Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, August 22, 2013

Tes Keperawanan : Teror Mental Bagi Anak- Anak Gadis Kita



Bermula dari wacana tes keperawanan bagi seluruh siswi SMA di wilayah kota Prabumulih yang dilontarkan oleh pihak Dinas Pendidikan setempat, tes keperawanan jelas merupakan topik panas yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Saya sangat antusias mengikuti arus pemikiran para penulis mengenai hal ini. Bukan masalah pro dan kontranya, namun argumentasinya yang memang sangat memikat untuk dicermati. Saya berkesimpulan bahwa baik penulis yang setuju maupun tidak setuju dengan gagasan tes keperawanan itu, sama-sama memandang bahwa ada sebuah persoalan krusial yang menimpa moralitas bangsa kita, yang coba diselesaikan oleh pihak pemerintah melalui sebuah kebijakan yang dinilai sangat sumir dan terkesan panik. Namun saya memiliki pendapat saya sendiri tentang hal ini.

Wacana Basi Bernama Tes Keperawanan

Saya masih ingat betul, di tahun 80-an warga kota Bandung termasuk kedua orang tua saya, dibuat senewen dengan kabar akan dilaksanakannya tes keperawanan bagi semua siswi yang akan memasuki jenjang SMA. Saya yang pada waktu itu baru lulus SMP dan tengah bersiap-siap mendaftar ke sebuah SMA Negeri, sempat ciut hati melihat kegelisahan orang tuaku, meski sebetulnya saya tak mengerti betul, apa yang akan saya lalui nanti dengan tes tersebut, dan apa sesungguhnya yang dikhawatirkan oleh orang tuaku. Syukurlah rencana menghebohkan yang sempat dibahas berhari-hari di harian Pkiran Rakyat itu tak jadi dilaksanakan. Saya tak tahu pasti apa alasannya, namun boleh jadi sebab terlalu derasnya kritikan dari masyarakat.

Lalu di pertengah tahun 1990 an, saat saya duduk di bangku perguruan tinggi, kembali saya mendengar wacana tes keperawanan dilontarkan oleh seorang pejabat publik di kota Bandung, entah oleh siapa saya tak ingat lagi. Kala itu rencana inipun kembali memicu perdebatan sengit di kalangan masyarakat, baik dari kubu pro maupun kontra. Kami para mahasiswa pun turut terimbas heboh berdiskusi panas dengan topik ini, meski akhirnya rencana itu dibatalkan pihak pemerintah.

Tak selesai sampai disitu, awal tahun 2000 dan 2006 kembali publik diresahkan oleh pemberitaan tentang rencana berbagai daerah yang mewajibkan setiap siswi yang telah duduk di bangku SMP dan SMA untuk menjalani tes yang terdengar musykil itu. Dan lagi-lagi kesemuanya berakhir dengan pembatalan entah mengapa.

Ketika kemudian saya membaca sebuah berita yang menyebutkan pihak Dinas Pendidikan kota Prabumulih berencana mewajibkan semua siswi SMA menjalani tes keperawanan, tentu saya sudah tidak merasa terkejut lagi. Saya hanya bisa menghela nafas yang semakin berat menyesaki dada saya. 

Bukan rencana tes keperawanan bodoh itu benar yang membuat sesak dada saya, namun masalah maha besar yang ada dibalik semua kehebohan itu. Sebuah kerusakan moral yang dahsyat telah melumatkan sebagian besar generasi muda bangsa ini. Kerusakan yang sangat sistemik, yang sangat sulit dicarikan solusinya, ditengah ketiadaan teladan dari para pemimpin, ditengah kian tergerusnya nilai-nilai agama dan budaya di tengah-tengah bangsa kita. Wajar saja jika pihak pemerintah yang merasa gagal membina generasi muda, merasa galau lantas berpikir untuk menyelesaikan masalah besar itu dengan segera, meski akhirnya mereka malah tampak terkesan gegabah dan tak mengedepankan logika.

Tes Keperawanan Merupakan Teror Mental Bagi Anak-anak Gadis Kita

Mencoba untuk berempati dengan kagalauan dan ketakutan yang dirasakan anak-anak perempuan siswi SMP dan SMA menghadapi tes keperawanan, kembali saya terkenang saat pertama kali mendengar kabar tentang rencana akan digulirkannya tes keperawanan bagi calon siswi SMA di kota Bandung tahun 80 an dulu. 

