Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Wednesday, April 3, 2013

Anakku (mungkin) Indigo, But She Doesn't Care


Anak bungsuku biasa dipanggil Ade. Dia gadis remaja cantik yang duduk di kelas 10 SMA. Aku setengah ragu, Ade juga setengah ragu bahwa Ade adalah anak indigo.
Aku tak begitu tertarik sebetulnya dengan fenomena Indigo ini, karena permasalahan indigo masuk ke dalam ranah Psikologi bahkan lebih jauh lagi masuk ke dalam pembahasan Metafisika, bidang-bidang yang kurang aku pahami.

Awalnya, Ade anak penyuka pelajaran Biologi dan Fisika ini mengalami berbagai kejadian tak biasa yang sangat khas dialami oleh anak indigo, yang membawaku membaca berbagai artikel dan referensi tentang fenomena indigo tersebut.  Semakin banyak referensi yang aku baca, semakin aku memahami makna peristiwa yang dialami Ade.  Hanya saja aku belum dapat sepenuhnya menyimpulkan bahwa Ade adalah anak Indigo, karena Ade hanya memiliki sebagian saja dari ciri anak indigo.

Keistimewaan anakku yang berumur 15 tahun ini adalah mudahnya dia melihat makhluk halus. Ade tidak hanya dapat merasakan kehadiran makhluk halus, tapi diapun dapat dengan mudah melihat sosok mereka. Di semua tempat dia dapat merasakan dan melihat kehadiran makhluk tak kasat mata ini. Di rumah, di sekolah, di mall, di restoran, di hotel, di gerbang tol, bahkan ketika berada di luar negeri sekalipun, Ade dapat melihat mereka. 

Pengalaman pertamanya adalah ketika Ade berusia 4 tahun dan belum masuk TK. Pada suatu pagi dengan santai dia mengatakan padaku bahwa tadi malam dia melihat ” orang jelek”, sedang berdiri di dekat meja komputer. Tadinya aku tak begitu serius menanggapi pembicaraannya. Namun ketika dia berulang kali menceritakan hal yang sama kepada Ayahnya, kepada kakaknya, dan kepada orang-orang lainnya, aku baru sadar bahwa Ade serius dengan ceritanya. Lalu suamiku bertanya padanya, ” Ade takut nggak ? “, yang dijawab dengan ” Iya, Ade takut “. Mendengar itu aku marah sekali pada makhluk-makhluk yang telah membuat anak sekecil itu ketakutan. Tapi aku tentu saja tak bisa berbuat apa-apa kecuali meminta perlindungan pada Allah.

Namanya juga anak kecil, dia sering menceritakan penampakkan makhluk-makhluk itu dengan gaya yang sangat enteng tanpa beban sedikitpun. Padahal kami orang dewasa yang mendengarnya sampai merinding-rinding, meremang bulu kuduk dibuatnya. Kadang aku berpikir, jangan-jangan ini anak sedang berkhayal, seperti yang lazim dilakukan oleh anak-anak seusianya.  Namun mendengar konsistensi dia dalam menceritakan penglihatannya, aku memilih percaya pada Ade, begitu juga suamiku, sambil terus berdoa agar Allah selalu melindungi Ade.

Semakin bertambah usianya, semakin banyak penampakan yang dilihat Ade. Hanya saja kelihatannya Ade sudah lebih terbiasa, dan tidak merasa takut lagi, karena si ” orang jelek ” yang dulu dilihatnya itu sudah tidak pernah menampakkan diri lagi.

Pernah suatu kali, Ade bercerita pada Ibuku, ” Mbah, kemarin malam waktu kita makan (di restoran Sunda Rasa - Cianjur ), Ade ngliat ada orang yang rambutnya panjang sampai ke kaki, berdiri di dekat jendela “, santai banget dia ngomong gitu. Ibuku langsung terperanjat, ” ah dimana ? kok Mbah nggak lihat ?”
“Iya Mbah, Ayah sama Ibu juga suka nggak bisa lihat”, jawabnya kalem.
” Rambut panjang gimana, De ? Laki-laki apa perempuan ? “, Ibuku makin penasaran.
” Perempuan Mbah, pakai baju jelek”.
Haduh, aku dan ibuku sampai mau pingsan mendengarnya. Serem abis.

Hari- hari berikutnya dia bercerita tentang laki-laki Belanda dengan wajah berdarah-darah, menempel di AC di dinding ruang kelas bimbel Ganesha Operation tempat dia les. Dia juga melihat beragam penampakan, dari mulai yang sosoknya jelas sampai yang hanya berupa bayangan, kabut, cahaya, atau asap, di berbagai tempat. Melihat dua sosok hitam di sekolah sekolah SMP nya ketika dia mengikuti kegiatan OSIS, dan masih banyak lagi.

Aku jadi senewen sendiri mendengarnya, tapi lagi-lagi tak ada yang bisa kulakukan kecuali protes kepada suamiku, agar ia sebagai kepala keluarga menghentikan semua kekacauan ini.  Namun suamiku bergeming. Dia bilang, Allah memang menciptakan makhluk halus. Masalahnya, mengapa ada orang yang bisa melihat dan mengapa orang lainnya tak bisa melihat para lelembut ini. 

