Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, August 1, 2013

Ingin Gaya Tapi Kurang Modal ? Pakai Hape Cina ... ^__^

1374460459367450757 


“ Keren-keren kok pake hape Cina ? “

“ Lho, memangnya kenapa kalau hape Cina ? “

“ yaa… nggak apa-apa sih, cuma aneh aja … “

“ aneh gimana ? “

“ HP Cina kan alay ?! “

“ ….. ??!! “
——————————————————————————————————–
Itulah sepenggal percakapan yang sekilas saya dengar di sebuah toko ponsel saat saya mereparasikan ponsel saya yang error beberapa waktu lalu. Mendengar percakapan singkat sepasang muda-mudi itu, saya malah jadi tertarik untuk memperhatikan ponsel-ponsel produk Cina yang marak terpajang di meja display. Saya jadi penasaran, mengapa anak gadis itu berpendapat bahwa hape Cina itu alay (norak). 

Hebatnya hape buatan Cina menurut pendapat saya (orang awam )

Luar biasa ! hanya itu komentar yang terlintas di pikiran saya saat memperhatikan satu persatu gadget buatan Cina yang terpajang di meja etlase di depan hidung saya. Semua penampilan gadget itu, keren-keren dan catchy. Dari ponsel, smartphone, tablet, dll, semuanya bagus-bagus sampai betah memandangnya berlama-lama. Buat orang seperti saya yang nggak ngerti mana barang original dan mana barang tiruan , akan sangat mudah untuk merogoh kantong dan membeli barang-barang itu karena terpikat oleh harganya yang murah meriah dan tampilan luar yang elegan.
Berbeda dengan merek-merek gadget yang sudah terkenal dan namanya memang sudah established, gadget buatan Cina sulit diingat saking banyak ragamnya dan tidak spesifik. Atau mungkin spesifiknya justru terletak pada sulit diingatnya itu ? yah siapa yang tahu. Namanya juga taktik dagang. Siapa juga orangnya yang mau mengingat merek : BStar, Dezzo, Gvon, K-Touch. Kfone, Maxtron, Micxon, Taxco (kok  mirip nama merek ayam goreng atau nama perusahaan pengeboran minyak yaa ? hehee … ), dll yang namanya ajaib-ajaib. Kalau merek Mito (nah kalau yang ini, mirip merek tissue.. ) , Cross, Huawei, dan Nexian, mungkin sudah lumayan familiar lah, tapi selebihnya ? nggak sanggup deh kalau harus mengingatnya satu persatu, kecuali kalau kita adalah pebisnis gadget. Oh iya teman-teman, maaf ya kalau dalam tulisan ini saya banyak menyebut berbagai merek dagang, bukan promosi lho, tapi biar jelas saja ilustrasinya.

Ponsel Bintang lima dengan harga kaki lima

Gadget buatan Cina memang mengagumkan, padahal konon katanya semua barang itu adalah tiruan dari merek barang-barang serupa yang sudah lebih dahulu terkenal. Modelnya, spesifikasinya, bahkan sampai nama mereknya pun, dibuat sangat mirip dengan barang-barang yang ditiru. Sebagai contoh, ada smartphone buatan Cina yang bermerek Blueberry dan Blackjelly, yang bentuk dan namanyanya sangat mirip dengan Blackberry yang terkenal itu. Saking miripnya, kalau ada orang yang memakai smartphone itu, sekilas tak akan ada orang yang mengira bahwa itu adalah gadget buatan Cina alih-alih Blackberry yang sungguhan. Benar-benar mirip, bahkan bentuk huruf mereknya pun dibuat persis sama. Jadi kagum bercampur geli melihatnya. 

