Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, June 13, 2013

Kala Oom Jin Kesengsem Sama PRT-ku


Agak sulit  mencari judul yang tepat untuk tulisan saya kali ini. Pakai kalimat apapun, tetap saja terdengar seperti judul film horor tahun 80- an. Jadi saya memutuskan memakai judul ini saja, semoga tidak terdengar lebay di telinga teman- teman.

Saya orangnya agak penakut sama hal-hal yang berbau hantu-hantu gitu. Makanya saya paling males kalau diajak anak-anak nonton film horor. Saya pikir kok rugi banget, sudah tiketnya mahal, mana harus ngantri lama, eh masih ditakut-takutin juga. Ogah ah …

Sebetulnya saya juga tahu, kalau semua cerita seram tentang hantu dan segala kisah mistik itu cuma ada dalam film atau setidaknya hanya tahayul semata. Saya juga tahu bahwa makhluk halus itu memang ada, karena Allah memang menciptakan mereka. Tapi  tetap saja saya suka merasa takut. Meski sebetulnya nih, kalau terpaksa harus berhadapan langsung dengan mereka, umpamanya kepergok di jalan, saya tak akan menghindari mereka, saya bakal nekat menghadapinya. Saya memang dihinggapi phobia hantu, karena sewaktu saya masih kecil, saya pernah mendengar suara yang serem banget dari dalam kamar mandi. Seperti suara auman harimau gitu. Pokoknya menakutkan deh.

Pembantu yang terlalu  sering kesurupan
 
Saya ingin menceritakan kejadian beberapa tahun yang lalu. Pada suatu hari ada seorang perempuan kira-kira berumur 30 tahunan, datang ke rumah saya, bermaksud meminta pekerjaan. Kebetulan saat itu saya sedang membutuhkan seorang pembantu rumah tangga, karena pembantu yang lama mengundurkan diri sebab sakit. Singkat cerita saya terimalah perempuan itu bekerja di rumah saya.

Namanya Wiwit, seorang janda muda. Kerjanya bagus dan cekatan. Orangnya rajin, teliti dan ini yang penting, jujur. Saya langsung cocok sama dia. Wiwit  ini seorang pendatang dari pelosok Bogor dan tinggal di sebuah rumah kontrakan yang letaknya hanya berbeda RW dengan tempat tinggal saya. Berhubung rumah kami berdekatan, dia meminta izin agar setiap sore diperkenankan pulang, untuk kemudian besok pagi-pagi sekali kembali bekerja. Saya sih OK saja, nggak masalah buat saya.

PRT saya ditaksir Oom Jin

Bulan pertama dan kedua berlalu dengan lancar. Memasuki bulan ketiga  bekerja, mulailah terjadi gangguan.  Si Wiwit ini, seringkali saat pagi- pagi akan berangkat kerja ke rumah saya, tiba-tiba mengalami kesurupan di tengah perjalanan. Kalau sudah begitu, dia akan berteriak-teriak, menangis, melolong, meracau, sambil berguling-guling di tanah. Habis sudah orang-orang kampung yang mencoba menolongnya ditendang dan digigit. Biasanya orang-orang kampung akan membawa Wiwit pulang ke rumahnya, dan berusaha menyembuhkannya. Lucunya, kalau sudah pulih kembali, Wiwit akan segera berkemas lalu pergi kerja ke rumah saya seperti yang tidak pernah terjadi apa-apa.

Terus terang saya, suami, dan anak-anak, hanya mendengar peristiwa itu dari cerita tetangga- tetangga saja, tidak pernah melihat secara langsung kejadiannya, karena pada jam-jam seperti itu seisi rumah sudah berangkat kerja dan pergi ke sekolah.  Tapi lama kelamaan, bosan juga saya dan suami terus-terusan mendapat pengaduan dari tetangga. Akhirnya saya panggillah si Wiwit menghadap saya.

” Wiwit, kamu kenapa sih, kok sering banget kesurupan ? , tanyaku kalem, tanpa nada interogasi.

” Ah saya mah nggak ngerasa kesurupan bu .. “

” Lhah, itu orang-orang pada bilang, kamu sering kesurupan di tengah jalan “

” Oh itu mah, sayanya sedang pusing bu ..”

” Pusing kok sampai ngamuk-ngamuk. Kalau pusing ya  minum obat   “.

” ……………… ” (diam)

” Coba sekarang kamu terus terang,kamu suka ngapain aja kalau jalan dari rumahmu ke sini ? "

” Nggak ngapa-ngapain bu ..”

“Ah yang bener … “

” Iya bu, nggak ngapa-ngapain. Paling suka ngelamun, mikir pengen kawin …”

” Oooh , nah itu diaa .. “

” Wiwit teh bogoh (demen) sama akang-akang yang suka berdiri di bawah pohon Nangka di deket gang. Tiap pagi suka senyum sama Wiwit. Sudah kenalan, namanya kang Ucup “

” Akang-akang yang mana ? Ucup yang mana ?

” Itu bu, yang suka pakai kaos merah. Dia suka ngajak Wiwit sasalaman (bersalaman) ..”

