Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Saturday, March 20, 2010

Like or Dislike : Ujian Nasional - UN - Harus Dihadapi ...


Sedikit hari lagi seluruh siswa kelas XII ( kelas 3 ) SMA di seluruh Indonesia akan menghadapi Ujian Nasional yang dilaksanakan secara serentak.
Tak perlulah aku membahas tentang absah tidaknya hajatan nasional bagi anak- anak sekolah ini, hanya karena Mahkamah Agung sudah melarangnya, namun tetap dilaksanakan sebab Pemerintah bergeming terhadap keputusan lembaga peradilan tertinggi di Indonesia itu.

Semua orang juga sudah tahu, apa alasan MA melarang Pemerintah untuk melaksanakan UN. Namun bila ada teman-teman yang agak lupa, mari saya ingatkan kembali alasannya : MA berpendapat bahwa pelaksanaan UN dinyatakan melanggar HAM, terutama Hak Anak, karena UN terbukti meningkatkan kasus stress pada anak, dari kasus yang ringan semisal rasa cemas yang sangat, hingga kasus yang gawat hingga ke tingkat bunuh diri. MA memberikan syarat yang harus dipenuhi, jika pemerintah bermaksud tetap melaksanakan UN : tingkatkan fasilitas dan kualitas Sekolah beserta seluruh stake holdernya. Jika tidak, maka UN dilarang dilaksanakan.
Masalah HAM adalah issue yang sungguh serius. Pemerintah manapun dapat diseret ke Mahkamah Internasional di Denhaag, jika melakukan pelanggaran HAM terhadap warganya sendiri. Namun bagi penguasa pendidikan di negeri ini, itu sama sekali bukan masalah yang harus ditakutkan. Tak akan ada WNI yang bakal lancang menuntut Pemerintahnya sendiri sampai seluruh masyarakat dunia tahu. Lagi pula siapa sih di Indonesia ini yang akrab dengan penyelesaian masalah HAM ? Apalagi jika harus mengadukan pelanggaran HAM hingga ke tingkat Mahkamah Internasional , sungguh jauh panggang dari api. Lagi pula pemerintah punya sederet peraturan untuk menjustifikasi pelaksanaan UN, jadi mengapa pemerintah harus gentar ? Siswa stress mah EGP aja ...
Pemerintah memang membutuhkan data kuantitatif mengenai peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Dan UN adalah salah satu cara pengambilan data yang paling mudah dilakukan. Masalah validitas, itu sudah beda bahasannya.

Tapi ah sudahlah, aku tak mau lagi berbicara tentang mengapa pemerintah tetap menjalankan kebijakan ini, tentang reaksi keberatan masyarakat terhadap UN. Itu bukan bidang kajianku. Biarlah para pakar pendidikan saja yang membahasnya, lagi pula membicarakan sikap pemerintah terhadap UN hanya akan membuatku emosi saja.
Jadi okelah kalau begitu. Kami rakyat kecil akan menerima tantangan itu ! Dengan jujur atau curang.
( Namun kami memilih JUJUR ). Aku hanya akan menceritakan apa-apa yang aku tahu dan aku lihat di lingkungan tempatku mengajar saja, yang boleh jadi memiliki kemiripan situasi dengan di sekolah-sekolah lain.

Sejak awal semester genap ini, suasana di sekolah tempatku mengajar sudah berbeda bagi anak-anak kelas XII. Review semua pelajaran sejak kelas X, sudah dimulai sejak hari pertama mereka memasuki awal semester genap.
Bukan perkara mudah bagi kami para guru dan para siswa untuk menjalani kelas Review.

