Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, February 4, 2013

Karena Begitulah Seharusnya Perempuan (Miskin)



Jangan pernah menyamakan Rainbow Cake atau kue Red Velvet dengan kue Apem atau kue Serabi buatan Emak Kueh kesayanganku. Itu seperti membandingkan mana yang lebih menyenangkan, naik mobil sedan atau naik delman ?  Beda bukan ? Rainbow Cake, Red Velvet, mobil Sedan, itu adalah penghuni dunia moderen. Sementara kue Apem, kue Serabi, Delman, adalah khasanah dunia antik alias jadul. Mereka memiliki keistimewaannya sendiri-sendiri, yang keistimewaannya itu harus diukur dengan parameter yang berbeda- beda pula. Dan khusus bagiku, kue apem,kue Serabi,dan naik Delman, tetap lebih asyik,secara aku kan anggota the Jadulers :)


Aku memang berlangganan kue-kue jajan pasar yang lezat-lezat itu. Kue Lapis, lemper, Agar-agar, Klepon, kue Cincin, onde-onde, Nagasari, Carabikang, semuanya aku suka. Kelezatan makanan-makanan tradisional yang tergolong camilan itu, sungguh tak tergantikan. Segala kue cantik buatan bakery mah lewaat ! kue-kue jadul itu, bukan sekedar enak, tapi juga memiliki nilai nostalgia tersendiri. Tapi yang terpenting adalah, sudah enak, murah meriah pula. Makanya aku tak pernah berniat berhenti berlangganan, dan itu pula sebabnya mengapa bodiku dari hari ke hari semakin bohay! Hahay … ^^


Itu tadi tentang kue jadul yang uenak tenan. Sekarang tentang  Emak Kueh langgananku itu. Benar- benar perempuan perkasa Emak yang satu ini. Kadang malu hati aku dibuatnya. Usia Emak Kueh sudah 75 tahun.Tapi itu ketika kutanya 10 tahun yang lalu. Berarti umur Emak kueh sekarang kurang lebih 85 tahun. Usia yang sangat tua. Tapi jangan pernah membayangkan sosok Emak Kueh dengan perempuan tua ringkih yang membawa tampah berisi aneka jajan pasar, menjajakan jualannya keliling kampung. Itu sama sekali jauh dari gambaran Emak kueh ku ini.


Usia Emak Kueh ( beliau memang ingin dipanggil dengan nama seperti itu ) Boleh saja sangat tua, tapi berbicara soal kekuatan fisik, si Emak juaranya. Bayangkan saja. Dua hari sekali Emak berjalan Kaki pergi pulang dari kampungnya di Cisaat ke kompleks tempat tinggalku di Cibadak Sukabumi. Kedua tempat tersebut berjarak kurang lebih 12 km. Artinya Emak berjalan 24 kilo pergi pulang setiap dua hari sekali. Ini saja sudah membuatku malu hati, karena setiap hari kemanapun pergi, Aku terbiasa naik mobil, atau angkot, atau ojek motor.


Kemudian soal penghasilan. Aku yang bekerja sebagai guru di SMA  swasta yang terbilang elit, memiliki penghasilan yang relatif tinggi padahal cuma bekerja seminggu 5 hari, waktu Ashar sudah di rumah, tiap mid smester libur satu pekan, tiap akhir smester libur 2 atau 3 pekan, bekerja dengan baju bersih dan rapi, di lingkungan yang asri, dengan fasilitas yang lengkap, jadi kalaupun bekerja, nggak terlalu cape juga. Nah si Emak ? Dia jalan Kaki berkilo-kilo meter, sekali jalan cuma dapat 50 ribu bersih. Itu didapatkannya dari menjual 5 macam kue yang dari setiap potong kuenya Emak mendapat keuntungan 500 rupiah. Hanya 50 ribu rupiah, itupun dua hari sekali. Artinya penghasilan Emak cuma 25 ribu sehari, jadi rata-rata penghasilannya perbulan 750 ribu. hmm …




Pernah sekali waktu, aku menanya-nanyai Emak di teras rumahku, ketika aku membeli kue-kuenya. Dan inilah hasil wawancaraku yang sudah aku terjemahkan dalam bahasa Indonesia, karena aslinya aku ngobrol sama Emak dalam bahasa Sunda. .

