Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, July 18, 2011

Tante Tan dikata-katain Cina ...!

Pagi baru saja beranjak siang di Sabtu yang cerah. Aku mendapati diriku berdiri dalam antrian di toko kue Tante Tan. Kue buatan tante Tan memang istimewa. Lezat,lembut, enak dipandang, dan ini yang penting : murah meriah !
Setiap pagi toko ini tak pernah sepi pembeli.Kesiangan sedikit, pasti tak akan kebagian kue-kue yang masih hangat, harum, dan segar itu.


Sedang asyik-asyik mengantri begitu, tiba-tiba kudengar decit sura rem mobil yang berhenti mendadak di trotoar depan toko kue. Dari dalam mobil, turun seorang nyonya yang sekilas kulihat dari penampilannya saja pasti orang kaya. Mewah, glamor, wangi, mobilnya saja termasuk mobil mewah. Semua orang yang ada di toko menengok ke arah nyonya yang kurasa sudah berumur sekitar 50 tahunan itu. Lalu .. woow, tiba-tiba saja dia menyeruak antrian, dan menyerobot maju sampai berdiri di depan etalase. Oh Ow .. another uneducated rich people, aku berpikir begitu.
Ada beberapa pengantri yang menegur dan menyatakan penolakannya, namun aku diam saja memilih bersabar (hitung-hitung melatih kesabaran kalau nanti harus ngantri toilet di Arafah pada saat pergi haji, he he ..). Tapi nyonya mewah itu bergeming ! dia pasang muka tembok, alias cuek bebek. Pokoknya alay deh.

Dan sodara-sodara, mari kita lihat gayanya ! dia memerintah tante Tan dan pelayan lainnya untuk segera membungkus kue-kue pesanannya. Dia pesan kue banyak sekali, setiap macam ada kali 30 biji, entahlah mungkin buat nyuguhin arisan ibu-ibu penting . Dan selalu di setiap pesanannya, tak lupa dia membubuhkan kalimat " Cepetan, Nggak pake lama !! " , jiaaahh si Boss gaya banget ! seolah dunia milik mbah kakungnya !

Menyaksikan adegan itu, para pengantri yang kini berubah posisi menjadi para penonton alias pemirsa, ada yang geleng kepala, ada yang bermimik masam, ada juga yang tertawa ditahan (nah yang ini termasuk saya ).
Pemandangan itu termasuk pemandangan lucu ku kira, karena serasa mendapat tontonan gratis akting nyonya jutek di sinetron-sinetron televisi. Tapi, ketika saya disuguhi adegan berikut ini, saya sudah tidak dapat berdiam diri lagi .

Kejadiannya seperti ini : ketika si nyonya itu terus menerus menyebutkan pesanannya dengan suara keras agak membentak dan harus dilayani secepat kilat, Tante Tan berkata, " iya bu, sabar sebentar yaa .. " . Kukira wajar bukan, Tante Tan ngomong kaya gitu ? karena kalau saya jadi Tante Tan, saya juga pasti bakal berkata seperti itu. Dan reaksinya sungguh di luar dugaan ! Nyonya sombong itu sontak mengacungkan telunjuknya yang runcing berkuku tajam ke hidung Tante Tan, sambil menghardik , " Heh ! dasar CINA kamu ! kamu kan cuma numpang di Indonesia ! negara ini milik orang Indonesia, bukan CINA macam kamu !! "


Astaghfirullah ! benar-benar keterlaluan ! kulihat wajah Tante Tan yang malang itu mendadak pucat pasi, dan bibirnya bergetar tak sanggup berbicara sepatah katapun. Dia cuma bisa berbisik lirih, " iya maaf bu ! "

Dan bukan Puji Nurani yang terkenal jutek (biarpun juteknya dulu waktu masih kecil, hehehh ..) kalau tidak bertindak. Tanpa berpikir panjang, aku langsung maju, dan mendekati nyonya itu,sambil berucap tegas, " Bu ! saya tidak peduli siapa ibu! tapi kelakuan ibu sangat tidak sopan ! seenaknya saja nyerobot antrian, berteriak-teriak, terus menghina lagi ! memangnya saya takut sama ibu ??!! . Sekarang cepat bayar kue itu, dan selesaikan urusan ibu, bukan cuma ibu yang mau beli kue !"

