Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Tuesday, April 27, 2010

ALLAH YANG MELULUSKAN KAMI ...


Hanif, sebut saja namanya seperti itu. Tidak seperti kebanyakan anak-anak dari golongan kaya yang cenderung individualistik, fashionable dan terkadang egois, remaja berusia belum genap 17 tahun ini sangat bersahaja. Bersahaja dalam penampilan, bersahaja dalam sikap, bersahaja dalam bertutur kata. Hanif memang anak yang sangat bersahaja, sangat sederhana. Padahal ayahnya seorang pengusaha kaya raya dan ibunya berprofesi sebagai pengajar di perguruan tinggi ternama di Bandung.

Aku mengajar Hanif sejak dia duduk di kelas X hingga kelas XII, bahkan pada saat dia duduk di kelas XI aku sempat menjadi walikelasnya. Wajah anak ini tampan sekali. Warna kulitnya cerah bersih, kalau tertawa, pipinya bersemu merah. Matanya bulat cemerlang, senyumnya sungguh menawan dihiasi sederet gigi putih yang rapi dan bersih. Rambutnya selalu dicukur nyaris botak, perawakannya sedang namun tegap. Kalau berlari kencang sekali, cocok untuk anak yang punya hobi bermain futsal. Senang sekali melihat Hanif, dia anak yang sehat dan ceria.

Sepintas tidak ada yang salah dengan anak ini. Dia disukai oleh teman-temannya, dan guru-gurupun sayang kepadanya. Namun dibalik itu, Hanif memiliki kekurangan yang cukup fatal sebagai seorang pelajar : daya tangkapnya terhadap pelajaran rendah sekali.
Dibanding teman-teman sekelasnya, Hanif membutuhkan waktu 3 kali lebih lama untuk mencerna pelajaran yang diterangkan guru, dan berkali lipat lebih lama lagi untuk mata pelajaran eksak.
Setiap kali guru mengadakan ulangan, nama Hanif selalu tertera dalam daftar anak-anak yang harus menjalani remedial test. Dan ini terjadi di setiap mata pelajaran. Hanya dalam pelajaran olah raga saja mungkin Hanif lolos dari remedial.

Berbeda dari teman-teman sekelasnya – dan ini yang membuatku salut padanya – yang jika menghadapi situasi seperti itu mungkin akan ngambek, putus asa atau kecewa, Hanif tetap sabar dan tetap rajin masuk ke kelas remedial yang bagi sebagian anak sangat membosankan itu. Lucunya ( atau tragisnya ), seringkali Hanif harus mengikuti remedial sampai berkali – kali, karena dia tetap tidak lulus meski telah mengikuti berkali-kali remedial teaching dan remedial test.
Kalau aku tanya, apakah dia tidak bosan ? maka jawabannya selalu : Kalau belum bisa kan harus terus belajar, Bu !
subhanallah Hanif ...

Jika hari pembagian rapor tiba, Hanif selalu menerima rapornya dengan tertawa, karena angka – angka di rapornya semuanya tuntas. Ya tuntas, dan hampir seluruh nilai mata pelajarannya sama persis dengan nilai passing grade yang disyaratkan oleh masing-masing mata pelajaran. Dari mata pelajaran A sampai mata pelajaran Z, nilainya sama : 75 !
Itu bisa berarti dua hal : dia memang lulus dengan nilai pas-pasan di ulangan kesempatan pertama, atau dia lulus setelah menjalani berkali – kali remedial. Dengan nilai seperti itu dia dinyatakan lulus di setiap semester. Wah, dia senang sekali dengan hasil yang diperolehnya.

Tak pernah sekalipun aku mendengar keluh kesahnya. Betapapun sulitnya pelajaran yang dia hadapi, dia terus dan terus belajar, padahal tak sedikitpun materi yang diterangkan guru di depan kelas menempel di otaknya. Kadang dia minta bantuan teman- temannya untuk menerangkan suatu materi tertentu. Susah payah temannya yang paling pintar di kelas menerangkan pada Hanif, namun tak sedikitpun Hanif mengerti. Dia hanya tersenyum, dan mengucapkan terimakasih saja pada temannya yang baik hati itu. Jika temannya itu bertanya, dah ngerti belum ?? selalu dijawab : belum, tapi nanti pasti saya mengerti. Sampai putus asa teman-temannya mengajari Hanif, namun usaha mereka seperti menuang air di daun talas, tak berbekas sama sekali ...

