Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Tuesday, June 7, 2011

PAMAN TAK LAGI TINGGAL DI DESA

" Kemarin Paman datang. Pamanku dari desa. Dibawakannya rambutan pisang dan sayur mayur segala rupa. Bercerita Paman tentang ternaknya, berkembang biak semua... ". Itulah sebait lagu "Paman Datang" ciptaan Pak AT Mahmud, sebuah lagu humanis yang masih kuingat hingga kini. Lagu yang diajarkan ibuku dulu sekali ketika aku masih kecil. Lagu yang bercerita tentang kegembiraan karena datangnya sanak keluarga dari desa, seorang petani yang sangat rajin dan sayang pada keponakannya di kota.

Kini aku bisa saja mengajarkan lagu itu kepada anak-anakku, namun aku harus siap menjawab segala pertanyaan anakku, karena isi lagu itu tak sesuai dengan fakta dan realita yang mereka lihat.Paman tak lagi tinggal di desa. Jika datang berkunjung, bukan buah-buahan atau hasil kebun yang dibawa, bukan ternak yang berkembang biak yang diceritakannya, namun beberapa keping CD game, beberapa komik Jepang, dan kisah tentang aktifitasnya sebagai pengurus BEM di kampusnya nya.

Sejak beberapa dekade lalu penduduk desa berduyun-duyun pindah ke kota. Kota seperti magnet yang menarik mereka sangat kuat, hingga sawah di kampung halaman tak lagi digarap, irigasi tak lagi asyik untuk menggembala itik, kebun tak lagi ditanami buah, sayur, dan bunga. Desa kian sunyi ditinggalkan anak-anak mudanya. Mereka yang tadinya diharapkan membangun dan memajukan desa, malah silau oleh gemerlap lampu kota. Alih-alih memajukan perekonomian desa, mereka malah menyesaki kota, berjejalan di mana-mana. Hanya sedikit dari mereka yang dapat meraih mimpi hidup serba enak. Namun sebagian besar menjadi penduduk kota yang miskin dan terpinggirkan.

Tak semua anak muda desa pergi ke kota tentu. Ada banyak sebab yang membuat mereka masih bertahan tinggal di desa. Namun demikian, mereka hidup serba gelisah dan gamang. Pengaruh kisah sukses teman-teman di kota, menempel kuat di benak mereka, masuk ke alam bawah sadar, dan mempengaruhi pola pikir dan perilaku mereka. Tak usah heran jika kita melihat anak-anak gadis tanggung di desa terpencil di kaki gunung, berpenampilan bak gadis dari Bandung. Bercelana jins ketat model pensil, T Shirt yang dibuat menempel di bagian dada, rambut di rebonding dengan cat warna – warni. Dan tak lupa menggenggam ponsel kemanapun mereka pergi. Lalu para pemudanya ? ya tentu saja mereka berpenampilan setali tiga uang, berdandan bak penyanyi Andika dari Kangen band yang sangat digemari di desa. Anak-anak muda ini hidup serba malas, konsumtif, dan banyak gengsi.

Sangat-sangat sulit mengharapkan anak-anak muda dengan gaya dan pola pikir seperti itu, sudi menanam padi di sawah, menggembala kerbau, menanam wortel dan sawi di kebun. Gengsi dong, penampilan begini keren kok harus belepotan lumpur ? apa kata duniaaa …

“ Membajak sawah, menanam ketela, memberi makan ternak, biarlah emak dan bapak saja yang mengerjakannya. Mana sempat aku mengerjakannya, menjawab komen di pesbuk saja sudah seharian, belum menjawab es em es dari teman-teman! Jadi yah sori sori sori Jek, kerjaan di sawah mah gak lepel ”, begitu mungkin mereka akan menjawab, jika ditanya mengapa tidak turut bekerja di sawah.

Jika kebetulan aku bepergian ke luar kota , maka pemandangan yang paling sering membuatku nelangsa dan hanya bisa diam seribu bahasa adalah pemandangan hamparan sawah yang kian waktu kian terdesak oleh jajaran pabrik dan perumaha penduduk, yang tak segan-segan didirikan di tengah-tengah areal pesawahan. Sejatinya ini adalah hamparan tanaman padi yang menghasilkan bulir beras wangi yang pulen. Beras Cianjur yang kelezatannya sudah termasyhur hingga ke manca negara. Dengan kian sempitnya lahan pesawahan, jangan lagi mengharapkan harga beras Pandan Wangi atau beras Cianjur dapat murah dan terjangkau. Tak hanya itu buah-buahan lokal pun semakin sulit ditemui di pasar-pasar tradisional, apalagi di swalayan. Jika pun ada, harganya dua kali lipat harga buah impor, begitupula halnya dengan sayuran.

Sayang aku bukan dilahirkan dari keluarga petani yang memiliki lahan sendiri untuk diolah. Akupun sama sekali tak memiliki pengetahuan yang memadai tentang pertanian. Kalaupun aku punya hobi menanam, paling banter aku menanam kembang di dalam pot, atau menanam tomat, cabai, yang aku rawat sekedarnya. Namun tanpa harus menjadi insinyur pertanianpun, kurasa kekurangan tenaga dan kekurangan sumber daya manusia adalah salah satu faktor penyebab pertanian kita tak semaju Negara tetangga. Aku pernah menyaksikan, betapa ibu penyuluh pertanian sampai serak memberikan penjelasan kepada para petani, tentang teknik menanam sayuran tertentu di lahan yang tak begitu luas. Namun aku hanya melihat tatapan kosong para petani. Mungkin yang ada di benak mereka adalah, dari mana harus mendapat uang untuk memperoleh pupuk yang harganya kian melangit ? dari mana harus mendapat pinjaman untuk membayar hutang sisa pembelian bibit padi di musim tanam yang lalu, dsb. Mengolah lahan pertanian sudah bukan pekerjaan yang murah meriah lagi sekarang ini.

Aku tinggal di lingkungan yang bersebelahan dengan desa. Namun tak ada suasana desa yang aku temui. Sungguh aku rindu suasana desa seperti yang diceritakan ibuku, semasa kecil dulu. Cerita tentang Paman yang mengirim ketela dan jagung hasil bumi, cerita tentang anak-anak berenang di parit irigasi, kisah tentang menggiring kerbau di senja hari, kisah tentang berburu udang di balik batu kali. ah .. semua itu tak kulihat lagi kini. Bagaimana dapat melihat para petani memanen padi, sawah sepetakpun tak nampak lagi. Para petani beralih profesi menjadi supir angkot dan pengojek motor. Para pemudi pun tak mau kalah, berbondong-bondong pergi ke TKW di negeri Saudi.
Semoga tak tinggal menghitung hari, desa-desa di Indonesia hanya tinggal kenangan yang terlukis di buku –buku dongeng anak-anak. Negara yang maju, Negara yang kuat, adalah negara yang tak hanya berkonsentrasi pada pembangunan di kota-kota besar, sementara tempat-tempat yang terpencil dibiarkan tetap terbelakang dan terbengkalai. Di Negara-negara maju, jalan-jalan ke pedesaan merupakan salah satu objek wisata yang sangat menarik. Namun di negeri kita, jalan-jalan ke desa hanya akan membawa oleh-oleh hati yang masygul, benak yang dipenuhi pertanyaan dan penyesalan, akankah desaku hilang ditelan waktu ?


Salam sayang, anni - Sukabumi