Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Tuesday, October 22, 2013

Trend Komedi Indonesia : Lempar - Jejalkan Tepung !

Saya paling susah kalau diminta menyebutkan nama-nama acara hiburan di televisi. Sulit menghafalkannya. Selain nama-nama acara yang terdengar mirip, saya juga memang jarang menonton TV secara khusus. Paling kalau sedang iseng saja.  Nah, salah satu acara favorit saya adalah acara musik, atau acara komedi yang ringan -ringan, semisal OVJ.

Saya perhatikan, acara serupa OVJ jadi menjamur sekarang ini. Di beberapa stasiun TV saya lihat ada acara komedi seperti itu, dengan format yang hampir sama, hanya tajuk acaranya saja yang berbeda-beda. Semua acara itu bertabur bintang komedi yang top di tanah air, campur aduk dari berbagai generasi, dan menghadirkan bintang tamu yang tampan, serta cantik dan seksi.

Dari bercanda menjadi kasar

Awalnya saya senang dengan tayangan-tayangan itu, karena tujuan saya menonton acara itu murni hanya untuk refreshing melepaskan kepenatan sepulang kerja, atau setelah ribet dengan kesibukan di rumah tangga yang seolah tiada akhir. Yang penting saya bisa santai, bisa ketawa -ketiwi nonton hiburan murah meriah bersama suami dan anak-anak di rumah. Tapi lama-kelamaan saya jadi merasa terganggu dengan acara-acara itu.

Acara yang tadinya hanya berupa aksi komedi slapstick biasa ( memangnya bisa menghilangkan slapstick dari dunia komedi di Indonesia ? lha wong komedian tersohor sekelas Rowan “Mr Bean” Atkinson saja melakukan slapstick kok ! ), berubah menjadi acara yang menurut saya kasar dan tidak sopan. Soal aksi mendorong lawan main sampai jatuh terjengkang, asal itu sekedar akting, masih bolehlah. Namun kalau sudah mendorong secara sengaja dan diluar skenario hingga lawan main terbanting tanpa dapat mengantisipasi sebelumnya, dan si korban menunjukkan mimik terkejut serta kesakitan, ini sudah tidak dapat diterima lagi. Adegan itu jadi tampak tidak sopan dan kasar di mata penonton. Sudah tidak lucu lagi. Meskipun di layar kaca terpampang tulisan ” semua properti terbuat dari bahan yang lunak dan tidak berbahaya “, atau kalimat sejenis itu, tetap saja pemandangan yang gamblang di depan mata adalah sebuah aksi yang kasar dan seenaknya sendiri. 

Tepung terigu pun bertaburan dan belepotan di tubuh pemain

Ada satu hal yang paling mengganggu saya, dan mungkin mengganggu penonton lainnya, yaitu adegan lempar, tabur, labur, dan menjejalkan tepung terigu ke tubuh dan mulut para pemain. Ibaratnya nih, nggak boleh ada orang mangap terlalu lebar sedikit, langsung saja salah seorang pemain akan menjejalkan segenggam tepung terigu ke mulut komedian yang mangap itu. Dan setelah itu, adegan yang tampak di layar kaca pun seragam : si penjejal atau si penabur tepung dan kawan-kawannya, serta penonton di studio tertawa terbahak-bahak melihat sang korban kalang kabut kelilipan atau terbatuk-batuk karena tersedak tepung. Parah banget deh ..
Saya sampai mikir, lho kok mereka tertawa ? Ooh lucu toh adegan yang seperti itu ? yah, pantas saja adegan seperti itu terus diulang, karena dianggap sangat lucu dan digemari penonton. Apa boleh buat, adegan yang mengajarkan perilaku bully kepada anak-anak itupun terus berlangsung tanpa ada kontrol lagi, tanpa ada yang peduli, apalagi sensor dari pihak pemerintah.

Materi lawakan tak bermutu malah menjadi trend

Sayangnya adegan tidak bermutu itu sekarang diikuti oleh komedian yang sesungguhnya cerdas dan memiliki bakat besar, yang tak perlu melakukan adegan konyolpun, sudah lucu, semisal Sule, Vincent, Desta, dll. Saya tak tahu, apakah mereka sekedar mengikuti trend lempar-jejal tepung, atau memang tuntutan dari tim kreatif ?. Apapun alasannya, sangat disayangkan jika para komedian muda yang sangat potensial rela melakukan adegan yang hanya akan menjatuhkan kualitas mereka demi mengejar popularitas.

Oh iya, ada satu lagi acara musik campur komedi yang saya ingat, sayang saya lupa nama judul acaranya. Yang jelas acaranya ajaib banget menurut saya. Ajaib dalam hal kekonyolannya. Coba bayangkan, acara itu digelar di atas panggung yang dibuat miring sampai sangat curam, sehingga tidak memungkinkan para pemainnya untuk berdiri dengan stabil. Akting seperti apa coba yang dapat diharapkan dari para pemain yang bahkan berdiripun tak sanggup lagi, kecuali ribet menahan posisi tubuhnya sedemikian rupa agar tidak jatuh terjerembab di depan penonton ? hanya kekonyolan yang akan kita saksikan di sepanjang acara. Sungguh acara seperti ini akan jadi sangat menarik ! menarik tangan untuk memijit remote TV untuk berpindah channel, maksudnya ! (jadi esmosi ..)

