Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Tuesday, December 11, 2012

Kala Dzikra Bertanya Cinta

                   ilustrasi gambar : www.redding.com
"Bu Anniii, pengen ngobrol sama bu Anni boleh nggak buu ...", begitu Dzikra, anak kelas XI  muridku mengejutkan aku yang siang itu sedang berjalan santai di koridor kelas menuju kantor. "Boleh dong, ayo mau ngobrol apa?" Jawabku seraya menuju kursi panjang untuk sejenak beristirahat sambil melayani (pasti curhatan) murid abege ku itu. Dan tanpa menunggu punggungku lurus dan posisi dudukku nyaman, Dzikra sudah membombardirku dengan banyak pertanyaan, yang kesemuanya sebetulnya mudah saja aku jawab, tapi jadi sulit kuungkapkan mengingat yang bertanya masih berusia 16 tahun. Salah sedikit bicara, dapat berarti aku menyesatkan muridku.

"Bu, kalau kita gak bisa move on, gimana bu ?"
"Bu, kalau aku udah punya cewek nih, trus suka lagi sama cewek lain, boleh gak bu ?
"Bu, tanda-tandanya cewek yang setia gimana bu ?"
"Bu, tandanya seseorang itu jodoh kita gimana bu ..?"
"Bu, cara nolak cewek yang nembak biar dia gak sakit hati, gimana bu ?"
"Bu, cara tau cewek itu masih virgin ato enggak, gimana Buu ..?"
"Bu, kalo kita modus in cewek, biar gak dianggap PHP, gimana bu ?"
Dan masih banyak lagi sederet pertanyaan naif soal cinta yang dia lontarkan kepadaku, lengkap dengan istilah-istilah khas anak abege jaman sekarang,yang kadang sangat membingungkan. Untung aku punya anak abege, jadi sedikit banyak aku mengerti omongan mereka. Ciyus deh ...

Hmh .. Dzikra,Dzikra....
Aku jawab satu persatu pertanyaan anak itu dengan cermat, santai, dan tak lupa tersenyum, agar dia tak merasa dinasihati, karena aku jawab semua pertanyaan itu dengan menyelipkan humor dan tentu saja nasihat-nasihat.

Ketika dia merespons jawabanku, aku pandangi wajah anak itu, dan wajah 20an orang teman-temannya yang tiba-tiba sudah duduk dan berdiri merubungiku, Ibu guru yang sudah mereka anggap sebagai Ibunya sendiri. Rasa sayangku semakin bertambah kepada anak-anak didikku ini. Mereka ini anak-anak yang sangat bersemangat, penuh rasa ingin tahu, cerdas, namun sangat polos. Belum banyak mengerti tentang kehidupan ini, mengingat usia mereka yang masih sangat belia.
Dari pikiran-pikiran tentang cinta yang mereka ungkapkan, aku dapat menyimpulkan bahwa pemahaman mereka tentang cinta, 100 persen dipengaruhi oleh pandangan-pandangan mengenai cinta yang mereka lihat di jagad hiburan. Dari sinetron, film, video klip, lagu, novel teenlit, jejaring sosial, dll, yang kesemuanya sangat dangkal, instant, sumir, dan terkesan sangat gampangan.

Aku tak akan membahas tentang cinta yang remeh temeh dan naif yang Dzikra dan teman-temannya tanyakan kepadaku itu. Insyaallah aku dapat menjawabnya dengan baik, lagi pula bukan itu tujuan aku menulis ini. Sudah banyak orang membahas soal cinta,bukan ? Aku hanya sedang berfikir soal anak didikku yang bernama Dzikra dan teman-temannya itu.

Kebanyakan murid- muridku datang dari keluarga kaya, yang Ayah Bundanya sama-sama sibuk beraktifitas di luar rumah. Meski sebagian besar dari para orang tua ini sangat concern pada pendidikan anak-anaknya, namun mereka memiliki keterbatasan waktu untuk memberikan perhatian penuh pada putra-putrinya itu.

Sebagai contoh ya Dzikra ini. Sejak bayi sampai duduk di bangku SMP boleh dibilang dia anak Baby Sitter. Ketika masih bayi merah, dari mulai bobok dikelonin, ngompol, minum susu, disuapi, semua Baby sitternya yang mengurusinya. Dan asuhan baby sitter ini terus berlanjut sampai usia Dzikra menginjak remaja. Ketika akhirnya Baby sitternya berhenti bekerja, sekarang Dzikra diurusi oleh beberapa pembatu rumah tangga di rumahnya yang bak istana. Orang tua Dzikra sebagaimana orang tua lainnya kadang mengungkapkan rasa bersalahnya kepadaku. Betapa sebagai orang tua, perhatian mereka terhadap anak sangat minim. Ingin hati memperhatikan mereka seratus persen namun apa daya, tugas pekerjaan tak dapat ditinggalkan. Akhirnya, alih-alih perhatian, pendampingan, dan pembinaan, para orang tua super sibuk ini melimpahi anak-anaknya dengan gadget terkini, dan fasilitas serba melimpah.

