Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Saturday, November 2, 2013

Seks di Sekolah : Cermin Masyarakat yang Cabul!

 1383304430447331
 thecyberhoodwatch.com



Bukan sekali ini saja masyarakat Indonesia dibuat tercengang  oleh berita tentang beredarnya video porno yang menggambarkan persetubuhan manusia dengan begitu gamblang dan vulgar. Sebetulnya sejak dulu sudah ada kejadian seperti ini. Hanya saja video esek-esek anak SMP yang kemarin itu sangat gencar diekspos oleh media massa, jadi kesannya lebih heboh. 

Tak mungkinlah masyarakat melupakan video fenomenal berjuluk  ” Bandung Lautan Asmara “ yang dilakoni sepasang mahasiswa belia dari kota Kembang.  Masih segar juga diingatan kita, video seks yang laris manis di dunia maya yang mengumbar seks segitiga selebritis ternama Luna Maya- Ariel Peterpan dan Cut Tari. Lalu ada lagi video mesum anggota DPR, video mesum PNS, video mesum calon bupati, video mesum anak SMA, dll,  sampai video mesum terbaru, yang para pelakunya adalah anak-anak yang masih ingusan, yang membayangkan adegannya saja sudah ingin muntah rasanya.

Belakangan hari ini semua  orang membicarakannya, semua kalangan mendiskusikannya, semua golongan menghujatnya sampai berbusa-busa mulut dibuatnya. Tapi  semua itu hanya berlangsung sesaat saja. Sebentar kemudian  kasusnya menguap begitu saja, hilang entah kemana debu yang diterbangkan angin.  Setelah itu masyarakatpun dengan mudah melupakannya, tak lagi terus-menerus membicarakannya, sebab beritanya sudah tak menarik lagi dan dianggap basi.

Laki-laki cabul  vs  perempuan nakal

Diakui atau tidak makin banyak saja laki-laki berotak mesum dan perempuan nakal di negeri ini. Sebuah karakter yang sungguh menjijikkan, namun tak ada satupun obat penyembuhnya. Bagaikan kanker stadium lanjut,  karakter ini  seolah penyakit yang tak terobati lagi, jadi  dianggap lazim dan diterima saja. Namun tak seperti penyakit kanker yang tidak menular, penyakit cabul sungguh menular dan menjalar.

Laki-laki berotak mesum. Di jalanan  mengintip-intip paha perempuan yang kebetulan memakai rok mini. Menatap penuh minat dada perempuan yang menyembul dibalik leher baju yang terbuka. Bahkan laki-laki berotak cabul membayangkan dengan pikiran joroknya, lekuk tubuh perempuan yang jelas-jelas memakai busana muslim yang terjulur panjang. Membayangkan betapa nikmatnya bergumul dengan perempuan yang tak setitikpun menampakkan bagian tubuhnya yang menggoda.  Bagi orang-orang yang berotak kotor bak comberan,  tak ada jilbab yang terlampau panjang,  tak ada sikap yang terlampau santun, yang sanggup menahan imajinasi liar untuk menelanjangi perempuan sebulat-bulatnya.

Lalu para perempuan nakal. Tingkah mereka sungguh gatal. Perempuan-perempuan ini, meski mungkin tak terlampau cantik,  menggunakan tubuhnya untuk memuaskan nafsu duniawinya. Sebab mereka tahu, laki-laki yang sedang terbakar birahi, sudah tak peduli lagi pada rupa. Asal ada tubuh untuk disetubuhi, dan ada uang untuk penukarnya, maka terjadilah transaksinya. Sesederhana itu. Lalu uangpun mengisi pundi-pundi, sementara kenikmatan sesaatpun terpenuhi.
 
Perempuan-perempuan nakal itu, jikalah berparas elok, maka semakin tinggi juga nilai tukarnya. Bisa merambah dolar, meruntuhkan jabatan, kerobohkan kekuasaan, dan menegasikan keimanan. Mereka memulas gairah di bibir nan merah merekah, menyibak genit kain penutup dada, menarik tinggi kain penutup paha, menebar senyum mempesona dan bisikan nan merdu merayu, lalu membuka paha memberi kenikmatan  palsu nan lacur !

