Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, July 11, 2013

Rindu Ibu, Rindu Masakan di Rumah



Setiap kali memasuki bulan suci Ramadhan, ibu-ibu yang keluarganya menjalankan ibadah puasa, tentu akan mulai disibukkan dengan merencanakan menu berbuka dan menu makan sahur. Ini adalah saat yang tepat bagi para ibu untuk memanjakan keluarga lewat lidah dan perut. Bagi ibu- ibu yang jago masak, serasa mendapatkan medan pembuktian. Sementara bagi ibu- ibu yang belum lihai memasak, sedapat mungkin berupaya mengolah makanan sendiri, meski hanya satu macam. Yang penting buatan sendiri, dan keluarga merasa senang. 

Masakan Ibu selalu nikmat. Benarkah ?

Entah dari mana asalnya, sangat sering kita mendengar ungkapan, “ seenak-enaknya makanan di restoran berbintang, atau di pesta-pesta pernikahan yang megah, atau bahkan dibandingkan dengan kuliner tersohor dari luar negeri sekalipun,   makanan negeri sendiri tetap lebih enak” . Dan pernyataan itu lebih dipersempit lagi dengan, ” makanan di kampung halaman tetap lebih sedap”, lalu masih dikerucutkan lagi menjadi, ” masakan ibu di rumah tetap paling nikmat “.

Benarkah memang begitu kenyataannya ? benarkah masakah ibu di rumah jauh lebih lezat dibanding masakan terlezat di dunia ? hmm … Mari kita telisik …
Seingat saya, saat kami kecil dulu, ibu selalu memasak sendiri makanan bagi kami sekeluarga.  Ibu bukan ahli masak apalagi jago masak sekelas chef di restoran ternama. Kemampuan masak Ibu saya biasa saja, cuma bisa masak makanan standar, semacam sayur bayam, sayur asem, sayur lodeh, soto, ayam goreng, ikan goreng,  nasi goreng, ya standar makanan yang biasa tersaji di meja makan orang Indonesia pada umumnya.

Tidak ada bumbu istimewa dalam masakan ibu saya. Racikan bumbu masakannya sama saja seperti racikan orang lain. Tapi rasanya itu lho, istimewa banget ! setidaknya menurut saya, kakak-adik saya, dan Ayah saya. Rasa masakan ibu saya itu gimana ya. Perpaduan antara sedep, khas, nikmat, enak, dan ini yang aneh : kangen. Bingung kan? mana ada rasa kangen dalam makanan ? .Tapi memang benar, menurut saya ada rasa kangen dalam makanan, ya masakan ibuku itu. Susah deh menjelaskannya. Pokoknya, kurang lebih  rasa yang selalu menimbulkan rasa ingin mencoba lagi dan lagi. Rasa yang selalu menimbulkan rasa ingin pulang.

Cara Memasak yang ” nggak neko- neko “

Kalau saya perhatikan cara ibu saya memasak, lebih tidak istimewa lagi. Ibu saya melakukan segalanya serba cepat, maklum anaknya banyak, jadi segala sesuatunya harus dijkerjakan secepat kilat. Misalnya nih, saat masak sayur Bayam. Bayamnya nggak dipetik setangkai demi setangkai seperti cara saya memasak, tetapi segenggam sekaligus, diseleksi mana yg tua dan berserat, dipetik dengan asal, dan selesai sudah 10 ikat bayam dipetik rapi. Lalu soal bumbu. Merajang, memblender, semuanya serba cepat. Begitu juga saat memberi garam dan gula, sama sekali tidak menggunakan takaran, semuanya serba feeling, pakai takaran perasaan saja. Tapi hasilnya, haduh, sayur bayam ternikmat dan terlezat sedunia ! perpaduan kelembutan daun bayam, manisnya jagung muda, segarnya kuah, tak ada duanya ! anak-anak yang pada nggak doyan makan sayur pun mendadak doyan makan sayur kalau dimasak sama ibu saya.

Tentu saja sekarang setelah menjadi ibu rumah tangga, saya mengcopy paste habis-habisan cara ibu saya memasak, tentu saja ditambah dengan modifikasi dan kreatifitas tertentu. menurut suami dan anak-anak saya, rasa masakan saya enak banget, meski menurut saya rasanya biasa-biasa saja, tak seenak masakan ibu saya.

