Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, December 12, 2013

Lebay ah, jadi maluu ... *___*









Surat untuk Kompasianer Bu Anni: “Tolong Jangan Pergi”


BUKAN Ani Yudhoyono, tetapi seorang guru yang juga kompasianer, berakun “Bu Anni”. Ia menuang keresahannya di sini dan melahirkan kesedihan.


Bu Anni cukup produktif. Hampir semua kanal ia jelajahi. Dalam bulan November 2013 ia menulis tujuh artikel berbobot, salah satunya HL. Entah mengapa, dalam Desember ia belum menuliskan apa-apa. Padahal ia banyak akal. Maklum tiap hari ada saja pengalaman batinnya.

Usut punya usut, ia sebal karena tampilan Kompasiana di mobile. Saya beruntung tak pernah mengakses Kompasiana dari ponsel. Selain kurang telaten meng-klik tombol-tombol cilik, juga mata saya plus. Namun dari banyak keresahan kawan, dan juga Bu Anni sendiri, saya mulai paham bila kegalauan kemudian timbul.


Bu Anni secara fisik belum saya kenal, meski ia bilang anak sulungnya kuliah di Semarang. Tetapi dari caranya menulis, membalas komentar, menulis komentar, menuang ide-ide liar dalam artikelnya, dan bagaimana ia membungkus artikel-artikel itu dengan judul memikat, sungguh saya terpikat.


Maka, ketika ia memberi aba-aba bakal hengkang — dengan antara lain lewat artikel yang saya link-kan itu, plus dia tak lagi menulis saat Desember tinggal 19 hari lagi menuju tahun baru — saya mendadak merasa kehilangan.


Bu Anni sering mengomentari artikel penulis lain. Komentarnya sepele, lucu, keseharian, sangat perempuan, dan sering menyertakan “es jeruk”. Padahal harusnya saya marah sebab seumur-umur saya alergi es. Membuka pintu kulkas saja kontan meriang. Tapi membaca “es jeruk” di komentarnya saya ngakak dibuatnya. Itu sebabnya ia banyak teman. Di dashboard-nya, ada 739 teman, dengan jumlah tulisan 114 sejak terdaftar sebagai kompasianer pada 9 Februari 2011. Bukankah itu hebat?


Bu Anni, tolong jangan pergi. Sayang bila fans jenengan yang sudah begitu banyak mendadak sirna, dan tak ada lagi tali silaturahmi. Kembalilah menulis, Bu, meski pembacanya menjadi berkurang, sebab di sini kita butuh guru!


-Arief Firhanusa-