Akibat minimnya perhatian orang tua sudah kita ketahui bersama. Banyak anak-anak yang akhirnya berkelakuan liar, tidak tahu sopan santun, melanggar norma, sampai ke tahap yang menyedihkan yakni terjerembab ke dunia hitam semisal menjadi pecandu narkoba, melakukan seks bebas, pornografi, melakukan bullying, tawuran, dan hal-hal negatif lainnya.

Beruntung Dzikra dan teman-temannya adalah anak yang baik. Meski terkesan anak gaul, perilaku mereka cukup terkendali. Tutur katanya sopan, dan tidak terlibat perbuatan yang negatif sekecil apapun termasuk merokok dan mencontek yang dilarang keras di sekolah kami.

Aku kadang berpikir dan merenung, mungkin itulah sebabnya anak-anak ini sangat sering minta curhat padaku dan kepada guru-guru lainnya. Di sekolah berasrama seperti sekolah kami (boarding School) guru adalah pengganti orang tua. Semua siswa tinggal di asrama. Kami selalu ada bersama mereka, dengan frekuensi kehadiran yang jauh melebihi keberadaan orang tua kandung disisi mereka. Anak-anak ini sangat merindukan perhatian dari orang dewasa. Sangat ingin dipahami, setidaknya didengarkan isi hatinya.

Kami para guru memperlakukan mereka tidak sekedar sebagai murid sekolah. Kami mendidik ketaatan kepada Allah, mengajari ilmu, membina akhlak, mendampingi, menemani, melatih keterampilan, dan menyayangi mereka seolah mereka adalah anak-anak kami sendiri. Bayangkan betapa besarnya tanggung jawab kami. Namun demikian, Aku dan teman-temanku dengan senang hati melakukannya. Masalahnya berapa banyak anak di negeri ini yang seberuntung Dzikra, mendapat pendidikan yang baik dan guru-guru yang penuh perhatian ? Lebih banyak anak-anak remaja di luar sana yang hidup di jalan, padahal bukan anak jalanan, berkeliaran di mall-mall di jam sekolah, terlibat pergaulan yang tidak baik yang memadamkan masa depan mereka. Sedih sekali hatiku jika mengingat itu.

Jika kita meluaskan pandangan ke depan, anak-anak seperti Dzikra ini sangat perlu dibantu. Jika orang tuanya tidak dapat memperhatikan dan membina, maka masyarakatlah yang harus melakukannya, dalam hal ini para guru dan siapa saja yang merasa orang dewasa yang menaruh perhatian terhadap masa depan anak-anak muda di negeri ini.

Kita harus lebih banyak meluangkan waktu untuk peduli pada kehidupan anak-anak di sekitar kita, dengan segala upaya sekecil apapun. Karena ini sangat penting agar anak-anak muda pengganti kita kelak, tidak menjelma menjadi generasi hedonik yang lemah dan anti sosial. Mengapa aku tidak menghimbau orang tua ? Aku rasa sungguh terlalu jika orang tua harus dihimbau-himbau. Bukankah itu sudah otomatis menjadi tanggung jawab mereka ? Mengapa tidak bisa memperhatikan anak ? Kalau gak bisa ngurus anak ya jangan punya anak dong, jangan bikin anak dong ! Ups ..

Akhir kata, aku hanya ingin mengatakan bahwa tugas sebagai pendidik ternyata sangat menyenangkan, meski tanggung jawabnya sangat berat. Aku merasa memiliki andil-meski kecil- dalam membesarkan dan memandirikan mereka. Aku hanya bisa tersenyum sambil meneteskan air mata haru, kala anak-anak didikku yang telah menjelma menjadi guru, dosen, dokter, pengacara, akuntan, bersilaturahmi ke almamaternya dan mencium tangan kami para gurunya. Itulah kebahagiaan terbesar kami para guru : menyaksikan murid-muridnya sukses dan bahagia dalam hidupnya.

Kedepan, tanggung jawab kami para Pendidik akan semakin besar. Zaman semakin sulit dan kurikulum pun sebentar lagi akan mengalami perubahan. Teman-teman sudah pada tahu kan, bagaimana perubahan dan eksesnya ? Nah sebesar itulah tantangan yang kami hadapi. Tapi kami tidak takut. Kami sudah berpengalaman menjadi pion pendidikan yang carut marut, bukan ? Yang penting kami laksanakan semua tugas kami dengan lurus hati, penuh tanggung jawab, dengan sikap profesional, dan didorong kecintaaan yang besar terhadap anak-anak Indonesia.
Selamat mendidik !

Salam sayang,
Bu anni - Sukabumi

Ps : kata Dzikra, "menikah dengan siapa itu soal nasib yang kita bisa upayakan sendiri. Tapi jatuh cinta, itu masalah takdir yang kita tidak bisa mengelak. Kita cuma bisa bedoa ". Hmm .. Kadang anak sebelia Dzikra bisa sangat benar ya. Jadi jangan sekali-sekali sepelekan anak-anak muda. Atau mereka akan hilang dari kehidupan kita.