Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, August 14, 2013

Jika Hanya Pandai Bersorak Saat Gawang PSSI Kebobolan, Jangan Ejek Cara Kami Merayakan Hari Kemerdekaan !



Ada pemandangan berbeda yang kulihat di sepanjang perjalanan, saat pergi dan pulang mudik kemarin.Pemandangan khas yang selalu berulang setiap tahun menjelang tanggal 17 Agustus. Pemandangan semarak, yang selalu mempengaruhi suasana hatiku. Suasana hatiku yang tak pernah hilang, meski telah puluhan kali kulihat pemandangan serupa itu.

Kota-kota yang kami lalui, tampil lebih meriah dari biasanya. Para penduduk rupanya telah mempercantik kotanya dengan hiasan bendera dan kain berwarna Merah – Putih serta hiasan aneka rupa, seakan sebuah perhelatan besar akan segera berlangsung di setiap sudut kota-kota itu. Kulihat juga orang-orang mulai menghiasi gapura di mulut-mulut gang dengan segala hiasan dan tulisan-tulisan yang berisi rangkaian kalimat yang klise, namun masih menyisakan gelora semangat di dada kami.

Bendera dan kain berwarna Merah – Putih itu dipasang melingkar, berpilin, berpita, melengkung, atau melambai dengan anggun di atas tiang bendera dari besi atau sebatang bambu, gagah menentang langit yang biru. Aku senang merasakan kegembiraan dan sebersit semangat yang tersemat diantara lipatan-lipatan dan kibaran bendera itu. Tak sabar rasanya untuk segera tiba di hari yang ditunggu-tunggu itu. 

Jangan ganti bendera negara kita dengan bendera kelompokmu 

Aku senang melihat bendera kebanggaan negeriku terpasang, terpancang, tersemat di setiap jengkal dinding kotaku. Tak hanya senang, namun juga ikhlas. Ini adalah bendera kami, bendera kita, lambang kedaulatan bangsa kita, lambang harga diri dan kehormatan kita sebagai sebuah komunitas manusia yang disebut bangsa. Bersama-sama dengan Bahasa Indonesia, mata uang Rupiah, lambang negara Garuda Pancasila, lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan konstitusi UUD 1945, Bendera Merah –Putih adalah lambang negara yang tak boleh diganggu gugat bangsa lain. 

Kami rakyat jelata, boleh saja hidup sangat sederhana , kurang berpendidikan, tak mempunyai pekerjaan yang patut dibanggakan, dan kurang berbudaya. Tak mengapa kami dianggap seperti itu, yang penting kami masih setia kepada Negara Indonesia yang sangat kami cintai ini. Namun ada satu hal yang kami ingin engkau mengingatnya baik-baik. Meski kami hanya rakyat kecil yang lemah, jangan sekali-kali mengganggu bendera Merah- Putih kami, atau kami akan berperang mengangkat senjata demi membela harga diri kami. Kami rakyat kecil yang sehari-hari mencari nafkah di jalan raya, di pertambangan nan jauh di bawah tanah, di pengeboran minyak tengah samudera, menjaga hutan belantara , dan menjaga wilayah negara di tapal batas, tak takut mati ! karena kami sudah terbiasa sangat dekat dengan kematian. Apalagi jika kematian itu berarti membela kehormatan dan kebenaran, kami lebih tidak takut lagi. Camkan itu !

Kami tak takut melawan musuh sekuat apapun, namun sungguh, kami sangat takut jika harus berhadapan dengan saudara kami sendiri. Lihatlah sebagian saudara kami yang ada diujung satu dan di ujung satunya lagi negeri ini. Mereka berniat mengganti bendera Merah- Putih dengan bendera mereka sendiri. Kami hanya dapat bersedih. Kami tak ingin berperang menumpahkan darah melawan mereka. Mereka saudara sekandung kami, tak mungkin kami berhadapan senjata dengan mereka. 

Kami hanya berharap para pemimpin kami, tak hanya pandai berasyik masuk dengan syahwat politik mereka yang sangat rakus akan kekuasaan, namun juga cekatan dalam menyelesaikan konflik diantara bangsa ini. Bukan tanpa alasan saudara-saudara kami itu marah dan mengambil sikap bermusuhan. Saudara- saudara kami itu, sudah sejak lama merasa ditelantarkan oleh pemerintah, merasa diabaikan di kampung halamannya sendiri. Jika kalian rakyat besar tidak segera mengakhiri ketidak adilan ini, bukan mustahil, saudara- saudara kami itu akan benar-benar memisahkan diri dan mendirikan negara sendiri. Tentu saja kami tak ingin hal itu sampai terjadi.

