Sudah lama sebetulnya saya berfikir tentang nama-nama kampung di daerah Jawa Barat tempat saya tinggal. Sejauh yang saya tahu, masyarakat Jawa Barat atau masyarakat Sunda sangat mencintai lembur (kampung halaman) nya. Di kampung – kampung yang terpencil di kaki gunung, di pinggiran kota, atau di pesisir pantai inilah, pusat kehidupan orang Sunda bermuasal. Dari sinilah karakter khas orang Sunda semisal ramah tamah, cerdik, berpenampilan gaya, pandai mengatur uang, kreatif, nyeni, suka bersantai-santai, terbuka, senang bekerja, senang mengolah makanan, susah mengucapkan huruf F , dll, bermula
Masyarakat Suku Sunda memiliki falsafah hidup yang tak terlampau rumit jika dibandingkan dengan falsafah yang dimiliki suku-suku lain di Nusantara. Didukung oleh kekayaan alam Jawa Barat yang terkenal melimpah, falsafah hidup yang simple itu membuat masyarakat Sunda termasuk masyarakat yang cepat memperoleh kemajuan di negeri kita ini. Salah satu falsafah hidup yang sangat dipegang adalah konsep “ Silih asih, silih asah, silih asuh “ ( Saling menyayangi, saling mencerdaskan, saling menjaga ). Konsep ini tercermin dalam budaya Sunda yang mewujud dalam peri kehidupan mereka sehari – hari.
Orang Sunda itu lucu, suka membanyol. Guyonan yang dilontarkan lucu banget. Yang mendengarkan tertawa terpingkal-pingkal sampai mules perut kita dibuatnya, namun yang melontarkan banyolan adem ayem saja, masang tampang cool ,he he .. Kebiasaan membanyol itu terbawa juga sampai ke pemberian nama tempat atau nama daerah yang terdengar kocak. Coba deh jalan ke daerah Sukabumi. Di sana akan ditemui nama kampung Ciburayut, Nyangkewok, Pasir Jeding, Kebon Bra. Saya bukan orang Sunda, tapi mendengar namanya saja saya sudah tersenyum, apalagi jika tahu artinya, he he …
Masih banyak nama-nama aneh dan lucu yang bertebaran di seantero Jawa Barat. Di dekat Tasikmalaya, ada kampung bernama Nengtet, Nangewer. Di daerah lain ada nama kampung Ciburahol, Legok Hangseur, Cigeol, Ciubrut, Ciromed, Pasir Demplu, Legok Ewor, dll nama yang terdengar unik dan lucu.
Kadang penduduk kampung tsb, terutama yang sudah lebih berpendidikan dan sudah mengecap kehidupan modern, merasa risih atau malu dengan nama kampung nya itu. Pernah ada beberapa upaya yang dilakukan baik oleh kepala daerah atau tokoh masyarakat setempat untuk mengubah nama kampung atau daerah dengan nama yang lebih moderen dan berkonotasi positif. Ada yang berhasil, banyak juga yang gagal karena penduduk setempat masih lebih suka dengan nama asli kampung mereka.
Nama kampung, desa atau daerah, sangat berkaitan erat dengan sejarah dan budaya masyarakat di tempat itu. Nama-nama lucu yang saya sebutkan dalam tulisan ini, hanya segelintir contoh tradisi lisan masyarakat Sunda yang komunal dan agraris. Beginilah antara lain cara nenek moyang suku Sunda mewariskan tradisi dan nilai-nilai kepada generasi penerusnya. Dengan cara yang sederhana, mudah diingat, dan dibumbui humor, dengan harapan anak-anak muda pewaris zamannya mudah mengingatnya sampai kapanpun. Jangan dikira dibalik nama-nama yang lugu dan lucu itu tak terkandung nilai-nilai kehidupan yang luhur. Jika kita mau menggalinya, tentulah akan ditemui banyak sekali pelajaran kehidupan yang sangat berharga yang dapat kita teladani hingga hari ini.
Jadi teman-teman, mumpung anak-anak masih libur sekolah, yuk ajak keluarga jalan-jalan menyusuri perkampungan dan pematang sawah di luar kota besar yang ramai dan temukan berbagai keunikan di sana. Selamat mencintai tanah air Indonesia !
Salam sayang,
anni - Sukabumi




0 comments:
Post a Comment