Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, November 13, 2013

Santai Saja, Aku Seorang Gay!

1384301589677016363

clipartof.com

Anak gadisku yang paling besar sudah jadi mahasiswi sekarang . Kuliah di perguruan tinggi negeri yang berbeda kota dengan kami orang tuanya. Seusai UTS beberapa waktu lalu, kampusnya diliburkan, dan anak gadisku itu menyempatkan diri untuk pulang. Dan ini lah salah satu cerita yang dia tuturkan, yang membuatku semakin mencemaskan pergaulan anak-anak muda zaman sekarang.

Ternyata sahabatnya seorang gay

” Aku punya teman, namanya Miranda (nama samaran) “,  kata Ufi (begitulah nama anakku ) memulai ceritanya.

” Miranda itu satu kelas dengan aku, dan sering duduk deketan kalau lagi kuliah “

” Trus aku juga punya teman, namanya Andre  ( juga nama samaran ). Aku, Miranda, sama Andre, sering jalan bareng, karena kami sering satu kelompok untuk beberapa mata kuliah. Sering belajar bareng, dan kalau pas istirahat, suka makan siang bareng juga di warung tenda dekat kampus “

” Oke, trus kenapa dengan teman-temanmu itu ? “, tanyaku.

” Miranda naksir Andre buu …”

” Ooh … ya nggak apa-apa dong ? “

” Iya bu, tapi Andre gak nanggapin “

” Kenapa ? “

” Andre nggak cinta sama Miranda “

” Ooh, biasa itu sih. Yang namanya cinta kan kemungkinannya kalau nggak diterima ya ditolak “

” iya sih Bu, Miranda juga kelihatannya nggak masalah tuh cintanya ditolak sama Andre ..”

” Ya sudah, baguslah. Selesai kan masalahnya ? “

” iih, belum buu … ! dengerin dulu …”

” Kan dari tadi juga ibu dengerin “

” Si Andre itu, kayak menjauh dari Miranda, tapi malah ngedeketin aku “

” Lahh ? jadi si Andre itu sebenernya naksir kamu to, Fi ? “

” Tadinya aku pikir juga gitu buu ..”

” Trus, kamu naksir Andre nggak ?  ”

” Andre itu ganteeeng deh bu ! “

” Iyaa, kamu naksir dia nggak ? “

” Enggak “

”  Ooh, ya sudah, selesai kan masalahnya ? “

” iih, belum buu … ! dengerin dulu …”

” Kamu ini, kan dari tadi juga ibu dengerin .. “

” iih, ibu mahh .., si Andre itu Gay ! “

” Hah ?!  apa kamu bilang ? Gay ? Astaghfirullah .. “

” Iyaa, dia sendiri yang bilang gitu. Kan aku bilang sama dia, jangan terlalu deket-deket sama aku, nggak enak  sama Miranda. Eh dia malah bilang, santai aja lagi, gua kan gay …”

————————

Begitulah kurang lebih sepenggal obrolan saya dengan Ufi. Ngobrolnya sebentar, sudah 2 minggu yang lalu juga, tapi efeknya membuat saya berpikir dan merenung dan agak cemas sampai detik ini. Bagaimana mungkin anak gadis saya yang selama ini adalah anak rumahan, dan hanya bermain dan aktif di sekolah, tiba-tiba harus berteman dengan seorang gay. Sesuatu yang sangat jauh dari bayangan saya.

Berteman dengan siapa saja

Sejak kecil Ufi selalu menjadi anak yang berani dan mandiri. Sifat-sifat anak sulungnya sangat menonjol. Penuh inisiatif, jiwa kepemimpinannya tinggi, suka mengatur, suka mengambil keputusan dengan cepat, dsb. Kelihatannya dia tahu apa yang terbaik bagi dirinya, bisa berpikir sangat dewasa, meski umurnya baru masuk 18 tahun.

Saat aku bertanya lebih jauh soal teman gay nya itu, anakku menjawab kalem,

” Aku tetap berteman sama dia, berteman kan boleh dengan siapa saja, Bu.  Tapi terus terang aku mulai nggak cocok sama dia. Sama  gaya hidup dia, dengan pemikiran-pemikiran dia, apalagi kalau dia sudah mulai curhat soal cowok-cowok yang naksir dan dia taksir, udah males aja dengerinnya.  Sekarang aku jadi banyak nggak nyambungnya sama dia. Yaa, aku sih sekarang cenderung sekedar berteman  aja , gak terlalu deket lagi kayak dulu  ”

Mendengar ungkapan anakku yang panjang lebar itu, terus terang saya tidak yakin dengan perasaan saya, apakah saya harus merasa lega, karena pada akhirnya anakku dapat menentukan sendiri orang-orang seperti apa yang cocok untuk dijadikan sahabatnya,  ataukah justru iba pada anak-anak muda itu. Iba dalam arti, kasihan anakku harus “kehilangan” teman gara-gara temannya itu seorang homo seksual, tipe cowok yang jelas-jelas sangat dihindari oleh anakku. Rasa kasihanku yang kedua, jelas tertuju pada Andre. Melihat fotonya, anak ini tampak ganteng sekali, macho, dan kelihatannya anak baik. Tipe cowok yang digandrungi banyak mahasiswi. Saya yakin Andre tentu termasuk anak yang cerdas, karena bukan perkara yang mudah untuk dapat menembus Perguruan Tinggi Negeri  ternama di Semarang itu.