Laki-laki sebaik manapun, tetaplah makhluk berhati lemah. Mana kuat iman di dada ini jika terus -menerus melihat sibak paha dan dada di depan mata. Mana tahan jika terus berdekatan dengan perempuan cantik beraroma wangi - bernafas hangat berlalu-lalang dan bersikap ramah sepanjang hari. Mana bisa tak membayangkan menggumuli tubuh mulus perempuan cantik seraya mereguk kenikmatan di hela nafas yang memburu.
Laki-laki cabul ada untuk perempuan nakal. Mereka begitu klop, begitu cocok, seperti panci dengan tutupnya. Bersama mereka mereguk kenikmatan ragawi, menyelami lezatnya surga duniawi, dan bersama mereka menghancurkan martabat manusiawi. Mereka menjadikan seks sebagai alat untuk menyetarakan level manusiawi dengan hewani

Sulit, sangat sulit menyingkirkan mereka dari lingkungan kita. Karena boleh jadi manusia-manusia cabul itu adalah kaum keluarga kita sendiri, sahabat kita sendiri, teman kerja, teman kuliah, pasangan kita, atau bahkan diri kita sendiri. Bagaimana mungkin menyingkirkan kecabulan dari masyarakat kita, karena semua orang kini sudah berperilaku cabul. Dan semua kecabulan itu semakin diperparah karena para pemimpin negeri inipun sekarang sudah terang-terangan mempertontonkan kecabulan. Benar-benar menjijikkan !

Lalu media massa. Mereka terus dan terus menderas gaya hidup bebas dan hedonik ke seluruh penjuru negeri. Mengajari gaya hidup menuhankan harta dan kesenangan, tak peduli cara yang digunakan. Tak kenal halal, tak kenal haram, yang penting hati senang. Dosa dan penderitaan orang lain, peduli setan. Tak perlu heran jika kian hari kian marak saja gaya hidup bebas dipraktekkan hingga ke institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan penjaga moral di negeri ini. Seks bebas tak lagi di lakukan di bilik-bilik tertutup di gang Dolly, tapi sudah merambah hingga ke rumah-rumah keluarga, ke gedung sekolah, ke gedung parlemen, bahkan ke rumah ibadah yang seharusnya suci dan sakral. Jika sudah begini, siapa yang dapat disalahkan, karena semua pihak di negeri ini turut andil menciptakan dosa kolektif seluruh penduduk negeri. Menciptakan anak-anak yang tak mengerti, bahwa seksualitas adalah sesuatu yang seharusnya bersifat privacy, yang diatur oleh hukum agama dan negara.

Anak-anak selalu menjadi korban

Kecabulan sudah mendarah daging, sudah sulit dilepaskan dari hati dan pikiran orang Indonesia. Di rumah-rumah, para orang tua menyembunyikan video film biru di balik bantal, dan akan menyetelnya diam-diam sebelum bersenggama karena mereka sudah kehilangan gairah terhadap pasangannya. Lalu ketika lengah, giliran anak-anak mereka yang masih di bawah umurlah yang akan melahap dengan penuh keingin tahuan film-film yang penuh berisi adegan tumpang –tindih itu. Hingga mereka terbiasa dan terbangkitkan nafsu syahwatnya di usia yang sangat dini. Manusia dungu macam itu, jangankan menjadi orang tua, sekedar menjadi manusia sajapun sungguh tak pantas !

Dan di sekolah, guru-guru cabul dan pedofil seolah mendapatkan lahan yang subur. Bocah-bocah yang masih imut dan ranum itu, sungguh nikmat jika dihisap sari pati madunya. Sama sekali bukan pekerjaan yang sulit, karena anak-anak itu masih polos dan bodoh. Tinggal diming-imingi uang dan cokelat, atau dengan sedikit ancaman, terbukalah seluruh pakaian mereka, dan terpenuhilah nafsu bejat sang guru cabul, meninggalkan trauma mendalam di benak sang murid, yang lukanya akan mereka bawa sampai mati. Dan saya belum pernah mendengar ada hakim menjatuhkan vonis hukuman mati kepada para guru cabul di negeri kita !

Anak- anakpun berubah perangai. Dari anak polos dan lugu, menjadi manusia cilik berotak mesum. Dengan sedikit trik yang diajarkan oleh sinetron-sinatron di televisi yang mereka tonton, jadilah mereka geng bajingan cilik yang sangat piawai bermain seks, seolah mereka adalah manusia dewasa saja. Tak hanya saling bersetubuh dengan teman sebaya, sekelompok siswa sekolah bahkan berkomplot mengabadikan persetubuhan itu menjadi sebuah film lalu mengabadikannya menjadi sebuah karya yang mereka anggap kreatif dan lucu-lucuan. Sungguh tak terbayangkan kerusakan moral dan pikiran yang telah menimpa anak-anak itu. 

