Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, May 13, 2009

UASBN Putriku

Sejak Senin kemarin, anakku yang bungsu dan segenap teman-temannya di seluruh tanah air yang duduk di kelas 6 SD, menjalani sebuah tes akhir sekolah yang bernama UASBN. Dulu waktu kita SD, kalo nggak salah namanya EBTANAS.

Mata pelajaran yang diujikan pada hari Senin itu adalah Bahasa Indonesia, salah satu favorit anakku. Anakku yang bontot cantik dan gendut ini, sangat gemar membaca. Sejak usia 3 tahun dia sudah lancar membaca dan khatam Iqro. Tak heran, jika sampai saat ini hadiah yang selalu dia minta untuk setiap hari istimewanya atau ketika dia berhasil meraih juara ini dan itu, adalah buku.

Anakku yang satu ini termasuk yang rajin, bahkan sangat rajin belajar. Setiap malam dia mengulang pelajaran, mengerjakan PR, membahas soal, dan menyiapkan pelajaran buat besok. Pokoknya rajin banget deh, persis seperti saya waktu kecil .. hehee ... ( I wish .. )...
Apalagi sekarang, mau UASBN geto loch ( kitu tah kabiasaan si bontot ari nyarios teh), rajinnya berlipat ganda. Buku latihan apa saja yang saya beli, dia kerjakan sampai habis, apalagi soal-soal bahasa Indonesia. Melihat usaha yang keras dari anakku yang baru 11 tahun itu, ada rasa optimis hinggap di hatiku. Insyaallah, Selma (begitu namanya ) akan bisa melewati UASBN dengan baik. Dan saya ? Bermalam-malam saya dan suami terus berdoa untuk keberhasilan anak kesayanganku itu.

Sehari telah berlalu. Sepulang kerja, di rumah, gadis cilikku itu menghampiriku dengan wajah muram. Dia bercerita panjaang lebar, curhat tentang suasana UASBN di sekolahnya. Intinya, dia merasa resah karena mungkin dia tidak bisa meraih nilai yang maksimal, karena terkalahkan oleh teman-temannya yang bekerja sama atau jelasnya saling mencontek !!

Hhmm .. aku hanya bisa mengusap dada dan beristigfar. Kuraih wajah anakku, dan kupeluk erat di dadaku, seperti kala dia masih bayi dulu. Kunasihati dia dengan nasihat yang sederhana, yang kupikir akan mudah masuk ke kepalanya yang panas karena rasa cemburu. Ku katakan padanya, berapapun nilai yang kamu peroleh, ibu akan tetap bangga dan menyayangimu, karena kamu raih semua itu dengan tanganmu sendiri, dengan usaha kerasmu sendiri, dengan segala kejujuran yang sudah ayah ibu ajarkan kepadamu. Ayah dan Ibu sama sekali tidak bahagia jika kamu meraih nilai tinggi dengan cara curang.

Selma Laily Nur Afifa terdiam sejenak. Mata lebarnya memandangku sejurus, dan dia mengangguk sambil tersenyum. Dalam sekejap, mendung terhapus dari wajahnya yang gembil, berganti dengan keceriaan dan kelucuan khasnya. Tanpa bicara dia masuk ke kamarnya sambil melompat-lompat, seperti yang tidak pernah terjadi apa-apa ...Ah, anakku memang guru kehidupan yang paling gamblang ...Begitulah caranya menghadapi beban dalam kehidupan ini. Jangan diperberat, jangan berlarut - larut, ringankanlah, gembirakanlah hatimu, dengarlah nasihat orang lain .... no hard feelings ...

Di luar itu semua, saya hanya bisa prihatin menghadapi fenomena pendidikan di negeri ini yang masih sangat mengedepankan nilai Cognitif, sementara nilai Afektif hanya menjadi semacam pelengkap saja. Tidak peduli bagaimanapun jujurnya anak kita, betapa rajinnya sholat, betapa puasanya tamat sebulan, betapa tingginya hafalan surat-surat pendeknya, kalau nilai Math, Bahasa Indonesia dan IPA di UAS nya buruk, maka tidak luluslah dia ...


Tos heula ah ... pegel ngetik wae ...Salam sayang kanggo murangkalih akangs, tetehs, ayis sadaya anu nuju UASBN. Mugia Allah maparin kemudahan ( naon sih bahasa Sundana kemudahan teh, kang ? ). Amiiin ...


salam,
anni :)