Seperti yang sudah dimaklumi bersama, kurikulum yang berlaku sekarang memiliki perbedaan filosofi yang sangat signifikan dengan kurikulum jaman kita sekolah dulu. Secara sederhana gambarannya seperti ini : jaman kita sekolah dulu, pelajaran itu nyambung terus dari awal semester sampai akhir semester. Jadi seorang siswa tidak boleh melupakan pelajaran- pelajaran yang sudah lewat, meskipun pada ulangan harian dia sudah dinyatakan lulus. Kewajiban menguasai pelajaran dari awal sampai akhir ini akan diujikan di akhir semester, dengan sebuah tes komprehensif yang bernama : THB, TPB, Ulangan Umum, dll, yang soal-soal nya terdiri atas semua bab dari awal sampai akhir semester berjalan. Nah, kalau sistem yang baru nggak gitu. Sekarang ini jika seorang siswa sudah lulus dalam ulangan harian yang mengujikan sebuah Kompetensi Dasar ( dulu namanya satu pokok bahasan ), ya sudah, selesai perkara. Dia tidak harus mengingat- ingat pelajaran yang sudah dinyatakan lulus itu. Kewajiban dia selanjutnya adalah masuk ke bahasan berikutnya. Tidak ada kewajiban sekolah untuk melaksanakan Ulangan Umum yang merangkum semua bahasan dalam satu semester. Ini adalah jawaban terhadap pertanyaan, mengapa pengetahuan sebagian besar siswa sekarang sering melompat-lompat, tidak integral, tidak utuh, dan gamang. Begitulah kira-kira penjelasan ringkasnya.
Dengan kurikulum seperti ini, siswa akan dihadang masalah besar di akhir masa sekolah oleh sebuah tes yang bernama Ujian Nasional - UN - (dulu namanya EBTANAS ). Mengapa para orang tua, guru dan siswa merasa berkecil hati dengan UN ? Mau tahu ? Ini jawabannya : soal-soal UN itu komprehensif, dari semester 1 sampai semester 6 ! Bayangkan ! bukankah selama ini anak-anak tidak menjalani sistem kurikulum yang komprehensif seperti itu, melainkan parsial, terpenggal-penggal per Kompetensi Dasar ? Bagaimana ini ? Alangkah tidak sinkronnya kebijaklan UN dengan proses pendidikan di sekolah. Tuh kan jadi ngomongin pemerintah lagi ...

Dengan keadaan seperti ini, pihak sekolah tentu tidak mau menjadikan para siswa sebagai tumbal bagi sistem yang nggak jelas seperti itu. Akhirnya jalan tengah yang diambil adalah, sekolah melaksanakan test komprehensif di setiap akhir semester yang bernama Ujian Akhir Semeter - UAS. Bahkan beberapa sekolah ada juga yang melaksanakan ujian mid semester, tentu di tengah semester. Ini terpaksa dilakukan, untuk menjembatani gap antara pelaksanaan kurikulum , dengan kebutuhan siswa akan penguasaan soal-soal komprehensif. Dalam UAS tersebut, soal-soal yang diujikan meliputi semua materi dari awal nyambung sampai akhir, hingga diharapkan siswa dpt menguasai seluruh materi pelajaran secara integral. Tentu saja sebagai konsekuensinya, kami para guru, harus memberikan pelajaran secara berkesinambungan, utuh tidak terpenggal-penggal, agar siswa tidak melupakan pelajaran yang terdahulu. Gimana ? Nggak sinkron sama sistem kurikulum sekarang bukan ? Jadi kaya model sekolah jadul aja, kan ? Tapi ya apa boleh buat, dari pada anak- anak kita nanti pada pingsan menghadapi soal-soal UN ?

Di sekolah kami, sejak awal semester 6, anak-anak sudah belajar dengan cara yang berbeda. Mereka hanya belajar pelajaran yang diujikan di UN saja. Pelajaran yang lain minggir (karena sudah diselesaikan di semester 5)

Para siswa dibimbing secara intensif dengan sistem pengajaran kombinasi antara pengajaran di sekolah dengan pengajaran di bimbel. Di sekolah kami terbiasa mengajarkan konsep, sementara bimbel lebih fokus pada trik mengerjakan soal dengan cepat. Pemantapan dilakukan setiap hari, dilanjutkan malam hari melalui pendampingan belajar mandiri (kami adalah sekolah boarding, jadi murid-murid tinggal di asrama, dan guru mendampingi sampai malam hari ). Untuk menguji kemampuan anak, kami melaksanakan Try Out UN sebanyak 5 kali, sehingga kami dapat memetakan kemampuan siswa dengan lebih objektif. Dengan hasil TO itu pula, kami para guru dapat lebih fokus membimbing siswa yang masih lemah di mata pelajaran tertentu.

