Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, June 8, 2009

Anak Sekolah di Indonesia Tidak Maju ?

Dalam sebuah milis saya membaca sebuah posting dari seorang rekan. Ketika membacanya timbul perasaan tidak nyaman di hati saya. Namun dari nada tulisannya, saya yakin dia hanya bermaksud bercanda, tidak serius alias main-main, dan tentu tidak didorong oleh itikad buruk.

Namun bagi saya yang sehari-hari berkutat di bidang pendidikan, isi email yang bernada menyudutkan dunia pendidikan, khususnya mendeskreditkan anak-anak Indonesia, tentu bukan masalah sepele bagi saya. Dunia pendidikan adalah dunia saya, bagian dari hidup yang sangat saya cintai. Dunia pendidikan, dunia sekolah adalah tempat saya mengabdi, bekerja, dan tempat saya merasa bermanfaat bagi anak-anak Indonesia. Dan saya sangat mencintai murid-murid saya. Mereka sudah saya anggap seperti anak saya sendiri.

Isi posting itu sungguh bernada gurau, yakni tentang efek lagu anak-anak terhadap perkembangan intelektualitas anak-anak Indonesia di kemudian hari. Pengirim email tersebut mengutip bagian-bagian syair lagu klasik anak-anak yang sangat indah itu, sebagai penyebab kemunduran bangsa ini. Orang lain boleh jadi tertawa geli membaca email tersebut. Namun mohon maaf, saya sama sekali tidak bisa mengendurkan urat syaraf apalagi sampai tertawa membaca email berjudul " Kenapa ANAK 2 SEKOLAH DI INDONESIA tidak bisa MAJU? " tersebut.

Selain berprofesi sebagai guru, saya juga seorang ibu, seorang pemerhati anak, dan seorang pecinta karya bangsa Indonesia dan pecinta negeri Indonesia.
Saya sama sekali tidak melihat ada sesuatu yang salah dengan lagu anak-anak yang ditertawakan itu. Semua olok-olok itu hanya ingin mencoba menghina dan menunjukkan kelihayan membolak-balikkan logika untuk menunjukkan betapa tingginya tingkat intelektualitas mereka ( para penghina ini ), dengan tujuan, mungkin, menciptakan "humor berkelas" yang sangat disukai kalangan berpendidikan namun - mohon maaf - kurang memiliki budi pekerti.

Ibu Sud, Pak Kasur, Bu Kasur, AT Mahmud, dll, para pencipta lagu anak-anak itu ... siapa yang tidak kenal dengan dedikasi mereka terhadap dunia anak-anak Indonesia ? dengan keluhuran nilai moral yang mereka tuangkan dalam karya mereka ? dengan besarnya kontribusi terhadap pendidikan anak bangsa Indonesia ? sungguh tidak pantas kita merendahkan mereka sedemikian rupa, padahal mereka adalah orang-orang yang sangat besar jasanya. Sementara sedikitpun kita belum memberikan penghargaan yang layak bagi mereka.

Bukan karena diajari lagu anak-anak itu, anak-anak Indonesia sulit maju hingga kini ( itupun jika memang benar, anak-anak Indonesia adalah anak yang bodoh ). Namun lebih kepada faktor lingkungan yang mereka alami sejak dalam kandungan.

Saya termasuk orang yang sangat bangga dengan anak-anak Indonesia. Sebagai contoh, mari kita kerucutkan sudut pandang kita hanya pada dunia pendidikan. Saya yakin, kita semua sudah tahu, negara mana di dunia ini yang kualitas pendidikannya paling maju ? ya, mana lagi kalau bukan Finland, Swedia, AS, Jepang, Korsel, dan Singapura. Tapi mari kita bertanya, pernahkah para siswa dari negara-negara itu, sekali saja mengalahkan anak-anak Indonesia di ajang olimpiade sains tingkat dunia ? Tidak Pernah !
Saingan kita justru datang dari para siswa yang berasal dari negara berkembang, semisal Iran, India, Israel, Hungaria, dan sesekali dari negara maju yaitu Russia. Atau kalau kita perhatikan ajang kejuaraan Choir Mahasiswa tingkat dunia. Mahasiswa Indonesia sangat dikenal sebagai langganan juara, paling sial dapat medali perunggu ... kelompok paduan suara para mahasiswa dari negara-negara maju, dilibas saja oleh anak-anak pintar ini.

Contoh yang lain , yang seharusnya membuat kita bangga dan berhenti mengolok - olok anak-anak Indonesia sebagai anak yang terbelakang, tentu sangat banyak. Tidak mungkin saya menuliskannya satu persatu di sini, nanti malah dikira narsis.

Inti dari tulisan saya ini adalah, marilah kita berhenti memperolok bangsa sendiri, menghina karya saudara sendiri, merendahkan kemampuan anak-anak kita sendiri, menjelek-jelekkan negara sendiri, dan berhenti menularkan semua perilaku itu kepada anak-anak kita. Saya yakin, maksud rekan saya memposting tulisan itu hanya sekedar bergurau, alih-alih mengejek bangsa sendiri. Namun sebagai sesama saudara, sesama keluarga besar sealmamater, tentu tidak ada salahnya jika saya mencoba mengingatkan, agar seyogyanya kita lebih mengedepankan sikap bijak dan hati-hati dalam setiap tulisan kita, meskipun tulisan itu hanya sekedar forward. Tulisan yang dirilis di milis ini, otomatis beredar dengan bebas di internet, dan bagi sebagian kalangan, tulisan seperti ini sangat memiliki sensitifitas yang tinggi.

Sekali lagi, mohon maaf jika saya terpaksa menulis seperti ini. Tidak bermaksud menggurui, apalagi menyinggung perasaan siapapun.

salam sayang,

anni :)