Bayangkan suramnya masa depan anak-anak itu. Bayangkan hancurnya hati para orang tua anak-anak itu. Bayangkan malunya para guru anak-anak itu. Bayangkan betapa malunya menjadi pemimpin yang tak becus menjaga moral anak bangsa di negerinya sendiri ! . Namun apakah kita benar-benar dapat membayangkan semua rasa itu ? . Terus terang saya ragu. Mana mungkin kita dapat berempati membayangkan kesedihan hati para orang tua dan guru , jika kemarin kita masih menjadi bagian dari orang-orang yang turut menyaksikan video mesum anak sekolahan itu. Lalu menyimpan dan membagikan linknya kepada teman-teman di segala Facebook dan Twitter, dengan dalih agar kita selalu waspada menjaga anak-anak kita. Mana mungkin seorang penikmat pornografi memiliki empati sebesar itu.

Kemunafikkan dan Kecabulan yang dipelihara

Kalau dekat denganku, atau kenal denganku, ingin rasanya kudatangi dan kutampar saja wajah orang-orang tak tahu malu yang telah menyebarkan link-link video porno ke email, dan ke akun media sosialku. Bagiku ungkapan keprihatinan mereka terhadap rusaknya moral anak bangsa ini, cuma omong kosong yang tak berguna dan membuat perutku mual saja. Bagaimana mungkin mereka beromong besar soal moral, jika justru dari tangan mereka sendirilah tersebar link-link video yang tak senonoh itu ? apakah mereka tak bisa memikirkan akibatnya ? beginilah rupanya jika manusia sudah kecanduan pornografi. Kehilangan daya berpikirnya. Punya kelakuan munafik, tapi tak menyadari.

Juga orang-orang yang berkerumun itu. Di sekolah, di kantor, di kantor polisi, di kator pers, di pos hansip, di rumah-rumah penduduk. Dengan dalih investigasi, mereka mencermati setiap detail adegan syur yang tersaji di layar ponsel, dengan alasan membuktikan, apakah ini adegan asli atau rekayasa, apakah pemerannya diperkosa atau melakukannya atas dasar suka sama suka. Bohong banget .Lihat saja ,sambil berinvestigasi, pandangan mata mereka kian sayu, nafaspun semakin memburu , karena fantasi makin mengharu biru , dan tak lupa mengcopy si film saru. Investigasi apaan itu ?! sama sekali tak bermutu !

Sudahlah akui saja, sebagian kita ini memang munafik ! sangat doyan melahap hal-hal yang bersifat cabul. Dari yang sederhana sampai yang luar biasa. Dari yang murahan sampai yang mahalan. Semua hal yang berbau ranjang, selalu disambut dengan girang. Namun kita sangat takut jika anak-anak kita, murid-murid kita, keluarga kita terjerumus ke dalam pergaulan bebas, sementara tak jua resleting celana ini kita naikkan. Syahwat ini terus saja terumbar kemana-mana, terobral ke segala penjuru. Kecabulan dan kemunafikkan terus dipelihara dengan asyik masyuk menonton film porno lalu kemudian sesekali memakai jasa perempuan porno. Sudah tahu dosa, tapi kemesuman terus dimiliki . Dasar munafik tak terperi !

Ingin anak tak berbuat mesum ? bercerminlah !

Bercerminlah dengan kaca yang bersih dan bening. Tanyalah hati nurani yang tak pandai berdusta. Apakah kita ini sudah cukup bermoral untuk mendidik akhlak anak-anak kita ? apakah kita akan dengan ringan mulut melarang anak-anak mengakses konten pornografi, tanpa kita harus bersitegang dengan hati nurani , karena kita tahu kita juga penghobi pornografi ?
Jika jawabannya adalah ” Ya, saya masih suka mengkonsumsi pornografi “, maka tutuplah mulut kita, tak usahlah menasihati anak-anak kita. Nasihati dan benahi saja diri sendiri sampai kemunafikan itu dan kecabulan itu sama sekali hilang dari hati dan pikiran kita.

Ayo teman-teman, selamatkan anak-anak tercinta dari kejahatan pornografi !

Salam sayang, 
anni