Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, July 18, 2011

Aku Melihat Nini Anteh di Bulan ...

Kapankah terakhir kali engkau melihat bulan purnama ? melihat dalam arti yang sesungguhnya. Tidak hanya sekedar memandang sekilas lalu memalingkan wajah karena terlalu banyak hal yang lebih penting yang harus diurusi, dari hanya sekedar memandang bulan purnama ?

Bukalah jendela malam ini, dan tengoklah langit di atasmu. Disana bulan purnama sedang membulat dengan semburat sinar keperakan meronai wajahnya yang sempurna, dan akan menggenapi kesempurnaannya di esok hari. Jika tempat tinggalmu bukan di apartemen atau di condominium atau di real estate mewah yang dihujani dengan sinar lampu nan artifisial, maka engkau akan melihat rembulan dengan segenap keindahannya yang romantis dan berkesan mistis. Sinar rembulan akan sempurna engkau tangkap, manakala langit diatasmu jernih berlatar hitam, tanpa gangguan gemerlap cahaya lampu.

Dulu ketika purnama tiba, aku akan meringkukkan tubuh kecilku di pelukan Nenek. Kata Nenek, di bulan ada seorang perempuan yang setia menenun kain hingga akhir zaman. Seorang diri hanya ditemani kucing kesayangannya. Perempuan itu bernama Nyai Anteh. Namun karena usia Nyai Anteh tentu sudah sangat tua, maka tak sopan jika kita tak memanggilnya dengan Nini Anteh. Dan kucing kesayangannya itu bernama Candramawat.

Mengapa Nini Anteh tersesat begitu jauh hingga ke Bulan ? apa yang telah terjadi dengannya ?

Nyai Anteh bukan siapa-siapa, kecuali seorang gadis dayang di kerajaan Sunda yang setia menjaga kehormatan diri dan kesuciannya. Makanakala seorang pria tampan dari trah bangsawan yang bernama Raden Antakusumah jatuh hati padanya, Nini Anteh lebih memilih pergi ke bulan, dari pada menyerah pada hawa nafsunya, sebab sejatinya ia pun memendam cinta di sudut hatinya kepada sang jejaka rupawan. Nyai Anteh tak sudi mengkhianati tunangan sang Pangeran, yang tak lain dari Gusti Putri Endahwarni, majikan yang sangat disayanginya.

Ketika gairah cinta terlarang diantara dua pasang manusia itu sudah begitu menggelora dan mengancam kesucian diri, Nyai Anteh pun memilih terbang ke bulan, mengendarai selendang saktinya. Tak lupa alat tenun dan Candramawat kucing kesayangannya pun dibawa serta. Di sanalah hingga akhir zaman nanti, Nyai Anteh menenun kain sambil sesekali menampakkan paras jelitanya kepada para pecinta purnama yang bersedia meluangkan sejenak waktu untuk memandanginya.


Nenek tercinta, kini aku sudah menjelma menjadi perempuan dewasa. Dirimu pun sudah dipanggil ke haribaan Nya. Namun kisah indahmu tentang Nini Anteh akan tetap terkenang hingga akhir hayatku. Aku mahfum apa yang sesungguhnya Nenek ingin sampaikan kepadaku. Jadilah perempuan yang tahu menjaga
kehormatan dan kesucian diri. Jadilah perempuan yang berani mengatakan TIDAK pada godaan hawa nafsu. Jadilah perempuan yang memiliki empati, setia kawan dan tenggang rasa yang tinggi. Jadilah perempuan yang mengharamkan sesuatu yang bukan milikmu, meski engkau sangat menginginkannya.

Nenek tercinta, Nini Anteh tidak nyata. Namun semua nasihatmu begitu nyata bagiku. Sampai kapanku, akan selalu kuingat, bahwa anak-anak yang baik, hanya dilahirkan dari rahim perempuan yang baik, yang pandai menjaga martabatnya. Bukan dari perempuan yang kotor hati dan suka merebut milik orang lain. Aku ingin menjadi istri dan ibu yang setia, yang tidak akan pernah merebut suami orang lain. Aku akan setia pada suami dan anak-anakku. insyaallah !

Di luar jendelaku, bulan kian meninggi dan semburat peraknya kini tersaput jingga ….

