernama malam tahun baru. Saya yakin, kegairahan ini dirasakan oleh semua orang di seantero jagad, dalam waktu yang bersamaan - dengan intensitas yang nyaris sama. Kegairahan menyambut sesuatu yang baru, sesuatu yang mungkin membawa harapan akan membaiknya kehidupan di tahun yang akan segera menjelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemarakan yang teh anni saksikan adalah kesemarakkan yang sangat sederhana, murah, namun tak kalah meriah dengan kesemarakkan di pantai festival Ancol yang megah dengan semburat ratusan ribu kembang api. Kesemarakkan di pakidulan tak sekedar dimaksudkan untuk berpesta, namun lebih pada sejenak melarikan diri dari kesulitan hidup dan kemiskinan yang tanpa ampun kian membunuh mereka dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang miskin butuh oasis, butuh hiburan, butuh keadaan lupa akan penderitaan hidup . Orang-orang yang berkonvoi dengan riuh di depan jalanan kampung saya ini, dalam kesehariannya sangat sulit untuk bisa makan sehari 3 kali, sangat tidak mungkin untuk membeli buku bagi anak-anak mereka, mengobati anggota keluarga yang sakit, menunggak listrik hingga pihak PLN harus mencabut terang di rumah mereka, mengantri berjam-jam untuk mendapat sekedar 2 liter minyak tanah dengan harga selangit, atau harus berhadapan dengan kompor gas berkualitas rendah yang bisa meledak setiap saat lantas menghancurkan wajah para ibu yang miskin ini. Mereka butuh suatu moment - untuk melepaskan diri dari dunia mereka yang bak neraka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah jadi kepanjangan .....&lt;br /&gt;Tadinya tu teh anni mau bilang, bahwa tadi sore waktu saya keluar rumah mau nyari bahan-bahan untuk malam tahun baruan sama keluarga, ojeg yang teh anni tumpangi kejebak macet di jalan Cibadak, gara-gara konvoi motor yang panjaaaang banget menuju pelabuhan. Akhirnya, teh anni dan si abang ojeg asa jadi peserta konvoi. Ah bae we ... resep malahan mah ...&lt;br /&gt;Kang, Tehs, Yis... teh anni mah malam tahun baruan di rumah sajaaah. Saya sudah menyediakan martabak manis dan martabak telur bang Den, kacang dua kelinci, . Makannya entar, sambil nonton film Denias ... heheee ...&lt;br /&gt;Tah, kitu kangs,tehs, yis ... taun baruan di pakidulan mah ... kapan-kapan, tahun baruan di kidul yyuuu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tos ah cangkeul. Selamat tahun baru 2009 ya Kangs, Tehs, Yis ... semoga di tahun depan kehidupan kita akan jauh lebih baik, menjadikan kita sebagai orang yang pandai bersyukur, taat beribadah, dan semoga Allah akan menjaga kita semua, amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-8706873333699054300?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/8706873333699054300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/tahun-baruan-di-pakidulan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/8706873333699054300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/8706873333699054300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/tahun-baruan-di-pakidulan.html' title='Tahun Baruan di Pakidulan ( biarpun sudah sangat terlambat, gak apa-apa yaa .. )'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-8084292463388706802</id><published>2009-05-14T04:58:00.000-07:00</published><updated>2009-12-28T17:12:53.372-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengalaman jadul'/><title type='text'>ANYON</title><content type='html'>Akangs, Tetehs, dan teman- teman se almamater di SMAN 4 bandung yang tercinta ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat gak dengan Pak Tatang  ?  Itu lho, yang guru bahasa Inggris itu.. Waktu saya masih sekolah di SMA 4 tahun 1985, Pak Tatang adalah guru yang tak terlupakan.  Saya yakin, rekan- rekan yang satu angkatan dengan saya atau yang segenerasi dengan saya, tentu masih dapat mengingat dengan jelas sosok pak guru yang satu ini. Penampilannya sangat khas, bukan ?  