Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Sunday, March 28, 2010

DENGARLAH NURANIMU


Temanku di Facebook Rifki Feriandi, menulis sebuah notes bersub judul
" ujian nurani " yang membuatku jadi terprovokasi untuk menulis komentar panjang. Namun kolom komentar yang disediakan FB sungguh terbatas, sehingga aku harus menulisnya dalam bentuk notes. Maka jadilah notes dadakan ini.

Untuk dapat membaca notes saya ini dengan terang, tentu teman-teman harus lebih dahulu membaca notes Rifki Feriandi yang berjudul " Buaya vs Buaya da UAN : ujian nurani". Karena jika tidak, maka notes ini seolah tanpa subjek dan predikat.

Ah sungguh bukan kebiasaanku menulis notes dadakan seperti ini, tapi aku harus bagaimana ? Hatiku sudah geregetan begini, geregetan dengan semua fenomena yg Rifki tuangkan di notesnya ...
Sungguh bukan karena nama saya nurani, sehingga saya ingin menulis notes ini. Hmmm.... nurani, ya ?

Yang pertama : tentang buka-bukaan di kalangan buaya, yg membuat masyarakat menjuluki peristiwa itu dengan sebutan "maling teriak maling " dan "Star Wars".
Mencermati berita itu di media massa, segera saja kita orang awam mengetahui, bahwa bukan hati nurani yg sedang angkat bicara, namun nafsu angkara dan dendam kesumat. Boleh jadi yg dikatakan itu benar adanya. Namun masyarakat akan segera mengaitkan segala pernyataan itu dengan kejadian sebelumnya, yakni ketika sang Bintang digusur dari kursi empuk jabatannya dengan cara yg menyakitkan. Salahkah jika kemudian masyarakat menilai bahwa sang bintang kini sedang membuka kebobrokan lawannya lantaran sakit hati ?
Namun marilah kita ambil sisi positif dari kejadian ini : statement yg dilandasi dendam kesumat itu toh membuat kasus yg rasanya mustahil terungkap karena menyangkut para bintang, kini terpapar dengan jelas, dengan pelaku yg setiap hari wara-wiri di muka televisi. Tentu saja orang yang kena tuding seperti kebakaran jenggot, dengan membuat statement tandingan yg tak kalah jujurnya. Kalau sudah begini, masyarakat tak bisa berharap terlalu tinggi. " paling banter " nanti penyelesaiannya ya seperti kasus- kasus besar sebelumnya semisal kasus Bank Century dan mega kasus BLBI yg tak jelas juntrungannya. Tanda-tanda ke arah sana sudah mulai terlihat dengan kaburnya sang tokoh antagonis anggota komplotan markus pajak ke Singapura, dengan memboyong anak istrinya. Semoga dia tidak menjadi seperti penjahat kakap Eddy Tanzil jilid ke dua, yg hingga kini tak kunjung tertangkap. Harapan masyarakat atas kasus star wars ini sudah jelas : usut tuntas kasus ini, tangkap pelakunya, dan hukum siapapun yang bersalah dengan hukuman yg setimpal, tanpa memandang apakan dia seorang bintang atau bukan. Hanya itu. Dan itu, hanya dapat dilakukan jika lembaga penegak hukum menggunakan LAGI hati nuraninya. Jangan dikira hukum itu bisu. Hukum itu sangat jelas dan sangat mementingkan keadilan. Jika hukum tidak dapat berbicara, maka masyarakat yg akan berbicara.

Kedua : tentang PSSI. Nah inilah lembaga teraneh di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Pucuk pimpinannya terpilih sesaat setelah dia keluar dari bui. Saya sungguh tak mengerti, apa yang ada di benak para pemilih, ketika proses pemilihan ketua umum PSSI berlangsung. Apakah kepemilikan uang dlm jumlah besar jauh lebih utama sehingga dapat dg mudah menafikkan track record seorang tokoh yg coreng moreng penuh lumpur kecurangan ? kembali masyarakat dipaksa menyaksikan sebuah pertunjukkan yang sama sekali tidak lucu, betapa hati nurani dibuta tuli bisukan dalam proses pemilihan seorang pemimpin.

