Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, May 14, 2009

Lagu daerah

Saya masih ingat, waktu saya masih kecil sampai SMA, satu-satunya stasiun televisi yang ada pada masa itu hanyalah TVRI. Akibatnya suka atau tidak suka para pemirsa layar kaca di Indonesia hanya terpaku pada satu-satunya stasiun TV pemerintah itu, apa pun acara yang disajikannya.

Aku juga masih ingat, selain lagu-lagu yang lagi ngetop semisal lagu-lagunya teh Nia Daniati , mbak Iis Sugianto, dkk, TVRI juga kerap menyajikan lagu-lagu daerah dari seluruh nusantara. Ketika itu saya ( dan saya yakin betul, begitu pula dengan jutaan anak-anak Indonesia yang sejaman dengan saya ) sampai hafal lagu-lagu dari daerah se Indonesia. Umpamanya dari Sumatera: sinanggar tulo, sik-sik batu manikam, Inang, butet, ari o turang (?), sigule pong, kampuang nan jauah dimato, bareh solok, ayam den lapeh, lancang kuning, bungong jeumpa, dll. Atau dari daerah Sulawesi : anging mamiri, sarinande, dll, dari Kalimantan : paris berantai, saputangan bapucuk ampat, dari Maluku apalagi buanyaak yang sampe sekarang masih hafal : waktu hujan sore-sore, dll, dari Papua ( harita mah Irian Jaya ) : Yamko Rambe, dll, dari Timor, dari Bali, Madura, Jawa Tengah dan Timur, komo lagu Sunda mah ....
Di sekolah, anak-anak juga suka disuruh ke depan sama guru, menyanyikan lagu daerah tertentu ...

Nah, bagaimana dengan anak-anak sekolah jaman sekarang ? lagu yang paling top dari daerah nya sendiri aja, banyak yang gak tau sama sekali ...
Gak di kampung, apa lagi di kota, anak-anak sekarang menganggap lagu-lagu daerah itu nggak pernah ada, karena gak pernah tau, gak pernah diajarin, dan gak pernah diperkenalkan ...
Hal ini diperparah dengan acara TV yang nol persen menyajikan lagu-lagu daerah
(kecuali TVRI ).

Saya punya pengalaman yang cukup aneh. Begini . Saya selalu mengajarkan lagu-lagu yang indah itu kepada anak-anak gadis saya semenjak mereka kecil. Nah pas di sekolah, kalau ada pelajaran musik ( biasanya mereka diminta memainkan alat musik pianica ), anak-anak saya suka membawakan lagu-lagu daerah itu ( yang pada malam-malam sebelumnya mereka hafalkan notasinya terlebih dahulu sampai hafal diluar kepala ). Dan eh... ternyata walhasil, mereka dinasihati oleh gurunya agar hanya memainkan lagu yang terkenal saja !! padahal si bungsu teh memainkan lagu " Gambang Suling " , lagu daerah Jateng yang terkenal ituhh .. ! ammmppuuunnn .... ( atau jangan-jangan ... memang sudah nggak ada lagi orang yang masih ingat sama lagu itu ... )
Saya gak bisa marah, dan akhirnya saya meminta anak saya hanya memainkan lagu " Cing Cangkeling " saja seperti yang diminta gurunya.

Saya sangat bisa memaklumi, mengapa guru keseniannya bersikap seperti itu. Guru-guru SD ini masih sangat muda-muda, mungkin baru berusia 24 an, artinya mereka dibesarkan pada masa TV swasta sudah marak di Indonesia, dan TVRI sudah tidak laku lagi ( maaf ). Jadi ya wajar, kalau mereka nggak kenal sama lagu - lagu daerah. Sepanjang hidupnya, mana pernah mereka menonton siaran kesenian daerah dari TV swasta yang cenderung kurang tidak peduli pada kesenian daerah.

Padahal kalau dipikir-pikir dan dirasa-rasa, dan didengar-dengar, dan dihayati-hayati ...
Lagu daerah tu ... wah... indah sekali .... elok, merdu, bermakna, santun, ...
Namun jika sampai kreasi seni bernilai tinggi itu sampai tidak dikenal oleh anak-anak kita, gara-gara para orang tua dan gurunya tidak pernah mengajarkannya, ya jangan sewot dong, jika negara jiran kita lantas mengklaimnya sebagai lagu nenek moyang mereka ..... trus kalo udah gini, gimana dong ? mau perang ? ya sana ...

salam,

anni :)