Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, July 5, 2013

Gagal KB ? Ya Sudah, Terima Saja :)

Setiap kali saya memperhatikan putri bungsu kami yang sekarang sudah naik ke kelas XI SMA, selalu saja ada perasaan berdesir yang bercampur aduk di dalam hati saya. Masih lekat dalam ingatan ini, betapa saya tidak menyadari saat saya mengandungnya 16 tahun yang lalu.

Ketika melahirkan si sulung, sebulan kemudian saya memutuskan untuk ikut program KB dengan cara memasang alat kontrasepsi berbentuk Copper -T di rahim saya. Saat itu saya tidak mendatangi dokter kandungan, karena saya malas menunggu  dalam antrian yang berderet panjang. Akhirnya saya memilih memasang alat kontrasepsi itu di Bidan yang rumahnya bertetangga dengan tempat tinggal kami di daerah Bandung Utara.

Saya sangat percaya pada Ibu bidan ini, karena selain namanya cukup terkenal , beliau juga sudah senior, profesional, dan sangat terampil dalam menjalankan tugasnya. Adik saya dan anggota keluarga saya yang lainpun banyak mendapat pertolongan ibu Bidan ini saat memeriksakan kehamilan, saat menjalani persalinan, dan saat memasang alat kontrasepsi. Semuanya berjalan dengan baik dan lancar.

Lho KB kok Hamil ? 

Belum genap dua tahun saya mengikuti program KB, saya merasa ada yang janggal dalam tubuh saya. Awalnya saya tidak mendapat haid selama dua bulan berturut-turut. Tapi saya tidak curiga. Saya pikir, mungkin itu hal yang biasa. Karena lelah mengurus si sulung yang masih bayi berusia 15 bulan, akibatnya haid jadi terganggu. Sama sekali tidak terpikirkan kemungkinan hamil.

Namun setelah memasuki bulan ketiga dan saya tidak juga mendapat haid, saya mulai merasa tidak enak. Badan rasanya nggak karuan, pegal, panas, lemas, panas dalam, pokoknya nggak nyaman deh. Lalu saya berinisiatif membeli kapsul jamu lancar haid. Ini adalah jamu yang dilarang keras diminum oleh orang yang sedang hamil, karena dapat mengakibatkan keguguran. Hal itu jelas tertera dalam penjelasan yang ada dalam karton kemasannya.
Sesampainya di rumah, saya langsung mengambil segelas air dan bermaksud meminum jamu itu. Tiba-tiba Suamiku bertanya,

” Ibu yakin mau minum jamu itu ? nggak nyoba ke lab dulu, atau periksa ke dokter, siapa tahu ada gangguan apa gitu ? jangan sembarangan minum obat dong ” . 

Mendengan kata-kata suamiku, sejenak aku tertegun. Aku pikir, benar juga kata-katanya.  Dan obat yang sudah ada dekat sekali dengan mulutku, urung kutelan, lalu kukembalikan lagi ke kemasannya.

Keesokan harinya, saya diantar suami pergi ke lab untuk pemeriksaan air seni. Tak membutuhkan waktu lama, saya segera mendapat hasilnya. ” Ibu positif hamil “, kata petugas laboratorium. Mendengar kata-kata itu, saya sangat terkejut, meski dalam hati sebetulnya saya sudah siap dengan kemungkinan itu. Tapi tetap saja, keterkejutan  itu saya rasakan juga. Saya sampai tak bisa berkomentar apa-apa, merasakan campur aduknya perasaan di dalam hati saya. Merasa sangat bodoh karena nyaris saja mencelakakan janin yang sedang saya kandung, merasa beruntung karena saya menuruti nasihat suami, sekaligus merasa heran, mengapa saya ikut KB tapi bisa hamil ? pokoknya perasaan saya waktu itu rame banget deh.
Ternyata saya sudah hamil 10 Minggu. Dan ketika saya konfirmasikan kehamilan saya pada bu Bidan, dia kaget banget, sampai terbelalak.

” Lho, kok bisa ya ?”, pasien saya belum pernah ada yang  seperti ini sebelumnya. Bu anni diapain sama suami ? kenapa bisa kebobolan ? “, tanya bu Bidan dengan mimik terkejut. Mendengar pertanyaannya yang bertubi-tubi itu, saya tidak menjawab cuma bisa nyengir aja. He he … (diapain sama suami ? wah sudah lupa tuh  ^^… ).

Bu Bidan sampai berkali-kali minta maaf sama saya. Dia merasa gagal, dan merasa kasihan sama saya, karena anak pertama saja masih minum ASI,  tapi harus hamil lagi.

“Nggak apa-apa kok bu Bidan, santai aja. Saya kesini mau memeriksakan kehamilan, bukan mau komplain sama bu Bidan. Soal saya hamil , itu namanya rezeki. Biar KB dengan cara apapun, jika Allah memang menghendaki, kalau memang harus hamil ya hamil aja “, kataku menenangkan bu Bidan yang terlihat kaget dan malu.

Hamil dengan alat kontrasepsi terpasang di rahim !