Menenun, menenun, menenunlah Nini Anteh, hingga Sang Pemilik Purnama dan Pemilik dirimu, mengakhiri kehidupan ini …

Salam sayang,
anni - Sukabumi 150711


Comments from Facebook

ha .. ha .. Nama Kampungku Lucu Banget ..


Jalan-jalan deh sesekali ke luar kota. Maksudnya ke luar kota di Indonesia, bukan kota di luar negeri. Lalu susuri jalan-jalan alternatif yang berliku-liku keluar masuk kampung. Kita akan melihat pemandangan yang menyejukkan dan betul-betul bisa melepaskan penat serta stress akibat kehidupan sehari-hari yang serba sumpek di tempat kerja di kota besar. Tidak hanya hamparan sawah, kebun, dan hutan yang membuat adem mata, namun juga pemandangan sekitar kampung yang terkadang lucu, berkesan lugu khas pedesaan yang kadang mengundang senyum.

Sudah lama sebetulnya saya berfikir tentang nama-nama kampung di daerah Jawa Barat tempat saya tinggal. Sejauh yang saya tahu, masyarakat Jawa Barat atau masyarakat Sunda sangat mencintai lembur (kampung halaman) nya. Di kampung – kampung yang terpencil di kaki gunung, di pinggiran kota, atau di pesisir pantai inilah, pusat kehidupan orang Sunda bermuasal. Dari sinilah karakter khas orang Sunda semisal ramah tamah, cerdik, berpenampilan gaya, pandai mengatur uang, kreatif, nyeni, suka bersantai-santai, terbuka, senang bekerja, senang mengolah makanan, susah mengucapkan huruf  F , dll, bermula


Masyarakat Suku Sunda memiliki falsafah hidup yang tak terlampau rumit jika dibandingkan dengan falsafah yang dimiliki suku-suku lain di Nusantara. Didukung oleh kekayaan alam Jawa Barat yang terkenal melimpah, falsafah hidup yang simple itu membuat masyarakat Sunda termasuk masyarakat yang cepat memperoleh kemajuan di negeri kita ini. Salah satu falsafah hidup yang sangat dipegang adalah konsep “ Silih asih, silih asah, silih asuh “ ( Saling menyayangi, saling mencerdaskan, saling menjaga ). Konsep ini tercermin dalam budaya Sunda yang mewujud dalam peri kehidupan mereka sehari – hari.

Orang Sunda itu lucu, suka membanyol. Guyonan yang dilontarkan lucu banget. Yang mendengarkan tertawa terpingkal-pingkal sampai mules perut kita dibuatnya, namun yang melontarkan banyolan adem ayem saja, masang tampang cool ,he he .. Kebiasaan membanyol itu terbawa juga sampai ke pemberian nama tempat atau nama daerah yang terdengar kocak. Coba deh jalan ke daerah Sukabumi. Di sana akan ditemui nama kampung Ciburayut, Nyangkewok, Pasir Jeding, Kebon Bra. Saya bukan orang Sunda, tapi mendengar namanya saja saya sudah tersenyum, apalagi jika tahu artinya, he he … 
Masih banyak nama-nama aneh dan lucu yang bertebaran di seantero Jawa Barat. Di dekat Tasikmalaya, ada kampung bernama Nengtet, Nangewer. Di daerah lain ada nama kampung Ciburahol, Legok Hangseur, Cigeol, Ciubrut, Ciromed, Pasir Demplu, Legok Ewor, dll nama yang terdengar unik dan lucu.