” Mak, apakah Emak punya keluarga ?


” Punya, Neng ! Suami Emak sudah meninggal, anak Emak ada 3 semuanya laki-laki, cucu Emak ada 8 orang, buyut ada 3 orang “


” Trus, kenapa Emak tetap jualan, kan ada Anak ? Ada Cucu ? Emak kan sudah tua ? “


” Ah Emak mah mau terus jualan kalau masih kuat, nggak mau jadi beban anak dan cucu. Ini sebetulnya Emak juga sudah dilarang jualan. Emak disuruh istirahat di rumah, tapi Emak nggak mau, Neng ! “


” Lho, kenapa nggak mau Mak ? “


” Iya Neng, nggak mau. Karena kalau istirahat di rumah dan nggak kerja, Emak bisa cepat tua dan pikun ! kan malu kalau kelihatan seperti nini-nini ,Neng ! “, begitu kata si Emak sok muda banget.


“Trus kenapa Emak harus jalan kaki ? Cisaat kan jauh Mak ? “


” Ah Cisaat mah dekat atuh, Neng ! Kadang-kadang Emak suka jalan kaki ke Sukaraja ! ” (Gubraaks!  Sukaraja kan hampir ke perbatasan Cianjur ! ).

” Ngapain Emak jalan kaki ke Sukaraja ? “


” Yah biasa Neng, kalau ada yang minta dipijit ‘

” Oohh …”
” Emak kenapa nggak naik angkot ?”

” Ah emak mah lebih senang jalan kaki, biar nggak kena sakit jantung. ! “

” Ohh .. ehmm .. Iya deh Mak “

” Lagian Neng, sayang kan ongkos buat naik angkot, mendingan buat beli tembakau “

” Tembakau ?? buat apa Emak beli tembakau ?! “

” Ya buat ngerokok Neng !. Tembakaunya dimasukan ke dalam lintingan daun Aren “

” Jadi Emak merokok ? Kan nggak baik buat kesehatan, Mak ?! ” Kataku rada ngotot.

” Yah Neng, kalau Emak nggak merokok mah, mungkin dari kemarin Emak sudah mati. Emak merokok biar awet muda dan panjang umur ! Merokok pakai daun kawung (aren) itu bagus Neng, yang jelek mah rokok yang dibeli di warung !  ”


Wadhuh ??  Nah ini ni yang aku nggak suka dari si Emak. Pernyataannya yang terakhir itu sangat kontra produktif dengan upayaku selama ini yang getol mengkampanyekan anti merokok kepada murid-muridku dan anak-anak muda lainnya, mengingat bahaya merokok yang sangat fatal bagi kesehatan. Lha ini, si Emak ? Kok malah membolak-balikkan logika dengan menyatakan merokok itu baik bagi kesehatan, bikin awet muda dan panjang umur !  Wah nggak bener itu si Emak. Pokoknya pernyataan dia yang satu itu nggak akan aku rilis sampai kapanpun, kepada siapapun, aku janji.  Takut dimarahi Boss soalnya.


” Jadi kapan Emak mau istirahat ? “, lanjutku mewawancarai si Emak.


” Nanti kalau Emak sudah mati. Emak mah biar cuman dapat uang sedikit tapi yang penting hati tenang dan bersyukur karena uangnya halal. Emak juga ingin anak cucu Emak mencari rezeki dengan cara halal, terutama cucu Emak yang perempuan. Jangan sampai hanya karena miskin, lantas menjual diri. Eta teh dosa, Neng. ! “


Sampai disini aku hanya bisa termangu. Dan tak berniat melanjutkan pembicaraan ini lagi, karena bagiku semuanya sudah jelas. Emak penjual kue ini bukan sembarang perempuan. Dia adalah seorang manusia yang lurus hati, seorang perempuan dengan segenap kualitas kepribadian yang terpuji.

