Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Tuesday, January 22, 2013

Dafa Terlalu Sering Melihat Hantu


Dafa datang dari Jakarta. Meski  kelulusan SMP masih beberapa bulan lagi diumumkan,  Dafa (bukan nama sebenarnya) dengan diantar kedua orang tuanya sudah bersiap mendaftar menjadi siswa di sekolah tempatku mengajar. Takut terlambat, dan tidak mendapatkan nomor test, katanya.
Kami menerima Dafa beserta keluarganya dengan senang hati, lalu kami ajak mereka berjalan-jalan keliling kampus, agar mereka mendapat gambaran, kira-kira sekolah seperti apa yang nantinya bakal menjadi tempat Dafa belajar. Kami antar mereka melihat-lihat asrama, kelas, laboratorium, perpustakaan, sarana olah raga, ruang kesenian, studio musik, aula, warnet, kantin, toilet, dll, yang kesemuanya itu dikomentari Dafa dengan antusias. Dengan kata lain, Dafa anak tunggal yang biasa dimanja-manja oleh kedua orang tuanya itu, setuju untuk sekolah di sini, meski harus tinggal di asrama dan terpisah jauh dari orang tuanya di rumah. Untuk itu Dafa harus belajar ekstra keras, karena tes masuk ke sekolah kami lumayan sulit dan saingannyapun banyak. Namun Alhamdulillah, Dafa beruntung dapat lulus test seleksi masuk, lulus tes bebas narkoba, dan direkomendasikan untuk diterima sebagai siswa baru berdasarkan hasil Psikotes.


Semester berikutnya, dafa pun resmi menjadi siswa kelas X di sekolah kami. Kami para guru sangat senang meilhat betapa sehat, optimis, dan cerianya Dafa  dalam balutan seragam putih abu-abunya yang baru. Beberapa waktu berlalu, dan segalanya berjalan dengan lancar bagi Dafa dan teman-temannya. Hingga pada suatu malam, kami dihebohkan oleh suara ribut- ribut yang berasal dari Asrama siswa kelas X.


Saat itu seluruh siswa telah menunaikan sholat Isya berjamaah di Masjid kampus, dilanjutkan dengan makan malam di ruang makan. Hampir semua siswa berada di ruang makan untuk menikmati makan malam, kecuali Dafa. Rupanya Dafa ingin mengganti pakaiannya dulu dengan baju yang lebih santai agar acara makannya lebih nikmat. Setelah selesai bersalin pakaian, Dafa harus menuruni tangga asrama yang lumayan tinggi, lalu menyeberangi halaman yang luas untuk mencapai ruang makan. Nah, dalam perjalanannya ke ruang makan itulah insiden keributan seperti yang aku ceritakan tadi bermuasal. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba anak itu berteriak sekuat tenaga lalu berlari sekencang-kencangnya,  seolah sesuatu yang mengerikan telah mengejarnya. Dia terus berlari sambil tak henti berteriak, menendang pintu ruang makan, lalu menabrak kursi dan meja yang ada disitu. Tak luput beberapa temannya turut terjengkang karena diterpa begitu saja oleh tubuh gempal si Dafa ini.


” Astaghfirullah, Dafa ! Kamu ini apa-apaan sih ?! “, kata salah seorang guru yang ada di ruang makan. Namun Dafa hanya bisa terduduk dengan muka pias seperti kertas, nafas tersengal-sengal, mata melotot, sambil telunjuknya menuding-nuding ke arah halaman.

” Dafa ! , ada apa ? Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu ? “. tegur Pak Hendra gurunya yang ada di ruang makan itu.

” i….i… iituu Ppaak … Itu di sanaa ….”, jawab Dafa terbata -bata. Tangannya masih terus teracung ke arah halaman.

” Itu apa ? Ayo bilang sama Pak Hendra, jangan takut ! “

“Ituu Pak, tadi di halaman di bawah tiang bendera itu, ada hantu Pak …! “

“Haahh ?!  Hantuu ??!  Whua ha ha ha haaa ….!!  “, tiba-tiba meledaklah tawa anak - anak yang tahu-tahu sudah merubungi Dafa.

” Eh ngapain Lu ketawa ? Beneran, gua lihat hantu di sono no, di bawah tiang benderaa !! “

” Bhwua ha ha ha haaa …!!! “, anak-anak kembali terpingkal-pingkal. Ah dasar anak-anak bandel, ada teman menderita kok malah terbahak-bahak ! Hmh ….