Kadang penduduk kampung tsb, terutama yang sudah lebih berpendidikan dan sudah mengecap kehidupan modern, merasa risih atau malu dengan nama kampung nya itu. Pernah ada beberapa upaya yang dilakukan baik oleh kepala daerah atau tokoh masyarakat setempat untuk mengubah nama kampung atau daerah dengan nama yang lebih moderen dan berkonotasi positif. Ada yang berhasil, banyak juga yang gagal karena penduduk setempat masih lebih suka dengan nama asli kampung mereka.
Nama kampung, desa atau daerah, sangat berkaitan erat dengan sejarah dan budaya masyarakat di tempat itu. Nama-nama lucu yang saya sebutkan dalam tulisan ini, hanya segelintir contoh tradisi lisan masyarakat Sunda yang komunal dan agraris. Beginilah antara lain cara nenek moyang suku Sunda mewariskan tradisi dan nilai-nilai kepada generasi penerusnya. Dengan cara yang sederhana, mudah diingat, dan dibumbui humor, dengan harapan anak-anak muda pewaris zamannya mudah mengingatnya sampai kapanpun. Jangan dikira dibalik nama-nama yang lugu dan lucu itu tak terkandung nilai-nilai kehidupan yang luhur. Jika kita mau menggalinya, tentulah akan ditemui banyak sekali pelajaran kehidupan yang sangat berharga yang dapat kita teladani hingga hari ini.

Jadi teman-teman, mumpung anak-anak masih libur sekolah, yuk ajak keluarga jalan-jalan menyusuri perkampungan dan pematang sawah di luar kota besar yang ramai dan temukan berbagai keunikan di sana. Selamat mencintai tanah air Indonesia !

Salam sayang,

anni - Sukabumi

ups ...! Apaan tuh yang Nemplok di Helm ???


Saya pernah punya pengalaman unik yang cukup menggelikan, ketika beberapa tahun yang lalu berkesempatan menjadi anggota rombongan pengantin yang mengantar mempelai pria ke tempat mempelai perempuan. Kebetulan akad nikah dan resepsi pernikahan itu dilaksanakan di rumah mempelai perempuan yang terletak di sebuah gang yang lumayan sempit dan berliku. Ketika itu kami harus membawa berbagai barang bawaan untuk dipersembahkan kepada mempelai perempuan. Semua barang bawaan itu dikemas seperti kado atau dibentuk semacam itulah, agar penampilannya cantik dan terkesan mahal. Ada yang bertugas membawa barang pecah belah, ada yang diminta membawa selimut tebal yang dibentuk seperti angsa. Ada yang disuruh membawa sepatu dan tas, seperangkat alat kosmetik, bahkan ada juga yang bertugas membawa kompor gas (bayangkan !). Saya waktu itu kebetulan diminta membawa kue tart yang warna dan aromanya bikin lapar, maklum dari pagi belum sempat sarapan. Rombongan pengantin laki-laki kurang lebih berjumlah 50 an orang, berbaris rapi memanjang. Di sepanjang jalan kami ramai mengobrol sambil diam-diam tak henti-henti cekikikan mentertawakan salah satu keponakan laki-laki yang sudah bujangan tapi ketiban sial disuruh membawa bingkisan berupa celana dalam dan bra ! sampai salah tingkah dia dibuatnya ;)

Sesampainya di gang dekat rumah pengantin perempuan, kamipun harus berhenti, menanti serangkaian ritual adat yang asyik juga buat ditonton, meski terkesan lebay. Ada pidato dalam bahasa Sunda yang menurut saya tentulah berisi ucapan selamat datang, ada rentak tetabuhan gamelan Sunda yang diikuti tarian selamat datang oleh serombongan mojang Bandung tetangga si Eneng pengantin yang heudeuh cantik-cantik banget ! ada juga acara pengalungan rangkaian bunga kepada mempelai laki-laki, dan seterusnya, yang saya piker cukup ribet mengingat lokasi pernikahannya terletak di gang sempit.

Nah, selama upacara adat penyambutan tamu berlangsung, kami anggota rombongan belum dipersilahkan duduk di kursi undangan, melainkan harus berbaris menunggu di gang depan rumah pengantin. Sembari menunggu itulah, sebuah kejadian lucu berlangsung. Di sepanjang dinding yang memagari gang itu, kami melihat deretan jemuran pakaian, bergelantungan tak beraturan. Segala macam pakaian ada di tali jemuran yang merentang sepanjang gang senggol itu. Dari selimut flannel bayi, popok, daster, handuk, jaket, jeans, kemeja, seragam sekolah, sampai aneka celana dalam pria dan wanita anak-anak dan dewasa, bergantung dengan bebasnya hanya beberapa jengkal di atas kepala kami.