Emak memang miskin, dan Emak tak pernah menampik pemberian dalam bentuk apapun, tapi Emak tak pernah meminta-minta meski sangat membutuhkan. Emak kueh memang buta huruf, tapi Emak tak buta akhlak. Emak mengerti betul pentingnya menjaga kehormatan diri. Lebih baik miskin tapi mulia, daripada sudah miskin terhina pula.


Emak Kueh memang renta dan miskin, tapi dalam 15 menit percakapanku dengan Emak, aku mendapatkan ilmu kehidupan yang sangat bermanfaat. Betapa manusia itu tidak sama. Bukan soal miskin atau kaya, namun soal mulia atau hina. Betapa tercelanya seorang yang kaya harta namun tak pandai bersyukur. Emak mengajarkan aku, bahwa tak peduli kaya atau miskin, harta yang paling utama bagi seorang manusia adalah kehormatannya, martabatnya. Dan bagi perempuan, kalaupun harus hidup dalam kemiskinan, kehormatan tetap harus dijaga, dipertahankan. Sungguh tidak layak menukar kehormatan perempuan yang merupakan martabat kemanusiaan dengan lembaran uang, berapapun itu.


Emak Kueh memang perkasa, Emak Kueh memang waskita. Aku bangga sama Emak Kueh. Aku suka sama kue-kue Emak Kueh.! Hidup Emak Kueh !

Ayo teman, ayo beli kue ..
Kue Bugis si kue Putu, senyummu manis membuatku rindu  ^_^




Salam sayang,

anni

Friday, February 1, 2013

" Don't You Remember " by : Adele




"Don't You Remember"

 When will I see you again?
You left with no goodbye,
Not a single word was said,
No final kiss to seal any sins,
I had no idea of the state we were in,

I know I have a fickle heart and a bitterness,
And a wandering eye, and heaviness in my head,

But don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more,

When was the last time you thought of me?
Or have you completely erased me from your memory?
I often think about where I went wrong,
The more I do, the less I know,

But I know I have a fickle heart and a bitterness,
And a wandering eye, and a heaviness in my head,

But don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more,

Gave you the space so you could breathe,
I kept my distance so you would be free,
And hoped that you'd find the missing piece,
To bring you back to me,

Why don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more,
[Another version says: "Baby, please remember you used to love me"]

When will I see you again? 


salam sayang,

anni

Di Surga itu, Air Mataku Menitik ( 2 - habis )


Sendu Bersama Induk Penyu

Pantai Pangumbahan di Ujung Genteng Kabupaten Sukabumi, terhitung masih perawan karena letaknya yang sangat terpencil. Infra struktur berupa akses jalan menuju pantai sangat tidak memadai. Badan jalan hanya selebar satu setengah badan mobil, itupun berupa tanah becek berlumpur dengan tebaran batu kali di sana-sini, sementara selebihnya berupa kubangan-kubangan yang dipenuhi air yang meluap dari rawa-rawa di sepanjang jalan.

Dengan kondisi jalan yang seperti itu, sangat jarang kendaraan beroda empat dapat melaluinya, kecuali mobil yang biasa digunakan untuk off road, atau setidaknya motor trail.  Kamipun terpaksa menumpang truk pasir untuk mencapai pantai Pangumbahan tempat konservasi Penyu Hijau.

