Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Tuesday, October 22, 2013

Berkah Badan Besar : Kuat Berdesakan Saat Tawaf

13824480431690851342 

Di musim haji seperti ini, saya jadi teringat pengalaman saya saat menunaikan ibadah haji bersama suami dua tahun lalu. Banyak pengalaman menarik yang kami alami di tanah suci. Semuanya begitu berkesan dan masih segar dalam ingatan, seolah baru terjadi kemarin saja.

Salah satu pengalaman yang paling dahsyat adalah pengalaman saat menjalani ritual Tawaf, yakni ritual mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali sebagai salah satu rukun haji dan umrah. Betul-betul dahsyat pengalaman itu. Sampai sekarang saya masih terus takjub sendiri, mengingat betapa saya dapat menjalani ritual itu dengan baik dan lancar, padahal kadang saya berpikir bahwa saya adalah perempuan yang lemah dan sesekali suka manja.

Dahsyatnya ritual tawaf.

Ritual tawaf itu bukan ibadah yang yang biasa. Ini adalah ibadah yang melibatkan kekuatan fisik agar seseorang dapat menyelesaikan 7 putaran dengan sempurna. Halaman dalam Masjidil Haram saat saya menunaikan ibadah haji belum luas seperti sekarang ini, juga belum ada lantai atas berbentuk cincin yang melingkari Ka’bah. Semua jamaah haji yang akan melakukan tawaf harus melakukannya di lantai yang sama, yakni di halaman dalam Masjidil Haram yang megah dan indah.

Ketika melaksanakan tawaf , baik saat umrah maupun haji, saya selalu kebetulan harus bertawaf bersama ratusan ribu jamaah secara bersamaan, padahal saya sudah berusaha bertawaf di waktu sebelum subuh, di tengah hari saat matahari tepat di atas ubun-ubun, atau tengah malam, dengan harapan tak akan terlalu banyak jamaah yang melaksanakan tawaf di waktu-waktu tersebut. Namun ternyata Ka’bah memang tak pernah sepi dari manusia. Selalu saja berjubel dan berdesak-desakan.

Saat melaksanakan tawaf, kita harus berjalan dan kadang berlari kecil mengitari Ka’bah sebanyak 7 kali dalam putaran berlawanan arah jarum jam, dengan doa-doa tertentu yang sudah dihafalkan sebelumnya. Bagi jamaah yang masih muda dan sehat, berjalan dalam rute lingkaran yang dekat dengan Ka’bah tentu sebuah pilihan yang tepat. Karena jarak tempuh menjadi singkat. Namun sayangnya, rute ini sangat penuh sesak, berjejalan, berdesakan luar biasa, sampai kadang kaki kita berpijak di atas kaki jamaah lain alih-alih menapak di permukaan lantai, saking berjubelnya orang-orang yan seolah mengepung  kita.

Bagi jamaah yang sudah sepuh, rute yang dekat dengan Ka’bah tentu sangat berbahaya, karena badan yang renta tak akan mungkin dapat menahan desakan jamaah yang begitu dahsyat. Maka bagi para jamaah yang sudah tua, tak ada pilihan lain kecuali berjalan mengitari Ka’bah dari lingkaran yang terjauh , atau bahkan memilih bertawaf dari lantai dua dan tiga Masjidil Haram. Di rute tersebut, orang dapat berjalan dengan lebih relax dan tenang, namun jarak dan waktu tempuhnya menjadi sangat jauh dan lama. Didorong rasa penasaran, saya pernah mencoba bertawaf di lantai dua, dan ternyata waktu tempuh untuk satu putaran kurang lebih 30 menit. Itu artinya kita harus berjalan selama 3,5 jam untuk menyelesaikan ritual tawaf. Saya yang masih bugar dan sehat saja merasa letih, bagaimana dengan para Oma-Opa itu. . Kadang kasihan juga melihat bapak-bapak dan ibu-ibu jamaah yang sudah sepuh terlihat kepayahan saat bertawaf.

Tak semua jamaah dapat bersikap tertib.

Nah, saat bertawaf bersama ratusan ribu jamaah inilah berbagai perjuangan berat harus kita hadapi. Yang paling sering adalah didorong dengan keras dari arah belakang dan samping oleh rombongan jamaah yang tak sabar ingin memotong rute agar dapat mendekati bangunan Ka’bah. Bukan dorong sembarang dorong lho. Dorongannya sangat bertenaga dan massif, karena tak semua jamaah mau begitu saja merelakan rutenya diserobot oleh jamaah yang tak sabaran ini. Lalu doronganpun dibalas dorongan yang tak kalah kuatnya. Nah kami yang berjalan dengan tertiblah yang jadi korbannya. Terjepit, tergencet, terseret, dan terombang-ambing kesana-kemari. Lepas sedikit saja pegangan tangan kita dari pasangan atau dari teman satu rombongan, besar kemungkinan kita akan tenggelam dalam arus dan tersesat di Masjidil Harram yang begitu luas dan kolosal. 

Acara dorong-dorongan ini akan terus berlangsung jika saja para Asykar (petugas keamanan ) Masjidil Haram tidak bertindak menertibkan jamaah. Kalau sudah begini kami memilih menghindar saja, daripada harus jatuh pingsan karena sesak napas akibat terjepit jubelan manusia. Beberapa kali saya melihat ada jamaah haji sampai jatuh pingsan karena kekurangan oksigen akibat terjepit. Alhamdulillah Allah memudahkan kami disana. Tak sekalipun saya pernah terjepit, terinjak, atau apa. Semuanya lancar-lancar saja. Ajaibnya, tak pernah sedikitpun bagian dada saya pernah tersentuh atau teraba oleh tangan jamaah lain, padahal dalam suasana seperti itu, kemungkinan payudara tak sengaja tersenggol bahkan teremas sangat mungkin terjadi. Syukurlah, saya jadi selamat dari rasa dongkol.

