Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Friday, June 21, 2013

Sudah Melihat = Tidak Perawan




Senangnya jadi mahasiswa baru dengan sahabat baru

Ini sebetulnya kisah yang bikin malu.
Tapi berhubung peristiwanya sudah lama berlalu, saya memutuskan untuk menceritakannya disini. Toh sekarang rasa malu itu sudah berubah menjadi rasa geli ketika saya mengingatnya kembali. 

Kejadiannya duluu banget, sewaktu saya masih kuliah smester satu di Bandung. Namanya juga mahasiswa baru, mana tahu saya dengan keadaan di daerah-daerah seputaran kampus. Saya tahunya berangkat dan pulang kuliah ya begitu-begitu saja, lewat jalan yang itu-itu saja tanpa ada sesuatu yang istimewa. Waktu itu kegiatan kami sebagai mahasiswa baru belum begitu banyak, paling-paling menghadiri perkuliahan, ke perpustakaan, mampir ke toko buku bajakan di jalan Palasari, main ke kosan teman, sekali-kali nongkrong makan Somay di kantin, lalu pulang. Tidak ada lagi yang lain.

Saya punya sahabat -sahabat yang kompak, namanya Mita, Fitri, dan Linda. Kami selalu melakukan segalanya bersama-sama, bukan hanya karena sefakultas, namun karena kebetulan tempat tinggal kami terletak di daerah yang dilewati bus kota satu jurusan. Setiap pagi kami bertemu di dalam bus kota jurusan jalan Kopo - Dipatiukur,  dan langsung mencari posisi berdekatan di dalam bus yang masih jarang penumpangnya itu. Senang sekali jika mengingat saat-saat menikmati perjalanan dari rumah ke kampus bersama sahabat- sahabat yang baik, kocak dan seru.

Dihadang Cowok Sarap

Setelah beberapa bulan jadi mahasiswa, kami jadi mengenal jalan-jalan alternatif yang bisa dilewati jika ingin tiba lebih cepat ke ruangan kuliah tertentu. Tentu saja kami merasa senang dengan penemuan ini, karena kami tak perlu lagi  tergesa-gesa berangkat kuliah, karena merasa sudah menemukan jalur  terpendek. Tapi ternyata kami salah duga. Penemuan jalan alternatif itu rupanya sama sekali tidak bisa dibanggakan, justru sebaliknya malah menuai bencana yang bikin malu. Kesalahan kami adalah, kami tidak bertanya dulu pada mahasiswa senior, tentang situasi di sekitar kampus terutama jalan yang kami temukan itu. Dan sebagai akibatnya, kami harus menanggung rasa malu yang tak terperi.

Sudah tanggung nih, sudah lama juga kejadiannya. Jadi saya tulis apa adanya saja ya ^_^
Nama jalan alternatif itu adalah jalan Imam Bonjol di seputaran daerah Dago Bandung. Dari jalan Teuku Umar kami bisa menyelusup ke gang-gang di jalan Imam Bonjol  untuk mencapai dengan cepat ruangan kuliah Pengantar Ilmu Hukum, atau menikung ke kanan ke arah jalan Hasanudin untuk mengikuti kuliah Pengantar Hukum Indonesia yang kesemuanya dilaksanakan tepat pukul 07.00  di hari yang berbeda. 

Tapi namanya juga manusia, ada saja melesetnya. Suatu pagi, diluar perhitungan, kami terlambat masuk kuliah gara-gara bus kota yang kami tumpangi mogok di tengah jalan. Lama kami harus menunggu hingga mendapatkan  bus kota pengganti. Sesampainya di  jalan Teuku Umar, tanpa menunggu bus kota berhenti dengan sempurna, saya , Mita, dan Fitri, langsung melompat ke luar bis dan langsung berjalan setengah berlari menyusuri jalan Teuku Umar lalu berbelok ke jalan Imam Bonjol. Kami tidak bertemu Linda di bus kota, mungkin hari ini dia tidak masuk kuliah.

Saat itu kami sama sekali tak menyadari ada bahaya sedang mengintai didepan hidung kami. Sedang asyik berjalan cepat sambil ribet ngobrol dan tertawa-tawa, tiba-tiba  langkah kami terhenti karena ada seorang pemuda menghadang kami tepat di tengah jalan. Pemuda itu berdiri di depan mobil Jimny merah yang diparkir dengan posisi melintang di tengah jalan Imam Bonjol yang memang sepi. Aku hanya melihat sekilas wajah cowok itu , tak begitu peduli, lalu kembali meneruskan langkahku. Tapi anehnya, kok dua temanku itu tiba-tiba berlari tunggang langgang terbirit-birit seperti dikejar hantu begitu melihat pemuda tadi. Aku ditinggal begitu saja. Nah ketika sedang bengong itulah, aku menyadari apa yang membuat si Mita dan Fitri berlari sprint seperti itu

Astghfirullah … ternyata cowok itu (maaf ya, maaf banget nih ..) memerosotkan celana panjang dan celana dalamnya sekaligus, lalu memperlihatkan seraya mempermainkan alat kelaminnya di depanku sambil tertawa-tawa kegirangan. Refleks aku memalingkan wajah dan bersiap berlari. Ah tapi sial sekali, inilah akibatnya kalau jadi orang kurang waspada. Cowok itu terus menghadang jalanku kemanapun aku melangkah. Kebayang kan bagaimana paniknya aku. Dicegat sama cowok gila  lengkap dengan burung besarnya !  oh tidak ! tolong, toloooong …!