Kebetulan ikut dalam rombongan kami, segambreng keponakan laki-laki ABG yang bandel-bandel dan norak-norak. Nah mereka inilah yang membuat ulah selama kami diharuskan menunggu itu. Dengan iseng dan jailnya, mereka membaca satu persatu merek-merek baju dalaman yang ada di atas kepala mereka. Dari barisan belakang terdengar “MONALISA ! “ , lalu disahut oleh seseorang di depannya “ SWAN !”, lalu .. “Crocodile ! “, “SONY !”, “ CEMPAKA …!”, “GT-Man”, “Poison Lady ..!”, “HINGS…!”, begitu seterusnya nama-nama merek celana dalam dan bra di baca keras-keras diiringi cekikikan anak-anak bandel itu. Kami yang dewasa, tak kuasa menegurnya, karena percuma saja,teguran kami hanya dianggap angin lalu. Akhirnya kamipun terbawa cekikikan berjamaah menyaksikan aksi kocak anak-anak abege itu. Untung saja kekisruhan itu tidak sampai mengganggu jalannya upacara adat, he he ...

Bagi teman-teman yang tinggal di apartemen atau condominium atau hunian mewah sejenisnya, mungkin tak akan pernah menyaksikan berseliwerannya tali jemuran yang kadang direntang sangat rendah dekat dengan kepala para pejalan kaki. Berbeda dengan kami yang tinggal di kompleks perumahan BTN yang biasa saja, atau yang tinggal di gang-gang di kota-kota besar yang padat penduduknya. Setiap hari kami terpaksa harus menyaksikan barisan jemuran yang merentang dari Sabang sampai Merauke sambung menyambung seolah tak ada putusnya. Sangat mengganggu pemandangan dan pengendara motor ! Saya pernah menyaksikan seorang bapak pengendara motor, harus menghentikan motornya, gara-gara ada bra yang nyangkut di bagian depan helm nya. Kebayang kan betapa risih dan jengahnya si Bapak yang malang itu, harus berkutat dengan bra entah milik perempuan mana, dan masih harus menggantungnya kembali ke tali jemuran ?

Lahan yang sempit di kota-kota besar, memang membuat para ibu harus berfikir keras mencari akal bagaimana caranya agar cuciannya dapat kering terjemur. Karena tak punya lahan untuk menjemur, ya apa boleh buat, dinding sepanjang gang lah yang menjadi sasaran area penjemuran, atau kalau tidak ya mengambil space gang untuk menaruh rak jemurannya, yang tentu saja dapat mengganggu para pengguna gang. Juga menjadi pemandangan yang sangat biasa, pagar-pagar rumah di sepanjang gang bahkan rumah-rumah yang berlokasi di pinggir jalan besar, dihiasi dengan sederet jemuran yang sangat mengganggu pemandangan, tak peduli rumahnya jelek atau bagus.


Menjemur pakaian, tentu saja adalah hak asasi manusia. Baju basah habis dicuci kalau nggak dijemur,trus gimana dong ya nggak ? masalahnya, pantas atau tidak cara menjemurnya. Etis atau tidak jika baju dalaman yang merupakan benda pribadi, direntang diekspos sedemikian rupa di ruang publik. Kalau dalaman itu masih baru, masih bagus, mungkin agak mendinglah. Tapi ini, kadang-kadang bentuknya sudah nggak keruan, sudah bolong disana sini, dan sudah keriting juga, sampai geli ngeliatnya! Nggak semua orang yang melihat dalaman perempuan itu, bersih dan sehat lho jiwanya ! ada juga orang berpenyakit jiwa yang mendapat kepuasan seksual hanya dengan memandang celana dalam wanita, bukan ? bagaimana, mau celana dalam anda menjadi media pemuas nafsu syahwat laki-laki yang kurang waras gara-gara anda sembarangan dan sembrono menjemurnya ?