Aku sempat berbincang dengan Pak Supir Truk tentang keadaan di daerah ini, dan Pak Supir menuturkan bahwa penduduk Ujung Genteng memang tidak mengharapkan Pemda setempat memperbaiki sarana jalan yang dapat mengakses bibir pantai, karena ketersediaan jalan berarti akan masuknya mobil-mobil pengangkut wisatawan ke daerah tersebut. Nah deru mobil inilah yang dikhawatirkan mengganggu populasi Penyu hijau yang berhabitat di pantai Ujung Genteng, karena para Penyu ini tidak akan mau bertelur jika terusik oleh bunyi sehalus apapun, apalagi deru kendaraan.” Di malam tahun kemarinpun, banyak Penyu yang akhirnya urung bertelur lantas mati, karena pengunjung Pantai beramai-ramai menyalakan api unggun dan petasan di jam-jam ketika Penyu harus bertelur “, Pak Supir menjelaskan dengan mimik muka terlihat kesal. Ya gitu deh dodolnya wisatawan yang nggak berwawasan ! Jadi bete dengernya …


Setiba di penginapan pada sore harinya, kami diinstruksikan untuk tidur dengan berpakaian lengkap karena sewaktu-waktu kami akan dibangunkan untuk menyaksikan induk penyu bertelur.
Tanpa dapat memicingkan mata sepejampun, karena banyaknya nyamuk yang terus berdenging di sekitar telinga,  sekitar pukul 23.00 kami dibangunkan untuk segera menuju pantai. Menurut informasi Pemandu yang juga pegawai konservasi, malam itu ada seekor induk penyu hijau berukuran raksasa telah mendarat dan akan bertelur. 

Kami dibariskan per 15 orang. Tak boleh membawa ponsel apalagi senter. Namun ada diantara kami yang diperkenankan membawa kamera utnuk mengabadikan peristiwa langka tersebut. Setelah siap, Pemandu membawa kami berjalan sekira 200 meter menyusuri pantai dalam gelap gulita yang hitam legam. Selayaknya orang buta, kami berjalan tanpa mengetahui arah yang kami tuju. Kami saling berpegangan tangan agar tidak terjatuh, karena kami harus berjalan di atas pasir pantai yang sangat lembut dan labil, sehingga sebentar-sebentar kami harus terperosok, sampai terseok-seok kami dibuatnya.

Dalam keheningan kami membisu, hanya desau angin dan deburan ombak di kejauhan yang mengiringi langkah kami. Beberapa langkah di depan, bayangan sang Pemandu terlihat berjalan cepat dengan sorotan senter bercahaya infra merah di tangannya. Perjalanan yang sebetulnya sangat dekat ini bagiku jadi terasa sangat lama, karena aku tak tahu arah yang dituju dan dalam gelap gulita pula. Aku hanya hanya bisa pasrah berjalan mengikuti Pemandu, sambil tak henti melafadzkan zikir di dalam hatiku. Suasana di tepi pantai di tengah malam itu sangat mencekam. Bulan sabit yang menggantung di langit dengan selimut mega hitam di sana-sini menciptakan suasana malam yang bernuansa misterius.

Tiba-tiba Pemandu berhenti, dan meminta kami berdiri dalam formasi setengah lingkaran. Lalu pemuda Pemandu itu menyorotkan senter infra merahnya ke arah depan kaki kami. Dan teman-teman, hanya berjarak setengah meter dari ujung sepatu kami, inilah induk penyu raksasa  yang kami tunggu itu. Subhanallah, makhluk ini benar-benar cantik. Berdiameter sekira 1 meter, dia terus mengaiskan kedua kaki depannya yang berbentuk dayung ke atas permukaan pasir pantai Ujung Genteng yang halus lembut dan bersih, seraya kaki belakangnya memadatkan pasir yang telah digalinya. Setelah itu diapun mulai bertelur dalam waktu yang lumayan lama. Menurut Pemandu, induk penyu yang sudah berusia kurang lebih 100 tahun itu sanggup bertelur hingga 200 butir sekali bertelur.

