Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, December 25, 2013

Lebaran Kristen : Toleransi Tanpa Banyak Teori



 1387886444740564654

Saya dibesarkan di tengah keluarga muslim yang taat. Namun keluarga besar kami tak hanya terdiri atas satu agama saja. Saya punya beberapa saudara yang berbeda agama dengan keluarga saya ( Ayah, Ibu, saya, dan kakak-adik saya ), baik dari pihak Ibu maupun dari pihak Ayah. Entah sejak kapan ada perbedaan agama di dalam keluarga besar kami yang mayoritas beragama Islam ini.  Mungkin sejak dua atau tiga generasi , atau barangkali sudah sejak seratus tahun yang lalu, entahlah. Yang jelas menurut ibu saya, nenek moyangnya adalah orang-orang yang sudah pergi haji, sementara beberapa saudara dekat kakek-neneknya tersebut ada juga yang berprofesi sebagai seorang pendakwah agama Kristen di kampung halamannya.


Sebetulnya famili kami itu (Bude, Sepupu, dll, ) bukan beragama Kristen, tapi Katholik. Karena di Indonesia Kristen identik dengan Protestan (cmiiw). Namun karena awamnya keluarga besar kami, semua orang yang pergi sembahyangnya ke gereja kami panggil Kristen saja, tak peduli mereka itu beragama Katholik atau Protestan.


Tak hanya beragama Kristen, yang tak punya agamapun ada di keluarga besar kami. Anggota keluarga besar kami itu, terutama yang sudah sepuh-sepuh, tak jelas beragama apa. Kata Ibu, mereka memang tak beragama tapi percaya pada Tuhan, alias penganut aliran kepercayaan. Karena kami berasal dari suku Jawa, maka aliran kepercayaan mereka adalah Kejawen. Sebuah ajaran kuno yang mengandung filsafat tinggi,perpaduan antara Hindu, Islam, dan kepercayaan animisme asli Jawa (cmiiw lagi).


Meski berbeda agama, namun kehidupan kami berjalan normal saja. Tak pernah sekalipun ada benturan keyakinan. Kami hidup rukun, guyub, dalam suasana penuh persaudaraan. Jika kebetulan kami berkumpul di rumah joglo milik Eyang Putri, suasananya selalu heboh penuh canda dan keceriaan. Tak pernah kami berdebat agama sampai ngotot. Kami hanya berdiskusi soal agama dengan saudara-saudara yang satu keyakinan saja. Kalaupun ada yang berbeda agama turut serta dalam perbincangan, itu pasti atas kemauannya sendiri.


Interaksi campur sari


Toleransi bagi kami adalah sebuah keniscayaan. Tak pernah diajarkan secara khusus, namun sangat dicontohkan. Itupun tak berlebihan, secara alamiah saja dalam keseharian. Kalau diingat-ingat, lucu juga mengenang cara kami yang berbeda keyakinan ini saling berinteraksi. Bukan hal yang aneh, saudara kami yang beragama Katholik mengucapkan kata  alhamdulillah, insyaallah, astaghfirullah,dll, dalam percakapan sehari-hari, seolah itu adalah kata-kata umum biasa saja, bukan istilah yang dalam agama Islam mengandung doa. Tapi yang paling saya ingat adalah interaksi saya dengan Joshua (nama samaran), kakak sepupu saya yang tinggal di Jakarta. Saat itu dia masih seorang calon pendeta.  Jika bertemu dengan saya, begini kurang lebih percakapan kami : 


” Hi Anni, assalamualaikum ! “.


” idih Pendeta kok assalamualaikum “, jawabku meledek.


“ Abis kalau pakai bahasa Indonesia, semoga keselamatan terlimpah atas dirimu, kan kepanjangan. Ya udah pakai assalamualaikum aja !. Lagian kamu bawel banget, tinggal jawab aja apa susahnya sih ?! “


” Hehehee … Iya deh, waalaikumsalam “.


” Apa kabar Mas ? “, tanyaku.


” Alhamdulillah, sehat !”, jawabnya sambil nyengir lebar.


” iih, tadi bilang assalamualaikum, sekarang alhamdulillah ! kreatif dong, ciptain sendiri kek …”, kataku meledek lagi.

” Lhahh ? alhamdulillah kan artinya puji Tuhan Allah ! ya sudah, apa bedanya ? Kristen juga menyembah Allah kok !


” hi hi hi hiii  …. “


” Ketawa lagi, dasar jelek …”


He hee …


Ah kangen juga sama kakak sepupuku itu. Semenjak menjadi pendeta belasan tahun lalu, dan saya sudah menikah, tak pernah lagi kami saling berkomunikasi. Sibuk dengan dunianya masing-masing.


