Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, July 18, 2011

ups ...! Apaan tuh yang Nemplok di Helm ???


Saya pernah punya pengalaman unik yang cukup menggelikan, ketika beberapa tahun yang lalu berkesempatan menjadi anggota rombongan pengantin yang mengantar mempelai pria ke tempat mempelai perempuan. Kebetulan akad nikah dan resepsi pernikahan itu dilaksanakan di rumah mempelai perempuan yang terletak di sebuah gang yang lumayan sempit dan berliku. Ketika itu kami harus membawa berbagai barang bawaan untuk dipersembahkan kepada mempelai perempuan. Semua barang bawaan itu dikemas seperti kado atau dibentuk semacam itulah, agar penampilannya cantik dan terkesan mahal. Ada yang bertugas membawa barang pecah belah, ada yang diminta membawa selimut tebal yang dibentuk seperti angsa. Ada yang disuruh membawa sepatu dan tas, seperangkat alat kosmetik, bahkan ada juga yang bertugas membawa kompor gas (bayangkan !). Saya waktu itu kebetulan diminta membawa kue tart yang warna dan aromanya bikin lapar, maklum dari pagi belum sempat sarapan. Rombongan pengantin laki-laki kurang lebih berjumlah 50 an orang, berbaris rapi memanjang. Di sepanjang jalan kami ramai mengobrol sambil diam-diam tak henti-henti cekikikan mentertawakan salah satu keponakan laki-laki yang sudah bujangan tapi ketiban sial disuruh membawa bingkisan berupa celana dalam dan bra ! sampai salah tingkah dia dibuatnya ;)

Sesampainya di gang dekat rumah pengantin perempuan, kamipun harus berhenti, menanti serangkaian ritual adat yang asyik juga buat ditonton, meski terkesan lebay. Ada pidato dalam bahasa Sunda yang menurut saya tentulah berisi ucapan selamat datang, ada rentak tetabuhan gamelan Sunda yang diikuti tarian selamat datang oleh serombongan mojang Bandung tetangga si Eneng pengantin yang heudeuh cantik-cantik banget ! ada juga acara pengalungan rangkaian bunga kepada mempelai laki-laki, dan seterusnya, yang saya piker cukup ribet mengingat lokasi pernikahannya terletak di gang sempit.

Nah, selama upacara adat penyambutan tamu berlangsung, kami anggota rombongan belum dipersilahkan duduk di kursi undangan, melainkan harus berbaris menunggu di gang depan rumah pengantin. Sembari menunggu itulah, sebuah kejadian lucu berlangsung. Di sepanjang dinding yang memagari gang itu, kami melihat deretan jemuran pakaian, bergelantungan tak beraturan. Segala macam pakaian ada di tali jemuran yang merentang sepanjang gang senggol itu. Dari selimut flannel bayi, popok, daster, handuk, jaket, jeans, kemeja, seragam sekolah, sampai aneka celana dalam pria dan wanita anak-anak dan dewasa, bergantung dengan bebasnya hanya beberapa jengkal di atas kepala kami.

Kebetulan ikut dalam rombongan kami, segambreng keponakan laki-laki ABG yang bandel-bandel dan norak-norak. Nah mereka inilah yang membuat ulah selama kami diharuskan menunggu itu. Dengan iseng dan jailnya, mereka membaca satu persatu merek-merek baju dalaman yang ada di atas kepala mereka. Dari barisan belakang terdengar “MONALISA ! “ , lalu disahut oleh seseorang di depannya “ SWAN !”, lalu .. “Crocodile ! “, “SONY !”, “ CEMPAKA …!”, “GT-Man”, “Poison Lady ..!”, “HINGS…!”, begitu seterusnya nama-nama merek celana dalam dan bra di baca keras-keras diiringi cekikikan anak-anak bandel itu. Kami yang dewasa, tak kuasa menegurnya, karena percuma saja,teguran kami hanya dianggap angin lalu. Akhirnya kamipun terbawa cekikikan berjamaah menyaksikan aksi kocak anak-anak abege itu. Untung saja kekisruhan itu tidak sampai mengganggu jalannya upacara adat, he he ...

