Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, June 13, 2013

Bung Karno Pun Tertipu: Balada Ratu Markonah dan Raja Idroes


Memang asyik kalau punya Ibu yang menjadi saksi banyak peristiwa bersejarah di negeri ini. Ibuku berusia 76 tahun, dan mengalami kehidupan di enam masa yang berbeda. Masa penjajahan Belanda, pendudukan bala tentara Jepang, masa agresi militer Belanda, masa orla, masa orba, dan hingga kini masa reformasi. Meski sudah sepuh tapi ibu saya tidak pikun. Ingatannya masih jernih, terutama ingatan tentang masa mudanya.


Saya kan ibu guru yang mengajar mata pelajaran Kewarganegaraan dan mata pelajaran Sejarah untuk kelas XII di sekolah. Kadang saya bertanya pada ibu saya tentang suatu peristiwa sejarah tertentu. Sebagai jawabannya Ibu akan menjelaskan dengan detail, dari sudut pandang dirinya sebagai rakyat kecil yang jujur dan apa adanya, tanpa dipengaruhi oleh isme politik tertentu.  Dari penuturan ibuku itu, saya mendapat banyak sekali sudut pandang yang berbeda namun sangat menarik, yang tidak saya temui dalam buku-buku referensi sejarah yang digunakan di sekolah. Ini salah satu contohnya. Ceritanya bikin malu bangsa Indonesia lho, meski menurut saya sih lumayan menarik.


Awal kisah …


Ibu saya suka menggoda-goda anak atau cucu-cucunya yang bergaya dengan kaca mata hitam , dengan kalimat, ” wah gaya banget,  kaya Markonah “. Mendengar itu mulanya saya tak acuh saja. Saya menganggapnya sebagai guyonan biasa. Tetapi. Setelah beberapa kali mendengar itu, akhirnya saya bertanya pada ibu, siapa itu Markonah. Dan inilah cerita beliau yang presisi dengan kisah Markonah yang saya dapatkan dari hasil Googling.


Akhir tahun 50-an. Pemerintah Kerajaan Belanda masih belum juga menyerahkan Irian Barat seperti yang telah dijanjikan dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949. Bung Karno jadi geram dengan kebijakan Belanda yang selalu mengulur-ulur waktu itu. Tak pelak lagi, pada 1961 kesabaran Sang Putra Fajar telah habis. Ia pun menabuh genderang perang melawan mantan penjajah, dengan mengobarkan komando “Trikora” . Ini adalah operasi tempur yang lebih dikenal dengan operasi pembebasan Irian Barat.

Demi mensukseskan perjuangan tersebut, Bung Karno membutuhkan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia. Untuk itu sebagaimana galibnya gaya bung Karno, prograndapun disebar ke seluruh pelosok tanah air, bahkan beliau sendiripun sampai blusukan ke daerah-daerah untuk berpidato dan bertemu langsung dengan rakyatnya.


Kedatangan Ratu Markonah dan Raja  Idroes, penguasa suku Anak Dalam

Syahdan di tengah menghangatnya suhu politik di dalam negeri, dan gelora di dada para pemuda yang sudah tak sabar ingin segera terjun ke medan laga menghajar musuh bebuyutan, beberapa daerah di Indonesia digemparkan dengan kedatang sepasang ratu dan raja yang mengaku sebagai pemimpin tertinggi suku anak dalam dari rimba belantara Jambi. Ratu dan raja itu bermaksud berkeliling Indonesia untuk melihat-lihat daerah di luar wilayah kekuasaan mereka. Para pejabat di daerah -daerah yang mereka sambangi, dibuat blingsatan tak keruan dengan kunjungan mendadak ini. Sambutan penuh kebesaranpun dilaksanakan dengan secepat kilat demi menghormati saudara yang selama ini terisolasi secara budaya dari saudara-saudaranya yang lain di tanah air Indonesia. 


Di Ibu kota sendiri, ( menurut Sejarawan Universitas Indonesia - Anhar Gonggong ) tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba salah seorang pejabat setempat tergopoh-gopoh menemui Bang Karno dan mengabarkan bahwa telah tiba di Jakarta ratu dan raja penguasa suku Anak Dalam dan ingin bertemu dengan bung Karno.

Tak menunggu lebih lama lagi, Bung Karnopun segera memerintahkan penyambutan besar-besaran bagi tamu agung yang datang dari jauh.  Hotel berbintang, restoran mewah, dan wisata ke pulau Dewata pun telah disiapkan, demi mengajuk hati sang ratu dan raja yang terhormat, dengan harapan agar seluruh suku Anak Dalam turut mendukung sepenuhnya perjuangan Trikora.