Mendengar hardikanku, si ibu itu terbelalak namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Buru-buru dia membayar pesanannya lalu kabur dari toko itu diiringi teriakan mengejek dari ibu-ibu yang mengantri. Sesaat kemudian toko kue itu ramai oleh gumaman ibu-ibu pengantri tentang kelakuan menyebalkan si nyonya kaya, dan sebagian lagi menghibur Tante Tan yang tertunduk lesu. Kasihan banget Tante Tan, nggak ada hujan nggak ada angin, tau-tau dikata-katain cina ! Padahal beliau sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali ada di Indonesia, tepatnya di Sukabumi. karena sejak jaman nenek moyangnya sudah tinggal di sini, dan dia sudah merasa jadi orang Sunda.Sambil meneteskan air mata dan melayani pesanan pembeli, dia mengatakan bahwa dia tidak pernah merasa sebagai orang keturunan Cina, kalau saja namanya bukan Tan, dan kulitnya tidak berwarna kuning dan matanya tidak sipit. Dia merasa asli orang Sukabumi ! saya percaya saja, karena Tante Tan ini kalau berbicara dalam bahasa Sunda, bahasanya sungguh halus, melebihi teman-temanku yang asli Sunda ! Lagi pula, kalau memang tante Tan beneran Cina, trus  kenapa ? memangnya kita bisa memilih terlahir sebagai keturunan apa ? enggak kan ..

Kejadian ini baru pertama kali ini saya alami, dan cukup membekas di hati saya. Entahlah, apa yang mendorong saya tiba-tiba bertindak seperti itu. Serasa ada ketidak adlilan di depan mata saya, yang saya harus melawannya. Bukan semata-mata karena Tante Tan yang baik hati itu adalah tukang kue langgananku, tapi lebih dari itu, ada peristiwa rasisme yang sangat kubenci, berlangsung di depan mataku, dan kurasa sungguh terlalu jika dibirkan saja. Selama ini memang sering kudengar berita-berita tentang rasialisme, atau perlakuan diskriminatif terhadap golongan tertentu, namun itu sebatas kulihat di TV, membaca di koran, dsb, jadi belum pernah kulihat secara langsung seperti ini. Coba deh, kalau teman-teman yang mengalami kejadian ini, saya berani bertaruh, teman-teman juga pasti bakal marah. Buktinya, semua ibu-ibu yang ada di toko itu, marah sama nyonya rasialis itu.

Saya rasa, bukan salah Tante Tan kalau dia dilahirkan dari keluarga keturunan Cina, dia kan nggak bisa milih ingin dilahirkan di keluarga mana, sebagaimana halnya saya yang tak memilih ketika di lahirkan di keluarga Jawa, anda di keluarga Sunda, Batak, Minang, dari keluarga Muslim, Nasrani, Hindu, dan sebagainya. Allah yang menentukan semua itu bagi kita. Lalu, apa hak kita untuk menghina latar belakang keluarga seseorang, hanya karena dia berbeda dari kita ? Berasal dari keluarga apapun, menurut saya itu bukan persoalan kita. Yang jadi persoalan justru adalah, mengapa di jaman yang serba moderen begini, di era yang serba demokratis dan egaliter begini, masih saja ada orang yang punya alam pikiran rasist, seperti penghuni abad pertengahan saja ? Namun saya pikir, saya tahu jawabannya : pasti karena dia nggak ngerti agama, dan nggak makan sekolahan ! cape dee .. !



Say NO to RACISM !

anni, Sukabumi