Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, October 28, 2013

Sudah Tua Pakai Bahasa Gaul? Apa kata Duniaa ..

13824104571889624300

Seandainya anda seorang guru, dan suatu hari menerima pesan singkat melalui ponsel dari orang tua siswa dengan kalimat sebagai berikut, apa yang akan anda pikirkan ? ini pesan singkatnya : ” Bu, maaf aq g bisa ambil rapor si ganteng maximal, krn gi di luar kota. Gimana dund ? “

Terus terang saya sampai mengernyit membaca SMS itu. Antara geli bercampur kesal. Kesan pertama yang saya tangkap adalah, ini orang kok gaul banget, seolah bukan sedang mengirimkan berita penting kepada ibu guru putranya saja. Bukan sekali ini saja saya menerima SMS dari orang tua siswa dengan bahasa abege seperti itu. Pesannya memang pendek , tapi saya jadi berpikir panjang.

1. Ingat Situasi

Seharusnya semua orang sudah mengerti, bahwa berita yang berkaitan dengan pendidikan adalah berita resmi, termasuk meminta izin kepada pihak sekolah jika anak kita tidak dapat masuk sekolah karena sakit atau izin untuk suatu keperluan. Termasuk jika kita bermaksud meminta informasi dari pihak sekolah tentang program pengayaan menghadapi UN, seleksi masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, atau program sekolah menghadapi SBMPTN, umpamanya, semuanya harus disampaikan secara resmi dalam bahasa Indonesia. Kalaupun tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, setidaknya gunakanlah bahasa Indonesia sewajarnya, tidak dengan bahasa gaul semacam itu.
 
Mengirim berita secara tertulis dengan bahasa gaul untuk keperluan serius seperti pendidikan, hanya akan menimbulkan kerancuan. Yang pertama, tidak semua orang dapat menangkap dengan jelas maksud kalimat-kalimat dalam bahasa gaul, karena tidak semua orang terbiasa menggunakan ragam bahasa ini. Yang kedua, mengirim berita dengan bahasa gaul untuk keperluan pendidikan seorang anak hanya akan menimbulkan kesan, bahwa orang tua tidak serius dengan pendidikan anaknya, dan lebih jauh lagi akan menimbulkan syak wasangka , orang tua tersebut tidak menaruh cukup rasa hormat kepada institusi pendidikan tempat anaknya bersekolah.

Sayang sekali bukan, informasi yang seharusnya dapat segera dimengerti maksudnya, jadi berbuntut panjang sampai ke interpretasi yang bermacam-macam gara-gara salah menempatkan ragam bahasa. Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia -resmi, setiap kali berkorespondensi tentang hal-hal yang formal, termasuk mengenai pekerjaan, pendidikan, keorganisasian, dll.

2. Ingat umur

Siapapun tentu boleh menggunakan bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari, termasuk untuk keperluan menulis pesan singkat bahkan menulis email sekalipun. Tak ada yang akan melarangnya. Namun, selain harus melihat situasi apakah sifatnya resmi atau tidak resmi, kitapun harus melihat dengan siapa kita berkomunikasi.

Sesuai dengan namanya, bahasa gaul hanya lazim digunakan untuk pergaulan sosial, yang situasinya santai dan jauh dari formalitas. Biasanya pula, bahasa gaul ini hanya digunakan dikalangan yang betul-betul dekat dengan kita, semisal dengan keluarga, teman, sahabat, atau dengan siapapun yang kita anggap sebaya dan tak ada lagi rasa canggung. Meski kadang hal itupun tidak berlaku mutlak.
 
Sebagai ilustrasi, saya pernah menerima pesan singkat dari seorang teman yang hanya saya kenal melalui milis alumni SMA. Usia teman saya itu sudah memasuki kepala 6. Saat memberitahu saya melalui SMS tentang undangan reuni , saya sampai harus berkali-kali membaca ulang isi SMS nya itu, juga dengan hati heran bukan main, mengingat pengirimnya sudah menjadi seorang nenek.

Bahasanya itu lho, alamak, sampai kalah anak SMP. Belum lagi diapun menggunakan huruf alay yang besar kecil tak beraturan yang bercampur aduk huruf dengan angka itu, sampai pusing saya membacanya. Mungkin dia menulis SMS dengan gaya heboh karena dia sudah menganggap saya sahabat karibnya atau adiknya sendiri, makanya dia sangat bebas berekspresi.

Untung saya punya anak remaja dan terbiasa melihat mereka berinteraksi dengan teman-temannya. Sedikit banyak saya paham trend anak muda yang berkembang sekarang, jadi saya mengerti maksud undangan reuni yang sangat ajaib itu.

Tak sebatas berkomunikasi saja seseorang (menurut saya) harus ingat umur. Dalam mengekspos dirinya di media sosialpun, akan lebih elok kalau seseorang berperilaku sesuai dengan usianya. Menulis status dalam Facebook, atau BBM, atau menulis kicauan dalam Twitter misalnya, akan sangat janggal jika orang yang sudah berumur, dengan anak-anak yang sudah dewasa, menulis status dengan bahasa gaul seolah dia masih berumur belasan. Kalau status itu terbaca oleh anaknya, anaknya bisa malu lho !

Saya kenal dengan seseorang yang mengeluh pada saya, semua akses sosmednya ditutup oleh anaknya. FB nya diunfriend, Twitternya diunfollow, kontak BBM nya didelcont, dsb. ” Takut banget distalking sama Mamanya “, kata teman saya sambil cemberut menanggapi tindakan anaknya.

Mendengar keluhannya, saya hanya tersenyum. Jujur dalam hati saya juga sebetulnya sangat ingin mendelete dia dari manapun, soalnya saya nggak tahan membaca status-status dia yang super -duper norak. Sudahlah statusnya selalu alay, galau melulu, dan narsisnya itu lho, tobat deh. Siapa yang nggak malu hati coba, membaca status orang setengah baya seperti itu. Membaca status dia di FB atau di BBM, kesannya seolah dia itu paling cantik sendiri, paling populer, paling jatuh cinta, paling gaul . Pantas saja anaknya jadi bete.

Bukan bermaksud usil. Mengemukakan isi hati dan pikiran melalui bahasa dengan cara apapun, tentu merupakan hak asasi semua orang. Hanya saja selalu ada rambu di dunia ini. Rambu yang harus diperhatikan jika kita ingin diterima oleh orang lain dengan baik, dengan tulus dan dengan sewajarnya. Semua ini sangat penting, karena hanya dengan penerimaan yang tuluslah, akan tercipta rasa saling menghormati dan menghargai diantara kita dan orang-orang di sekeliling kita. Rambu yang dimaksud adalah kesopanan,kepantasan,kelaziman,dll.

Gunakanlah bahasa gaul hanya untuk bergaul. Soal masih pantas tidaknya seseorang menggunakan bahasa gaul, semua orang tentu punya pendapat yang berbeda-beda.


Salam sayang,

Anni