Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, October 28, 2013

Sudah Banyak Hutang, Galak Pula !

13824138741251394136

Kalau dipikir-pikir, zaman sekarang apa sih yang tidak dihutangkan ? atau dengan kalimat lain, siapa sih orangnya yang sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan hutang ?. Sekarang ini segala sesuatu dapat diperoleh dengan jalan berhutang. Dari mulai membeli rumah, tanah, mobil, motor, perabot rumah tangga, baju, perhiasan, tas-sepatu, dll, semua bisa diperoleh dengan cara berhutang, alias membeli dengan cara mencicil. Bahkan uang kuliah pun, sekarang bisa dicicil lho !

Membeli barang dengan mengangsur atau meminjam sejumlah uang untuk keperluan tertentu atau berhutang, sebetulnya merupakan hal yang biasa dan bukan masalah, selama transaksi hutang-piutang tersebut berjalan lancar. Persoalan akan muncul jika pihak debitur ( pihak yang berhutang ) punya penyakit sangat hobi berhutang, namun sangat sulit memenuhi kewajibannya, yakni membayar hutang.

Kok Galakkan dia ?

Lumayan sering saya mendengar keluh kesah kerabat dan teman-teman yang bisnisnya tersendat gara-gara terlalu banyak piutang yang sulit ditagihkan. Salah seorang kerabat saya masih dalam taraf merangkak dalam membangun rumah tangganya yang relatif baru. Dia mencoba berbisnis kosmetik untuk membantu keuangan rumah-tangganya.Bisnisnya berjalan dengan lancar dan omsetnya terus meningkat dari waktu ke waktu. Namun baru memasuki bulan keenam, bisnisnya mulai tersendat, sebab terlalu banyak klien nya yang sangat sulit membayar hutang. Padahal saat membeli produk kosmetik yang ditawarkan, kliennya yang seratus persen ibu-ibu itu, memborong bermacam-macam barang dengan penuh kepercayaan diri, seolah mereka itu berdompet tebal saja.

Itu baru satu contoh. Saya masih dapat menyebutkan banyak contoh lain orang-orang yang mengalami nasib serupa dengan kerabat saya itu, mengalami ketidak lancaran bisnis sebab piutang yang sulit sulit ditagih. Lucunya, atau ironisnya, kegagalan menagih hutang tersebut disebabkan para pebisnis kecil-kecilan itu tidak tahan saat setiap kali menagih hutang, selalu mendapat jawaban bahkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari pardebitur. Mereka juga tidak tahan jika harus bolak-balik menagih hutang, lalu harus pulang dengan tangan hampa dan membawa hati yang dongkol bukan main.
 
Orang-orang yang berhutang itu, setiap kali ditagih, selalu menjawab, ” belum ada uang, insyaallah akan saya bayar bulan depan “. Namun kenyataannya, saat bulan depan ditagih, jawabannya selalu sama, ” akan dibayar bulan depan “. Bulan berikutnya masih juga berjanji membayar bulan depan, begitu dan begitu terus. Mungkin maksud sesungguhnya dari kata ” akan membayar bulan depan” adalah, akan membayar hutang saat hari kiamat tiba nanti.

Siapapun akan jera jika harus menagih hutang dan mendapat jawaban seperti itu. Tidak mungkinlah kalau harus menagih hutang sambil nyolot apalagi main otot , karena teman-teman saya itu bukan preman debt collector. Belum lagi proses menagih hutang kan perlu biaya. Biaya transport untuk naik angkot, naik ojek, atau ongkos membeli bensin, dll. Semuanya perlu biaya, sementara piutang tak dibayar. Bagaimana tidak jera kalau begini caranya.

