Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, January 4, 2010

New Year is just an ordinary years ...


Malam pergantian tahun sudah beberapa hari berlalu. Tak ada yang istimewa yg terjadi di daerah tempat aku tinggal.
Hanya sekelumit kisah tertinggal, yang ingin kuceritakan padamu, wahai sahabatku ...

Aku tinggal di sebuah kota kecamatan di pedalaman Jawa Barat di pelosok Sukabumi. Dikota kecil ini, malam pergantian tahun yang seharusnya meriah, tak ada bedanya dengan malam - malam sebelumnya : sunyi, sepi, lamban, lesu,dan beku..

Berbeda dengan yang terjadi di luar sana di seluruh bagian bumi ini : semua orang terlihat lebih sering menengok ke arah jam, dibanding hari - hari sebelumnya. Menghitung setiap detik, setiap pergeseran jarum jam, dengan harap-harap cemas. Kian malam, kian kuat debaran di dalam dada mereka. Galibnya menanti sebuah moment yang sangat spesial, berjuta orang ini mendawamkan satu hal yang sama : ingin segera datang hari, dimana kepahitan di tahun lalu tak kan terulang , dan hanya kebaikan dan kebahagiaan yang akan menjelang.

Malam itu, aku menyaksikan dari layar kaca, betapa penduduk di seluruh negeri tengah bergairah, melebur dalam satu aktifitas yang berbeda dengan kesibukan hari2 biasa. Aktifitas yang penuh dengan euphoria pergantian tahun, yang marak dengan aroma selebrasi, sarat dengan warna hiburan, hingar bingar dentam musik dari berbagai jenis aliran, kilatan cahaya dari lighting panggung dan kembang api yang menyilaukan, aksi pentas para artis yang bekerja keras mempertontonkan performa terbaiknya. Semua, dimana-mana, nyaris sama dan sebangun, dalam syahwat dan gairah akan malam terakhir dan fajar pertama yang sangat dinanti. Hanya nasib dan kelas saja yang membedakan mereka.

Golongan kaya melewati malam istimewa itu di hotel berbintang, resto, kafe, bungalow, Villa, kapal pesiar nan mewah, megah dan harum. Semua makanan dan minuman terhidang melimpah ruah. Segala hiburan, disajikan dengan cita rasa kelas atas . Semua acara di tempat yang eksklusif itu terkemas dalam bahasa asing yang sulit diucapkan oleh lidah orang biasa. Semua gaun, semua aksesoris, semua wewangian, menyandang label perancang kelas dunia dari Milan hinggga Tokyo. Ah, mereka yang di negeri ini jumlahnya hanya selapis tipis kulit ari , benar - benar bukan orang biasa, mereka berkuasa, tinggi, tak terjangkau ...
Golongan menengah mendatangi pusat - pusat keramaian setelah berjibaku setengah marah di tengah pusaran kemacetan arus lalu lintas yang tak berujung dan tak berpangkal, untuk mendatangi pantai - pantai festival yang menggelar musik pop, rock dan musik pop Melayu yang mendayu-dayu tak berjati diri . Atau pergi ke resto Amerika yang menyajikan junkfood nan bergengsi. Bisa juga pergi ke diskotik atau pusat karaoke , bersama rekan - rekan sekantor, melepas kepenatan akibat rutinitas yg tak ada habisnya. Dan ini yang sedang menjadi fenomena di kalangan golongan menengah : kumpul- kumpul bersama rekan jadul dalam satu acara reuni kangen-kangenan. Melepas kerinduan, berbagi cerita, sesekali pamer kesuksesan, kepada kawan sekelas yang sudah puluhan tahun tak bersua. Siapa tahu juga, bisa mendapat selirik tatap dan sesungging senyum kagum sarat makna dari sang pujaan hati di masa lalu. Oh Tuhan, mengapa cinta lama selalu menerbitkan rindu mencekam yang sulit ditepiskan ?? Begitu kira-kira lantun dendang asmara di dada orang - orang yang tengah bersuka ria ini.