Hingga pada suatu saat aku berkesempatan memanggilnya dan mengajaknya bicara dari hati ke hati, karena aku sangat prihatin dengan perolehan nilai-nilai nya di semester 3. Aku bertanya padanya, mengapa kamu begitu ngotot belajar eksak, pelajaran yang sulit dicerna ? sebetulnya apa harapanmu ? kamu ingin jadi apa ?
Dan inilah jawabannya : Saya ingin jadi dokter, bu !
( Ya Allah … Hanif ! ah tak tega jika aku harus memupus begitu saja cita-citanya yang mulia, dengan kata – kata : Mana mungkin kamu bisa kuliah di fakultas kedokteran dengan kemampuan berfikirmu yang seperti itu ?? ). Maka mendengar jawabannya, aku hanya bisa terdiam, tersenyum, dan kemudian berkata, “ Kalau begitu Hanif, kamu harus belajar lebih keras lagi ! “

Sekolah kami adalah Boarding School. Para siswa tinggal di asrama dengan bimbingan dan pengawasan penuh dari para guru dan dengan disiplin yang tinggi. Di sini tugas anak-anak hanya belajar. Para siswa yang mayoritas datang dari keluarga menengah ke atas, dididik untuk bisa bersikap mandiri, dan bisa mengurus dirinya sendiri. Di sini mereka belajar mengatur waktu, mengurus pakaiannya termasuk mencuci baju meski dengan mesin cuci, membereskan kamarnya, bertanggungjawab terhadap barang-barang milik pribadi, dan ini yang penting : menyantap setiap menu yang disediakan tanpa banyak cingcong ( tak heran dalam waktu beberapa bulan saja anak-anak itu bertumbuh dengan pesat, tinggi – tinggi, besar dan sehat .. ).
Di sekolah kami, semua jadwal diatur dengan teliti dan dievaluasi setiap hari, terutama jadwal belajar dan jadwal ubudiyah ( ibadah ). Untuk semua urusan ini, Hanif tak banyak menghadapi masalah yang berarti. Daya adaptasinya relatif cepat.

Oh ya, sudah kah aku menceritakan kepadamu tentang ketaatan Hanif dalam beribadah ? tentang kekhusyukannya dalam berdoa ? kalau belum baiklah aku akan ceritakan kepadamu.
Hanif ini … tak pernah sekalipun terlambat masuk ke Masjid. Dia kerap mengumandangkan adzan, meski suaranya tak terlampau merdu. Sholat selalu berdiri di shaf terdepan. Sholat sunnah tak pernah tertinggal. Sehabis sholat, zikir dan doanya sangat panjang dan khusyu, masih juga disambung dengan membaca Al Quran berlembar – lembar. Sebelum fajar tiba, dia dirikan sholat Tahajud. Shaum sunnah tak pernah terlewat kecuali jika kebetulan jatuh sakit. Hanif ini betul – betul anak yang rajin dan sholeh. Mau saja aku punya anak 12 orang jika akhlaknya seperti itu semua ...

Mulanya Hanif tak serajin itu dalam beribadah. Ibadahnya biasa – biasa saja seperti teman – temannya yang lain. Lalu pada suatu ketika salah seorang rekanku guru fisika menasihatinya, ketika Hanif merasa kebingungan karena tak juga lulus pelajaran ini padahal sudah 4 kali mengikuti remedial. Rekanku itu menasehati Hanif begini, “ Nif, kalau kamu nggak ngerti – ngerti pelajaran fisika, minta saja sama Allah agar kamu bisa dikasih ngerti pelajaran fisika. Kan yang punya ilmu fisika itu Allah. Lalu kamu harus rajin beribadah, agar Allah menolong kamu di setiap pelajaran “.
Hanif yang lembut hati itu menuruti nasihat gurunya. Semenjak itu Hanif sangat rajin beribadah dan belajar tak kenal lelah.

Lalu hari yang dinantipun tibalah ....
UN yang membuat gentar hati siswa yang paling pandai sekali itu pun datang tanpa bisa dielakkan lagi. Bagi kami para guru, tak ada lagi waktu untuk mencaci kebijakan UN. Like or Dislike, UN harus dihadapi. Dan kami memilih menghadapinya dengan kerja keras dan jujur. Tak terbayangkan kerja keras yang dilakukan Hanif sejak jauh – jauh hari sebelum tibanya UN. Berbulan – bulan dia menekuni buku – buku latihan soal, tak seharipun absen mengikuti pelajaran tambahan. Sampai larut malam, baru dia jatuh tertidur karena kelelahan. Namun begitu, tetap saja esok subuhnya aku mendengar kumandang adzannya dari menara masjid. Sempat khawatir juga aku pada kesehatannya.

Ibadahnya semakin rajin dan doanya semakin khusyu dia panjatkan seusai sholat. Tak jarang aku melihatnya berurai air mata dalam doanya, dan terisak – isak dalam sujudnya. Sudah dapat kubayangkan, tentu Hanif meminta pertolongan Allah agar diberi kemudahan dalam menjawab soal UN nanti …

Ketika UN tiba, kami para guru sangat cemas memikirkan nasib Hanif. Kami sangat mengerti, jika dia tidak lulus UN, maka pemerintah tak akan meluluskan dia sebagai siswa SMA, tak peduli betapa solehnya dia, betapa baiknya budi pekertinya, betapa tingginya hafalan surat-suratnya, atau setidaknya betapa piawainya dia dalam permainan futsal. Bukankah kelulusan dari pemerintah itu hanya diukur berdasarkan kemampuan cognitif siswa saja ?
Menurut rekan – rekan guru yang kebetulan tidak mengawas UN di sekolah lain, setiap habis satu pelajaran diujikan, wajah Hanif selalu muram. Setiap kali ditanya bisa atau tidak, dia selalu menjawab dengan pesimis, atau tidak yakin.
Mendengar jawaban seperti itu, para guru hanya bisa menghela nafas panjang dan mengusap dada, memohon kemurah hati Allah agar menolong anak yang sudah membanting tulang ini.