Sungguh makhluk yang luar biasa induk penyu ini. Dia hanya akan bertelur jika hatinya senang dan tenang (bayangkan !). Untuk menjaga moodnya ketika bertelur, suasana harus gelap sempurna, dan benar-benar hening. Cahaya atau suara sekecil apapun akan membuatnya membatalkan niatnya bertelur, dan kembali ke laut lalu mati dengan telur-telur di dalam perutnya. Tak hanya itu, keadaan pasir di pantaipun harus betul-betul lembut, bersih dan bersuhu tepat. Sedikit saja dia menjumpai sampah ketika menggali, dia akan menghentikan aktifitasnya alias batal bertelur. Dan begitulah,seolah harus sambil menahan nafas kami menyaksikan induk raksasa ini mengeluarkan telurnya yang bercangkang lembut satu persatu dari dalam perutnya.
Beberapa siswa mulai mengeluarkan kameranya dan mengambil angle yang paling pas untuk mengabadikan peristiwa unik unik dan langka itu. Pemandu mengizinkan, namun dengan syarat pengambilan gambar harus dilakukan dari bagian belakang punggung atau ekor penyu agar tak mengejutkan hewan itu.


Beberapa murid termasuk aku tak tahan ingin menyentuh makhluk langka yang sudah sangat tua ini.  Namun Pemandu tak mengizinkan kami. Akhirnya aku hanya duduk berlutut di atas pasir di sisi sang induk penyu seraya berbisik sangat lirih dekat sekali dengan lubang telinganya, ” Halo ibu penyu, akupun seorang ibu. Aku dapat merasakan sakit yang engkau rasakan saat ini, karena akupun pernah melahirkan anak-anakku. Bertelurlah dengan tenang, wahai makhluk Allah ”. Suaraku tercekat dikerongkongan. Tiba-tiba perasaan haru menyelimuti hatiku. Entahlah, suasana saat itu membuatku sulit untuk tidak merasa sentimental.

Dan demi Allah, sedetik kemudian aku melihat air mata berlinang, mengalir di wajah induk Penyu itu, seakan dia mengerti apa yang baru saja aku bisikkan. Induk Penyu itu menangis ! Ya, dia menangis dengan air mata berlinangan di wajahnya. Tanpa terasa air matakupun menitik menyaksikan pemandangan itu. Rekan guru yang sedari tadi menggandeng lengankupun berurai air mata, beberapa siswa terisak, dan beberapa lagi diam terpaku membisu. Menurut Pemandu, begitulah perilaku induk penyu ketika bertelur : sambil berurai air mata. Entah merasakan  sakit atau berusaha membersihkan matanya dari pasir, atau entah apa, hanya induk Penyu itu dan Allah saja yang tahu alasannya.

Hanya selama 20 menit kami diizinkan menyaksikan ritual yang bernuansa sendu dan mistis itu, karena jika lebih lama lagi induk Penyu akan merasa stress. Akhirnya kami kembali digiring pulang ke penginapan, masih berjalan beriringan dalam gulita menuju penginapan. Benar-benar 20 menit yang berkesan luar biasa. Penyu-penyu itu, adalah satwa negeri kita yang sudah sangat langka dan terancam kepunahan. Predator bagi telur dan tukiknya hanyalah Monyet, Ular, burung Elang, dan Babi hutan. Namun mereka hanya makan sedikit dan seperlunya saja. Justru manusialah predator yang paling ganas dan berbahaya. Tidak sekedar telur dan tukiknya saja yang diburu, bahkan induk penyupun ditangkapi, dibantai, diperjual belikan, dan dimasak menjadi sup yang dihidangkan di restoran ekslusif di negara-negara jiran, dengan harga jutaan perporsinya. Tahu tidak demi alasan apa ? demi meningkatkan kejantanan dan gairah seksual ! Benar- benar jahat dan dungu. Muak aku memikirkannya.

Teman-teman, kunjungilah surga tersembunyi ini sesekali. Bawalah keluarga dan teman-teman. Nikmati keindahan alamnya, ajarilah anak-anak kita untuk mencintai lingkungan dan segala isinya, termasuk Penyu Hijau si satwa cantik ciptaan Tuhan ini. Sungguh, anda sekeluarga akan jatuh cinta dibuatnya.