Golongan tak berpunya pergi menembus dinginnya udara malam yang basah dengan menumpang angkot atau sekedar berjalan kaki beramai - ramai, menonton orang yang sedang merayakan malam pergantian tahun. Golongan tak berpunya adalah mereka yang berdiri di lingkaran terluar dan terpinggir, dari gegap gempitanya perayaan tahun baru di jagad ini. Namun mereka adalah mayoritas. Jumlah mereka adalah yang terbanyak, puluhan kali lipat lebih banyak dari jumlah lapis kedua, manatah lagi lapis pertama. Sudah cukup bagi mereka, merayakan tahun baru dengan beberapa puluh ribu di dompet, dan terompet di tangan yang akan mereka tiup keras - keras - sebagai pengganti teriakan keputusasaan akibat himpitan ekonomi yang kian memiskinkan. Camilan mereka pun jauh dari kemewahan : semangkuk bakso, atau aneka gorengan dan kue serabi, atau sate dan soto bang Kumis yang mangkal di tikungan jalan. Toh sama saja lezatnya. Murah pula. Yang penting hepi.

Akhirnya hanya waktu yang bisa mempersatukan kelas - kelas masyarakat yang bak minyak dengan air ini. Waktu yang ditunggu telah tiba. Hitungan mundur telah dimulai ... 5 .. 4 ..3 .. 2 ..1 .... Dalam sekejap langit kota seperti terbelah oleh sorak sorai dan teriakan manusia yang menyesaki tempat- tempat hiburan dan mereka yang tumpah di jalanan. Petasan diledakkan, terompet ditiup sekuat tenaga, kembang api diluncurkan dari tempat- tempat yang tinggi. Semburatnya mewarnai langit dengan kemilau cahaya warna - warni yang memukau. Terus dan terus menyala , seolah tak mau berhenti. Teriakan Happy New Year !! terdengar di mana-mana,
dari kapal pesiar hingga kedai - kedai jagung bakar. Lagu wajib tahun baru " Auld Lang Syne " yang konon sebagian syairnya diambil dari folklore bangsa Irlandia, dikumandangkan oleh kalangan yang lebih educated.
"Should auld aquitance be forget, and never brought to mine ..." mengalun syahdu, merambat pelan ke langit malam .
Di depan layar kaca, aku menyaksikan sebuah fenomena yang sangat janggal : pecahnya klimaks sebuah spirit yang bernama kesadaran manusia akan dimensi waktu. Klimaks ini membuat jutaan manusia terhanyut dalam sebuah ekstasi massal yang sungguh melenakan. Mereka melebur, berfusi, meluluhkan jiwa dan raga tanpa batas, dalam jabat tangan, dekapan, dan ciuman hangat, tanpa harus dilakukan dengan kekasih atau pasangan sah. Semua orang dalam waktu yang sama, merasa egaliter, merasa equal ...
Dari layar kaca di rumahku yang sunyi, kunikmati setiap geliat nafas pergantian tahun itu dengan berbagai perasaan berbaur di hatiku. Perasaan senang, bahagia, bersyukur, karena aku telah berhasil melewati tahun lama dengan sehat dan selamat. Ada pula segumpal harapan memenuhi dadaku. Harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Namun di balik itu, hatikupun diliputi perasaan sedih, perasaan terasing yang menyesakkan dada. Malam itu ku ingin menangis keras-keras saja rasanya. Ada semacam perasaan kosong yang tiba-tiba menerpa jiwaku. Perasaan kosong yang aneh, seperti perasaan ditinggalkan, dilupakan, diabaikan, yang sungguh menyakitkanku. Entah bagaimana aku menggambarkannya. Berjuta pertanyaan berkecamuk di hatiku. Pertanyaan yang ingin kulontarkan kepada kerumunan orang yang tengah berekstasi massal di layar kaca itu. Pertanyaan yang mengalir dari hatiku yang tiba-tiba terluka oleh perasaan tidak rela, manakala kusadari, betapa Kekasihku, Kekasih umat manusia, seolah dilupakan, dinihilkan, ditiadakan, dan tidak dilibatkan oleh jutaan manusia itu, dalam waktu yang bersamaan. Padahal Sang Kekasih adalah Pencipta segala ekstasi di alam semesta ini.