Beliau selalu bersafari abu-abu dan menyeret langkahnya jika sedang berjalan. Posturnya tubuhnya tinggi kurus , jika berdiri badannya agak membungkuk. Rambutnya  yang putih selalu tersisir rapi dengan model tahun 50-an. Suaranya agak ngebass. Berbahasa Inggris logat Sunda dengan fasih.  Gimana ? sudah semakin ingat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu kejadian lucu yang menimpa kelas kami, yang sampai hari ini tak kan pernah saya lupakan, dan yang kalau saya ingat kembali kejadian itu, atau saya ceritakan kejadian itu kepada anak saya, kami masih saja tertawa terpingkal-pingkal …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini kejadiannya. Siang itu, kami kelas 3 IPA 8 sedang asyik belajar bahasa Inggris. Kebetulan sehari sebelumnya kami baru saja tiba dari Jogya dalam rangka mengikuti acara tour sekolah. Atmosfer piknik ke Jogya itu masih sangat kental menguasai seisi kelas. Kami tuh bawaannya sedikit-sedikit ngomong pakai bahasa Inggris, maklum di Borobudur kami diwajibkan mewawancarai para bule yang ada di sana. Sampai beberapa hari, suasana kelas kami ribet banget sama anak-anak yang cas-cis-cus ngomong bahasa Inggris ( istilahnya waktu itu adalah “ Nyepik “  … maksudnya “speak”.  Hihihihiii… ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika pak Tatang sedang menerangkan pelajaran, teman saya yang namanya Topan, teruuus aja ngobrol gak berhenti-berhenti. Sebel banget, dia tu ngomongin cerita Wiro Sableng, coba !  ih, meni geuleuh teh da …&lt;br /&gt;Rupanya pak Tatang merasa terganggu dengan bunyi bisik-bisik di deretan belakang itu. Tiba-tiba, beliau menunjuk ke arah saya. Deg ! jantungku serasa berhenti mendadak. Hmpff … lega banget, ternyata orang yang ditunjuk adalah si Topan yang memang duduk persis di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ayo, kamu ! sini maju ke depan … ! “, begitu hardik pak Tatang.  Eh eta dasar si Topan budak Leuwi Panjang, meni legeg teh da langsung maju ke depan, meni pede abis.  Sesampainya di depan papan tulis, dia ngomong gini “ can I helef you ? “, kitu cenah!  Asli, ieu mah, manehna teh nyebatkeun helef, bukan help.  Tah, ditanya kitu patut teh, pak Tatang langsung molotot bawaning ku reuwas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya beliau menulis sebuah kata di papan tulis “ Everybody”. &lt;br /&gt;“ Sok tah, baca ieu… “, gitu kata pak Tatang. Rupanya saking kagetnya ditembak sama si Topan, pak Tatang jadi malah refleks berbahasa Sunda.&lt;br /&gt;“ Epribodi !! “ , kitu ceuk si Topan, meni tarik teh da…   “ Heueuh, alus maneh mah bahasa Inggris teh … “, begitu komentar pak Tatang. Eta si Topan   kalahkah seuri geura dialem kitu teh, marukanana emang enya manehna teh jagoan. Barudak maresem, nahan seuri.  Selanjutnya Pak Tatang menulis lagi beberapa kata, dan si Topan ini terus saja terbalik-balik mengucapkan huruf P dan F, ih parah banget …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya, sewaktu pak Tatang menuliskan kata “ ANYONE” di papan tulis, dan kembali Wiro Sableng ini disuruh membaca keras-keras. Masyaallah, begini dia membacanya : “ANYON” !!. Beneran, ieu mah ! dia baca ANYON, seperti kita membaca kata : MENYANYI . Gustiii … eta budak … mana tarik, mana salah deuih …   atuh, barudak sakelas teh  tos teu kuat deui nahan pikaseurieun. Antug na mah gerrr … we nyaleungseurikeun, akey-akeyan tepi ka nyeri beuteung .  Hahahaa… Anyon, anyon … !!&lt;br /&gt;Ari Pak Tatang, ngan bisa molotot we bari nyentak “ Naaa, Topaaannn … ari maneh ! meni kacida teuing nya …?! “ &lt;br /&gt;Tah, tidinya we, si Topan teh dilandih Topan Anyon, hehehee …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitu tah, pangalaman pikaseurieun di kelas teh.  