Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, January 16, 2013

Aku Penulis yang Autis

Aku penulis yang autis, setidaknya itulah yang aku rasakan. Aku punya dunia sendiri, berpikir sendiri, dan asyik sendiri.


Aku menulis di Kompasiana yang punya anggota puluhan ribu orang, namun tak satupun yang aku kenal. Kadang aku berinteraksi dengan beberapa orang yang kebetulan membaca atau sekedar mengklik tulisanku (lalu dengan segera mengklik icon backwards) yang memberi komentar. Aku jawab dengan penuh kehati-hatian, karena aku takut, kalau-kalau kata-kataku akan melukai hati mereka, karena aku tak kenal mereka secara pribadi. Namun bagiku, mereka yang mencoba berinteraksi denganku, bagaikan malaikat atau setidaknya bagaikan teman-teman dari negeri di atas awan yang sangat baik hati. Meski tak mengenalku mereka mau bermurah hati menyapaku


Aku penulis yang autis. Aku memiliki dunia dan perasaanku sendiri. Sesekali aku memperhatikan para penulis yang hebat itu. Kadang timbul kekagumanku ketika kubaca buah pikiran mereka yang begitu mempesona.  Namun tak jarang timbul rasa jijikku, manakala aku baca serangkaian kata-kata kotor, kasar dan jorok, yang dengan ringan dituliskan di ruang publik. Tapi tetap saja aku tak peduli, aku tak bereaksi, karena aku punya duniaku sendiri, karena aku punya pendapatku sendiri. Aku tak pernah berkomentar manatah lagi merespons, karena aku ingin menyimpan semua pendapat dan perasaanku untukku sendiri.


Aku penulis yang autis. Aku beranikan diri mengarungi dunia Kompasiana yang kadang sikap serta kebijakan para adminnya tak dapat kumengerti sedikitpun. Seringkali aku mendapat perlakuan yang menurutku mengherankan. Namun aku tak peduli. Bukankah mereka adalah Dewa di dunia Kompasiana ini? Jadi ya terserah mereka saja, karena aku tak mau ikut campur, aku tak mau memprotes apalagi beradu mulut dengan mereka, karena aku punya duniaku sendiri.


Aku penulis yang autis. Pernah sekali kubaca sebuah tulisan yang sangat naif tentang curahan hati seorang penulis pemula, yang merasa patah hati akibat tulisan-tulisannya dihina, dihujat sedemikian rupa oleh temannya yang telah terlebih dahulu menjadi penulis profesional (?). Aku merasa iba, karena kurasa nasibnya mirip denganku. Namun aku tak mau melakukan kontak dengannya, karena dia orang asing, dan orang asing tak boleh masuk dalam duniaku, karena aku punya duniaku sendiri.


Aku penulis yang autis. Pernah kubaca sebuah artikel yang dibaca oleh puluhan ribu orang, dan alih-alih merasa kagum, aku malah merasa takut terhadap penulis itu. Aku merasa bahwa orang itu pasti sakti mandraguna, karena meski dia menulis sesuatu yang sama sekali kosong makna, namun dia mampu menarik ribuan pembaca. Sebaliknya, aku pernah membaca tulisan yang sangat indah, namun hanya dibaca 12 orang. Dan aku merasa sayang padanya, karena tulisannya membuat air mataku mengalir tanpa terasa. Dia seperti tahu perasaanku. Namun demikian, tetap saja, aku tak melakukan interaksi dengan keduanya. Baik dengan penulis sakti itu, atau dengan penulis sunyi itu. Karena aku tak mau terlibat terlalu jauh, karena aku punya duniaku sendiri.

 Aku penulis yang autis, dan aku lebih sering terdiam di duniaku yang sepi. Duniaku yang sunyi, namun sarat dengan imajinasi dan keindahan. Keindahan yang hanya dapat kupahami sendiri, yang aku tak ingin membaginya denganmu. Meskipun begitu, aku menyukai kehidupan ini, dan aku bisa juga menyayangi orang-orang .



Salam sayang,
anni

sumber gambar : www.probinglife.blogspot.com, www.morror.co.uk