Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, October 10, 2012

Kamu jutek ? Pikirkan lagi ....


" Jadilah dirimu apa adanya ", atau " be your self ". Pernyataan itu sangat sering kita dengar. Atau muingkin seseorang kerap mengatakannya kepada kita ?

Ketika kita dilanda perasaan minder, malu, gelisah, dan kita merasa tidak dapat berbuat sebaik yang dilakukan orang lain, terkadang kita jadi merasa sulit untuk melakukan sesuatu sesuai dengan potensi kita. Jangankan untuk menyamai prestasi orang lain, untuk sekedar berfikir saja rasanya buntu otak ini.

Alangkah beruntungnya jika di tengah situasi yang tidak mengenakkan itu, seorang sahabat
datang kepada kita, menepuk bahu, dan menyemangati, dengan mengatakan, " it's okay, just be your self ". Lalu segalanya terasa lebih ringan :)

Menampilkan diri sendiri sebagaimana adanya, memang lebih mudah. Tanpa beban, dan kita akan terbebas dari topeng kepura-puraan. Namun jangan lupa, kita ini manusia yang penuh dengan ketidak sempurnaan. Menampilkan diri sendiri lengkap dengan segala kekurang kita, kadang malah menjadi bumerang bagi pencitraan diri yang positif. Selain itu, dunia kelihatannya tidak akan membiarkan kita tampil benar-benar apa adanya.

Di dunia ini ada yang namanya Norma, ada yang namanya etika. Sesuatu yang menjadi pedoman baik dan buruk perilaku manusia dalam menjalani kehidupannya dalam masyarakat. Norma ini meminta kita melakukan dan menampilkan yang terbaik, sekaligus melarang kita melakukan hal-hal yang buruk.

Itu artinya, jika kita memiliki perilaku atau perangai yang buruk, kita dituntut untuk menekannya atau bahkan menghlangkannya sama sekali. Alih-alih menampilkan diri kita apa adanya, kita justru dituntut tampil dengan cara yang baik dan sopan di muka umum. Jika kita masih juga nekad menampilkan diri kita secara gamblang, tanpa tedeng aling-aling, maka akibatnya mudah diterka. orang-orang akan merasa sebal dengan kita, atau boleh jadi mereka akan mencela.

Sebagai contoh, kalau anda termasuk orang yang tak bisa menahan kentut, bersin dengan suara menggelegar dengan ludah muncrat kemana-mana, menguap dengan mulut menganga lebar tak peduli sebau apa uap yang menguar dari mulut, apakah anda akan tetap melakukan kebiasaan itu di tempat umum ? Di dalam bis umpamanya, atau di kantor, di tempat arisan, di pengajian, di masjid, di gereja ? Jika anda orang yang ber etika tentu anda akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah itu semua keluar dari diri anda, bukan ? Kalau kita kelepasan bersendawa dengan keras, atau ketelanjuran mengucapkan kata-kata latah yang tidak senonoh di tempat-tempat itu ? Wah pasti rasanya malu sekali

Orang tua, guru, lingkungan, agama, jelas mengajari kita untuk menampilkan diri kita yang terbaik. Mengapa begitu ? Karena kita diharapkan dapat menjadi contoh bagi orang-orang di sekitar kita. Di sisi lain, selalu membiasakan diri menampilkan sikap dan perangai yang baik, lambat laun akan mengubah kepribadian kita menjadi benar-benar berkepribadian baik yang terbiasa berfikir positif. Satu orang yang berperangai baik, akan menjadi cikal bakal terbentuknya masyarakat yang bermoral baik pula, alias masyarakat madani :)

Itu di dunia nyata. Di dunia maya tidak jauh berbeda. Kita dituntut menampilkan diri kita dengan cara yang baik dan sopan. Dengan senyuman dan tutur kata yang santun. Coba saja anda menampilkan profile picture yang jutek di facebook umpamanya, dengan ekspressi bete, atau dengan mengacungkan jari tengah, ditambah status yang jorok, kasar, memaki-maki di wall anda, dengan dalih itulah diri anda apa adanya, yakinlah komentar negatif akan berhamburan mampir ke wall anda.
Kalau sudah begini, teman fb yang tidak pernah kenal dengan anda sekalipun, akan benar-benar mengira, bahwa anda adalah orang yang menyebalkan, mengesalkan dan tak layak untuk dijadikan teman. Tidak adil ? Yaa memang begitulah kenyataannya. Kadang orang lain itu " judge the book by its cover " kok ...


Jadi kesimpulannya teman-teman, mau di dunia nyata kek, mau di dunia maya kek, tetaplah konsisten menampilkan sisi kepribadian kita yang terbaik. Bersikap baik, berfikir positif, bertutur kata santun, selalu tersenyum meski sedang galau :)
Karena menjaga image itulah yang diharapkan dari orang-orang tercinta di sekitar kita. Insyaallah selain menyenangkan mereka, berpenampilan baik itu bernilai ibadah juga kok bagi kita.

Tersenyum yuks ...


# yang penting mah jangan sampai senyuman kita itu dianggap tebar pesona aja, karena kita tersenyum dengan cara yang nggak wajar. Hadeehh ...

salam sayang, I love you forever ...
Anni - Sukabumi

comments from Facebook :