Tes keperawanan. Apa pula itu ? aku mau diapakan nanti ? apakah aku akan disuruh membuka semua seragamku di depan dokter-dokter dan membiarkan mereka memeriksa dan meneliti kemaluanku ? apakah rasanya sakit saat diperiksa nanti? apakah nanti saya malah akan kehilangan keperawanan sama sekali ?. Begitulah berbagai pertanyaan dan ketakutan menghinggapi hati saya. Saya yang ketika itu masih berumur 15 tahun, remaja yang tahunya hanya pergi dan pulang sekolah, latihan pramuka, lalu menghabiskan waktu selebihnya dengan membaca buku , bermain bersama adik , dan menonton TV bersama keluarga di rumah saja, merasa ketakutan setengah mati membayangkan tes yang sangat mengerikan itu.

Meski saya tak pernah sekalipun disentuh oleh laki-laki, saya sungguh tak tahu bagaimana kondisi selaput daraku. Apakah masih berada di tempatnya dengan baik, ataukah sudah hilang ? bukankah saya sering bermain sepeda ? bukankah tak sekali dua kali saya terjatuh saat berlatih Pramuka dulu ? bukankah saya sering berlari, meloncat dan bergerak pecicilan saat berolah raga senam di halaman sekolah ?. Kata orang – orang pandai yang tulisannya saya baca di koran-koran, selaput dara bisa rusak juga akibat gerakan seperti itu, tak hanya oleh hubungan seksual semata. Nah, bayangkan saja ketakutan yang menghantuiku dan teman-temanku saat itu. Padahal kami ini gadis baik-baik, manatah lagi ketakutan yang melanda perasaan teman-teman kami yang termasuk anak gaul dan bandel-bandel.

Membayangkan kami harus duduk dalam antrian panjang yang beku dan bisu, lalu nama kami disebut satu demi satu, memasuki ruangan yang dipenuhi peralatan medis yang menyeramkan, lalu membuka pakaian di depan tatapan tajam para dokter, membentangkan kaki lebar-lebar di hadapan mereka dan membiarkan segala peralatan memasuki kemaluan kami, adalah sebuah teror yang tak sanggup kami tanggungkan. Kami ini masih sangat belia, baru 15 tahun, 16 tahun, 17 tahun ! kata orang tua kami, bahkan kami ini masih kecil ! apa salah kami sehingga kami diperlakukan seperti itu ,seolah kami adalah gadis nakal ? . Baru membayangkannya saja perutku sudah mual dan mau muntah. Ketakutan , cemas, gelisah, dan marah, begitu menguasai hati dan menekan perasan kami para gadis yang saat itu akan memasuki jenjang SMA.

Jangan Hinakan Anak- Anak Perempuan Kita

Kini sebagai seorang Ibu dan seorang Ibu Guru, kembali perasaan- perasaan negatif itu menguasai pikiranku lagi. Apalagi yang akan mereka lakukan terhadap jutaan anak perempuan baik-baik di negeri ini ?. Anak- anak perempuan yang serius bersekolah menuntut ilmu, yang pandai menjaga diri dan kehormatannya dalam pergaulannya, yang hanya memilih kegiatan positif untuk mengisi waktu senggangnya, yang taat beribadah dan berusaha sekuat tenaga menjaga nama baik diri dan keluarganya ?. 

Mengapa mengusik ketenteraman anak-anak gadis yang baik –baik ini dengan rencana yang sangat potensial menjatuhkan mental mereka ?. Tak dapatkah sedikit berempati, betapa jutaan anak-anak gadis kita hidup dalam kemiskinan, lantas pemimpin kita alih-alih meringankan beban kehidupan mereka , malahan menambah lagi beban pikiran anak-anak gadis yang tak bersalah itu. Jika sudah begini, rasanya tak ada lagi yang dapat diharapkan dari pemimpin negeri kita.

Tak hanya anak-anak gadis itu yang merasa ketakutan dan marah. Kita para orang tua dan gurupun merasakan hal sama, bukan ?. Tak ikhlas dan merasa terluka jika anak-anak gadis kita dijadikan objek sebuah kebijakan pemerintah yang tak jelas konsep dan arahnya. Tes keperawanan jika benar-benar dilaksanakan, akan merupakan sebuah pelanggaran HAM yang berat, melecehkan harkat kemanusiaan anak-anak kita, serta hanya akan mengakibatkan seluruh dunia mentertawakan betapa “ hebat ” nya cara pemimpin kita memperlakukan warga negaranya.

