Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, December 26, 2012

Pastikan Bidadarimu Bebas Kutu, Kasihan kan...

Kepanjangan ya judul tulisan ini ? He he … sori menyori deh. Tadinya mau diberi judul Anakku Bidadariku. Tapi saya hapus lagi, karena dipikir-pikir kok jadi kaya judul film jadul tahun 80 an …
Begini lho, saya teringat obrolan saya di dunia maya dengan salah seorang sahabat yang kebetulan punya anak perempuan kecil yang umurnya sekitar 8 atau 9 tahunan. Saya sendiri belum pernah melihat secara langsung gadis cilik itu, hanya melalui foto-foto yang diupload di facebook saja.Kelihatannya anak itu berparas cantik dan berkulit putih seperti Ibundanya. Ekspresi wajahnya ceria manja khas anak seusianya. Dia berkerudung namun tetap terlihat lincah dan gesit, setidaknya tampak dari cara dia berpose sambil melompat-lompat, bercelana jeans, dan kadang bersepatu kets meski sedang berbusana muslim model long dress. 

Nama anak itu Dina. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan Dina, jika saja Bundanya tidak mengobrol denganku soal putri ciliknya itu.Sebetulnya obrolannya cuma satu topik : tentang banyaknya kutu di rambut Dina. Segala cara membasmi telah dicoba, namun kutu-kutu itu tetap saja betah bersarang di kepala Dina dan membuat gadis itu terganggu. Hmm … Kasihan sekali ya, cantik-cantik kok ada kutunya.
Nah ya sudah, berhubung saya ditanya, keluar deh naluriku sebagai Ibu Guru yang bawaannya nerangin panjang lebar. Dan ini lah jawaban saya. Saya buat perpoint ya, biar jelas. Maklum ibu guru kan pengennya serba sistematis, he he … 

1. Anak perempuan seumuran Dina itu, tubuhnya sedang dalam proses pertumbuhan yang pesat, termasuk pertumbuhan hormon perempuan (terutama hormon estrogen dan progesteron) di dalam tubuhnya. Konon katanya, kedua hormon ini berbau anyir. Sehingga itulah sebabnya, anak-anak perempuan seusia Dina, jika kebersihannya tidak dirawat dengan baik, akan menguarkan bau anyir dari sekujur tubuhnya, terutama di bagian kulit kepala dan kemaluannya. Aromanya seperti apa ya, kurang lebih seperti ikan mentah gitu deh. Tapi kalau kata adik saya, baunya mirip bau Kucing (memangnya Kucing ada baunya ya ? he he …) 

2. Bau-bauan tidak sedap yang berasal dari kulit kepala, ditambah anak yang jarang keramas, lalu terkena terik matahari, bercampur keringat dan debu, tentu menjadi hunian yang menarik bagi para kutu dan parasit sebangsanya. Selanjutnya bersaranglah mereka dengan manisnya di kepala Dina dan anak-anak lainnya. 

3. Cara mengobatinya sebetulnya mudah saja. Tapi yang lebih penting adalah pencegahannya. Begini caranya : Cuci rambut anak dengan shampoo yang sesuai. Garuk kulit kepalanya dengan lembut namun mantap. Gunakan ujung jari, jangan gunakan kuku,karena kulit kepala anak dapat terluka. Oleh karena itu, ibu-ibu yang mempunyai anak kecil, sebaiknya memang memotong pendek kukunya. Setelah dibilas dengan bersih, keringkan dengan handuk yang lembut dan bersih. Ambil cairan obat anti kutu, misalnya Peditox (maaf ya bukan promosi nih. Habis cuma merek itu yang saya tahu). Oleskan cairan itu ke seluruh permukaan kulit kepala sampai rata, sambil digosok perlahan. Bungkus kepala anak dengan handuk hingga rapat, diamkan 30 menit. Setelah itu, keramas lagi dengan air hangat kuku, selesai deh. Biasanya kutu rambut akan langsung mati atau kabur. Namun untuk kasus yang agak parah, cara tsb boleh diulangi lagi, satu kali sehari selama 3 hari berturut-turut. Ada catatannya nih, seperti halnya pemakaian obat-obatan, meski obat luar, tetap saja kita harus hati-hati. Misalnya pertimbangkan usia anak dan pastikan bahwa kulit anak  tidak  akan  alergi setelah dioles obat ini.  Selanjutnya setelah pasukan kutu menghilang dari kepala, tinggal jaga deh kebersihan kulit kepala dan rambutnya. Agar rambut si kecil tampil indah, subur, sehat berkilau.