Tak hanya merek yang sangat mirip, saya perhatikan tampilan luar dari gadget buatan Cinapun luar biasa persis dengan gadget-gadget yang memang sudah terkenal. Ada ponsel dan smartphone yang sangat mirip Blackberry Torch, mirip Sony Xperia, Nokia Lumia, ada tablet yang mirip luar biasa dengan Samsung Galaxy Tab, dll, asli mirip banget, sampai saya betul-betul merasa heran. Saking penasarannya, saya meminta mbak-mbak cantik penjaga toko itu untuk mengambil salah satu tabs yang warna dan bentuknya sangat mirip dengan Samsung Galaxy Tabs milik saya. Lalu saya bandingkan, dan hasilnya betul – betul precise ! nggak ada bedanya sama sekali, kecuali mereknya. Ibaratnya nih, kalau dua barang itu ditukar, nggak bakalan ada yang curiga.

Kemiripan yang sangat dalam bentuk dan warna dengan merek terkenal saja sudah luar biasa menurut saya. Ini masih ditambah dengan harganya yang sangat menakjubkan murahnya. Bayangkan misalnya ada mahasiswa yang ingin memiliki ponsel atau smarthphone Nokia atau Sony yang harganya diatas 5 jutaan, tapi nggak kebeli karena mahasiswa kan keuangannya masih ditopang orang tua. Jangan khawatir, dia akan memperoleh tiruannya buatan Cina yang tampilannya dan kemampuannya sangat mirip dengan gadget idamannya, dengan harga 600 ribu rupiah saja.Atau contoh lainnya adalah tiruan Samsung Galaxy Tab yang sgala-galanya dibuat super mirip dengan aslinya. Kalau harga Galaxy Tabs sekitar 4 jutaan, maka tabs tiruan buatan Cina, boleh dibayar 1 jutaan saja, itupun masih bisa ditawar ! .Nah, kalau gadget itu sudah di tangan, tak akan ada yang mengira bahwa itu adalah gadget tiruan, apalagi kalau penampilan mahasiswa itu keren dan pede, semakin nggak akan ada yang nyangka deh, beneran !

Apakah gadget buatan Cina memang abal – abal ?

Melihat maraknya serbuan gadget buatan Cina saja, kita sudah dapat menyimpulkan bahwa Cina adalah Negara yang hebat dalam memproduksi barang-barang manufaktur, dan sangat sulit disaingi oleh negara manapun. Amerika Serikat yang Negara adidaya dalam segala bidang, dan negara-negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa saja ,sangat gentar pada kemajuan ekonomi Cina. Apalagi negara lain, bagaimana coba cara mengejar kemajuan Cina yang sangat dahsyat itu?

Di satu sisi barang-barang buatan Cina, dalam hal ini gadget, harus diakui memang kebanyakan sekadar meniru dan memodifikasi sana-sini dari model yang sudah ada. Jadi tak usah heran kalau kualitasnya sangat jauh di bawah kualitas gadget yang ditirunya. Namun benarkah produk Cina sedemikian abal-abal , tak berkualitas sama sekali ? kebanyakan orang memang berpendapat seperti itu. Buktinya, setiap saya menyentuh gadget apapun yang buatan Cina, selalu saja dicegah oleh Mbak cantik penjaga toko itu. Alih-alih menunjukkan gadget buatan Cina, sang penjaga toko selalu mengarahkan perhatian saya pada merek-merek seperti Nokia, Sony, Samsung, LG, HP, Apple, dll yang memang sudah tak asing lagi. Saya tidak tahu, apakah Mbak cantik itu ingin agar saya membeli barang yang bermerek dengan harga yang mahal demi keuntungan tokonya, ataukah ia ingin agar saya membeli barang yang memang kualitasnya tak perlu diragukan lagi ? saya hanya bisa menduga-duga dalam hati saja. 

Saking penasarannya, di rumah saya mencoba membuka-buka referensi tentang gadget buatan Cina, dan hasilnya memang seperti yang sudah saya duga. Tidak semua gadget produksi Cina abal-abal. Banyak juga yang menjaga kualitas, terutama untuk gadget yang dipasarkan ke Jepang, mengingat konsumen negeri matahari terbit itu sangat selektif dan cerewet dalam membeli barang. Sekali saja suatu barang yang dibeli bercela, maka dalam waktu singkat, cela itu akan menyebar ke seantero negeri. Ini berarti kematian bagi produk tersebut. Jangan harap akan ada importir yang mau menerima barang itu sampai kapanpun. Ini artinya, Cina pun sesungguhnya mampu dan mau memproduksi barang (gadget) yang berkualitas baik.