Kadang saya berpikir, apakah pujian keluarga saya itu tulus, ataukah basa-basi semata ? namun setelah berulang kali melakukan uji coba, dan hasilnya sama saja, akhirnya saya berkesimpulan, masakan saya memang enak rasanya, setidaknya menurut keluarga saya. Uji coba ? ya saya melakukan uji coba. Begini caranya :

Setiap kali berkesempatan makan di luar dan mencicipi suatu menu tertentu di restoran, saya sengaja memesan satu menu yang sering disajikan di rumah sebagai pembanding, dan sebab saya ingin mendengar komentar mereka. Hasilnya, selalu ada komentar yang sama yang diucapkan suami dan anak-anak saya. Komentarnya adalah, ” Masih enakan ayam goreng buatan ibu “. Atau, ” sambal bikinan ibu lebih enak ” , atau, ” nasi gorengnya kok gini ya, enakan bikin di rumah “.

Nah itulah uji cobanya. Mendengar itu tentu saja saya merasa bersyukur dan tersanjung, karena keluargaku lebih menyukai rasa makanan yang saya masak sendiri.

Ini masalah suasana hati

Percayakah teman-teman, bahwa rasa masakan ibu di rumah jauh lebih nikmat daripada rasa masakan hasil racikan ahli masak di restoran ? ya tentu saja semua itu tergantung sejauh mana sang ibu memiliki kecakapan memasak, bukan ?  kalau si ibu nyeplok telor saja gosong, menggoreng ikan saja berbau amis, mana bisa rasa masakan ibu melebihi rasa masakan di restoran. Tapi sebaliknya, boleh jadi sang ibu hanya memiliki kemampuan masak biasa-biasa saja, namun menurut keluarganya rasanya lezat bukan main, koki saja kalah. Bagaimana ini ? sangat tidak rasional bukan ?

Sekarang saya tahu jawabannya. Ini bukan semata-mata masalah rasa, namun masalah hati, masalah kedekatan emosi, masalah suasana rumah yang penuh dengan kehangatan, yang mampu membangkitkan selera makan yang luar biasa, yang melebihi selera makan di hotel berbintang.

Suasana makan berkumpul bersama keluarga, sungguh tak tergantikan. Makanan apapun yang disajikan, sesederhana apapun menunya, selalu habis, licin tandas, hanya menyisakan rasa lega dan bahagia sang Ibu, karena hasil olahannya diterima dengan antusias oleh orang-orang tercintanya. Habis pupus semua rasa lelah, semua keringat yang deras mengucur selama berkutat di dapur.

Bukan hanya saya seorang rupanya yang selalu merindukan masakan ibunda tercinta. Merindukan sajiannya yang istimewa dalam kesederhanaan, yang luar biasa lezat dalam keterbatasan. Teman-teman saya pun, mengaku memiliki perasaan yang sama, selalu rindu masakan rumah, yang diracik dengan tangan-tangan yang digerakkan oleh rasa sayang kepada belahan jiwanya.

Dimana mendapatkan bumbu cinta ?

“Masakan bunda enak, karena pakai bumbu cinta”, begitu celoteh si kecil Nadine (4 tahun) putri sahabatku, mengomentari Nasi Goreng Keju masakan bundanya, yang  saya tahu persis, sang bunda yang masih terhitung pengantin baru itu, masih tersandung - sandung dalam soal memasak. Nah, ibu-ibu yang tidak lihai memasak saja mendapat pujian, apalagi ibu-ibu yang rajin memasak.   Sungguh lucu dan pandai sekali si kecil Nadine. Bumbu Cinta ya ? dimana gerangan kita bisa membeli bumbu cinta ? berapa harganya ? 

Tentu saja kita tidak dapat membeli bumbu cinta dengan mudah, karena memang bumbu cinta sangat sukar didapatkan dan dan sangat mahal harganya. Bumbu cinta letaknya jauuh sekali di dasar hati seorang bunda yang menyayangi keluarganya, dan mau bersusah payah mengolah makanan di dapur untuk disajikan kepada seluruh keluarga tercinta. Dan sangat mahal harganya, sebab hanya ibu spesial saja yang memilikinya. Dan Ibu spesial, sungguh tak dapat dinilai dengan harga seberapapun tingginya.

Mari teman-temanku yang cantik, para remaja putri calon ibu yang budiman, marilah kita memasak menu kegemaran keluarga. Tak apa sederhana, yang penting keluarga senang, perut yang lapar menjadi kenyang, dan hatipun menjadi riang. Memangnya siapa yang dapat menandingi kelezatan aroma dan cita rasa sup ayam hangat buatan ibu, di sore yang dingin berangin, dengan rintik gerimis di luar jendela, di saat berbuka puasa bersama keluarga ? 


Salam sayang, 

anni