Leres ieu mah, abdi ge bari hayang seuri keneh we basa ngetik email ieu teh, asa kabayang keneh di juru soca sagala detail kajantenanana. Emh, padahal eta teh tos 23 taun kapengker ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Tatang, pak Tatang, I miss U ….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-8084292463388706802?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/8084292463388706802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/anyon.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/8084292463388706802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/8084292463388706802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/anyon.html' title='ANYON'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-6594655592463655740</id><published>2009-05-13T07:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T07:21:25.890-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>UASBN Putriku</title><content type='html'>Sejak Senin kemarin, anakku yang bungsu dan segenap teman-temannya di seluruh tanah air yang duduk di kelas 6 SD, menjalani sebuah tes akhir sekolah yang bernama UASBN. Dulu waktu kita SD, kalo nggak salah namanya EBTANAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata pelajaran yang diujikan pada hari Senin itu adalah Bahasa Indonesia, salah satu favorit anakku. Anakku yang bontot cantik dan gendut ini, sangat gemar membaca. Sejak usia 3 tahun dia sudah lancar membaca dan khatam Iqro. Tak heran, jika sampai saat ini hadiah yang selalu dia minta untuk setiap hari istimewanya atau ketika dia berhasil meraih juara ini dan itu, adalah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku yang satu ini termasuk yang rajin, bahkan sangat rajin belajar. Setiap malam dia mengulang pelajaran, mengerjakan PR, membahas soal, dan menyiapkan pelajaran buat besok. Pokoknya rajin banget deh, persis seperti saya waktu kecil .. hehee ... ( I wish .. )...&lt;br /&gt;Apalagi sekarang, mau UASBN geto loch ( kitu tah kabiasaan si bontot  ari nyarios teh), rajinnya berlipat ganda. Buku latihan apa saja yang saya beli, dia kerjakan sampai habis, apalagi soal-soal bahasa Indonesia. Melihat usaha yang keras dari anakku yang baru 11 tahun itu, ada rasa optimis hinggap di hatiku. Insyaallah, Selma (begitu namanya ) akan bisa melewati UASBN dengan baik. Dan saya ? Bermalam-malam saya dan suami terus berdoa untuk keberhasilan anak kesayanganku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari telah berlalu. Sepulang kerja, di rumah, gadis cilikku itu menghampiriku dengan wajah muram. Dia bercerita panjaang lebaaar, curhat tentang suasana UASBN di sekolahnya. Intinya, dia merasa resah karena mungkin dia tidak bisa meraih nilai yang maksimal, karena terkalahkan oleh teman-temannya yang bekerja sama atau jelasnya saling mencontek !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HHmm .. aku hanya bisa mengusap dada dan beristigfar. Kuraih wajah anakku, dan kupeluk erat di dadaku, seperti kala dia masih bayi dulu. Kunasihati dia dengan nasihat yang sederhana, yang kupikir akan mudah masuk ke kepalanya yang panas karena rasa cemburu. Ku katakan padanya, berapapun nilai yang kamu peroleh, ibu akan tetap bangga dan menyayangimu, karena kamu raih semua itu dengan tanganmu sendiri, dengan usaha kerasmu sendiri, dengan segala kejujuran yang sudah ayah ibu ajarkan kepadamu. Ayah dan Ibu sama sekali tidak bahagia jika kamu meraih nilai tinggi dengan cara curang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selma Laily Nur Afifa terdiam sejenak. Mata lebarnya memandangku sejurus, dan dia mengangguk sambil tersenyum. Dalam sekejap, mendung terhapus dari wajahnya yang gembil, berganti dengan keceriaan dan kelucuan khasnya. Tanpa bicara dia masuk ke kamarnya sambil melompat-lompat, seperti yang tidak pernah terjadi apa-apa ...Ah, anakku memang guru kehidupan yang paling gamblang ...Begitulah caranya menghadapi beban dalam kehidupan ini. Jangan diperberat, jangan berlarut - larut, ringankanlah, gembirakanlah hatimu, dengarlah nasihat orang lain ....  