Diuntungkan dengan ukuran tubuh yang besar.

Saya adalah perempuan dengan tubuh big ( and beauty ,hhee..) . Teman-teman suka meledek saya bohay. Suami bilang saya bahenol. Dan kata ibuku, tubuhku molig. Ah terserahlah orang mau bilang apa, yang jelas, teman-teman sekarang sudah pada tahu kan, kalau bu anni itu orangnya semlohay ?. Kalau masih sulit membayangkan sosok saya, silahkan bayangkan saja sosok Nunung Srimulat, atau Okky Lukman , atau Tike Priyatnakusumah juga boleh, atau siapa yaa .. Ah sudahlah lupakan saja. Lanjut !

Kalau biasanya saya suka merasa minder dengan potongan tubuh saya, tidak demikian halnya dengan perasaan saya saat di tanah suci. Saya justru merasa sangat bersyukur. Ukuran tubuh saya yang besar ini memudahkan saya untuk tetap bertahan berdiri dan tetap stabil melangkah dalam posisi saya tanpa terseret arus manusia yang sangat kuat saat tawaf. Saya perhatikan, rombongan jamaah yang sering sradak-sruduk seperti itu hanyalah jamaah dari negara itu-itu saja, yakni negara dengan ciri penduduknya berukuran badan tinggi, besar, dan kuat. Jamaah dari indonesia tak pernah memotong-motong barisan. Jamaah kita terkenal tertib, berpakaian indah dan rapi, serta sangat santun. Jamaah dari benua Eropa sangat sabar dan disiplin, sementara jamaah Cina selalu bergerombol dalam kelompok yang teratur dan tampak canggung namun ramah.

Mengingat  jamah yang tidak tertib dan suka memotong antrian tersebut kebetulan adalah jamaah dengan postur tubuh yang super besar,  rata-rata bertinggi badan 2 meteran dan  berat badan sekuintalan, baik laki-laki maupun perempua, maka menghadapi satu orang saja, orang Indonesia yang bertubuh mungil - mungil, jadi sangat minder, apalagi menghadapi serombongan. Kebayang kan kedernya ! . Untung badan saya besar. Jadi saya punya tenaga ekstra untuk menahan desakan mereka. Situ bohay, sini semlohay. Ayok aja adu kuat ! He hee .. Alhamdulillah tak sekalipun saya pernah jatuh atau terpeleset. Padahal saya didesak dan didorong sedemikian rupa oleh serombongan jamaah haji yang tubuhnya menjulang jauh di atas kepala saya.

Melihat daya tahan tubuh saya saat berdesakan hebat seperti itu, teman-teman jamaah haji serombongan saya, terutama yang sudah berusia agak lanjut, menjadikan saya “andalan”  saat tawaf. Setiap  kali tawaf, selalu ada tiga atau empat ibu-ibu sepuh yang memegangi tangan kanan dan tangan kiri saya erat-erat. Begitu pula suamiku. Kiri dan kanan tangannya diganduli oleh paling sedikit 4 orang jamaah sepuh. Kami merasa bahagia dapat menuntun mereka bertawaf, bahkan sampai menyentuh maqam Ibrahim, menyentuh Hijr Ismail, dan menyentuh dinding Ka’bah. Luar biasa beratnya perjuangan kami. Setelah usai tawaf, kami berpelukan bertangis-tangisan saking bahagia dan terharunya, lalu melaksanakan shalat sunat dua rakaat. Tak lupa kami meminum air zamzam yang berasa khas, sejuk dan segar. Sepuasnya, sampai hilang haus dan letih kami.

Tawaf itu berat dan melelahkan, tapi membuat rindu.

Tak sekalipun saya dan suami merasa jera karena payah dan kecapaian sebab bertawaf, begitu pula teman-teman satu rombongan kami. Padahal mereka semua berusia jauh lebih tua dari kami. Semuanya merasa senang dan selalu ingin mengulangi tawaf, lagi dan lagi. Sampai hari inipun kami masih merindukan Ka’bah untuk kami tawafi. Kerinduan yang begitu dalam, yang hanya dapat terobati hanya jika kami bertemu lagi dengan Ka’bah.

Masih terngiang kata-kata suamiku di depan Ka’bah saat kami melakukan tawaf wada (tawaf perpisahan), yaitu tawaf terakhir sebelum kami bertolak pulang ke tanah air. Suamiku berbisik lirih, ” Wahai Ka’bah, kami bukan akan meninggalkanmu. Kami hanya akan pulang sebentar saja, untuk menjemput putri-putri kami, dan sanak keluarga kami. Kami akan mengajak orang-orang yang kami sayangi untuk mengunjungimu, untuk beribadah, bermunajat kepada Allah Azza Wa jalla, yang menciptakan kita semua “.

Kulihat air mata menitik dan mengaliri wajah suami yang sangat aku cintai. Sementara air mataku sudah membanjir sedari tadi tanpa dapat kutahan lagi. Sedih dan berat hati ini saat harus meninggalkan Baitullah. Semoga Allah berkenan memberangkatkan kami lagi dan teman-teman tercinta ke tanah suci, untuk berhaji atau beribadah umrah. aamiin yra …

Salam sayang,

Anni