Bagi teman-teman yang tinggal di apartemen atau condominium atau hunian mewah sejenisnya, mungkin tak akan pernah menyaksikan berseliwerannya tali jemuran yang kadang direntang sangat rendah dekat dengan kepala para pejalan kaki. Berbeda dengan kami yang tinggal di kompleks perumahan BTN yang biasa saja, atau yang tinggal di gang-gang di kota-kota besar yang padat penduduknya. Setiap hari kami terpaksa harus menyaksikan barisan jemuran yang merentang dari Sabang sampai Merauke sambung menyambung seolah tak ada putusnya. Sangat mengganggu pemandangan dan pengendara motor ! Saya pernah menyaksikan seorang bapak pengendara motor, harus menghentikan motornya, gara-gara ada bra yang nyangkut di bagian depan helm nya. Kebayang kan betapa risih dan jengahnya si Bapak yang malang itu, harus berkutat dengan bra entah milik perempuan mana, dan masih harus menggantungnya kembali ke tali jemuran ?

Lahan yang sempit di kota-kota besar, memang membuat para ibu harus berfikir keras mencari akal bagaimana caranya agar cuciannya dapat kering terjemur. Karena tak punya lahan untuk menjemur, ya apa boleh buat, dinding sepanjang gang lah yang menjadi sasaran area penjemuran, atau kalau tidak ya mengambil space gang untuk menaruh rak jemurannya, yang tentu saja dapat mengganggu para pengguna gang. Juga menjadi pemandangan yang sangat biasa, pagar-pagar rumah di sepanjang gang bahkan rumah-rumah yang berlokasi di pinggir jalan besar, dihiasi dengan sederet jemuran yang sangat mengganggu pemandangan, tak peduli rumahnya jelek atau bagus.


Menjemur pakaian, tentu saja adalah hak asasi manusia. Baju basah habis dicuci kalau nggak dijemur,trus gimana dong ya nggak ? masalahnya, pantas atau tidak cara menjemurnya. Etis atau tidak jika baju dalaman yang merupakan benda pribadi, direntang diekspos sedemikian rupa di ruang publik. Kalau dalaman itu masih baru, masih bagus, mungkin agak mendinglah. Tapi ini, kadang-kadang bentuknya sudah nggak keruan, sudah bolong disana sini, dan sudah keriting juga, sampai geli ngeliatnya! Nggak semua orang yang melihat dalaman perempuan itu, bersih dan sehat lho jiwanya ! ada juga orang berpenyakit jiwa yang mendapat kepuasan seksual hanya dengan memandang celana dalam wanita, bukan ? bagaimana, mau celana dalam anda menjadi media pemuas nafsu syahwat laki-laki yang kurang waras gara-gara anda sembarangan dan sembrono menjemurnya ?


Saya hanya bisa menyarankan, jika terpaksa menjemur pakaian di luar rumah, atau lebih parah lagi di ruang publik, maka jemurlah pakaian dalam anda di deretan terdalam dekat dengan dinding, terlindung oleh pakaian di rentang tali jajaran kedua, atau di sela-sela pakaian yang besar, agar tidak menarik perhatian para pengguna jalan. Begitu juga dengan menjemur di pagar rumah, sebaiknya pakaian dalam tidak dipampang bebas di tiang pagar, karena nggak enak dilihat orang. Sementara saran saya buat pemerintah, terus terang tidak ada karena percuma saja. Jangankan soal remeh temeh seumpama jemuran, soal yang besar-besar saja tidak selesai kok ! nambah-nambah masalah saja. Jadi mari kita urus saja jemuran kita sendiri-sendiri, agar tidak malu dilihat orang, dan tidak pula menjadi sasaran kejahatan si panjang tangan alias maling jemuran !

Selamat mencuci dan menjemur dengan tertib !

**********


Salam sayang,

anni - Sukabumi