Lalu bagaimana kinerjanya ? Ya lihat saja sendiri. Di laga pra piala dunia saja, kesebelasan kita bertekuk lutut di hadapan kesebelasan Laos, negara kemarin sore, yang pernah jauh lebih miskin dari negeri kita. Bosan ah, ngomongin, masa sih diantara 300 jutaan rakyat Indonesia, PSSI nggak bisa menemukan pemain yang bisa benar2 berkelas dunia? Oke, oke, boleh jadi para pemain sepak bola kita memang benar-benar berbakat. Lantas mengapa mereka tidak bisa berbicara di tingkat dunia ? pasti ada yang salah. Apa yang salah ? Kita semua sudah tahu, karena terlalu sering media massa mengulasnya. Tentang kurangnya pembinaan, kurang dibukanya kesempatan, kurang dana, dll. Apa ?? Kurang dana ?? Nggak salah tuh ? Bukannya negara menyisihkan anggaran yang sangat besar untuk PSSI ?
Ah sudahlah, kalo ngomongin sepak bola, nanti aku harus bikin sub notes nih. Yang jelas,
jika ada pembicaraan tentang sepak bola, maka yang terlintas di benakku adalah perilaku Bonek yang anarkis dan permainan cantik PERSIB, halah ...
Kembali ke persoalan mendengarkan hati nurani di tubuh PSSI. Sebaiknya organisasi sepak bola itu berhenti berbicara, dan mulai serius bekerja. Bekerja dengan hati. Marilah berkaca pada Senegal, Gibbon, atau Kamerun. Negara-negara miskin di Afrika itu dapat melahirkan pemain-pemain kelas dunia, karena keseriusan mereka membina dan berlatih.

Ketiga : soal UN. Oh tidak, aku sudah menulis notes yang cukup panjang tentang UN. Namun, jika ada seratus orang yang berbicara soal UN, maka akan sebanyak itu pula aku akan angkat bicara. Bagaimana tidak, ini menyangkut nasib manusia yang bernama anak-anak, makhluk yang sangat menjadi fokus perhatianku di sepanjang hidupku.

Ketika pemerintah mengharuskan pelaksanaan UN, anak-anak Indonesia menjalaninya dengan patuh. Sebagian besar dari mereka melaluinya dengan perjuangan yang berat dan jujur. Sebagian lagi dengan curang : karena tak kuat menanggung rasa takut akan ancaman tidak lulus.
Lalu apa yang terjadi ? UN sudah berlalu dan hasilnya belum diumumkan. Namun masyarakat sudah tahu bagaimana hasilnya, siapa gerangan yang patut menyandang gelar GAGAL alias tidak lulus : Pemerintah sendiri ! Dalam hal ini pihak penyelenggara UN tidak lulus alias gagal dalam melaksanakan tugasnya. Dari mulai Soal UN yang tertukar, soal yang rusak, kesalahan jenis kertas, tidak diantisipasinya pemalsuan pensil 2B, belum turunnya dana UN, dll ... mana bisa pemerintah dikatakan lulus dengan penyelengaraan yang carut marut seperti ini.

Saya adalah seorang yang berprofesi sebagai pendidik. Dan saya sangat mengerti apa arti standar evaluasi bagi proses pendidikan. Ujian, tes, atau apapun namanya, kesemuanya sangat akrab dengan dunia pendidikan. Anak-anak sudah terbiasa dan anak-anak tidak takut. Anak-anak hanya takut usaha keras mereka dipecundangi oleh orang-orang yang tak berhati nurani, yang berbicara seenaknya saja, mengancam-ngancam tidak lulus, padahal kesalahan bukan ada di pihak anak-anak.
Anak-anak sudah bekerja sangat keras, hingga kadang stress menerpa tanpa ampun lagi. Jangan lagi mereka dilecehkan oleh perilaku tak bertanggung jawab dari pihak-pihak yang seharusnya mengayomi mereka.

Saya tidak akan membahas siapa pelaku pemalsuan pensil itu. Yang jelas mereka adalah kaum penjahat. Saya hanya akan menunggu dengan cemas, bagaimana nasib ribuan lembar Jawaban UN anak-anak yang tidak dapat discan itu. Jika penyelenggara UN masih punya hati, tentu mereka akan memeriksa secara manual, demi keselamatan anak-anak kita.

Bagaimanapun, dalam bidang apapun, masyarakat akan dengan mudah melihat. Mana orang yang bekerja dan berbicara dengan hati nurani, dan mana yang bekerja dengan hati yang culas. Masyarakat mungkin awam, mungkin miskin, atau lemah. Tapi masyarakat tidak bodoh. Karena hati nurani terakhir di dunia ini, tersimpan di hati masyarakat. Dan dengan hati nurani ini, masyarakat sangat waskita.

Salam sayang,

Anni, Sukabumi

Thanks to Rifki Feriandi yang telak "memaksa" saya menulis