” Sudah,sudah ! Ayo anak-anak teruskan makannya ! Dafa, kamu juga cepat makan dulu. Setelah itu, Bapak ingin bicara dengan kamu “, kata Pak Hendra sambil geleng-geleng kepala. Anak-anakpun bubar kembali ke tempat duduknya sambil masih terus cekikikan.


Keesokan harinya, di kantor, aku mendengar Pak Hendra menceritakan apa yang dialami Dafa tadi malam. Berbagai komentar terucap dari teman-teman sesama guru. Tetapi kebanyakan menganggap bahwa itu hanya sekedar bayangan, atau ilusi yang dilihat Dafa. Sebagian ragu-ragu, dan sebagian lagi diam sambil berpikir. Nah aku termasuk yang terakhir ini. Aku tidak bisa berkomentar apa-apa, karena terus terang aku lumayan buta juga dengan sesuatu yang berkenaan dengan dunia gaib seperti itu.


Namun rupanya kejadiannya tidak berhenti sampai disitu saja. Hari-hari berikutnya semakin sering Dafa melihat penampakan di berbagai tempat dan di berbagai waktu. Tidak hanya malam hari, tetapi bisa pagi, siang sore, pokoknya kapan saja. Kadang dia tidak merasa takut, namun dia lebih sering menampakkan reaksi terkejut dan ketakutan. Satu dua temannya sudah mulai terpengaruh. Mereka mulai merasa takut, bukan karena melihat sesuatu yang menakutkan, namun karena melihat Dafa ketakutan. Pernah juga sekali aku melihat dia lari tunggang langgang dengan mimik muka ketakutan,  menyeberangi lapangan basket,lantas kabur menuju perpustakaan. Padahal saat itu hari masih siang, saat istirahat dhuhur dan makan siang.


Kami para guru sudah berusaha sekeras tenaga untuk mengatasi masalah ini. Setiap antara maghrib sampai Isya seluruh siswa (yang keseluruhannya adalah anak laki-laki, karena kami adalah boy school ) menggelar pengajian dan doa bersama di Masjid. Setiap anak membaca Al Quran, berdoa, dan melaksanakan ibadah-ibadah sunah lainnya, dengan harapan semoga Allah memberikan ketenangan di hati anak-anak remaja ini. Dafa tentu saja tak pernah absen dalam kegiatan tersebut.


Sebagai hasilnya, anak-anak tidak lagi merasa takut, kembali ceria seperti biasanya. Namun itu tidak terjadi pada Dafa. Dia tetap saja mengalami gangguan, sampai kami para guru dibuat kesal oleh ulah pengganggu yang tak kasat mata itu. Apa sih mau mereka terhadap anak yang baik ini ? Salah seorang rekan kami, guru bahasa Indonesia yang pemberani, bahkan sempat menantang berkelahi kepada makhluk-makhluk pengganggu itu.
” Hei kalian Jin setan merkayangan ! Sini datang kalau berani ! Duel lawan aku ! Jangan beraninya mengganggu anak kecil ! Sini datang ! Atau kamu akan dilaknat oleh Allah ! ” begitu tantang Pak Jaka guru Bahasa Indonesia yang mantan atlet Judo ini sambil berteriak dan bertolak pinggang ke arah kebun kosong di belakang ruang laundry asrama. Namun teriakannya sia-sia ditelan angin malam. Jangankan berduel, jangkrik dan tokek pun tak ada yang menjawab tantangannya. Memang susah kalau berhadapan dengan sesuatu yang tak terindera.


Aku sendiri memilih tidak terlalu mengomentari kejadian ini, karena memang tidak mengerti. Dan akupun tak terlalu terpengaruh, karena aku pikir, mengapa hanya Dafa seorang yang diganggu, sementara kami seluruh penghuni sekolah tak ada yang mengalami kejadian serupa itu ? Aku tidak menganggap Dafa sedang berbohong atau mencari sensasi, aku hanya merasa heran saja. Namun ada satu lebih tepatnya dua peristiwa yang sempat membuat bulu kudukku meremang.


Kejadian pertama, ketika seusai jam pelajaran, aku keluar kelas, berjalan di koridor untuk pindah ke kelas berikutnya, dan bertemu Dafa di sana. Dafa menatapku dengan heran. Dia bertanya padaku, ” Bu Anni, dari mana ?”, tanyanya.
” Dari kelas XI. IPA 1. Memangnya kenapa, Dafa ?”