Dan inilah Ratu Markonah dan Raja Idroes yang ditunggu-tunngu itu. Menurut ibu saya, yang ketika itu tinggal di Jakarta dan turut bersama penduduk Jakarta menonton kedatangan pasangan ratu dan raja itu dari pinggir jalan, Ratu Markonah dan Raja Idroes berdandan sangat mewah dan berpenampilan sangat meyakinkan. Ratu Markonah mengenakan kaca mata hitam yang tak pernah dilepasnya. Konon kaca mata ini untuk menutupi luka (cacat ?) pada salah satu bola matanya. Tapi, masih menurut ibu saya, (dan ibu-ibu yang ketika itu turut menontonpun berpendapat sama) meski berpenampilan mewah, tapi herannya mereka itu kesannya kampungan banget alias norak abis. Entah apa yang menyebabkan kesan itu, pokoknya norak saja.


Ternyata mereka adalah Ratu dan Raja Palsu


Masih menurut ibu saya, beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan seluruh rakyat Indonesia dibuat tercengang dan heboh setengah mati, dengan kabar yang menyebutkan bahwa Markonah dan Idroes sama sekali bukan ratu dan raja. Mereka hanyalah ratu dan raja palsu alias bohong-bohongan  !

Lho, bagaimana itu bisa terjadi ? Ya bisa saja. Begini pasalnya. Setelah beberapa hari berada di Jakarta dan kerjanya cuma makan-minum dan tinggal di hotel berbintang dalam gelimang kemewahan, sang ratu dan raja abal-abal berkeliling Jakarta untuk melihat-lihat. Nah disanalah kedok mereka terbongkar. Salah seorang penduduk mengenali Idroes sebagai seorang penarik becak di sana, dan dipanggil-panggilah si Idroes itu oleh penduduk tadi. Ya sudahlah, bubar semua sandiwara indah selama ini. Ya nasib, ya nasib, mengapa begini …


Mana mungkin kisah ini tertulis dalam buku sejarah


Ya ampun, jadi si Markonah sama si Idroes itu bukan ratu dan raja ? Ya bukan, sama sekali bukan !  Idroes adalah penarik becak di Jakarta, sementara Markonah adalah seorang perempuan PSK dari daerah Tegal Jawa Tengah. Halah parah …

“  Malu-maluin banget  “, komentarku. ” Heran deh. Kok bisa-bisanya bung Karno yang sehebat itu diperdaya sama orang -orang gokil kayak mereka “.
” Ya bisalah “, jawab Ibu. Kan dulu nggak ada TV, nggak ada internet. Koran juga masih sedikit. Bagaimana orang tahu, yang mana raja asli dan mana raja palsu”. 


Apapun pendapat masyarakat kala itu, begitulah yang terjadi. Bung Karno dan para pejabat tinggi negara RI yang pandai -pandai dan berwibawa itu,  telah ditipu mentah-mentah oleh Markonah dan Idroes, rakyat jelata yang terbukti punya taktik lebih cerdas, kreatif, dan jitu           ( meski jelas - jelas ngaco dan nyebelin )  dalam mengelabui orang pintar sekelas presiden. Apa boleh buat 1- 0 untuk Markonah dan Idroes.


Akhir kata, karena ini adalah peristiwa yang bikin malu, maka jangan harap kisah ini akan ditemui dalam buku-buku sejarah anak-anak kita. Nggak bakalan. Sebab kalau ditulis, apa kata duniaa …


Begitulah sekilas lintas peristiwa bersejarah yang masih dikenang oleh ibu saya. Moral ceritanya cukup jelas : yang pertama, jangan gampang percaya pada orang-orang di sekitar kita.  Tetaplah bersikap tenang, waspada, dan cermat. Yang kedua,  jangan mudah tertipu oleh penampilan serba gemerlapan. Yang ketiga, mbok ya mikir, memangnya suku anak dalam itu kerajaan apa ? kok ada ratu dan rajanya segala ? makanya belajar Geografi yang bener ! . Dan yang keempat, wahai para pemimpin, jangan sekali-kali menganggap remeh rakyat jelata. Karena  kami bisa lebih pintar dan berbahaya dari anda semua. Oleh kerena itu, waspadalah, waspadalah !



Salam sayang,
 

Anni