Kata suamiku, yang perlu dilakukan adalah bagaimana caranya agar Ade tidak pernah merasa takut, sekaligus berusaha mengurangi bahkan jika mungkin menghilangkan sama sekali ” kemampuan ” yang tidak bermanfaat itu.
Sejauh ini cara ” pertahanan ”  yang diajarkan suamiku pada anak bungsu kami hanyalah sebatas menimbulkan keyakinan, keberanian, dan sugesti di dalam diri Ade, bahwa makhluk yang dilihat itu adalah sebangsa Jin, makhluk ciptaan Allah yang levelnya lebih rendah dari manusia. Jadi kita tak perlu merasa takut.
” Kalau Ade melihat dia lagi, bentak aja, De ! marahi-marahin mereka dengan kata-kata yang kasar ! suruh berantem sama Ayah kalau dia berani, gitu aja De “, kata suamiku dengan gagah berani.
” Memangnya Ayah berani berantem ngelawan setan ?, tanyaku kepo.
” Yaa … gimana nanti aja “, jawab suamiku. Nada suaranya itu lho ! nggak meyakinkan banget.

” Rajin-rajin ngaji, khususnya membaca ayat kursi, al Falaq, An nas. Itu adalah surat dalam al Quran yang berisi ayat-ayat tentang keagungan Allah, Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta dan semua isinya, baik yang terlihat ataupun tidak. Ayat-ayat itu bisa juga digunakan untuk menangkal sihir dan tenung. Berdoa terus kepada Allah di setiap kesempatan, karena hanya Allah yang bisa menolong kita dari semua gangguan makhluk halus ” , suamiku menasihati  kami sehabis melaksanan shalat Maghrib berjamaah.

Kuperhatikan semakin besar Ade semakin dapat bersikap lebih rileks dengan ” kemampuannya ” melihat makhluk halus. Rupanya dia sudah bosan memaki-maki segala jin merkayangan itu. Akhirnya dia memilih hanya berdoa dan berdoa, seraya mengomentari dengan santai kehadiran makhluk halus itu dengan menjuluki mereka ” Ade Lovers “.
Kalau kebetulan dia memergoki makhluk halus di manapun, Ade hanya akan berujar, ” eh ada Ade Lovers. Loe mau main sama gua ? pergi sana, gua nggak pengen main sama loe ! “
Atau …
” Hehh !!  Apaan sih loe berisik banget ?!  gua nggak takut sama loe tau ! keluar sini kalo berani. Gua punya Allah, nggak takut sedikitpun sama elo ! “, bentak si Ade ketika tiba-tiba dia mendengar suara berisik di dapur seperti ada kesibukan memasak. Padahal Ade sedang sendirian di rumah, sementara aku, suami, dan si sulung belum pulang. Bibi PRT juga sedang di luar rumah, menyiram bunga.

Sampai lama aku masih tetap agak sangsi dengan hal-hal yang dilihat Ade, sampai beberapa waktu yang lalu, Ade menujukkan sebuah foto kepadaku. Foto dirinya yang dia ambil sendiri melalui kamera BB miliknya. Tadinya foto itu mau diupload buat narsis-narsisan di akun Facebook nya. Di foto itu, aku melihat wajah Ade dengan jelas. Namun ada yang aneh disana. Ada wajah lain - wajah perempuan dengan mata bulat sangat besar berwarna merah darah dan rambut berantakan - ikutan mejeng di belakang Ade. Sampai pengen muntah aku melihat foto itu, saking shock dan ngerinya. Ade segera mendelete foto itu, dan meminta maaf padaku.
” Nggak apa-apa Bu, cuma ada yang lagi iseng aja”, kata si Ade ringan banget. “ Hahh ?!  nggak apa-apa apaan ? Ibu sampai jantungan gini ! hadeehh De, De ..!  ampun deh ibu mah, nggak mau lihat lagi yang kayak gituan ah .. “
Melihat ibunya blingsatan gitu, si Ade cuma bisa nyengir, dunno what to say.
 
Kemarin aku berdiskusi sama Ade, membahas apakah dirinya termasuk anak Indigo atau bukan. Dan setelah membuka referensi bersama-sama, kami menyimpulkan bahwa Ade kemungkinan Indigo, namun tidak sepenuhnya, alias hanya sebagian saja. Alasannya, dari berbagai ciri Indigo yang seharusnya dipunyai, Ade hanya memiliki sebagiannya saja. Ciri seperti melihat dan menceritakan secara detail suatu tempat yang belum pernah dia kunjungi, dia tidak bisa. ” Have an old soul in the very young body “, alias suka berfikir sok tua juga dia nggak punya. Ciri lainnya yakni pendiam dan penyendiri, sangat jauh sifat itu dari si bungsu yang periang dan lincah ini. Sulit berkonsentrasi sebagai ciri umum lainnya dari  anak indigo , juga tak dimiki Ade. Anak ini selalu serius saat sedang belajar atau mengerjakan sesuatu. Intinya, aku dan Ade sepakat bahwa Ade hanya setengah indigo.

Untuk memastikan apakah seorang anak itu indigo atau tidak, kita harus memeriksakan anak tersebut ke Psikolog, lalu langkah selanjutnya adalah memotret auranya. Jika foto auranya berwarana indigo (Lila / ungu tua kebiruan ), maka dapat dipastikan anak itu adalah anak indigo. Namun Ade menolak melakukan itu semua.
” Nggak usah Bu, nggak ada manfaatnya buat Ade. Lagian Ade juga nggak bangga kok dibilang anak indigo. Biasa ajalah .. “, begitu kilahnya. 

Ya sudahlah kalau begitu. Yang penting anakku ini baik-baik saja, dan berbahagia dalam hidupnya. Demikian kisahku tentang si Bungsuku yang spesial, semoga bermanfaat, dan semoga Allah melindungi kita dan keluarga tercinta, aamiin …


Salam sayang, 

Anni


Notes :
1. Saya merasa perlu menyebutkan beberapa nama tempat dengan detail untuk mendukung fakta kisah ini. Mohon maaf jika ada pihak yang tidak berkenan.
2. Ade hanya menyebut kata “ Loe – Gue “ spesial untuk makhluk halus yang dilihatnya. Kalau dengan sesama manusia dia bilang “ Aku/ Saya – Kamu “  :)