Saya hanya bisa menyarankan, jika terpaksa menjemur pakaian di luar rumah, atau lebih parah lagi di ruang publik, maka jemurlah pakaian dalam anda di deretan terdalam dekat dengan dinding, terlindung oleh pakaian di rentang tali jajaran kedua, atau di sela-sela pakaian yang besar, agar tidak menarik perhatian para pengguna jalan. Begitu juga dengan menjemur di pagar rumah, sebaiknya pakaian dalam tidak dipampang bebas di tiang pagar, karena nggak enak dilihat orang. Sementara saran saya buat pemerintah, terus terang tidak ada karena percuma saja. Jangankan soal remeh temeh seumpama jemuran, soal yang besar-besar saja tidak selesai kok ! nambah-nambah masalah saja. Jadi mari kita urus saja jemuran kita sendiri-sendiri, agar tidak malu dilihat orang, dan tidak pula menjadi sasaran kejahatan si panjang tangan alias maling jemuran !

Selamat mencuci dan menjemur dengan tertib !

**********


Salam sayang,

anni - Sukabumi

Tante Tan dikata-katain Cina ...!

Pagi baru saja beranjak siang di Sabtu yang cerah. Aku mendapati diriku berdiri dalam antrian di toko kue Tante Tan. Kue buatan tante Tan memang istimewa. Lezat,lembut, enak dipandang, dan ini yang penting : murah meriah !
Setiap pagi toko ini tak pernah sepi pembeli.Kesiangan sedikit, pasti tak akan kebagian kue-kue yang masih hangat, harum, dan segar itu.


Sedang asyik-asyik mengantri begitu, tiba-tiba kudengar decit sura rem mobil yang berhenti mendadak di trotoar depan toko kue. Dari dalam mobil, turun seorang nyonya yang sekilas kulihat dari penampilannya saja pasti orang kaya. Mewah, glamor, wangi, mobilnya saja termasuk mobil mewah. Semua orang yang ada di toko menengok ke arah nyonya yang kurasa sudah berumur sekitar 50 tahunan itu. Lalu .. woow, tiba-tiba saja dia menyeruak antrian, dan menyerobot maju sampai berdiri di depan etalase. Oh Ow .. another uneducated rich people, aku berpikir begitu.
Ada beberapa pengantri yang menegur dan menyatakan penolakannya, namun aku diam saja memilih bersabar (hitung-hitung melatih kesabaran kalau nanti harus ngantri toilet di Arafah pada saat pergi haji, he he ..). Tapi nyonya mewah itu bergeming ! dia pasang muka tembok, alias cuek bebek. Pokoknya alay deh.

Dan sodara-sodara, mari kita lihat gayanya ! dia memerintah tante Tan dan pelayan lainnya untuk segera membungkus kue-kue pesanannya. Dia pesan kue banyak sekali, setiap macam ada kali 30 biji, entahlah mungkin buat nyuguhin arisan ibu-ibu penting . Dan selalu di setiap pesanannya, tak lupa dia membubuhkan kalimat " Cepetan, Nggak pake lama !! " , jiaaahh si Boss gaya banget ! seolah dunia milik mbah kakungnya !

Menyaksikan adegan itu, para pengantri yang kini berubah posisi menjadi para penonton alias pemirsa, ada yang geleng kepala, ada yang bermimik masam, ada juga yang tertawa ditahan (nah yang ini termasuk saya ).
Pemandangan itu termasuk pemandangan lucu ku kira, karena serasa mendapat tontonan gratis akting nyonya jutek di sinetron-sinetron televisi. Tapi, ketika saya disuguhi adegan berikut ini, saya sudah tidak dapat berdiam diri lagi .

Kejadiannya seperti ini : ketika si nyonya itu terus menerus menyebutkan pesanannya dengan suara keras agak membentak dan harus dilayani secepat kilat, Tante Tan berkata, " iya bu, sabar sebentar yaa .. " . Kukira wajar bukan, Tante Tan ngomong kaya gitu ? karena kalau saya jadi Tante Tan, saya juga pasti bakal berkata seperti itu. Dan reaksinya sungguh di luar dugaan ! Nyonya sombong itu sontak mengacungkan telunjuknya yang runcing berkuku tajam ke hidung Tante Tan, sambil menghardik , " Heh ! dasar CINA kamu ! kamu kan cuma numpang di Indonesia ! negara ini milik orang Indonesia, bukan CINA macam kamu !! "


Astaghfirullah ! benar-benar keterlaluan ! kulihat wajah Tante Tan yang malang itu mendadak pucat pasi, dan bibirnya bergetar tak sanggup berbicara sepatah katapun. Dia cuma bisa berbisik lirih, " iya maaf bu ! "