4. Masalah kutu insyaallah dapat diatasi dengan mudah. Pencegahannya itu yang lumayan ribet. Punya anak perempuan kecil, ibaratnya kita dititipi Allah Bidadari cilik di rumah. Jadi merawatnya pun, harus seperti merawat bidadari, tidak boleh asal-asalan. Dari ujung rambut sampai ujung kaki harus dirawat dengan cermat, terutama kebersihannya. Bukan berarti lantas bidadari kecil itu kita perlakukan seperti sosialita yang dikit-dikit nyalon, bukan. Maksudnya, dengan perawatan standar yang tersedia di rumah kita, kita rawat bidadari cilik itu dengan telaten dan sebaik-baiknya. Dari mulai mandi yang wajib dilakukan 2 kali sehari, menggosok gigi setiap habis makan minimal menjelang tidur, keramas 2 hari sekali, dll. Itu masih standar banget. Yang namanya anak gadis, biar kecil sudah punya kosmetik sendiri. Mulai talek atau bedak, baby cream atau baby lotion biar kulit lembutnya tetap halus dan segar, minyak kayu putih atau cologne, biar aroma bidadari kita tetap wangi, dll. Soal aroma ini sangat penting. Upayakan agar anak-anak kita selalu beraroma wangi dan segar, tidak hanya tubuhnya, namun juga mulut, rambut,kaki, dan pakaiannya. Jangan sampai ketika anak-anak kita lewat, tetangga sampai berjengit menutup hidungnya saking nggak tahan dengan bau yang mirip bau kucing itu. Jangan sampai deh, sakit hati soalnya. Tapi jangan sampai juga anak 
gadis kita kebanyakan kosmetik, nanti penampilannya malah kaya artis sinetron. Jadi hilang deh lucunya.

5. Biasakanlah anak mencuci tangannya sebelum dan sesudah makan. Kaos kaki dan pakaian dalam harus sering diganti. Sepatu harus sering dicuci dan dijemur di bawah panas matahari. Pakaian dicuci bersih,lalu disetrika untuk menghilangkan kuman dan bau. Sekali lagi, ini demi beningnya penampilan bidadari kita. 

6. Memilih pakaian bagi para bidadari cilik adalah kegiatan yang pada umumnya menyenangkan. Gak perlu mahal atau mewah, yang penting manis dan serasi dipandang. Lalu soal asupan gizi juga penting, perawatan kesehatan, memilih tempat, jenis, dan alat bermain, dll juga tak kalah pentingnya. Nah kan, dari ngomongin kutu kok jadi melebar kemana-mana. Abis bagaimana, senang sih punya bidadari … 

   

Lha terus, yang nggak punya bidadari, yang anaknya cowok semua, dianggap punya apa kalau begitu ? Oh tenang saja, kalau anak perempuan diibaratkan bidadari, maka anak laki-laki diibaratkan malaikat pelindung. Tapi ngomongin tentang Malaikat ini entar-entar aja ya, soalnya tulisannya nanti jadi puanjang bangeds. Pegel kan ngetiknya  …

7. Terakhir nih, maaf ya kalau terkesan menggurui. Harap maklum, namanya juga ibu Guru, kerjanya ya memang menggurui, he he … (Maksudnya mohon maaf kepada ibu-ibu yang lebih pakar). Dah ah, mau masuk kelas lagi. Semoga bermanfaat ya …

Salam sayang,
Anni - sukabumi
# eh ngomong-ngomong, Dina itu hanya nama samaran saja :)

sumber ilustrasi gambar :
www.people.desktopnexus.com
www.kakeyo.blogspot.com