Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, December 20, 2012

Tua - Tua kok Galau. Malu tau ...

 
Aku kenal beberapa teman yang sering membuat status bernada galau di timeline account facebook atau Twitter mereka. Sekali, dua kali, aku pikir mereka hanya sekedar iseng. Namun ketika hampir setiap hari mereka mengupdate status galau, aku jadi mikir, jangan- jangan teman-temanku ini sedang dilanda puber kedua, alias benar-benar sedang jatuh cinta di ambang usia senja. Ah asyiknyaa …
Asyik ? Apanya yang asyik ?!
Yaa … Maksudku, asyik mengamati mereka, membaca bunga-bunga hati yang tercurah lewat kata-kata, mengamati tingkah polah mereka yang mirip anak abege, mengamati foto dan lagu-lagu romantis yang mereka up load, dan sebagainya, begitu … 

Aku sebetulnya bukan jenis orang yang berminat apalagi usil pada urusan orang lain. Namun, ketika sesekali aku membuka sosmed, dan status galau teman-temanku itu terbaca, entah kenapa aku suka berubah jadi makhluk yang kepo. Rasanya senang saja mengikuti aliran pikiran mereka yang nggak sadar umur, tidak sensitif terhadap status sosialnya sendiri, bercanda saling menggoda sampai lupa anak cucu, dsb. 

Sumpah tadinya aku paling sebal sama kelakuan orang separuh baya yang genit yang sedang dilanda asmara puber kedua. Pinginnya, aku tuh mendatangi mereka, lalu bilang,” heh, ingat umur dong, ingat anak cucu dong ! ngacaa … ngacaaa …!”. Hmm … Tapi tentu saja itu semua tak kulakukan, karena takut kuwalat. Lagi pula bisa-bisa aku dicap orang jutek. Bisa batal dong reputasiku sebagai orang yang ramah, hhee ..
Jatuh cinta memang dapat melanda siapa saja, tidak peduli tua atau muda. Jika anak-anak muda terkena panah asmara, tak kan ada orang yang meributkan, karena itu sudah biasa. Namun ketika perasaan indah yang sangat kuat itu melanda orang-orang yang sudah berumur, nah bisa lain urusannya. Bisa panjang ceritanya. Bisa berakhir bahagia atau sedih, tergantung nasib masing-masing orang yang mengalamainya. 

Konon katanya, jatuh cinta di kalangan orang paruh baya dapat berakibat fatal,lho. Penyebabnya adalah, karena seringkali mereka mencinta tanpa motif yang jelas, alias tidak ada alasan yang pasti mengapa mereka mencintai seseorang. Dan bukankah cinta yang tanpa alasan adalah cinta yang sangat kuat ? Coba saja bayangkan. Anda sudah berusia 40 an, sudah berkeluarga, dengan keadaan ekonomi mapan, anak sudah remaja, atau bahkan sudah punya cucu, dan sudah merasa cukup dengan kehidupan anda, tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang membuat anda tertarik, dan sebelum anda menyadari perasaan itu, si dia sudah menyatakan lebih dahulu perasaan cintanya pada anda. Ketika anda bertanya apa alasanya sehingga dia mencintai anda, dia menjawab, aku mencintaimu tanpa alasan. Aku mencintaimu, karena aku cinta kamu. itu saja.Bagaimana reaksi anda ? Jadi mikir kan ? 

Nah, biar mikirnya nggak kelamaan, baiklah aku beritahu, bahwa itulah jenis cinta yang paling kuat di dunia ini. Cinta yang tanpa alasan ! Dahsyat bukan ? (Trus gw harus bilang wow, gitu ? Oh, nggak,nggak usah dibilang wow juga, cinta jenis ini memang dari sono nya sudah wow ! )
Lalu bagaimana kalau sudah begitu ? Kalau sudah terlanjur sayang bagaimana ? Yaa.. Nggak gimana-mana, biasa saja, sepertimana layaknya orang jatuh cinta lah. Selalu faktor perasaan keluarga, kesehatan fisik dan mental, norma, harus tetap menjadi pertimbangan utama untuk menghadapi masalah yang ribet tapi enak ini. Kehati-hatian dan kedewasaan (sudah lewat dewasa sih, jadi lebih tepatnya faktor ketuaan) harus lebih dikedepankan. Singkirkan semua emosi, egoisme, dan ini yang penting : sikap obsesif, karena orang yang sudah tuwir biasanya suka obsesiif. 