Sambil menutup muka, aku berusaha berlari, tapi tidak bisa karena kesana -kemari  langkahku dicegat sama cowok sarap itu. Saat aku berteriak-teriak ketakutan begitu,  tiba-tiba tanganku disambar oleh seseorang yang langsung menyeretku dan membawaku kabur berlari sekencang-kencangnya. Alhamdulillah, selalu ada malaikat penolong di saat-saat genting seperti itu. Malaikat itu adalah kakak kelasku yang kebetulan sama-sama telat masuk kuliah.

Mendadak Tidak Perawan !

Sesampainya di kelas, ternyata Dosen tidak hadir. Kulihat para mahasiswa bergerombol ngobrol-ngobrol di dalam kelas. Melihat saya, Mita dan Fitri datang berlari dengan nafas  hampir putus, bukannya mengasihani, mereka malah ramai mentertawakan kami.

” Mit, lu ngeliat cowok itu ya ? “, tanya salah satu temanku yang ada di kelas.

” Enggak, gua langsung kabur ..”

” Elu lihat nggak, Fit ? “

” Gua juga enggak, kan gua langsung kabur sama si Mita .. “

” Wah, kalau gitu elu ya Ann yang ngeliat tuh cowok ? “
 
” Apaan sih, enggak kok, aku nggak lihat ..”

“. Ah yang beneer … ? “

” Swear, aku nggak lihat kok, cuma ngeliat dikiiit, itu juga cuma ujungnya doang “

*** bhuahahahaaa …!!! ***

” Ujung apaan, Ann ??! “

** Nggak menjawab, kulit muka terasa hangat. Pasti  merah padam **

” Ann, udah nggak perawan lu ! udah ngeliat yang gituan berarti elu udah nggak perawan lagi, tauu ..! “

” Hah ? udah nggak perawan ? tapi aku kan nggak diapa-apain ?? “

” Nggak bisa Ann, udah lihat barang cowok, berarti lu udah gak perawan lagi “

*** nggak percaya tapi tetep aja jadi lemes ..***

Lagi terbengong-bengong diledekin nggak perawan gitu, tiba-tiba seseorang berlari menerobos pintu masuk dan langsung menggelosor dilantai dengan nafas tersengal-sengal dan lidah terjulur. Wah, itu kan si Linda !  pasti dia habis dihadang juga sama cowok eksebisionis itu !

” Mampus gua. Dasar cowok sableng ! siapa sih dia ? gokil banget ! “

*** bhuahahahaaa …!!! ***

” Elu lihat cowok itu ya, Lin ?? “

” Ya iyalah ! kok lu pada tau sih ? Sialan lu pada nggak ngasih tau gua, kalo disana ada orang gila “

*** bhuahahahaaa …!!! ***

” Udah nggak perawan lu, Lin ! “

” Hah ??!  apaan ? enak aja … “

” Pokoknya elu sama si Anni udah nggak perawan lagi …! “

Begitulah kejadiannya. Sepanjang pagi dan siang itu, habislah saya dan Linda diledekin nggak perawan lagi sama teman-teman yang gokil-gokil itu. He he …

Sang Cowok Eksebisionis itu …

Saya tidak tahu siapa pemuda malang yang memiliki kelainan seksual itu. Kata orang dia adalah anak orang kaya, yang dropout dari Institut Teknologi cap gajah yang kampusnya berdekatan dengan kampus kami. Kalau penyakitnya sedang kambuh, dia sering memacu Jimny merahnya dan mencari mangsa gadis-gadis mahasiswi yang tidak beruntung yang berpapasan jalan dengannya. Dengan memperlihatkan alat vitalnya di depan gadis-gadis itu, dan melihat reaksi panik ketakutan mereka, si pemuda mendapatkan kepuasan seksual. Memang hanya sebatas itu perbuatannya, tak pernah mengganggu secara fisik, namun bagi kami  gadis yang baik-baik, itu adalah sebuah kekurang ajaran dan pelecehan di luar batas yang sulit dimaafkan.

Semenjak kejadian itu, kami tak berani lagi melewati jalan Imam Bonjol kecuali siang hari dan ada teman-teman cowok bersama kami. Hingga kini, jika kebetulan ke Bandung dan melewati jalan itu, saya masih suka senyum-senyum sendiri, teringat kejadian konyol puluhan tahun lalu saat saya masih berstatus gadis remaja. Suamiku sudah tahu, mengapa aku selalu tersenyum-senyum seperti itu. Sudah aku ceritakan soalnya, he he … 

Semoga kejadian seperti ini tak terulang lagi pada siapapun juga. Semoga anak-anak gadis kita dapat bersikap lebih waspada dalam lingkungan yang baru, tidak bersikap sok tahu, dapat berpikir dan bereaksi cepat dalam segala situasi agar terhindar dari bahaya. Jangan sampai ada yang mengalami kejadian seperti yang saya alami.  Berkesan sih berkesan, tapi lumayan serem ! beneran deh.


Salam sayang,

Anni


ps : eh ada yang lupa, nama teman-temanku itu semua nama samaran lho ..  :)