Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Sunday, January 12, 2014

Sakit Hati Adalah : Lidah Tergigit Dua Kali di Tempat yang Sama


13892327771199467663

shelbourneclinic.ie

Seringkali dunia bersikap tidak adil pada kita. Sebagai contoh, saat tetangga kita menderita sakit Tipes, atau sakit Demam Berdarah, beramai-ramai tetangga yang lain membesuknya ke Rumah Sakit. Tak cukup sekali, setelah si Sakit pulang, masih juga tetangga kiri-kanan menengok sambil membawakan bermacam-macam buah tangan, dari kue kalengan sampai buah-buahan kiloan.


Sementara kita ? sama-sama menderita sakit, sakit banget malah, tapi tak seorangpun menaruh peduli. Jangankan menengok, ditanyapun tidak. Padahal kita sedang kesakitan banget. Sakit lidah akibat tergigit gigi sendiri . Dua kali tergigit lagi ! bayangkan betapa menderitanya ! . Tergigit satu kali saja sakitnya sudah minta ampun, apalagi dua kali. Tak hanya sakit lidah yang kita rasakan, tapi sakit ini bisa menjalar kemana-mana. Membuat mata jadi berair, kepala berdenyut, emosi memuncak, dan ini yang sulit disembuhkan : sakit hati sebab merasa diri kita bodoh bukan kepalang. 


Pintar itu ada mentoknya, bodoh itu tak terhingga


Kok bisa-bisanya lidah sendiri sampai tergigit dua kali, di tempat yang sama pula ? wah bodoh sekali ! . Keledai yang katanya dungu saja, bisa mengambil pelajaran saat dia terperosok kok. Besok-besok lagi, saat dia melewati jalan yang berlubang itu, si keledai pasti akan menghindari lubang yang sudah membuatnya terperosok tadi. Lha kita, yang umurnya sudah bangkotan, berpendidikan sangat tinggi, saking tingginya sampai sekolah saja di luar negeri tapi masih luarnya lagi ( baca : sekolah di Mars ), , memiliki karir dan kedudukan sosial bergengsi, ditakuti semua kalangan, dari Satpam sampai Ahok semua takut sama kita, lha kok bisa berkelakuan sebodoh itu ? sungguh memalukan, apa kata duniaa … ?


Lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba gerakan gigi geraham berubah haluan di luar kontrol kita. Dari yang seharusnya menggigit dan mengunyah makanan, malah memangsa lidah sendiri. Aaawwwhh … ! ! sakitnya luar biasa. Refleks kita berhenti mengunyah dan menahan nafas merasakan sakit yang datang secara tiba-tiba. Darah pun mengalir, berasa hangat dan asin di indera perasa yang tergigit. Lalu kita beranjak dari meja makan, pergi ke wastafel, berkumur, dan tercenung di depan cermin merasakan sakit yang berdenyut. Di permukaan cermin terlihat wajah seseorang dengan ekspresi yang jauh dari sedap dipandang mata. Dalam sekejap, hilang sudah selera makan yang beberapa menit lalu begitu menggebu-gebu. Malas melanjutkan, atau kalaupun meneruskan makan, itu karena kita dilarang memubazirkan makanan. Tapi mana ada nikmatnya kalau sudah begitu.


Tapi penderitaan kita tak berhenti sampai disitu rupanya. Nah inilah bencana yang sesungguhnya. Tergigit lidah oleh gigi sendiri dalam kesempatan pertama, itu musibah. Tapi kalau sampai tergigit dua kali di tempat yang sama, itu namanya bencana. Belum sembuh rasa sakit akibat tergigit kemarin, tiba-tiba harus tergigit lagi di tempat yang sama saat kita makan di kesempatan berikutnya. Oh My GOD ! kenapa bisa begini ?? nangis-nangis deh …


Mana empatimu ??


