Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Saturday, March 20, 2010

NGERUJAK YUUUK .... !

Kalau aku ditanya, " Makanan apa yang paling aku sukai, namun harus paling aku jauhi ? " maka jawabannya hanya satu : RUJAK !
Rugi betul. Padahal Rujak adalah makan yaang rasanya sangat enak, menyegarkan, dan bikin ketagihan. Sayang, aku memiliki perut yang sangat sensitif. Kena asam atau pedas sedikit saja, dokter urusannya. Maklumlah faktor usia. Dulu waktu aku masih lebih muda, apalagi sewaktu masih kanak- kanak dan remaja, aku paling doyan makan rujak yang rasanya super pedas, bahkan dalam keadaan perut kosong sekalipun. Tapi nggak ngaruh tuh. Sehat walafiat saja, sama sekali nggak lantas jadi mules-mules ...

Negeri kita yang beriklim tropis sungguh kaya dengan hasil buah-buahan. Tengoklah jenis buah-buahan tradisional, khas Indonesia yang dijajakan di setiap sudut jalan, di pasar atau sesekali di supermarket. Sangat beragam. Buah-buahan asli Indonesia sungguh tiada duanya : Mangga , Jambu Biji, Jambu Air, Belimbing, Duku, Salak, Nangka , Durian, Jeruk, Rambutan, Manggis, Pisang, Nenas, Pepaya, Sawo, begitu melimpah ruah. Dan masih ingatkah anda akan buah-buahan yang kini semakin langka dijumpai di pasaran, semisal buah
Wuni ( huni ), Gowok, Delima, Langsat, , Ceremai, Sawo Belanda yang menguningkan gigi, Jamblang yang membirukan lidah, Kecapi, buah nona, Lobi-lobi yang asamnya ajib, atau Kesemek si buah berbedak ? Semua buah-buahan itu, sangat mempesona para turis asing asal negara yang beriklim beku, dan mereka menyebut buah-buahan itu sebagai buah-buahan yang eksotis ! Beberapa jenis buah - buahan itu sangat pas dan sedap untuk diolah menjadi Rujak.

Hampir di setiap sudut jalan kita dapat menemui penjual rujak dengan gerobak berkacanya. Biasanya untuk penjual rujak keliling ini, bumbu rujaknya telah mereka olah terlebih dahulu, dan mereka simpan di dalam toples kaca sehingga tidak perlusetiap saat mengulek lagi. Supaya buah-buahannya tetap segar dan dingin, mereka meletakkan gumpalan es batu diantara buah-buahan itu. Jaman dulu, orang makan rujak dengan alas/ bungkus daun pisang, dan sepotong lidi sebagai pengganti sendok. Sekarang abang penjual rujak menyediakan kertas pembungkus berwarna coklat, atau bisa juga dengan plastik bening, masih dengan lidi atau rautan bambu yang dipotong agak panjang, sebagai pengganti sendok.

Membuat bumbu rujak sangat mudah. Hanya terdiri atas campuran cabe merah, cabe rawit, gula merah, terasi, asam jawa, garam. Kalau rasanya ingin lebih enak, bisa ditambahkan kacang tanah goreng dan beberapa iris pisang kelutuk yang masih mentah. Ukuran pedas atau tidaknya, tergantung dari berapa banyak cabe rawit yang ditambahkan ke dalamnya. Kemudian semua bumbu itu diulek dalam cobek batu. Nah, masalahnya, jaman sekarang ini tidak semua ibu-ibu bisa ngulek dengan baik. Biasa pakai blender sih. Padahal bumbu rujak akan berasa aneh kalau dihaluskan dengan blender. Harus diulek, baru sip !