Dan bukan Puji Nurani yang terkenal jutek (biarpun juteknya dulu waktu masih kecil, hehehh ..) kalau tidak bertindak. Tanpa berpikir panjang, aku langsung maju, dan mendekati nyonya itu,sambil berucap tegas, " Bu ! saya tidak peduli siapa ibu! tapi kelakuan ibu sangat tidak sopan ! seenaknya saja nyerobot antrian, berteriak-teriak, terus menghina lagi ! memangnya saya takut sama ibu ??!! . Sekarang cepat bayar kue itu, dan selesaikan urusan ibu, bukan cuma ibu yang mau beli kue !"

Mendengar hardikanku, si ibu itu terbelalak namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Buru-buru dia membayar pesanannya lalu kabur dari toko itu diiringi teriakan mengejek dari ibu-ibu yang mengantri. Sesaat kemudian toko kue itu ramai oleh gumaman ibu-ibu pengantri tentang kelakuan menyebalkan si nyonya kaya, dan sebagian lagi menghibur Tante Tan yang tertunduk lesu. Kasihan banget Tante Tan, nggak ada hujan nggak ada angin, tau-tau dikata-katain cina ! Padahal beliau sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali ada di Indonesia, tepatnya di Sukabumi. karena sejak jaman nenek moyangnya sudah tinggal di sini, dan dia sudah merasa jadi orang Sunda.Sambil meneteskan air mata dan melayani pesanan pembeli, dia mengatakan bahwa dia tidak pernah merasa sebagai orang keturunan Cina, kalau saja namanya bukan Tan, dan kulitnya tidak berwarna kuning dan matanya tidak sipit. Dia merasa asli orang Sukabumi ! saya percaya saja, karena Tante Tan ini kalau berbicara dalam bahasa Sunda, bahasanya sungguh halus, melebihi teman-temanku yang asli Sunda ! Lagi pula, kalau memang tante Tan beneran Cina, trus  kenapa ? memangnya kita bisa memilih terlahir sebagai keturunan apa ? enggak kan ..

Kejadian ini baru pertama kali ini saya alami, dan cukup membekas di hati saya. Entahlah, apa yang mendorong saya tiba-tiba bertindak seperti itu. Serasa ada ketidak adlilan di depan mata saya, yang saya harus melawannya. Bukan semata-mata karena Tante Tan yang baik hati itu adalah tukang kue langgananku, tapi lebih dari itu, ada peristiwa rasisme yang sangat kubenci, berlangsung di depan mataku, dan kurasa sungguh terlalu jika dibirkan saja. Selama ini memang sering kudengar berita-berita tentang rasialisme, atau perlakuan diskriminatif terhadap golongan tertentu, namun itu sebatas kulihat di TV, membaca di koran, dsb, jadi belum pernah kulihat secara langsung seperti ini. Coba deh, kalau teman-teman yang mengalami kejadian ini, saya berani bertaruh, teman-teman juga pasti bakal marah. Buktinya, semua ibu-ibu yang ada di toko itu, marah sama nyonya rasialis itu.

Saya rasa, bukan salah Tante Tan kalau dia dilahirkan dari keluarga keturunan Cina, dia kan nggak bisa milih ingin dilahirkan di keluarga mana, sebagaimana halnya saya yang tak memilih ketika di lahirkan di keluarga Jawa, anda di keluarga Sunda, Batak, Minang, dari keluarga Muslim, Nasrani, Hindu, dan sebagainya. Allah yang menentukan semua itu bagi kita. Lalu, apa hak kita untuk menghina latar belakang keluarga seseorang, hanya karena dia berbeda dari kita ? Berasal dari keluarga apapun, menurut saya itu bukan persoalan kita. Yang jadi persoalan justru adalah, mengapa di jaman yang serba moderen begini, di era yang serba demokratis dan egaliter begini, masih saja ada orang yang punya alam pikiran rasist, seperti penghuni abad pertengahan saja ? Namun saya pikir, saya tahu jawabannya : pasti karena dia nggak ngerti agama, dan nggak makan sekolahan ! cape dee .. !



Say NO to RACISM !

anni, Sukabumi