Kecemasan kami bertambah, ketika selesai ujian matematika, tanpa bisa ditahan lagi, dia menghambur lari keluar kelas dan menangis tersedu sedan di pelukan Pak Zul, guru matematikanya. “ Maafin saya kalau nggak lulus ya Pak, saya tadi cuma bisa setengahnya, itu juga nggak yakin … “, begitu dia mengadu pada gurunya. Pak Zul temanku itu, hanya bisa menepuk – nepuk bahu Hanif dan menghiburnya agar tetap tawakal kepada Allah. Kesedihan sangat tampak di wajah Pak Zul. Apa mau dikata, Hanif memang siswa terlemah di kelas Matematika. Hingga UN berlalu, kami para guru dan Hanif selalu diliputi perasaan was-was …..

Senin 26 April 2010 pukul 13.00 bada dhuhur di Masjid Al Bayan. Ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi Hanif dan bagi kami semua.
Tengah hari itu kami melakukan sholat Dhuhur berjamaah dan setelah itu pengumuman hasil UN akan dibacakan Kepala Sekolah. Sejak tadi kulihat Hanif berurai air mata saja, rupanya dia sudah merasa hopeless, sudah pasrah jika harus menerima nasib tidak lulus. Kawan – kawannya dengan setia menemani dan menghiburnya. Namun demikian wajah kawan – kawannya itu, tak berbeda jauh dengan Hanif, cemas dan takut. Mencemaskan Hanif dan mencemaskan nasib mereka sendiri.
Ketika pengumuman dibacakan, Hanif sudah tak sanggup lagi mengangkat wajahnya. Dia hanya bisa duduk lunglai di atas sajadahnya, dengan wajah pucat pasi.
Dan ketika Kepala Sekolah sampai pada kalimat “ Alhamdulillah siswa Al Bayan lulus 100 persen ! Takbir ... !!
Serentak takbirpun keras menggema memenuhi masjid, membelah udara siang dan menggetarkan relung – relung hati kami yang terdalam .....

Subhanallah ... Inilah janji Allah yang nyata, janji yang tak pernah meleset sedikitpun, janji Nya yang benar, bahwa Dia akan menolong hamba Nya yang bersungguh –sungguh dalam berusaha, beristiqomah, taat pada perintah Nya, dan berserah diri ...
Sujud syukur kami hamba Mu yang lemah tak berdaya ini hanya kepada Mu ya Allah nan Maha pengasih, Maha penyayang. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, Ya Rahman Yaa Rahiim. Tanpa pertolongan Mu, tak mungkin kami merasakan kebahagiaan sebesar ini. Kebahagiaan yang kami raih dengan jerih payah dan urai air mata. Kebahagian yang kami raih dengan segenap kejujuran yang coba kami genggam dengan erat ... terimakasih Ya Rabb ....

Oh lihatlah itu ! Hanif dikerubuti teman – temannya ! mereka saling berpelukan, berjabat tangan sambil tertawa dan berurai air mata ....
Hanif lulus ! Hanif lulus ... !!
Nilai Matematikanya 5,00 nilai Fisika 5,00 dan nilai pelajaran lain antara 6 dan 7 .... Subhanallah ...
Menyaksikan itu, aku hanya bisa bersyukur sambil tertawa geli,namun mataku sudah sembab oleh linang air mata yang sudah turun sejak kemarin malam.
Alhamdulillah ... sungguh indah melihat murid – muridku lulus dengan jujur. Insyaallah mereka melalui UN dengan bersih tanpa mencontek. Sejak masuk ke sekolah ini, mereka sudah mengharamkan perilaku mencontek, karena mereka sangat takut pada Sang Maha Melihat dan Maha Mengetahui ....

Selamat Hanif !! selamat anak - anak !!
Selamat juga kepada ratusan ribu anak - anak yang lulus dengan jujur ... !!

Salam sayang,
anni, Sukabumi

( Empatiku terdalam aku persembahkan untuk ribuan anak-anak jujur yang terpaksa tidak lulus karena kesalahan penyelenggaraan UN : soal ujian yang tertukar, jenis kertas Lembar Jawaban Komputer yang salah hingga tidak dapat di scan, hingga pensil 2B palsu ... tabahkan hatimu ! Allah tahu yang terbaik bagimu ... )