Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Thursday, June 13, 2013

Perempuan Abal - Abal



Ini bukan kisah tentang perempuan jadi-jadian bermake up tebal menor yang menyanyi berlenggak-lenggok menangguk uang receh di lampu merah. Bukan juga tentang saudara-saudara kita kaum transgender yang tak beruntung memiliki jiwa perempuan dan terjebak dalam tubuh laki-laki. Ini kisah tentang perempuan sejati, perempuan baik hati, yang mendapat hinaan tak terperi, padahal tak sedikitpun ia melakukan kesalahan yang keji.

Sebuah pesan singkat masuk melalui ponselku. Dari seorang sahabat lama yang sudah lama tak berjumpa. Pesannya singkat saja. Namun menimbulkan rasa perih di hatiku, ketika membacanya. ” Anni, sahabatku sayang, benarkah aku seorang perempuan abal-abal ? Seorang perempuan palsu, karena rahimku tak berhasil melahirkan bayi sebagai keturunan kami ? “.

Perlu waktu cukup lama bagiku untuk menjawab pesannya. Lagi, dan lagi kubaca pesan itu. Semakin kubaca, semakin terbayang wajah sahabatku ini. Senyumnya, pandainya, kebaikan hatinya. Dan bersamaan dengan itu, terbayang pula seraut wajah manis yang dirundung kesedihan karena celaan yang sangat melukai hatinya. Betapa banyak perempuan yang bernasib sama dengannya. Bertahun-tahun mendambakan kehadiran jabang bayi dari rahimnya, namun tak kunjung jua sang buah hati datang menjelang. Sementara di tempat lain, tak sedikit pula perempuan yang begitu mudah hamil, namun mencampakkan begitu saja bayinya sesaat setelah dilahirkan, seolah mereka baru saja melahirkan sampah.

1. Mandul itu bukanlah sebuah kesalahan

Ketika kita masih dalam keadaan gadis, masih bujangan, masih single, apakah kita dapat mengetahui, bahwa suatu saat nanti kita bakal memiliki keturunan ataukah tidak ?. Jika tubuh kita baik-baik dan sehat-sehat saja, tak satupun diantara kita benar-benar dapat mengetahui kondisi kesuburan kita. Tak akan ada pikiran buruk yang melintasi pikiran kita tentang kemungkinan tak memiliki keturunan dalam pernikahan kita nanti.

Berbeda halnya jika sejak jauh-jauh hari kita memang sudah mengetahui kondisi kesuburan kita melalui serangkaian pemeriksaan medis yang ketat dan teliti. Seumpama ada penyakit di rahim kita, ada kelemahan dalam sel sperma kita, atau ada gangguan-gangguan lain dalam alat reproduksi , dsb, yang menyatakan bahwa kita tak mungkin memiliki keturunan,  barulah kita boleh merasa yakin bahwa kita akan sulit mendapat keturunan, meski itupun belum tentu pasti akan seperti itu hasilnya. Buktinya, keponakan saya yang oleh dokter dinyatakan memiliki kelainan rahim dan sangat kecil kemungkinannya memiliki anak, baru satu bulan menikah langsung hamil, dan sekarang bayinya sudah besar.

Ketika kita menikah dulu, sangat wajar jika salah satu tujuan pernikahan kita adalah regenerasi, memiliki keturunan. Keturunan yang akan menghiasi hidup dengan keceriaan, kesibukan, dan kebahagiaan. Dengan cinta dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Puji dan syukur kita panjatkan pada Allah jika keinginan kita terkabul. Selanjutnya, sayangi, rawat, dan didiklah titipan terindah dari Tuhan itu dengan sebaik-baiknya dan dengan sepenuh hati. Namun jika kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, jika belasan tahun telah berlalu, dan benih itu belum juga bersemi di rahim kita, apakah itu sebuah kesalahan? sebuah dosa ?