Jika sampai hanya barang abal-abal belaka yang ada di pasaran Indonesia, itu sebenarnya tak lepas dari kesalahan konsumen Indonesia sendiri yang kurang concern pada mutu suatu barang. Konsumen Indonesia banyak yang mementingkan gengsi tapi sesungguhnya tak bermodal. Akhirnya diambillah jalan pintas. Biar murah meriah yang penting mirip. Toh tak akan ada yang bertanya-tanya terlalu jauh tentang harga dan merek gadgetnya, kecuali jika dia punya teman yang sangat usil dan kepo.

Lalu mengapa Hape Cina dijuluki Hape alay ?

Penyebabnya, selain kualitasnya yang tidak terlampau bagus, harganya yang super murah, juga ini nih yang paling penting : fitur nya berlebihan alias norak banget. Banyak gadget Cina yang dilengkapi dengan fitur yang ajaib-ajaib, yang tidak terlalu penting juga, yang bahkan di gadget aslinya sendiri, fitur semacam itu tidak ditemukan. Dengan kata lain, banyak produsen Cina yang tidak hanya pandai meniru, namun juga pandai memodifkasi barang produksinya, sehingga dalam beberapa sisi melebihi barang yang dia tiru. Lalu apakah ini menyalahi aturan ? menurut saya sih, apapun alasannya, plagiarism itu salah, karena melanggar hak intelektualitas seseorang atau suatu lembaga. Tapi bagaimana jika justru produk tiruan itu sudah sedemikian dimodifikasi dan malah menguntungkan konsumen ? apakah masih menyalahi aturan ? dan kalau menyalahi aturan, aturan mana yang dilanggar ? apakah ada aturan khusus yang dikeluarkan oleh organisasi perdagangan dunia – WTO ? jika ada, mengapa hal ini berlangsung terus ? apakah karena Cina memiliki posisi sedemkian kuat dalam badan dunia tersebut ? wah, kalau masalah ini dibahas, saya harus menulis artikel baru nih kelihatannya :) 

Balik lagi ke soal gadget Cina yang dilengkapi dengan fitur fitur ajaib, ternyata inilah yang membuat barang-barang tak berdosa itu dijuluki Hape alay, karena memang norak banget alias berlebihan. Yaa … kaya kelakuan anak alay, kurang lebih seperti itu.
Berkat fitur unik yang ada di gadget made in Cina, akhirnya ada kesan seakan-akan semua gadget itu memiliki karakter tersendiri ( yang harus diakui memang sangat menjual bagi konsumen ). Fitur yang dimaksud adalah TV Tuner, Dual sim (sesama GSM, sesama CDMA, bahkan GSM dan CDMA), tiga SIM, E-Book Reader, Sensor gerak (contohnya Cross CB 83AT), Mobile Tracking, Enskripsi berkas di kartu memori (password), dan sebagainya. Fitur ini memang belum pernah ada sebelumnya di ponsel anyar seperti Nokia, Sony Ericsson, Motorola, LG, dan Samsung. Bisa dikatakan bahwa ponsel buatan China adalah pelopor untuk setiap fitur unik tersebut. 

Tapi ini yang paling asyik dari gadget buatan Cina : Memiliki kompabilitas terhadap perkembangan teknologi. Kompabilitas yang dimaksud adalah penggunaan aksesoris ponsel yang dapat dipasang dengan aksesoris lain seperti usb yang sama dengan usb card reader, sambungan charger yang sama dengan Nokia, dan sambungan audio headset 3.5 mm yang kompatibel dengan mp3 player.Ini dimaksudkan agar ponsel dapat digunakan dengan aksesoris apa saja ( tidak khusus seperti Nokia dan Sony Ericsson yang mempunyai sambungan khusus ) yang fleksibel. Selain itu, mode USB yang ada pada ponsel buatan China ada 4 yaitu Removeable Disk (Flashdisk), Webcam, COM Port (untuk modem HP), dan koneksi Java (untuk istalasi aplikasi Java via komputer. (affandymuradsite.blogspot.com). Nah, menarik bukan ? menarik sekaligus alay ! karena jadi mirip mainan anak-anak, hehee ….
Orang yang memang memerlukan gadget untuk hal-hal yang sangat penting, seperti untuk mengajar, untuk bisnis, dan untuk menjalankan proifesi penting lainnya, mana mau membeli gadget dengan fitur bejibun seperti itu. 

