Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, June 5, 2013

Wajah Pasaran ^___^



Beginilah nasib kalau punya wajah pasaran. Banyak miripnya sama wajah orang lain, dan sering dikira bahwa kita adalah orang lain.
Kadang saya suka berpikir, jangan-jangan saya punya kembaran di dunia ini. Kembaran yang terpisah sejak bayi. Mungkin ada satu peristiwa yang membuat saya terpisah jauh dengan Kembaran saya itu. Mungkin gara-gara perang dunia kedua, atau gara-gara peristiwa Malari. Pokoknya entah bagaimana, tahu-tahu kami terpisah saja. Dan kembaran saya itu pasti punya kemiripan wajah yang sangat presisi dengan saya. Di kali lain saya suka berpikir, mungkin ketika menciptakan manusia, Tuhan bermaksud memberi cobaan kepada manusia dengan menggunakan cetakan wajah yang sama untuk beberapa orang sekaligus.  Yah, siapa yang tahu bukan ?

Dikira teman, sahabat, atau anggota keluarga dekat

Perkara saya dikira anggota keluarga dekat oleh seseorang yang tidak saya kenal, bagi saya itu sudah biasa. Untuk kasus ini saya tidak berkeberatann toh bukan sesuatu yang membahayakan atau mengesalkan. Saya pernah dibilang oleh teman kuliah saya, bahwa wajah saya mirip sahabatnya yang sudah meninggal (halaah..), kemudian teman lain mengatakan bahwa saya mirip temannya sewaktu di SMA, ada juga yang bilang wajah saya mirip wajah sepupunya, mirip tantenya, mirip ibu dokter ini, mirip mbak – mbak yang kerja di salon itu,  mirip tetangga, wah pokoknya wajah saya banyak yang nyamain deh. Parah banget nih.
Untuk kasus ini, saya sering mendapat ciuman dan pelukan gratis dari orang yang tidak saya kenal. Pernah suatu kali ketika saya sedang jalan-jalan di mall, sedang asyik lihat-lihat gitu, tiba-tiba seorang ibu-ibu menubruk dan memeluk saya kenceng banget. Menciumi pipi saya, dan berbicara dengan terbata-bata kayak yang mau nangis gitu, sambil berucap,  ” Ya Allah, Siskaaa … kemana aja sih kamu ini ? tega banget nggak ngasih kabar kalau kamu sudah balik. Kamu sehat kan ? gimana kabar Bobby ? “. Berkata begitu sambil terus memeluk tubuhku dengan agak diguncang-guncang. Saya jadi tidak enak hati untuk mengatakan bahwa saya bukan Siska. Mendingan saya diam saja.  Tidak terbayang bagaimana malunya ibu itu kalau dia menyadari kesalahannya. Sampai ibu itu meninggalkan saya, dia masih tetap yakin, kalau saya adalah Siska seperti sangkaannya, he he ..

Jadi pelarian cinta

Dulu pas kuliah, ada seorang cowok beda fakultas, yang mendekati saya. Kaya pedekate gitu kalau kata anak jaman sekarang. Bagi saya, tak masalah jika hanya sekedar berteman. Tapi jika lebih dari itu, saya tidak mau, karena saya tidak ada hati sama si Bima (nama samaran). Dan saya semakin tidak mau lagi, ketika saya mengetahui motif yang sebenarnya sampai Bima mendekati saya. Suatu hari seorang teman yang kebetulan akrab dengan Bima mengatakan pada saya, bahwa wajah saya mirip sekali dengan wajah mantannya Bima. Wah, jelas saja saya jadi sewot. Oh jadi itu to penyebab Bima  mendekati saya ? karena wajah saya mirip sama wajah mantannya ? dih, ogah ah, sori yee …
Sewaktu saya mengkonfirmasikan kebenarannya,  si Bima spontan bilang, ” iya, awalnya aku pikir kamu mirip sama dia, tapi makin lama aku makin sadar,kalau kamu tuh beda banget sama dia. Masih baikan kamu kok, makanya aku suka sama kamu. Serius. ” (halah, gombal .. .) 


