Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, January 14, 2013

Murid-muridku Meregang Nyawa di Depan Mataku !



Aku mengenalnya sebagai seorang teman yang baik. Cara bicara dan sikapnya wajar dan sopan. Dia juga seorang Suami dan Ayah yang baik kurasa. Hanya saja aku tak pernah melihatnya dalam keadaan ceria. Perilakunya seperti orang yang sedang merenung, atau memikirkan sesuatu yang sangat berat. Seolah ada mendung hitam yang menggelayuti raut wajahnya.. Pandangan mata Diki (sebut saja namanya seperti itu ) kadang begitu hampa, kosong menatap ruang yang sangat jauh entah dimana.


Bukan karena orangnya pendiam makanya aku jarang ngobrol dengannya. Tapi memang karena dia terlihat seolah selalu berusaha menciptakan jarak diantara dia dengan kami teman-temannya.
Dalam sebuah kesempatan menghadiri sebuah acara seminar,  kebetulan aku duduk berdekatan dengannya. Ketika waktu rehat tiba, sejenak aku beristirahat sambil menikmati teh dan kue-kue yang disediakan panitia, begitu juga Diki yang duduk di sebelahku. Dia tersenyum padaku, dan mengajakku berbincang. Tadinya aku tidak  menanggapi terlalu serius sapaannya. Kukira hanya basa-basi biasa, karena memang kami saling mengenal. Sungguh tak kusangka, obrolan selanjutnya, betul-betul membuat perutku mual, sampai tak sanggup lagi aku menelan rainbow cake hidangan panitia yang sebetulnya sangat lezat itu.


Di pertengahan tahun 90-an, Diki baru saja menyelesaikan studi nya di salah satu institut negeri yang dikenal sebagai lembaga pencetak guru di indonesia. Karena berkeinginan menjadi pegawai negeri sipil, Diki pun mengikuti tes CPNS, yang kemudian dinyatakan lulus. Tak lama berselang, keluarlah surat tugas yang berisi penempatan tugas mengajar di kabupaten Poso. Sebuah daerah yang sama sekali asing di telinga Diki.
Alih-alih bingung karena harus mengajar di daerah antah berantah, Diki malah menyambut dengan antusias tugas tersebut. Berbekal semangat dan idealisme yang tinggi sebagai seorang fresh graduater, berangkatlah Diki ke tempat yang berjarak ribuan kilo meter dari kampung halamannya di Sukabumi.


Singkat cerita, Diki ditempatkan di sebuah Sekolah Dasar di salah satu kecamatan di Poso. Diki dapat segera beradaptasi dengan daerah dan tempat kerjanya yang baru itu. Rekan-rekan seprofesi yang telah lebih dahulu bertugas di sekolah itu menerima sang guru baru dengan tangan terbuka, begitu pula murid-murid disana, semuanya menyukai Pak Diki yang baik hati dan pandai melucu.
Hingga tibalah Hari yang kelam itu. Hari yang tak kan pernah terlupakan seumur hidupnya. Hari yang dalam sekejap mengubah karakter seorang pemuda, dari periang dan optimistik, menjadi pendiam dan penggugup.
Bermula dari demam reformasi yang tengah melanda seantero negeri. Seolah wabah yang menular, dengan cepat demam reformasi ini merasuk ke seluruh pelosok Indonesia, termasuk ke daerah Poso.


Awalnya Poso adalah daerah yang aman, tenang dan tenteram. Daerah dengan pemandangan alam yang indah ini berpenduduk multi etnis dan multi agama. Selama berabad-abad penduduk Poso hidup berdampingan dengan damai tanpa pernah terusik oleh banyaknya perbedaan diantara suku dan agama itu. Namun entah dari mana muasalnya, reformasi yang sejatinya ditujukan untuk memperbaiki keadaan, malah membuat keadaan Poso semakin memburuk.


Masyarakat Poso yang tadinya dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan toleran, berubah menjadi masyarakat yang sangat mudah disulut kemarahannya. Masalah kecil yang pada masa lalu selalu dapat diatasi dengan duduk bersama bermusyawarah secara damai, kini dalam waktu semalam dapat berubah menjadi perang suku yang mematikan bahkan perang agama yang mengerikan. Semakin hari sentimen suku dan agama kian memanas saja. Semua orang yang tak sesuku dan tak seiman dianggap musuh yang harus diperangi, tak peduli sang musuh bebuyutan adalah tetangga yang bulan kemarin masih saling berbagi makanan, atau bahkan berstatus mantan teman satu sekolah yang pada masa lalu sering berangkat ke sekolah, bermain, dan tumbuh besar bersama-sama di desa yang permai. Tak ada lagi tegur sapa ramah dan obrolan hangat antar sahabat yang diringi derai tawa ceria. Yang ada dibenak mereka kini adalah, bagaimana menghabisi nyawa musuh, seraya mempertahankan diri dari sabetan parang dan golok lawan


Diki sang Guru muda tanpa daya terjebak di  tengah-tengah konflik yang kian memanas dan bergejolak. Namun demikian, dia masih tetap setia hadir ke kelas untuk mengajar murid-muridnya yang selalu menunggunya. Pada suatu siang Diki bertugas mengajar di kelas 4. Di kelas itu Pak Diki yang disayangi murid-muridnya ini dengan asyiknya menceritakan sebuah kisah lucu, yang membuat para murid tertawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba … Suara ledakan yang sangat dahsyat menggetarkan seluruh isi kelas. Suaranya yang keras serasa memecahkan gendang telinga.  Ternyata suara ledakan itu berasal dari sebuah bom rakitan yang  dilemparkan orang yang tidak bertanggung jawab yang jatuh serta meledak tepat di tengah-tengah kelas tempat Pak Diki sedang mengajar.