Orang Islam santri buduk, orang Kristen nyembah patung


Hampir semua anggota keluarga besar kami memiliki banyak anak. Setiap anggota keluarga rata-rata memiliki 6 sampai 7 anak. Ibu saya sendiri punya 8 anak. Kalau kebetulan ada acara kumpulan, yang bikin heboh ya acara kumpul bocah itu. Namanya juga anak-anak, bandel-bandel pasti. Dulu waktu saya masih kecil,  kami suka juga ejek-ejekan dan berantem sama sepupu-sepupu, sampai bawa-bawa agama segala. Padahal jujur, saat itu kami sendiri belum mengerti sedikitpun tentang agama yang kami anut. Jangankan melaksanakan sholat,  bacaan sholat saja belum hafal. Tapi kami sudah gagah berani membela agama kami dari ejekan sepupu-sepupu yang beragama Kristen. Ejekan yang paling sering dilontarkan adalah,” orang Islam santri buduk “, yang kami balas tak kalah sengit, ” orang Kristen nyembah patung ! “. Wah, dahsyat sekali ejekan-ejekannya,  bukan ?. Bayangkan kalau kata-kata itu dihamburkan di zaman sekarang, bisa-bisa kami kena pasal menghina SARA.

Kalau sudah perang  kata-kata seperti itu,  Eyang Putri (Nenek) akan langsung menoleh ke arah kami dengan dagu mendongak dan mata melotot. Ini adalah bahasa tubuh Eyang yang paling legendaris, yang artinya, ” tutup mulut kalian, pengacau cilik  !  . Tanpa kata sama sekali, namun sudah cukup membuat para ibu bangkit dari majelis  rumpi lalu tergopoh-gopoh melerai dengan cara menjewer telinga kami agar segera menjauh dari arena pertempuran. Entah mendapat ilham dari mana sehingga kami mendapat amunisi ejekan serupa itu. Yang jelas, begitu kami bertambah besar dan bertambah dewasa, semua ejekan itu sudah kami tinggalkan. Kalau diingat-ingat, sadis juga ya cara kami saling ejek. Semoga kebandelan kami ini tidak menurun ke generasi berikutnya. Serem soalnya.


Lebaran Kristen


Sebagaimana sebagian keluarga Jawa lainnya, keluarga besar kami punya istilah sendiri untuk menyebut hari Natal, yakni Lebaran Kristen. Kok lebaran Kristen ? Ya iyalah, kalau Islam punya lebaran, masak Kristen nggak punya ?  Kalau setahun sekali kami yang muslim merayakan hari lebaran dengan baju baru, menu istimewa dan kue-kue yang serba lezat, maka anggota keluarga Kristenpun punya hak yang sama. Berlebaran setahun sekali, setiap tanggal 25 desember, dengan baju baru, menu istimewa, dan kue-kue yang enak. Nah, ini baru adil. Yah, setidaknya adil menurut Eyang putri.


Kalau pas liburan lebaran Iedul Fitri atau liburan Natal  dan kami berkumpul di rumah nenek, maka menu yang disajikan sama saja, tak ada bedanya antara menu lebaran Islam sama menu lebaran Kristen. Selalu : ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang ati ampela, rendang, acar mentimun wortel, dan kerupuk udang. Kue-kuenya : bolu marmer, kaastengels, nastar, kacang bawang, kue putri salju, lidah kucing, tape ketan berwarna hijau, manisan kolang-kaling, kue kering Khong Guan, dan minumannya es sirup ABC rasa jeruk. Selalu itu-itu saja selama bertahun-tahun tak pernah berubah, dari saya masih TK sampai SMP hingga akhirnya Eyang meninggal dunia. Pendeknya di keluarga besar kami, apapun agamanya menu lebarannya sama saja.


Toleransi tanpa basa-basi


Kini masa kecil dengan keriuhan di keluarga besar sudah lama berlalu. Kami yang dulu masih bocah dan selalu mengacaukan acara keluarga itu, sudah tumbuh dewasa dan sudah berumah tangga pula. Semakin jarang saja kami berkumpul, karena kami sudah tinggal di tempat yang berjauhan. Sebagian dari kami bahkan tinggal di luar negeri, yang membuat semakin sulit untuk bisa bertemu.


Kenangan masa kecil yang indah, takkan mungkin terlupakan. Hidup berdampingan dengan famili yang berbeda agama dalam sebuah keluarga besar, dengan Eyang Putri sebagai pusat keluarga. Eyang putri yang anggun, sangat cantik berwajah indo Belanda, lembut, namun sangat tegas dan disegani.  Eyang seorang muslimah yang sangat taat dengan ajaran agamanya, namun mencontohkan bagaimana menghormati keyakinan yang berbeda, dengan ajarannya yang sederhana namun masuk akal. Kata Eyang, keyakinan adalah soal hati. Tak boleh kita mengusik orang lain hanya karena perbedaan agama. Pantang menghina ajaran agama orang lain, jika kita tak suka agama kita dihina. Ajaran Eyang sederhana saja, namun menurut saya tetap aktual hingga hari ini. Ajaran Eyang tentang Lebaran Kristen bagi saya adalah cerminan kearifan lokal Jawa yang tiada duanya. Sebuah contoh  pemikiran khas Jawa yang gandrung akan keserasian kosmik.


Dari semua pelajaran hidup yang saya pahami, ada satu hal yang saya inginkan dalam hidup saya : anak-anakku bertumbuh menjadi pribadi yang taat menjalankan ajaran agama, mencintai Allah, namun pandai menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang berbeda agama. Nah teman-teman, semoga bermanfaat dan mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.




Salam sayang,


Anni



Sumber gambar : 


fotomodelindo.blogspot.com

dovechristian.com