Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, January 23, 2013

Kondangan yang Bikin Kapok :(


 www,clipartof.com

Aku beranjak dari sofa tempat aku sedang asyik membaca buku, ketika terdengar ketukan di pintu depan. Kubukakan pintu, dan seseorang mengantarkan sepucuk kartu undangan pernikahan yang berdesain sangat menawan. Hmh … indah sekali kartu ini. Siapa gerangan yang menikah dan mengundangku ? batinku sambil meneliti kartu itu. Ukurannya lumayan besar, sekitar 30 cm x 20 cm. Berwana kuning gold berhias  renda cantk dari katun kurasa, berwarna burgundi dengan pita mungil berwarna senada yang dijahit miring di sudut kartu.. Ketika kartu itu kukeluarkan dari sampul plastiknya, aroma musk yang hangat menguar dari dalam kartu. Benar-benar kartu undangan pernikahan yang mewah dan indah, pikirku.

Kubaca nama pengirimnya : Vita dan Andre, dari keluarga Affandi. Oh ternyata tetanggaku yang tinggal satu kompleks namun berbeda blok. 

Aku sebetulnya kurang mengenal keluarga ini. Tapi dalam beberapa kesempatan aku pernah bertemu dan mengobrol dengan bu Affandi. Orangnya cukup baik dan ramah. Usianya kira-kira 55 tahun, tapi masih terlihat cantik dan awet muda. Bu Affandi termasuk ibu-ibu gaul kurasa, menilik dari gaya berpakaiannya yang selalu trendy, tatanan rambut yang selalu berganti potongan dan berganti warna, serta  dari cara bicaranya yang sangat “masa kini”.  Keluarga Affandi  punya 3 anak, Vita adalah anak yang paling besar dan bekerja di Australia.  Pak Affandi bekerja sebagai pelaut. Hanya itu yang aku tahu tentang keluarga Affandi.

Pernah sekali waktu, aku mendengar seorang tetangga berkata tentang hal-hal yang sangat buruk tentang bu Affandi, sampai aku merasa jengah dan merasa harus menghindar dari pembicaraan itu. Aku benar-benar tidak suka melibatkan diri dalam pembicaraan yang aku anggap hanya gosip yang tak ada gunanya itu. Apa pentingnya mengetahui keburukan seseorang sampai sedemikian rupa ? Sama sekali bukan urusan kita, kan ya ?
Tak lama berselang, aku mendengar berita tentang perceraian keluarga Affandi. Aku jadi melamun. Kasihan sekali Vita. Mau menikah disaat kedua orang tuanya baru saja berpisah. Namun tentu saja masalah tersebut tak seharusnya menjadi penghalang bagi dua insan yang sudah berniat untuk membina rumah tangga. Dan rencana pernikahanpun disusun dengan apik, termasuk menyebar kartu undangan yang indah itu.
Beberapa hari yang lalu bu affandi meminta aku dan suamiku untuk turut serta dalam rombongan keluarga mempelai putri, dan kami menyanggupi permintaan itu. Sejak pagi kami sudah berdandan rapi dan siap berangkat. Ketika saat yang dinanti tiba, aku dan suamiku berada dalam satu mobil dengan para tetangga yang sama-sama diminta untuk menjadi rombongan mempelai putri. Jadi aku belum melihat bagaimana penampilan sang Ratu sehari itu.

Sesampainya di gedung tempat pernikahan dan resepsi dilangsungkan, kami segera ditempatkan di deretan kursi yang letaknya sangat dekat dengan meja rendah tempat pengantin akan mengucapkan ijab kabul. Sambil menunggu acara,dimulai, iseng-iseng aku memperhatikan dekorasi gedung itu.  Warna gold, burgundi dan maroon mendominasi ruangan. Semuanya serba gemerlap, rapi, elok, dan indah. Pernikahan ini tentu akan digelar dengan sangat mewah dan elegan.

Tak lama kemudian rombongan pengantin priapun tiba. Kulihat Andre, sang pengantin laki-laki, tampak agak kikuk dan nervous dalam pakaian adat Sunda berwarna putih bertabur payet yang sangat mewah. Anak muda yang tampan dan berbahagia. Wajahnya memancarkan hati yang baik kurasa. Tapi itu belum seberapa, dibanding ketika mempelai putri hadir ke dalam ruangan. Ah Vita benar-benar bidadari yang cantik luar biasa. Busana pengantin adat Sunda berwarna broken white dengan desain yang sangat indah, membalut tubuhnya yang ramping semampai.  Tata rias wajahnya tidak berlebihan, namun semakin memancarkan kecantikannya yang luar biasa. Sekilas kulirik pasangan Affandi yang sudah bercerai. Mereka tampak menundukkan wajah mereka dalam-dalam seolah menyembunyikan kegalauan di hati mereka.