Anak-anak itu, dengan seribu kelelahan yang tergambar jelas di matanya, tetap datang ke kelas dengan tabah. Mengikuti pelajaran dengan patuh, mengikuti setiap program bimbingan dengan sabar, karena mereka tahu, hanya dengan cara itu mereka dapat menaklukkan UN, karena mereka tahu, UN harus dihadapi dengan jujur, harus mereka kerjakan dengan tangan mereka sendiri, karena kami telah bersepakat untuk memilih jalan kejujuran, meski nilai yang kami raih hanya pas-pasan saja. Kami tanamkan pengertian ke dalam dada anak-anak muda ini, bahwa kejujuran adalah di atas segalanya.
Kian dekat ke UN, bimbingan semakin ditingkatkan intensitasnya. Setiap kelas dibimbing oleh 3 guru sekaligus., agar setiap anak dapat terlayani dengan baik.
Sampai sebulan terakhir, aku perhatikan anak-anak sudah makin sulit tertawa saja. Ekspresi mereka serius, tegang, khawatir. Kami para guru telah berupaya dengan segala cara mengurangi tingkat stress anak-anak dengan mengajak mereka main futsal pada sore hari, jogging, main basket bareng, nyanyi -nyanyi dan main musik di ruang musik, nonton film ... Mereka sangat senang dengan semua selingan itu. Namun semua kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Wajah mereka dengan cepat kembali tersaput awan manakala mereka harus kembali belajar. Mereka tetap merasa cemas, karena hantu yang nyata, belum mereka taklukkan.

Tak hanya bimbingan belajar yang kami berikan, bimbingan ubudiyahpun terus kami lakukan dengan penuh rasa ikhlas dan empati yang mendalam terhadap anak-anak ini. Tak semalam pun mereka lewati tanpa mendirikan sholat Lail. Munajat diiringi isak tangis dan linangan air mata, kerap aku saksikan seusai sholat-sholat fardu mereka. Intensitas ibadah terus ditingkatkan. Setiap hari tadarus Al Quran tak pernah terlewatkan, sholat sunah ditegakkan, shaum sunah, bahkan ada diantara mereka yang melaksanakan shaum Daud. Anak-anak ini, tak seperti anak-anak seusianya yang sehabis sholat langsung berdiri lantas berlari, duduk berlama-lama berdoa mengangkat tangannya, memohon pertolongan dari Allah. Karena mereka sadar betul, takdir mereka di UN benar-benar ada di tangan Allah.
Dan puncaknya, kemarin kami meliburkan siswa kelas X dan XI. Pada malam hari menjelang kepulangan anak- anak ke rumahnya masing_masing, kami menggelar doa bersama di Masjid sekolah. Suasana malam yang syahdu ditambah gerimis yang turun sejak sore, menambah kekhusyukan doa kami malam itu. Ayat-ayat suci dilantunkan, nasihat-nasihat disampaikan, doa-doa dipanjatkan. Tak seorangpun di antara kami, seluruh murid dan guru, juga orang tua yang hadir, yang tak menitikkan air mata haru. Betapa kami telah memasrahkan segalanya hanya kepada kehendak Allah semata. Para guru telah ikhlas bekerja keras siang dan malam, dan anak-anak telah belajar dengan sekuat tenaga mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk menguasai pelajaran. Kami telah berusaha dengan seluruh kesabaran kami, kami telah bertawakal, dan hanya Allah lah yang maha memutuskan. Dan kami berharap, segala jerih payah kami akan berbuah keberhasilan.

Seusai berdoa, siswa kelas XII menyalami guru satu persatu dan memohon doa restu agar berhasil dalam UN. Sungguh tak kuasa aku menahan jatuhnya air mata, ketika satu persatu anak-anak yang telah kubimbing selama 3 tahun ini menyalamiku, memohon maaf, dan memohon doa restu. Oh, tentu saja, tanpa dimintapun, aku sudah memaafkan mereka dan akan selalu mendoakan yang terbaik bagi mereka.
Selamat berjuang anak-anakku ! Hadapi UN dengan berani dan jujur ! Semoga Allah SWT akan mengabulkan semua doa-doa yang telah dipanjatkan, memberikan kemudahan , dan membalas segala kesabaran dan keikhlasanmu, dengan kebaikan yang berlimpah, amiin ...
(Meremang bulu kudukku, mengenang anak-anak di sekolah-sekolah di pedalaman terpencil yang serba minim fasilitas. Mungkinkah mereka mendapatkan pembinaan seintensif itu ? Tabahkan hatimu, anak-anak Indonesia !)

Salam sayang,

Anni, Sukabumi