Dikira istri kedua

Ini nih yang kacau banget. Kan pernah ya, pagi-pagi hari Minggu  saya pergi ke pasar naik angkot. Eh nggak lama duduk di angkot, dua orang ibu yang ada disitu langsung bisik-bisik sambil sesekali melirik-lirik saya. Saya sih cuek saja, merasa nggak punya salah. Paling saya mikirnya ada sesuatu yang salah di diri saya. Mungkin kerudung saya tidak rapi ? atau kancing baju saya terbuka ? atau lipstik saya berantakan ? ah tapi rasanya semua oke -oke saja, rapi-rapi saja. Tadi sebelum berangkat sudah dua kali bolak-balik ngaca kok. Kalau begitu, apa yang kira-kira diomongin sama ibu-ibu itu ya ? o ouw ternyata dengar punya dengar, mereka mengira saya adalah istri kedua ( atau istri simpanan,gitu ) seorang laki-laki yang mereka kenal ! beuh, pantas saja nada bicara dan lirikan mereka sarat dengan kebencian. Ibu-ibu kan memang suka gitu. Paling sensi kalau sudah ngomongin  istri kedua, atau kalau bertemu dengan istri kedua, meski perempuan itu bukan istri kedua suaminya. Biasalah, namanya juga solidaritas korps. Untung saja mereka tidak ujug-ujug mencakar wajah saya. Coba kalau begitu, kan bisa gawat urusannya. Seandainya mereka tahu, bahwa mereka salah orang, pasti malu banget tuh. Jadi sudahlah saya diam saja sambil dalam hati nggak kuat geli nahan ketawa. Beginilah nasib punya wajah mirip  istri simpanan, jadi banyak yang jeles nggak jelas ! heu heu …

Disamain sama bintang film

Ini rada gokil juga sih kalau diomongin disini. Tapi ini pengalaman nyata kok. Gini pengalaman saya. Dulu pas saya baru-baru saja menikah, kami kan pindah ke sebuah kompleks perumahan di Bandung. Nah, ketika kami berkeliling ke tetangga untuk memperkenalkan diri, ada beberapa ibu-ibu yang nyeletuk kalau wajah saya mirip Dewi Yull. Ada lagi yang bilang saya mirip Ida Leman. Ada juga yang nyamain wajah saya kayak Ismi Aziz (penyanyi pop 90- an). Hadeh, menanggapi itu saya hanya bisa senyam-senyum saja. Jelas saja saya tidak berkeberatan disamain wajah sama mereka, secara para artis yang disebutkan itu kan berwajah manis-manis. Padahal dalam hati sih, pinginnya ada tetangga yang bilang wajahku mirip Lidya Kandouw kek, Meriam Bellina, atau Ida Iasha gitu. Sayang nggak ada yang bilang gitu. Beda jauh kali yee … (gaktaudiribanget.com) . Eh tapi dipikir-pikir, wajahku nggak mirip juga kan sama Dewi Yull dkk ?  Itu sih tetangga saja yang ingin menyenangkan hati saya. 

Satu Ras Satu Kemiripan

Saya rasa bukan hanya saya saja yang wajahnya mirip atau sering dimirip-miripkan dengan orang lain. Buktinya sayapun sering menemukan ada seseorang yang memiliki kemiripan luar biasa dengan seseorang yang saya kenal. Pernah suatu ketika, di sebuah tempat, saya diam-diam meneteskan air mata yang sangat sulit saya tahan, gara-gara melihat seorang Bapak tua yang wajah dan penampilannya sangat mirip dengan mendiang Ayah saya. Seandainya saya tidak punya rasa malu, tentu saya sudah menghampiri Bapak itu dan memeluknya. Di kesempatan lainpun saya melihat masih banyak orang lain yang memiliki kemiripan. Bahkan di Kompasiana ini, saya melihat ada beberapa teman yang berwajah mirip dengan teman atau keluarga saya.

Menurut pendapat saya, kemiripan adalah hal yang lumrah terjadi. Selama kita berasal dari satu Ras yang sama, yang berarti  kita berasal dari satu keluarga besar yang sama, maka kemungkinan mirip  akan selalu ada. Mungkin saja kemiripan itu berasal dari gen kita yang similar, yang membuat raut wajah, mata, hidung, atau bibir kita, bahkan suara kita terlihat sama. Wajar saja, karena dalam sebuah keluarga besar akan selalu terdapat kemiripan, meski sedikit. Tak hanya itu, entah keajaiban apa yang terjadi, seringkali wajah kita mirip dengan suami/ istri kita. Kata orang,  itulah tanda kita berjodoh dengan pasangan kita. Jodoh yang akan membawa kita menciptakan sebuah keluarga baru yang mewariskan banyak sekali kemiripan. 

Disama-samakan wajah dengan orang lain menurut saya tidak masalah selama tidak mengganggu. Yang menjadi masalah justru jika kita memaksa atau terlalu yakin bahwa seseorang yang kita temui di jalan adalah orang yang kita kira. Yakinkan dulu, sapa dulu, tanya dulu baik-baik, sebelum kita mendapat malu. Jangan sampai kita dikira orang aneh gara-gara sering salah orang.

Nah teman-teman, bagaimana dengan anda ? apakah anda memiliki pengalaman sama dengan yang saya alami ? Kalau ya, mohon maaf, wajah anda termasuk wajah pasaran. He he … damai yaa … :) 


Salam sayang,