Semenjak itu, bu Bidan meminta saya untuk memeriksa kehamilan pada dokter kandungan, mengingat kasus kehamilan saya. Dari hasil pemeriksaan USG, ternyata diketahui alat kontrasepsi copper-T itu masih terpasang dengan manisnya di mulut rahim saya. Melihat itu dokter sampai tersenyum-senyum. Mungkin merasa lucu, karena rahim dikerangkeng kok masih juga  hamil.
Sampai 9 bulan kehamilan secara rutin saya dipantau oleh dokter kandungan, dan selalu diperiksa dengan alat USG, untuk mengawasi agar alat KB itu tidak sampai mengganggu perkembangan janin.
 
Waduhh, alat kontrasepsinya hilang !

Saat kehamilan memasuki bulan ke 9, pemeriksaan USG menunjukkan bahwa alat kontrasepsi copper -T itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. Dokter kandungan sampai tertegun. Ada raut kekhawatiran di wajahnya, saat menanyaiku ,

” bu anni nggak merasa ada sesuatu yang keluar saat buang air kecil atau buang air besar ? “Enggak Dok”, jawab saya.

Akhirnya dokter berpesan kepada saya agar setelah melahirkan, saya harus dironsen dari leher sampai ke rahim, untuk melihat apakah alat itu masih ada di tubuh saya ataukah tidak.

Saking suburnya, dipelototin aja hamil !

Saat melahirkanpun tiba. Saya mewanti-wanti Emak tukang urut tetanggaku, yang saya beri tugas mencuci ari-ari bayi dan kemudian menguburkannya, untuk membersihkan ari-ari itu dengan teliti, dan mencari apakah di sela-sela plasenta terselip alat KB ataukah tidak. Ternyata si Emak menjawab tidak ada apa-apa, bersih sama sekali.

Alih-alih menemukan alat kontrasepsi, si Emak menemukan sebuah “tanda” di tubuh ari-ari, entah berbentuk apa, yang menunjukkan tingkat kesuburan saya.

”  Neng anni teh meni subur pisan, tiasa gaduh putra 12 urang deui ( neng anni subur sekali. Masih bisa punya anak 12 orang lagi ) “, katanya dalam bahasa Sunda . Sotoy banget si Emak ini. 12 anak lagi ? waduhh … ?

Sebulan setelah melahirkan, sayapun menjalani pemeriksaan dengan alat ronsen, dan ternyata hasilnya tak ada benda asing di dalam tubuh saya. Artinya alat kontrasepsi copper-T itu entah dengan cara bagaimana yang tidak saya sadari, memang sudah keluar dari tubuh saya. Bagaimanapun, saya sangat lega mendengar hasilnya.

Ok kalau begitu acara berikutnya adalah ikut program KB lagi, dipasang alat kontrasepsi lagi. Tak sedikitpun terlintas rasa jera dengan kegagalan tempo hari. Dikasih rezeki, mengapa harus kapok, pikirku.

Kali ini saya memilih mendatangi dokter kandungan yang selama ini memantau kahamilan saya untuk melakukan pemasangan alat kontrasepsi. Tak memakan waktu lama, proses pemasangan alat kontrasepsipun selesai dilakukan.
Selama pemasangan, karena penasaran sama kebenaran omongan Emak tukang urut, saya bertanya pada dokter,

” Dok, memangnya saya subur banget ya dok ? “

dokterpun menjawab sambil bergurau,  ” Iyaa,  Bu Anni ini subur banget. Jalan masuk rahimnya lurus  nggak banyak lika- likunya, pantesan aja gampang hamil. Ibaratnya nih, cuma dipelototin doang, bu anni mah bisa langsung hamil ! “. 

He he … ada-ada aja nih dokter.  Untung saja dia nggak sampai bilang, ketuker sendal juga bisa bikin bu anni hamil lho ! :D

Akhirnya, karunia terindah :)

Tak sedikitpun saya menyesali kegagalan KB yang menyebabkan kehamilan kedua saya. Yang ada justru rasa syukur yang tak terhingga atas karunia seorang bayi perempuan montok yang sangat sehat dan lucu.

Kini hampir 16 tahun sudah berlalu. Bayi mungil itu telah bertumbuh menjadi gadis remaja yang  cantik, sehat, dan berprestasi di sekolahnya. Selma, begitu nama putri kedua dan bungsu kami. Dia berhati baik, lembut, dan taat beribadah. Suaranya sangat merdu ketika bernyanyi dan melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Teman dan sahabatnya banyak, karena Selma tak pernah berkeberatan untuk bergaul dengan siapa saja.

Sebagaimana Ufi putri sulung kami, Selma adalah hadiah teristimewa dalam kehidupan rumah tangga kami. Menjadi teman diskusi yang cerdas dan lugas, menjadi teman curhat yang lucu dan terpercaya, dan menjadi teman sejati dalam hidup saya.Betapa besar arti kehadiran anak-anak dalam kehidupan kita, bukan?

Demikianlah  kisah saya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa manusia hanya bisa merencanakan, namun Tuhan jualah yang akan menentukan apakah rencana kita itu akan berhasil ataukah tidak. Allah selalu memiliki rencana Nya sendiri yang jauh lebih indah dari yang kita pahami. Kadang kita berkecil hati tatkala rencana kita mengalami kegagalan. Namun jika kita bersabar dan tetap setia percaya kepada Nya, suatu saat kelak kita akan menyadari bahwa rencana kita itu sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rencana Allah bagi kita. Rencana yang lebih indah dan berharga. Nah, selamat mendidik dan menyayangi putra-putri tercinta ya teman-teman ..

Salam sayang, 

Anni