Anak-anak kita hidup di zaman yang lebih keras dari zaman generasi orang tuanya.

Di zaman saya bersekolah dahulu, seks bebas termasuk perilaku homo seksual  sudah ada, namun hanya sedikit terlihat, bahkan nyaris tidak  muncul ke permukaan sama sekali. Saat itu kontrol masyarakat masih lumayan ketat terhadap anak-anak dan remaja, sehingga segala perilaku yang dinilai bertentangan dengan agama dan adat istiadat dapat segera diatasi dan lokalisir sehingga tidak merembet menyebar kemana-mana. Ditambah dengan belum maraknya perkembangan teknologi informasi pada saat itu, sehingga sebuah perilaku yang dinilai buruk tidak mudah tersebar luas.

Zaman sekarang keadaan sudah berubah drastis. Perilaku seks bebas dan homoseksualitas sudah semakin dianggap sebagai sebuah kelaziman yang tak perlu diributkan. Faham Demokrasi (dari dunia Barat) yang mengusung issu sentral Hak Asasi Manusia dan kebebasan berekspresi (aka Liberalisme ), menyatakan bahwa masalah seksualitas termasuk orientasi seksual, adalah masalah pribadi, masalah privacy,  yang orang lain bahkan negara  tidak boleh ikut campur. Manusia harus diberi kebebasan untuk mengungkapkan perasaan cinta dan libidonya, kepada siapapun yang disukai, sepanjang tidak merugikan orang lain.

Namun bagi saya, seorang ibu yang memiliki dua anak perempuan, makin banyak populasi homoseksual di Indonesian makin saya merasa cemas. Bagaimana tidak, sudahlah katanya jumlah laki-laki sedikit, ditambah. Sekarang laki-lakipun mengejar laki-laki. Jadi anak-anak gadis kita tak hanya harus bersaing ketat dengan sesama anak perempuan, namun juga dengan anak laki-laki, untuk mendapatkan pujaan hatinya. Kasihan sekali ..

Jika anggota keluarga kita seorang Homoseksual

Berbicara tentang Homoseksualitas, bisa panjang urusannya. Tidak bisa hanya dibahas dari sudut pandang atau opini pribadi. Masalah ini lumayan pelik, dan harus melibatkan pembicaraan lintas ilmu agar ada kesimpulan yang terintegrasi. Dalam tulisan ini saya hanya ingin mengemukakan perasaan saya sebagai seorang ibu dan seorang ibu guru yang merasa khawatir dengan makin bebasnya pergaulan anak-anak muda zaman sekarang dan sangat mudahnya pengaruh buruk tersebar di antara mereka akibat  derasnya arus informasi . Apapun alasannya, saya ingin anak saya kelak menikah dengan lawan jenisnya, bukan dengan perempuan sesama jenisnya.
 
Saya seorang yang konvensional. Sangat takut kepada Allah, dan taat kepada aturan adat istiadat di tempat saya berasal, yang melarang keras perilaku homo seksual. Namun demikian, menurut hemat saya, seorang homo seksual tetaplah manusia biasa seperti manusia yang lainnya.  Dia hanya berbeda dalam orientasi seksualnya saja, sementara sisi-sisi hidupnya yang lain, tak jauh berbeda dari kita. Artinya kita tetap harus menghargai prestasi belajarnya, prestasi kerjanya, menghargainya  sebagai teman, tetangga, dsb.

Siapapun tak akan dapat mengira apa yang akan terjadi dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Jika ternyata suratan takdir memilih anak yang sangat kita cintai memiliki perilaku homoseksual, dan kita berpandangan bahwa perilaku homoseksual adalah perilaku yang menyimpang, maka hanya ada satu jalan yang harus ditempuh, yakni tetap memberi kasih sayang yang besar kepada anak - anak itu, memperbaiki hubungan orang tua - anak dan membangun dialog sesering mungkin, mendengarkan permasalahannya, membantunya, sambil terus mengupayakan jalan keluarnya. Membawa anak kepada profesional seperti Psikolog sejauh ini masih merupakan langkah yang tepat.

Mengucilkan, mengasingkan, apalagi menghujat anak-anak yang kebetulan  berbeda dengan anak lainnya, hanya akan melukai perasaan anak dan menyakiti hati kita sendiri sebagai orang tua. Sekecil apapun hinaan yang keluar dari mulut orang tua  tentang “kelainan” yang dimiliki seorang anak, akan semakin memperparah kelainannya tersebut. 

Anak itu amanah dari Tuhan kepada orang tua. Dan perilaku seorang anak adalah cermin yang sangat jernih dari perilaku orang tua terhadap anak-anaknya. Jadi sebelum menghina dan memarahi anak sendiri, sebaiknya berkacalah dahulu,  barangkali selama ini kita sudah salah memperlakukan anak kita sendiri. Tetaplah menjaga, mendidik, dan menyayangi anak-anak dengan baik dan benar, beri pengertian kepada anak-anak agar memilih lingkungan pergaulan yang benar, seraya tak lupa untuk senantiasa menanamkan nilai-nilai keagamaan, taat kepada Allah dan menjauhi larangan Nya semenjak usia dini. Nah sampaikan salam saya pada anak-anak tercinta ya teman-teman. No hard feeling, OK. semoga bermanfaat.


Salam sayang,

Anni