Menulis itu media katarsisku ...

Blog Pribadi Puji Nurani :

Sketsa sederhana tentang hidup yang sederhana ...

Menulis itu Media Katarsisku ....

Aku sangat suka .. sangat suka menulis .....
Aku tak memerlukan waktu khusus untuk menulis ..
Tak perlu menyepi untuk mendapatkan ilham ........
Atau menunggu dengan harap cemas pujian dari orang lain
agar tak jera menulis ......

Ketika aku ingin menulis, aku akan menulis tanpa henti...
tanpa merasa lelah ...
tanpa merasa lapar ...
Namun jika aku tidak menulis,
maka itu artinya aku memang sedang tidak mau menulis...

Kala kumenulis,
Aku alirkan pikiranku melalui ketukan keyboard
ke dalam layar dunia virtual aku berkontemplasi ....
Aku tumpahkan perasaanku ke dalamnya ....
yang sebagiannya adalah jiwaku sendiri ....

Lalu ... aku menemukan duniaku yang indah ...
duniaku yang lugu dan apa adanya ......
duniaku yang sederhana .........
yang aku tak perlu malu berada di dalamnya .....
Karena aku adalah kesederhanaan itu sendiri .....

Aku suka dengan cara Allah menciptakanku ...
alhamdulillah .......

Monday, April 22, 2013

Ibu Kartini Kok Berantem


Setiap tiba peringantan hari Kartini, ingatanku melayang ke masa-masa 30 tahun lebih saat aku masih duduk di bangku SD ( kelihatan banget tuwirnya yaks ? :D ). Ketika itu setiap tiba hari Kartini, Ibu Guru selalu meminta kami anak-anak perempuan agar mengenakan kebaya atau baju adat daerah lain ke sekolah. Aku sebetulnya paling sebal kalau sudah disuruh-suruh pake kebaya gitu, tapi sayangnya, ibuku justru bersemangat banget. 

Pagi -pagi buta ibu ribut membangunkanku, dan menyuruhku agar segera bersiap-siap berpenampilan ala Kartini cilik. Lima menit kemudian, ibu mulai sibuk mendandani sambil mulutnya tak henti-hentinya mengomeli aku, karena aku tak bisa duduk diam, sehingga riasanku jadi cemong tak keruan. Sumpah waktu itu aku merasa bĂȘte banget kalau didandani seperti penganten gitu. Lha wong pakai rok saja males, apalagi pakai kain kebaya, benar-benar seperti pelanggaran HAM yang tak bisa dibiarkan. 

Namun bagian yang paling membuatku sebal adalah ketika ibu menyasak rambutku, menarik-narik dan menyambung rambutku dengan rambut palsu bodoh yang disebut cemara. Lalu rambutku dipuntir, dibentuk sanggul ceplok yang menurutku jelek banget (seperti orang kena tumor di kepala bagian belakang !). Setelah menyemprotkan cairan hairspray yang baunya mirip baygon, selesailah sudah riasan sanggul ku yang tegak, keras, dan membuatku sulit menggerakkan leher saking kakunya. Tapi rupanya penyiksaan ini belum akan berakhir. Kan wajahku belum dirias. Biasanya di bagian inilah, ibu sering sewot, karena wajahku sering menoleh-noleh tak bisa diam. Lagian, apa enaknya muka dipoles dengan bermacam-macam krim kental, dan dicat warna-warni kayak penari merak saja.

Lumayan lama juga ibu mendandaniku. Terakhir ibu memasangkan selendang yang warnanya senada dengan kebaya, yang dilipat serta diseterika sempit memanjang. Begini caranya memakaikannya : pasang selendang melingkar dari pinggang kiri, menyusur punggung dengan arah serong kanan, mampir di bahu kanan, memotong dada dengan garis diagonal, lalu berakhir lagi di pinggang kiri. Setelah itu simpulkan kedua ujung selendang itu. Gampang kan ? jangan lupa menyematkan bros berbentuk bunga di dada. Dan … taraaa …!! selesai sudah ibu mendandaniku. Dari anak perempuan item tengil pecicilan, berubah menjadi putri Solo. Aku tersenyum-senyum sendiri, merasa aneh, kikuk, tapi bangga juga, karena ibu, Ayah dan kakak laki-lakiku yang badung-bandung itu bilang aku cantik. 