” Hmm … trus ? …”

” Kalau sudah sasalaman, Wiwit teh suka jadi pusing bu, bahu Wiwit suka kerasa beraat, gituh “

” Waduhh …?  “ 

Itulah sepenggal pembicaraan saya dengan Wiwit yang tak ada kesimpulannya. Beberapa hari kemudian iseng-iseng saya bertanya pada salah seorang karyawan laundry di sekolah tempat saya mengajar, yang kebetulan penduduk asli kampung sini. Saya tanyakan, siapa itu Ucup, pemuda yang setiap pagi suka berdiri pakai kaos merah di bawah pohon nangka ujung gang. Sejenak ibu laundry itu berpikir lalu tertegun. ” Ucup ? ah nggak ada nama Ucup, Bu. Ada juga Jang Ucup yang sudah meninggal, sudah lama banget. Dia memang suka pakai kaos merah. Meninggalnya karena sakit paru-paru ” . Mendengar jawaban ibu laundry, bulu kuduk saya sontak berdiri. Ternyata benar dugaan saya, si Wiwit jatuh cinta sama sebangsa jin, dan cintanya berbalas.  Begitu pula pendapat orang-orang di kampung kami. Saya sih percaya nggak percaya. Tapi yang jelas saya marasa seram, dan nggak mau bergosip panjang lebar lagi. Dan sejak saat itu saya larang si Wiwit untuk melewati  gang pohon nangka, saya larang membalas senyum si kaos merah, apalagi sampai bersalaman ! case closed !

Ternyata ceritanya belum selesai

Untung si Wiwit orangnya penurut sama saya. Saya larang ini - itu dia menurut saja. Tak lama kemudian ada berita yang membuat saya merasa gembira sekaligus lega, yaitu kabar si Wiwit akan dipinang oleh salah seorang pemuda kampung yang berprofesi sebagai kuli bangunan. Dan tak menunggu terlalu lama, merekapun melangsungkan pernikahannya dengan sederhana. Saya berharap semoga setelah menikah si Wiwit dapat melupakan Ucup yang nggak jelas itu. Saya juga senang karena kang Maman, suami Wiwit, tetap mengizinkan istrinya terus bekerja di rumah saya.

Tiga bulan berlalu ….
Wiwitpun mengandung bayinya. Dia masih tetap bekerja sebagaimana biasa. Saya sudah melarang-larang, dan meminta dia untuk cuti saja sampai masa mengidamnya berlalu. Tapi dia bersikeras tetap bekerja. Akhirnya saya mengalah dan hanya memberi dia pekerjaan yang tidak terlampau berat. Alhamdulillah kondisi Wiwit memang sehat dan kuat. Dia rutin memeriksakan kehamilannya pada Bidan di Puskesmas, dan dia tidak mengalami kesulitan sedikitpun dalam melaksanakan tugas-tugas mengepel, beres-beres rumah, mencuci dan menyetrika. Sementara urusan masak tetap saya yang menangani. 

Sayang suasana yang tenang dan tenteram itu rupanya tak berlangsung lama. Memasuki kehamilannya yang ke 5 bulan, pada suatu pagi kang Maman memberitahu saya bahwa hari itu istrinya tidak bisa masuk kerja karena sakit perut. Saya tentu saja mengizinkannya. Ternyata Wiwit tidak masuk sampai tiga hari lamanya. Ketika keesokan harinya saya bermaksud menjenguk dia, tiba-tiba Wiwit sudah berdiri di ambang pintu dan menyalami saya. Syukurlah rupanya dia sudah sembuh. Lalu saya bertanya padanya, tentang kondisi kesehatannya. Dia bilang sudah sehat dan siap bekerja lagi. Tapi saya melihat ada yang aneh di perutnya. Saya lihat perutnya rata, tidak membuncit seperti hari kemarin. 

“ Wiwit, kok perutnya kecil ? “

“ Iya Buu, kemarin teh waktu saya sakit, tahu-tahu perut saya mengecil, nggak gendut lagi “

“ Maksud kamu gimana ? Ibu nggak ngerti ah … “

“ Iya Bu, perut saya kempes sendiri, bayinya hilang … “

“ Hah ?! hilang ? kok bisa hilang ? maksud kamu keguguran ? 
sudah diperiksa ? “

“ Sudah Bu, diperiksa sama Emak Paraji ( dukun bayi) dan Emak bilang, di perut saya nggak ada bayinya “

“ Trus, kamu sendiri gimana ? “

“ Yah nggak gimana – gimana Bu, mungkin ada yang minta bayi saya, sudah saya ikhlaskan ..”

“ Ya nggak bisa gitu dong Wit ! Ayok periksa ke dokter ! “

“ Ah nggak usah Bu, saya sudah sehat. Biarin aja yang sudah pergi ya sudah, nggak usah diingat-ingat lagi .. “ 
dst ….

Dan seterusnya, pembicaraan sudah nggak nyambung lagi, karena kelihatannya Wiwit tak ingin kami membahas lebih lanjut, dan dia sudah mengikhlaskan calon bayinya. Swear sampai hari ini saya 100 persen tidak percaya dengan pengakuannya tentang janin di dalam rahimnya yang hilang. Tapi saya bisa apa, tetangga sebelah rumahnya sendiri memang membenarkan kejadian itu. Meskipun begitu, saya tetap tidak percaya. Saya yakin, dia keguguran, atau tidak sengaja keguguran, atau bagaimanalah, yang penting tidak hilang begitu saja. Mana mungkin ada janin mendadak hilang. Memangnya janin bisa larut di dalam darah ? non sense banget …

Belum selesai kepenasaranan saya akan raibnya sang jabang bayi, si Wiwit sudah pamit mengundurkan diri, karena dia berniat akan bekerja sebagai TKW di Saudi. Ya sudahlah, saya izinkan saja. Semoga kehidupannya akan lebih baik, dan semoga disana dia tidak akan mengalami peristiwa aneh seperti yang telah dia alami sebelum ini. Jadi begitulah ceritanya, teman-teman. Terus terang saya masih sangsi dengan rangkaian peristiwa yang dialami Wiwit. Tapi dasar penakut, tak urung suka merinding juga kalau saya teringat lagi kejadian itu. Kita memang tidak sendirian di dunia ini ya ..


Salam sayang,
anni
 
ps :  semua nama disamarkan, kecuali Anni  :)