Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Tuesday, October 22, 2013

Kenangan Wukuf: Jamaah Haji Indonesia Sungguh Kreatif!

 
Salah satu tradisi menyambut hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha di Tanah Air adalah dikumandangkannya takbiran dengan lantunan nada dan irama yang khas.  

Bagi saya yang tinggal di desa di kaki perbukitan, gema takbir ini terdengar begitu indah dan merdu. Suaranya mengalun menyusuri bukit dan lembah, melintasi gunung dan sungai, lalu menyelusupi relung-relung hati yang paling dalam, membuat terhanyut siapa saja yang mendengarnya. Tak jarang ibu-ibu dan para gadis yang masih sibuk di dapur mempersiapkan hidangan istimewa untuk esok hari, sampai menitikkan air mata dibuatnya. Bekerja sambil berlinangan air mata, ah betapa nikmat dan tak tergantikan.


Suasana wukuf yang senyap dan mengharu biru


Gema takbiran selama hari raya dengan cara dipimpin oleh seseorang yang kemudian diikuti oleh jamaah yang lain, rupanya bukan tradisi di tanah suci Mekah (cmiiw). Saya lebih sering melihat orang-orang di sana bertakbir sendiri-sendiri seperti orang berdzikir, bukan beramai-ramai seperti di Tanah Air.


Suasana menjelang wukuf di padang pasir Arafah, sangat sunyi sepi. Hanya sesekali terdengar orang mengaji kitab suci Al Quran, diselingi doa lirih yang seakan tak pernah usai dipanjatkan. Sudah sejak semalam kami menginap di Padang Arafah yang luas, panas, gersang, dan tandus ini. Namun beruntung tenda kami berada tepat di bawah sebatang pohon rindang yang banyak kulihat ditanam tersebar di sana-sini oleh pemerintah Saudi. Para Jamaah haji dan penduduk setempat menamai pohon itu pohon “Soeharto”. Entah mengapa dinamai seperti itu. Mungkin karena pada masa lalu Presiden RI Soeharto menyumbang bibit pohon itu kepada pemerintah Kerajaan Saudi sebagai lambang persahabatan, dan untuk mengurangi paparan panas matahari yang sangat terik.


Ketika matahari tepat berada di puncak kepala, ritual wukuf pun dimulai. Keadaan tenda kami yang luas semakin hening. Semua orang diam terpekur, tenggelam dalam munajat dan doa yang khusyu kepada Allah Sang Maha Pencipta. Bersujud meratakan dahi kami dengan tanah , merendahkan diri kami serendah-rendahnya di hadapan Nya, memohon ampunan atas segala dosa yang telah diperbuat. Dengan linangan air mata yang seolah tak jua berhenti, kami berusaha membasuh hati kami yang hitam dan legam oleh dosa, berdebu oleh kesombongan dan takabur, menjelaga oleh kekasaran dan iri dengki. Kami menegasikan keberadaan diri kami, kami adalah nol. Nol besar di hadapan Allah Semesta Alam. Tangan kami terangkat, jiwa kami tertunduk, semoga Allah mengampuni kami, sanak keluarga, sahabat, guru, para pemimpin, dan seluruh saudara-saudara kami, amin yra.


Tenda kami yang ceria pun menjadi tontonan


Tanpa terasa, waktu wukuf pun berlalu. Matahari pun terbenam di kaki langit yang semburat oleh lembayung senja. Ada rasa lega mengaliri hati kami. Saat wukuf yang berat namun syahdu itu telah kami lewati  dengan baik dan lancar. Tibalah saatnya kami berangkat ke Muzdalifah untuk menginap semalam sambil mengumpulkan batu-batu kerikil pelempar jamarat di Mina nanti. Nah, saat menanti bus-bus yang akan mengangkut kami menuju Muzdalifah inilah, sebuah kejadian seru yang sangat berkesan telah berlangsung.

Lumayan lama kami mempersiapkan barang bawaan kami untuk diangkut menuju Muzdalifah. Begitu pula waktu yang diperlukan untuk menunggu datangnya bus. Rupanya saat itu jalan raya macet total, sehingga bus-bus penjemput kami terjebak di tengah kemacetan yang parah.

Menunggu memang membuat jenuh. Itulah yang juga dirasakan oleh teman-teman kami. Dan seperti kebiasaan orang Indonesia, kalau sedang iseng, muncullah kreatifitasnya.
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba dari tenda kami terdengar suara orang menabuh sesuatu dengan irama beduk yang bertalu-talu. Ternyata teman-teman kami itu tertarik melihat tumpukan galon air yang kosong dan dibiarkan bergeletakan begitu saja di luar tenda. Tanpa dikomandoi lagi, serentak para jamaah laki-laki itu menjadikan galon-galon air itu alat musik perkusi yang menghasilkan irama mirip suara beduk yang ditabuh di masjid-masjid pada saat menjelang hari raya. Suaranya berirama begitu dinamis, seru, dan ramai sekali. Tanpa dikomandoi pula, jamaah lainnya langsung mengumandangkan takbiran seperti di Tanah Air. Ya, esok adalah hari raya Iedul Adha. Di kampung halaman nun jauh di sana, tentu orang sudah ramai mengumandangkan takbiran di masjid dan menabuh beduk. Sementara para ibu sibuk menyiapkan hidangan yang enak-enak untuk menyambut hari raya kurban yang jatuh esok hari.

Rupanya kehebohan di tenda kami terdengar oleh jamaah Makassar dan jamaah Madura yang tendanya bertetangga dengan kami. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dari dalam tenda-tenda mereka pun terdengarlah suara “beduk” dari galon yang ditabuh orang, diiringi gema takbir yang merdu dan kompak.


Para jamaah dari negara lain yang kebetulan melewati tenda kami, sampai berhenti sejenak untuk mengintip ada keribuatan apa gerangan di tenda-tenda jamaah Indonesia yang seru ini. Setelah mengetahuinya, mereka tersenyum-senyum, dan berdiri untuk menonton dengan takjub, seolah kami adalah rombongan sirkus saja, he he … Namun ada juga yang malah turut bergabung, dan bersama-sama kami mengumandangkan takbir. Jika sudah begini, tak peduli kami ini berasal dari bangsa mana dan berbahasa apa, takbiran yang satu bahasa menjadikan kami bersaudara tanpa sekat-sekat duniawi lagi.


Asyik sekali suasana di tenda di Arafah yang berangin kencang dan dingin saat itu. Makin lama intensitas suara tabuhan “beduk” semakin menurun, dan suara takbiran pun semakin mengalun mendayu. Lagi-lagi sebagian dari kami menangis berurai air mata. Ingat dosa, ingat anak-anak di rumah, ingat segala-galanya. Semua orang tenggelam dengan pikirannya masing-masing di maghrib yang semakin beranjak menuju malam.

Lihatlah itu! Bus -bus pengangkut kami  sudah berdatangan satu per satu. Kegiatan menabuh “beduk” dan takbiran harus diakhiri. Kami pun segera berkemas dan bergegas meninggalkan tenda Arafah, menuju Muzdalifah untuk bermalam dan memungut kerikil pelempar setan pengganggu umat manusia. Selamat tinggal Arafah yang suci dan damai, semoga kami dapat mengunjungimu lagi di suatu hari nanti, aamiin!



Salam sayang,

Anni