Salam sayang ,
Anni

Di Surga itu, Air Mataku Menitik ( 1 )


Inikah taman bunga seperti yang sering dilukiskan dalam “ the Prophet “ dan “ the Broken Wings “ karya Kahlil Gibran ? atau surga Firdaus seperti yang tergambar dalam kitab suci yang aku baca ? Jika bukan, mengapa semua keindahan itu berkumpul disini ?

Langit biru jernih berhias awan berarak seputih kapas.  Sawah hijau membentang hingga ke kaki langit.  Lembah, jurang, sungai berliku, hutan, rawa, pantai, laut. Hanya keindahan dan keindahan yang aku lihat di setiap jengkal tanah ini. Tanah Ujung Genteng, di ujung pantai Selatan Sukabumi, yang konon berhampiran dengan perbatasan pulau Christmas, wilayah jiran.

Seolah tak cukup memanjakan mata dengan sejuta kemolekan, Ujung Gentengpun seakan merelakan dirinya untuk dicecap, dihirup, dinikmati oleh para pengunjung yang harus bersusah payah datang ke surga nan terpencil ini. Pohon-pohon rambutan liar berjajar di sepanjang jalan menuju pantai. Jika merasa lapar, haus, atau sekedar tergoda, hentikan dulu kendaraan, lalu hampiri dan petiklah buah-buahan itu, lalu rasakan manisnya yang luar biasa. Sambil menikmati buah rambutan yang entah milik siapa, karena tumbuh di sembarang tempat di pinggir hutan, nikmati dan amati juga suasana hening di sekeliling.

Inilah wajah alam yang sungguh murni. Desau angin diantara dedaunan kelapa dan cemara ditingkah deburan ombak di kejauhan. Nyanyian burung dan serangga yang bersahutan, semilir angin membawa aroma wangi bunga ilalang. Kembang liar merekah merona di sana-sini. Bunga Morning Glory berwarna Lila cerah, dahannya gemulai merambati pematang-pematang sawah,merayapi reruntuhan dinding bata merah entah bekas bangunan apa, merambati tiang-tiang listrik yang tegak di keheningan. 

Lalu Bunga Matahari liar. Ah warna kuningnya mencolok sekali. Sungguh kontras dengan hijau belukar perdu di latar belakangnya.  Lalu rumpun bunga Tapak Dara berwana putih. Begitu diam, begitu anggun dalam kecantikannya. Masih juga kulihat gerumbul kembang Pacar Air yang malu-malu  menampakkan wajahnya di balik kerimbunan belukar tumbuhan berduri. Warna-warninya semarak memikat hati. Merah, Pink, Oranye, Ungu. Ah, mengapa bunga secantik itu harus disebut kembang liar ? tumbuhan pengganggu ? Bukankah mereka cantik dan indah ? Masih ada kembang Kana yang berjajar tegak, seolah memagari padang rumput dengan warna merah dan oranye nya. Lalu bunga Marygold berwarna Kuning lembut, Stars of Bethlehem yang seputuih salju, Putri Malu merah jambu, Alamanda liar berwarna Kuning dan Pink.Aku ragu,apakah aku sedang berada di bumi ? ataukah tersesat di taman Eden ?

Rumahku di Sukabumi, itupun sudah terhitung pelosok. Namun untuk mencapai Ujung Genteng, aku dan rombongan murid-muridku harus menempuh 6 jam perjalanan. Dengan Bus dan dilanjutkan menumpang Truk pasir selama 30 menit karena tak ada kendaraan yang sanggup mencapai bibir pantai Ujung Genteng, kecuali truk pasir yang gagah perkasa ini. Tujuan kami sebetulnya satu : menyaksikan Penyu Hijau bertelur. Namun keindahan alam Ujung Genteng sangat memesona, sungguh termasuk orang yang tak pandai bersyukur jika kami menyia-nyiakan begitu saja atraksi keindahan alam yang luar biasa ini.