no hard feelings ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu semua, saya hanya bisa prihatin menghadapi fenomena pendidikan di negeri ini yang masih sangat mengedepankan nilai Cognitif, sementara nilai Afektif hanya menjadi semacam pelengkap saja. Tidak peduli bagaimanapun jujurnya anak kita, betapa rajinnya sholat, betapa puasanya tamat sebulan, betapa tingginya hafalan surat-surat pendeknya,   kalau nilai Math, Bahasa Indonesia dan IPA di UAS nya buruk, maka tidak luluslah dia ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tos heula ah ... pegel ngetik wae ...Salam sayang kanggo murangkalih akangs, tetehs, ayis sadaya anu nuju UASBN. Mugia Allah maparin kemudahan ( naon sih bahasa Sundana kemudahan teh, kang ? ). Amiiin ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam,&lt;br /&gt;Anni, di Pakidulan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-6594655592463655740?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/6594655592463655740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/uasbn-putriku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6594655592463655740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/6594655592463655740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/uasbn-putriku.html' title='UASBN Putriku'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7845188383952042994.post-5596554036057806167</id><published>2009-05-13T07:07:00.000-07:00</published><updated>2009-12-28T17:15:01.141-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Selera Kampung</title><content type='html'>Saya ingin sharing satu pengalaman yang sampai saat ini masih sering membuat saya berubah-ubah dalam memaknainya.&lt;br /&gt;Ini tentang selera. Maksud saya, selera makan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya.  Pada suatu saat saya berkesempatan menghadiri pernikahan putri seorang pejabat daerah dan pengusaha kaya raya di Bandung, tempat saya tinggal saya dulu.&lt;br /&gt;Namanya aja hajatan orang kaya, kebayang dong mewahnya. Pelaminannya serba lux dengan dominasi warna krem, dekorasi bunga-bunganya kelihatannya dipilih dari yang kualitas terbaik , mempelainya  dirias seperti bidadari ... wah, benar - benar perhelatan yang sempurna ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan suami kebetulan kebagian undangan yang shiftnya  ( halah, shift .. abis apa dong istilahnya ??) menjelang petang. Dan tau nggak ? hidangan yang disuguhkan untuk para tamu di rombongan ini adalah makanan Eropa ! mmm ... yummy ...&lt;br /&gt;Serbaneka hidangan Barat itu disajikan dengan penampilan yang sungguh mewah dan menarik. Aneka sup krim, aneka salad, segala macam daging dan ikan : dipanggang, digoreng, dikukus.  Roti perancis yang ukurannya panjaaaang juga ada, kentang tumbuk, makaroni skutel, es krim segala rasa ... wah ..&lt;br /&gt;Pokoknya kaya di resto Perancis atau Italia aja .. . ( kangs, Tehs, sebetulnya saya ingin menuliskan nama-nama menu itu dalam bahasa aslinya, tapi sieun salah ketik, pan bisi malah jadi merusak selera ... ). Apalagi saya dapat bocoran, untuk keperluan pesta ini nyonya rumah sengaja mendatangkan chef dari hotel berbintang banyak di jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sat yang ditunggu - tunggupun tibalah. Seusai menyalami tuan rumah dan pengantin, kamipun antre untuk mencicipi hidangan yang penampilannya aduhai itu ...&lt;br /&gt;Tapi apa yang terjadi saudara- saudara .. ?!&lt;br /&gt;Eta mah, setiap kali kami mengambil sejumput makanan untuk dicicipi, selalu saja saya dengar ada bisik - bisik yang nadanya miring dari para tamu undangan, yang mengomentari rasa makanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya saya pikir cuma saya saja yang merasa eneg setiap kali saya menyuap makanan itu. Namun ketika kulirik wajah suamiku, ternyata si akang juga sedang memasang ekspresi " teu ngeunah " di wajahnya, hehehee ... karunya teuing ... mangkaning si akang mah sengaja ngosongin perut dulu basa bade ka uleman teh ...