Terserah anda, mau membeli fungsi atau gengsi ?

Ikhwal pernyataan gadis cantik kepada teman laki-lakinya di awal percakapan tulisan ini, saya rasa dalam selera memilih barang, tidak ada bedanya antara orang keren dan orang kurang keren. Semua orang tak peduli cakep atau sedang-sedang saja, memiliki selera dan motif sendiri-sendiri dalam memilih barang kebutuhannya. Bagi saya pribadi, fungsi sebuah benda tak ada hubungannya dengan martabat saya sebagai manusia. Bisa saja suatu benda memiliki merek ternama dan mahal harganya, serta memiliki fungsi sesuai dengan yang saya harapkan. Namun sebaliknya, ada juga barang yang bisa dibeli dengan harga relatif terjangkau, namun memiliki fungsi yang tak begitu beda dengan barang serupa yang harganya jauh lebih mahal. Kalau sudah begini, terus terang saya memilih fungsi ketimbang gengsi. Yang penting barang itu berkualitas dan awet. Karena bagi saya, suatu benda itu gunanya untuk memudahkan pekerjaan atau aktifitas saya. Hanya itu. Soal gengsi, kalau kita memakai barang mahal yang bermerek tapi nggak pantas, apalagi sampai memaksakan diri dalam memilikinya, ya akhirnya jadi alay juga kan ?

Zaman sekarang, membeli suatu barang semisal gadget memang jadi ruwet. Orang jadi tidak lagi melulu memikirkan kualitas dan fungsi barang tersebut, tapi malah jadi mengait-ngaitkan dengan gengsi dan status sosial. Boleh dibilang ini adalah akibat langsung dari pengaruh era globalisasi yang membuat manusia berperilaku konsumtif dan hedonik. Yang penting gaya dan senang. 

Tapi bagaimana ya, dipikir-pikir, memangnya salah ya membeli produk Cina yang gaya dari segi penampilan namun rapuh dalam kualitas ? buktinya banyak kok orang yang memakai gadget Cina dan gadget tersebut awet sampai 2 tahun. Setelah itu rusak , dia membeli gadget yang baru, yang lebih keren dalam tampilan ,juga lebih murah. Lagi pula memangnya anda mau, memiliki barang sekualitas Ipad dari Apple yang harga dan kualitasnya selangit , dan menggunakannya sampai bertahun-tahun ? apa tidak bosan ? lagi pula setelah 2 tahun kebanyakan barang-barang yang gengsinya setinggi langit itupun rusak juga kan ? dan asal tahu saja, banyak sekali gadget bermerek ternama semisal Blackberry, Nokia, dan Sony yang mereknya begitu berwibawa, namun sesungguhnya dibuat di pabrik-pabrik di Cina ! nah jadi bingungkan ? sama saya juga bingung. Soalnya pas di toko hape kemarin itu, saya kan ingin membeli gadget Cina yang menurut saya bagus banget, tapi dilarang sama suamiku. 

“ Ibu ini ngapain beli barang kaya gitu ? baru kemarin beli yang lebih bagus, kok mau beli lagi ? jangan tergoda sama penampilan dong Bu “, begitu kata suamiku. 

Hmm … betul juga ya, jangan-jangan saya sudah mulai ketularan gaya hidup konsumtif nih. Wah bahaya. Oke teman-teman, sekian tulisan ringan dari saya. Selamat beraktifitas ya, semoga hidup kita lebih bermanfaat bagi orang lain :) 


Salam sayang, 

anni