Tanpa dapat dielakkan lagi, langit-langit kelas runtuh seketika, dinding kelaspun hancur berkeping-keping. Api yang memercik dari ledakan bom dengan cepat menjalar dan melahap  ruangan kelas  yang hanya tinggal puing-puing itu. Diki yang kebetulan berdiri di dekat lemari, kontan tak sadarkan diri begitu  lemari yang terbuat dari jati itu rubuh terkena puing atap  yang ambrol dan menghantam kepala serta menimpa tubuh sang guru.  Nasib mujur rupanya masih berpihak pada Diki. Lemari yang menimpa tubuhnya itu, rupanya berfungsi melindungi Diki dari ledakan bom. Walhasil Diki pun dapat keluar dari ruangan kelas yang berantakan, dengan selamat.


Namun pemandangan di dalam kelas yang hancur berantakan, tak akan pernah terhapuskan sepanjang hidupnya, menyisakan trauma yang menyesakkan dada dan menyakitkan hati serta merusak perasaan. Betapa Diki harus menyaksikan murid-murid yang sangat disayanginya, yang beberapa menit lalu masih tertawa-tawa bersamanya, dalam sekejap dan bersamaan harus meregang nyawa dengan cara yang sangat mengenaskan, dan yang lebih menyakitkan lagi, kesemuanya itu berlangsung hanya beberapa sentimeter di depan matanya !
Dengan pilu Diki harus mengumpulkan potongan kepala yang menyangkut di teralis jendela,di kusen pintu,  memunguti ceceran kaki dan tangan yang terlepas entah dari tubuh siapa, memasukkan usus yang terburai ke dalam tubuh yang tak berkepala lagi, mengangkat jasad anak perempuan cantik dari genangan darah yang tak henti menyembur dari kepala mungilnya yang terbelah, astaghfirullah  …


Bahkan berkata-katapun Diki sudah tak sanggup lagi. Lidahnya serasa dipaku. Pikirannyapun serasa beku. Seluruh inderanya terasa kaku dan kelu. Begitu dahsyat peristiwa dan pemandangan yang harus disaksikannya pada siang hari itu. Jiwanya terguncang hebat dan tak kan pernah tersembuhkan lagi.
( Dan bagian yang membuat perutku mual adalah, ketika dengan enteng, Diki bertanya padaku, ” bu anni tau nggak, bagaimana caranya menghilangkan trauma akibat melihat kepala murid kita terpental dari lehernya, kemudian nyangkut di tiang papan tulis ?”
Untung saja aku mengetahui jalan ceritanya.Kalau tidak, bisa-bisa aku marah padanya).


Semenjak itu, Diki seolah berubah menjadi pemuda yang hilang ingatan. Parang dan golok telah menjadi benda yang akrab dengan aktifitas sehari-harinya, menggantikan buku dan spidol yang biasa dia bawa setiap berangkat kerja. Diki masuk dalam pusaran konflik. Dari seorang pemuda yang berprofesi sebagai pendidik, menjadi seseorang yang dengan ringan hati membunuh manusia yang dianggap musuh.  Semua itu dia lakukan diluar kesadarannya dan tentu saja diluar akal sehatnya.


Entah bagaimana caranya, pada suatu kesempatan Diki berhasil turut dalam rombongan TNI yang akan kembali ke Jawa Timur. Bersama mereka, Diki bertolak meninggalkan bumi Poso yang panas dan berdarah. Setelah berhasil melakukan kontak dengan keluarganya, Diki dijemput dan  serangkaian sesi terapi kejiwaanpun telah menantinya. Alhamdulillah Diki berhasil dinyatakan sembuh, dan dapat menjalani hidup seperti orang lain, bekerja sebagai guru, bahkan menikah dan memiliki anak.


Belasan tahun telah berlalu sejak kejadian yang mengerikan itu. Namun menurut pengakuannya, kejadian itu seolah melekat kuat dalam memorinya, meninggalkan luka traumatik yang teramat dalam. Sesekali trauma itu datang mengusik ketenangan hidupnya. Membuatnya berteriak-teriak histeris di tengah malam yang sunyi dengan tubuh basah bersimbah keringat. Sekujur tubuhnya akan bergetar hebat, dan air mata akan mengalir begitu saja tanpa terasa. Penderitaan ini sangat menyiksa batin Diki dan keluarganya. Untuk mengatasinya, sesekali Diki masih mendatangi psikiater demi memperoleh kesembuhan total, yang entah kapan akan dirasakannya.


Ah malang sekali nasibmu, kawan. Semoga Allah memberimu ketabahan dalam menghadapi cobaan hidupmu yang berat ini.  Dan lebih jauh lagi, semoga Allah memperkenankan bumi Poso yang dahulu indah, kembali permai dengan pendudukan yang hidup dengan damai dan tenteram, aamiin …
Aku selalu berharap, semoga negeri Indonesia tercinta ini, menjadi negeri yang lebih demokratis, makmur dan aman untuk ditinggali hingga ke anak cucu kita kelak. Semua pertikaian harus segera dihentikan, dan perdamaian harus dikembalikan seperti sedia kala. Aku tak tahan lagi mendengar rakyat sipil yang tak berdosa harus meregang nyawa setiap hari demi menumpahkan darah sesama. Sungguh tak dapat kubayangkan bagaimana jadinya masa depan kita, jika negeri ini dipenuhi oleh anak-anak bangsa yang hidup dalam trauma berkepanjangan.


Anak-anak kita harus dididik tentang pentingnya arti toleransi ,menahan diri, dan memaafkan.





salam sayang,
anni


Sumber gambar : www.govermed.blogspot.com

www.flickr.com