Ingin kuteriakkan pertanyaan kepada orang-orang itu ...
" Masihkah engkau mengingat Tuhanmu, Allah yang telah membuatmu selamat melewati tahun yang lama ?? "
" Adakah sedikit ruang kau sisakan di hatimu, untuk menyebut nama Nya yang sangat mengasihimu ?? "
" Tidak takutkan engkau akan murka Allah, atas semua kesia - siaan dan kemubaziran ini ?? "
Namun semua pertanyaan itu hanya berhenti bergaung di relung kalbuku, menyisakan perasaan hampa yang tak terperi.

Seolah tanpa sadar, kulangkahkan kakiku ke kamar mandi. Aku berwudhu, dan kudirikan sholat sunnah.
Belum lagi benar kulantunkan ayat pertama doa iftitah, air mata sudah membasahi pipiku. Kucoba menahannya, namun air mataku kian membasahi dada dan sajadahku. Lalu tanpa dapat kubendung lagi, tangisanku pun pecah di dalam hatiku. Air mata yang mengalir bersama tangisanku ini, sungguh memerihkan jiwaku.

Tangisanku adalah tangisan seorang hamba yang mengiba ampunan atas segala dosa yang telah diperbuat. Tangisanku adalah tangisan seorang hamba yang berjanji tidak akan meninggalkan Nya dalam setiap waktu dan dalam setiap situasi. Tangisanku adalah tangisan ketakutan esok akan mati tanpa membawa amal kebajikan sedikitpun. Jiwa dan ragaku melarut dalam tangisan panjang dalam sujud di atas sajadahku. Bibirku tak sanggup lagi memanjatkan doa taubatan nasuha. Jadi kubiarkan hati dan sukmaku melantunkan doa dalam bahasa sunyi, yang hanya dapat dimengerti oleh Sang Pencipta kesunyian.

Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah, Kau lipur hatiku dengan mengalirkan perasaan hangat ke dalam sukmaku. Perasaan hangat akan kehadiran Mu di sisiku, menemaniku dalam kesunyian, serasa Engkau ada dekat sekali, lebih dekat dari urat vena ku. Perasaan hangat serasa Engkau tersenyum mendengar doaku. Perasaan hangat yang sungguh membahagiakanku.

Entah berapa lama sudah aku jatuh tertidur, berbaring diatas sajadah. Kumandang takbir menyambut datangnya gerhana bulan cincin, yang sayup terdengar dari masjid di sebelah rumahku, membangunkanku. Perlahan aku duduk. Kurapikan sajadahku, kuhapus air mataku. Kuangkat tanganku dan berdoa :
" Wahai Allah, kini aku tak takut lagi. Meski berjuta orang mengabaikan Mu, kemuliaan Mu tak sedikitpun berkurang. Meski semua manusia melupakan Mu, kasih sayang Mu tak jua menghilang. Aku hanya takut Engkau akan berpaling dariku karena dosa-dosaku. Oleh karena itu, bimbinglah aku menuju keridhoan Mu, Yaa Sang Maha Pemberi Petunjuk, aamiin .."
Lalu perasaan lega dan tenteram perlahan namun pasti menyelusupi relung kalbuku. Menghilangkan segala gundah dan cemas yang seharian ini menyelimutiku. Kudengar ketukan perlahan di pintu depan. Jam 02.00 wib, 1 Januari 2010. Itu dia, suamiku sudah pulang dari Masjid, seusai menjadi imam sholat gerhana. Kubukakan pintu dan kusunggingkan senyum untuknya. Suamiku melangkah ke dalam, dan tanpa sepatah katapun, kami tenggelam dalam ekstasi pelukan yang panjang. Pelukan penuh kasih yang bermuara pada cinta kami hanya kepada Nya, Ar Rahman, Ar Rahiim ...

Salam sayang,
anni

" Demi waktu, sesungguhnya manusia ada dalam kerugian, kecuali mereka yang beramal sholeh, dan saling menasihati dan kebenaran dan kesabaran "
( QS Al Ashr : 1- 3 )