Jika panah asmara mengenai orang-orang paruh baya yang berstatus single, tentu tak menjadi masalah. Jika sama-sama cocok, keluarga tidak berkeberatan, ya sudah, menikah saja. sederhana kan ? Tapi masalahnya akan berbeda jika si dewa asmara cilik Cupid salah menembakkan anak panahnya ke hati orang yang memiliki pasangan. Masalahnya bisa runyam. Orang yang cukup beriman, mungkin hanya menyimpan perasaannya, menikmati diam-diam, sambil tak henti-henti minta ampun sama Allah karena merasa bersalah sudah menduakan cinta terhadap pasangannya. Tapi bagaimana dengan orang tua yang bandel ? Yah bisa ditebak deh, perselingkuhanlah yang kemudian terjadi. 

Bicara soal perselingkuhan mah gak ada habis-habisnya. Berbagai teori dikemukakan oleh para pakar mengenai penyebab dan akibat perselingkuhan. Disana selalu kita temui aktor antagonis yang sok cakep dan menyebalkan, pasangan yang merana karena dikhianati, dan pelengkap penderita baik itu anak, atau pasangan selingkuh, yang tak kalah nelangsanya. Cerita perselingkuhan akan bertambah seru jika para pelakunya (salah satu atau keduanya ) adalah orang-.orang yang sudah berumur. Kasusnya pasti akan dibahas panjang lebar, tak lupa ditambahi bumbu disana-sini agar cerita bertambah seru, namun dengan kesimpulan seragam : sudah tua bau tanah kok masih selingkuh ! Nggak tau diri banget, bukannya makin rajin ibadah, malah cinta-cintaan. Mbok ya ngaca, sudah keriput juga, mana perut buncit, rambut ubanan, nggak pantes banget ! Apa nggak takut mati ? Apa jantungnya kuat ? Apa nanti dengkulnya nggak copot ? Sebel …. ! Nah begitulah kurang lebih maki-makian yang dialamatkan kepada orang-orang paruh baya yang tengah dilanda demam cinta membara. Ah kasihan sekali …

 
Memangnya orang paruh baya, 40 tahun keatas, nggak boleh jatuh cinta ya ? Oh ya boleh-boleh saja. Lagi pula siapa sih orangnya yang bisa mengelak panah asmara coba ? Iya kan ?
Aku pikir, Allah punya hak prerogatif utuk memberi cinta kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sebagian bernilai rezeki, sebagian lagi dengan maksud mencoba keimanan hambanya. Artinya, apakah jika Allah memberi kita rasa cinta kepada seseorang, sementara kita dalam kondisi berpasangan, kita akan tetap berjalan dalam koridor keridhoan Nya berupa tetap setia pada pasangan dan berusaha kuat menghalau rasa cinta itu, ataukah kita turuti saja kata hati kita untuk membina hubungan cinta terlarang yang indah namun menyakiti hati keluarga .
Sekali lagi, Cinta memang bisa melanda siapa saja, tak peduli umur. Dan cinta selalu indah, apalagi jika kita menyikapinya dalam kerangka yang sesuai dengan norma sosial, dan norma agama yang kita anut. Jika anda berusia paruh baya, berstatus single, dan jatuh cinta pada seseorang yang juga single, maka apa lagi yang ditunggu. Segeralah minta kesediaan kekasih hati anda itu untuk menjadi teman hidup anda dalam bahtera rumah tangga selamanya. Namun, jika cinta di hati anda itu berkategori cinta terlarang, yaa.. Apa boleh buat, buang saja jauh-jauh perasaan itu, lupakan. jika tidak, kubur saja dalam-dalam di hati anda, dan jangan dibahas lagi. 

Kembali ke status galau teman-teman para abege tua di situs jejaring sosial, aku sih senang-senang saja membacanya. Suka tersenyum simpul sendiri, sambil membayangkan berbunga - bunganya hati, perasaan hangat yang merayapi hati, binar mata, dan tatap manja. Itu kalau aku. Tapi teman-temanku punya pendapat yang berbeda. Makin banyak status galau diupdate di halaman sosmed, semakin tinggi tingkat kemuakan mereka pada kaum puberwan dan puberwati ini. Selanjutnya, klik unfriend deh. Nah lho …
Terus gimana dong, kalau sudah tua tapi jatuh cinta lagi ? Yaa.. Nggak gimana-gimana, bersikap normal saja, yang penting jangan mengekspos kegalauan di ruang publik. Malu ah. Dan selanjutnya terserah anda. Aku hanya mendoakan, apapun yang terjadi semoga berakhir bahagia, aamiin … 

Selamat berkasih sayang. Jaga hati ya teman - teman … :)


salam sayang,
anni

sumber ilustrasi : www.tulsaworld.com, www.mind.uci.edu