Tentu saja kita tak menutup mata dengan kenyataan begitu banyaknya remaja yang telah terjerumus begitu rupa dalam pergaulan bebas tanpa batas. Ini adalah sebuah permasalah besar, yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama. Mengapa harus anak-anak yang menanggung semua resikonya ?. Jangan sampai kita berkelakuan bak pepatah “ Buruk rupa cermin dibelah “. Pertanyaan sederhana yang seharusnya dijawab adalah, sampai dimana peran orang tua, keluarga, guru, masyarakat, dan pemimpin negeri ini mendidik, membina, dan mengawasi anak-anaknya ? mengapa anak-anak sampai terjerumus ke dalam pergaulan hitam seperti itu ? ataukah jangan-jangan kita orang dewasa memang sudah tak punya muka lagi di hadapan anak-anak itu, sebab kitapun berkelakuan tak jauh berbeda dengan mereka , para remaja yang belum pandai benar menggunakan akalnya ?

Hentikan segala kebijakan yang menyakiti hati anak-anak

Wahai kalian para pemimpin yang kami beri amanah, jangan pernah melontarkan lagi wacana tes keperawanan tak berperasaan itu sampai kapanpun. Hentikan menyakiti hati anak-anak kita sekarang juga. Anak-anak itu, berkelakuan baik atau buruk, adalah makhluk yang harus dilindungi, yang jika melakukan kesalahan harus segera dibantu, bukannya semakin digelapkan masa depannya. Jangan pernah menghakimi anak-anak kita, apalagi menempelkan cap negatif kepada anak-anak yang berbuat salah, karena boleh jadi kita sebagai orang dewasa turut andil dalam kesalahan itu.

Tes keperawanan itu, jika memang jadi dilaksanakan, akan membuat anak-anak gadis kita terpecah dalam tiga status : perawan, tidak perawan karena hubungan seksual, dan tidak perawan karena sebab yang halal. Yakinkah anda dapat menanggung gejolak yang dahsyat dengan timbulnya strata sosial baru yang anda ciptakan itu ?. Jangan pernah lagi mencalonkan diri menjadi pemimpin jika anda tidak mampu berpikir seratus tahun kedepan seperti Soekarno – Hatta – Syahrir dan lain-lain para pendiri negara kita ! .Kami tak sudi punya pemimpin yang tak membela dan melindungi warga negaranya. Bukan untuk menyakiti hati anak-anak, kami memberi anda kepercayaan dan membayar anda dengan gaji yang besar !

Menjaga Moral Adalah Tanggung Jawab Bersama

Memang tak mudah menjaga moral bangsa di tengah kusut masainya permasalahan bangsa dan ditengah dahsyatnya pengaruh budaya luar yang tak sesuai dengan nilai-nilai moral kita. Namun sulit bukan berarti tak mungkin.

Jika kita beruntung memilik anak-anak yang baik dan pandai menjaga diri dan kehormatannya, maka jagalah terus mereka, karena menjaga keluarga adalah tanggung jawab kita sampai mati. Dan jika anak-anak kita terlanjur bersentuhan dengan pergaulan negatif, segeralah bantu mereka memulihkan fisik dan terutama mentalnya agar kembali ke jalan yang benar. Mengembalikan kepercayaan diri, dan memanusiakan anak-anak yang salah jalan, adalah cara terbaik yang bisa dilakukan, bukan dengan menguji apakah mereka masih perawan, masih perjaka, ataukah tidak.

Bukannya sama sekali kita ini buta akan latar belakang wacana tes keperawanan yang kerap dilontarkan. Siapa orangnya di Republik ini yang tidak merasa prihatin, merasa miris, melihat angka-angka prosentase pergaulan bebas di kalangan remaja yang terus meningkat dari waktu ke waktu ? .Mengapa tidak kita jadikan saja latar belakang itu untuk merancang sebuah kebijakan yang komprehensif, yang merangkul semua kalangan ? sebuah kebijakan yang lebih menentramkan dan relatif mudah dilaksanakan ?

Bukankah bertabur cerdik pandai negeri ini ? mengapa tidak melibatkan mereka lebih jauh lagi. Lagipula bukankah pemerintah dilengkapi dengan sejumlah kementrian yang seharusnya dapat bekerja lebih efektif ketimbang hanya sibuk mengurusi pencitraan diri ?
Jangan lagi bicara soal ketiadaan dana. Silahkan hitung sendiri uang rakyat yang ditilap para pejabat publik. Uang dalam jumlah besar yang seharusnya lebih dari cukup untuk menggulirkan berbagai program yang dapat lebih melindungi dan memberdayakan anak-anak kita !. Atau jangan-jangan, justru disitulah letak permasalahannya ! para pemimpin pemerintahan dan pemuka agama negeri ini sudah melupakan ajaran bahwa pemimpin yang tidak amanah, hanya akan menyebabkan kehancuran negerinya !



Salam sayang,

anni