Hanya kedamaian, ketenteraman, dan keamanan yang kami harapkan dari negeri ini. Atau apakah harapan kami itu terlampau besar ? kalau benar begitu , lalu harus kepada siapa lagi kami menggantungkan harapan, jika tidak kepada engkau para pemimpin kami ? 

Jangan ganti juga bendera kami dengan baliho bergambar wajah caleg 

Oh ya, kami juga tak berdaya melawan saudara kami yang ini, yang kami tak tahu siapa mereka. Mereka yang wajahnya terpasang di baliho-baliho berukuran raksasa di sepanjang jalan raya. Kata orang, mereka itu calon wakil rakyat, yang nantinya akan duduk di lembaga yang terhormat untuk mewakili dan membela kami rakyat kecil. Itu sebabnya wajah mereka terpajang disana, agar kami dapat mengenali mereka, menghafal nama, nomor urut, dan partai mereka. Meski sebetulnya, semakin memandang foto mereka semakin ingin muntah saja rasanya kami ini. 

Tak tahan kami memandangi wajah mereka berlama-lama. Wajah-wajah yang bening, licin, berkilat, sehat , cantik dan tampan, khas wajah rakyat besar yang kaya dan berpendidikan. Namun entah mengapa, selalu saja tertangkap senyum yang terlampau dibuat-buat, kaku dan tidak tulus. Tak jarang juga kami menangkap sorot mata culas dan senyuman tamak yang begitu gamblang terlukis di wajah mereka. Kami tahu, sungguh tak adil kami menilai mereka, hanya karena kami tak mengenal mereka , hanya sekedar memandang foto, atau hanya karena mereka bukan sanak saudara dan teman kami. Kami hanya sudah muak dengan politik yang dipermainkan oleh para pemimpin kami. Kami hanya sudah hilang harapan kepada para pemimpin yang selalu ingkar janji dan tak dapat dipercaya. 

Ada perasaan tak ikhlas menyelusupi hati kecil kami, saat kami dapati pemandangan kota kami yang tadinya indah, jadi tercemar oleh wajah-wajah yang terpampang di baliho-baliho itu. Perasaan yang tak kami miliki manakala kami memandang manakala kota kami disemaraki oleh hiasan bendera merah putih di sana-sini. Namun apa daya kami ? kami tak bisa berbuat apa-apa dengan baliho-baliho itu. Meski tak senang, kami tak berani menurunkannya, atau kami akan ditangkap polisi atau dipukuli orang-orang berseragam entah apa. Tapi tak mengapa, meski tak berdaya kami punya cara sendiri untuk melawan mereka : tak akan kami datangi TPS hanya untuk mencoblos gambar mereka ! jangan harap, meski mereka telah memberi kami amplop berisi uang 50 ribu. Suara kami tak bisa dibeli semudah itu. Kami hanya akan memilih orang yang terbukti dapat dipercaya, meski wajahnya tak kami dapati di baliho-baliho itu. Jangan pernah mengira kami bodoh, hanya karena kami miskin.

Jangan ejek cara kami merayakan hari kemerdekaan

Kami rakyat kecil boleh saja tak terlalu mengerti arti kata nasionalisme manatah lagi patriotisme. Yang kami tahu, setiap tanggal 17 Agustus kami boleh berlibur sehari. Boleh tidak bekerja dan tidak bersekolah, lalu kami boleh bermain, berlomba dengan teman sekampung, dalam sebuah acara yang sangat kami tunggu- tunggu. Acaranya sederhana saja dan selalu berulang itu-itu saja dari tahun ke tahun, namun kami tak pernah bosan memainkannya. Tarik tambang, balapan makan kerupuk, balap karung, lomba membawa kelereng dalam sendok, lomba memasukkan benang ke dalam jarum, lomba menangkap dan memasukkan Belut ke dalam botol, lomba panjat pinang berhadiah sandal jepit baru, kaos bagus, mie instant, termos air panas dan masih banyak lagi. Ah ingin sekali kami mendapatkan semua barang-barang itu, meski wajah dan tubuh kami harus belepotan oli. Tak ada kegembiraan melebihi kegembiraan kami di sehari itu.

Tapi kami dengar orang-orang besar mengejek cara kami merayakan 17 Agustusan. Mereka bilang, apa hubungannya lomba makan kerupuk dengan kemerdekaan bangsa ini ? apa kaitannya panjat pinang berlumur oli dengan jiwa nasionalisme ? ah mana kami tahu, kami kan rakyat kecil. Mereka sendiri pasti sudah tahu jawabannya, karena mereka pintar. Jadi buat apa bertanya, macam orang bodoh saja. 