Kali ini tak hanya air mata kesakitan yang merebak keluar, namun air mata sakit hati. Ada semacam rasa dendam kesumat yang diam-diam mengaliri hati kita, sebab merasa bodoh dan dungu. Tapi apa boleh buat. Lidah lidah sendiri, gigi gigi sendiri, tergigit tergigit sendiri. Siapa yang mau disalahkan kalau begitu selain diri sendiri ? sakit hati, dendam juga tak ada gunanya, karena diri sendiri yang melakukannya. Masak dendam kok sama gigi sendiri ? sudah cabut saja sono …


Walhasil, minimal 3 harian lah kita harus menanggung derita ini seorang diri. Sakit yang sangat, namun siapa yang peduli. Ngadu sama pasangan pun, paling Cuma dibilang, “ Lain kali hati-hati ya, sayang ! “. Sudah hanya itu, tak ada tatapan empati atau khawatir takut kita mati. Nggak ada. Sebel banget kan, padahal mana tahu luka akibat tergigit itu bisa terkena infeksi atau dimasuki kuman Tetanus yang mematikan ! kalau kita mati gimana ? pasti dia akan menyesal karena tidak berempati ! (lebay).


Dan tetangga, teman kerja ? mana mau mereka membesuk kita. Mereka malah bilang, lidah tergigit, sariawan, panu, kurap, kudis, sakit gigi, pilek, PMS, cantengan, itu bukan sakit. Jadi tak perlu ditengok, dan tak perlu bolos kerja. Hidup harus berjalan normal, jangan cengeng dan tetap harus masuk kerja, titik ! wedeeww … nggak adil kan ? mana bisa kita dibilang nggak sakit ? lha wong sakitnya sampai menjalar ke hati sanubari gini kok tega-teganya dibilang bukan sakit ? rasain aja sendiri kalau nggak percaya …


Let’s Face the Truth


Okelah kalau begituhh, sekarang mari kita pikirkan, bagaimana caranya agar kita tak harus menderita berkepanjangan saat lidah kita terluka akibat tergigit sendiri. Kata ibu saya , begini cara yang paling efektif untuk menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit itu :


1. Berkumur dengan segelas air hangat agak panas yang dicampur garam. Kumurkan dan rendamkan lidah yang terluka selama 20 detik, dan ulangi terus sampai air garamnya habis. Awalnya akan terasa cekot-cekot, tapi setelah kumuran yang pertama, rasa sakit itu akan hilang. 


2. Olesi dengan madu. Nah kalau ini sih enak dan manis kan ? tapi kurang efektif, sebab, berapa lama madu itu akan bertahan menempel di lidah yang setiap saat mengeluarkan air ludah ? khasiatnya hanya akan efektif kalau seharian kita menjulurkan lidah yang sudah diolesi madu tersebut. Tapi siapa yang mau seperti itu ? kalau saya yang melakukannya, paling murid-murid saya akan berkomentar dengan ekspresi wajah cemas, “ bu anni, ada yang bisa saya bantu ? “, karena mereka pasti mengira saya sudah gila.


3. Mengulum Es Batu. Nah ini termasuk mudah dan efektif, karena kebanyakan orang menyukai es batu, kecuali orang-orang yang punya gangguan gigi sensitif. Es batu dengan suhunya yang rendah, efektif meredakan rasa sakit dan menghentikan pendarahan. Harganya murah, kadang gratis, dan mudah didapat pula.


Nah, itulah tips dari Ibu saya untuk mengurangi rasa sakit dan menyembuhkan saat lidah atau bibir kita mengalami luka akibat tergigit sendiri. Catat : tergigit sendiri ya. Sebab tak mungkin orang lain yang melakukannya. Kalau sampai itu terjadi, pihak yang berwajiblah urusannya, karena itu sudah menyangkut pasal penganiayaan.


Demikian catatan super ringan dari saya, semoga bermanfaat ya. Selamat berhati-hati saat makan. Sayangi diri sendiri, stop melukai tubuh dan hati kita, sekecil apapun.



Salam sayang,


anni