Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Saturday, February 22, 2014

Menyusun Thesis : Awal Kisah

student girl with problems thinking, isolated on white background - stock photo

Hi there, kangen sama aku ya ?  sudah lama nggak posting tulisan nih ….
Baiklah, aku akan menyapamu kawan, sebab akupun rindu padamu J

Akhirnya …
Sampai juga ke saat penyusunan Thesis …
Hummh … 3 smester perkuliahan yang benar-benar menguji kesabaran.
Bukan aku tak sabar menjalani semua perkuliahan itu …

Aku sangat senang menjalani masa-masa kuliah. Belajar di kelas –kelas berpendingan udara, dengan meja yang mewah dan kursi empuk, yang kadang malah membuat mata mengantuk saking nyamannya.

Siapa yang tak senang mendapat ilmu. Mendengar ceramah dari dosen yang sangat dalam  penguasaan ilmunya, seolah mereka bukan sedang mengajar, namun sedang mengalirkan hikmah dari dalam hati dan jiwanya …

Senang juga mendengar celoteh teman-teman yang beragam, celoteh di dalam diskusi kelompok, yang setiap celotehnya merefleksikan karakter dan isi pikiran mereka – bahkan kadang  dengan celotehnya itu, seolah mereka tak sadar sedang menelanjangi diri sendiri …

Tapi aku sabar denga semua itu karena mereka temanku…
Sebagaimana aku sabar termangu di dalam bis kampus yang setia mengantarku pergi dan pulang kuliah di akhir pekan. Sabar dalam kemacetan yang menggila di ruas Sukabumi – Bogor. Aku berusaha tak merasa kesal, karena jalan yang macet ini akan membawaku ke kampus yang semakin hari semakin aku sukai. Aku juga berusaha keras tetap tenang saat malam semakin merayap larut, sementara kemacetan jalan tak kunjung terurai. Aku tak mau pulang dalam keadaan letih dan marah. Kemacetan di ruas jalan raya Sukabumi – Bogor ini, benar-benar bagai hantu yang membuatku gentar,  yang  tak bisa kulawan selain dengan diam dan berdoa.

Soal kesibukan, jangan ditanya, tak ada habisnya. Kesibukan kerja, kesibukan di rumah tangga. Sebetulnya aku bisa saja membayar orang untuk mengetikkan thesisku, atau bahkan membayar mereka untuk membuatkan thesisku, seperti yang banyak dilakukan oleh banyak penipu bertoga di negeri ini,

Well, aku tak sudi mengeluarkan satu rupiahpun untuk sebuah kecurangan. Aku masih punya sepasang tangan untuk mengetik, sepasang kaki yang biar sudah sering pegal-pegal namun masih cukup sehat dan kuat untuk berjalan ke perpustakaan kampus, atau pergi  ke pasar buku murah di Palasari Bandung membeli segambreng buku referensi. Dan oh ya, aku juga masih punya segumpal otak di kepalaku yang masih cukup bisa aku perintahkan untuk berpikir dengan jernih, menyusun Bab demi Bab thesisku itu, insyaallah sampai selesai.

Dan Pak Wied ? Pak Wied itu dosen pembimbingku. Nama lengkapnya Widodo Sunaryo. Doktor dia itu. Tadinya aku kurang menyukai dosen yang satu ini, karena dia itu punya kebiasaan memberi tugas perkuliahan yang sangat berat dan banyak, yang membuatku harus melek hingga tengah malam untuk menyelesaikan tugasnya. Kek yang kuliahnya itu paling penting sendiri. Nyebelin kan ?!  tapi itu dulu, sebelum aku dibimbing oleh Pak Wied

Sekarang aku cuma punya satu kata buat Pak Wied : Gila !
Dia dosen pembimbing yang benar-benar gila. Gila top nya !  kesabarannya, ketelitiannya, pelayanannya, semuanya top !   Dibimbing Pak Wied itu, berdarah-darah, tapi ngerti ! dari sekarang aku sudah merasa berterimakasih padanya. Semoga aku  diberi panjang umur dan kesabaran (sabar dalam menyelaraskan peran sebagai kandidat Magister dengan peranan sebagai Guru di sekolah, dan peranan sebagai emak-emak di rumah. OMG ! ) dalam menempuh jalan panjang penyusunan thesis ini, aamiin yra …


Sudah  dulu ya, nanti aku cerita-cerita yang lain lagi J



Salam sayang,



anni