Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, October 26, 2012

Anya Gadis Cilik yang Melihat Suaminya di Langit



Anya gadis kecil yang duduk di bangku kelas 3 SD. Umurnya belum genap 9 tahun, namun khayalannya sudah melambung tinggi sampai ke langit-langit kamar tempat dia mendamparkan dirinya sepulang dari sekolah di siang hari yang terik.

Anya sangat suka membaca. Semua majalah anak-anak yang dibelikan Ayahnya, habis dibaca hanya dalam satu jam. Namun Anya tak pernah merasa bosan. Majalah-majalah itu, Bobo, si Kuntjung, Ananda, akan terus dibaca berulang-ulang sampai dia dapat menghafal semua ceritanya di luar kepala. Tak hanya majalah anak-anak, buku- buku komik karya HC Andersen juga tak luput dari perhatiannya. Seluruh komik itu, dari yang tipis sampai yang tebal, tamat dibacanya dengan antusias. Sayang Ayah tak selalu punya cukup uang untuk membeli semua bacaan yang diinginkan Anya.

Tapi Anya tak pernah mengeluh, hanya sedikit merasa sedih saja. Setelah itu dia akan merengek kepada kakak laki-lakinya untuk diantarkan ke perpustakaan daerah di jalan Cikapundung. Dan biasanya kakaknya mau saja mengantar Anya pergi ke perpustakaan dengan naik sepeda berboncengan.

Perpustakaan adalah sebuah tempat yang menurut Anya adalah surga. Semua bacaan yang dia impikan, ada di situ. Andai saja kakaknya tidak melarangnya, ingin rasanya semua rak-rak buku yg penuh dengan buku cerita di perpustakaan itu, dibawa pulang, dipindahkan seluruh isinya ke rumah. Tapi apa boleh buat, Anya hanya boleh meminjam tiga buah buku saja, itupun harus segera dikembalikan dalam waktu seminggu. Kalau tidak Anya harus membayar denda. Ah perpustakaan itu pelit sekali. Padahal Anya kan masih kecil ...

Bermula dari kegemarannya membaca itu, Anya akhirnya memiliki daya imajinasi yang sangat melayang tinggi. Dengan mudah Anya berkhayal menjadi seorang putri raja yang dibenci oleh ibu tirinya yang dengki dengan kecantikannya. Atau sambil telentang di atas tempat tidurnya, Anya akan melambungkan pikirannya sampai ke negeri dongeng, ikut bermain gelembung balon sabun bersama Oki dan Nirmala, tokoh-tokoh favoritnya di majalah Bobo. Berlarian ke dapur istana Ratu Bidadari, untuk mencicipi sepotong kue Tar yang lezat buatan Pak Dobleh sang koki istana.

Anya juga sangat menggemari dongeng Cinderella. Menurut Anya, kisah Cinderella khusus diciptakan untuknya. Saking senangnya, dia berpendapat orang lain tidak boleh ikut membaca, dan tidak boleh menyukai kisah ini. Pokoknya hanya Anya seorang yang boleh menyukainya.
Dari dongeng si Upik Abu ini, Anya mengenal arti kata cinta, dan diam-diam merasakan getar cinta di dalam hatinya. Anya kecil merasa jatuh cinta pada pangeran tampan yang kelak akan menjadi suaminya.


Suami, ah indahnya kata itu. "Alangkah bahagianya jika aku punya suami", pikir Anya. " Hmm... Aku akan punya suami yang berwajah tampan, baik hati dan menyayangiku. Tapi bagaimana ya kira-kira wajahnya, dan siapa ya namanya ? Anya terus berfikir dengan keras dan serius, sampai keningnya berkerut-kerut. Namun wajah dan nama suaminya tak kunjung dia temukan meski sudah seminggu dia berfikir dengan keras.

Hingga akhirnya, pada suatu petang ...
Anya tengah bermain dan berbaring-baring bersama teman-temannya di hamparan rumput yang empuk di pinggir lapangan yang membentang di depan rumahnya. Anya dan dua temannya, Vina dan Dita, asyik mengobrol dan berkhayal tentang siapa yang bakal menjadi suami mereka kelak.
Tiba-tiba ... Anya melihat seraut wajah di langit, tersembunyi diantara gumpalan awan - awal putih kelabu yang berarak di langit di atas kepalanya. Wajah seorang pemuda yang tampan, berkulit gelap dengan senyum yang menawan dan tatapan yang lembut penuh kasih. Wajah itu menatap dan tersenyum kepadanya, lalu menghilang dalam sekejap ketika Anya mengedipkan matanya.

Anya merasa kaget luar biasa namun anehnya, dia tak merasa takut, justru sebaliknya, dia merasa senang. Dia sangat yakin, itulah wajah suaminya kelak. Dan entah dari mana asal mulanya, Anya merasakan ada desiran halus di dalam dadanya. Ada perasaan hangat yang menjalari hatinya. Perasaan hangat yang membuatnya merasa senang dan berbunga-bunga. Ya ampun, Anya sudah melihat kilasan wajah suaminya kelak !  Can you believe that ?

Semenjak itu Anya tak pernah dapat melupakan wajah tampan yang dia lihat sekilas di langit di balik awan itu. Ah, siapa ya namanya ? Anya mulai lagi dengan khayalannya yang lain. Khayalan tentang nama bagi pangeran tampan di langit itu.
Nama apa ya yang kira - kira pantas bagi pangeran tampan suaminya itu ?
Ah Anya, Anya ... ada - ada saja kelakuannya ....

Bersambung yaa ...  ^__^

with love,

anni

* * * * *

Selected comments from my friends on Facebook