Sebetulnya buah-buahan apapun bisa saja diolah menjadi rujak. Namun biasanya para pedagang rujak hanya memilih buah-buahan jenis tertentu saja untuk rujak buatannya. Mereka hanya memilih Mentimun, Bengkuang, Ubi merah mentah, Kedongdong, Nenas, Jambu air dan Mangga Mengkal. Semua buah-buahan itu diiris tipis-tipis, tapi mengrisnya nggak boleh pakai talenan, harus langsung diiris di tangan. Kemudian dicampur dengan semua bumbu yang sudah dihaluskan. Nah, jadi deh seporsi rujak buah-buahan segar yang berwarna coklat kemerahan, berasa manis, pedas, asam .... hmmmm enaaakkk ... 
Selain rujak ulek, masih ada beberapa jenis rujak yang kita kenal, semisal Rujak Serut, Rujak Malaysia, Rujak Cuka, Rujak Cingur, Semuanya berasa sedap dan menyegarkan. Namun ada satu rujak yang tak kan kulupakan, karena cara membuatnya yang jorok, dijajakan oleh pedagang yang juga terlihat jorok, tapi rasanya .... hmmmm ... mak nyuuss deh ... Harganya juga super murah.
Ya. Apalagi kalau bukan Rujak Bebeg. Coba deh lihat pedagangnya. Jorok banget. Pikulannya dekil, alat-alatnya kotor, lumpang (alat penumbuk) nya terlihat seperti yang nggak pernah dicuci, pisaunya kotor, buah-buahannya kotor, tangan si Abangnya kotor juga. Abis gitu, pas bikinnya semua buah-buahan dan bumbunya kan ditumbuk bersama-sama dalam lumpang kayu itu. Eh itu si Abang, bukannya numbuk sambil duduk manis, ini malah sambil jongkok. Trus kan buah-buahan yang ditumbuk itu muncrat kemana-mana, termasuk ke celana dan baju si Abangnya. Pas sudah selesai, si Abangnya berdiri dan mengibas - ngibaskan cipratan itu dari celana dan bajunya. Masuk nggak percikan-percikan kotor itu ke dalam lumpang ? Ya iya lah, masak ya iya dong. Kemudian semua ramuan hancur remuk yang berwarna merah hijau kuning coklat nggak jelas itu, dimasukkan dengan sendok lebar yang kotornya aduhai, ke dalam pincuk daun pisang. Dan si pembeli mendapat bonus lipatan kecil daun pisang sebagai pengganti sendok. Gimana ? jorok banget kan ? tapi rasanya ? enak bangeeettt ... !! pokoknya, makin jorok, makin enak deh .. hehe ... dasar jorok ya ...
Dulu waktu jaman SMA, kadang kalau sedang belajar kelompok, tuan rumah menyediakan secobek rujak sebagai teman mengerjakan soal -soal Fisika yang jlimet. Nah kalau sudah begini, makan rujak sambil becanda jadi nomor satu, belajarnya sih belakangan, itu juga kalau nggak kesorean ...
Konon penggemar utama rujak adalah kaum perempuan. Entah benar atau tidak.
Kaum perempuan yang sedang hamil muda, biasanya sangat gemar makan rujak. Keinginan makan rujak ini sering timbul dengan tiba-tiba dan tak kenal waktu. Paling repot kalau ngidam rujaknya pas malam hari. Nah suaminya pasti kerepotan mencari rujak ke sana - kemari. Mana ada orang berjualan rujak di malam hari, bukan ? Padahal menurut kepercayaan, keinginan ini harus dituruti karena jika tidak akan berakibat buruk pada jabang bayi yang dikandung.

Aku punya sedikit cerita nih. Dulu, jaman Batavia masih diperintah oleh JP Coen, sang Meneer itu punya dokter pribadi yang bernama Jacob de Bondt alias Bontius yang resminya bekerja untuk VOC. Dokter ini sering menuding rujak sebagai biang keladi jatuh sakitnya para pelaut VOC yang tiba di Batavia. Para petualang yang telah berbulan-bulan berada di tengah laut dan kekurangan makanan segar ini, kerap menjadi kalap manakala tiba di Batavia dan melihat limpahan buah-buahan yang baru pertama kali mereka lihat seumur hidupnya. Dan selanjutnya mudah diterka. Mereka menyantap buah-buahan itu dengan berlebihan alias rakus. Padahal tidak semua buah-buahan itu cocok dengan perut orang Eropa. Apalagi jika buah-buahan itu telah diolah menjadi rujak yang berasa asam pedas. Ya jelas saja, jatuh sakitlah mereka. Dari mulai sakit mules - mules biasa, sampai diare, disentri, tifus, bahkan kolera. Tak sedikit diantara mereka yang menemui ajalnya gara-gara kerakusan mereka sendiri. Hemh ... Rujak kok dilawan ...

Jaman boleh mengglobal, selera boleh menginternasional. Tapi Rujak tetap tak tergeserkan dari daftar makanan favorit orang Indonesia. Sekarang ini cuaca sudah semakin tidak jelas saja. Dibilang musim kemarau, masih sering turun hujan. Dibilang musim hujan, kadang berhari - hari kering kerontang. Nah kalau cuaca sedang panas, anda merasa gerah, migren, suntuk dan sebal dengan kungkungan pekerjaan yang itu-itu saja, keluarlah sejenak, atau minta tolong OB untuk membeli sepiring rujak untuk anda santap bersama teman. Nggak asyik kalau makan rujak sendirian. Dijamin deh, semua perasaan nggak enak dan kesal itu akan jauh berkurang ...
Jadi ? Ngerujak yuuuk ... ssshhhaaah ... pedaaasss ...

Salam sayang,
anni