Mereka terus mengejek kami, tapi tak pernah kami dengarkan ocehan mereka. Untuk apa kami peduli ? lihat saja mereka yang mengejek kami itu. Kata mereka, semua lomba-lomba itu tak ada hubungannya dengan makna proklamasi. Yang penting tunjukkan karya nyata. Tapi kelihatannya mereka hanya pandai berbicara saja, karena karya yang nyatapun mereka tak punya. Masih jauh lebih baik kondisi kami. Setiap hari belajar dan bekerja membanting tulang, berbuat sesuatu yang berguna untuk negeri ini meski kecil saja artinya, lalu setahun sekali bergembira memperingati hari kemerdekaan. 

Orang- orang besar yang mengejek kami itu, mungkin hanya sesekali merayakan hari kemerdekaan. Itupun di kantor- kantor mereka yang mewah. Mengikuti upacara bendera dengan setengah hati seraya terus melirik Blackberry nya ketika bendera dikerek ke atas tiangnya, dan tergagap saat harus menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebab tak hafal syairnya. 

Dan kini lihatlah akibatnya, mereka orang-orang kaya dan pintar –pintar yang mengejek kami itu, bersorak –sorai kegirangan ketika kemarin kesebelasan yang hebat-hebat dari negeri Inggris membobol dan mencukur habis gawang PSSI di depan matanya sendiri. Sampai heran kami dibuatnya. Apakah mereka ini sudah tak waras lagi ?. Merekapun hanya bisa menghina TNI ketika tentara kita itu menjaga lautan kita yang sangat luas dengan kapal patrol yang sederhana, kalah canggih di banding kapal nelayan negeri tetangga. Dan orang – orang besar itupun hanya bisa tertawa mengejek saat menunjukkan indeks korupsi negera ini yang masih sangat memprihatinkan. Padahal boleh jadi, justru merekalah pelaku korupsi itu. Sangat memalukan. Itulah akibatnya kalau hanya pandai mengejek tapi tak punya solusi.

Untung ada lomba-lomba, kalau tidak anak-anak kami akan menjadi manusia anti sosial !

Apakah cara kami yang naïf dalam merayakan hari kemerdekaan masih juga akan engkau ejek ? terserah ! Tapi kami akan tetap melaksanakannya setiap tahun. Kami akan tetap mengajak anak-anak kami mengikuti semua lomba-lomba yang ceria dan menyehatkan badan itu. Anak-anak kami sudah lama terbelenggu oleh segala macam permainan virtual dan sosialisasi semu di dunia maya. Kami harus kurangi itu. 

Kami harus memperkenalkan kepada mereka, bahwa di negeri ini ada permainan rakyat yang jauh lebih menarik dan manusiawi. Akan kami ajari mereka cara bersosialisasi secara manusia kepada manusia secara nyata. Akan kami tanamkan kesadaran kepada mereka bahwa ada teman mereka yang nyata, yang tinggal bertetangga RT, bahkan bersebelahan rumah, yang tak pernah saling bertegur sapa sebab mereka lebih asyik berinteraksi dengan gadgetnya masing-masing. Jika dibiarkan terus berlarut, sejengkal lagi anak-anak kami akan menjadi makhluk yang anti sosial.

Kami akan terus menyelenggarakan dan mengikuti semua lomba- lomba itu, meski acara itu dianggap tidak relevan dengan makna kemerdekaan. Mereka tidak tahu saja, bahwa justru melalui permainan dan lomba-lomba sederhana inilah, kami rakyat kecil dapat benar-benar merasakan arti kemerdekaan. Kami bebas sejenak dari kesibukan yang begitu membelenggu, kami bebas berinteraksi dan memperbaharui persaudaraan dengan para tetangga kami, kembali merasakan arti kata gotong royong . Gotong royong menyelenggarakan semua perlombaan ini, bergotong royong menyediakan dana sebab kami tak bisa mengharapkan bantuan dari pemerintah. Gotong royong menyediakan hadiah sederhana bagi anak – anak yang memenangkan lomba. Gotong royong. Ah benar- benar kata yang kian asing saja dari perbendaharaan bahasa kami. 

Di hari kemerdekaan yang hanya satu hari itu, kami sungguh berbahagia, dan merasa benar-benar menjadi rakyat Indonesia yang merdeka. Sederhana sekali bukan ? ya begitulah, kami memang rakyat kecil yang sederhana. Kami rakyat kecil, akan tetap menyelenggarakan dan mengikuti semua lomba untuk memperingati hari kemerdekaan negeri ini, dan meresapi atmosfer kebahagiaan yang menyeruak hingga langit-langit perkampungan dan kota tempat tinggal kami. Kami cinta negeri ini, dan kami akan tetap setia pada negeri ini, selamanya. Merdeka !


Salam sayang,

Anni