Menurut penuturan teman-teman saya, jawaban ” Nanti dibayar ” dari para debitur saat ditagih hutang adalah jawaban yang masih sangat sopan. Yang gawat dan bikin nangis adalah jika saat ditagih hutangnya, para debitur itu malah membentak atau memperlakukan dengan kasar teman-teman saya itu
Seorang teman sampai pulang sambil menangis saat mendapat jawaban, “Bawel banget nih orang, lu gak percaya sama gua ? kan gua udah bilang, nanti ! lu budek ya ?! “. Astaghfirullah, ya jelas saja teman saya yang sangat anggun, lemah lembut, dan keibuan itu cuma bisa tertegun dan menangis tanpa bisa melawan sedikitpun.

Teman saya yang lainnya lagi bercerita, saat dia menagih hutang pada seorang ibu yang memborong dagangannya, malah menerima jawaban seperti ini, ” Bosen banget lihat tampang nih orang ! gak ngerti apa gua lagi gak ada duit ?! nagih kagak ada telatnya! “. Teman saya sampai ternganga mendengar jawaban yang sangat sopan itu. Tapi teman saya yang ini agak berbeda. Dia melawan saat dibully oleh debiturnya dengan kata-kata seperti itu. Namun saat dia mendengar sang debitur menjawab kasar, ” Lama-lama gua tonjok juga nih ! “, teman saya memutuskan untuk pergi saja dari tempat itu daripada terus berdebat dengan debitur preman semacam ini.

Mendengar cerita teman-teman dan kerabatku, saya jadi mikir, kok dia yang berhutang dia juga yang nyolot ?. Tapi sekarang saya mengerti, pantas saja banyak kreditur sampai merasa harus menyewa debt collector yang tak sungkan mencabut nyawa debitur nakal, kalau begini caranya. Meskipun demikian saya tetap anti pada jalan kekerasan untuk tujuan apapun dan dengan alasan apapun.

Sungguh buruk karakter orang yang sulit membayar hutang .

Bantulah sesuai kemampuanmu dengan hati yang tulus -ikhlas, orang yang membutuhkan pertolongan. Pinjamilah barang atau uang kepada orang yang datang meminjam kepadamu. Sebaliknya, kembalikanlah segala sesuatu yang telah engkau pinjam sesegera mungkin, dan dalam kondisi sebagaimana semula, kemudian berterimakasihlah. Begitulah agama, etika, budaya, dan adat istiadat mengajarkan kita.

Menunda-nunda membayar hutang adalah karakter yang buruk. Dan menunda-nunda membayar hutang seraya berkata-kata kasar adalah karakter yang luar biasa buruk. Pada umumnya jika tidak karena sedang terpepet, manusia memiliki rasa sungkan, malu, gengsi, jika harus berhutang. Rasanya harga diri ini tak tahu harus disembunyikan dimana.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan berhutang. Toh ini adalah perbuatan yang halal. Kalaupun kemudian orang merasa malu, wajar saja karena setiap manusia tak ingin terlihat berkekurangan dihadapan orang lain. Agar tak kehilangan harga diri, maka tak ada jalan lain, bayarlah segera hutang itu, dan jika belum dapat membayar, minta maaflah sambil teruslah berusaha sekuat tenaga untuk melunasi semua hutang-hutang itu.

Menolak membayar hutang dengan kata-kata kasar adalah satu cara yang sangat efektif untuk menunjukkan rendahnya martabat seorang manusia. Tak ada norma apapun yang akan membenarkannya. Bahkan dalam skala besar, seorang pengemplang hutang diancam dengan hukuman yang sangat berat. Masih ingat kasus BLBI yang mengirim para pejabat pengemplang hutang ke hotel prodeo, kan ?

Akan sangat besar dosa seseorang, jika karena karakter buruknya itu sampai membuat orang lain mengalami kesusahan, semisal mengalami kebangkrutan usaha. Kalau memang belum bisa membayar hutang, setidaknya bayarlah kekecewaan hati sang kreditur dengan kata-kata yang sopan dan perilaku yang santun. Jangan sampai sudah buruk laku, buruk hati pula.


Salam sayang,

Anni