&lt;br /&gt;Leres ieu mah, asli, teu paruguh rasa makanan teh ... tiis, anyep. Ari asin, asiiin teuing ...&lt;br /&gt;hanyir, nyegak, rada atah ... lah ... pokona mah duka masakan naon ieu teh ...&lt;br /&gt;Akhirna mah ... da alim rugel tea , saya dan suami hanya makan kue dan eskrim. Eta ge rada teu ngeunah deui ... hihihii ...&lt;br /&gt;Ah, jadi teu puguh kieu pesta teh. Sesampainya di rumah, suami saya makan lagi, da lapar keneh saurna. Saya boro-boro bisa makan, rasa ayam mentah aja masih nempel 3 hari di lidah saya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejadian ini saya dan suami sepakat, bahwa sampai kapanpun selera makan kami adalah selera Indonesia, atau lebih spesifiknya selera kampung. Agar lebih jelas ilustrasinya, saya kasih contoh yan kangs, tehs ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya ketika kami makan spaghetii, kami selalu membandingkan dengan enaknya mie goreng mang Ujang yang nongkrong di pertigaan Cisaat. Kesimpulannya, mie goreng lebih enak. Atau ketika kami makan Pizza yang paling top di Indonesia, kami selalu membandingkan dengan kelezatan martabak telur bang Den di jalan Cibadak. Kesimpulannya, martabak telur lebih lezat. Kali lain, kami makan barbeque ala Barat, dan kami membandingkannya dengan sate madura di depan kantor pos Leuwi Goong. Kesimpulannya masih enak sate madura. Jangan dibilang soal fried chiken ala Amerika. Anak-anakku pasti berkomentar, masih enakkan ayam goreng bumbu kuning buatan ibu ( padahal mah saya juga kalau bikin ayam goreng teh, bumbunya ya seperti yang diajarkan ibu saya aja ... bumbu kampung ! )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal selera memang sangat subjektif, nggak bisa diperdebatkan. Saya yakin, ilustrasi itu mungkin sangat khas keluarga kami, sementara keluarga lain belum tentu seperti itu.&lt;br /&gt;Tapi dari pengalaman itu, ada terbersit rasa syukur yang sangat saya rasakan. Kami menjadi keluarga yang tidak western food minded, nggak bengong  kalo melihat ada resto ala western yang baru dibuka, atuhda kumaha ari teu selera ?&lt;br /&gt;Kalaupun berkesempatan jalan-jalan, bisa dipastikan resto yang kami pilih adalah resto Indonesia ( Iya lah ngakuu... restoran Sundaaa ... ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumaha nya kangs, Tehs, akhir - akhir ini makanan impor kian deras menyerbu kita..  Kami sekeluargapun boleh dibilang cukup melek teknologi. Tapi soal selera ... eh da keukeuh we selera kampung ...&lt;br /&gt;Bener nggak sih, masakan Indonesia yang kaya bumbu dan rempah itu membuat pecintanya tak kan penah berpaling ke lain hati ? hmmm ...&lt;br /&gt;Atau lebih jauh lagi, kampungan kah kami ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cag,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anni, orang kampung kidul&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7845188383952042994-5596554036057806167?l=dengarlahnuranimu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/feeds/5596554036057806167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/selera-kampung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5596554036057806167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7845188383952042994/posts/default/5596554036057806167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dengarlahnuranimu.blogspot.com/2009/05/selera-kampung.html' title='Selera Kampung'/><author><name>puji nurani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06440109296655801379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_29Aa5cGtUMY/TS2K8COl6MI/AAAAAAAAAXk/bz6Pjx3z0ks/S220/T.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