Sahabat saya itu telah menikah 20 tahun. Dan selama itu dia dan pasangannya tak kenal lelah berupaya untuk memperoleh keturunan. Segala cara telah ditempuh, dari medis hingga pengobatan alternatif, bahkan berobat hingga ke luar negeri. Semua hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi badan dan kesehatan pasangan itu baik-baik saja, tak ada yang salah, dan masih mungkin untuk memiliki keturunan. Dokter menyarankan untuk bersabar dan menunggu. Sebuah nasihat yang tentu saja sudah mereka lakukan sejak 20 tahun lalu. Dokter juga menyarankan untuk mencoba program bayi tabung, namun entah bagaimana kelanjutannya.

2. Hati- hatilah jika berbicara

Hinaan tentang perempuan abal-abal itu datang dari ibu mertuanya. Ibu Mertua adalah seseorang yang seharusnya menjadi ibu kedua bagi seorang menantu. Seseorang yang seharusnya dapat menjadi teladan karena sikap dan kata-katanya.
Kita semua akan menjadi Ibu dan Bapak Mertua bagi menantu-menantu kita, kelak di kemudian hari. Kita akan menjadi orang tua kedua bagi orang-orang yang mencintai dan dicintai anak- anak kita. Menyakiti hati menantu, berarti secara langsung menyakiti hati anak-anak kita. Menghina dan memusuhi menantu, hanya akan menempatkan anak kita pada dua pilihan yang sulit : antara memilih orang tua, atau pasangan yang sama-sama sangat dicintai.

Menghina menantu dengan kata-kata “perempuan abal-abal”, hanya karena sang menantu belum melahirkan seorang bayipun, tidak hanya menyakiti hati sang menantu, namun juga melukai hati suaminya yang nota bene adalah anaknya sendiri. Dan saya juga yakin, jika ada orang lain yang turut mendengarkan hinaan itu, tentu merekapun akan turut tersakiti dengan kata-kata yang tak pantas itu.

Bagi kami yang muslim, kata-kata adalah doa. Oleh karenanya setiap muslim wajib hanya mengeluarkan kata-kata yang baik dan tidak melukai perasaan orang lain. Jika kami terlanjur mengeluarkan kata-kata yang buruk, maka kami wajib memohon ampun kepada Allah dan meminta maaf kepada orang lain yang telah tersakiti. Begitulah agama Islam mengajarkan kami etika berbicara. Saya yakin, agama lainpun tentu mengajarkan etika yang serupa, namun dengan cara dan kemuliaan yang berbeda.

Mengeluarkan kata-kata yang buruk, apalagi hinaan kepada seseorang, bukan hanya akan berakibat dosa, namun sekaligus menunjukkan buruknya akhlak sang pemilik kata-kata.  ” Perempuan abal-abal “, adalah hinaan yan sangat menusuk hati dan sangat merendahkan martabat kemanusiaan. Tak seorangpun pantas mengucapkan kata-kata seburuk itu, dan tak seorangpun layak menerima hinaan serupa itu.  Tak seorang perempuanpun mengharapkan dirinya dalam keadaan mandul. Memiliki keturunan atau tidak, benar-benar di luar kekuasaan manusia. Allah yang menciptakan manusia. Bukan kita, bukan pula ayah-ibu kita.

Sudah terlalu banyak keburukan  di dunia ini. Marilah kita tidak menambahnya lagi dengan keburukan-keburukan baru. Jika kita tidak dapat memperindah dunia ini, setidaknya tahanlah lisan kita dari berkata keji, kepada siapapun juga. Dan kepada sahabatku yang kurang beruntung itu, saya hanya dapat mengirimkan seuntai kalimat yang berisi permintaan agar dia bersabar lagi, tak putus memohon dan berdoa. Karena nasib manusia tak ada yang tahu. Karena keajaiban selalu ada bagi siapa saja yang mau mendekatkan diri pada Sang Pemilik segala keajaiban dan mukjizat di alam semesta ini. Semoga Allah selalu menyayangi dan memberikan kekuatan kepada sahabatku itu, dan kepada teman-temanku Kompasianer yang budiman, yang sampai saat ini masih menanti momongan dengan penuh kesabaran.  Semoga kisahku ini bermanfaat ya … :) 


Salam sayang,

Anni