Dan ijab kabulpun dimulailah. Namun yang terjadi beberapa menit setelah ini, benar-benar diluar dugaanku, dan dugaan kami semua para undangan yang sengaja hadir menyaksikan peristiwa sakral itu.  Acara yang seharusnya berlangsung khidmat dan sarat dengan kebahagiaan serta keharuan, berubah menjadi peristiwa menyedihkan yang penuh dengan isak tangis dan menjadi ajang membuka aib yang sungguh memalukan yang aku tak sanggup membayangkan harus aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri.

Kejadiannya begini. Ketika Pak Penghulu memeriksa identitas calon mempelai, Pak Penghulu bertanya pada calon mempelai putri, benarkah Pak Affandi adalah Ayah kandung Vita ? Yang dijawab “Benar” oleh Vita. Namun apa yang terjadi ? Tiba-tiba Pak Affandi menyela, dan berbicara sambil terbata-bata, bahwa Vita bukan anak kandungnya !  Mendengar ini, Pak Penghulu terdiam, sementara bu Affandi dan Vita tampak sangat shock, sangat terpukul .

“Papa, apa maksud Papa ? Kenapa Papa ngomong seperti itu ? Kenapa Papa bilang Vita bukan anak Papa ? Kenapa Pa ?  “, tanya Vita sambil menangis. Pak Affandi tak sanggup menjawab. Air mata mengalir di pipinya yang terlihat tua.

“Silahkan dijawab pertanyaan Neng Vita, Pak Affandi “, pinta Pak Penghulu memecah keheningan. 
Sejenak Pak Affandi menghela nafas panjang, menenangkan diri, mengusap wajahnya, lalu berucap perlahan,

” Maafkan Papa, Vita. Meskipun Papa sangat sayang sama Vita, tapi Vita memang bukan anak kandung Papa. Mamamu menikah dengan Papa dalam keadaan mengandung, tapi bukan dengan Papa. Mamamu tidak pernah mengatakan siapa Ayah dari bayi yang dikandungnya itu, karena setiap Papa tanya, Mama selalu mengancam akan bunuh diri. Akhirnya Papa berhenti bertanya karena Papa sangat mencintai Mamamu, dan berjanji akan menyayangi bayi yang dikandungnya itu seperti anakku sendiri.  Maafkan Papa, Vita ! Papa tidak berhak menjadi walimu “

” Papa !! Kenapa Papa begitu sama Vita ??!! “, raung Vita sambil menutup wajahnya dengan selendang putihnya.

” Affandi !! Tutup mulutmu ! Lancang sekali kamu berkata seperti itu !! “, teriak bu Affandi sambil bangkit dan berusaha menjangkau Pak Affandi. 

Ya Allah, ini benar-benar seperti  adegan sinetron yang tidak lucu yang harus aku saksikan. Aku sudah tidak tahan lagi menyaksikan saling buka aib diantara keluarga itu yang semakin membuat terpuruk Vita sang calon pengantin yang malang. Ekspresi tegang tampak jelas di wajah-wajah rombongan keluarga pengantin laki-laki. Apalagi Andre. Wajahnya pucat pasi putih merah biru sudah tak keruan lagi. Benar-benar dunno what to do.

Di tengah kekacauan itu, suamiku menggamit lenganku dan berbisik, ” Bu, kita pulang aja yuk, nggak enak dengerin orang berantem “. Benar juga pikirku. Akhirnya, kamipun kabur dari gedung itu tanpa sempat menyaksikan acara ijba kabul berlangsung. Kami pulang dengan taxi. Dan di dalam Taxi, kami hanya bisa terdiam, karena terus terang kamipun merasa shock dengan kejadian barusan. Benar-benar di luar akal sehat, tidak dewasa, dan memalukan. Mengapa mereka tidak memikirkan kepentingan anak ? Mengapa harus berbohong ? Mengapa harus jujur tapi tidak pada tempatnya ? Mengapa harus … Ah sudahlah, jadi speechless gini …

Sumpah, kapok beneran deh kalau aku harus mengalami kejadian ini sampai dua kali. naudzubillah …
Sampai sekarangpun aku masih mengurut dada kalau ingat kejadian itu. Semoga tidak terulang lagi dimanapun juga, semoga semua orang menyadari betapa pentingnya selalu mengedepankan kedewasaan dan kewarasan, semoga Vita dan Andre yang kata tetangga akhirnya menikah dengan wali Hakim, berbahagia selamanya, aamiin ….

Sudah ah, kalau diteruskan bisa-bisa aku esmosi nih. Nggak baik kan ngambek-ngambek, padahal besok libur :)
Selamat liburan ya teman-teman, selamat menghadiri kondangan, jangan takut … he he …


salam sayang,
anni


# semua nama (kecuali anni ) bukan nama sebenarnya, namun peristiwanya benar-benar terjadi.
Powered by Telkomsel BlackBerry®


No comments:

Post a Comment