Tapi itu kan sebelum aku diperbolehkan bercermin ! dan selalu, kejadian yang sama akan terulang begitu aku melihat diriku di depan kaca. Aku akan langsung melotot saking syok nya, ngambek, nangis, dan nggak mau pergi kesekolah !
Bayangkan saja, betapa malunya kalau aku harus pergi ke sekolah dengan penampilan seperti Titik Puspa begitu ! nggak mau ! pokoknya aku nggak mau sekolah, titik. Sampai bingung ibuku dibuatnya. Antara kasihan dan jengkel karena maha karyanya sama sekali tidak dihargai. Tapi cukup mudah rupanya membuatku berhenti menangis. Cukup dengan menyuapku dengan uang jajan yang lebih besar dari biasanya, dan pergi pulang diantar oleh kakakku dengan motor Lambretta nya, beres perkara ! Itu kalau diantar. Jika tidak, ya terpaksa aku harus jalan sendiri ke sekolah.

Kartini Cilik yang perkasa   *__*

Sepanjang gang dan jalan yang kulalui menuju sekolah, anak-anak kampung habis meledekku yang berpenampilan sangat ajaib di mata mereka. Apa boleh buat, karena pergi seorang diri, ya aku harus melawan seorang diri juga. Masih berkain kebaya lengkap dengan sanggul nemplok di kepala, aku harus menjulurkan lidahku panjang-panjang untuk membalas ledekan anak-anak nakal itu, atau kalau perlu sesekali menangkis dan memukul keras-keras anak laki-laki yang iseng ingin menyentuh sanggulku. Tak jarang terpaksa aku harus menyingsingkan kainku tinggi-tinggi demi mengejar dan menonjok anak bandel yang berani bilang “ Ay lap yu “ padaku. Haahh ! sebel banget !

Sesampainya di sekolah, yang terpikir pertama kali olehku ya apalagi kalau bukan jajan es lilin. Ya, es lilin kelapa muda yang manis dingin, sangat segar membasuh leherku yang kerontang sehabis pertempuran di sepanjang gang melawan segerombolan preman cilik. Waduh, makin cemong deh wajahku. Lipstik yang merah menyala kini belepotan kemana-mana, bedak tebal di pipi sudah raib sejak tadi, blush on meleleh terbawa leleran keringat yang tak henti-henti mengalir di pipi dan dahi. Dengan penampilan yang seperti itu, belum pernah sekalipun aku memenangkan kontes kebaya Kartini. Biarain ajalah, yang penting uang jajanku banyak dan es lilinnya enak.

Lain dulu lain sekarang

Sekarang aku senang melihat perempuan berkebaya. Mereka terlihat begitu anggun dan ayu, sangat Indonesia. Tak pelak lagi, busana Kebaya memang indah dan mempesona. Ini adalah busana warisan leluhur asli budaya bangsa kita, yang harus dilestarikan. Sangat disayangkan, kulihat sekolah-sekolah dari SD sampai SMA sudah sangat jarang meminta siswinya mengenakan busana kebaya di hari Kartini, sebagaimana jarangnya sekolah pada masa kini memperkenalkan budaya kita dalam bentuk apapun kepada siswanya.
Busana Kebaya zaman sekarang sudah tidak ribet seperti zaman dulu. Kebaya modern selain desainnya lebih indah, juga cara memakainya lebih simple. Sebagi contoh, kain batik bagian bawahan kebaya sudah tidak dililit lagi, namun dijahit dengan model rok yang dilengkapi resleting. Jangankan perempuan dewasa, anak-anak pun akan sangat mudah mengenakannya, seperti memakai rok biasa saja. Pantas saja anak gadisku sangat antusias setiap diminta mengenakan kebaya pada acara-acara sekolah. Selain simple memakainya, dia juga jadi merasa lebih cantik          ( nggak tau nih anak narsisnya nurun dari siapa, hee .. )

 
Peringatan hari Kartini memang identik dengan kain kebaya, meskipun jujur sedikit sekali korelasinya. Meskipun demikian, katakanlah kita sudah tak kenal dan tak pandai lagi menghargai jasa ibu Kartini, karena Kartini jaman sekarang sudah jauh lebih hebat dari Ibu Kartini jadul, institusi pendidikan tetap wajib memperkenalkan busana kebaya dan pakaian adat daerah lain yang tak kalah indahnya kepada para siswanya. Untuk maksud itu, moment Kartinian kurasa masih cukup tepat. Kaum wanita Indonesia sendirilah yang terutama harus memelihara dan menjaga warisan budaya yang sangat indah ini. Sementara pemerintah wajib melindungi kepemilikan bangsa Indonesia atas kebaya dan busana tradisional dari daerah lain, semisal baju kurung, baju bodo, dll. Sebab jika tidak, negara jiranlah yang akan melakukannya. Jadi, tetaplah memakai Kebaya ya, Indonesia Ladies !  :)


Salam sayang, 

anni