” Lho, bukannya bu anni barusan sedang duduk di tangga masjid ? Pake baju biru ? ” (Saat itu  ku pakai seragam batik berwarna cokelat ).

” Ah, dari tadi bu anni di kelas, gak kemana-mana kok ! “

“Yahh Bu, jangan becanda dong Buu …”

” Lho, bu anni serius kok. Kamu tuh yang jangan becanda “, balasku sambil meninggalkan dia yang terbengong sendirian di koridor. Sambil berlalu, tak urung bulu kudukku meremang juga. Hadehh …

Kejadian kedua, pada saat aku mengajar di kelas dia. Kuperhatikan, sepanjang pelajaran dia terus menunduk. Sesekali mencatat dan membaca buku paket, namun kepalanya terus menunduk tak mau memandangku yang berdiri di depan kelas. Jika kutegur, dia akan memandangku sekilas, namun akan kembali tertunduk. Seusai pelajaran, aku panggil dia, dan kutanya, mengapa dia terus-terusan menunduk. Dan tahu kah teman-teman apa jawabannya ? Dia bilang, ” itu Bu, ada orang yang badannya terbalik. Kepalanya di bawah, kakinya di atas, itu di pinggir white board ! “
” Hah ? Apa kamu bilang ??” (Gubraakks ! )


2 bulan telah berlalu dan gangguan terhadap Dafa masih terus berlangsung. Orang tuanya sudah kami panggil dan merekapun merasa heran dengan peristiwa yang menimpa anaknya. Namun demikian mereka tetap mempercayakan anak tunggal mereka berada di bawah pengasuhan kami. Sampai suatu ketika di hari Minggu, satu mobil  penuh berisi penumpang, berhenti di pelataran sekolah . Seluruh penumpangnya keluar, dan ternyata mereka adalah sanak keluarga Dafa yang bermaksud menengok anak itu, karena sudah 3 bulan mereka tidak bertemu dafa yang bersekolah di boarding school.Selain Ayah dan ibunya, turut serta paman, tante, sepupu,
 dan kakek neneknya. Kepala asrama menemui mereka, ngobrol sekedar beramah tamah,dan dari obrolan itu, barulah kami tahu duduk masalah dari segala kekacauan ini. Rupanya sang Kakek yang sangat sayang pada cucu nya ini, merasa khawatir akan keselamatan sang Cucu kesayangannya ini selama menuntut ilmu di daerah pedalaman Sukabumi, sehingga sang Kakek tanpa sepengetahuan Dafa dan kedua orang tuanya, membekali sang Cucu dengan 2 orang eh dua sosok Jin yang bertugas menjaga dan mengawal sang Cucu dimanapun berada, dan menjaganya dari segala gangguan !


Oalah Mbah, Mbah … Lha minta perlindungan kok ya sama Jin, makhluk yang sama sekali tidak bisa dipercaya. Terbukti bukan, bukannya menjaga, para jin itu malah mengganggu tuan kecilnya. Ah kasihan sekali Dafa. Akhirnya tahulah kami bahwa selama ini yang selalu membuat Dafa ketakutan adalah penampakan jin-jin peliharaan dan suruhan kakeknya itu. Selanjutnya Kami dan orang tua Dafa meminta sang Kakek untuk memanggil pulang para jin tersebut, yang langsung disanggupi oleh Kakek. Kamipun menasehati agar kita hanya meminta perlindungan kepada Allah semata, cukup Allah saja.


Semenjak itu, segala gangguan langsung berhenti total, sampai Dafa lulus dari sekolah ini. Sekarang dia sudah duduk di smester 7 di institut cap gajah di Bandung, he he …
Ada-ada saja. Hari gini, ketika semua orang sudah bersentuhan dengan dunia virtual, eh ternyata masih saja ada orang yang setia bersentuhan dengan dunia lain. Meskipun kalau dipikir-pikir, keduanyapun sama tak nyatanya sih :)


Nah begitu ceritanya teman-teman. Terdengar seperti acara Believe it or not ya ? Tapi memang begitulah kenyataannya. Percaya nggak percaya. Tapi memang beneran ada. Semoga ceritaku ini bermanfaat bagi teman-teman semua.




Salam sayang,
Anni

sumber gambar : www.studiospiyo.com