Dan inilah tempat tujuan kami,Pantai Pangumbahan di Ujung Genteng. Pantai ini sebagaimana pantai-pantai lain di sepanjang pesisir Selatan pulau Jawa, sungguh tak pernah ramah pada manusia. Deburan ombaknya begitu dahsyat menggetarkan hati. Inilah deburan ombak Samudera Indonesia yang dipanggil orang dengan Laut Kidul yang terkenal angker itu. Siapa orang di Indonesia ini yang tak kenal dengan legenda Nyai Roro Kidul sang penguasa laut Selatan yang namanya sangat masyhur dan ditakuti itu ? Di pantai inilah legenda itu terus hidup dan sangat dipercaya. Sementara kami, hanya percaya pada kekuasaan Allah semata. Karena Dia lah yang telah menciptakan pantai nan indah ini beserta segala penghuninya, termasuk segala Nyai Roro Kidul dan entah Nyai siapapun itu.

Disana-sini di tepi pantai tampak rambu bertuliskan larangan berenang. Ombak di pantai ini memang berbahaya. Sudah banyak wisatawan yang nekad berenang harus meregang nyawa menjadi korban karena tergulung ombak atau terseret arus yang deras. Namun demikian aku melihat para peselancar berkulit putih berambut pirang, menari-nari di atas papan surfing di puncak gelombang. Aku tak mengerti. Apakah larangan ini hanya berlaku bagi turis lokal ? demi apa sehingga pengunjung bermata biru ini dibiarkan merambah sampai ke tengah laut hingga membahayakan keselamatan dirinya ? ataukah karena turis manca negara dianggap sangat piawai berenang dan memiliki nyawa cadangan ? Entahlah, dan sudahlah …

Di sebuah teluk yang indah dan tenang kami berhenti. Pemandangan disini luar biasa indahnya. Ketika air laut sedang surut, kita dapat masuk ke dalam air yang hanya setengah betis tingginya dan berjalan ke arah laut lepas sampai puluhan meter jauhnya, tanpa khawatir terseret gelombang, karena teluk ini dipagari oleh deretan bebatuan karang yang berfungsi sebagai pemecah ombak.
Airnya sangat jernih sampai segala yang ada di dasarnya dapat dilihat dengan jelas dari permukaan. Terumbu karang, ikan-ikan kecil berwarna-warni , siput, kerang, koral, Spongebob, Patrick, rasanya semua penghuni Bikini Bottom ada di sini. Tapi harap berhati-hati, jangan lupa untuk selalu memakai sandal atau sepatu karet setiap kita masuk ke dalam air di teluk ini, karena banyak ikan Bulu Babi yang berduri tajam, yang kalau terinjak dapat menyebabkan kulit kaki menjadi perih gatal lalu membengkak. 

Ah menyesalnya aku, karena kamera kesayanganku terlupa kubawa. Saking ribetnya dengan persiapan keberangkatan, sekaligus ribet mengawasi persiapan dua putriku yang turut serta, juga ribet dengan sejibun murid-muridku yang menjadi anggota rombongan. Padahal setiap senti pemandangan di sana sangat indah, sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa diabadikan barang sejepretpun. Beruntung aku membawa Smartphoneku yang dilengkapi dengan fitur kamera dengan resolusi yang lumayan, juga kedua putriku membawa kamera saku yang juga berkualitas lumayan :D

Teman-teman, keindahan yang kugambarkan itu belum seberapa, karena keindahan yang lebih menawan dan eksotis telah menunggu kami malam nanti. Kami akan menyaksikan ritual bertelurnya penyu-penyu hijau. Makhluk langka penghuni Laut Kidul yang dapat mencapai usia hingga 200 tahun !
Kami sudah tak sabar menanti saat itu tiba. Semoga malam ini cuaca cerah, sehingga prosesi itu dapat kami saksikan dengan baik.
Sampai jumpa di Ujung Genteng ya teman-teman,


Salam sayang ,
anni