Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, June 8, 2009

Dikira Bu Asep



Dua bidadari cilikku sekarang sudah menjelma gadis remaja cantik yang sudah duduk di bangku kelas 12 dan kelas 10 SMA. Sejak masih taman kanak-kanak, mereka berlangganan ojek untuk pergi dan pulang sekolah. Dihitung-hitung sudah 12 tahun kami berlangganan ojek itu, yang pengemudinya tidak ganti-ganti. Panggil saja namanya mang Asep.

Mang Asep ini tetangga berbeda gang dengan kami, hanya berbeda RT saja. Saking lamanya berlangganan ojeknya, beliau sudah kami anggap keluarga sendiri. Mang asep ini umurnya kurang lebih 40 tahun, tapi sudah punya cucu. Orangnya jujur dan tak banyak bicara. Dia juga rajin bekerja. Kalau tidak sedang menarik ojek, disuruh kerja apa saja pasti mau. Dimintai tolong beresin rumput di halaman, memetik kelapa muda di belakang rumah, mengusir ular yang menyelundup ke teras, mengecat pagar, sampai disuruh beli gas juga , dia ayo aja. Senang kalau ada orang yang giat seperti ini. Mau memberi uang berapapun senang saja, karena hasil kerjanya memuaskan.

Saking lamanya berlangganan, orang-orang yang tinggal di sepanjang jalan yang dilalui ojek mang Asep,antara rumahku dengan sekolah anak-anak, banyak yang mengira bahwa si Kakak dan si Ade adalah anak- anaknya mang Asep. Mereka mengira begitu karena mereka melihat setiap hari selama 12 tahun, mang Asep rutin membonceng anak yang itu-itu saja. Jadi wajar kalau mereka berkesimpulan, bahwa si Kakak dan si Ade adalah anak mang Asep. Tak hanya itu, teman-teman anak-anakkupun banyak yang mengira bahwa mang Asep adalah ayah Kaka dan Ade. He he …

Sebetulnya aku mengetahui kengawuran itu, namun aku membiarkan saja. Toh tak mengangguku, dan anak-anak juga bersikap biasa saja. Sampai suatu hari di waktu yang berdekatan, ada seorang tetangga baru mengatakan  sesuatu yang bikin saya dan anak-anak jadi lumayan bete juga.
Bete yang pertama, pada suatu kesempatan anak-anakku berjalan kaki untuk suatu keperluan dan berpapasan dengan ibu-ibu tetangga baru itu.  Ketika anak-anakku menyalami ibu itu, beliau menyapa anak-anak dengan ramah, dan bertanya,
” Aduuh ini gadis-gadis cantik mau pada kemana ? Ini teh putranya Pak Asep yaa ? “
” Hemhgrgh …?!   Pak Asep ? Bukan buu … kami anaknya Pak Heri “
” Pak Heri ? Lho bukannya kalian itu anaknya mang Asep yang tukang ojek itu ? “, si ibu keukeuh
” Yahh, bukan buu … “
dst …

Berhubung si ibu tetangga baru keukeuh banget dengan keyakinannya bahwa si kakak dan si ade itu anak mang Asep, akhirnya anak-anakku memilih langsung angkat kaki dari pembicaraan yang nggak nyambung Itu. Nggak kebayang gimana cemberutnya wajah anak-anak ketika itu. He he …

Bete yang kedua, saat aku bertemu dengan si ibu tetangga baru itu di swalayan dekat rumah. Kebetulan saat itu anak-anakku ikut denganku. Dengan ramah dan suara keras, si ibu menyapa dengan bebas ” eeh, bu Aseeep ! Kumaha damang ? (* apa kabar ? sehat ?)”
Mendengar itu, anak-anak gadisku langsung berjengit. Ekpressi wajah si Ade kayak orang kejepit. ” Mang Asep lagi ??!
Aku tertawa dan menjawab kalem,
“Saya bu Heri, bu ! dan ini anak-anak saya. Sudah kenal ?”
” Oh iyaa sudah kenal. Ini kan anak-anaknya pak Asep, jadi ibu tentu istrinya pak Asep, kann ? “
( Hadeeehh …. ampunn ..! Udah deh terserah si ibu aja mau ngomong apa. Hmhh ..)
Mendengar penjelasannya yang sangat ” masuk akal ” itu, aku hanya bisa takjub, diam seribu bahasa, bengong tak tahu harus menjawab apa.
Heran deh, si ibu kok keukeuh banget dengan keyakinannya bahwa si kakak dan si ade adalah anak Pak Asep dan aku adalah bu Asep. Lha mbok ya dilihat, apa wajah anak-anakku mirip dengan wajah mang Asep atau enggak.  Wong wajah mereka seperti Amerika sama Afrika gitu kok bedanya !

Selidik punya selidik, tahulah aku, bahwa selama ini mang Asep memang membiarkan saja “tuduhan” masyarakat, bahwa si kakak dan si ade adalah anaknya, dan aku adalah istrinya. Ketika aku datangi dia untuk minta konfirmasi, eh dia malah cengengesan senang.
Dasaarr mang Aseep ! Bete ahh …

Saat aku ceritakan soal ini sama suamiku, reaksi suamiku malah ketawa-ketiwi, sambil menjawil pipiku ” bu Aseeep ! Bwuahahahaaa …”
*#!?+@*#!!*!



Salam sayang,
Anni