Saya jadi bertanya-tanya, ini sebetulnya kerjaan siapa sih ? Produser, sutradara, tim kreatif, atau justru inisiatif para pemain sendiri ?. Mengapa justru kreatifitas tak bermutu seperti itu yang keluar dari pikiran anak-anak muda di balik semua acara itu?

Bukankah mereka direkrut menjadi crew sebuah acara hiburan atau acara apapun, salah satunya karena kreatifitas yang mereka punyai ? kemana perginya semua kreatifitas itu ? atau apakah memang beginilah trend anak muda masa kini ? menjadikan perilaku bully sebagai bahan olok-olok dan candaan ? tak tahu lagi arti sopan santun ? . Terus terang saya tidak yakin, karena lazimnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka kreatifitasnya dan selera humornyapun semakin berkelas. Atau mungkin saya yang salah ? Beritahu saya kalau begitu.

Jadi kangen zaman sensor televisi sangat ketat

Saya termasuk penggemar acara-acara TV di masa remaja dulu, di jaman orba, termasuk menggemari acara lawak tentu saja. Sejauh yang saya ingat, belum pernah sekalipun saya mendengar suara atau adegan orang (maaf) kentut alias buang angin diumbar di televisi, tak pernah !. Tapi sekarang ? Haduuhh, adegan kentut bertebaran dimana-mana. Di acara komedi, acara lawak, acara sinetron, acara jalan-jalan, dll. Begitu gamblang, begitu jelas, dan vulgar ! nggak ada sopan-sopannya sama sekali. Apa menurut para pembuat acara, adegan kentut adalah adegan yang lucu ?. Saya boro-boro ingin tertawa. Jujur saya malah merasa dikurangajari, dilunjak kalau kata orang Jawa, dan jadi mikir, ini orang dididik atau enggak ya sama orang tuanya ? kok nggak tahu adat banget ?

Kalau sudah begini, jadi kangen Pak Harto, beneran deh. Beliau orangnya tangan besi, tapi soal tayangan televisi, Pak Harto sangat mensyaratkan etika, dan sopan-santun sesuai adat budaya Indonesia. Kalau nggak nurut, tanpa banyak cincong, acara itu akan dibreidel. Pak Harto orangnya galak tapi pro rakyat. Anak-anak jadi terhindar dari melihat adegan yang tak pantas melalui layar kaca.

Di masa sekarang, kita tak. dapat mengharapkan ketegasan seperti di zaman Pak Harto lagi. Sekarang apa-apa serba boleh. Tak peduli ada etika dan perasaan sebagian masyarakat yang tersakiti ataukah tidak. Ya adegan lempar - jejal tepung terigu ini misalnya, apakah mereka pikir adegan lucu-lucuan seperti itu tidak akan menyakiti hati sebagian saudara-saudara kita ?

Asal tahu saja, di beberapa daerah harga tepung terigu melonjak tinggi, dari 6.600 rupiah menjadi 8.500 rupiah. Ini sangat memberatkan para pedagang gorengan, pedagang roti rumahan, pedagang donat keliling, dll, yang menggunakan tepung terigu sebagai bahan baku utama jualan mereka. Dengan kenaikan harga tsb, para pedagang kecil ini harus rela memperkecil keuntungannya demi terus mengepulnya asap di dapur mereka. Penggunaan tepung terigupun harus lebih dihemat, karena harga yang makin tak terjangkau.

Bayangkan saja, bagaimana perasaan saudara-saudara kita ini, saat mereka menyaksikan di layar televisi, adegan dihamburkannya tepung terigu yang sangat berharga itu ? .Bagi para pesohor yang bergelimang harta, sekilo tepung terigu tak ada artinya. Namun bagi pedagang pisang goreng, sekilo tepung terigu berarti makan sekeluarga di hari ini, ongkos pergi-pulang anak-anak ke sekolah, ongkos berobat ke dokter, dll. Sangat-sangat berharga ! .Tapi mana bisa selebriti yang terbiasa bergaya hidup hedonik berpikir sejauh itu, bukan ?

Empati dan Etika. Itulah yang rupanya sudah jauh terkikis di hati para pelaku seni di panggung hiburan kita. Kreatifitas mereka artikan sebagai kebebasan tanpa batas. Empati hanya akan membuat daya pikir seseorang macet, dan etika hanya akan membuat segala keseruan dan kehebohan dunia hiburan menjadi mandeg. Mungkin begitulah jalan pikiran mereka. Jadi wajar saja kalau acara yang terlahir dari tangan mereka sangat mencerminkan jalan pikiran dan gaya hidup para hedonik yang jauh dari etika dan sopan santun.

Lalu apa yang bisa kita lakukan dengan tayangan-tayangan tak beretika seperti itu ? ya apalagi kalau bukan : tidak menonton TV lalu menggantinya dengan membaca buku, mendampingi anak-anak kita yang masih di bawah umur agar terhindar dari tayangan yang merusak pikiran mereka, memindahkan channel dan mencari acara lain yang lebih bermutu, dll. Mengapa tidak protes ke KPI atau pihak yang berwenang saja ? ah, memangnya ada manfaatnya ya ? Buktinya Olga dan Aming jadi banci lagi, buktinya Empat Mata jadi Bukan Empat Mata lagi, buktinya tayangan semacam Smack Down ada lagi, dll. Lebih baik melawan dengan cara kita sendiri sajalah.Nah, selamat mendampingi putra-putri tercinta ya teman-teman !

Salam sayang, 

Anni